[FREELANCE] VAMPIRE’S DEN (Chapter 1)

Title                : VAMPIRE’S DEN

Genre             : Romance, Fantasy

Author           : Beryl

Length            : Multi-chapter

Main cast       : Exo M Kris, f(x) Luna, Exo K Chanyeol.

Another cast  : Exo K Baekhyun, Exo K Sehun.

VAMPIRE’S DEN (chapter one)

Dengan sisa – sisa tenaganya Luna berusaha mengayunkan kedua kaki nya dengan lebih cepat, nafasnya terengah – engah dan keringat bercucuran membasahi T-shirt putih polos lengan pendek nya. Hampir seluruh permukaan kulitnya terluka terkena goresan ranting – ranting pohon tajam yang mengelilinginya semakin rapat. Sudah hampir dua jam Luna berlari sekuat tenaga meyusuri hutan yang tidak berujung ini, tapi Luna belum boleh memperlambat lari nya, tidak sebelum Luna yakin dirinya aman dari para pengejarnya.

Bulan purnama membulat sempurna di langit malam menyorotkan sinar keperakannya yang terasa magis. Luna meringis, dari tadi dengan susah payah Luna menahan diri dari desakan tubuhnya untuk berubah. Luna adalah seorang werewolf walaupun hanya seorang darah campuran, jadi sudah pasti tubuhnya mendesak untuk bertransformasi tiap kali melihat bulan purnama, tapi kalau dirinya berubah sekarang maka aroma tubuhnya akan menyebar kemana – kemana seperti cahaya mercusuar. Hal itu akan mempermudah para pengejarnya, yang merupakan kawan – kawannya sendiri, untuk menemukan dirinya.

Kabur dari kawanan sendiri jelas terasa sangat menyakitkan, Luna memaksakan sebuah senyum getir. Sebagai salah seorang dari ras werewolf yang menjunjung tinggi rasa kebersamaan dalam kawanan, Luna tidak pernah membayangkan kalau dirinya akan lari dari teman – temannya sendiri seperti ini.

“Ini semua gara – gara Park Chanyeol…” Luna menggeram rendah.

Yah, Luna tidak bisa sepenuhnya menyalahkan ketua kawanannya yang tampan itu. Luna dan Chanyeol sudah di tunangkan sejak kecil, itu sudah keputusan dalam kawanan, tapi Luna tidak mencintainya. Chanyeol tahu Luna tidak pernah mau menikah dengannya, awalnya lelaki itu mengerti, tapi entah kenapa akhir – akhir ini Chanyeol semakin posesif. Sampai akhirnya kemarin malam Chanyeol memaksa untuk mempercepat hari pernikahan mereka, Luna tidak bisa menerima hal itu dan memutuskan untuk kabur. Keputusannya terbukti sembrono, sekarang Chanyeol mengerahkan hampir seluruh kawanan untuk membawanya kembali. Tidak ada seorang pun yang berani membantah Chanyeol, kata – kata seorang Alpha male adalah perintah mutlak.

Dengan hati – hati Luna menengok ke balik sebuah pohon raksasa dengan sulur – sulur menjuntai hingga ketanah, Luna tidak tahu berapa usia hutan ini hingga pohon – pohonnya bisa mencapai setinggi itu, tapi dia bersyukur ketika menemukan sebuah gua kecil dibalik pohon tersebut. Gua itu sempit dan lembab, Luna tidak peduli, yang penting dia bisa mengistirahatkan kakinya yang sudah kram. Samar – samar dari kejauhan Luna mendengar suara lolongan serigala yang masih mencari – cari keberadannya, buluk kuduk Luna berdiri, sebisa mungkin Luna menghindari sorotan bulan purnama untuk mencegah dirinya bertransformasi mendadak dan menyahuti lolongan kawan – kawannya.

“Tinggalkan saja aku dan cari yang lain, Chanyeol…” pinta Luna putus asa dalam hati, nafasnya sudah hampir habis.

Desiran angin malam menyapu rambut sepinggang Luna, celana jeans nya sudah robek – robek, tapi tubuh Luna kebal terhadap udara sedingin apapun. Itu salah satu keuntungan dari menjadi werewolf. Luna sadar cepat atau lambat Chanyeol pasti menemukannya, karena berbeda dengan Luna yang berdarah campuran, Chanyeol adalah seorang pureblood, keturunan asli manusia serigala. Jadi indra – indra pelacaknya lebih kuat dari siapapun. Tapi tetap saja Luna tidak mau ditemukan semudah itu, Luna berusaha agar tidak tertidur dan menyiapkan dirinya untuk berlari lagi.

Luna menghitung sampai seratus, lalu mulai melesat keluar gua. Seluruh indra nya terlalu difokuskan untuk mendeteksi keberadaan Chanyeol dan yang lainnya sampai – sampai Luna tidak sadar ketika dia berlari terlalu jauh dan sampai ke bagian hutan yang berbeda. Luna berhenti ketika sudah terlambat dan terkejut sendiri. Bagian hutan yang ini terasa asing, Pohon – pohonnya lebih ramping dan aura yang menguar diantaranya terasa dingin mencekam. Luna mengedarkan pandangannya kesegala arah, tidak terdengar satupun suara hewan malam, seolah – olah seluruh hewan takut dengan keangkeran hutan ini.

“Sial. Dimana ini…” erang Luna gelisah,

Luna memperlambat langkahnya. Suara tumpukan daun rontok yang terinjak oleh kakinya terdengar sangat nyaring karena hutan ini begitu hening. Luna menyiagakan setiap indra nya, mungkin dia hanya seorang darah campuran tapi Luna bisa bangga dengan indra pendengarannya yang tidak kalah dengan pureblood lain.

Tiba – tiba saja Luna menemukan sebuah bangunan dua lantai yang sudah tua tidak jauh dari tempatnya berdiri, bangunan itu terbuat dari kayu usang dengan permukaan yang mulai mengelupas dan berbau busuk dimakan usia. Luna mengernyit curiga. Bagaimana mungkin manusia pernah membangun rumah di daerah angker dan terpencil seperti ini? Manusia cenderung membuat rumah di daerah ramai yang punya pemandangan indah.

Lantai kayu bangunan itu berderak – derak ketika dengan berani Luna mencoba memasuki ruang depannya yang hampir ambruk digerogoti rayap, segerombolan tikus berlari kaget saat mendengar Luna masuk, Luna berusaha tidak menginjak mahluk – mahluk kecil itu.

“Haloooo?” sapa Luna keras, tentu saja tidak ada yang menjawab. Rumah ini mungkin sudah di tinggalkan oleh pemiliknya berpuluh – puluh tahun yang lalu.

Tapi selalu ada hantu atau roh peri yang menghuni tempat seangker ini. Dan Luna tidak keberatan bertemu dengan mereka asal bisa menanyakan arah keluar dari bagian hutan ini.

“Haloooo?” sapa Luna lagi.

Mendadak sebuah kekuatan dingin berdesir mengelilingi Luna, kekuatan dingin itu bergetar hingga membuat tubuh Luna mengigil.

“Siapa disana!?” Luna berteriak. Dia berbalik untuk keluar dari bangunan itu tapi kemudian mengumpat pelan ketika pintu nya terbanting tertutup bahkan sebelum Luna sempat menghampirinya. Kini Luna tidak bisa melihat apa – apa, kegelapan total menyelimutinya. Bukan berarti Luna takut gelap, Luna lebih takut pada kekuatan dingin yang masih terus berputar – putar di sekitarnya. Hantu atau bahkan roh peri tidak punya kekuatan seperti ini.

Lalu ketika dia sedang mencoba mencari jalan keluar lain, sebuah bau mulai menguasai cuping hidung Luna, bau yang selalu dikenali oleh werewolf manapun. Bau yang membuat seluruh werewolf, bahkan pureblood terkuat sekali pun, siaga penuh.

Bau vampir.

Sial! Sial! Sial! Luna mengentak – entakkan kakinya tidak karuan mengutuki keberuntungannya yang benar – benar buruk. Jangan – jangan tempat ini sarang seorang vampir? Pantas saja hutan disekitar sini terasa angker!

Luna menggosok – gosok kedua lengannya dengan khawatir. Sepanjang lengannya dipenuhi oleh luka gores yang mengeluarkan darah, aroma darahnya pasti dianggap sebagai undangan terbuka bagi sang vampir. Orang – orang tidak perlu nonton film twilight sampai selesai untuk mengetahui kalau werewolf dan vampir adalah musuh alami. Sudah cukup sial Luna dikejar – kejar oleh kawanannya sendiri, sekarang dia terancam jadi sasaran empuk monster bertaring. Walaupun Luna sendiri adalah monster bertaring dengan bulu, tapi dia hanya seorang darah campuran, kekuatannya tidak akan cukup untuk melawan seorang vampir. Untung saja berbeda dengan werewolf, vampir adalah mahluk penyendiri, jadi Luna tidak perlu khawatir di keroyok di tempat ini. Satu sarang biasanya hanya di diami satu vampir.

“Kau senang bisa masuk ke rumah orang tanpa izin, were?”

Luna langsung merasakan aliran kekuatan dingin di udara semakin menguat saat mendengar suara sang vampir yang mengalun. Luna menyapukan pandangannya keseluruh ruangan tapi tidak bisa melihat satu sosok pun, vampir yang satu ini pasti sedang bersembunyi di balik bayang – bayang. Luna bergidik ngeri.

“Aku… Aku tidak bermaksud menerobos kemari,” jawab Luna sedikit gugup

“Tapi kau memutuskan untuk masuk ke rumah ini, padahal kau bisa saja berlari ketempat lain,”

Luna mendesah gelisah. Yah, memang benar rasa penasaran lah yang mendorongnya untuk memasuki rumah angker ini.

“Maafkan aku…” erang Luna. Luna belum pernah bertemu Vampir sebelumnya. Dia hanya mendengar tentang Vampir dari cerita para tetua, bahkan Chanyeol yang merupakan pemimpin kawanan pun belum pernah menghadapi Vampir secara langsung.

“Baiklah. Kau ku maafkan!” seru Vampir itu tegas, “sekarang pergilah dan bawa bokong mu keluar dari sarang ku!”

Luna mengernyit terkejut. Apa? Bokong? Darah campuran atau bukan, Luna tetap seorang wanita, dan mendengar perkataan Vampir itu membuat Luna merasa di lecehkan.

“Sepertinya kaum Vampir tidak punya pelajaran tatakrama berbicara pada perempuan!” seru Luna membalas.

“Kubilang pergi!” bentak Vampir itu lagi.

“Dan kurasa kaum vampir adalah pengecut!”

“Apa?”

“Kau terus meneriaki ku tapi tidak menampakan wujud mu sama sekali, apa selain terpanggang matahari vampir juga punya alergi terhadap sinar bulan?”

Tiba – tiba aliran dingin di sekitar Luna berubah menjadi aliran listrik yang menyengat mencubiti kulitnya. Luna mengaduh memeluk pinggang nya sendiri. Oh, Sial! Luna baru saja membuat seorang Vampir marah. Luna mengutuki mulutnya sendiri yang tidak bisa diam. Luna memang wanita yang keras kepala dan sering keceplosan bicara bila sudah kesal, sifatnya itu selalu membawa masalah, tapi kali ini masalah yang dibawanya benar – benar serius. Luar biasa serius. Luna yakin kalau dia mengeluarkan sepatah kata lagi vampir itu akan menghisapnya sampai kering.

“Jangan coba – coba menantang seorang predator, were…” vampir itu menggeram rendah,

Luna bergerak mundur ketika dilihatnya vampir itu mulai menunjukan wujudnya, dimulai dari puncak kepalanya yang setinggi hampir dua meter, Luna harus mendongkak sampai leherya sakit untuk melihat dengan jelas. Dan ketika Vampir itu menunjukan wajahnya Luna terperangah, bukan jenis terperangah yang buruk, tapi terperangah karena takjub.

Ya, Tuhan. Luna pikir Chanyeol adalah lelaki paling tampan yang pernah di lihatnya. Tapi Vampir ini… Luna terengah pelan melihat sorot matanya yang tajam berwarna kecoklatan, hidung mancung aristrokat serta garis rahang kuat dan bibir penuh. Rambut pirang pasirnya tertata rapi seolah di tata oleh stylish terbaik. Vampir itu mengenakan jubah gelap yang panjangnya hingga mata kaki dengan T-shirt hitam ketat yang tidak mampu menyembunyikan otot – ototnya yang menakjubkan. Kedua kakinya yang jenjang di balut celana jeans pudar disusul sepasang sepatu boot kulit dengan belati – belati tajam terselip dibagian luarnya. Luna memperhatikan penampilan vampir tersebut dari atas hingga bawah, vampir ini bisa saja jadi model internasional kalau dia mau. Vampir memang diceritakan selalu memanfaatkan daya tariknya yang luar biasa untuk memancing mangsa, tapi Luna tidak tahu ada yang setampan ini.

“Ada masalah, were? Kau takut sekarang?” tanya Vampir itu dengan nada mengejek sambil menunjukan kedua taringnya yang seputih mutiara. Luna menelan kembali engahan takjubnya.

“Ok, aku sudah melihat wujudmu, Vamp. Jadi sekarang aku boleh pergi?”

Bibir Vampir itu berkedut geli, “kau sudah melewatkan kesempatan mu untuk pergi, mungil…”

“Mungil?”

“Aku rasa itu kata yang tepat untuk menggambarkan sesuatu yang lebih kecil…”

Luna mendengus pendek. Vampir ini memang dua kali lipat lebih tinggi darinya tapi bukan berarti dia bisa menganggap Luna wanita lemah, Luna adalah seorang were yang dipinang oleh ketua kawanan karena kekuatannya melebihi wanita werewolf yang lain.

Dari kejauhan samar – samar Luna mendengar suara lolongan panjang seekor serigala, Luna tidak mungkin salah, itu adalah lolongan Chanyeol. Lolongannya lebih kuat dan dominan dibanding anggota kawanan yang lain. Luna terkesiap, lolongan lelaki itu terdengar kesepian dan pilu. Jantung Luna berdebar cepat.

“Sepertinya kau sedang punya masalah dengan kawanan mu, mungil?” vampir dihadapannya kini mendesak Luna sampai ke dinding.

“Jangan mendekat lagi, Vamp!”

“Kris,” vampir itu menekankan,

“Kris?”

“Namaku Kris…”

Wow, nama yang cocok sekali. Terdengar Dingin. Dan bengis.

Luna terengah – engah gugup. Kini pilihannya hanya dua, kembali kepelukan Chanyeol yang tidak dicintainya, atau jadi santap malam vampir sexi ini. Tapi Luna sudah terlalu kelelahan dan bingung untuk berpikir, terserah saja kalau vampir ini mau membunuhnya dalam sekali isap, Luna tidak peduli lagi. Jadi Luna menjatuhkan diri berlutut di depan vampir itu dan menangkupkan kedua tangannya dengan gerakan memohon.

“Kris, aku meminta perlindungan mu!” seru Luna nekat.

***

Kris adalah vampir berusia ribuan tahun, dia sudah mengalami berbagai macam perang dan revolusi bangsa – bangsa, sudah tidak ada lagi yang bisa membuatnya terkejut di dunia ini. Tapi hanya melihat were bertubuh mungil dihadapannya kini berlutut dan memohon, berhasil membuat kedua alis Kris berkerut keheranan.

Apa were ini bodoh?

Sebenarnya Kris sudah bisa merasakan keberadaan were ini sejak dia bersembunyi di gua kecil yang terletak tidak terlalu jauh dari sarangnya. Kris bisa merasakan detak panik di denyut nadi gadis ini tiap kali dia mendengar lolongan kawanannya yang lain. Sebagai seorang vampir berpengalaman seharusnya Kris sudah menghalau anjing – anjing bermasalah itu keluar dari teritorinya, dia seharusnya tidak usah menampakan diri dan membiarkan saja were mungil ini lewat dari sarangnya tanpa tahu apa – apa tentang keberadaannya. Tapi were ini terlalu menggoda, Kris menahan geramannya sendiri. Aroma darahnya yang manis membangkitkan rasa lapar Kris yang tak tertahankan. Kris tidak buta soal wanita, selama berabad – abad dia sudah berhasil menaklukan wanita – wanita paling cantik di seluruh dunia. Sekarang pekerjaan Kris hanya mendekam sendiri di sarangnya yang aman menelan kebosanan hidup. Jadi ketika ada aroma unik yang menarik perhatiannya, Kris penasaran dan tidak bisa menahan diri. Ada sedikit perasaan senang yang menggelenyar ketika Kris merasakan were mungil ini memasuki sarangnya.

Tapi sayangnya kesadaran gadis ini sebagai seorang werewolf ternyata rendah sekali, apa dia tidak tahu kalau were dan vampir ditakdirkan untuk saling mencabik? Jadi kenapa dia meminta tolong padanya sekarang?

“Siapa nama mu?” tanya Kris sedingin mungkin,

Gadis itu mendongkak perlahan, “Luna…” jawabnya,

“Luna…” Kris merasakan nama itu di lidahnya. Sempurna, sebutan klasik untuk bulan.

Tiba – tiba bayangan Luna sebagai seekor serigala yang berlari bebas di bawah terpaan sinar bulan melintas di kepala Kris.

“Apa yang membuat mu berlutut pada ku seperti ini, Luna?”

“Aku tidak bisa menyebutkannya…” jawab Luna tegas,

“Bagaimana aku bisa menolong mu kalau aku tidak tahu apa yang harus ku perbuat?”

“Aku hanya ingin kau biarkan aku berlindung di sarang mu sementara dari kawan – kawan ku,”

Kris memiringkan kepalanya kesamping, segurat senyum sombong muncul di wajahnya yang terlalu tampan, “Dan apa yang bisa kau tawarkan sebagai ganti kemurahan hatiku?”

Luna terkesiap, gadis itu mendongkak memandang wajah Kris lekat – lekat. Gadis itu sepertinya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Kris, Kris tersenyum puas, tidak ada wanita yang bisa lepas dari pesonanya. Dan Kris tahu itu.

“Aku tahu kalau vampir meminum darah untuk mengembalikan kekuatannya,” ujar Luna gugup.

“Lalu?”

“Aku menawarkan darahku, tapi tidak sampai habis. Maksudku, aku akan memberikan darahku kalau benar – benar di butuhkan,”

“Luna, manis… aku bisa berburu sendiri kalau aku butuh darah,”

“Tapi aku seorang werewolf!” seru Luna panik, “darahku bisa mengembalikan kekuatanmu secepat kilat,”

Kris terdiam sebentar. Memang benar apa yang dikatakan Luna, Kaum vampir tidak mungkin mati – matian berusaha mencicipi darah werewolf kalau darah mereka tidak mengandung pengembalian kekuatan dan kesembuhan bagi vampir.

“Baiklah kalau begitu, darah mu kuterima…” jawab Kris puas,

“Tapi hanya kalau benar – benar dibutuhkan! Bukan untuk camilan!” tambah Luna sengit.

Kris tersenyum kecil. Were ini akan menjadi hiburan yang menyenangkan baginya untuk sementara. Diperhatikannya rambut coklat kacang gadis itu yang panjang sepinggang dan matanya yang ekspresif. Kris berusaha mengalihkan perhatiannya dari T-shirt putih polos Luna yang terlalu ketat dan celana jeansnya yang sudah robek – robek, menampilkan sekilas kulit mulus berwarna gelap yang sedari tadi memanggil Kris untuk menyentuhnya. Yang disayangkan adalah sayatan – sayatan luka yang tergores di sepanjang lengan gadis itu, Kris berjanji akan mengurusi luka – luka itu nanti.

“Kalau begitu, mari masuk ke sarang ku,” ajak Kris sambil beranjak dari tempatnya berdiri,

“Ruangan ini bukan sarang mu?” tanya Luna kaget.

“Dibawah.” Kris berkata singkat.

***

Chanyeol yakin dirinya sudah mengikuti aroma Luna sejauh yang dia bisa, calon pasangannya itu pintar dengan menahan diri supaya tidak bertransformasi sepanjang bulan purnama, pasti sangat sulit dilakukan. Chanyeol menghentikan ke empat kakinya berlari diatas sebuah tebing tinggi, pandangannya yang tajam menyapu setiap jengkal tanah di hutan lebat tersebut, tapi dia tidak bisa menemukan apapun. Rasa frustasi mencengkram hatinya seperti ikatan simpul mati, kalau Chanyeol tahu akhirnya akan seperti ini, dia tidak akan menyebut – nyebut soal pernikahan di depan Luna. Hatinya terlalu yakin kalau Luna sudah siap untuk menerimanya.

Indra penciuman Chanyeol hanya bisa menemukan Luna sampai kesebuah gua kecil yang sudah kosong, bagaimana bisa gadis kecil itu menghilangkan aroma tubuhnya sendiri?

“Hari sudah hampir fajar, master…” tiba – tiba sebuah suara tinggi berbicara dibelakang Chanyeol.

Chanyeol berbalik dan dilihatnya Baekhyun, salah satu anggota kawanan nya itu sudah kembali mengambil wujud manusia, mengenakan baju hangat berwarna biru muda dan celana khakhi longgar. Chanyeol mendengus pendek.

“Kita tidak bisa menghentikan pencarian ini begitu saja, Baekhyun,” kata Chanyeol lewat telepati.

“Ya, master. Tapi begitu siang datang, tempat ini akan dipenuhi oleh manusia. Kita tidak bisa membahayakan seluruh kawanan,”

Chanyeol mengibas – ngibaskan ekornya tanda mengerti, tapi hatinya sama sekali tidak bisa tenang. Harga dirinya terluka saat membiarkan Luna lepas begitu saja dari penjagaannya.

Dengan satu sentakan keras Chanyeol melolong panjang kearah bulan, lolongannya bisa membuat para manusia dan roh hutan bergidik ngeri, termasuk Baekhyun yang kini mundur beberapa langkah dibelakangnya dengan takut. Sudah lama sekali Chanyeol tidak pernah mengeluarkan lolongan seperti itu lagi. Kini Chanyeol berharap lolongannya tersebut sampai ketelinga Luna, dimanapun dia berada. Sebagai anggota kawanan, gadis itu pasti punya reaksi alamiah dalam tubuhnya untuk menyahuti lolongan Chanyeol.

“Luna…” bisik Chanyeol dalam hati dengan wajah muram.

TO BE CONTINUED

About these ads

16 thoughts on “[FREELANCE] VAMPIRE’S DEN (Chapter 1)

  1. Agak2 aneh sie pertama baru liat kris dpasangin ama luna.bknnya gmana author tingginya mreka itu lho..kkk yg 1 kaya tower yg 1 lgi tw sndri kan?hehe
    Tp gpp crtanya bgus sie..
    Oke mw lnjut next chap dlu..

  2. Haloooo namakuuu oh sehuunnnn
    Gillla kerenn bangettt q disini sebagai reader baru salam kenal Ya ampun ceritanya kyk nonton pilemmmm ampunnn sumpahhh kerennn bangettttttttttttt euniiiiiii

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s