[FREELANCE] Walks Away

Title           : Walks Away

Author        : Hangukffindo

Genre         : Drama romantic

Length        : Oneshot

Rated          : All ages

Cast             : Kris EXO, Yoona SNSD

Support Cast  : Sooyoung SNSD, Tiffany SNSD, Jessica SNSD, Luhan EXO

Disclaimer  : Fanfic ini terinspirasi dari lagunya 2ne1 yang It Hurts, tapi secara keseluruhan ceritanya murni berangkat dari imajinasi tak berbatas milik seorang exitocs sepertiku. So…don’t be a plagiator😀

 

Annyeong *bow with Kris* hahaha :b

apa kabar chingudeul?? Hari ini ada ff Kris EXO

yap, disini ada ff kreaasseee!! ayyoo wassuupp, roll like a buffalo haha

kali ini pairingnya bersama Yoona (what?? dia?) tapi Yoona itu cantik, dan author merasa

dia cocok aja di pairing-in sama siapa aja dan kali ini pasti gak ada yang kecewa toh? hehe

Ah, gak usah banyak omong lagi deh, entar chingudeul pada kabur.

oke deh, happy reading

***

Jika dia tidak menginginkan ini…

 

Kita tidak mungkin melangkah sejauh ini…

 

***

Yoona P.O.V

Kau tahu, mungkin aku adalah orang paling naïf sedunia. Mereka bilang wajahku selalu memancarkan kebahagian yang sebenarnya, mereka bilang aku selalu tersenyum dan itu membuat seakan duniaku dapat dirasakan oleh semua orang.

Tapi…itu bukanlah yang aku rasakan. Senyuman ini palsu, tidakkah kalian tahu tentang itu? Mata ini selalu meneteskan air mata setiap malamnya. Semua ini tidak indah, apa kalian tidak tahu?

”Chukkae…bersulang untuk, Kris dan Yoona. Ah, kalian sangat serasi.” ujar ayah mengangkat gelas champagne itu tinggi-tinggi.

Suara gelas berdentangan memekakan telingaku. Rasanya aku ingin pergi keluar dari ruangan yang penuh sesak orang-orang yang tidak mengetahui kenyataan yang menyakitkan tentangku.

Tapi aku tidak bisa!

Aku tetap berada disana, berdiri di sebelah tunanganku, Kris.

Mungkin dia adalah pria tertampan yang pernah kutemui. Tubuhnya yang tinggi, wajah sempurna itu, hampir semua temanku iri karena aku dapat bertunangannya.

Tiba-tiba lampu mulai meredup, itu pekerjaan sahabatku, Soo Young. Dia memasang lagu dansa, mengalir lembut memenuhi ruangan. Semua orang berdiri dengan pasangannya. Dan aku…

Aku berdiri mematung disana bersama orang ini. Dengan tatapan lurus ke depan, dia tidak mengajakku berdansa.

”Apa yang sedang kalian lakukan disini? Berdansalah.” suruh ayah menepuk punggung Kris sedikit keras.

Kris menatapku datar, dia menggenggam tanganku, menarikku ke tengah ruangan. Semua orang menyorakki kami. Aku berusaha tersenyum, namun wajah Kris tetap sama. Datar, tak berekspresi.

Kami berdansa malam itu. Ditempa dengan sinar lampu yang hangat, namun dia tidak sehangat itu. Genggamannya dingin, aku tidak merasakan apa-apa disana. Tidak ada cinta, tidak ada rasa kasih sayang, tidak ada kehangatan.

***

Aku menatap cincin silver yang melingkar dijariku. Aku ingat saat dulu, aku benar-benar menunggu hari ini. Dimana aku memakai cincin ini dan merasa bahagia sampai tidak bisa tidur.

Ya, aku memang tidak bisa tidur, tapi bukan karena bahagia, namun karena kesedihan ini semakin menjadi-jadi dan aku tidak bisa membayangkan kedepannya seperti apa.

Tok-tok…

Pintu terbuka dan Kris berdiri disana. ”Kau belum tidur?” katanya dengan suara berat itu.

”Belum. Kau juga belum tidur…”

”Ini dari ayahmu.” dia melemparkan tas bajuku ke tempat tidur. ”Selama mereka di Amerika, kau akan berada disini.”

Lalu dia keluar kamar dengan acuh. Ayah dan ibu pergi, aku harus berada disini. Bukan, bukan karena aku harus tinggal bersama Kris, si manusia dingin itu. Tapi karena kenangan itu…

Kenangan yang tidak bisa kulupakan saat berada di rumah ini.

Luhan…

Aku mengeluarkan sebuah foto dari dalam laci. Disana ada aku dan Luhan. Aku ingat kami mengambil foto ini saat berada di Disneyland. Perayaan ke-tiga tahun hubungan kami.

Aku menghela napas berat. ”Luhan, andaikan kau tidak pergi.” kutempelkan bibirku di foto itu. ”Aku sangat merindukanmu.”

Air mataku mengalir. Hampir tidak bisa menahan emosi yang bergemuruh didadaku. Setahun sudah Luhan pergi ke dunia yang lain.

Ya, dia adalah adik Kris. Dulu aku berpacaran dengannya, namun setelah Luhan meninggal, Kris berjanji akan menjagaku pada Luhan. Mungkin ini terdengar seperti aku berkhianat pada Luhan.

Aku tahu ini aneh, aku juga merasakan hal itu. Tapi waktu terus berjalan dan…aku harus memulainya dari awal.

Walau itu tidak mudah.

***

”Kau berangkat pagi hari ini?” ujarku sambil menyediakan makanan di meja makan.

”Ya, aku sedang banyak kerjaan.” jawabnya singkat.

”Apa kau akan pulang malam?”

”Entahlah, tergantung.”

Aku berusaha seramah mungkin menanggapinya. ”Aku harap kau bisa pulang cepat ke rumah, hari ini aku akan…”

”Aku berangkat.” dia bahkan tidak membiarkanku menyelesaikan satu kalimat pun. Pria itu seakan asing dengan tunangannya sendiri. Tapi bukankah aku sudah terbiasa dengan sikapnya?

Tetap saja menyakitkan…

Setelah berberes di rumah, aku menelepon Soo Young untuk jalan-jalan.

“Apa yang kau lakukan? Semalam bertunangan dan sekarang bukannya bersama Kris, kau malah jalan-jalan denganku?” cerocos Soo Young saat kami berada di kafe.

”Kris sedang banyak kerjaan, Soo.” jelasku.

”Dia bisa kan menundanya dan menghabiskan waktu bersamamu walau hanya sehari atau setengah hari. Dia tidak bisa meninggalkanmu sendirian di rumahnya itu!” dia masih saja mengoceh. Aku hanya bisa mendengarkannya sambil meminum latte-ku.

”Yoona, kau bukan pelayannya! Kau tidak bertunangan dengannya hanya untuk menjadi penjaga rumah dan tampak seperti wanita single seperti ini!”

”Soo…” aku memintanya memelankan suara.

”Biarkan mereka mendengarnya, Yoona. Bagaimana mungkin ini terjadi padamu. Haruskah aku bicara pada Kris?”

Aku tersedak latte-ku. Segera kugenggam tangannya. ”Kumohon, jangan berbicara apa-apa dengannya. Ini salahku. Kau tahu kan, aku bukan orang yang pintar merayu.”

Soo Young melotot padaku. ”Ini bukan masalah pintar merayu atau tidak. Ini…” tiba-tiba tatapannya melemah. ”Yoona, katakan yang sejujurnya padaku. Apa Kris mencintaimu?”

Aku tertawa kecil. ”Tentu saja dia mencintaiku. Kalau tidak, semalam kami tidak akan bertunangan.”

”Dan kau? Apa kau mencintainya?”

”Soo…” apa dia meragukanku? ”Aku mencintainya. Apa sekarang kami sah menjadi pasangan? Kau seperti pendeta yang menikahkan kami.”

Soo terdiam sejenak, lalu melontarkan pertanyaan selanjutnya. Pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin kudengar.

”Apa seperti kau mencintai Luhan?”

Dadaku terasa sesak mendengar nama Luhan disebut orang lain. Setelah kepergiannya, tidak ada yang pernah berani menyebut nama itu di depanku.

”Ayolah, Soo, aku tidak ingin membahasnya.”

”Kita harus membicarakannya, Yoona. Kau tidak bisa seperti ini terus menerus!”

”Kau tidak mengerti apa-apa, Soo. Kau tidak mengerti tentang Luhan dan jangan pernah membicarakannya di depanku. Kau mengerti?” kini aku merasa sangat marah pada Soo Young.

Aku buru-buru beranjak dari kursiku, tidak ingin dia melihat air mataku. Kutinggalkan dia dengan air mata yang menghambur, memburamkan penglihatanku.

          Luhan, tolong aku. Ini menyakitkan…

 

***

Apa yang Soo Young pikirkan?? Dia sahabatku, seharusnya dia tahu seperti apa rasanya.

Kupeluk diriku yang kedinginan di depan televisi. Tidak ada film yang seru. Aku terus saja menekan tombol remote mengganti saluran televisi.

”Kenapa tidak ada film yang bagus. Huaammm…” aku menguap besar sekali. Kulirik jam didinding. 23.45. Bagus! Dan Kris belum pulang.

Kutengok meja makan, makanannya sudah dingin dan aku seperti orang bodoh, memasak banyak, belum makan karena menunggu Kris pulang, berharap bisa makan malam bersamanya.

Suara deru mobil terdengar dari garasi. Aku segera melompat dari sofa. Masih memeluk bantal kubuka pintu depan.

Kris tidak pulang sendiri. Dia merangkul seorang wanita bertubuh ramping disampingnya. Dari langkahnya yang tidak beraturan aku tahu dia mabuk.

Wanita itu melihatku, lalu segera melepaskan diri dari rangkulan Kris. Namun Kris tidak ingin melepaskannya.

”Tiffany, kau mau kemana heh?”

”Kris…” desis Tiffany kembali menjauhkan diri. ”Ma…maafkan aku.” lalu wanita itu pergi keluar. Meninggalkan Kris yang bersandar di didinding garasi mobil, menatap kepergiannya.

”Tiffany!!” panggil Kris sia-sia. ”Sial!”

Aku memejamkan mataku yang tidak lagi mengantuk. Hal ini sudah tidak asing. Aku melihatnya beberapa kali dan tidak berbuat apa-apa. Ini memang sudah menjadi kebiasaan Kris. Berselingkuh di depan mataku. Maaf, Soo, aku berbohong padamu.

Kris tidak pernah mencintaiku.

”Apa yang kau lakukan disini, heh?” tanya Kris, berjalan sempoyongan ke arahku. ”Kenapa kau ada disini, Im Yoona?”

Dia roboh ke arahku. Aku menahan tubuhnya yang berat tanpa mengatakan satu patah kata pun. Kami masuk ke dalam rumah. Kubawa dia ke sofa dan melepaskan sepatunya, juga kaus kakinya.

Kalian pasti heran melihat tingkahku dan bertanya-tanya, ”kenapa kau tidak marah?”, ”Kenapa kau tidak mengusirnya?”, ”Kenapa kau tidak memukulnya dan menangis karena sakit?”

Percayalah, itulah yang selalu kutanyakan dalam hatiku. Kenapa aku tidak pernah berkomentar soal ini. Aku tidak pernah protes padanya. Apa aku tidak punya perasaan?

***

”Aaawww…kepalaku…”

Aku duduk di meja makan, mengoles roti dengan selai. Kris bangun dan menyadari bahwa semalaman dia tidur di sofa.

”Selamat pagi.” sapaku dari meja makan.

Kris masih mengumpulkan tenaganya. Dia memijat lehernya yang pegal. Aku tahu itu pasti tidak enak, tentu saja, kau mabuk semalam, Kris!

Dia duduk di depanku dengan mata setengah tertutup. ”Jam berapa aku pulang semalam?”

”23.45. Aku tidak makan semalam karena menunggumu. Tidak kusangka kau pulang selarut itu.” ujarku masih fokus dengan rotiku.

”Tidak usah menungguku. Aku akan selalu pulang malam.”

Ya, akan selalu pulang malam dan tidak menganggapku ada di rumah ini.

”Aahh, kepalaku…” keluhnya memegang kepalanya yang sakit. Aku mendorong gelas berisi air beserta obat pereda sakit yang sudah kusiapkan. Aku tahu dia akan begini.

”Minumlah, ini akan meredakan sakitnya.”

”Tidak perlu.” dia menyingkirkan obat itu dan mulai membuat makanannya. Aku sungguh tidak mengerti orang ini! Semakin hari, semakin dingin padaku.

Aku melanjutkan sarapanku. Dia masih saja mengeluh, namun tidak ada yang bisa kulakukan, dia tidak mau mendengarkanku.

Kris meminum airnya, namun air mengucur deras dari bawah gelas itu. ”Ah, bocor…”

”Tunggu, aku akan menggantinya.” aku berlari kecil ke arah dapur. Membuka lemari gelas dan mengambil salah satu gelas dari sana. Kuisi lagi airnya dan memberikannya pada Kris.

Sambil mengelap meja, aku meminta maaf padanya. ”Maaf, aku rasa gelasnya retak karena aku mengisi air panas dan air dingin secara bersamaan dan…”

Aku berhenti bicara saat melihat Kris tiba-tiba menjauhkan gelas itu dari mulutnya. Dia menatap gelas itu dengan seksama, awalnya aku tidak tahu mengapa dia melakukannya, namun setelah kulihat lebih teliti…

Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Kakiku lemas dan rasanya aku tidak ingin berada disana. Aku ingin berlari ke kamarku, menangis dengan bantal menutupi wajah.

Itu gelas Luhan. Ada namanya terukir disana dengan tinta merah.

Aku mengambil napas sedalam-dalamnya, menunggu reaksi Kris.

Dia meletakkan gelas itu perlahan. Kami mematung seperti orang aneh. Aku meremas tanganku sendiri hingga memerah. Mengapa ini harus terjadi?

Kris beranjak dari kursinya, dia menatapku sesaat. Mungkin dapat melihat air mata di sudut mataku. Namun dia tidak berkata apa-apa. Melewatiku seakan tidak ada yang terjadi.

Ini semakin sulit.

***

Kalian tahu, ini lebih sulit dari apapun yang ada di dunia. Lebih sulit dari ujian masuk kuliah yang pernah kutempuh. Waktu itu aku merasa bisa melewatinya dan berhasil, namun kali ini aku tidak punya kepercayaan diri seperti itu lagi.

Aku berdiri di depan kamar Luhan di lantai dua rumah ini. Jika kupejamkan mata ini, aku tahu bayangan itu akan kembali lagi. Bayangan Luhan yang duduk di sisi tempat tidurnya yang putih. Aku masih ingat letak setiap barang-barang yang ada di kamarnya.

Kutekan kenop pintu itu. Aku seperti mendengar suaranya berbisik lembut di telingaku, Yoona…memanggilku halus.

Aroma mint yang menyegarkan menguar saat kubuka pintu kamarnya. Tidak. Tidak ada Luhan disana, duduk tersenyum kepadaku. Aku hampir menutup kembali kamar itu, namun tanganku menahannya. Aku harus melakukan ini.

***

Normal P.O.V

Kris pulang tanpa wanita malam itu. Dia melamun sejenak di dalam mobilnya yang sudah terparkir di garasi. Kejadian tadi pagi membuatnya merasa aneh. Tanpa alasan, dia mengepalkan tangannya.

Kris masuk ke dalam rumah tepat saat Yoona baru saja melintas di depannya. Dia melihat ada beberapa kardus di lantai dan Yoona baru saja meletakkan satu.

”Apa ini?” tanya Kris bingung.

Yoona merapikan rambutnya, dia tidak langsung menjawab. ”Ini…”

Kris membuka salah satu kardus dan mengangkat kaus berwarna merah, lalu tatapannya beralih ke arah Yoona. ”Ini pakaian Luhan.”

Kris membuka kardus yang lainnya dan mengambil sepatu bola Luhan, dia melotot pada Yoona. ”Apa yang kau lakukan dengan semua barang-barang Luhan?”

”Kris, aku rasa tidak ada gunanya menyimpan barang-barang…” Yoona merasakan sakit luar biasa di tenggorokannya. Dia tidak ingin mengatakan ini. ”Lebih baik kita menyumbangkannya…”

”Menyumbangkan barang-barang Luhan? Maksudmu membuangnya dari rumah ini?? Apa yang kau pikirkan, Im Yoona???!!” pekiknya, suara beratnya menggema memenuhi rumahnya.

”Bawa semuanya kembali ke kamar Luhan!!” perintah Kris.

Yoona menggeleng. ”Aku tetap akan mengeluarkannya dari rumah ini.”

”Kau pikir kau ini siapa??! Ini rumahku dan ini barang-barang adikku!” balas Kris.

”Tapi aku tidak mau tinggal di rumah penuh dengan barang-barang Luhan!!” jerit Yoona dengan wajah penuh air mata. ”Aku tidak mau tinggal dengan kenangan ini!!”

Kris mencengkram lengan Yoona. ”Kalau begitu, keluar dari rumahku.” desisnya, membuat Yoona terisak semakin keras. Kris mendorongnya dan pergi ke kamar.

”Aku tidak mau melakukan ini, Kris.”

***

Yoona seakan tidak ingin beranjak dari tempat tidurnya pagi itu. Hati masih terlalu sakit. Semakin hari semakin sakit dan lama kelamaan Yoona tidak bisa menahannya.

Mereka hampir jarang berkomunikasi sejak kejadian itu. Mereka seperti dua orang yang saling tidak mengenal, tinggal dalam satu rumah.

Dan pagi itu, Yoona semakin merasa aneh. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun dia tidak mengerti apa itu.

Tiba-tiba saja dia tidak merasa nyaman dengan hubungan mereka yang seperti ini. Apakah ini sebuah pertunangan? Tidak pernah merasakan cinta, lalu buat apa ini terus berlanjut?

Yoona duduk di meja makan, berhadapan dengan Kris yang makan dengan lahap sarapannya.

”Apa kau pulang malam hari ini?” tanya Yoona.

Kris tampak kaget karena cukup lama dia tidak berbicara dengannya. ”Seperti biasa.” ujarnya singkat.

Mata Yoona tertuju pada jari Kris yang tidak memakai cincin. Sejak kapan dia tidak memakainya? Apa baru hari ini?

”Dimana cincinmu?”

Kris berhenti makan dan melirik ke arah jarinya.

”Jawab aku, Kris.”

”Apa pedulimu dengan cincin ini kupakai atau tidak?” Kris semakin jengah dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

”Kita…sudah bertunangan. Itu penting.” jawab Yoona ragu.

”Lalu apa itu akan mengubah segalanya?”

”Apa maksudmu? Aku…”

Kris beranjak dari kursinya, menyandang jas hitam di bahunya. Dia menatap Yoona dengan tatapan dingin itu. ”Apa dengan memakai cincin pertunangan kita, akan membuatmu merasa seperti semua ini nyata?”

”Seperti semua ini nyata? Tentu saja ini nyata, Kris. Kau dan aku bertunangan…”

”Apa kau mencintaiku?”

Pertanyaan itu meluncur mulus dari mulut Kris, membuat Yoona terpaku dan merasa seakan waktu berhenti beberapa detik.

”Apa kau mencintaiku?” ulang Kris, namun tetap saja tanpa jawaban dari wanita yang duduk dihadapannya.

Pertanyaan itu menggantung, seolah tidak akan ada jawabannya. Yoona mendengar pintu tertutup, saat itu pun air mata mengalir di pipinya. Dia tidak bisa menahan semua ini, terlalu menyakitkan. Pertanyaan itu terus berputar dan Yoona tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Keputusannya sudah bulat. Semua benda yang ada di rumah Kris mendengar tangisannya, juga menyaksikan kepergiannya dari rumah itu.

Maafkan aku, Kris.

***

Yoona P.O.V

Tidak ada yang lebih nyaman daripada berada di rumah yang benar-benar menyambutmu dengan baik. Rumah Soo Young akan selalu terbuka untukku, itu sangat jelas terlihat ketika ibu Soo Young memelukku dan aku hampir menangis dibuatnya.

Soo Young tidak berbicara apa-apa, hanya melihatku bermain laptop di tempat tidurnya. ”Kau…”

”Soo, please. Aku tidak ingin membicarakan soal pria itu atau pun hal-hal yang menyangkut kehidupanku.”

”Tapi…ayolah.” Soo Young duduk di kasur.

”Soo…” kini aku memasang wajah memelas, aku memeluknya erat-erat dan aku merasa kembali pada jaman kami masih seorang siswa SMA. ”Aku mohon, biarkan aku seperti ini. Jangan khawatir, semuanya akan kembali seperti semula dan aku…akan baik-baik saja. Aku pasti bisa melewati ini semua. Jadi, jangan cemas. Oke?”

Soo Young tersenyum lemah, dia balik memelukku. “Maafkan aku tidak bisa membantumu, Yoona. Aku…ikut sedih saat kau sedih.”

”Tidak apa. Aku menyayangimu.”

”Aku juga menyayangimu. Aku mau mandi dulu dan jangan pernah membuka situs-situs yang aneh.” Soo Young memperingatiku sambil tertawa.

Aku ikut tertawa. ”Memang apa yang akan kubuka? Ooh, coba kulihat disini. Apakah kau menyimpan foto Siwon oppa?”

”Berhenti, Yoona!! Jangaaann!!”

Sejenak aku bisa melupakan semua masalahku dengan bersama Soo Young, tapi bisakah selamanya seperti ini? Entahlah, asalkan tidak mengingat Kris, hatiku menjadi tenang dan hari-hariku akan yah, setidaknya membaik daripada sebelumnya.

***

Kris pulang ke rumahnya dengan langkah sempoyongan dan pandangan yang tidak fokus. Tubuhnya berayun kesana kemari dan saat keluar dari mobil, semua makanan yang ada diperutnya keluar begitu saja, dia harus mengucapkan selamat tinggal pada makan malamnya.

”Oppa, kau baik-baik saja?” tanya wanita bernama Jessica tampak cemas, namun tidak lagi ketika Kris muntah untuk kedua kalinya, hampir mengenai sepatu sang wanita.

Dia pergi. Meninggalkan Kris dalam keadaan setengah sadar. ”Sica ssi…kau mau kemana? Kemarilah, ayo kita bersenang-senang malam ini…” panggilnya sia-sia karena wanita itu sudah pergi entah kemana.

”Dasar wanita brengsek!”

Kris berdiri dengan susah payah dan melangkah ke arah pintu rumah. Dia menggedor pintu, ”Im Yoona!! Im Yoona!! Bukakan pintu.” cegukan menyerangnya, Kris tertawa menemukan dirinya cegukan. ”Im Yoona…calon suamimu sudah pulang. Bukakan pintunya. Im Yoona!!!”

Sunyi. Tidak ada jawaban.

”Kemana dia?” Kris merogoh ponselnya.

***

”Aku menang lagi!!”

”Kau curang! Lihat, kau menggeser mouse-nya sehingga aku tidak bisa melihat jalanan dan aku menabrak pembatas jalan.”

”Aku menang, aku menang. Lalalala…” aku berlari menjauh dari Soo Young yang tidak bisa menerima kekalahannya sambil menjulurkan lidah. Aku paling senang melihat sahabatku ini ngambek.

”Ya! Kau tidak…”

Tiba-tiba ponselku berdering di meja. Soo Young langsung terdiam, begitu juga aku yang membeku melihat nama penelepon.

Kris…

 

          Aku berhenti bernapas dan jantungku berdegup kencang. Buat apa dia menghubungiku? Bukankah dia senang jika aku pergi dari rumahnya? Atau…dia menelepon hanya ingin mengatakan bahwa dia senang jika aku pergi…

Aku mengenyahkan pikiran itu dan mengangkat telepon itu. ”Halo.”

Yoona…” suara Kris begitu lemah. Aku tahu dia mabuk, tapi ada sesuatu dalam suaranya yang aku tidak mengerti apa itu. ”Yoona…”

”Ya, Kris.”

Soo Young memekik tertahan.

Bukakan pintunya…

Jujur, hatiku mencelos begitu mendengarnya. Apa yang harus kulakukan, heh? Haruskah aku katakan bahwa aku sudah meninggalkan rumahnya dan jangan pernah menghubungiku lagi? Atau haruskah aku menutup telepon ini karena…ya, aku sudah tidak peduli dengan dirinya?

Yoona…”

Aku menghela napas berat.

”Tunggu aku.”

***

Aku berlari. Tidak. Aku terbang. Aku merasa seperti seorang superhero yang buru-buru pergi ke lokasi dimana ada korban yang sedang menungguku untuk diselamatkan. Aku memang bukan wonder woman, juga bukan superman atau spiderman.

Aku tidak tahu apa yang kukenakan saat ini. Celana training lusuh, sweater kuning, dan sandal rumah bentuk beruang. Aku mengabaikan tatapan orang padaku, aku tidak peduli, yang kupikirkan sekarang adalah Kris sedang menungguku. Untungnya dia sedang mabuk.

Sesampainya aku disana, Kris sedang bersandar pada pintu rumah. Rambutnya sedikit berantakan dengan kemeja yang penuh noda muntah.

Aku memapah tubuh berat Kris ke dalam kamarnya. Aroma muntahannya cukup kuat, aku pun mengambil kaus dari dalam lemari dan membuka kemejanya.

Namun, tiba-tiba tangan Kris menahanku. Dia menatapku bingung. ”Apa yang sedang kau lakukan?”

”Aku mengganti bajumu yang kotor.” aku tidak menghiraukannya.

”Hei, hei…kau tidak boleh melakukannya.” protesnya. Aku tetap membuka kemeja itu dan menggantikan semua bajunya.

Lalu Kris terkekeh saat aku membersihkan wajahnya dengan tisu basah. ”Oh iya, aku lupa, kau kan tunanganku.” ujar Kris. Namun aku tetap diam tidak meresponnya.

”Atau…tidak lagi…” Kali ini Kris berhasil membuatku menatapnya.

Pandangan Kris teralih pada jari-jariku, dia melihat cincin itu dan dia memandang jemarinya sendiri. ”Oh! Kemana cincinku?? Aku sudah bertunangan dan aku tidak memakai cincin sepertimu.”

”Kau melepaskannya, Kris.”

”Melepaskannya? Kenapa?” itulah yang ingin kupertanyakan padamu, Kris.

Aku sudah selesai membersihkan wajahnya. Kris tertidur dengan posisi yang rapi walaupun dia tengah mabuk. Aku menyelimuti tubuhnya yang ramping itu, mengelus dadanya dan tiba-tiba aku meneteskan air mata.

Tidak ada alasan dibalik itu, entah…sekejap aku merasakan dadaku sesak seperti kehilangan napas.

Kutatap lama sekali wajah sempurna itu. Tidak, dia tidak mirip dengan Luhan. Dia mempunyai hidung mancung, garis wajah yang proposional, tidak heran semua wanita itu menempel padanya.

”Banyak wanita yang mengejarmu, Kris. Kau pulang dengan mereka setiap malam. Aku heran mengapa kau mau bertunangan denganku, apa…itu karena janjimu pada Luhan? Seandainya kau tidak berjanji akan menjagaku deminya, mungkin hal ini tidak akan terjadi.” ujarku sedikit pahit.

Aku menyentuh rambut Kris, hal yang tidak pernah kulakukan. ”Jangan tanyakan hal yang jawabannya sudah jelas bagimu.”

Aku beranjak dari tempat tidurnya, mataku lelah, hatiku lelah, semuanya menjadi terasa berat saat bersama Kris.

”Kenapa kau tidak memakai cincinmu? Itu karena kau tidak mencintaiku, Kris. Kau tahu hal itu.”

***

Normal P.O.V

Yoona beranjak dari tempat tidurnya. Dia mematikan lampu sebelum menutup pintu dan Kris membuka mata melihat kegelapan menyelimutinya.

”Kenapa kau tidak memakai cincinmu? Itu karena kau tidak mencintaiku, Kris. Kau tahu hal itu.” suara Yoona yang lembut membuat Kris meneteskan air mata.

***

Kris terbangun dalam posisi tangan dan kakinya menggantung di sisi tempat tidur, menjuntai menyentuh lantai, menghasilkan kesemutan luar biasa saat Kris mencoba berjalan keluar kamar.

Dia sedikit sempoyongan dan menabrak dinding disebelahnya. ”Awww…” erangnya. Lalu dia melihat Yoona sedang menyiapkan sarapan di meja makan.

”Kau sudah bangun? Ayo sarapan. Aku sudah membuatkannya untukmu.”

Kris kembali mengingat perkataan wanita ini semalam. Mengingatnya membuat kepalanya semakin sakit dan dia berusaha untuk tidak mempedulikan ingatan itu.

Dia duduk disana dan Yoona langsung memberikan roti bakar yang sudah di beri selai kacang kesukaannya. Wanita cantik itu begitu cekatan saat melakukan semuanya di depan Kris, membuat roti, membuat kopi, juga memotong roti itu menjadi bagian kecil.

”Ayo makan.” ujar Yoona menggigit rotinya.

Kris heran, mengapa dia bersikap seolah tidak ada yang terjadi semalam.

”Kau tidak lapar?”

”Tidak. Aku hanya…” Kris memasukkan roti ke dalam mulutnya.

”Apa kau akan bekerja hari ini?”

Kris menggeleng dengan cepat. Seharusnya dia masuk kerja, namun entah mengapa dia sedang ingin berada di rumah.

”Tidak. Aku…sakit kepala…”

”Aku punya obat untuk meredakan sakit kepalamu.”

”Tidak.” potong Kris. ”Aku ingin beristirahat di rumah.”

Yoona mengangguk paham, namun sebenarnya dia bingung. Dia belum pernah menghabiskan waktu di rumah bersama Kris. Haruskah dia pergi ke rumah Soo Young dan membiarkan Kris sendirian?

Kris menonton televisi, mengganti channelnya dengan cepat karena tidak bisa menemukan acara yang bagus.

”Kris.”

”Ya?” Kris sedikit terlonjak.

”Kalau kau butuh sesuatu…aku ada di kamarku.”

Kris mengangguk dan kembali pada televisinya, lalu Yoona pergi ke kamarnya di lantai atas. Kris menatap jam dinding. 10.50. Masih pagi namun dia sudah mulai merasa bosan. Apa yang dilakukan Yoona selama dia pergi? Mendekam di rumah dengan acara televisi murahan?

Yoona sedang membaca buku sambil mendengarkan lagu ketika Kris mengetuk pintunya. Dia membuka headset dan menemukan Kris berdiri di ambang pintu, sosoknya yang tinggi terkadang membuat Yoona merasa bahwa dia tinggal bersama seorang model.

”Ada apa?”

”Eumm…aku…” dia tampak menimang-nimang perkataannya. ”Aku bosan.”

”Bosan? Lalu kau mau apa?” tanya Yoona sedikit bingung.

Kris mengangkat bahu. ”Entahlah, mungkin kita bisa keluar dari rumah ini dan…berjalan-jalan.”

Itu tidak tampak seperti pertanyaan, itu lebih seperti sebuah pernyataan. ”Jalan-jalan? Baiklah, aku akan bersiap-siap.” Yoona menutup pintunya walaupun Kris tampak tidak bergeming dari sana.

Jantungnya berdetak tak karuan. Apa ini? Jalan-jalan bersamanya? Batin Yoona masih bersandar pada pintu.

***

Yoona mengira Kris adalah orang yang serba sempurna. Perfectionist, yang akan berdandan sebelum keluar dan bertemu banyak orang. Namun hari ini dia tidak menunjukkan sikap itu.

Dia hanya memakai celana jins dan kaus putih lengan panjang. Pria itu berjalan bak seorang model, dan Yoona seakan menciut di sebelahnya.

Tidak satu pun diantara mereka saling berbicara. Mereka bahkan tampak seperti dua orang yang tidak mengenal, jarak mereka terpaut beberapa meter, membiarkan Kris jalan di bahu jalan, sedangkan Yoona berjalan di atas trotoar.

Mereka berhenti di sebuah toko bubble tea untuk minum, lalu berjalan lagi. Masih dalam keadaan terdiam sampai mereka tiba di toko swalayan.

”Apa persediaan makanan di rumah masih ada?” tanya Kris.

”Sudah mulai menipis. Kau mau belanja?”

Kris mengangguk. ”Aku mau memasak malam ini.”

”A…apa?” belum sempat Yoona mencerna kata-katanya, Kris sudah masuk kesana mengambil troli dan mulai berjalan ke tempat sayur-sayuran.

”Memasak?”

Kris meneliti brokoli di tangannya, wajahnya mengkerut-kerut setiap kali mengecek sayur-sayuran. Yoona tidak mengerti apa yang dia lakukan, namun ekspresi wajahnya membuat Yoona tertawa kecil.

”Apa?” tanya Kris.

”Tidak. Aku penasaran apa yang kau lakukan setiap memegang sayuran dan kenapa kau sangat lama memilih brokoli…”

”Aku hanya mengecek apakah brokoli ini bersih atau tidak, apakah ada ulatnya atau tidak, apakah…”

”Hah, kenapa kau melakukan itu?” potong Yoona sambil mengambil salah satu brokoli, mengeceknya sejenak lalu meletakkannya di troli. ”Ayo, jalan.”

”Hei, hei, hei…bagaimana bisa kau tahu bahwa brokoli itu…”

”Kris…” Yoona mulai tidak sabar. ”Tidak apa-apa.”

”Tapi…lihat, kau memilih brokoli yang batangnya patah.”

Yoona berkacak pinggang, merebut brokoli itu. ”Kita akan memotongnya menjadi kecil-kecil, jadi sama saja. Kau mengerti?” tidak ada lagi toleransi, semua orang melihat perdebatan mereka tentang brokoli. Yoona merasa dia ingin berlari dan tertawa sekeras-kerasnya. Mengapa Kris begitu perfectionist dalam hal memilih sayuran??

Kris menyerah, dia membiarkan wanita ini mengambil sayuran, memilihnya sesuka hati. Dia suka melihat gaya Yoona yang cekatan, bagaimana tangan kurusnya mengambil apel merah itu.

Dirinya berpikir sejenak, perasaan tidak enak melingkupi dirinya setiap melihat wajah Yoona.

Luhan…

 

          Ah, dia ingin menyingkirkan kenangan tentang adiknya. Inikah yang Luhan inginkan? Menjaga seperti inikah yang Luhan bisikan sebelum dia pergi meninggalkan dunia untuk selamanya?

Jaga Yoona. Aku yakin kau bisa melakukannya.

 

Kris selalu yakin pada dirinya sendiri. Menurutnya, tidak ada yang tidak bisa dia lakukan. Apalagi, ketika melihat senyuman Yoona, dirinya seakan dapat terbang ke langit jika dia menginginkannya.

”Ayo, kita pulang. Atau…kau mau ke tempat lain?” ujar Yoona mengembalikan Kris ke bumi.

Kris melirik jam tangannya. Hari cukup sore dan lebih baik mereka pulang.

***

”Apa kau yakin kau mau masak…sendiri? Tanpa bantuanku?” tanya Yoona sedikit khawatir ketika melihat peralatan masak terjejer di meja dapur.

”Tentu saja. Aku lama di Amerika dan terbiasa memasak sendiri. Apa kau meragukanku?”

”Tidak. Tentu saja tidak. Ini…” Yoona memakaikan celemek biru itu pada Kris. Dia segera keluar dari dapur sebelum tertawa, karena Kris terlihat lucu memakai celemek bergambar beruang.

Ada sedikit perasaan aneh pada Yoona. Kris mengatakan bahwa dirinya hanya tinggal menunggu di ruang televisi dan dia yang memasak untuk malam ini.

”Apa yang terjadi dengannya? Apa dia salah minum obat sakit kepala?” gumam Yoona.

Pukul setengah 8 malam. Yoona mulai mendengar desis masakan yang berasal dari dapur, aroma bumbunya pun menguar sampai ke ruang televisi. Perutnya berbunyi keras, ”Ah, lapar.” ujar Yoona bolak-balik menoleh ke arah dapur.

Acara televisi tidak ada yang menarik, Yoona putuskan untuk diam-diam melangkah ke dekat dapur, mengintip dari balik rak dan melihat apa yang sedang Kris lakukan.

Itu merupakan pemandangan yang tidak pernah Yoona lihat sebelumnya.

Kris tidak takut pada minyak yang memercik, mengenai tangannya, juga uap panas yang mungkin bisa merusak kulitnya. Dia masih begitu sempurna dengan keringat dan celemek biru itu.

Jantung Yoona berdegup kencang, dia tidak tahu apa penyebabnya. Atau…dia berpura-pura tidak tahu.

Yoona kembali ke ruang televisi, tersenyum sendiri sambil memeluk bantal, menghirup wangi Kris disana. Oh, apakah Kris baru saja tidur disini?

”Hei…”

Suara Kris mengagetkannya.

”Aku sudah selesai masak.” beritahunya. Yoona segera beranjak dari sana dan menyusul Kris ke ruang makan.

Mereka berdua duduk berseberangan. Ada beberapa jenis makanan disana. Tidak banyak, namun cukup membuat Yoona terperangah karena dari wanginya, juga penampilan makanan ini sangat sempurna.

”Kau berhasil membuatnya, tanpa menghanguskan wajan. Kau…daebak!” Yoona mengangkat ibu jarinya untuk Kris.

Kris hanya tergelak melihat tingkah Yoona yang kekanak-kanakkan. ”Ayo, makan.”

”Tentu saja.” dia sangat bersemangat karena dari tadi sebenarnya dia sudah sangat, sangat, sangat lapar.

Yoona menyuapkan sup ke dalam mulutnya dan dia tersenyum senang. ”Supnya enak.”

”Benarkah?” tanya Kris dari ujung meja. Yoona mengangguk dan menyuapkan makanan yang lainnya dan ekspresi wajahnya tidak bisa bohong bahwa semua makanan ini luar biasa enak.

”Kau benar-benar pintar memasak. Bagaimana kalau besok-besok kau yang memasak?” ujar Yoona setengah tertawa dengan mulut penuh.

Kris tidak langsung menjawab, membiarkan makanan dimulutnya selesai dikunyah, lalu mulai berbicara. ”Tentu aku akan memasak. Jika orang tuamu sudah pulang, kau akan meninggalkan rumah ini dan aku akan menyiapkan segalanya sendirian.”

Makanan di mulutnya menjadi sulit ditelan. Yoona berhenti mengunyah, terdiam menatap makanan di depannya. Mengapa tiba-tiba Kris berkata seperti itu?

Ya, itu memang benar…

Setengah benar…

Mungkin Yoona pernah meninggalkan rumah ini, meninggalkan Kris, namun dia kembali lagi pada akhirnya. Dan jika kali ini dia benar-benar harus pergi karena alasan yang jelas…

Entah mengapa dia tidak ingin hal itu terjadi.

Tidak ada suara lain di ruangan itu selain suara Kris mengunyah makanan. Yoona masih terdiam, kini pandangannya jatuh ke salah satu jari Kris yang memakai cincin silver, cincin tunangan mereka.

Dia memakainya?

 

”Kau…” Yoona mulai bicara. ”Ingin aku pergi?”

Kris mengangkat wajahnya untuk menatap wanita yang merupakan tunangannya. Dia tidak pernah melihat wanita secantik, senatural, semurni Yoona. Aura yang dimilikinya sangat luar biasa dan ya, harus diakuinya, membuatnya jatuh cukup dalam untuk mencintai Yoona.

Perasaan yang tumbuh jauh sebelum mereka bertunangan, jauh sebelum Luhan meninggal, jauh sebelum Luhan bercerita tentang Yoona…

Kris berdiri di pinggir jalan, menunggu Luhan untuk pulang bersamanya. Ketika itu mereka masih duduk di bangku SMA dan Kris melihat seorang gadis, berambut pendek sebahu, menyeberang jalan. Wajahnya yang cantik cukup membuat jantungnya berdetak cepat.

          ”Hyung!” Luhan melambai padanya dari jauh, sedetik dia menolehkan kepala pada Luhan dan dia kehilangan gadis itu. Sejak saat itu, Kris selalu menunggu di tempat yang sama untuk melihat gadis itu setiap hari. Dia putuskan, bahwa dirinya jatuh cinta pada gadis cantik ini.

         

          ”Hyung, ada yang ingin kukatakan padamu.”

          ”Apa itu?”

          ”Aku sedang jatuh cinta pada teman kampusku.”

          ”Oh ya? Siapa dia?”

          ”Namanya Im Yoona. Dia sangat cantik.”

 

          Kris terbelak saat tangannya bersentuhan dengan tangan gadis yang dibawa adiknya, Luhan. Gadis itu tersenyum, sama seperti ketika Kris melihatnya pertama kali di seberang jalan itu.

          ”Im Yoona.” nama itu selalu terngiang di kepala Kris saat Yoona tersenyum memperkenalkan dirinya dan kembali pada rangkulan Luhan.

          Tidak ada kesempatan. Terlihat jelas dari tawa Yoona yang membuat Kris tahu, pintu hatinya sudah tertutup hanya untuk Luhan.

          Namun setelah Luhan terbaring di tempat tidur itu, membisikkan kalimat sebelum meregangkan nyawanya.

 

          ”Jaga Yoona, hyung. Aku yakin kau bisa melakukannya.”

Kris menghela napas berat, membiarkan potongan kenangan itu menghilang dari kepalanya sebelum menjawab pertanyaan Yoona.

”Itu bukan keinginanku. Itu sebuah kenyataan, Yoona.”

”Tidak, maksudku…apa kau benar-benar berharap aku pergi, menghilang dari kehidupanmu untuk selamanya?”

Kali ini Kris menatap wajah Yoona dengan seluruh perhatian yang ada. Dia berdiri, mendekati Yoona yang kini juga berdiri, memandangnya.

Kris menyentuh tangan Yoona yang hangat, terasa kecil ditelapak tangannya. ”Aku…tidak pernah menginginkanmu jauh dariku. Tidak sekalipun. Jika aku pernah menyuruhmu pergi, aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya, aku…”

Perasaan sakit di dada mulai menyerangnya. Mengapa…mengapa semuanya terasa sulit dikatakan ketika mata Yoona menyapu setiap senti wajahnya.

”Aku mencintaimu, Yoona. Aku mencintaimu lebih dari apapun, lebih dari yang kau ketahui. Aku mencintaimu seperti kaulah satu-satunya orang yang berhasil merebut hatiku, dan aku tidak akan pernah bisa mengambilnya lagi. Yoona, kumohon, aku…”

Tatapan Kris terfokus pada wajah Yoona yang tanpa dia sadari, semakin mendekat sehingga dia cukup jelas mendengar napas Yoona dan aroma lipbalm yang dikenakannya.

Bibir mereka menempel satu sama lain. Kris meletakkan tangannya di belakang tengkuk Yoona sehingga tidak ada cara untuk Yoona melepaskan diri darinya.

Waktu berjalan lambat ketika mereka hanyut dalam sebuah perasaan yang tidak dapat mereka mengerti.

Yoona menjauhkan diri untuk mengambil napas sejenak, wajah mereka terpaut beberapa sentimeter. Semuanya membuat Yoona menjadi gila. Aroma Kris, sentuhannya, bahkan kehangatan yang diberikan padanya menghilangkan akal sehatnya.

Ketika Kris kembali mendekatinya, Yoona menahan tubuh Kris. Sebutir air mata jatuh. ”Kris…aku rasa ini bukanlah yang Luhan inginkan.”

Secara otomatis tangan Kris menjauh dari leher Yoona. Kris mendapati dirinya sebingung Yoona, sensasi aneh itu masih melingkupi mereka berdua. Namun saat Yoona berlari ke kamarnya, itu bukanlah yang Kris inginkan.

Apa ini? Ini…bukanlah yang diinginkan Luhan?

Yoona menutup pintu dan bersandar padanya. Dia memeluk dirinya yang gemetaran hebat karena tangisan yang tidak tertahan.

Dia menyentuh bibirnya dan kejadian beberapa detik yang lalu masih segar diingatannya.

Tidak! Dia tidak ingin menghapusnya, karena dia belum pernah merasakan hal itu. Tidak, walaupun saat bersama Luhan atau melakukannya dengan Luhan.

Ada sesuatu yang berbeda. Dimana sensasi yang dikirim Kris pada dirinya, membuatnya terasa melayang dan ya, itu dapat membunuhnya. Perasaan kuat itu mengalahkan segalanya.

Yoona tidak yakin, dirinya tidak menginginkan hal itu, namun nama Luhan selalu membuatnya berhenti di sebuah titik dan tidak ada alasan untuk Yoona melangkah lebih jauh bersama Kris.

Kali ini dia sudah terlalu jauh dan dia menemukan dirinya hilang dalam kesenangan yang selalu berusaha dijauhinya.

”Yoona…” Kris mengetuk pintu. ”Yoona, buka pintunya.”

”Tinggalkan aku, Kris.”

”Maafkan aku…aku tidak bermak…”

”Lupakan, Kris. Kumohon, tinggalkan aku.” isak Yoona.

Di luar, Kris menempelkan kepalanya di pintu. Tidak yakin dengan apa yang harus dikatakannya.

”Aku mencintaimu.” bisiknya, masih terdengar cukup jelas oleh Yoona.

”Kau tidak bisa mencintaiku. Kau tidak boleh mencintaiku, Kris.” kini Yoona menangis dengan keras dari dalam kamar. Suaranya menyayat hati Kris.

”Aku punya hati, aku punya perasaan, apa aku salah jika mencintaimu?”

Yoona menggeleng. Tidak, tidak ada yang salah dengan itu. Karena setiap kau mengatakan itu, aku juga mempunyai perasaan itu, Kris.

”Apa aku tidak boleh mencintaimu?”

”Lu…Luhan. Itu karena Luhan. Apa kau tidak mengerti?” Yoona menjawab sambil sesenggukkan. ”Kau tidak mengerti keadaannya, Kris.”

”Aku mengerti, Yoona. Aku sangat mengerti, tapi tidak bisakah kita…”

”Tidak.” potong Yoona cepat. ”Kau melakukan semua ini karena Luhan. Kau berjanji padanya, kau berjanji untuk menjagaku. Perasaanmu timbul karena kau berjanji pada Luhan, tapi tidak untuk lebih jauh, Kris. Kumohon mengertilah.”

”Tidak untuk lebih jauh? Aku mencintaimu sebelum semua ini…”

”Kris, tolong, pergilah.”

”Yoona, kau tahu ini tidak adil bagi siapa pun. Jika kau tidak mencintaiku itu tidak apa-apa, tapi jika karena Luhan…” Kris berhenti bicara. Tidak yakin apa dia sanggup berbicara mengenai adiknya.

”Yoona, Luhan…sudah lama pergi. Jangan pernah berpikir aku mengambil kesempatan ini. Perasaanku tulus padamu. Aku melakukan semua yang dikatakan Luhan, tapi dia tidak melarangku untuk mencintaimu.”

Yoona menutup telinganya. ”Tolong jangan sebut nama Luhan lagi, Kris. Aku tidak mau mendengarnya.”

Kris meneteskan air mata. Sudah berakhir. Hatinya sudah benar-benar tertutup, tidak ada kesempatan bagi Kris, bahkan setelah Luhan pergi. Yoona tetap tidak mungkin mencintainya. Itulah yang dipikirkan Kris saat dirinya jatuh terlelap di depan kamar Yoona.

***

Yoona kaget melihat Kris tertidur sepanjang malam di depan kamarnya. Matanya terpejam erat walaupun alisnya bertaut, mungkinkah dia bermimpi sesuatu.

”Kris, Kris…” Yoona mengguncang tubuhnya dan tiba-tiba sebulir air mata mengalir dari sudut mata Kris.

Yoona menempelkan tangannya disana, untuk menghapus air mata itu, dan bertepatan dengan Kris yang membuka matanya.

Mereka saling bertatapan satu sama lain. Mata Yoona terlihat sembab dan merah karena menangis, begitu juga mata Kris yang sedih. Yoona bisa merasakan kesedihan mendalam.

”Tidurlah di kamarmu.” ujar Yoona perlahan, namun Kris menggeleng. Air mata menggenang di pelupuknya.

”Kau ingin tidur di kamarku?” mengingat kamarnya berada di lantai satu, itu berarti Kris harus turun, namun dengan lembut Yoona menawarkan untuk tidur di kamarnya.

Kris beranjak lalu menjatuhkan dirinya ke kasur Yoona yang empuk. Dia memeluk bantal pink disana dan menatap Yoona memakai sandal. ”Aku akan menyiapkan sarapan.”

”Kepalaku pusing.” balas Kris. Yoona menyentuh dahi Kris. ”Oh, kau sedikit demam. Udara sedang dingin kau malah tidur di lorong tanpa memakai sweater, tentu saja kau kena demam.”

Sebelum menutup pintu, Yoona berkata, ”Aku akan membawa makanannya kesini.”

***

Kris sangat lapar, dia menghabiskan semua sarapan yang dibawa Yoona, lalu kembali berbaring di tempat tidur, sementara Yoona menyapu dan mengepel semua ruangan di rumah.

Ketika Yoona kembali Kris sedang memegang salah satu figura di meja dekat tempat tidur. Kris tidak menyadari kehadirannya di ambang pintu. Dia masih saja mengamati foto itu.

Hati Yoona mencelos setiap kali mendapati Kris mempunyai sisi polos yang jauh berbeda dengan kepribadian dingin yang selama ini ditunjukkannya.

Kris hampir menjatuhkan figura ketika akhirnya menyadari kehadiran Yoona. ”Ka…kapan kau ada disitu?” ujarnya mengembalikan figura ke meja.

”Apa yang sedang kau lakukan?”

”Melihat fotomu.”

Yoona duduk di tepi kasur dan tersenyum melihat foto dirinya masih kecil. ”Itu saat aku berumur 12 tahun.”

”Kau terlihat lebih tua dari umurmu saat itu.”

”Apa??”

Kris berdeham, menahan tawa. ”Kalau dilihat baik-baik, wajahmu di foto sama dengan wajahmu yang sekarang.”

”Itu tandanya aku tetap terlihat muda.”

”Apanya yang muda?”

”Ya!!” Yoona memukul Kris dengan bantal. Sejenak mereka dapat melupakan kejadian semalam, betapa sakit dan sulitnya untuk tidur dan berulang-ulang kali harus bangun karena bermimpi buruk.

”Kau tetap cantik.” akhirnya Kris menggumam. Yoona berhenti, malah termenung mendengar kata-katanya.

”Apa kau mendengarkanku?” tanya Kris mengecek.

”Aku rasa demammu semakin tinggi, ya? Makanya kau bicara melantur.” Yoona memegang dahi Kris dan dia kaget. ”Ah, bagaimana ini? Kau semakin panas.”

”Benarkah?” Kris menyentuh dahinya, sedangkan Yoona mengambil thermometer untuk mengukur suhu tubuhnya.

”Hgh…39 derajat celcius. Apa kita harus ke rumah sakit?”

”Tidak!” Kris memegang tangan Yoona. ”Tidak akan ada yang pergi ke rumah sakit. Aku akan tetap berbaring disini sampai panasnya turun.”

”Tapi Kris…”

”Minum obat saja sudah cukup. Kenapa kau sangat berlebihan?” sembur Kris tanpa memberikan kesempatan Yoona berbicara. Dia menenggelamkan dirinya di balik selimut, sangat kekanak-kanakan.

Tidak ada suara. Kris mengira Yoona sudah pergi, namun beberapa saat kemudian mendengarkan suaranya mengalun lembut.

”Aku tidak ingin kau seperti Luhan.”

Kris menelan ludah, kenapa harus berbicara tentang hal ini lagi?

          ”Aku tidak ingin kehilanganmu, Kris.” diiringi tangan Yoona yang mengelus lengannya. ”Tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.”

Kris membuka selimut dan menatap Yoona. Wanita itu tersenyum sedih, air mata menggenang di pelupuknya, namun belum jatuh.

”Maafkan aku, Kris. Aku selalu merasa kehilangan Luhan membuatku tidak harus mencintai siapa pun. Tapi aku salah…setiap melihatmu, selalu ada rasa bersalah, lagipula aku kira kau tidak mencintaiku, maka itu tidak ada alasan untukku jatuh cinta dan membuka hati lagi. Tapi itu…”

”Itu menyiksaku, Kris. Setiap kali aku mau mencintaimu, bayangan Luhan selalu ada dan membuatku berhenti. Tapi aku menyadari, jika Luhan tidak menginginkan semua ini, seharusnya kita tidak sejauh ini…” Yoona tersenyum sambil menatap cincin silver yang melingkar di jarinya, begitu juga dengan cincin di jari Kris.

”Tidak sampai sejauh ini kita melangkah, Kris.”

Kris menghapus air mata itu dari wajah Yoona. Yoona kembali menangis sambil mencium tangan Kris. ”Maafkan aku, Kris. Bukannya aku tidak mencintaimu, tapi…”

Kris tidak membiarkan Yoona menyelesaikan kalimat yang mungkin akan berujung menyakitkan atau menyenangkan. Dia tidak ingin mendengar apa-apa lagi selain memeluk Yoona erat-erat, seakan dia adalah makhluk paling rapuh di dunia.

Yoona terisak di pelukan Kris dan membasahi kausnya, tapi Kris tidak peduli, yang dia lakukan sekarang adalah menghirup dalam-dalam aroma tubuh Yoona.

Kris memegang wajah kecil Yoona di tangannya. ”Jangan menangis lagi.” lalu dia mencium Yoona untuk waktu yang lama, membiarkan semua perasaan dan beban terlepas ketika mereka berdua hanyut ke dalam sensasi itu lagi.

”Aku mencintaimu, Kris.”

Itulah hal terakhir yang ingin Kris dengar dari Yoona. Tidak ada yang lain.

~ The End ~

Bagaimana chingudeul? Terharu? Bahagia? Ato ada yang gak puas??

Huhuhuhu…jangan sampe ya :’’) disini author pengen semuanya seneng hehehe…

Eumm jujur aja author ngerasa ini sedikit aneh gimana ceritanya, so let me know what you thinking about this

Jadi…comment yaaahh

Gamsahamnida *bow with Baekhyun* lho sekarang sama baekhyun?

Hangukffindo

31 thoughts on “[FREELANCE] Walks Away

  1. Weeiiitt keren banget sumpah ~~ gue sampai kebawa suasana yg ada di ff ini ..
    thor bikinin lagi FF YoonA sama Kris yaa, yang konfliknya banyak tapi hasilnya nanti happy ending oke oke🙂

  2. Aigoo.. Dimanapun dan kapanpun Luhan selalu diinget Yoona disini.. :”
    Yoona salah ngira kalo Kris benci sama dia..
    Sequel lah thor, bikin mereka nikah gitu, dan bisa bahagia tanpa nginget nginget Luhan lagi.. ._.V

  3. sungguh ff yang menyentuh dan mampu membuatku terbawa suasana…
    hehehe…..thorr bikinin lagi ff yoona ma kris yaa,,,soalnya lagi suka aja ma pairing ini…
    ff-nya jeongmal daebakkk!!!!

  4. Hoaaaa,Ceritanya Daebakk!!~ >< aku suka !! hampir pengen nangis gara-gara baca nih FF.
    buat Sequelnya ya thor ! ya sequelnya sampe mereka punya anak #kebanyakan partnya -__- xD
    Keep Wait !!

  5. i like your fanfiction :3 ‘-‘)/
    Kris Yoona :3
    couple langka, dan sangat menjiwai karakter :3😀
    keep writing and i need sequel ‘-‘ kkk

  6. terharu akhirnya mereka bersatu
    Sequel dunk thor waktu mereka merried :”
    Awalnya sebel banget ni ama kriss masak tega banget bw slingkuhan pulang
    Tp lama2 jadi gmn gt ama kris :$

    • tadinya mau bikin sad ending dan mereka gak bersatu
      eeehh tapi ga tega aku hehehe :b
      sequel? hemm…okay let me think yaaah😀
      terimakasih😀

    • aaaahh pada minta sequel, jujur aja author lagi gak ada ide nih
      tapi mungkin akan ada ide yang melintas hehe
      btw makasih yaa udah mau baca dan comment😀

  7. nangis thor ,, hikss T_T
    huaaaaaa #teriakpaketoa
    daebak thorr,,
    nyentuh bangett ceritanya..
    daevak lah thorr..
    terus berkarya thor .. bikin ff kris lagi yang banyak hehehe ..
    fighting thor !!! ^o^

  8. wah.. thorr.. ane terharu+bahagia+gak puas… pengen tau flashback ama LuHan… yah bkin sequel gitu mintanya hehe.. maklmu ane readers yg ga tau diri hehe.. sungkem ama author dulu dah…

  9. tinggalkan jejak~~~
    Annyeong juga author.. *bow
    salam kenal, aku juga salah satu author yg mengisi ff disini😀
    seneng deh ada temen sesama author.. lets work together in here, right ?? mari kita tuangkan imajinasi disini.. hhahahahaha
    baiklah, saya baca dulu ff’nya,.. annyeong~~ *bow with d.o

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s