[FREELANCE] VAMPIRE’S DEN (Chapter 2)

Title                : VAMPIRE’S DEN

Genre             : Romance, Fantasy, sedikit action

Author           : Beryl

Length            : Multi-chapter

Rated              : Teen

Main cast       : Exo M Kris, f(x) Luna, Exo K Chanyeol. (ciee Luna ama dua Exo tower)

Another cast  : Exo K Baekhyun, Exo K Sehun.

Anyeong readers yang pada cantik dan ganteng! Ini chapter two dari FF vampire’s den! ^^ mohon maaf di Chapter sebelumnya Oh Sehun kita yang imut menggoda ternyata gak muncul – muncul (di jitak Sehun) sekarang dia muncul kok! (dengan pesona nya yang gak kalah dari Kris tentunya) Mohon kritik dan sarannya, ya semua! *bow* Happy reading~

VAMPIRE’S DEN (chapter two)

Tubuh Luna gemetar ketika mendengar Kris mengajaknya berjalan kebawah, di susul oleh kibasan jubah panjangnya yang meniupkan bau apak ruangan terbengkalai tersebut yang penuh oleh kotoran tikus. Luna mengernyit tidak nyaman, tapi Kris tidak kelihatan khawatir jubahnya jadi kotor.

Seharusnya Luna tidak kaget, vampir memang tinggal di bawah tanah. Dan seharusnya Luna merasa beruntung vampir itu tidak langsung membidik lehernya begitu mereka bertemu. Alih – alih Luna merasa was – was. Kalau vampir ini tidak langsung menenggak darahnya, berarti dia punya rencana lain. Luna berusaha tidak terkagum – kagum oleh gerakan tubuh Kris yang mengalun, langkah kaki nya terlihat ringan dan anggun. Tidak heran, vampir ini pasti sudah belajar cara bergerak seperti itu selama berabad – abad. Samar – samar dari sebuah pintu yang engsel – engselnya sudah tidak utuh, Luna melihat sebuah tangga usang yang juga terbuat dari kayu menuju ke kedalaman ruang bawah tanah. Darah Luna berdesir tegang.

“Jadi, disana tempat peti mati mu, Kris?” tanya Luna tidak antusias sama sekali,

Kris melirik ke arahnya sekilas, “kau pikir ini zaman batu, ya? Kaum kami sudah lama sekali meninggalkan peti mati,”

Lalu Kris berjalan mendahuluinya menuruni tangga, Luna mengikutinya perlahan dari belakang. Suara langkah mereka berdua bergema saling bersahutan di ruangan yang luas dan gelap, Luna tidak bisa melihat apa – apa, tapi begitu kakinya menjejak ke dasar tangga dia bisa merasakan dirinya menginjak lantai batu yang keras. Bukan lagi lantai kayu reyot seperti di lantai atas.

“Kita sampai…” gumam Kris dengan suara rendah,

Selama beberapa detik Luna masih tidak bisa melihat apa – apa, dia merasa agak takut membiarkan Kris memegang kendali penuh dalam keadaan gelap gulita ini, tapi kemudian Kris menyalakan sakelar lampu dan Luna kembali terpana untuk yang kedua kalinya. Demi tuhan, seharusnya tempat ini bukan sarang vampir sama sekali! Sorotan cahaya yang hampir membutakan mata Luna berasal dari sebuah lampu Kristal besar yang menggantung anggun di tengah ruangan, ruangan itu luasnya hampir dua kali lipat lapangan sepak bola, dinding – dinding nya dilapisi oleh kertas dinding berkualitas tinggi berwarna merah maroon dengan sisi – sisi bersepuh emas, lantainya terbuat dari marmer asli berwarna gading. Lukisan – lukisan berharga dari seluruh dunia tampak terpajang indah di hampir setiap sudut ruangan, jumlahnya pasti bisa membuat para kolektor berdecak iri. Di salah satu bagian ruangan terlihat sebuah TV plasma berukuran besar berdiri di atas sebuah meja kayu berukir, sementara di bagian lainnya ada seperangkat komputer lengkap dan serangkaian monitor CCTV berukuran raksasa. Luna terengah, ini pasti jebakan. Rumah kayu reyot yang dilihatnya di  luar benar – benar pengecoh yang sempurna. Kalau bukan karena Luna sedang kabur pasti dia tidak akan mau masuk kerumah itu.

“Ini… ini semua milikmu?” tanya Luna menyapukan pandangannya kesebuah lukisan berharga asal prancis yang tergantung di salah satu sisi dinding.

“Pelayan ku yang mendekorasinya. Tapi, ya. Ini semua milikku,” jawab Kris datar,

“Kau punya pelayan?”

“Beberapa vampir muda memutuskan untuk mengabdi padaku,”

“Aku tidak tahu kalau vampir suka barang – barang mewah,”

“Apa gunanya hidup abadi kalau tidak dinikmati?”

Luna melirik sekilas kearah Kris, dan dilihatnya vampir itu sedang tersenyum puas karena bisa memamerkan kekayaannya pada Luna. Dasar lelaki sombong!

Tanpa ragu Luna berjalan melintasi ruangan besar tersebut menuju monitor CCTV yang menampilkan gambar berbagai daerah hutan luas yang baru dilewati Luna selama pelariannya. Kemewahan bukanlah hal yang baru bagi Luna. Selama ini Luna tinggal di sarang pribadi Chanyeol yang terletak di pinggiran selatan ibu kota, sarang itu berupa bangunan luas berlantai enam dengan berpuluh – puluh kamar berfasilitas hotel bintang lima yang bisa digunakan oleh seluruh anggota kawanan. Begitulah sifat werewolf, harus selalu hidup bersatu dengan kawanan. Sarang pribadi itu di lengkapi dengan alarm hening dan berbagai peralatan security lainnya yang bisa menyaingi museum nasional. Tapi Luna harus bilang kalau Kris adalah vampir paranoid. Apa lelaki ini benar – benar menyimpan kamera pengintai di seluruh hutan seluas ini?

“Mungil…” tiba – tiba Kris memanggil Luna dengan suaranya yang mengalun.

“Jangan panggil aku begitu!”

“Apa?”

“Mungil! Aku tidak suka!”

Kris terkekeh geli mendengarnya, “jangan mengingkari takdir mu, gadis kecil”

Ketika Luna berbalik, Kris sudah berdiri tepat di depan Luna, mendesaknya hingga ke dinding. Luna menahan nafas sebisa mungkin. Sial, vampir ini benar – benar tampan! Saking tampannya Luna sendiri kaget dirinya belum menarik Kris dan menciuminya sampai puas, lelaki ini benar – benar bisa mengunyah dan melepeh hati wanita manapun sesuka hati. Hore! Tepuk tangan untuk Kris.

“Mau apa kau mendesak ku ke dinding seperti ini?” tanya Luna waspada, Luna sadar walaupun dia melawan sekuat tenaga dirinya tidak akan bisa mengalahkan Kris.

“Aku hanya sedang menebak kira – kira seperti apa rasa darah mu,” jawab Kris sambil menurunkan kepalanya menghirup lekukan leher Luna dalam – dalam.

Luna bergerak gelisah, menutup mata rapat – rapat. Seharusnya sekarang Luna merasa panik, bukannya mendesah menikmati sentuhan Kris. Daya tarik vampir memang sulit di tolak, tapi tetap saja Kris hanya tertarik pada darahnya. Luna tidak boleh terperdaya begitu saja, Luna bukan wanita gampangan.

“Hentikan!” sentak Luna, “kau harus ingat perjanjian kita, tidak ada darah kecuali benar – benar dibutuhkan!”

Kris bangkit melepaskan Luna, raut wajahnya tampak jelas sekali kecewa. Lelaki itu mengusap pipi Luna pelan.

“Kau mau makan atau istirahat dulu?” tanyanya.

Luna terkesiap. Apa ini serius? Vampir ini benar – benar menawarkan makanan dan tempat istirahat? Ini bukan jebakan kan? Karena vampir tidak pernah dikenal sebagai mahluk yang ramah.

“Aku mau makan dulu…” jawab Luna ragu – ragu. Kris mengangguk paham lalu membimbing Luna menuju ruangan lain dengan kursi – kursi dan meja makan elegan serta kulkas besar dua pintu.

Setelah Luna duduk disalah satu kursi makan, Kris melempar pelan berbagai bungkus makanan ke atas meja dari mulai ayam goreng, dim sum, sampai nachos. Luna tidak tahu untuk apa Kris menyimpan semua makanan ini, padahal dia tidak makan apa – apa selain darah.

Kris membungkuk untuk memastikan tidak ada apa – apa lagi di dalam kulkas lalu duduk diseberang Luna, lelaki itu mengeluarkan sekantong besar darah dalam bungkus pelastik dan menuangkannya ke gelas Kristal. Luna memperhatikan vampir tersebut dengan heran.

“Kau penasaran, ya?” tanya Kris, “ini darah sintetis,”

“Apa?”

“Kiriman dari bank darah dan rumah sakit,” kata Kris lagi, “semacam makanan instan bagi kami,”

Luna cuma mengangguk – angguk seperti anak kecil, dia tidak peduli dengan segala tetek bengek makanan vampir karena perutnya sudah keroncongan melihat berbagai macam makanan yang ada di atas meja. Tanpa membuang waktu lagi Luna mulai mengisi perutnya, dimulai dengan dua bungkus ayam goreng yang langsung tandas, sebungkus makanan cina dan beberapa potong kue coklat jerman. Kris tampak geli melihat cara makan Luna yang benar – benar rakus, untung saja sebagai werewolf Luna tidak perlu khawatir soal berat badan. Luna bisa merasakan kekuatannya perlahan – lahan mulai terisi kembali, nah, sekarang dia tidak akan terlalu tidak berdaya kalau harus menghadapi Kris. Tapi matanya kemudian terasa berat.

“Aku mengantuk…”

Kris menghabiskan darahnya cepat dalam sekali teguk lalu berjalan pelan kesamping kursi Luna.

“Ayo, aku tunjukan kamarmu,” katanya.

Mendengar kata kamar tiba – tiba membuat otot perut Luna mengejang. Tubuhnya mendadak kembali dibanjiri kesadaran bahwa dia hanya berdua saja di tempat ini dengan seorang vampir. vampir yang sangat sangat sexi. Luna meneguk air liur nya pelan.

“Bisa kau tunjukan saja dimana kamarnya? Nanti aku kesana sendiri,”

Kris menampilkan senyum jahil dibibirnya yang penuh, sepertinya bisa membaca pikiran Luna dengan baik,

“Aku tidak bisa membiarkan tamu ku tersesat,” katanya mengejek.

Luna mendelik kesal, tapi dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti Kris yang mulai berjalan menuju ruangan lain yang letaknya lebih menjorok kebawah tanah.

Tiba – tiba saja Luna sudah sampai di sebuah kamar yang dua kali lipat lebih luas dari pada kamarnya yang terdahulu di sarang Chanyeol. Luna memandang tidak percaya pada ranjang ukuran king size di ruangan itu yang di balut dengan sprai satin berwarna emas dan selimutnya yang terbuat dari kain beludru hitam. Kedua kaki Luna tenggelam di karpet bulu mewah berwarna coklat yang terhampar di sepanjang lantai kamar tersebut.

“Ya, ampun Kris. Bagaimana kalau ada manusia yang tanpa sengaja masuk ke sarang mu ini,” erang Luna,

“Daerah ini sudah dimantrai sehingga manusia tidak bisa melihat tempat ini sama sekali,”

“Mantra sihir? Bukankah vampir tidak suka kaum penyihir?”

“Zaman sudah berubah, mungil. Kami sedang berusaha hidup berdampingan dengan ras lain,”

“Tapi sepertinya vampir tidak bertambah ramah pada kaum were,”

“Bukankah sekarang aku sedang memberimu perlindungan, were kecil?”

Luna tidak bisa membantah lagi, dengan malas Luna bergerak menuju tempat tidurnya yang terlalu besar untuk ditiduri sendiri. Dan seperti yang sudah diduga, Kris mengikutinya dari belakang.

“Mau apa kau mengikuti ku?” serang Luna sengit,

“Aku hanya mau memastikan ranjangnya nyaman untuk mu,” jawab Kris berdalih dengan senyum jahilnya yang biasa,

“Kau tidak akan menghisap darahku saat aku tidur, kan?”

“Tidak akan pernah,”

Sebenarnya sekujur tubuh Luna sedang menggigil. Melihat tubuh sempurna Kris berdiri menjulang dihadapannya, ingin sekali dia menarik Kris naik bersamanya ke atas ranjang dan mengajaknya bermain, permainan yang melibatkan keringat dan taring yang saling beradu. Oh, rasanya pasti luar biasa. Tapi Luna sebisa mungkin menunjukan wajah tidak peduli, berharap jantungnya yang berdebar keras tidak terdengar oleh Kris, dia lalu beringsut masuk kedalam selimut beludru hitam. Wow, ranjang ini benar – benar nyaman. Luna merasa tubuhnya bagaikan melayang – layang di udara, tidak peduli lagi dengan vampir tampan namun dingin yang masih berdiri di samping ranjangnya dengan tatapan penasaran. Luna berhitung sampai seratus dan dia pun langsung tertidur lelap.

***

Kris memandangi tubuh were mungil berbalut selimut dihadapannya dengan rasa frustasi, rasa lapar Kris akan darah gadis itu mencengkram tubuhnya hebat. Sebenarnya dari awal Kris bisa saja melumpuhkan gadis itu dalam sekali serang dan menghisap habis darahnya sesuka hati. Jadi kenapa Kris tidak melakukan nya? Pertanyaan itulah yang membuat Kris frustasi. Jauh dilubuk hati nya Kris ingin Luna menyerahkan darahnya secara sukarela, tanpa paksaan atau perjanjian.

Sambil menahan geramannya sendiri Kris melintasi kamar luas tersebut dan mengambil sesuatu dari laci kayu kecil, sebuah salep luka, Kris akan mengolesi lengan Luna yang dipenuhi luka – luka gores dengan salep tersebut sebelum gadis itu terbangun. Kris memaksakan sebuah seringai kecil di bibirnya. Dia pasti akan di tertawakan vampir – vampir lain kalau mereka sampai tahu apa yang dilakukan Kris sekarang. Selama ini Kris dikenal sebagai vampir yang kejam, bahkan diantara saudara – saudaranya sendiri Kris di kenal sebagai yang paling dingin. Jadi dorongan hatinya untuk memberikan perhatian lebih pada gadis werewolf mungil ini terasa sangat asing bagi Kris. Andai saja Kris tahu apa yang terjadi pada dirinya.

“Emmm…” Luna mengerang dalam tidur ketika cairan salep yang dingin menyentuh kulitnya.

Kris kembali menelan geraman rendah. Kulit Luna begitu menggoda, gelap dan lembut bagaikan sutra. Kris memandang lapar pada rambut Luna yang tergerai bebas diatas bantal dan garis lehernya yang jenjang. Kris merasa tubuhnya gemetar menahan hasratnya sendiri. Sial, padahal Kris sudah pernah menghisap darah wanita – wanita paling cantik sebelumnya, tapi aroma gadis ini entah kenapa berhasil membangkitkan rasa haus yang belum pernah Kris rasakan.

Selama beberapa jam Kris terhanyut, terus membelai kulit lembut Luna dengan gerakan pelan, keinginan untuk bergabung bersama Luna diatas ranjang hampir tak tertahankan. Tapi kemudian sesuatu mengusiknya indra nya, sebuah bau.

Bau werewolf yang sama sekali berbeda dengan aroma Luna.

Kris berdecak kesal, dengan terpaksa meninggalkan Luna yang masih terlelap. Kris tahu Luna sedang kabur dari kawanannya sendiri, tapi dia tidak mengira mereka bisa melacak sarangnya secepat ini. Dengan gerakan cepat yang hanya bisa dilakukan oleh vampir, Kris berjalan menuju lantai atas, terlambat ketika menyadari hari sudah pagi dan cahaya matahari sudah menyorot masuk dengan bebas. Jadi Kris hanya bisa sembunyi di balik bayang – bayang. Payah!

1, 2, 3… ada tiga werewolf, dan ukuran mereka tidak terlalu besar. Kris mengira – ngira seberapa berbahaya nya mereka, bukan berarti Kris takut, tapi Kris tidak mau sampai harus bertarung dengan mereka dan beresiko terbakar matahari.

“Hey. Aku tidak suka sarang ku di endus – endus!” tegur Kris dengan suara semenyeramkan mungkin tanpa menunjukan wujudnya.

Salah satu dari were itu mendengking panik mendengar suara Kris, tapi were lain yang berbulu kelabu tampak maju kedepan dengan berani.

“Kami mencium aroma salah satu anggota kawanan kami di tempat ini…” kata were berbulu kelabu itu,

Kris tersenyum mengejek, “kalaupun memang ada, kalian pikir aku akan mengatakannya pada kalian?”

“Hati – hati, Vampir” dengus were tersebut, “yang kami cari adalah calon pasangan Alpha male kami…”

Kris terkesiap selama beberapa detik. Calon pasangan Alpha male?

“Kalau memang yang kalian cari adalah calon pasangan ketua kalian, kenapa bukan dia sendiri yang datang kemari?” tanya Kris berusaha menggali informasi lebih dalam,

“Alpha male kami harus mengurusi…… urusan yang lebih penting,”

“Hm. Calon pasangan yang tidak bertanggung jawab…” ejek Kris

Ketiga were itu langsung menggeram marah mendengar perkataan Kris, bukan rahasia lagi kalau para were menyimpan kesetiaan yang luar biasa pada ketua kawanan mereka. Kris terlalu lengah karena takut terbakar sinar matahari sehingga dia tidak menyadari kalau si were berbulu kelabu sudah mengetahui tempatnya bersembunyi. Were tersebut melesat dengan ke empat kakinya menyerang Kris, Kris tersentak terkejut dan langsung meraih belati perak yang selalu terselip di sepatu boot nya.

Dengan satu hentakan keras were tersebut berhasil menarik Kris keluar dari bayang – bayang, bahu kanan Kris terbakar, untung saja Kris mampu berdiri kembali dan menghindar dari cahaya matahari sebelum berubah jadi vampir panggang.

“Sial, kau!” hardik Kris. Were itu cuma diam di tempat sambil terengah – engah.

Hanya dalam kurun waktu beberapa detik were tersebut kembali mencoba menyerang Kris, kali ini dia membidik bagian perut, mencoba mencabik – cabik perut berotot Kris menjadi serpihan daging. Kris menahan teriakan ketika were itu berhasil menggigit dan mengoyak kulit pahanya. Dengan satu gerakan mantap Kris menancapkan belati peraknya tepat ke jantung si were, were itu mendengking kesakitan lalu terpelanting mundur. Tapi tusukan Kris tidak terlalu dalam, sehingga were itu tidak langsung mati.

Kedua were lain yang dari tadi hanya menonton kini mengerubungi temannya yang terluka parah, mereka memelototi Kris dengan tajam tapi mereka sadar mereka tidak akan menang melawan Kris. Mungkin were berbulu kelabu itu adalah yang terkuat diantara mereka bertiga. Dengan patuh kedua were yang lain menyeret temannya keluar dari sarang Kris, tapi tatapan mereka mengisyaratkan kalau mereka akan kembali. Kris hanya bisa memperhatikan mereka dari balik bayang – bayang sambil memegangi bahu kanannya yang melepuh. Ketiga were itu beruntung tidak datang pada malam hari, karena Kris bisa saja menghabisi mereka sekaligus.

Kris merosot turun di dinding kayu dengan nafas terengah – engah, bahu kanannya terasa sangat perih. Huh! Sudah lama sekali Kris tidak bertarung seperti ini.

“Aaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!”

Tiba – tiba Kris dikejutkan oleh suara jeritan nyaring. Itu suara Luna! Sial, jangan – jangan tiga were tadi hanya pengalih perhatian. Secepat kilat Kris berdiri dan bergerak turun memasuki sarangnya, menuju ketempat were mungilnya yang cantik.

***

Luna menjerit hingga tenggorokannya terasa sakit, dia panik. Siapa juga yang tidak akan panik, mendapati seorang vampir tidur disebelahnya dengan tenang ketika dia baru saja bangun.

Luna terbangun karena dia mendengar suara ribut – ribut dilantai atas, dan langsung kaget ketika melihat sesosok tubuh dingin meringkuk disisi tubuhnya sambil ikut – ikutan tidur. Awalnya Luna kira itu Kris, Luna sudah bersiap akan menendang vampir itu keluar dari ranjangnya ketika menyadari vampir yang satu ini bertubuh lebih ramping dan lebih pendek. Luna terkesiap ngeri. Siapa ini!?

“Luna!!” Kris masuk kedalam kamar seperti seorang tentara menyerbu ke benteng pertahanan musuh.

Luna menarik selimut dengan panik hingga sebatas dada, belum pernah dia berada di satu kamar dengan dua orang lelaki.

Vampir baru yang berada di sebelah Luna beringsut bangun perlahan – lahan, wajahnya benar – benar tampak muda dan innocent dibandingkan dengan Kris. Vampir itu mengucek – ngucek matanya dan tersenyum.

“Hai, Kris.” Sapanya santai,

“Sehun!”

Kris berjalan cepat menghampiri Sehun dan meraih ujung kerahnya dengan kasar menariknya keluar dari ranjang.

“Sedang apa kau disini!?”

“Kasar sekali kau. Aku cuma datang untuk mengunjungimu,” jawab Sehun lirih,

“Darimana kau masuk!?”

“Ku lihat kau sedang bermain – main dengan beberapa werewolf diatas jadi aku masuk lewat belakang,”

“Kalau kau memperhatikan, aku tidak sedang bermain – main!”

“Apa? werewolf?” potong Luna mendengar perkataan Sehun,

Sehun mengangguk cepat kearah Luna. Sekarang Luna bisa melihat wajahnya dengan jelas. Sehun memiliki mata bulat indah, hidung lancip dan bibir sexi yang mungil. Semuanya dibalut dalam kulit beningnya yang seputih susu. Ya, ampun. Apa tidak ada vampir yang tidak tampan?  Dibandingkan dengan Kris yang mengeluarkan aura mendominasi, Sehun terlihat lebih segar dan kekanak – kanakan. Luna hampir saja mengajaknya kencan kilat di taman bermain terdekat, hanya geraman marah Kris yang akhirnya mengalihkan perhatian Luna dari mahluk yang luar biasa tampan di sebelahnya itu.

Kris terlihat tidak nyaman mendengar pertanyaan Luna dan mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Apa yang datang itu anggota kawanan ku, Kris?”

Kris tidak menjawab.

“Sial, kenapa kau tidak memberi tahu ku!?”

“Kau sendiri tidak memberi tahu kalau kau punya masalah dengan seorang Alpha male!” balas Kris.

Luna tertegun waspada. Sejauh mana Kris tahu soal itu?

Tanpa mempedulikan Kris atau Sehun, Luna beranjak cepat keluar kamar menuju lantai atas untuk menge-check siapa yang baru saja datang. Luna sama sekali tidak menoleh ketika Kris berseru – seru marah menyuruhnya untuk kembali.

Di lantai atas Luna harus melindungi kedua matanya dengan tangan karena cahaya matahari sudah menyorot tajam. Terlihat beberapa kerusakan di tempat ini. Luna mengendus – endus udara dengan seksama, tidak salah lagi, ini aroma tubuh Baekhyun. Baekhyun sudah berhasil melacaknya sampai kemari. Lalu samar – samar tercium bau darah segar, Baekhyun dan Kris pasti sempat bertarung. Rasa sakit memilin hati Luna, dia sudah membahayakan kawanannya dengan bersembunyi di sarang vampir ini. Apa sebaiknya Luna kembali saja pada Chanyeol?

Luna menunduk dan termenung sedih ketika rasa bersalah menusuki hatinya semakin dalam.

***

Kris berjalan mondar – mandir di kamar luas yang baru saja di tinggalkan Luna, dia ingin menyeret were mungil itu kembali kebawah tapi tidak bisa, karena hari sudah semakin siang dan cahaya matahari semakin meninggi. Kris menggeram frustasi.

Di seberang ruangan Sehun memperhatikan sahabatnya itu dengan pandangan geli.

“Aku tahu memelihara anjing itu menyenangkan, Kris. tapi aku tidak tahu kalau kau mau memelihara seorang werewolf,” kata Sehun sambil mengusap – usap ranjang bekas tidur Luna.

“Menjauh kau dari ranjang itu, dan dia bukan peliharaan!” desis Kris marah,

“Kalau bukan peliharaan lalu apa?” tanya Sehun, “kudengar dia punya masalah dengan Alpha male, kau tidak mungkin takut dengan seorang Alpha were, kan?”

Kris mendengus kesal, tentu saja dia tidak takut, kekuatan Kris setara dengan seorang ketua klan vampir. Yang membuat Kris gusar adalah kenyataan bahwa Luna merupakan calon pasangan were itu. Dia ingin tahu lebih jauh tentang masalah yang sedang dihadapi Luna.

“Kris,” panggil Sehun lagi,

“Apa!?”

“Sepertinya were kecil itu hanya membawa masalah, kau usir saja dia dari sini,”

“Tidak!” jawab Kris cepat,

“Kenapa?”

Kris tidak menjawab. Sejujurnya Kris juga tidak tahu kenapa.

“Ah, kau tertarik padanya.” Desah Sehun dengan senyum menggoda,

“Diam!”

“Yah, dia memang cantik, Kris”

“Kubilang, diam!”

Sehun tertawa geli.

***

Chanyeol baru saja menyelesaikan janji pertemuannya dengan seorang wali kota ketika dia mendengar kabar bahwa Baekhyun terluka parah setelah pulang dari pencarian Luna di hutan. Sambil menggeram khawatir Chanyeol meminta supirnya yang seorang manusia biasa untuk menyetir lebih cepat menuju sarang pribadinya.

“Pasti Luna meminta bantuan seseorang,” pikir Chanyeol resah,

Chanyeol tahu Luna tidak mungkin menyerang temannya sendiri sampai terluka parah seperti itu.

Begitu sampai di kediamannya, Chanyeol langsung menuju kamar Baekhyun yang berada di lantai tiga tanpa mengganti setelan kerja nya sama sekali. Dilihatnya sahabat baiknya tersebut sedang terkulai lemah di atas ranjang sambil dikelilingi oleh beberapa were lain yang mencoba memberinya makan dan mengembalikan kekuatannya. Ada sebuah lubang menganga yang terus mengeluarkan darah dibagian dada Baekhyun. Wajah Chanyeol berkerut pedih.

“Baekhyun…” panggil Chanyeol lirih,

“Master…” Baekhyun berusaha bangkit dari tidurnya, “maafkan aku…”

“Apa yang terjadi?”

“Aku berusaha mengikuti bau Luna sampai kebagian hutan yang paling dalam, dan tiba – tiba saja aku dihadang seorang vampir,”

“Vampir?” tanya Chanyeol heran,

“Ya, sepertinya vampir itu tahu dimana Luna berada, tapi dia tidak mau memberitahu ku,”

“Mustahil. Tidak mungkin Luna meminta bantuan pada seekor lintah penghisap darah!”

“Aku juga tidak berpikir seperti itu, master…” sahut Baekhyun dengan suara serak, “kurasa vampir itu menculik Luna,”

Chanyeol langsung terdiam, mendadak kepalanya jadi pusing. Sahabatnya terluka dan calon pasangannya dalam bahaya. Chanyeol mengusap – usap lehernya mencoba menenangkan diri. Semua ini salahnya.

“Master,” tiba – tiba dua orang were berkepala botak memanggil Chanyeol, “maafkan kami, kami tidak bisa melindungi Baekhyun” ujar mereka berdua penuh penyesalan.

Chanyeol menghela nafas pelan.

“Tidak apa – apa, kalian segera kumpulkan anggota kawanan yang lain sekarang,” perintah Chanyeol dengan suara rendahnya yang tegas.

Kekuatan panas Chanyeol segera berputar diseluruh ruangan membuat para anggota kawannannya gemetar sampai ke tulang. Pandangannya menggelap.

“Malam ini, kita akan mengadakan invasi besar – besaran ke sarang vampir…”

TO BE CONTINUED

15 thoughts on “[FREELANCE] VAMPIRE’S DEN (Chapter 2)

  1. johaee authorr ^^
    bagus ih ceritanyaa
    iya vampirnya melebihi kapasitas (?) ketampanan .. kekekke
    lanjut thorr jangan lama2 hehehe😀

  2. Ampunnn dehhh bacanyaaa bikiiinn gemetarrr bangettt
    Terasa nonton filemmm
    Aduhhhh abangggg sehun dirimuu begituu menggodaa asekkk he ….he ….He…
    Authorr lanjutinnnnnn cepetinnn engk sabar qqqq

    • iya chingu, makasih banget udah baca, yaa ^^ seneng deh cerita ku dibilang kayak film, hehehe, semoga next part cepet selesai,nih #lagi proses

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s