[FREELANCE] VAMPIRE’S DEN (Chapter 3)

Title                : VAMPIRE’S DEN

Genre             : Romance, Fantasy, sedikit action

Author           : Beryl

Length            : Multi-chapter

Rated              : Teen

Main cast       : Exo M Kris, f(x) Luna, Exo K Chanyeol.

Another cast  : Exo K Baekhyun, Exo K Sehun, 2ne1 Sandara.

Anyeong~ Author gak akan banyak omong >< makasih banyak buat para readers yang udah baca FF ini dari awal sampai part 3 (peluk satu – satu). Mudah – mudahan pada suka, ya sama ceritanya! Happy reading~

VAMPIRE’S DEN (chapter three)

Kris merasakan ledakan rasa lega di hatinya ketika dia melihat Luna kembali berjalan memasuki kamar dengan langkah gontai, dia bersyukur Luna tidak mencoba mengejar kawanannya yang baru saja pergi, meskipun wajah gadis itu kini terlihat sangat muram. Kris berusaha tidak terburu – buru menghampiri Luna.

“Hey, kau baik – baik saja, cantik?” tanya Sehun berdiri tidak jauh di belakang Kris,

“Namanya Luna!” potong Kris dari balik bahunya.

Sehun cuma menjawab Kris dengan senyuman jahil yang di buat – buat.

“Kris,” Luna menyebut namanya pelan dengan suara gemetar, “aku rasa, aku harus pergi dari sini…”

Kris tertegun mendengar perkataan Luna, kenapa dia membuat keputusan mendadak seperti itu? Apa perlindungan nya sudah tidak di butuh kan lagi?

Harusnya Kris senang were bermasalah ini akhirnya memutuskan untuk pergi, berarti dia bisa lepas dari urusan para werewolf yang menyebalkan. Harusnya Kris mempersilahkan Luna pergi dengan iring – iringan bunga dan karpet merah. Tapi alih – alih merasa demikian Kris merasa perutnya melilit, kepalanya tidak bisa membayangkan Luna pergi dari sarangnya begitu saja. Sepertinya Kris harus segera berburu wanita lain untuk menghilangkan perasaan anehnya yang terasa asing pada were cantik ini.

“Tunggu dulu…” ujar Kris berusaha menahan pertempuran antara otak dan hatinya, “kau pikir kau mau pergi kemana?”

“Kemana saja asal bukan disini,” jawab Luna bertambah muram.

“Tapi sepertinya Kris tidak mau kau pergi,” Sehun menyahut,

Kris melotot pada sahabatnya yang lebih muda itu, menyuruhnya untuk tidak ikut campur.

“Bagiku terserah saja kalau kau mau pergi dari sini, were. Tapi kau harus menepati janji mu dulu,”

“Janji?” Luna menatapnya bingung.

Perlahan Kris melepaskan jubah panjangnya dan menjatuhkannya kelantai, lalu dia menarik kasar T-shirt nya yang sudah robek dan menampilkan luka bakar mengerikan yang kini menghiasi bahu kanannya. Sehun dan Luna mengernyit ngeri.

“Aku membutuhkan darahmu… Sekarang…”

Kris melihat Luna memandanginya dengan mata lebar. Wajah nya tidak berubah pucat, tapi Kris tahu gadis itu ketakutan. Kris terpaksa mengingatkan Luna akan perjanjian mereka supaya gadis itu tidak terburu – buru pergi meninggalkan sarangnya. Itu hanya sebuah tindakan spontan. Sekarang Kris menggertakkan giginya kuat – kuat, bingung bagaimana harus memberitahu Luna kalau dia tidak perlu takut karena Kris tidak akan menyakitinya.

“Kau terluka seperti itu karena bertarung dengan Baekhyun?” tanya Luna gugup,

“Ya,” jawab Kris sambil mengingat kembali werewolf berbulu kelabu yang baru di lawannya,

Luna terlihat menahan segaris senyum, “Wah, Baekhyun benar – benar sudah bertambah kuat!”

“Hey, sekarang bukan saatnya mengagumi hasil kerja teman mu itu!”

“Kris,” Sehun tiba – tiba menepuk pundak Kris pelan dari belakang, “sepertinya kau mau mengambil darah peliharaan mu itu sekarang, apa aku sebaiknya keluar atau kau mau berbagi?”

Mendengar pertanyaan Sehun, Kris langsung mengepalkan kedua tangannya erat. Aliran kekuatan nya berputar dingin di udara. Membayangkan vampir lain menancapkan taring mereka di tubuh Luna tiba – tiba membuat amarah Kris meggelegak, dia menatap Sehun dengan rasa kesal yang tidak di tutup – tutupi, membuat Sehun mundur teratur dengan kedua tangan terangkat.

“Tenang, tenang, kawan. Aku hanya bercanda,” kata Sehun dengan senyum mengejek,

“Kalau kau sayang nyawa mu, lebih baik kau keluar sementara aku menyembuhkan diri,” ancam Kris tegas,

Sehun terkekeh pelan, “Hati – hati, Kris. Gadis were ini sungguh membuatmu kacau,”

“Keluar!”

Kris tidak mau memikirkan perasaan posesif nya terhadap Luna yang sepertinya muncul begitu saja dari antah berantah, terutama memikirkannya bersama Sehun, anak itu sok tahu. Kris bahkan tidak tahu kalau dia bisa memiliki perasaan seperti ini sebelumnya. Yang jelas Kris ingin Sehun meninggalkannya berdua saja dengan Luna sekarang juga.

Dengan gerakan indahnya yang telah di latih selama berabad – abad, Sehun berjalan keluar dari ruangan, menutup pintu di belakangnya tanpa menoleh lagi. vampir pintar.

“Nah, were. Kemarilah,” undang Kris setelah Sehun sudah tak tampak lagi.

Wajah Luna menegang, tapi gadis itu mulai bergerak mendekati Kris. Sepertinya dia sadar dia tidak bisa mengelak dari seorang vampir bagaimanapun caranya. Bagus.

“Kau takut?” tanya Kris,

“Aku tidak pernah takut!” Luna menggertak. Dasar gadis keras kepala.

Dengan satu gerakan lembut Kris menarik lengan Luna yang ramping dan mendekatkannya ke mulut. Sentuhannya itu saja sudah mengirimkan rasa panas ke seluruh tubuh Kris. Demi para dewa, Kris adalah seorang monster, seorang pemburu darah yang ditakuti selama beratus – ratus tahun. Kris belum pernah merasa segugup ini saat hendak mengambil darah seseorang

“Aku minum dari sini saja,” katanya sambil mencari – cari urat nadi di sekitar pergelangan tangan Luna.

***

Luna gemetar, jantung nya berdentam – dentam memukul rusuknya. Dia takut tentu saja, dia akan segera melihat seorang predator makan. Tapi dia tidak akan mengakui hal itu di depan Kris. Luna menebak seperti apa kira – kira wajah Kris saat sedang menghisap darah. Apa dia akan meminum darah Luna dengan rakus? Tapi bahkan rasa takut yang merajai Luna tidak bisa mengalahkan rasa berdebar ketika Kris menghirup wangi darah di pergelangan tangan nya dalam – dalam.

“Sangat manis…” erang Kris parau, “darah mu sangat manis, Luna. Yang terbaik yang pernah ku hirup,”

Luna berusaha menahan suhu tubuhnya yang langsung menanjak melihat bibir indah Kris menyusuri sepanjang lengannya perlahan, kemana pergi nya akal sehat ketika sedang dibutuhkan?

“Cepatlah, vampir!” sentak Luna,

“Kau yakin?”

Luna menggeram. Dia ingin semua ini cepat selesai, sebelum Luna jadi lupa diri dan melemparkan tubuhnya kepelukan lelaki berbahaya di depannya. Lagi pula luka bakar Kris benar – benar parah, Luna sempat merasakan tusukan rasa nyeri di hatinya melihat kulit sempurna itu ternoda.

“Baiklah…” Kris berbisik, lalu vampir itu segera memanjangkan taringnya yang berkilauan.

Luna menutup matanya rapat – rapat, meski dia seorang werewolf, dia tidak kebal terhadap rasa sakit. Dirinya sudah bersiap akan berteriak jika merasa kulit nya di koyak. Tapi yang terasa justru sebaliknya, Luna tidak merasa sakit sama sekali. Luna membuka mata perlahan dan melihat Kris sudah menancapkan taring nya dalam – dalam, kedua taring itu hanya terasa seperti sensasi aliran dingin yang menembus kulit.

Luna menatap Kris tidak percaya.

Apa gigitan vampir memang terasa seperti ini? Kalau iya, Berarti cerita – cerita yang pernah dibaca Luna dalam kitab – kitab agama tentang betapa menyakitkannya gigitan vampir hanya omong kosong belaka.

Kedua mata Kris terpejam, dengan penuh konsentrasi lelaki itu kembali memperdalam gigitannya, tapi alih – alih merasa sakit Luna malah merasa jantung nya semakin melompat – lompat liar dibalik T-shirt nya. Luna merasakan isapan demi isapan dari mulut Kris. Menyaksikan wajah tampan Kris yang bagaikan di pahat oleh seniman sangat menikmati menggigit – gigit lengannya membuat pipi Luna merona tak terkendali. Ya, ampun. Seharusnya sekarang Luna memikirkan Baekhyun yang terluka dan Chanyeol yang pasti luar biasa murka, bukannya memikirkan cara menghindari tatapan Kris setelah ini.

Perlahan – lahan Luna melihat luka bakar di bahu Kris mengecil dengan cepat, darahnya ternyata memang efektif menyembuhkan vampir ini. Secara bertahap luka bakar itu menghilang, mengembalikan otot dan kulit Kris yang semulus pualam. Luna sampai harus menahan diri untuk tidak mengusapkan tangannya ke tubuh Kris yang sekeras dan sedingin batu granit.

“Kau berdarah campuran?” tiba – tiba suara berat Kris bertanya, Luna tersentak mendapati Kris sudah selesai menghisap dan sedang menyeka sisa darah dari salah satu sudut bibirnya.

“Ya, aku bukan pureblood,” jawab Luna tergagap, “Ayah ku bilang Ibuku manusia biasa,”

Kris menarik nafas pendek, “mahluk berdarah panas cenderung berdekatan dengan manusia,”

“Memangnya kau tidak?”

“Kami sebisa mungkin menghindari mahluk fana,” jawab Kris tak acuh, “mereka hanya penyedia darah,”

Luna menggosok – gosok lengannya yang baru saja di gigit oleh Kris, diam – diam tidak menyukai arogansi vampir seolah mereka berada di puncak rantai makanan.

“Aku kira gigitan vampir lebih menyakitkan,” gumam Luna, “ternyata rasanya hanya seperti di tusuk es bon – bon,”

Kris tersenyum enggan mendengar perkataan Luna yang meremehkan,

“Rasa gigitan seorang vampir tergantung dari suasana hati vampir yang menggigitnya, Luna. Kalau aku berniat menyakitimu, rasa gigitan tadi bisa sangat menyiksa,”

“Dan kau tidak ingin menyakiti ku?”

“Aku cuma tidak ingin menakut – nakuti mu,” ralat Kris cepat.

Luna baru saja hendak mengeluarkan protes kalau dirinya bukanlah wanita penakut ketika dia mencium wangi manis vanilla dan mint yang sangat menyengat. Itu adalah wangi sihir.

Luna dengan segera mengedarkan pandangannya kesegala arah, mencari – cari dari mana sihir itu berasal. Di sebelahnya Kris juga tampak langsung bersiaga sambil mengacungkan belati di kedua tangannya. Tiba – tiba terdengar suara ketukan keras di pintu disusul oleh suara teriakan Sehun,

“Kris, sepertinya kita kedatangan tamu!”

Kris dengan cepat membuka pintu dan menarik sahabatnya itu masuk.

“Apa yang kau rasakan?” desak Kris.

Sehun menutup matanya dengan khidmat dan menghirup udara di sekitarnya. Sepertinya vampir muda ini mempunyai bakat mendeteksi sihir, bakat yang sangat langka.

“Aku merasa ada portal di sekitar sini,” jawab Sehun santai,

Dan benar saja, beberapa detik kemudian sebuah lubang besar berwarna hijau keunguan muncul begitu saja di ruangan itu, Luna memekik dan tersentak ke balik bahu Kris ketika merasakan sengatan listrik dari portal tersebut.

Dari dalam portal tiba – tiba muncul sesosok gadis bertubuh indah dengan pakaian wanita harem ala film Aladdin berwarna merah gelap. Rambut hitam legam gadis tersebut ditarik kebelakang membentuk kepangan tinggi.

“Luna!” seru gadis itu,

“Sandara?!” Luna balas berseru kaget,

“Kau kenal mahluk ini?” Kris menatap Luna dan Sandara bergantian, dia jelas tidak senang ada portal yang tiba – tiba muncul di kamar nya,

“Astaga pakaian mu berlebihan, Jin!” seru Sehun pada Sandara yang baru muncul, menunjuk pada manik – manik menjuntai dari cadar sandara yang gemerlapan,

“Dasar vampir tidak tahu seni! Aku harus menghargai darah timur tengah leluhur ku,” cibir Sandara,

“Tunggu dulu, sebenarnya kau ini siapa?” tanya Kris mulai tak sabar,

“Sandara adalah Jin peliharaan Chanyeol,” jawab Luna singkat,

Dan kalau Sandara bisa sampai ke sarang ini berarti Chanyeol juga sudah tahu lokasi tempat ini. Pasti Baekhyun yang memberi tahu nya. Berbeda dengan Jin lain yang mudah di perbudak, Sandara adalah tipe Jin yang cerdas dan licin. Dia bersedia menjadi peliharaan Chanyeol karena Chanyeol adalah werewolf yang sangat kuat sehingga bisa memberinya tempat berlindung. Tapi belakangan Sandara tidak begitu senang karena Chanyeol terus menyuruh nya melakukan tugas kesana – kemari.

“Oui, oui, ternyata kau bermain disini dengan dua vampir tampan, Luna…” kata Sandara genit sambil melirik kearah Kris dan Sehun,

“Apa yang membawa mu kemari, Sandara?” tanya Luna tak ingin berbasa – basi,

“Kau jangan serakah begitu, berikan satu vampir untuk ku dan akan ku kabulkan kau tiga permintaan,”

“Tidak akan!” Luna menolak, karena jika Jin sudah memenuhi tiga permintaan maka kau yang akan berbalik menjadi budaknya.

Tanpa mendengarkan perkataan Luna, Sandara melayang kearah Kris, secara sengaja meletakkan tangannya yang ramping ke dada rata sang vampir.

“Katakan padaku, apa kau sudah punya kekasih?” tanyanya,

Kris tersenyum perlahan, menggoda, “Kekasih eksklusif tidak punya, tapi banyak wanita yang mengincarku, apa kau mau mengantri?”

“Asalkan aku bisa menyelak antrian,” bisik Sandara,

“Tentu saja…”

Luna memutar kedua bola matanya lelah, lelaki dimana – mana sama saja. Tapi memang tidak ada yang bisa menyangkal kalau Sandara adalah wanita menawan. Bahkan dikalangan para Jin yang terkenal cantik, Sandara adalah seorang putri.

“Aku tanya apa tujuan mu datang kemari, Sandara?” tanya Luna galak,

“Hey, kami sedang mengobrol…” sela Kris santai,

Luna terbelalak tak percaya menatap Kris, vampir ini baru saja sembuh oleh darahnya dan sekarang dia sedang merayu wanita lain. Benar – benar tidak tahu terimakasih! Tidak tahu terimakasih dan playboy.

“Aku peringatkan, tuan muda, jangan main – main dengan Jin!” protes Luna kesal,

“Kenapa?”

“Karena Jin sangat licik dan penuh tipu daya,”

“Ya, ampun Luna kau baru saja menyakiti hati ku!” seru Sandara sambil memegang dada nya secara dramatis, Luna tidak peduli.

“Aku ini vampir, Luna. Aku tidak mudah di perbudak, apa lagi oleh Jin”

“Tetap saja tidak boleh!”

“Kenapa?”

Pertanyaan bagus, sayangnya Luna tidak punya jawaban yang cerdas. Mendadak  Luna merasa jengah sendiri, kenapa pula dia harus peduli? Kalau Kris mau bermain – main dengan Sandara dan terjebak dalam kabut jin, hal itu bukan urusannya. Tapi sebaliknya Luna malah cemberut dan memalingkan wajah, semua ini benar – benar diluar akal sehatnya. Luna menyadari dia tidak suka membayangkan taring – taring Kris menembus kulit wanita lain. Perasaan nya ini benar – benar berbahaya.

“Jangan bilang kau cemburu, mungil?”

“Mimpi saja kau!” sentak Luna

Kris memandangi Luna lama dengan raut wajah mengejek, Luna benar – benar jengkel, dia ingin menjejalkan Kris kedalam tanah saat itu juga.

“Menyingkir, Jin. Saat ini vampir yang kau minati sedang setengah gila,” ujar Sehun tanpa ekspresi sambil menyibakan cadar Sandara sembarangan,

“Hei, hati – hati!” pekik Sandara menyelamatkan manik – manik nya yang terbuat dari mutiara asli.

“Sebaiknya kau cepat beritahu kami apa tujuan mu datang kemari,” kata Sehun lagi,

Sandara mendelik sebal kearah Sehun lalu melayang menjauhi Kris menuju portalnya. Jin itu pun berdiri anggun sambil berkacak pinggang, memamerkan pinggulnya yang berisi dan kakinya yang jenjang. Terkutuklah para jin dan segala keindahannya.

“Aku diperintah Chanyeol untuk memperingati kalian para vampir,” kata Sandara, kini suara nya berubah serius,

***

Sebenarnya Kris masih ingin menikmati reaksi Luna yang berlebihan saat melihat kedekatannya dengan jin cantik asal timur tengah itu. Setelah hidup sekian abad lamanya sudah ratusan wanita yang merajuk cemburu pada Kris, dan demi tuhan Kris sangat benci wanita pencemburu, tapi yang satu ini benar – benar membuat Kris ingin terus menggodanya, menikmati perubahan wajah Luna yang semakin memerah sangat menyenangkan. Selain itu aroma darah Luna yang mendidih membuat Kris kembali kelaparan menahan hasrat.

Tapi semua itu terpaksa harus berhenti ketika Jin bernama Sandara itu menatap Sehun dan dirinya dengan sorot mata tajam.

“Chanyeol akan membawa seluruh kawanan nya ke hutan ini, malam ini, untuk menantang kalian bertempur,” katanya,

“Apa? kenapa?” sembur Luna,

“Dia ingin merebut kembali pasangannya, tentu saja.”

“Calon!” sentak Kris,

“Apa?”

“Mereka belum berpasangan,”

“Terserah…” Sandara mengendikan bahunya tidak peduli, “yang jelas kau harus mengumpulkan klan mu juga, vampir. Chanyeol akan menunggu mu di tanah lapang di tengah hutan ini begitu matahari terbenam,”

Selama beberapa detik tidak ada yang bicara di kamar itu, hanya Sehun yang memandangi jin dihadapannya dengan penuh minat.

“Kalau kau sudah selesai menyampaikan pesan lebih baik kau cepat kembali ke Master mu,” ujar Sehun dengan wajah tetap datar,

Sandara mendelik kaget sekaligus jengkel, “Dasar menyebalkan!” jin itu lalu membuka kembali portal yang sempat di tutupnya,

“Luna, katakan pada Chanyeol. Lain kali kalau dia ingin mengirim pesan, gunakan E-mail saja!”

Dengan kata – kata tersebut jin itu pun melompat kedalam portal dan langsung menghilang bersama wangi vanilla dan mint yang menyengat.

Ya, Luna bisa mengerti, bepergian menggunakan portal memang tidak pernah menyenangkan. Luna pernah sekali ikut serta masuk ke portal Sandara dan rasanya seperti di tarik ketengah badai listrik. Tidak peduli secepat apapun waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke tujuan, Luna yakin portal tidak akan pernah menggantikan pesawat terbang.

“Katakan padaku Luna, apa Alpha male mu itu bodoh?” tanya Kris setelah Sandara pergi,

“Apa?”

“Dia bermaksud menyerang ku tapi mengirimi ku pesan terlebih dahulu?”

“Memang seperti itulah bangsa kami, kami tidak pernah masuk ke pertarungan yang tidak adil. Kami memastikan kalau lawan memiliki kekuatan yang seimbang,” jawab Luna dengan nada bangga, “untuk apa menusuk orang dari belakang jika menusuknya tepat di jantung jauh lebih memuaskan?”

“Kata – kata mu sangat berani, mungil. Aku tersentuh,” ejek Kris sambil pura – pura melindungi area dada nya.

“Tapi kau tidak perlu bertarung dengan Chanyeol,” sahut Luna dengan ketenangan yang tampak jelas di buat – buat,

“Apa maksud mu?”

“Pertempuran ini tidak perlu terjadi, masalahku dengan Chanyeol bukan urusan mu. Lagi pula aku akan segera pergi dari sini, jadi tidak perlu ada pertumpahan darah,”

“Oh, ini menjadi urusan ku sekarang,” ucap Kris lirih di telinga sensitif Luna, “Alpha male mu sudah berani mengirim anak buahnya dan melukai ku. Ditambah lagi dia mengirim jin menyebalkan yang melompat dari portal dan tidak tahu cara mengetuk pintu,”

“Tapi, Kris…”

“Ssssh, mungil… Aku tidak akan melepas mereka yang mengusik sarang ku,” kemudian Kris berbalik menjauhi Luna,

“lagi pula sebagai seorang lelaki aku tidak mungkin menolak sebuah tantangan, tidak peduli dari siapa tantangan itu datang,” imbuh nya

“Oh, aku mengerti. Arogansi vampir,” ejek Luna

“Jadi, kita akan memanggil anggota klan?” tanya Sehun ketika Kris tidak membalas ejekan Luna,

“Tidak perlu, aku akan menghadapi mereka sendirian,”

“Kris,” tegur Sehun penuh peringatan, “yang akan kau hadapi jumlahnya satu kawanan,”

“Lalu?”

“Aku tidak bisa lebih lama lagi disini karena ada urusan, kau akan menghubungi ku jika terjadi sesuatu, kan?”

Kris memandang sahabatnya tajam, dia tidak suka kekuatannya diragukan.

“Kris…” panggil Sehun lagi,

“Baiklah, kau orang pertama yang akan kuhubungi jika terjadi sesuatu…” jawab Kris setuju.

***

Dengan gelisah Chanyeol mondar – mandir di kamar pribadi nya yang sangat luas sambil menggigit – gigit kuku jempol kanan nya. Setelah Sandara meyakinkan Chanyeol bahwa jin itu sudah menyampaikan pesan nya secara tepat ke sarang vampir tempat Luna berada, sekarang saat nya bagi Chanyeol memikirkan strategi untuk melawan vampir tersebut.

Demi para dewa, Chanyeol lebih baik jatuh miskin dari pada harus memulai perang dengan iblis manapun. Zaman sudah lama berubah, dan selama puluhan tahun Chanyeol mengabdikan diri hidup dengan menjaga perdamaian antara bangsa werewolf dengan bangsa iblis lainnya agar bisa hidup saling berdampingan. Sebagai Alpha dari salah satu ras iblis terkuat, Chanyeol memiliki kekuasaan tersebut. Sebenarnya ras vampir juga bisa melakukan hal itu, tapi mereka terlalu penyendiri dan terlalu pemurung untuk memimpin. Chanyeol tidak pernah mengeluarkan protes atas tugas berat yang di bebankan padanya, lagi pula dia sudah dipilih oleh komisi.

Chanyeol menghela nafas frustasi sambil menahan dorongan tubuhnya untuk bertransformasi menjadi serigala, tiap kali Chanyeol merasa tertekan dorongan kuat itu selalu terasa. Bagaimanapun dalam pertempuran kali ini nyawa calon pasangannya yang menjadi taruhan. Atas desakan para tetua Chanyeol diharuskan menyelamatkan Luna dengan cara jantan, dan anggota kawanan nya yang lain sudah gatal untuk berperang. Sudah lama sekali para prajurit itu tidak mengasah taring dan cakar mereka.

Sebuah ketukan di pintu membuat Chanyeol sedikit terperanjat karena terlalu larut dengan pikirannya sendiri. Hanya sedikit orang yang diperbolehkan mengetuk langsung pintu kamar pribadi Chanyeol, salah satunya adalah Baekhyun. Dan benar saja, ketika Chanyeol membuka pintu, sahabatnya itu sedang berdiri dengan sebuah senyum kaku di wajah.

“Master…” katanya lirih seraya membungkuk. Baekhyun sebenarnya belum diperbolehkan bergerak terlalu banyak, berlapis – lapis perban tampak melintang membalut dadanya yang ramping namun berotot.

“Ada apa Baekhyun?”  tanya Chanyeol setenang mungkin,

“Soal penyerangan nanti malam, Master” Baekhyun tampak ragu – ragu sebentar, “aku ingin ikut dengan mu dan yang lainnya…”

Chanyeol serta merta menahan umpatan marah mendengar perkataan tanpa basa – basi Baekhyun, di tatapnya Baekhyun dengan pandangan sengit.

“Baekhyun…” suara Chanyeol penuh dengan rasa frustasi, “lukamu parah,”

“Aku tahu, Master. Tapi yang dipertaruhkan disini adalah calon pasangan mu, yang berarti masa depan seluruh kawanan. Aku ingin bertarung disisi mu dalam pertarungan sepenting ini,”

“Ini tidak ada apa – apanya Baekhyun, Luna hanya sedang bersama seorang vampir sialan,” Chanyeol mengerang,

“Dia sangat kuat, Master. Aku menariknya ke bawah sinar matahari dan dia tidak berubah menjadi abu meskipun kulitnya terbakar,”

Rahang Chanyeol mengeras mendengar penjelasan Baekhyun. Vampir tidak biasanya memiliki toleransi setinggi itu pada sinar matahari, pengetahuan yang membuat hati Chanyeol bertambah kalut. Apakah vampir itu seorang ketua klan?

“Dan dia cukup kuat untuk bersembunyi di balik bayang – bayang pada siang hari,” gumam Baekhyun menambahkan.

“Itu malah menjadi alasan yang lebih kuat untuk kau tidak ikut. Dia terlalu kuat dan kau sedang sangat lemah,”

“Tidak,” Baekhyun bersi keras, “aku akan tetap ikut dan membantu,”

“Demi tuhan, Baekhyun. Aku bukan bermaksud menyakiti perasaan mu tapi prajurit yang sedang lemah hanya akan menjadi beban pasukan!”

“Master… Chanyeol…” tiba – tiba saja Baekhyun berlutut cepat di hadapan Chanyeol, membuat Chanyeol tertegun kaget, “izinkan aku ikut! Kumohon, Chanyeol. Aku tidak mungkin ditinggal sendirian di sarang ini sementara yang lain membantu mu bertarung, aku akan mengorbankan nyawa ku kalau perlu,”

“Baek…” panggil Chanyeol putus asa. Baekhyun belum pernah berlutut, dan sudah lama sekali sejak terakhir Baekhyun memanggil namanya secara langsung.

Meski mereka ditakdirkan menjadi atasan dan bawahan, Baekhyun adalah sahabat terdekat Chanyeol sejak kecil. Dan Baekhyun merupakan salah satu petarung nya yang paling kuat, Chanyeol bisa merasakan harga diri Baekhyun terluka jika dia ditinggalkan sendirian di sarang.

***

Kris risih melihat Luna terus mondar – mandir di ruang tengahnya dengan gusar sambil memaki – maki pelan. Jelas were kecil itu tidak menyangka masalah percintaan nya yang remeh dan menyedihkan bisa berubah menjadi pertempuran antar ras iblis yang akan segera terjadi. Dari dulu were dan vampir tidak pernah bisa tinggal di satu daerah tanpa mencoba saling menggigit, kondisi yang benar – benar buruk. Hanya dengan terbentuknya komisi iblis, yaitu kumpulan para iblis terkuat yang punya tekad lucu untuk berperan sebagai pemerintah dan mendamaikan dunia iblis, akhirnya bangsa were dan vampir mulai gencat senjata dan saling menghindar satu sama lain. Sejak saat itu tidak pernah terdengar lagi pertempuran antara keduanya. Tapi jika di pertempuran kali ini Kris sukses membuat kehebohan, maka gencatan senjata apapun tidak akan berlaku lagi. Seluruh dunia terancam menghadapi peperangan sekali lagi, wajar kalau Luna merasa takut.

Dengan pandangan kalut Luna menatap Kris yang hanya berdiri tenang bersender pada salah satu sisi dinding.

“Kris,” panggilnya lirih, Kris tidak perlu menoleh untuk merasakan detak jantung Luna yang semakin cepat, “Demi tuhan, apakah kau bisa bersikap sedikit lebih khawatir?”

“Aku harus mengkhawatirkan apa?”

“Khawatir bahwa kau akan segera dibunuh oleh sekawanan were,”

Dengan satu gerakan yang terlalu cepat Kris menekan Luna ke dinding dan menghujamkan tatapan tajam ke mata coklat Luna yang menggoda.

“Kau pikir aku ini siapa? Sekumpulan anjing tidak akan membuatku takut,”

Mata yang menggoda itu tampak bersinar sinis, “dasar sombong!”

“Percaya diri…” ralat Kris cepat.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya kau membawa kepalamu yang besar itu, vampir”

Kris terkekeh geli,

“Mungkin memang lebih baik aku pergi saja dari sini, dengan begitu aku bisa menghentikan Chanyeol membawa pasukannya kemari,”

“Sudah ku bilang hal itu tidak akan menghentikan apapun,” jawab Kris masih menekan tubuh Luna, “aku tidak akan melepas orang yang sudah mengganggu sarangku. Lagi pula Chanyeol tidak mungkin membatalkan tantangannya, itu memalukan,”

“Ya, ampun. Dasar lelaki, apa memalukannya berdamai?” Luna menghela nafas lelah,

Kris menundukan kepalanya perlahan, menyentuhkan sudut bibirnya pada lekukan leher Luna yang hangat, mengirimkan berjuta rasa nikmat ke seluruh indra Kris dalam waktu singkat.

“Kata damai hanya istilah semu dalam dunia iblis,” Kris berbisik,

Aroma darah gadis ini benar – benar membuatnya gila. Kris mungkin berhasil menyembunyikannya dari Luna, tapi sebenarnya tubuh Kris masih gemetar mengingat rasa darah Luna di lidahnya. Manis. Darah paling lezat yang pernah dia cicipi. Karena itulah Kris tadi lebih memilih mengisap darah Luna dari pergelangan tangannya, jika Kris menyerang kearah leher, Kris tidak yakin bisa mengendalikan diri.

Dengan lembut Kris mengecup lekukan leher itu, tubuh Luna bergetar di bawah tekanannya, lengan Luna hampir terangkat untuk memeluk Kris. Jelas Luna merasakan hal yang sama dengan Kris. Hanya saja gadis ini terlalu keras kepala untuk mengakui nya. Yah, bukan berarti Kris juga mau mengakui kalau dirinya sedang tergila – gila begitu saja. Kris bukan jenis lelaki yang ingin di taklukan, apalagi oleh gadis kecil yang baru ditemuinya kemarin.

“Kris…” panggil Luna dengan suara parau,

“Ya?”

“Hentikan…”

“Hentikan apa?”

Kris mengangkat lengannya untuk meraih pinggang gadis itu dan memeluknya, merasakan sensasi hangat kulitnya yang selembut satin. Kris penasaran, sangat penasaran, apa sebenarnya yang spesial dari gadis ini sehingga Kris begitu mendamba? Dia cantik, tentu, Cleopatra juga cantik. Tapi bukan itu.

Kris mengencangkan pelukannya dan Luna tidak berdaya melawan.

“Kris aku tidak suka…”

“Tidak suka apa?” Kris mendaratkan ciuman bertubi – tubi ke leher Luna, “ini?”

Luna mengerang lirih mencengkram kemeja Kris, lututnya melemah. Lalu tanpa aba – aba Kris menjarah bibir Luna, tidak bisa tidak. Lagi pula Kris adalah lelaki yang sedang penasaran, jadi dia harus mencobanya.

Awalnya hanya dorongan pelan, lama ke lamaan semakin memabukan. Kris menggeram, kepalanya terasa pusing. Dia terus mendesak Luna karena kebutuhannya semakin meningkat. Kris memaki dalam hati, belum pernah dia kehilangan kendali hanya karena sebuah ciuman.

Luna merespon seperti yang di inginkan Kris, tapi dengan kekuatannya yang luar biasa gadis itu mendorong dada Kris menjauh. Tak terhindarkan nafasnya sudah terengah – engah.

“Kenapa kau tiba – tiba menciumku di saat seperti ini?“ tanya nya keras, “apa kau sedang mencoba memperkosaku?”

Kata – kata tajam itu berhasil membuat hasrat Kris mendingin seketika.

“Sial, kau Luna. Aku memang perayu tapi bukan pria tak bermoral,” Kris bergerak menjauh,

“Aku memang wanita, Kris. Tapi bukan mainan,” sahut Luna seraya membetulkan posisi berdirinya.

“Kau jelas – jelas tidak menolak sentuhan ku,”

“Itu jelas karena kau menggunakan feromon vampir,”

Kris terbelalak menatap Luna kaget, gadis ini percaya kalau Kris sudah mengguna – gunai nya selama ini?

“Jangan bodoh, Luna. Didunia ini tidak ada yang namanya feromon vampir!”

“Jangan bodoh, Kris. Aku tidak mungkin menginginkan mu,”

TO BE CONTINUED

16 thoughts on “[FREELANCE] VAMPIRE’S DEN (Chapter 3)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s