[FREELANCE] Black Dressed Princess

Title: Black Dressed Princess

Author: seara_park

Length: Oneshot

Genre: Drama/Supernatural/Romance

Rating: PG-13

Casts:

Byun Baekhyun as Jaden Sterling
Oh Hyesun as Lucille Harding (OC)
Oh Sehun as Adrian Denver
Do Kyungsoo as Damian Fletcher

Foreword: Go ahead and try it. You’d never understand that you’re unable to dead. Unless I’m the one who take the soul out of you

Note: Please pay attention to the POV’s changing. Those between Lucille’s POV and Author’s POV. Thanks.

***

“Darling, you lost. Again”

.

.

Kepalaku pening. Rasanya seperti mau pecah. Belum lagi rasa nyeri yang sepertinya semakin menjadi-jadi di sekujur tubuhku yang mulai… terasa kaku.

Aneh. Aku merasa seperti sudah mati saat ini. Namun, aku masih mendengar suara-suara yang mengiang dengan jelas di telingaku. Ya. Aku mendengar mereka dengan jelas. Mom, Dad, dan Adrian, kakak laki-lakiku.

Suara mereka semakin lama semakin terdengar jelas. Seperti jika kau serasa dipanggil oleh seseorang dari kejauhan yang tengah berlari mendekatimu. Yah, kira-kira seperti itulah caraku mendeskripsikannya. Entahlah. Kepalaku terlalu sakit untuk kuajak berpikir sekarang-sekarang ini.

“…Luce? Apa kau mendengar mom, nak?”

“Luce, jangan buat aku menyirammu dengan segelas besar slushie seperti yang sering dilakukan para jocks di sekolah!”

Tuh kan, benar. Tadi itu suara mom dan Adrian. Minus suara dad pastinya. Aku tahu ia terlalu ketakutan karena putri kecilnya saat ini tengah terbaring lemah di rumah sakit gegara siang tadi mencoba untuk bunuh diri.

Ya. Bunuh diri dengan cara terjun dari ruang musik sekolah di lantai empat.

Dan semua itu tidak akan pernah kulakukan jika saja aku tidak pernah sengaja bertemu―ralat―melihat lelaki itu. Sosok aneh yang entah kenapa terlihat mondar-mandir di dekat rumahku 3 bulan yang lalu. Dan setelah malam aku melihatnya, keesokannya, anak tertua Mrs. Morris yang tinggal di samping rumah kami diberitakan telah meninggal dunia.

Dan jangan harap bahwa saat aku melihatnya, lalu sebuah nyawa menghilang itu hanya terjadi sekali saja. Kutambahkan, namun berkali-kali. Selalu. Setiap saat.

Ia memperkenalkan dirinya padaku sebagai Jaden Sterling―

turunan ke-300 dari silsilah malaikat pencabut nyawa.

Adrian memapahku dengan hati-hati saat keluar dari mobil. Dokter akhirnya memberiku kepercayaan untuk tidak dirawat di rumah sakit lebih lama lagi, tentunya setelah permintaan-permintaan cengeng dari mom, juga beberapa tambahan dari dad.

Sejak perjalanan kami dari rumah sakit, aku tidak henti-hentinya memikirkan lelaki itu. Sudah dua hari selama aku dirawat, sekalipun aku belum pernah melihat sosoknya yang terkadang angkuh, namun di satu sisi, ia selalu berusaha menunjukkan sifat lembutnya padaku.

Entah aku harus merasa lega, karena aura dingin yang ia timbulkan tidak lagi menakutiku. Atau aku harus merasa kehilangan, karena… yah jujur saja. Jika aku boleh mengesampingkan asal-usulnya, maka tidak buruk juga jika menjadikannya seorang teman.

Dan aku bersungguh-sungguh untuk itu.

“Ian, boleh antar aku ke kamar?” tanyaku pelan pada Adrian yang semula hendak mendudukkanku di ruang tengah.

Dahinya berkerut. “Kupikir kau rindu menonton televisi, tapi… baiklah. Ayo.”

Adrian membukakan pintu kamarku untukku, lalu menggandengku masuk. Ia mendudukanku di samping tempat tidur, membukakan kurdin biru cerahku, lalu meletakkan ransel kanvasku di samping tempat tidur.

Sepasang mata Adrian kurasakan mengawasiku baik-baik. Aku tahu. Ia selalu berusaha yang terbaik untuk menjagaku, semenjak aku kecil, dan tanpa memikirkan asal-usulku.

Bicara tentang asal-usul, baiklah, aku akan membongkarnya bahwa aku bukanlah anak kandung keluarga Denver. Namaku adalah Lucille Harding, sebelum keluarga Denver mengadopsiku saat umurku menginjak 2 tahun. Dan saat itu, Adrian-lah yang serta-merta ada di sisiku. Ia sosok kakak yang baik.

Dan saat aku―

“…Luce, apa kau mendengarku?” aku mengerjap beberapa kali, mengalihkan pandanganku ke arah pintu, dan menemukan Adrian di sana. Aku mengangguk. “Panggil aku jika kau butuh sesuatu, oke?”

Suara Adrian terdengar serius. Tanpa sadar, aku mengangguk. Polos.

Adrian tersenyum singkat, sebelum akhirnya menarik kenop pintu, dan menyelipkan dirinya keluar. “Hei,” panggilnya, sebelum benar-benar menutup pintuku.

“Ya?”

Ia menghela napas pelan. Pandangannya melembut. “Jangan lakukan hal-hal bodoh lagi, oke? I beg you, Luce.” Kali ini suaranya benar-benar terdengar lembut dan sangat meminta. Aku tahu ia tidak berbohong, karena sorot matanya itu mengatakan segalanya.

Wajahnya memang terkesan datar dan terkadang sulit dijangkau. Tapi semua pemikiran itu akan berubah saat kau mengenalnya dengan baik. Dia adalah orang pertama yang selalu menenangkanku saat teman-temanku di sekolah mengejekku, mengatakan kalau aku bukanlah anak kandung keluarga ini. Yah. Kira-kira kejadian macam begitulah.

“Luce…?” suara Adrian terdengar lagi.

Aku menolehkan wajahku padanya, tersenyum tidak yakin. “I will.”

Sesaat setelah pintu kamarku benar-benar tertutup, aku melempar pandanganku ke arah jendela di balkon. Adrian membukakan kurdin itu untukku, namun aku tidak ingat apakah ia sempat membukakan jendelanya, karena sekarang kurdinnya beterbangan tertiup angin musim gugur.

Aku bergidik, merapatkan sweter wol-ku agar menjaga hangat tubuh. Beribu pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku. Apakah aku kalah? Apakah aku akan benar-benar hidup di dunia ini sampai nantinya lelaki itu datang dan mencabut nyawaku?

Apakah―

“Ya, aku sendiri yang akan mencabut nyawamu, Nona Denver.”

Suara lelaki itu terdengar jelas olehku, bersamaan dengan embusan napasnya yang lebih terasa seperti semburan AC di pipi kananku. Aku bergidik lagi. Jujur saja, aku belum terlalu terbiasa dengan aura dingin yang selalu ia timbulkan ketika berada di dekatku.

Welcome home,” katanya lagi. Kali ini meraih wajahku, lalu memberikan kecupan singkat di pipiku. Seperti biasa. Rasa dinginnya menusuk bagaikan es.

Aku tersenyum kecut saat ia memutar tubuhku agar menghadap dirinya. “Jadi… aku kalah lagi, kan?” tanyaku, membuka pembicaraan.

“Kau tahu, Lucille?” ia meraih tanganku, menggenggamnya. “Lebih baik kita akhiri permainan bodoh ini. Seharusnya aku tidak menyetujuinya saat kau menantangku dulu,” suara Jaden terdengar meninggi. “Kau hanya akan membahayakan dirimu sendiri.”

Kusentakkan tangan Jaden pelan. Ia membalik topik pembicaraannya lagi dan mengarah ke akhir yang sudah kukenal dengan baik. Ya. Ia pasti akan bilang bahwa dialah yang salah karena ia menyetujui aturan permainan yang kubuat waktu itu.

Waktu itu.

Saat ia akhirnya berdiri di balkonku, menghipnotisku dengan kekuatannya agar aku menemuinya di sana. Di saat akhirnya aku benar-benar berkomunikasi dengannya.

***

Suasana makan malam di keluarga Denver saat itu berlangsung alot. Tidak ada seorangpun yang berniat mengeluarkan suara, bahkan hanya sekadar untuk mengobrol. Padahal, mereka bukan tipe pemuja ketertiban saat makan. Terkadang, makan malam akan menjadi sesi curhat sekeluarga.

Namun kali ini lain.

Hanya terdengar suara dentingan garpu-sendok dengan piring. Jika ada suara manusiapun, itu berasal dari Adrian yang berkali-kali memaksa adik perempuan semata-wayangnya untuk makan lebih banyak. ‘Kau butuh asupan cukup untuk mengembalikan energimu,’ begitu katanya pada Lucille.

Nyonya Denver juga memilih untuk fokus pada makanan di depannya saja. Padahal biasanya, ialah orang pertama yang selalu buka mulut untuk bicara, mengomentari apa yang dilakukan para ibu-ibu tetangga untuk mendapatkan gosip terhangat. Lalu Tuan Denver, serta Adrian dan Lucille hanya tertawa menyikapi tingkah ibu mereka.

Ruangan itu sunyi seakan tak bernyawa, sampai akhirnya Tuan Denver menyudahi santapannya. Ia mengambil segelas air putih, meneguknya sekilas, sebelum merapatkan kesepuluh jemarinya, menatap ragu pada anak perempuannya.

“Lucille,” panggil pria di awal 50 tahun itu dengan suara rendahnya. “Bisa kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dad, nak?” tanyanya hati-hati. Ia hanya tidak ingin memunculkan rasa trauma pada gadis muda itu.

Adrian mendelik tajam. “Dad, please jangan ingatkan Luce tentang kejadian itu,” tuturnya pelan. “Ia belum sembuh dengan sempurna. Bagaimana kal―”

“Ian, it’s alright,” Lucille berkata pelan, menyentuh tangan kakak lelaki-nya. “Lagipula ini hanya kecelakaan kok. Aku terpeleset lantai ruang musik yang licin, lalu kakiku tersandung gulungan kabel di sana. Dinding jendela yang rendah, serta tidak adanya pengaman, tidak bisa menahan tubuhku yang terlanjur oleng.”

Adrian memilih diam dan menundukkan kepala, sementara Tuan dan Nyonya Denver mendengarkan cerita anak perempuan mereka dengan seksama. Satu perasaan lega membuncah di dalam hati keduanya.

Ya. Setidaknya, anak perempuan mereka tidak mengalami kecelakaan gegara suatu perkelahian dengan seorang teman akibat kesalah-pahaman.

Tuan Denver menghela napas. “Lain kali, tolong lebih hati-hati, Luce,” tuturnya, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Kau membuat jantung dad hampir melompat keluar waktu Mrs. Morrison mengabari kami.”

Lucille tersenyum tulus pada kedua orang tuanya. “Kemarin aku memang terlalu ceroboh, dad,” balas gadis itu. “Setelah ini, aku akan lebih berhati-hati.”

Nyonya Denver, yang duduk di sebelah Lucille meraih bahu kecil gadis itu, menariknya ke dalam pelukannya. Tidak perlu kata-kata untuk membalas perkataan Lucille tadi. Mengetahui bahwa anak perempuannya baik-baik saja walaupun dengan kecelakaan yang bisa dibilang fatal, benar-benar sudah cukup baginya.

Langit malam tanpa bintang saat itu, menjadi saksinya. Perasaan Lucille terbelah dua. Antara ingin menepati janji yang telah ia lontarkan beberapa saat tadi, atau meneruskan permainannya dengan Jaden. Walaupun lelaki itu sudah menolak mentah-mentah, ia tahu, Jaden akan selalu muncul di saat maut menghadangnya.

Di waktu yang sempit, pemuda itu harus memutuskan, apakah ia harus menarik nyawa Lucille, atau membiarkan jiwa itu tetap pada tempatnya sampai ia memutuskan untuk mengambilnya nanti. Ingin bagaimana lagi? Itulah tugasnya.

Dan Lucille sendiri tahu bahwa Jaden selalu ada di dekatnya, walaupun tidak setiap detik.

Dari balik bahu ibunya yang memeluknya erat, sepasang mata kelabu gadis itu menangkap sosok Jaden yang tengah memerhatikannya dalam kegelapan.

Jaden selalu mengawasinya, ia tahu itu.

“Kenapa kau selalu terasa dingin, Jaden?”

Lelaki berpakaian keseluruhan hitam itu tersenyum simpul pada gadis yang tengah ada dalam dekapannya saat ini. Lagi. Ia menenggelamkan wajahnya pada bahu gadis itu, menghirup dalam-dalam aroma vanila yang terasa menenangkan baginya.

Ia benci mengakuinya, tapi setiap ia berdekatan dengan Lucille, kehangatan seolah menjalari setiap inci tubuhnya. Yang masih menjadi pikirannya saat ini ialah, kenapa Lucille masih merasakan aura kegelapan miliknya.

Kenapa gadis itu masih merasakan dingin yang menusuk, sedangkan ia sendiri dipenuhi rasa hangat, nyaman, bahkan rasanya seperti terlahir kembali.

“Jaden…?” panggil Lucille. Ia merasakan pelukan Jaden di pinggangnya menguat, sementara napas dingin pemuda itu mengenai tengkuknya. Lagi-lagi, gadis itu bergidik.

“Itulah pertanyaan yang selama ini masih kucari jawabannya, Luce,” bisik Jaden pelan, seraya memejamkan kedua bola mata merah gelapnya. ‘Padahal aku merasa seperti hidup kembali saat berdekatan denganmu,’ batin Jaden.

Lucille tidak bergeming dalam dekapan Jaden. Ia lebih sibuk menikmati aura dingin pemuda itu, yang walaupun rasanya seperti berendam di dalam air es, setidaknya sweter yang tengah dipakainya ini bisa sedikit membantu.

Pakaian serba-hitam yang dikenakan lelaki itu terasa halus dan seringan bulu, serta aroma pine segar yang menguar dari tubuh lelaki itu mampu membuatnya tenang. Jika memungkinkan, ia bisa saja tertidur sambil berdiri begini, dengan Jaden yang menopangnya dari belakang.

Sudah sekitar setengah jam keduanya menghabiskan waktu di balkon kamar Lucille. Jarum pendek yang menunjuk angka dua belas, serta dentangan keras jam antik dari arah ruang keluarga di lantai dua, menandakan datangnya tengah malam.

Perlahan, Lucille melepaskan pegangan Jaden yang tengah memeluknya. Ia memutar tubuhnya, menghadap Jaden yang balik menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Ada apa, Luce?” tanya lelaki itu pelan, memindahkan rambut gadis itu ke belakang telinga kirinya.

Gadis itu tersenyum muram. “Aku masih ingin memainkan permainan itu, Jaden,” tuturnya pendek. “Dan aku ing―”

“Berikan aku seribu alasan kenapa aku harus mengambil benang hidupmu, Luce,” potong Jaden dengan nada serius. Ia merengkuh wajah Lucille di kedua tangannya, menatap gadis itu lurus-lurus.

Lucille yang diperlakukan demikian mendadak tidak mampu berpikir apa-apa lagi. Selalu begini. Memiliki Jaden di sampingnya, membuat gadis itu sulit untuk berpikir jernih. Jangankan untuk memikirkan alasan yang diminta lelaki itu, mengingat tanggal ulang tahunnya sendiri saja rasanya sulit.

“Luce, I’m waiting.”

Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ingin berusaha sekuat apapun, ia tahu ia akan selalu kalah dari Jaden. Lelaki itu memiliki segalanya. Pesona, hipnotis, dan kata-kata yang terasa berbelit, walaupun sebenarnya hanya berarti sederhana.

Sekali lagi, Lucille jatuh dalam perangkap Jaden. Saat kedua bola mata merah itu mengawasinya dengan seksama, saat kulitnya bersentuhan dengan kulit pucat Jaden, saat akhirnya lelaki itu mendapatkan seluruh kendali atas dirinya, Lucille hanya bisa menyerah tanpa perlawanan sedikitpun.

Dan sialnya, Jaden tidak pernah ingin melepaskan tatapannya dari gadis itu.

“Aku… tidak punya keluarga,” jawab gadis itu dengan keragu-raguan yang sangat besar.

Jaden mengangkat alisnya. “Jangan bodoh. Lalu apa arti keluarga Denver bagimu, hm? Alasan tidak diterima.”

Lucille berpikir lagi. “Aku… Aku sering di-bully di sekolah. Mereka bilang aku ini anak haram yang beruntung bisa ditampung oleh keluarga Denver. Mereka bilang aku tidak pantas untuk menjadi adik perempuan Adrian yang sempurna, mereka bilang―”

“Lucille, sayang,” kali ini Jaden mengendurkan pegangannya. Meletakkan kedua tangannya di masing-masing bahu gadis itu, membawanya semakin mendekat agar ia bisa merasakan kehangatan itu lagi. “Aku yakin, Adrian akan dengan senang hati menghajar orang-orang yang berbuat hal-hal demikian padamu,” katanya sembari tersenyum. “Ada yang lain?”

Keheningan menyergap gadis itu. Ya. Ia tahu, tidak ada alasan paling konkrit untuk membiarkan Jaden mengambil nyawanya, kecuali jika memang itu waktunya.

Jaden tersenyum kecil. “Kau memang harus menunggu waktumu, Luce,” bisiknya. “Menungguku suatu hari nanti untuk datang mengambil benang kehidupanmu. Untuk sekarang… alasanmu belum bisa kuterima.”

Lucille memandang polos ke arah Jaden.

“Kau masih terlalu berharga untuk kehilangan nyawamu, Luce. Akan ada banyak airmata yang tumpah jika kau meninggalkan dunia ini,” sambung Jaden lagi. “Percayalah.”

Jaden melepaskan pegangannya pada kedua bahu gadis itu, dengan perlahan menuntunnya menjauhi balkon untuk mendekati pintu kaca dengan kurdin panjang yang beterbangan tertiup angin. Ia berdiri dua langkah dari pintu, masih sambil memegang tangan gadis itu.

“Masuklah. Kau perlu beristirahat,” tutur Jaden. “Ini sudah lewat tengah malam.”

Lucille masih bisu di tempatnya berdiri. Ia menurut saja waktu Jaden menuntunnya memasuki kamarnya yang terasa lebih hangat dari udara di balkon. Ya, tentu saja, rasa dingin menusuk dari kulit Jaden itu merupakan pengecualian.

Lelaki itu mendudukkan Lucille di atas tempat tidurnya, sementara ia sendiri melangkah ringan menuju pintu kaca yang masih terbuka lebar. Tugas barunya dimulai malam ini. Damian Fletcher, si pengirim pesan baru saja menyampaikan tugas itu padanya tadi sore.

Jaden baru ingin menyelipkan tubuhnya di antara pintu untuk keluar, ketika suara parau Lucille memanggilnya. “Bagaimana kalau alasanku adalah… aku ingin bersama denganmu dan aku ingin bertemu dengan orangtuaku yang sesungguhnya?”

Suara Lucille tidak lebih dari sebuah bisikan parau yang hampir tidak terdengar oleh telinga manusia, namun Jaden dapat mendengarnya dengan jelas. Terlalu jelas malah. Setiap kata yang dilontarkan Lucille, serta perasaan gadis itu sewaktu mengatakannya.

Dua alasan yang dilontarkan Lucille sebelumnya merupakan kebohongan dan Jaden tahu betul akan hal itu. Itulah alasannya kenapa ia menolaknya. Tapi kali ini tidak. Tidak ada sedikitpun kebohongan pada perasaan Lucille.

Gadis itu tulus dan bersungguh-sungguh.

Keheningan menyelimuti mereka berdua. Sementara Jaden tenggelam dalam pikirannya sendiri, Lucille masih terdiam di sana, menunggu keputusan Jaden atas alasannya.

Lelaki itu bisa saja berlaku egois dengan menarik nyawa Lucille keluar dari tubuhnya saat itu juga, karena ia tahu, gadis ini telah menjadi candunya tersendiri. Alasan bahwa ia ingin sekadar bertemu dengan berdiri di balkonnya tiap malam, itu sudah dibuangnya mentah-mentah.

Alasan pemuda itu tetap datang menemui Lucille setiap malam, kini hanya ada satu. Ia telah jatuh cinta padanya. Kepada seorang Lucille Harding yang notabene bukan berasal dari dunianya.

Tapi tentu saja. Cinta membuat semua orang buta akan segala macam hal, bukan?

Mengosongkan pikirannya dari segala macam hal egois yang menyerangnya, Jaden menghela napas pelan. “Aku harus pergi.”

***

Permainan yang tengah kumainkan bersama Jaden sebenarnya hanya berasal pada rasa ingin-tahuku yang terlalu besar saja. Aku benar-benar tidak tahu jika Jaden menganggapnya terlalu serius.

Sebenarnya, aku hanya ingin tahu apa yang akan terjadi ketika kematian menjemput. Apakah itu terlalu menyenangkan sampai-sampai orangtuaku tidak kembali padaku lagi? Bagaimana rasanya jika benang kehidupan yang menadi penunjangku hidup, lalu ditarik keluar? Apakah akan sakit?

Jaden menolak menjelaskannya padaku. Ia hanya menyuruhku menunggu sampai waktunya tiba nanti dan aku akan merasakan semuanya secara nyata.

Maka, kuajukan tata cara permainan itu dan entah bagaimana caraku membujuknya, Jaden akhirnya menganggukkan kepalanya pelan. Entahlah. Kupikir, mungkin dia adalah satu-satunya malaikat pencabut nyawa dengan banyak rasa belas kasihan. Dia terlalu lembut.

Peraturannya simpel. Jika aku berhasil kehilangan nyawaku, maka aku menang. Jika sebaliknya, maka pemuda itu yang menang. Dan sialnya sejauh ini, tidak ada satu dari puluhan cara yang kulakukan, berhasil dengan sempurna.

Menenggelamkan diri di bathtub, minum obat nyamuk cair, sampai terjun bebas dari lantai empat gedung sekolahku semuanya gagal. Dan lagi, aku benar-benar membuat takjub para dokter, karena hal paling besar yang menimpaku hanyalah gegar otak ringan. Ah. Patah tulang saja tidak.

Jelas sekali kalau aku kalah telak darinya.

Aku selalu menepis kata-kata Jaden yang selalu memberitahuku bahwa ini memang bukan waktuku untuk meninggalkan dunia ini, namun jika aku berpikir dua kali, maka harusnya mudah saja membuatku mati. Toh Jaden hanya perlu menarik keluar nyawaku, kan? Dengan begitu, poof, tidak ada lagi Lucille Harding di muka bumi ini.

Dan jika aku teringat kejadian sema―

“Luce! Kau harus tahu berita ini!”

Aku menolehkan kepalaku dengan cepat ke arah si empunya suara. Nadanya yang cempreng dan terlalu bersemangat itu sudah tentu milik Kayla Garvin, adik dari Kyle Garvin yang merupakan sahabat baik Adrian dan juga… satu-satunya sahabatku.

Kayla memutar tubuhku yang semula menghadap ke arah pagar pembatas di atap sekolah. “Kai mendapatkannya! Ia bersama kakakmu akan menjadi dancer pembuka untuk festival musim panas nanti!” pekiknya gembira. “Ng… apa Adrian sudah memberitahumu?”

Aku menggeleng. “Dia tidak akan memberitahuku. Aku hanya akan menemukan seporsi besar pizza di kamarku nanti, berisi sebuah pesan yang mengatakan aku harus ke kamarnya, untuk mendengarkan keseluruhan ceritanya,” jelasku panjang lebar. “Selalu begitu.”

“Oh, oke,” Kayla menghela napas pelan. “Ngomong-ngomong, bagaimana keadaanmu, Luce? Maksudku, kau hebat. Setidaknya jika seseorang jatuh dari lantai empat, minimal kan ada satu, dua tulang patah,” tukasnya, memandangku kagum. “Apa dokter itu tidak gila dengan mengatakan bahwa kau hanya menderita gegar otak ringan?”

“Dokter itu tidak gila, Kayla,” ujarku terbahak. “Dan aku juga merasa baik-baik saja.”

Sepasang mata hijau anak itu berbinar-binar. “Fantastis!” pekiknya tertahan. “Seharusnya kau masuk ke dalam rekor dunia, Luce! Ini benar-benar keajaiban seperti… seperti layaknya mukjizat!”

Ya, ya, anak itu tetap berkoar-koar walaupun aku sudah menyeretnya turun dari atap sekolah karena jam istirahat makan siang sebentar lagi akan habis. Dan dengan itu, kami berdua harus secepatnya sampai di kelas sebelum Mrs. Yvonne yang galak sampai lebih dulu.

Kami melewati lorong sekolah yang masih terlihat ramai, terutama di pinggiran lapangan basket. Oh tentu saja. Di sana ada Kris Bayne dan Jesse Cornell, murid lelaki jangkung yang setingkat dengan Adrian. Yah, mereka berdua sangat populer karena permainan basketnya.

Beberapa murid yang melewati kami tersenyum ramah, serta menyapa Kayla, tapi tidak padaku. Realistis saja. Kakak lelaki Kayla, Kyle―atau biasanya, Kayla memanggilnya Kai―adalah bintang dancer sekolah ini, sama dengan Adrian, sementara Kayla sendiri adalah pemain biola yang hebat.

Jika Kyle dan Kayla adalah sepasang kakak-adik yang sangat berbakat, maka tidak dengan Adrian dan aku. Adrian memang bersinar, tapi diriku tidak lebih dari seorang murid yang cahayanya telah redup lebih dulu. Seharusnya Adrian menolak saat mom dan dad memasukkanku ke sekolah yang sama dengannya.

“Luce! Oh Tuhan, kau harus menghilangkan kebiasaanmu yang sering melamun itu! Hidup masih panjang, Luce! Kita adalah para jiwa muda!” teriak Kayla begitu kami sampai di kelas.

Aku duduk di kursiku, membiarkan Kayla yang lantas mengambil penghapus papan tulis dan membersihkannya. Anak itu memang paling susah untuk duduk manis. Aku curiga. Biasanya pemain biola memiliki pembawaan yang tenang dan anggun, begitu juga saat mereka tengah memainkan alat musik itu.

Aku hanya bertanya-tanya. Apakah Kayla memainkan biolanya sambil ber-salto?

Ia duduk di sampingku saat papan tulisnya sudah bersih sempurna. Kayla mengeluarkan setumpuk besar partitur lagunya, nah sepertinya ia ada kursus biola sore ini. Mulutnya komat-kamit menghapalkan nada yang harus ia pelajari mungkin.

Tanpa sadar, tangan kiriku bergerak, menyentuh bahu kirinya.

Kayla menoleh cepat. “Ah untunglah kau memutuskan untuk mengajakku mengobrol,” desahnya senang. “Menghapalkan partitur ini rasanya seperti mau mati!” katanya lagi.

“Ng… aku hanya sedang berpikir. Jika kau ingin bunuh diri, maka cara apa yang kaupakai?”

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

“YA! KAU MENCOBA UNTUK BUNUH DIRI, HAH?!”

Mataku ikut membelalak sempurna saat anak itu dengan lantangnya berteriak di depan wajahku. Napasnya berderu, sementara belasan pasang mata yang juga ada di kelas itu semuanya mengarah pada kami berdua yang mengambil tempat duduk agak ke belakang.

Lantas, aku meraih wajah Kayla, membekap mulut besarnya itu sekuat tenaga. Tubuhnya yang kecil bukan tidak mungkin memiliki kekuatan besar di dalamnya untuk meronta gila-gilaan.

“Ck, ini untuk karya bahasa!” desisku di telinganya. “Aku hanya perlu membuat sebuah cerita seram tentang tema itu!” Bagus. Aku berbohong lagi.

Perlahan, Kayla memperkecil kekuatannya dan sedetik setelah kulepaskan tanganku dari mulutnya, kini ganti ia yang meremas kedua bahuku kuat-kuat. Sepasang mata kelabunya menatap lurus dan tajam ke mataku. “Janji kau tidak akan macam-macam?” tanyanya dengan suara yang rendah dan menggeram.

Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

Dan reaksi Kayla lima detik berikutnya, benar-benar ingin membuatku mencubit kedua pipinya sampai bengkak.

“Ya ampun, Luce! Setidaknya, jelaskan aku alasannya,” tutur Kayla sambil terbahak keras.

Aku memutar kedua bola mataku. “Ck, kau saja yang terlalu mendramatisir,” balasku. “Cepat beritahu.”

Kayla tertawa lagi. “Begini, jika kau ingin tahu cara-cara kuno untuk bunuh diri, yang sering kuperhatikan di film, yaitu memutuskan urat nadimu. Seperti ini,” tutur Kayla, serta-merta mempraktekkan caranya. Ia menggunakan telunjuknya sebagai pisau, lalu seolah-olah mengiris pergelangan tangan kirinya.

Seketika itu juga, aku ingin menampar keras-keras dahiku. Ya ampun. Cara kuno dan mudah begini kenapa tidak terpikirkan sejak dulu? Dan lagi yang kutahu, memutuskan urat nadi itu kan fatal akibatnya.

Tidak ada salahnya mencoba, ya kan?

***

Jaden duduk bersila di depan Lucille yang masih sibuk mengacuhkan tatapannya dari lelaki itu. Jam dinding yang menggantung di ruangan itu sudah menunjukkan pukul satu malam dan untunglah tugas harian dari Damian untuk Jaden, sedang diambil alih oleh Cameron Briel yang selang beberapa keturunan di atasnya.

Lelaki itu tidak bergeming, ia sibuk mengawasi Lucille. Tidak dari sudut matanya, tidak secara diam-diam, namun benar-benar secara terang-terangan. Jika tatapannya bisa menghancurkan sesuatu, mungkin bukan Lucille yang utuh lagi yang tengah duduk bersila di depannya saat ini.

“Kau… kau tidak pernah mengerti kenapa aku mati-matian menjagamu, Luce,” akhirnya Jaden bersuara dengan nada rendah, namun lembut bagi gadis itu. “Kau tidak akan pernah tahu.”

Lucille tidak berniat menjawab. Untuk saat ini, ia hanya tertarik pada karpet beludru-nya yang berwarna biru gelap dibandingkan sosok Jaden. Tatapan yang diberikan Jaden terasa mengintimidasinya.

Jaden menghela napas pelan. “Kau belum bisa meyakinkanku dengan benar―,” lelaki itu sengaja memotong ucapannya, dengan sekali gerakan menghentikan tangan Lucille yang tengah asal menggambar di atas karpet beludru itu, “―mengapa aku harus membawamu bersamaku…”

Gadis itu menatapnya jengah. “Aku ingin bertemu mereka, Jaden, bertemu orangtuaku,” suaranya seketika meninggi, “oke, aku memiliki keluarga Denver di sisiku dan mereka semua menyayangiku, terlebih Adrian. Dia kakak lelaki tertulus yang pernah kumiliki. Tapi tetap saja, Jade…” Lucille menghentikan kata-katanya, menunduk lagi.

“…aku ingin bertemu mereka. Dan… jangan pikir alasanku kemarin bahwa aku ingin bersamamu, itu hanya main-main.”

Kali ini, Jaden kehabisan kata-kata. Persetan jika ia sudah tahu bahwa kata-kata gadis itu kemarin benar-benar tulus, tanpa ada kilat kebohongan di sana. Ia hanya ingin mendengarnya langsung keluar dari bibir gadis itu. Tidak lebih.

Ruangan itu diliputi keheningan lagi. Sementara Jaden sibuk memilah-milah kata, maka Lucille berpikiran ia sudah mengungkapkan semuanya lebih dari cukup. Tangannya kembali menggambar pola-pola abstrak di atas karpet beludrunya, tidak menghiraukan Jaden yang bertampang datar, namun berteriak frustrasi di dalam benaknya.

Semakin lama gadis itu menimbang, semakin yakin pula dirinya akan rencana besarnya malam ini. Ia sudah mendengar dari sahabatnya tadi siang, cara paling kuno, namun ampuh untuk mengakhiri hidup seseorang. Dan… yah, berbekal pisau cutter yang masih ia sembunyikan di balik saku jaketnya, ia hanya bisa berharap agar semuanya lancar.

Suara kecil di dalam hatinya berkali-kali berteriak, bahwa Jaden pasti mengetahui soal itu. Pasti. Toh ia selalu memperhatikan gadis itu dalam diam dan dengan cara tidak terduga, kan?

Jaden membiarkan Lucille yang perlahan bangkit dari duduknya, meninggalkannya sendirian di ruangan gelap itu dengan berjalan menuju balkon. Ia hanya sedang tidak bersemangat malam ini. Seluruh tubuhnya mati rasa, ditambah pengakuan Lucille tadi. Bahwa gadis itu ingin bersamanya.

Jaden tak bisa memilih. Apakah ia harus mendahulukan ego-nya, atau keselamatan dan kelanjutan hidup gadis itu. Tentu ia tidak bisa mencabut nyawa seseorang sesuka hatinya, kan?

Sebelum lelaki itu tenggelam lebih dalam pada pikirannya, sekelebat suara berbisik dari sudut ruangan menangkap perhatiannya. Jaden mendengus pelan. Jika itu seekor tikus, maka ia bersumpah akan membenci binatang itu seumur hidupnya.

Dunia manusia memang kadang membuatnya sakit kepala.

Namun, alih-alih seekor tikus, justru sekilas bayangan wajah seseorang muncul menyapanya. Jika saja Jaden tidak menguasai dirinya dengan baik, ia bisa berteriak seperti seorang wanita saat itu juga.

“D-Damian Fletcher…?”

Damian memandangnya sembari memutar bola mata. “Yeah, siapa lagi?” tanyanya balik dengan nada jenaka. “Kaupikir aku menyuruh Cameron mengerjakan tugasmu tidak ada maksud apa-apa, huh?”

Lelaki itu memandang Damian tidak mengerti. “Apa maksudmu…?”

Damian mendengus, menyipitkan mata. “Hei! Itu adalah ekspresi khas milikku! Wajah melongo, dengan sedikit tambahan ekspresi lucu! Jangan mengikutiku!” desisnya.

“Jika kau muncul di saat begini hanya untuk mengatakan itu, pergi saja sana,” dengus Jaden balik. “Dasar pembawa pesan banyak gaya.”

Terdengar suara kekehan serak dari Damian, yang membuat Jaden tidak jadi memalingkan wajahnya. Ia balik menatap wajah lelaki si pembawa pesan itu. Kedua matanya menyipit, seolah meminta penjelasan lebih, namun jujur saja, otaknya saat ini sulit sekali diajak berkompromi.

Come on, Jade! Kautahu siapa korbanmu berikutnya!” tutur Damian tidak sabaran. Sosoknya yang semula hanya setengah tubuh melayang-layang saja, bukan tidak mungkin akan menjadi sempurna, jika Jaden tidak buru-buru mengerti apa maksud Damian.

Jaden memandang Damian lekat. “Kau… bercanda.”

“Waktunya sudah tiba, Jade. Dan kau-lah yang memiliki tugas ini.”

Gadis itu memandang bulan yang menggantung di langit dengan tatapan sendu. Berkali-kali keluarga Denver yang tersenyum padanya muncul di langit malam, melambai padanya, membuatnya semakin enggan mengakhiri hidupnya malam itu juga.

Tuan Denver yang selalu menanyakan kabarnya tiap makan malam, Nyonya Denver yang selalu mengajaknya ke dapur dan mengajarinya memasak ini-itu, serta Adrian yang selalu menjaganya. Entah saat di sekolah, di rumah, bahkan Adrian sendiri yang pernah menawarkan diri untuk menemaninya tidur saat terjadi hujan guntur, karena ia tahu adik perempuannya benci suara guntur.

Lucille tersenyum pahit.

Berada di dunia ini, dengan keluarga sebaik keluarga Denver memang menyenangkan. Ia mendapatkan segalanya. Namun, keinginannya untuk bertemu kedua orangtuanya juga tidak kalah besar. Ya. Walaupun hanya melihatnya sekilas, itu juga tidak apa-apa.

Mom, Dad, aku mencintai kalian. Sungguh,” bisik Lucille, sementara tangan kanannya mengeluarkan pisau cutter yang sudah ia sembunyikan sejak tadi di kantung jaketnya. “Adrian, maafkan aku. Aku menyayangimu. Kau kakak lelaki terbaik yang pernah kumiliki. Menarilah yang benar saat festival nanti.”

Begitu permukaan pisau yang tajam menggores kulitnya, gadis itu bisa merasakan perih yang semakin lama, semakin terasa. Ia tidak menggoresnya sekali, melainkan berkali-kali. Bahkan bisa saja gadis itu terpeleset genangan darahnya sendiri jika tidak ada yang menopangnya dari belakang seperti saat ini.

“Ja…den…?”

Lelaki itu membenamkan wajahnya lagi ke bahu gadis itu, menyesap dalam-dalam aroma vanila yang belakangan ini menjadi candunya. Ia tersenyum tipis, mengetahui dengan jelas bahwa sebentar lagi gadis itu akan bersamanya.

“Nona Denver… sudah waktunya kau ikut bersamaku,” bisik lelaki itu pelan di telinga Lucille, sementara gadis itu tidak peduli dengan apapun kecuali rasa pening yang menyerang kepalanya ketika aliran darah di tubuhnya mulai berkurang.

Gadis itu hanya bisa memejamkan kedua matanya rapat-rapat, menahan rasa sakit yang seketika menusuk-nusuk tiap inci tubuhnya. Pisau cutter miliknya telah terlupakan entah dimana, yang pasti ia sudah yakin bahwa luka yang dibuatnya sendiri sudah cukup membuat aliran darah mengucur deras keluar dari urat nadi di tangannya.

“Jaden… sakit…”

Lucille mengerang pelan begitu bibir Jaden yang sedingin es menyentuh bibirnya sendiri. Jaden menciumnya hangat, pelan. Ia hanya tidak ingin Lucille merasakan sakit yang lebih. Ia tahu setiap rasa sakit yang merasuki setiap korbannya sesaat sebelum kematian merenggut mereka. Dan melihat gadisnya merasakan itu semua… sepertinya ia sendiri tidak sanggup.

Jaden melumat bibirnya pelan, berharap bisa mengalihkan rasa sakit itu. Satu tangannya menggenggam pagar besi yang menjadi pengaman di balkon, sementara satu tangannya lagi menopang tubuh Lucille agar tidak beringsut jatuh.

Gadis itu sontak merasakan kehangatan dan rasa dingin yang mencekam di saat yang bersamaan. Tubuhnya lama-kelamaaan terasa seringan bulu, menyatu dengan udara, tenggelam dalam dekapan Jaden yang ajaibnya kini tidak ada aura kegelapan yang menguar darinya. Sebaliknya, kehangatan menyelimuti mereka berdua saat dirasakannya kakinya mulai tidak menapaki apa-apa lagi selain udara.

Jaden melepaskan ciumannya, menatap teduh pada Lucille yang masih belum tersadar akan situasi ini.

“Jaden… tubuhku…” gadis itu berucap lirih saat mendapati dirinya sendiri melayang, menjauhi balkon rumah, menjauhi jasadnya yang beringsut, bersandar di pagar balkon kamarnya.

“Kau tidak akan bisa terbang jika tubuhmu seberat itu, Luce,” balas Jaden, tertawa pelan, “aku hanya perlu mengambil jiwamu untuk pergi bersamaku.”

.

.

That’s it. All I need is you. The one and only.

And I’m glad to take you with me

To be my only one black-dressed princess

.

.

Fin

 

5 thoughts on “[FREELANCE] Black Dressed Princess

  1. Asli parah bgt ini si lucille
    Padahal dia udh punya kakak sama keluarga yg baik bgt
    Jd sedih mikirin pas dia bunuh diri kasian ama keluarganya
    Tapi ini keren -_-

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s