[FREELANCE] Runaway Bride

Title       : Runaway Bride

Author   : seara_park

Length   : Oneshot

Genre     : Romance/Drama/Angst

Rating   : All Ages

Casts     : Xi Luhan, Kim Joonmyun, Jung Jiyoo (OC)

Foreword: I would hang my fate by God’s hand. And the fact that I’ve met you, this way, was the best present

***

Jung Jiyoo menatap gaun pengantin yang tergantung dengan mewahnya itu dengan tatapan nanar. Matanya menelusuri tiap-tiap lekuk manis yang diakali oleh beberapa perhiasan seperti manik-manik gemerlap. Dan pencahayaan yang disuguhi oleh ruangan khusus itu benar-benar membuat segalanya sempurna. Tiap inci gaunnya seakan menyala. Yup. Memang sebuah gaun pengantin yang cantik.

Sementara tepat di sebelah manekin pemakai gaun pengantin wanitanya, terdapat manekin lainnya yang menggunakan pakaian untuk pengantin prianya. Jas hitam kelam, serta kemeja dalam yang warnanya senada dengan keseluruhan warna yang dipakai untuk gaun pengantin wanita tadi. Singkatnya, kedua kostum itu benar-benar sempurna dan pasti para pengunjung di gereja nanti akan berdecak kagum saat dirinya berjalan menuju altar.

Sempurna. Ya, sempurna. Jika saja pesta pernikahan ini tidak didasarkan pada suatu paksaan, yang mungkin alasannya benar-benar tidak logis. Terdengar gila malah.

Pernahkah kalian mendengar alasan seseorang untuk menikah adalah untuk membayar hutang-hutangnya? Atau untuk menyelamatkan keluarganya agar suatu hari nanti kediaman mereka tidak didatangi oleh sekelompok rentenir kejam yang bahkan tega berbuat hal-hal ilegal.

Tidak. Ia bukan berasal dari keluarga yang serba kekurangan. Ia juga bukan berasal dari keluarga yang memiliki segalanya, dimana mereka bisa menikmati makan pagi, makan siang, makan malam, di 3 negara berbeda sekaligus.

Keluarganya selalu hidup apa adanya. Ya. Itu yang sejak dulu diajarkan oleh ayah dan ibunya.

Entah sudah keberapa kalinya gadis itu tersenyum pahit dalam diam. Membiarkan dirinya berada di ruangan itu seorang diri, menelan lumat-lumat kenyataan bahwa 3 jam lagi dirinya sudah milik orang lain. Orang lain yang bahkan baru saja dikenalnya 2 hari yang lalu.

Bukan tidak mungkin tabiat calon suaminya itu buruk, kan?

‘Kalau begitu, kau tinggal kabur dari tempat ini sekarang juga. Dengan begitu, kau tidak perlu menikah dengannya, kan?’

Gadis itu hampir saja mengangguk, membenarkan suara-suara yang ada dalam pikirannya. Ia mencengkram pegangan kayu kursi itu kuat-kuat dan membiarkan seluruh adrenalinnya terpacu. Otaknya baru saja memberikan ia suatu solusi yang brilian.

‘Yaak! Kau gila, hah?! Pikirkan apa yang akan terjadi pada orangtuamu nanti! Pernikahan ini memang paksaan, tapi hanya ini satu-satunya cara untuk menolong keluargamu!’

Semangatnya melemah lagi. Suara lain muncul dari kepalanya dan perkataan itulah yang menamparnya keras-keras. Bagaimanapun juga ini memang menyangkut masalah keluarganya dan dirinya sendiri sebagai anak tunggal, yah, deritanya harus menanggung ini semua. Ia tak mungkin menyalahkan ayah dan ibunya, kan?

‘Cih. Tapi kan itu hak-nya juga untuk menolak pernikahan ini. Dia bukan seorang anak kecil lagi, yang bisa disuruh-suruh untuk melakukan ini dan itu.’

‘Ne, ne. Tapi kali ini kan situasinya berbeda!’

‘Yaak! Kenapa kau berteriak padaku, hah?!’

‘Siapa yang berteriak?! Aku kan hanya menekankan!’

‘Aish, sebenarnya kau ini malaikat atau setan, sih?!’

Jiyoo memijat keningnya yang mulai pening. Cahaya matahari di ufuk timur mulai mengenai wajahnya, sesaat kaca berwarna-warni di depannya membiaskan cahaya itu dengan sempurna. Jika disuruh memilih, lebih baik ia mengunyah racun tikus pagi ini sebagai sarapannya.

Perlahan tapi pasti, ia mengangkat tubuhnya bangkit dari kursinya, lalu menuju pintu. Sekali lagi ia berbalik, meninggalkan tatapannya yang terakhir pada sepasang kostum pengantin itu.

‘Masih ada wanita yang lebih berhak untuk memakainya.’

***

Gadis itu merapatkan sweater yang membungkus tubuhnya dengan sempurna, setiap kali angin semilir Seoul berembus ke arahnya. Yep. Memang salahnya sendiri untuk melarikan diri sejenak dari kehidupannya yang entah bagaimana caranya berubah lebih rumit akhir-akhir ini. Namun ia juga tidak ingin mengambil risiko untuk kabur sedikit lebih siang dan mendapati seluruh keluarga besarnya mencari dirinya, kan?

Rumit. Kehidupannya saat ini seakan menjadi batu besar di tengah jalan yang dapat menyandung langkahnnya tiap waktu.

Pekerjaannya sebagai editor di salah satu majalah berbasis fashion yang cukup terkenal sedikit demi sedikit mulai tergeser akibat kedatangan seorang pendatang baru. Setelah ini, ayah dan ibunya memilih untuk pindah ke Mokpo, dengan alasan ingin menghabiskan masa senja mereka dengan tenang. Lalu ia harus menerima kenyataan bahwa kedai kopi favoritnya akan segera tutup dan sekarang? Ia harus menikah dengan seorang pemuda yang bahkan, ia lupa bagaimana rupanya.

Aish. Jiyoo. Jika kau ingin bunuh diri, maka alasan-alasan tadi setidaknya sudah cukup kuat. Kau tinggal menulis pesan selamat tinggal dan menceburkan diri ke dalam danau buatan yang terkenal kedalamannya itu.

Yep. Jung Jiyoo tengah berdiri di belakang pagar besi berwarna hitam, lalu memandang jauh ke depannya. Danau buatan yang sengaja ditempatkan di tengah-tengah kota, apalagi terletak tepat di samping taman kota itu setidaknya mampu membuatnya nyaman. Nyaman sebelum akhirnya nanti ia harus pulang dan menerima kenyataan yang sebenarnya.

Sedikit terlintas bagaimana nantinya jika saat ini ia mengangkat kakinya, melewati pagar, dan melompat ke air. Akankah kematian akan langsung menjemputnya, atau ia harus berada di sana, menunggu dinginnya air membekukan dirinya, lalu akhirnya jiwanya terbang ke nirwana.

Jiyoo menggeleng pelan. ‘Harusnya aku makan racun tikus saja tadi. Setelah laparku hilang, aku bisa langsung mati,’ pikirnya asal.

Gadis itu merendahkan tubuhnya, menopang dagunya di atas tangan. Pagar besi itu cukup tinggi, jadi ia tak perlu repot-repot merasa pegal atau  bagaimana. Tapi itu juga salah satu permasalahan jikalau ia memang berniat untuk mengakhiri hidupnya saat ini, maka sedikit sulit untuk memanjat pagar yang tingginya sebatas dadanya itu.

Kaki kanannya menapak bagian bawah pagar besi itu. Sensasi dingin yang langsung menyambar diabaikannya. Sepasang sandal yang dipakaianya telah tergeletak dan terlupakan. Toh di surga nanti, ia tak perlu repot-repot memakai sandal, kan?

“Hei Nona, kau sedang apa disana?”

***

Jung Jiyoo’s POV

“Hei Nona, kau sedang apa disana?”

Dahiku berkerut sempurna begitu suara maskulin yang terdengar asing memasuki indera pendengaranku. Kuurungkan niatku untuk mengabaikannya dan langsung melompat, karena pasti ia yang akan lebih dulu meminta tolong bahwa ada seorang gadis gila yang ingin bunuh diri, sedangkan aku, memanjat pagar ini saja sepertinya membutuhkan waktu yang panjang.

Langkah kaki pemilik suara itu terdengar mendekatiku di atas penampang kayu ini, sementara diriku masih sibuk mencari-cari sandal yang tadi sempat kutinggalkan. Sialnya, aku tidak menemukannya dimanapun.

“Nona, kau tanpa sengaja menendang sandalmu tadi,” suara maskulin itu berkata lagi. Oh, dia benar. Sepasang sandalku tengah mengapung-apung tak berdosa. Sialan.

Aku menghela napas berat. Benar, kan, semuanya yang berhubungan denganku dan kehidupanku pasti menjadi rumit begini. Entah dosa macam apa yang pernah kuperbuat hingga Tuhan akhirnya menghukumku dengan cara seperti ini.

Baru saja aku ingin berbalik, ketika kurasakan seseorang muncul di sampingku, meletakkan kedua tangannya di atas pagar besi seperti apa yang kulakukan sedari tadi. Aku bisa melihat sosoknya lewat sudut mataku. Ia seorang pemuda dengan rambut kecoklatan, lebih tinggi dariku, dan tubuhnya mengeluarkan aroma seperti kayu manis.

Ia memandang ke kejauhan dan sepertinya bibirnya melengkung membentuk senyuman. Ah. Mungkin ia hanya satu dari sebagian orang yang menyukai pemandangan pagi begini, di mana matahari baru muncul dari peraduannya.

Tanpa sadar, kini aku benar-benar menatap ke arahnya, ehm, maksudku aku menatapnya bukan hanya dari sudut mataku lagi. Ia benar-benar menarik perhatianku secara penuh saat ini.

“Apa?” tanyanya pendek, menolehkan wajahnya padaku dalam kisaran beberapa detik. Oke. Aku benar-benar tertangkap basah.

“Tidak,” jawabku berkilah, membuang muka.

Untuk sekitar beberapa menit ke depan, suasana di antara kami benar-benar hening. Aku hanya dapat mendengar desiran-desiran angin yang membuat riakan di tengah-tengah danau buatan ini dan sekelebatan keramaian di belakang sana. Tepatnya di bagian taman kota.

Jika perhitunganku benar, maka mungkin sekarang orang-orang di rumah tengah ribut mencariku yang tiba-tiba menghilang di pagi hari. Dan sepupu-sepupuku yang memang sengaja menginap pasti yang pertama kali menemukan tempat tidurku yang dalam keadaan kosong. Biarlah. Toh ini bukan pernikahan seorang putri raja yang akan menggemparkan seluruh penjuru negara ketika pengantin wanitanya kabur.

Aku menghela napas berat. Mungkin terlalu kentara, karena aku bisa merasakan kalau pemuda di sampingku ini merasa terusik.

“Katakan padaku, apa kau tadi berniat untuk bunuh diri?” tanyanya tiba-tiba, membuka pembicaraan.

Aku berpikir keras. Haruskah kuceritakan semuanya, toh ia adalah seorang pemuda asing yang secara sangat-sangat kebetulan mendapatiku yang tengah mencoba bunuh diri. Aku belum mengenalnya selama genap sejam dan sekarang ia menanyakan satu pertanyaan sakral begitu.

Tapi di sisi lain… jujur aku butuh teman bicara.

“Sudahlah kau tidak akan mengerti,” jawabku, terdengar sangat depresi sepertinya. “Ini masalah wanita. Lagipula ini terlalu rumit.”

Untuk sejenak, terdengar pemuda itu menahan tawa atas pernyataanku. Tentu saja aku menaikkan sebelah alisku dan rasanya emosiku hampir meluap. Bayangkan saja. Ini adalah hal terberat dalam hidupku, lalu pemuda itu seenaknya saja ingin tertawa? Cih. Dia cari mati.

“Tuan, ini tidak lucu,” komentarku lagi.

Aku menatapnya dengan wajah datar, tanda bahwa aku benar-benar tersinggung atas sikapnya. Namun, saat ia menolehkan wajahnya padaku dan senyum miliknya itu ada di sana, ada perasaan berdesir yang aneh, yang langsung menyerangku. Bukan karena rupanya atau bagaimana, tapi sepertinya aku akan merasa nyaman dengannya.

Ia tersenyum padaku seolah aku telah mengenalnya sejak lama. Tangannya terulur, menepuk pelan bahuku. Mungkin ia sadar bahwa sekarang aku tengah hilang dalam duniaku sendiri.

“Mianhae, mianhae,” katanya lagi. “Tapi jujur saja, jawabanmu yang tadi itu justru memancingku untuk bertanya padamu lebih jauh. Jika kau adalah tersangka dan aku polisinya, kau akan berakhir dengan menceritakan seluruh tindak kejahatanmu padaku.”

Aku mengerucutkan bibirku. Kalimatnya tadi kurang lebih berarti aku akan menceritakan seluruh masalahku padanya hanya karena ia meminta. Tch. Yakin sekali memang, namun di sisi lain aku membenarkannya.

Sepertinya ia adalah seorang pemuda baik hati.

Baru saja aku ingin membuka mulutku untuk bicara saat kudapati tangannya terulur ke arahku. “Kita berkenalan dulu, lalu kau bercerita. Arasseo?” tanyanya dengan nada jenaka.

“Siapa bilang aku akan bercerita?” tanyaku tak acuh dan ia hanya menyambutnya dengan cara tertawa renyah. Sikapnya seolah-olah menunjukkan kalau ia tidak pernah sekalipun mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya.

Ia menyentil dahiku pelan.

“Wajahmu terlihat depresi, pabo! Kau butuh teman untuk bercerita,” serunya lagi dengan nada ringan. Ia tersenyum lebar ke arahku, seolah meyakinkan diriku untuk mempercayainya.

Dan sialnya, aku termakan pesonanya itu.

Aku tidak tahu pasti setan macam apa yang merasuki diriku, karena setelah kami berkenalan satu sama lain, aku langsung menceritakan seluruh masalahku padanya. Seorang pemuda asing yang baru saja kukenal. Bahkan jika ia benar-benar seorang pendengar yang baik, aku sendiri masih sangsi mempercayainya, toh ini semua kebetulan. Tapi yah, itu tadi.

Namanya Xi Luhan dan ia mengaku padaku, masih ada darah cina di dalam tubuhnya. Ia menetap di Korea karena ia memang kuliah di sini dan setelah lulus, ia memutuskan untuk menetap. Aku tidak tahu pasti usianya, hm, mungkin aku setahun atau dua tahun di bawahnya. Wajahnya itu menipu semua orang. Ia benar-benar dewasa, terutama saat ia mendengar ceritaku.

“Kembalilah,” tuturnya pelan, sesaat setelah aku selesai menjabarkan ceritaku.

Aku mengernyit padanya. “Maksudmu?”

Ia menghela napasnya pelan, lalu menolehkan wajahnya padaku lagi. “Yah, kembali. Pulang ke rumah, minta maaf pada keluargamu, dan jalani pernikahan itu,” katanya tersenyum. Senyumnya lagi-lagi meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tapi, tidak lagi, Tuan. Aku tidak akan jatuh lagi pada pesonamu yang mampu memberikan rasa nyaman itu. Memang aku yakin untuk menjalani semuanya, ketika ia masih ada di sini, dan meyakinkanku. Namun aku tidak mungkin membawanya pulang, kan? Bagaimana jika semua rasa ragu dalam diriku menguar lagi ketika aku sampai di rumah nanti.

“Jiyoo-ssi? Kau mendengarku, kan?” ia menjentikkan jemarinya di depan wajahku.

Aku menggeleng pelan. “Aku tidak tahu, Luhan-ssi. Saat kau mengatakannya, aku memang begitu yakin. Tapi…” aku menelan ludah, “…aku tidak tahu apakah aku masih seyakin ini saat sampai di rumah nanti.”

Ia terbahak. Keras. Dan aku hanya terdiam di sampingnya dengan wajah datar. Oke ini sudah dua kalinya pemuda ini menertawakan hidupku. Sekali lagi ia tertawa, aku bersumpah akan menghadiahkannya sepaket piring cantik.

Luhan menepuk bahuku pelan. “Keyakinan itu dirimu sendiri yang membentuknya, Jiyoo-ssi. Aku disini kan, hanya sebagai pendorong saja. Kau sendiri-lah yang harus meyakinkan dirimu bahwa semuanya akan baik-baik saja,” katanya lagi. Tuh kan, jika dia yang mengatakannya, semuanya terlihat cerah.

“Kau melakukannya lagi,” gumamku.

“Apa? Mengatakan sederetan kalimat yang membuatmu yakin?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Jiyoo-ssi, dengarkan aku,” kali ini suaranya merendah dan ada nada serius dalam suaranya. “Aku sendiripun pernah dihadapkan pada pilihan sepertimu. Eung… bedanya, ini bukan tentang perjodohan. Yah… pokoknya ini masalah lama…”

Aku mengerjap. Menunggunya untuk melanjutkan kata-katanya.

“…sepertimu, aku datang ke tempat ini. Memandang jauh ke sana, hampir bunuh diri seperti apa yang tadi kau lakukan. Jika aku tidak dapat keyakinan di saat yang tepat, mungkin aku sudah menceburkan diriku ke danau itu,” katanya, menahan tawa, “tapi… aku dapatkan keyakinan itu. Lalu aku pulang, melakukan hal yang memang seharusnya kulakukan, dan bingo masalahku selesai.”

Aku mengerjap lagi. “Semudah itukah?” ia mengangguk. “Tapi masalahku bahkan lebih rumit dari itu, Luhan-ssi. Ini… menyangkut masa depanku.”

Ia menepuk bahuku lagi. “Percayalah. Masalahmu tidak serumit yang kau bayangkan.”

“Jadi boleh aku tahu apa yang terjadi padamu waktu itu?” tanyaku menyelidik dengan mata menyipit. Ia tersenyum lagi, lalu menggeleng.

“Setelah kau pulang dan jalani semuanya, silakan kau datang ke apartemenku, dan akan kuceritakan semuanya,” tolaknya halus, sekarang merangkulku dengan lengan kanannya. Hangat. Dan sekarang, aku berharap memiliki sesosok oppa sepertinya. Yep. Deritaku sebagai anak tunggal, beginilah. “Ayolah… keluargamu pasti menunggumu,” lanjutnya lagi.

Aku menunduk dalam rangkulannya. “Benarkah semuanya akan baik-baik saja?”

Kurasakan ia mengangguk. “Kupertaruhkan hidupku untuk berkata ‘ya’ Jiyoo-ssi. Percayalah,” katanya lagi. Suaranya terdengar lebih lembut, lebih dalam, dan… ya Tuhan, terima kasih telah mempertemukanku dengannya.

Aku berdiri dan ia pun berdiri. Kucoba mengatur napasku pelan. Yep. Ia benar. Aku baru saja mendapatkan keyakinan itu. Keyakinan bahwa aku harus menjalankan semua ini demi keluargaku. Ayah dan Ibu sudah melakukan semuanya untukku dan mungkin, ini pengorbanan terbesar dariku untuk membalas mereka.

Sepasang mata milik Luhan mengikuti setiap detil gerak-gerikku. Beruntung sandalku masih bisa diselamatkan, yah, seorang anak laki-laki tiba-tiba datang dengan seperangkat mainan memancingnya. Ia berlari pada kami dan menyerahkan sandalku yang masih basah. Ah. Mungkin seluruh hari ini akan berjalan dengan baik.

Jeongmal gomawo, Xi Luhan-ssi.

“Semoga berhasil,” tuturnya padaku, sebelum aku berbalik menuju arah yang berkebalikan dengannya.

Aku menunjukkan gerakan yang menyuruhnya diam di tempat. “Berikan senyummu seperti yang tadi dan aku akan merasa lebih yakin dari sekarang ini.”

Dan ia tersenyum padaku. Tuhan memberkatimu, Luhan-ssi.

***

Three weeks later

“Jiyoo-ya, aku pulang terlambat hari ini. Kau makan malamlah duluan, jangan menungguku. Arasseo?”

Jung Jiyoo mengangguk pelan, sembari membantu pria di depannya mengenakan dasi berwarna merah marun dan membetulkan kerah kemeja putihnya. Ia kemudian mengambil jas hitam dengan warna senada yang semula dihamparkannya di atas ranjang, lalu memakaikannya pada pria itu.

Yep, pria itu. Suaminya. Yang ternyata di hari yang sama Jiyoo mencoba bunuh diri, pria itu bahkan sudah ada di ruang tunggu bandara Incheon. Ia ingin kabur ke Jepang, lantaran perjodohan sepihak yang ditujukan padanya juga.

“Hati-hati, Joonmyun-ah. Jangan lupakan obat maag-mu, oke?” tutur Jiyoo, setelah mengantarkan suaminya sampai ke pintu depan.

Pria itu mengangguk, lalu tersenyum hangat padanya. “Jeongmal gomawo, Jiyoo-ya, kau sudah percaya padaku. Sungguh, aku benar-benar akan kabur ke Jepang jika ayah tidak meneleponku, mengatakan bahwa kau sendiri yang akan berlari ke Incheon dan mencegahku pergi,” katanya, meraih kedua bahu Jiyoo, “kau tahu, kan? Aku ragu sekali waktu itu. Melihatmu saja hanya sekilas dan tiba-tiba ayah mengatakan bahwa kau adalah calon istriku.”

Jiyoo terbahak. “Bahkan aku hampir bunuh diri, Joonmyun-ah,” balasnya. “Sudahlah. Itu cerita lama. Lebih baik kau berangkat. Ini hari Senin dan aku tidak ingin kau terlambat.”

“Arasseo, arasseo,” Joonmyun mengangguk, memberikan kecupan singkat di dahi Jiyoo sebelum mengacak rambutnya pelan.

“Oh, Joonmyun-ah,” panggil Jiyoo, sebelum pria itu sempat membuka pintu mobilnya. “Aku akan keluar rumah hari ini, mengunjungi seorang teman. Hubungi ponselku saja jika ada apa-apa.”

Kim Joonmyun mengacungkan ibu jarinya pada Jiyoo, sebelum masuk ke dalam mobilnya. Ia masih berdiri di sana, memastikan sampai mobil itu berbelok di sudut tikungan, sebelum masuk ke rumahnya lagi.

‘Yah, mungkin aku akan mengunjungi Luhan-ssi hari ini. Ia masih hutang cerita padaku,’ batin Jiyoo.

“Nah, pasti yang ini.”

Jung Jiyoo tengah berdiri di depan sebuah pintu kayu dengan papan putih bertuliskan angka 20, yang dicat warna merah. Matanya mencari-cari sosok bel pintu dan begitu menemukannya, ia langsung menekannya. Sesaat terdengar suara bel yang teredam, lalu suara seorang wanita.

“Ya, sebentar,” jawab seseorang dari dalam.

Untuk sesaat tidak ada suara dan sedetik kemudian, pintu kayu itu terbuka, menampilkan seorang wanita tua yang terlihat rapuh. Rambutnya sudah memutih, badannya kurus, namun Jiyoo masih menemukan kehangatan pada sepasang bola mata coklat yang menatap ramah padanya.

Wanita itu mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Jiyoo. “Aah, belum pernah lagi kediamanku didatangi seorang gadis manis. Biasanya Luhan yang akan menyambutnya,” katanya.

Jiyoo tersenyum. “Eung… namaku Jung Jiyoo,” wanita itu mengangguk, masih tersenyum padanya. Dan Jiyoo benar-benar mengenal senyuman itu, yep, sangat mirip dengan senyuman milik Xi Luhan yang ia temui tiga minggu yang lalu. “Boleh aku bertemu dengan Luhan, Nyonya?”

Dan semuanya terjadi begitu cepat. Bibir wanita itu memucat, sementara kedua matanya membelalak sempurna.

“Tidak ada yang bisa hidup hanya dengan sebuah ginjal, nak, dan Luhan adalah salah satu dari mereka,” wanita tua itu bercerita dengan nada sedih, sementara jemari kurusnya menelusuri foto seorang Xi Luhan yang begitu dikenal Jiyoo. “Ia pergi. Tiga hari setelah ia memutuskan untuk memberikan satu ginjalnya pada adiknya.”

Jiyoo berusaha keras untuk tidak meneteskan sebutir airmatapun, walaupun ia tahu hatinya begitu sakit sekarang. Matanya menatap sendu kumpulan foto Luhan yang sengaja dikeluarkan oleh wanita itu. Persis.

“Dua bulan yang lalu, nak, Luhan meninggalkan kami,” wanita itu kembali berbicara, kali ini suaranya mulai bergetar menahan tangis. “Rasanya seperti langit runtuh saat itu dan adiknya benar-benar tidak bisa pulang kemari karena tengah menghadapi ujian akhir. Tapi aku yakin Luhan tidak ingin menyusahkan adiknya. Toh, ia memberikan satu ginjalnya agar adiknya bisa melanjutkan studinya di Jepang tanpa hambatan.”

Dan Jiyoo harus tersentak dua kali. Pertama, berita kepergian Luhan dan sekarang? Ia menerima kenyataan bahwa pemuda yang ditemuinya tiga minggu lalu di danau buatan itu sudah meninggal sejak dua bulan yang lalu? Cerita  macam apa lagi yang telah Tuhan persiapkan untuknya?

Wanita tua itu mulai menangis dalam diam dan Jiyoo mau tidak mau membiarkan buliran airmata itu jatuh menuruni kedua pipinya. Ini. Jadi inikah yang dimaksud Xi Luhan untuk menyuruh Jiyoo datang ke apartemennya dan ia akan menceritakan semuanya. Jiyoo diam-diam merutuk Luhan dalam hati.

‘Jangan bilang kau yang akan menceritakannya padaku jika akhirnya begini, Luhan-ssi. Kau jahat,’ batin Jiyoo. Hatinya benar-benar sakit sekarang. Tiga jam yang lalu, ia sudah merencanakan segalanya. Ia akan mengajak pemuda itu makan di luar, menceritakan bagaimana pernikahannya berlangsung, dan akhirnya ia akan menagih janjinya, bahwa pemuda itu akan menceritakan bagiannya.

Yeah, namun nyatanya, bukan seorang Luhan sendiri yang menceritakannya.

‘Bahkan aku masih merindukan senyummu yang seolah selalu mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Kenapa aku harus bertemu denganmu melalui cara begini, Luhan-ssi?’

***

Jung Jiyoo’s POV

Aku tidak tahu apa yang membuatku menyeret kakiku untuk kembali datang ke danau buatan yang terletak di dekat taman kota sore ini. Sudah seharian aku berdiam di kafe, setelah kepulanganku dari apartemen Luhan. Seingatku, ada sekitar 3 cangkir kopi yang kuhabiskan di sana.

Suasananya masih sama seperti dengan 3 minggu lalu aku mencoba untuk bunuh diri di sini, yah, bedanya hanya hari ini sudah sore dan waktu itu kejadiannya terjadi di pagi hari. Kejadian itu. Pertemuanku dengan Luhan-ssi, sesi berkenalan itu, dan akhirnya kuceritakan seluruh masalahku padanya. Lalu ia tersenyum padaku, mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

Ia bilang aku bisa mengunjungi apartemennya, karena ia akan menceritakan bagiannya. Namun, yah, aku tidak tahu apakah 3 minggu yang lalu aku berhalusinasi atau tidak, karena pada kenyataannya, Luhan-ssi sudah meninggalkan dunia ini sejak 2 bulan yang lalu.

Tuhan mungkin menghukumku dengan cara begini gegara aku sering menghabiskan waktuku dengan menonton film horor, eh?

Aku membawa tubuhku mendekati pagar besi hitam yang dulu kugunakan untuk tempat berpijakku. Matahari sudah mulai mendekati peraduannya dan aku sangat menikmati cahaya merahnya yang mengiringi senja. Indah. Mungkin aku harus mengajak Joonmyun-oppa kesini sekali-sekali. Ia harus kupisahkan dari pekerjaannya sejenak. Wajahnya kadang terlihat lelah ketika pulang.

Angin semilir meniup wajahku, melambaikan rambutku yang sengaja memang kubiarkan tergerai. Lagi-lagi disini sangat sepi. Hanya bagian taman kota saja yang terlihat ramai.

Aku akan sangat berterima kasih pada Tuhan jika saat ini Dia mengirim Luhan padaku lagi. Hanya sekali ini saja untuk bertemu dengannya. Eung… bukan karena aku ingin menceritakan masalahku padanya, sih, aku hanya ingin menceritakan apa yang terjadi ketika hari pernikahanku kemarin. Ia harus mendengarnya, karena ia termasuk salah satu pihak yang sudah meyakinkanku.

Dan satu lagi… aku ingin melihat senyumnya. Ia harus tersenyum padaku, mengatakan semuanya akan baik-baik saja, bahkan dengan kepergiannya itu. Ia memang seorang pemuda asing yang kutemui secara sangat-sangat kebetulan, namun, yah, aku bersyukur karena aku sempat mengenalnya, bahkan berkeluh-kesah padanya.

Ia pasti seseorang yang sangat baik hati. Tuhan memberkatimu, Xi Luhan-ssi. Jeongmal gomawo.

Drrt. Drrt.

Joonmyun-oppa calling.

“Halo?”

“Jiyoo-ya, kau mau kubawakan apa? Meeting hari ini ditunda, jadi aku bisa pulang seperti biasa, yah telat setengah jam sih. Aku akan membelikan makan malam untuk kita, arasseo? Jadi, jangan memasak, ya.”

Aku tersenyum pada diriku. “Pulanglah dulu, lalu kita makan di luar, bagaimana? Sudah lama aku tidak jalan-jalan. Yah itupun kalau kau tidak lelah.”

“Mwo? Benarkah? Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan di luar. Baiklah, baiklah. Tunggu aku di rumah, ya. Annyeong, yeobo. Saranghae.”

“Nado, oppa,” jawabku, sembari tertawa pelan. Ia selalu menunjukkan perasaannya dengan cara yang tidak diduga. Ah. Perkataan Luhan-ssi waktu itu benar. Diriku sendirilah yang harus membentuk keyakinanku. Perkataan yang cukup bijak.

Sementara matahari mulai tenggelam, aku masih menggenggam pagar besi hitam ini. Biarlah. Kutunggu sampai mataharinya benar-benar menghilang, lalu aku akan pulang.

Fin

6 thoughts on “[FREELANCE] Runaway Bride

  1. aaa kerennnnnn kuberi semua jempol yang kupunya kepadamu thorrrr~~~ feelnya ceitanya semuanya kerennnn!!! bikin ff yg banyak yah thorrr!!:***

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s