[FREELANCE] Light & Dark

Title : Light & Dark

Author : Shane

Main Cast : Kim Joonmyun (Suho) dan Choi Hana (Hana)

Support Cast : Shin, dokter Kang, etc;

Genre : Fantasy, Romance

Length : Oneshoot

Rating : PG-15

Disclaimer : Plot is mine, i mean MINE. It’s pure from my imagination. Jadi, mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau tokohnya. No plagiarism and bash please. I do not own Suho but Hana and Shin are mine😀

Note : Pernah dipublish disini dan blog pribadi. Thanks untuk  admin yang sudah mempublish ff nista ini /bow. Ada beberapa yang diedit namun tidak mengubah jalan ceritanya, hehe. Perhatikan pergantian sudut pandangnya, ya! Ini penting, karena untuk author’s pov-nya nggak saya tulis (dalam tulisan cetak tebal maupun underline). It’s your time to thinking which one is the author’s pov ^^

I really need your comment guys, so please, give me a comment (or review if needed) /wink.

__________________

Awan dingin dan serta langit cerah menghiasi hari diawal bulan September. Musim gugur yang selalu ditunggu-tunggu semua orang, entah mengapa hari itu—awal bulan September yang seharusnya suhu udara masih naik, malah dihiasi oleh tiupan angin dingin menusuk tulang.

Joonmyun, lalu mengeratkan Jas yang ia kenakan. Angin dingin yang nakal, meniup tubuhnya dan membuatnya merasa bahwa saat itu musim dingin sedang melanda.

Haish, Chuwo! *dingin!” runtuknya menggigil.

Ia kemudian mempercepat kecepatan mobilnya. Joonmyun benci dingin, ia ingin selalu merasa hangat. Ibunya pernah bilang, jika sedang berada pada cuaca yang sangat dingin, jangan memakai baju yang bertumpuk. Menurut ibunya, itu akan membuat kita tidak terbiasa dengan dingin.

Joonmyun mengutuk dirinya yang tidak mendengar ocehan ibunya saat itu. Hingga umur ke-duapuluh satunya ini, ia masih terus-menerus tidak tahan dengan dingin.

Mau tak mau, Joonmyun menyalakan pemanas yang terdapat didalam dash Volvo-nya itu. Ia menata suhu yang ia inginkan untuk tetap hangat sampai ia kembali ke Rumah. Merasa cukup hangat, ia kembali fokus menyetir mobil.

Setelah 30 menit berlalu, rumah berpagarkan besi yang dilapisi kayu tersebut terlihat dari kaca depan mobilnya. Rumah tersebut tidak terlalu besar namun memiliki halaman yang luas. Ibunya senang berkebun dan ayahnya adalah seorang arsitek yang cerdas untuk mendesain rumah mereka.

Mobil Volvo keluaran lama tersebut telah terparkir rapih didalam Garasi. Joonmyun, lalu dengan segera memasuki rumahnya.

“Aku pulang,” ucapnya gembira.

Oh, wasseo! *kau (sudah) datang!” pekik ibunya di Ruang TV. Joonmyun menoleh lalu tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang berada didekat dapur.

Tidur juga salah satu kegemaran Joonmyun. Setelah merasa dingin, rasa kantuklah yang akan menyerangnya. Ia harus tidur atau sebuah rasa pening yang akan ia dapatkan beberapa jam setelah ia merasakan kantuk.

Setelah meneguk sebotol air mineral, ia langsung merebahkan dirinya diranjang. Merasakan hangatnya ranjang tersebut dan menghirup udara kamar yang terasa menyenangkan baginya sendiri.

Ia—entah mengapa, rasa kantuk tersebut semakin lebih dan akhirnya Joonmyun tertidur.

Langit di Seoul kala itu tidak bisa terlihat jelas. Tidak seperti hari-hari lain dimana banyak bintang bertebaran dan sebuah Bulan yang jadi pelengkap langit malam di Seoul. Hari diawal bulan September kali ini memang benar-benar aneh.

Hawa dingin semakin menjadi—hingga beberapa orang yang memiliki ondol (pemanas) dirumah mereka, terpaksa menyalakannya. Begitu juga di Rumah Joonmyun, ibunya sangat suka sesuatu hal yang terbilang tradisional. Lalu ayahnya membuatkan rumah modern yang juga tersedia ondol dibawahnya.

Malam itu seluruh warga Seoul merasa dingin yang tidak biasa. Dingin yang lebih dingin daripada rasa dingin yang terbiasa mereka rasakan. Rasa dingin yang menembus kulit, menusuk tulang.

Mereka tidur dalam balutan selimut tebal.

Ke-esokkan paginya, ibu Joonmyun hendak membangunkan anak lelakinya tersebut. Joonmyun bukan orang yang pemalas. Pemuda tersebut pasti bisa bangun pagi —bahkan terkadang ia bangun lebih pagi daripada orangtuanya sendiri. Namun pagi ini berbeda, ia tidak bangun dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.

“Joonmyun-ieireona ppali! *cepat bangun!” seru ibunya.

Joonmyun tidak menjawab.

“Ayolah! Kau tidak biasanya seperti ini, ppalliwa!”

Joonmyun tidak merespon.

“Kim Joonmyun, eomma tidak sedang bercanda.”

Joonmyun tetap dalam posisinya, tidak berubah sama sekali. Tidak menjawab serta tidak merespon apapun yang dikatakan ibunya.

Sepersekian detik kemudian ibunya berteriak,  tersadar bahwa Joonmyun tidak sedang tertidur.

***

“Ia koma,” jelas dokter tersebut. Sorot matanya sendu, seperti tahu perasaan ibu Joonmyun kala itu.

Ibu Joonmyun menggelengkan kepalanya, tidak terima. “Bagaimana bisa ia koma—bahkan sebelum tidur, ia masih sempat tersenyum padaku! Uisaseongsaenim bisakah kau memperjelas semua ini?!”

“Kejadian seperti ini memang langka terjadi didunia. Kabar baiknya ia bisa terbangun tetapi dengan rentan waktu yang tidak bisa kita tentukan dan kabar buruknya, ia tidak bisa bangun kembali,” jelas sang dokter perlahan. “Saya akan berusaha semampu saya agar ia bisa bangun kembali.”

Wanita paruh baya itu menangis. Ia menangis dipelukkan suaminya, tidak bisa menerima apa yang terjadi dengan anak semata wayangnya. Suaminya angkat bicara, “Baiklah, kami mohon bantuannya.”

Semenjak itu Joonmyun dirawat di Samsung Medical Center. Perawatan demi perawatan telah diberikan padanya, namun tidak ada reaksi yang ditunjukkan oleh Joonmyun sendiri. Ia masih dengan posisinya, tertidur.

Para dokter silih berganti memberikan tanggapan negatif tentang keselamatan Joonmyun. Mereka tidak beranggapan bahwa Joonmyun akan terbangun kembali, karena jarang ditemukan beberapa orang yang selamat dalam kasus tersebut. Dokter yang menangani Joonmyun tidak menyerah, ia masih terus-menerus meneliti akan hal tersebut. Ia yakin bahwa Joonmyun bisa terbangun kembali, secepatnya.

Ini sudah hari ke-tujuh, dan Joonmyun masih belum terbangun. Wajahnya yang tertidur memang sangat tampan. Para suster disana tak jarang tersenyum atau bahkan merona ketika melihat Joonmyun yang sedang tertidur itu. Namun mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Joonmyun.

Semua orang didunia bahkan tidak tahu apa yang sedang Joonmyun alami ketika ia sedang tertidur —koma.

“Ada seorang pasien yang juga sama seperti dengannya,” ucap dokter yang menangani Joonmyun, dokter Kang.

“Namun penyebab ia koma adalah sebuah kecelakaan, bukan tertidur,” bantah seorang dokter lain.

Dokter Kang menghela napasnya.

“Sudahlah, aku yakin ia pasti akan sembuh. Semua pasien butuh kita, kita tidak bisa hanya mengedepankan salah satu pasien,” ujar dokter berambut cokelat itu.

Ketiga dokter tersebut mengangguk setuju. Mereka lalu kembali ke Ruangan mereka masing-masing. Pikiran dokter Kang masih berada pada Joonmyun dan seorang pasien yang juga mengidap koma.

Joonmyun’s point of view

Cahaya putih yang menyilaukan mataku. Aku —mataku tidak sanggup untuk melihatnya sehingga aku lebih memilih untuk terpejam. Cahaya itu seakan menyuruhku untuk tidak melihat apa-apa, seakan menyuruhku untuk tidak bertanya.

Aku tidak ingat namaku.

Aroma rosemary yang tercium di Ruangan ini begitu menggodaku untuk tidur lebih jauh lagi, namun tubuhku menolak. Aku masih memejamkan mataku lalu terbangun dan duduk diranjang —yang kukira ini bukan ranjang yang selalu aku gunakan untuk tidur.

“Kau sudah bangun?” suara seorang yeoja mengusikku.

Siapa dia?

Kenapa dia berada disini?

Aku membuka mataku perlahan. Cahaya tersebut meredup dan lama-kelamaan menghilang. Aku melihat sebuah ruangan dan seorang yeoja tepat berada dihadapanku.

Gadis itu berambut ikal sebahu dengan warna cokelat ke-merahan. Matanya tidak terlalu sipit dan anehnya ia memakai dress berwarna putih gading dan dikepalanya terhiasi sebuah bandana yang melingkar dengan aksen bunga yang terhias disana. Gadis ini aneh.

“Hai,” sapa gadis itu.

Nuguseyo?”

“Aku? Aku tidak ingat, tapi aku ingat kalau namaku Hana.”

Aku mengernyit mendengar jawabannya, dan tiba-tiba kepalaku terasa pening—aku mengingat namaku, Suho.

Kenapa namaku Suho?

“Apa kau ingat namamu?” tanya gadis bernama Hana tersebut.

“Suho—sepertinya namaku adalah Suho.”

Guardian!” pekik gadis tersebut senang. “Nama yang bagus.”

Hana, lalu berjalan meninggalkanku. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan dan tubuhku seakan ingin tahu apa yang yeoja itu ingin lakukan sehingga aku berjalan mengikutinya. Ternyata ia ke Dapur, gumamku dalam hati.

Sepersekian detik aku mencium aroma masakan yang familier. “Kau sedang memasak?”

Hana tersenyum. “Iya, ini untukmu.”

Ia menuang bubur itu kedalam sebuah mangkuk yang juga berwarna putih. Setelah itu ia taburkan beberapa potongan daun bawang dan ia menaburkan bubuk lada ditasnya seperti topping.

Hana kemudian meletakkan semangkuk bubur itu disebuah meja makan. Ia menepuk jidatnya, lalu segera kembali kesebuah lemari dan mengambil sebuah sendok —dan memberikannya padaku.

Hana memegang bahuku, mendorongku untuk duduk dikursi meja makan tersebut. “Manhi deuseyo! *Makanlah yang banyak!”

Tanpa banyak kata lagi, aku langsung memakan bubur itu. Rasanya sangat enak dan buburnya juga sangat lembut —seolah aku pernah memakannya— juga aku mengingat beberapa hal tentang bubur. Apa ini semacam dejavu?

Setelah merasa cukup, Aku meminum segelas air mineral yang juga disediakan oleh Hana. Airnya sangat segar dengan suhu yang didinginkan diruangan bukan didinginkan oleh lemari es. Lagi-lagi aku merasa seperti pernah minum air ini.

Hana menghilang.

“Hana-ssi,” panggilku namun tidak ada jawaban.

Aku berjalan mencarinya, mencari sosok gadis dengan rambut cokelat ke-merahan itu diantara ruangan yang rata-rata terbuat dari kayu. Aku tidak menemukannya dimanapun, dan aku akhirnya sampai pada—yang sepertinya—pintu keluar. Pintu yang juga terbuat dari kayu itu kutarik hinga mengeluarkan suara decitan yang berisik. Aku menariknya perlahan.

Aku tetap berjalan meskipun tanpa alas kaki. Tanah ini bahkan tidak membuat kakiku sakit, aku berjalan hingga menemukan keanehan yang tertangkap oleh mataku sendiri. Tempat yang kupijak bukanlah bumi.

Pohon besar yang rindang itu—aku melihat Hana disana. Ia sedang duduk dan tertawa seperti sedang bercanda dengan seseorang, namun aku tidak menemukan seorang selain dirinya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku.

Hana menepuk-nepuk rerumputan disampingnya, “Anja, *duduklah”

Akupun duduk dan sepersekian detik aku merasakan ketenangan dan rasa sejuk yang entah datang darimana. Semua itu membuat diriku tenang.

“Shin!” Hana menoleh padaku. “Namanya Suho.”

Jeongmalyo?

Sebuah makhluk kecil yang aneh dengan sebuah sayap dibelakang tubuhnya muncul dihadapanku. Aku yakin bahwa ialah yang bernama Shin dan ia seorang namja. Rambutnya blonde gelap dan kulitnya memerah.

“Kau tampan juga ya!” seru makhluk bernama Shin itu.

Aku mengernyit, “Apa kau seorang liliput?”

“Bukan!” Shin melipat tangannya didepan dada. “Aku Fairy!”

Hana tertawa melihat kami—yang sepertinya tidak akan akur. Ia kembali menyandarkan kepalanya kepohon yang besar ini, lalu matanya terpejam seakan sedang merasakan sebuah ketenangan yang menyenangkan.

.

.

.

“Selamat datang di Light Avenue!” Shin tersenyum puas.

“Apa itu Light Avenue?”

“Tempat yang sedang kau pijak ini bernama Light Avenue,” jelas Shin. “Kau lihat hutan yang disana? Setelah hutan itu adalah tempat yang bernama Dark Avenue.”

Joonmyun menganggukkan kepalanya, namun sebenarnya ia tidak benar-benar mengerti dengan ucapan makhluk aneh dihadapannya itu. Shin menepuk jidatnya, merasa kesal bahwa pemuda yang satu ini begitu bodoh.

Light Avenue adalah tempat yang penuh dengan kebahagian dan ketenangan, sedangnkan Dark Avenue adalah tempat yang penuh dengan kesedihan dan sangat suram!” lanjutnya. Shin terbang kebahu sebelah kanan milik Joonmyun, ia menapakkan kakinya yang sangat kecil itu disana.

Joonmyun mengangguk, “Jadi pembatas keduanya adalah sebuah Hutan?”

“Ya! Seperti itulah.”

Joonmyun menoleh kearah Hana. Gadis itu sudah tertidur pulas dengan wajah yang sangat tenang. Dress berwarna putih itu makin memperindah dirinya yang sedang tidur itu. bibir berwarna merah delima sedikit menggoda Joonmyun untuk mencobanya (read: cium).

“Hana cantik, ya…” gumam Shin sambil menghela napasnya. “Sayang sekali ia bisa masuk kesini, kau juga!”

Joonmyun tidak menghiraukan  perkataan Shin, ia lalu membopong Hana yang masih tertidur itu. Joonmyun membopong Hana seperti bridal style—Shin menggembungkan pipinya, tidak senang. “Mau kau kemana kau?”

Joonmyun berbalik. “Kerumah itu, ayo kita berbicara disana saja.”

Joonmyun membaringkan Hana diranjang yang tadi ia gunakan. Ia tidak tahu letak kamar Hana dan ia pikir bahwa itulah kamar satu-satunya yang ada disana. Joonmyun tidak melihat ruangan yang ada ranjangnya sewaktu mencari Hana tadi.

Setelah memastikan Hana cukup nyaman, Joonmyun lalu kembali ke dapur—meja makan yang berada di dapur. Shin duduk menyandar pada vas bunga yang terbuat dari keramik itu. ia menatapi Joonmyun yang wajahnya nampak santai.

“Kau tidak ingin tahu kenapa kau berada disini?” tanya Shin masih dengan posisinya.

Joonmyun menarik kursi lalu duduk diatasnya. “Justru itu aku menyuruhmu kesini karena aku ingin mengetahuinya.”

Shin melipat tangan didada. Ia adalah penghuni Dunia tak bernama ini, ia pasti tahu semua hal tentang dunia ini, tentang dimensi aneh ini—rumah yang juga aneh karena semua peralatannya terbuat dari kayu serta aroma rosemary yang tak kunjung hilang. Joonmyun ingin mengetahuinya saat itu juga.

“Dunia ini bernama Dimens—yang terletak di tengah dimensi tempat asalmu, bumi.” Kata Shin tenang. “Lalu kalau kau ingin bertanya mengapa kau bisa berada disini, jawabannya aku tidak tahu. Aku belum tahu penyebab kalian berdua bisa berada disini. Hana juga sehari yang lalu datang dari pohon besar tadi.

“Anehnya, Hana memiliki sebuah luka dibagian kakinya tapi kau tidak,” lanjutnya. Joonmyun buru-buru melihat kakinya. Benar, tidak ada luka yang terjadi sedikitpun dengan kakinya.

“Apa yang terjadi jika aku berada di Dark Avenue?” tanya Joonmyun.

Shin terbang tepat kehadapan Joonmyun. “Kemungkinannya kau akan mati setelah beberapa hari bahkan beberapa jam disana.”

Joonmyun memalingkan wajahnya. Kata-kata kematian sangat sensitif ditelinganya, dan ia mulai merasakan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa dideskipsikan per-kata, per-kalimat, dan hanya Joonmyun yang tahu bagaimana rasanya sesuatu itu.

Dan ia mengingatnya.

Hana mengerjap-ngerjapkan matanya. Aroma rosemary yang sudah seharian tercium olehnya kini tercium lagi dan membuatnya—mau tidak mau—terbangun. Dia lalu menguap karena rasa kantuk yang ia rasakan belum hilang sepenuhnya. Pandangan matanya belum jelas, semua blur.

Kepalanya terasa pening dan ia merasakan itu lagi. Merasakan hal yang sama ketika ia pertama kali kesini. Sepertinya ia akan mengingat sesuatu… lagi.

Rentetan kejadian mengerikan terlintas dipikirannya. Kejadian itu serasa mencekam, seakan bahwa Hana yang menjadi korban atas kejadian tersebut. Hana, lalu berteriak karena sebuah mobil menabraknya.

Joonmyun dan Shin yang mendengar teriakan itu langsung menuju ruangan dimana Hana berada. Hana sedang duduk meringkuh, memegangi kepalanya serta deru airmata menghiasi matanya.

“Hana, tubuhmu transparan lagi,” ujar Shin lalu terbang mendekati Hana.

Tubuh gadis itu tak henti-hentinya bergetar. Deru airmata itu tak kunjung berhenti. Tubuhnya tiba-tiba menjadi transparan beberapa detik hingga menjadi utuh lagi. Napas Hana mulai teratur.

Joonmyun memegangi kepalanya. Saat itu entah mengapa kepalanya merasakan sakit yang sangat menyakitkan. Hal-hal yang ia pikirkan —yang ia ingat kini bereaksi padanya. Kepalanya sangat pening dan napasnya tidak teratur.

Shin yang melihat dua insan manusia ini dalam keadaan tidak baik, membuatnya bingung harus melakukan apa. Akhirnya ia terbang kearah Joonmyun karena Hana sudah agak membaik. Apa manusia selalu seperti ini? tanya Shin dalam hati. Ia mendesah pelan.

Matanya membulat ketika melihat tubuh Joonmyun juga ikut transparan seperti yang terjadi pada Hana tadi. Ia mulai merasa menemukan sesuatu.

Hawa dingin menusuk menyelimuti Joonmyun dalam pikirannya. Ia mengingat bahwa sebelum ia datang ke Dunia ini, ia merasakan dingin yang ia benci. Dingin itu menyakitinya hingga akhirnya getaran tubuh Joonmyun berhenti. Tubuhnya kembali normal, tidak transparan lagi. Deru napasnya sudah kembali teratur seperti biasanya. Joonmyun menatap Hana.

Gwenchana?” tanya Hana.

Nan gwenchana.”

Shin menghela napasnya lega. Dikepalanya terlintas berbagai macam penjelasan bahkan sebuah arti dari kejadian yang ia lihat tadi. Dengan itu semua, ia merasa bahwa ia harus mengatakannya pada Joonmyun dan Hana.

“Aku rasa aku tahu apa yang terjadi dengan kalian.” ujar Shin cepat.

Hana mengernyit. “Maksudmu?”

Well, kalian seperti itu mungkin mengingat kejadian yang mengerikan yang kalian alami di Bumi sebelum datang kesini.” jelas Shin. “Saat kau mengingat namamu, tubuhmu juga menjadi transparan Hana! Look! Bahkan pemuda itu sama sepertimu, ia juga menjadi transparan!”

Joonmyun menatap tubuhnya satu-persatu. Ia sudah kembali normal.

“Tapi saat ia mengingat namanya, ia tidak menjadi transparan, Shin.” Hana menyeka airmatanya.

“Mungkin ada kesalahan. Apapun itu, aku yakin bahwa ada kesalahan saat kau mengingat namamu.”

Joonmyun menatap keduanya satu-persatu. “Aku tidak tahu.”

Shin tidak menghiraukan Joonmyun, ia malah terbang menuju ranjang dan duduk ditepian ranjang. Shin menatap kedua insan itu dengan tatapan sedih. Ia lalu menghela napasnya.

“Aku yakin cara untuk keluar dari dunia ini adalah dengan mengingatnya. Tubuh kalian menjadi transparan, mungkin karena jiwa kalian sedang menggantung antara bumi dan dimens.” kata Shin. Sorot matanya mulai terlihat serius.

“Mungkin.”

Sementara di Rumah sakit Samsung Medical Center, tempat dimana Joonmyun sedang dirawat—dokter Kang sedang memeriksa Joonmyun untuk kesekian kalinya. Ia memeriksa denyut nadi dan jantung Joonmyun.

Dokter Kang tidak henti-hentinya menghela napasnya lega ketika melihat suatu hal terjadi pada Joonmyun.

Saat itu pertama kalinya dalam sebulan, tangan Joonmyun bergerak.

***

Ke-esokkan harinya, Hana berniat untuk berjalan-jalan disekitar. Hamparan rerumputan hijau sangat menggodanya untuk berjalan-jalan, menikmati keindahan yang terpancar dari tempat tersebut.

Hana melihat seekor Kuda berwarna putih dibawah pohon besar tersebut. Tanpa rasa takut, ia menghampiri kuda tersebut dan mengelus-elusnya. Kuda ini jinak sekali, pekiknya dalam hati. Ia ingin berjalan-jalan sambil mengendarai kuda tersebut, namun ia tidak tahu cara untuk mengendarainya.

Hana kembali kedalam rumah, mencari-cari sesosok pemuda yang ia kenal kemarin. Setelah menemukkannya ia henti-hentinya tersenyum karena senang.

“Suho, apa kau bisa mengendarai kuda?” tanya Hana excited.

“Sepertinya aku bisa,” jawab Joonmyun. “Ada apa?”

“Ikut aku keluar dan kau akan mengetahuinya!”

Hana menarik tangan Joonmyun dan mereka berdua berlari hingga akhirnya sampai ketempat yang Hana maksud. Kuda tersebut masih disana, ia masih memakan rerumputan. Hana tersenyum lagi.

“Ayo kita berjalan-jalan sambil mengendarai kuda!”

Joonmyun berjalan mengitari kuda. Mengelus-elus kuda tersebut se-akan ingin memahami apa yang kuda itu rasakan. Setelah merasa sudah ada chemistry dengan kuda tersebut, Joonmyun menyuruh Hana untuk naik keatas kuda tersebut terlebih dahulu.

“Maaf, bisa tolong bantu aku?” tanya Hana. Kuda tersebut susah untuk dinaiki oleh Hana karena tubuhnya yang mungil.

Joonmyun membantunya dan Hana berhasil menaikinya.

Joonmyun, lalu naik keatas kuda tersebut. Tubuhnya sangat dekat dengan Hana saat itu dan entah mengapa degupan jantungnya menjadi lebih aktif dibanding biasanya. Tangannya mau tidak mau harus melingkari tubuh Hana dan itu membuat degupan jantungnya lebih aktif lagi.

Joonmyun berdeham, “Maaf.”

Ia lalu mulai mengendarai kuda. Mereka berkeliling savana yang sangat luas itu diiringi dengan tawa dari mereka masing-masing. Hana saat itu merasakan sebuah kebahagian yang tidak biasa ia rasakan.

Setelah merasa cukup, Joonmyun memberhentikan kudanya disebuah tempat yang ia juga tidak tahu dimana itu. Sepertinya mereka berjalan cukup jauh saat itu dan Joonmyun mulai merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan.

“Kita istirahat sebentar,” kata Joonmyun.

Ne.”

Joonmyun turun dari atas kuda tersebut. Disusul oleh Hana yang masih saja kesulitan untuk turun. “Maaf, tolong bantu aku sekali lagi.”

Joonmyun melebarkan tangannya, siap untuk menangkap Hana yang hendak turun. Hana karena terlalu terburu-buru sehingga kakinya mau tidak mau tersangkut dan akhirnya mereka berdua jatuh.

Tubuh Hana menimpa tubuh Joonmyun. Posisi yang sangat tidak mengenakkan bagi mereka berdua—lalu Hana segera bangun dari posisi tersebut. Ia membungkuk, “Maaf!”

“Tidak apa-apa.” Joonmyun berdiri, merapikan bajunya. “Maafkan aku juga tidak membantumu dengan baik.”

Tanpa sadar pipi Hana terhiasi oleh semburat merah. Hana yang menyadari pipinya memanas langsung mengalihkan keadaan yang terjadi disana. Saat itu, ia dan Joonmyun langsung jadi kikuk.

“Ah! Ada kelinci!” pekiknya mengalihkan.

Hana lalu berlari mengejar kelinci tersebut. Ia berlari mengikuti kelinci itu kemanapun kelinci itu pergi. Kelinci berwarna putih dengan mata merah itu sangat lucu dimata Hana, walaupun Hana tidak akan tahu kemana kelinci tersebut membawa Hana.

Joonmyun duduk disamping kuda berwarna cokelat sambil memegangi dadanya. Saat melihat Hana tadi, jantungnya seakan ingin lepas dari empu-nya. Ia merasa bahwa saat itu semua jadi aneh. Apa yang terjadi denganku? Tanyanya dalam hati.

Kepakan sayap Shin terdengar ditelinganya. Tak lama kemudian sesosok Fairy itu datang dengan penampilan biasanya. Rambutnya tetap berwarna blonde gelap dan matanya berwarna hitam pekat. Joonmyun baru menyadari hal itu.

“Aku mencari kalian! Kemana saja kalian, huh?” bentak Shin.

“Kami hanya berjalan-jalan.”

Shin mengernyit. “Dimana Hana?”

Joonmyun menoleh disekitarnya. Tadi ia masih melihat Hana berlarian disekitar sana, namun sekarang tidak ada seakan lenyap ditelan oleh padang savana ini. Matanya membulat ketika sebuah hutan yang familiar dikepalanya itu terpampang jelas diujung.

Shit!” teriaknya kesal lalu ia mulai berlari.

“Apa yang terjadi?!” Shin mulai terbang mengikuti Joonmyun.

“Hana masuk kedalam Hutan!”

@ Samsung Medical Center

Seorang suster berlari tak karuan sambil memegang sebuah papan berisikan kertas-kertas informasi pasiennya dengan kokoh. Ia menuju ruangan sebuah dokter—membuka pintunya sedikit kasar lalu membungkuk.

“Pasien korban kecelakaan itu bereaksi lagi!” seru suster tersebut.

Dokter Kang berlari menuju ruangan dimana pasien tersebut berada. Ia melihat bahwa tangan pasien tersebut bergetar hebat dan Elektrokardiograf (Alat pendeteksi jantung)  itu mulai menunjukkan ketidak stabilannya kondisi jantung sang pasien.

“Apa yang terjadi padanya?” tanya dokter Kang panik.

“Saat kuperiksa denyut nadinya, tangannya mulai bergerak hingga bergetar hebat seperti sekarang ini. Uisa-seongsaenim, kurasa ia mulai pada batas akhirnya.”

“Cepat panggilkan beberapa tim medis kesini!”

Dimens

Joonmyun terus berlari hingga ia menemukan sebuah hutan tepat dimatanya. Kilatan bayangan putih terlihat tidak jauh dari tempatnya, dan itu pasti Hana, pikirnya dalam hati. Tanpa ragu lagi ia berlari masuk kedalam hutan gelap tersebut.

Shin—walaupun sedikit ragu—tetap mengikutinya dari belakang. Shin terbang secepat yang ia bisa. Tubuhnya tidak menolak untuk membantu kedua manusia yang baru ia kenal dua hari yang lalu. Shin tidak pernah masuk—bahkan tidak pernah ingin berjalan ditepian hutan. Selain mengerikan, hutan tersebut memancarkan aura mematikan yang membuat bulu kuduk Shin selalu berdiri ketika melihatnya.

“Suho!” teriak Shin.

Joonmyun tidak menghentikan langkahnya. Ia terus berlari berdasarkan insting yang ia punya. Ia yakin dan pasti, ia akan menemukan Hana.

Setelah beberapa menit, Ia menemukkan sosok itu. Sosok seorang gadis yang tengah bersandar lemah pada sebuah pohon tua. Baju putihnya mulai memudar, bahkan terdapat banyak noda kehitaman pada baju tersebut.

Napas dari gadis itu tak karuan. Tubuhnya mengeluarkan peluh sebesar biji jagung yang tak kunjung berhenti.

“HANA!!!!!” teriak Joonmyun lalu menghampiri gadis tersebut.

Mata gadis tersebut terpejam, tubuh gadis itu juga tidak menandakan bahwa ia masih kuat untuk sekedar bangun. Hana sudah benar-benar lemah. Tiba-tiba tubuhnya menjadi transparan.

“Apa yang terjadi padanya?!”

Shin menatap keduanya panik. “Mungkin ia akan segera kembali ke Bumi!”

“Tidak!” Joonmyun menatap kaki Hana. “Kakinya terluka.”

“Kalau begitu ayo cepat bawa dia ketempat yang aman! Disini mengerikan!” teriak Shin.

Joonmyun mengangguk lalu segera membopong Hana yang lemah itu keluar dari Hutan. Ia kemudian berlari menghampiri kuda yang ia naiki tadi lalu secepat mungkin menuju rumah—tidak tujuan Joonmyun bukanlah rumah, melainkan pohon besar yang berdiri kokoh tak jauh dari rumah kayu tersebut.

Ia turun dari kudanya, lalu membopong Hana menuju Pohon tersebut. Shin yang melihat kejadian tersebut bingung dengan apa yang dilakukan Joonmyun saat itu. Ia menapakkan kakinya dibahu Joonmyun.

“Hei,” bisik Shin. “Apa yang ingin kau lakukan?”

Joonmyun tak menjawab.

Tubuh Hana masih didalam pelukkan Joonmyun. Tubuh itu lama kelamaan menjadi transparan dan semakin tak terlihat apalagi adanya cahaya—yang entah datang darimana—yang menyinari tubuhnya.

Tanpa sadar, setetes airmata turun dari sudut matanya. Joonmyun mengetahui itu, namun sayang ia bahkan tak bisa menyeka airmata yang berkilau itu karena tubuh Hana yang semakin lama semakin tak terlihat.

Sebelum semuanya benar-benar hilang, Joonmyun—perlahan—mendekatkan wajahnya kewajah Hana. Bibirnya menyapu bibir berwarna merah delima itu dengan lembut,

Dan cahaya yang datang itu semakin bersinar.

@ Samsung Medical Center

Orang tua dari pasien tersebut kini sedang berada diruang tunggu. Wanita paruh baya atau ibu dari pasien tersebut terus-menerus melafalkan do’anya kepada Sang Pencipta agar anaknya diberi kesembuhan.

Dokter Kang yang juga merawat pasien tersebut sekarang sedang melakukan yang terbaik untuk pasien yang ia tangani. Tubuh pasien tersebut masih berguncang hebat hingga suara dentingan yang muncul dari alat Elektrokardiograf dan mulai menggambarkan garis lurus.

Flat Line,” ujar salah seorang tim medis.

“Kita gunakan Cardioversion (Alat kejut jantung)!” seru dokter Kang.

Para tim medis mulai menyiapkannya. Raut wajah mereka panik dan bulir-bulir peluh tak henti-hentinya keluar dari pori-pori kulit mereka, terlebih dokter Kang yang selama satu bulan ini sudah menangani pasien tersebut dengan sangat serius.

“Satu… dua… tiga.”

Alat tersebut ditempelkan kedinding dada pasien itu namun tidak ada respon. Garis-garis yang ditunjukkan oleh Elektrokardiograf masih berbentuk garis lurus diiringi suara denging yang keras.

“Sekali lagi! Satu… dua… tiga.”

Setetes airmata turun dari sudut mata pasien tersebut dan memperjelas semuanya. Mesin Elektrokardiograf menunjukkan reaksi. Jantung pasien tersebut mulai berdetak walaupun lemah. Pasien tersebut terselamatkan.

Para tim medis tak henti-hentinya mengucapkan syukur dan menghela napas lega. Pasien tersebut telah berhasil melewati masa-masa kritisnya selama ini. Ia koma selama satu bulan dan sekarang sudah terbebas dari masa kritis.

Dokter Kang keluar dari ruangan tersebut dan perlahan melepas maskernya. Ia berjalan menuju ruang tunggu dimana keluarga pasien tersebut sedang cemas menunggu salah satu keluarga mereka yang sedang kritis.

UisaSeongsaenim!” pekik sang Ibu.

“Semua baik-baik saja.” Dokter Kang tersenyum. “Anak ibu terselamatkan.”

Senyum bahagia tersungging dibibir wanita paruh baya tersebut. Begitu juga dengan pria disampingnya dan seorang wanita umur 25-an itu. Ketiganya terlihat sangat bahagia dan bersyukur karena salah satu keluarga mereka telah terselamatkan.

“Pasien Choi Hana, adalah gadis yang sangat kuat. Saya mendapat kehormatan bisa menanganinya,” papar Dokter Kang. “Saya permisi dahulu.”

Hana’s point of view

Sudah seminggu setelah aku melewati masa kritisku. Aku sudah sadar dan normal kembali walaupun Dokter Kang bilang aku masih harus rawat inap untuk pemulihan kakiku yang cedera.

Aku sudah mengingat semuanya. Namaku Choi Hana dan aku bisa berada di Rumah Sakit ini karena kecelakaan yang terjadi padaku. Dan kakiku menjadi korbannya. Aku harus memakai kursi roda untuk sementara karena kakiku masih belum bisa dibilang sembuh sepenuhnya.

Ketika di Dimens, aku seperti orang bodoh yang hanya mengetahui bahwa diriku bernama Hana. Aku hidup sendirian di Rumah penuh dengan perabotan yang terbuat dari kayu serta aroma rosemary yang tak pernah hilang. Aku masih ingat dengan Shin dan pemuda yang kukira seumuran denganku walaupun lebih tinggi, Suho.

Suho pemuda yang juga sama sepertiku, saat tiba di Dimens, ia juga hanya mengingat namanya selain itu ia tidak tahu apa-apa lagi. Ia datang dengan rambut hitam serta kulitnya yang bahkan lebih putih daripada diriku. Aku mengakuinya.

Dan ciuman itu, aku tidak pernah melupakannya…

“Hana-ssi,” panggil suster yang sedari tadi mendorong kursi rodaku.

Aku menoleh kebelakang. “Ne?”

“Maaf, aku nanti akan ke Kamar pasien yang lain. Kau ingin ikut atau kembali ke Kamarmu?”

Aku bosan berada di Kamar yang aromanya tidak pernah berubah. Kamar yang didominasi warna putih serta semuanya serba steril. Setelah berpikir sebentar, aku setuju untuk ikut dengannya, “Aku ikut denganmu saja.”

Suster bermata sipit ini langsung membawaku ketujuannya. Suster itu bilang, bahwa pasien tersebut wajahnya sangat tampan karena setiap hari ia hanya tertidur. Ia tidak pernah terbangun selama satu bulan lamanya. Saat mengatakan itu, sang suster hanya menghela napasnya sayang.

Karena penasaran dengan wajah pasien tersebut, akupun mencoba mendekat kearah suster tersebut dan betapa terkejutnya aku saat melihat wajah dari pasien tersebut. Ia adalah Suho yang selama ini selalu kucari! Aku menahan teriakkan ku dan menutup mulutku dengan kedua tangan. Aku menatapi wajah namja itu sedih.

“Apa ia bernama Suho?” tanyaku takut pada suster tersebut.

“Bukan,” Suster itu mengernyit. “Namanya Kim Joonmyun.”

“Apa kau yakin?”

Keureom! Semua data-nya ada padaku.”

Aku menghela napasku kecewa. Wajahnya begitu mirip tapi kenapa ia bukanlah Suho? Semuanya yang kulihat benar-benar sama pada dirinya. Mungkin memang bukan takdirnya aku dan Suho untuk bertemu.

Mungkin.

“Aku sudah selesai. Ayo, kita kembali ke Kamarmu,” ajak suster itu dan aku mengangguk setuju.

***

Setiap hari aku melakukan terapi untuk pemulihan kakiku. Seperti biasa, aku melakukannya setiap pagi dan sebelum melakukannya aku harus berjemur ditaman yang disediakan oleh Rumah Sakit ini.

Kali ini aku tidak ditemani oleh suster. Aku ingin mencoba menggunakan kursi rodaku sendiri, lagipula aku sudah tahu penggunaannya—untuk apa suster itu membantuku? Ia hanya akan membuang waktunya dan aku yang akan merasa bersalah atas itu. Menaiki kursi roda adalah yang kedua kalinya untukku. Untuk yang pertama kali, saat itu aku terjatuh dari tangga dan harus menggunakan kursi roda. Dan sekarang ini aku mengalami kecelakaan, ini bahkan lebih mengerikan daripada jatuh dari tangga.

Ini sudah ke-lima kalinya kakiku diterapi. Yah, kalau dihitung memang lebih dari satu namun kenapa kaki ini tidak kunjung sembuh?

Dan namja itu juga mengapa tak kunjung bangun?

Jujur saja, setelah beberapa jam melakukan terapi, aku akan mengunjungi kamarnya dan melihat wajahnya yang tertidur dengan tenang. Wajahnya memang sedikit pucat namun tetap saja ketampanannya tak berkurang.

Namanya benar-benar Kim Joonmyun, bukan Suho—bahkan aku sudah sering bertemu ibunya saat aku mengunjungi ibunya. Ibunya sering bercerita tentang namja bernama Joonmyun itu dan tak jarang menitikkan airmata saat bercerita.

Akupun begitu, aku juga menceritakan bahwa aku juga sempat koma. Ia hanya bertanya bagaimana rasanya koma dan aku menjawab, aku tidak tahu.

Aku merindukan Shin. Sosoknya yang kecil dan juga lucu mengingatkanku pada anak-anak kecil yang sering kulihat disekitar Rumah Sakit ini. Bedanya, Shin memiliki sayap dan warna kulitnya memerah serta banyak bintik-bintik disekitar hidungnya. Ia lucu dan dalam satu kondisi bisa sangat menyebalkan, benar-benar mirip anak kecil.

Kamar pasien milik Joonmyun sangat nyaman. Ibunya selalu meletakkan bunga lily putih di-vas bunga yang disediakan dan sangat teratur merawat serta menggantinya jika bunga tersebut sudah agak layu.

“Hana-ya!” teriak Hara, kakak perempuanku dari balik pintu.

Umurnya sudah menginjak 26 tahun beberapa hari yang lalu. Ia sudah menikah juga sudah memiliki seorang anak lelaki. Hidupnya sangat indah menurutku —suaminya sangat menyayanginya dan mereka berdua menyayangi anaknya.

Aku sangat sedih ketika Hara Eonni harus meninggalkan kami —aku dan orangtuaku— karena ia akan tinggal dirumah Suaminya. Dia adalah kakak terbaik didalam hidupku.

“Bagaimana dengan kakimu, eo?” tanya Hara Eonni lalu mengambil sebuah kursi dan duduk disamping ranjangku.

“Semakin membaik namun aku masih sulit berjalan, Aigoo bahkan aku harus menggunakan kursi roda setiap hari—aw!”

Hara Eonni memukul kepalaku. Ia lalu tertawa seperti tak ada rasa bersalah sedikitpun, namun lama-kelamaan tawanya menjadi sebuah isakkan. Sebuah tangis yang aku sendiri tidak mengerti apa sebabnya. Eonni memelukku erat.

“Jangan bertindak bodoh lagi Hana-ya, kau tidak tahu semua orang mengkhawatirkanmu hah?!” teriak Hara Eonni.

Keokjeongma. *jangan khawatir” Aku tersenyum, membalas pelukkannya. “Aku tidak akan lagi membuat kalian semua khawatir. Yaksokhae! *aku janji”

Pabo!”

Hara Eonni tertawa sambil menyeka matanya. Aku memang sering membuat orang cemas, dan aku yakini sekarang tidak akan lagi—atau secepatnya tidak akan lagi. Aku akan lebih berhati-hati jika melakukan sesuatu, tidak akan ceroboh lagi.

Hara Eonni lalu mengupaskan sebuah apel berwarna merah itu. Ia mengupasnya dengan sangat telaten. Aku sangat beruntung semua anak Eomma adalah anak-anak yang pintar memasak termasuk aku. Aku sangat suka memasak walaupun terkadang membuat tanganku terluka namun ada kesenangan tersendiri yang tak bisa kudeskpirsikan secara harfiah.

Tok… tok… tok…

Pintu tersebut terketuk dari luar. Ketukan pintu itu tak pelan dan sedikit buru-buru, aku mengira bahwa ketukan itu bukan berasal dari tangan dokter maupun suster. Saat pintu tersebut terbuka, aku melihat seorang wanita paruh baya yang sudah kukenal. Dialah ibu Joonmyun.

Wajahnya panik namun sedikit kelegaan tersirat dari sorot matanya. Sebenarnya apa yang terjadi? Pikirku dalam hati.

“Joonmyun anakku, sudah tersadar!”

***

“Joonmyun anakku, sudah tersadar!” seru ibu Joonmyun panik.

Hana yang mendengar itu, menjatuhkan sepotong apel dalam genggaman tangannya. Ia buru-buru meminta Hara untuk membantunya menaiki kursi roda. Dengan tanggap, Hara membantu adik perempuannya itu lalu mendorong kursi roda tersebut menuju Kamar pasien Joonmyun.

Dokter Kang dan seorang suster saat itu sudah keluar dari kamar tersebut, ia juga sedang berjalan menuju Hana, Hara dan ibu Joonmyun. Ia tersenyum sumringah melihat Hana.

“Nyonya Kim, anakmu sudah tersadar dan kondisinya normal seperti biasanya. Namun aku ingin ia tetap dirawat beberapa hari disini untuk perawatan lebih lanjut,” jelas dokter Kang dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Pria itu, lalu membungkuk dan berjalan meninggalkan mereka.

Pintu kamar Joonmyun sedikit terbuka, disana terlihat seorang pemuda yang wajahnya masih agak pucat tengah duduk diranjang. Hana yang melihat hal itu tak henti-hentinya tersenyum bahagia.

Namja ini benar-benar mirip dengan Suho, batin Hana.

“Hana-ya, silahkan masuk. Aku akan menunggu diluar,” kata ibu Joonmyun sambil tersenyum.

Hara yang walaupun saat itu tidak mengenal wanita itu dan permasalahan yang terjadi, Hara langsung merespon perkataan wanita paruh baya tersebut. “Ya, aku juga akan menunggu diluar. Eomonim, aku ingin mengobrol denganmu!”

NeKaja.”

Kedua wanita tersebut meninggalkan Hana sendirian didepan kamar tersebut. Hana saat itu bingung ingin melakukan apa, namun tangannya tidak merasakan begitu, tangannya perlahan menggerakan kursi roda.

Kursi roda tersebut bergerak perlahan menuju ranjang yang diatasnya sedang duduk seorang pemuda—rambutnya agak berantakkan, namun tidak mengurangi ketampanannya. Hana mencoba tak bersuara, tapi decitan yang ditimbulkan oleh kursi rodanya tidak membuat keadaan menjadi tak bersuara.

Joonmyun menoleh tepat ke Hana. Wajahnya seakan tak percaya bahwa wanita yang ia cari-cari sewaktu di Dimens ternyata tepat berada dihadapannya. Ia ingin menghampirinya namun karena tubuhnya tidak digerakkan selama sebulan, ia terlalu lemah untuk melakukan semua itu.

Hana…” ucapnya lemah.

Chajatta! *aku menemukanmu” Tangisnya pecah saat itu juga. Hana tak kuasa menahan tangisnya dan lagi, ia menggerakkan kursi rodanya cepat. Ingin segera memeluk Joonmyun saat itu juga.

Dan ia berhasil. Hana berhasil memeluk Joonmyun saat itu juga. Tangisnya makin menjadi ketika ia merasakan hangatnya tubuh Joonmyun. Ia tak banyak berpikir, dipikirannya hanya ialah ‘Suho’ yang ia cari-cari selama ini.

“Aku tahu kau adalah Suho!” teriak Hana diiringi isakkan.

“Ya, aku adalah Suho,” kata Suho masih dengan nada lemah. “Itulah kesalahan saat aku mengingat namaku. Nama asliku adalah Kim Joonmyun.”

Joonmyun menarik dagu Hana untuk melihatnya lebih jelas. Senyuman menghiasi bibir Joonmyun saat itu. Ia mendekatkan wajahnya kewajah Hana untuk kedua kalinya, dan—lagi—ia mencium bibir Hana yang berwarna merah delima itu lembut.

Juga untuk yang kedua kalinya.

END

Supaya adil, maka saya tidak membuat epilog—walaupun saya sendiri ingin sekali membuatnya. Lalu saya bikin ini karena waktu itu ngeliat Suho’s angelic smile. Dan saya langsung klepek-klepek /kemudian hening. Yah, tapi semoga suka sama ff (nista) fantasi yang satu ini heuheu

Yap, the last~ thanks banget buat yang udah baca ff nista ini J comment juseyo~~~~

4 thoughts on “[FREELANCE] Light & Dark

  1. kereeenn!!! baguuuus!!! ^u^/ Daebak, author!!!!
    Critany bner” mnarik!!😀 Ccok dch cast’ny bias aq SuHo oppa…!!
    Puji Sykuuur,,, happy ending..! yey! yey!
    Deg..Deg..an… bngtzz ma akhir critany gmn,, takut klo sad ending…
    gomawo, author udh bkin crita smenarik ini…😀

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s