[FREELANCE] Someday

Title : Someday

Author : Im Hyun Ah (Transformed from Kin Haneul)

Genre : Romance

Lenght : One-Shoot

Rating : G

Cast :

SNSD Yoona

EXO-M Luhan

Di Post di wp pribadiku http://zhyagaem06.wordpress.com/ di Post juga di http://exoshidaefanfic.wordpress.com/ and http://kpopfanfichouse.wordpress.com/ karena aku menjadi author di dua blog itu.

Poster by https://nanachaasworld.wordpress.com/

Disclaimer : Semua cast diatas milik Tuhan orang tua masing-masing dan SM, saya hanya pemilik alur ceritanya saja

Note : Anneyeong readers semua, ini FF pertamaku tentang LuYoon couple, entah kenapa aku suka banget sama deer couple ini semenjak menemukan beberapa moment mereka di tumblr padahal aku sebenarnya Pyro loh#gakadayangnanya. Monggo buat yang suka silahkan scrool ke bawah tapi kalau yang gak suka sama pairing ini mending back aja deh dari pada Bashing kan gak enak sama adminnya yang udah susah ngepost.

DONT THE SILENT RIDERS AND PLAGIATOR, tolong dihargai kerja keras authornya.

Warning : Typo and Dont LIKE Dont READ dari pada BASHING

***’

Suatu hari nanti aku akan kembali menemuimu ditempat ini, di saat musim gugur yang indah untuk mewujudkan janjiku yang pernah kutulis dengan penuh keyakinan di batang pohon maple yang menjadi saksi pertemuan pertama kita.

**

“Luhan –ah, kemari sebentar” Aku mendengus kesal bagitu mendengar teriakan Ummaku yang bisa dibilang memekakan telinga itu, padahal jarak tempat aku membaca berada tidak jauh darinya yang sedang membuat kue. Aku pun dengan terpaksa meletakkan komik Naruto yang sedang kubaca dan berjalan dengan langkah malas ke arah ruang tengah, tempat Ummaku berada.

“MWO?” tanyaku agak ketus. Umma menghentikan sejenak kegiatannya mengolah adonan dan berpaling menatapku dengan tajam, aku yang ditatap begitupun langsung ciut, Ummaku memang sangat tahu cara membuatku tak berkutik.

“Aish kau ini masih umur 12 tahun sudah berani bicara ketus begitu pada Umma, bagaimana kalau nanti kau sudah besar? Bisa bisa kau sudah memukuli Ummamu yang cantik ini” Issh Umma sedang ngomel masih sempat-sempatnya memuji diri sendiri. Aku memutar kedua bola mataku bosan.

“Ne, Umma ada apa?” tanyaku semanis mungkin agar Ummaku tak banyak mengoceh lagi.

“Nah, begitu dong kalau bicara dengan orang tua harus seperti itu, harus lembut, manis, dan sopan” Umma tersenyum kearahku yang hanya kubalas dengan senyuman tipis. Ummaku kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya menghitungnya sebentar dan menyerahkannya padaku, jangan bilang kalau Umma mau….

“Ini uang lima puluh ribu won, tolong belikan Umma mentega di minimarket dekat sekolahmu itu yah, mentega Umma sepertinya kurang” Tuh kan, sudah kuduga kalau Umma pasti mau menyuruhku untuk membeli bahan-bahan kue, Aish menyebalkan sekali sih, masa aku seorang namja harus berbelanja seperti itu ? Aku kan malu, mana minimarket itu dekat dengan sekolah lagi dan juga setiap sore seperti ini teman-temanku sering sekali bermain dihalaman sekolah itu dan mau tidak mau mereka pasti bisa melihatku yang membeli keperluan kue dan aku harus menahan malu di olok-olok oleh mereka.

“Kenapa bukan Umma saja yang membeli, Umma kan lebih tahu dibanding aku” Aku mencoba mengelak, aku tidak mau dijadikan bahan ejekan oleh teman-temanku.

“Oh, jadi ceritanya kau tidak mau? Baiklah, biar Umma saja yang beli tapi mulai besok silahkan kau pergi ke sekolah jalan kaki, karena sepedamu itu akan Umma tahan selama sebulan” ucap Umma denga wajah tega. Aku membulatkan mataku, bagaimana bisa aku harus pergi ke sekolah tanpa sepeda? Bisa bisa aku tidak sampai kesekolah malah sampai kerumah sakit. Bagaimanapun sekolahku itu lumayan jauh, aku memang sudah sangat terbiasa bila pergi kesekolah menaiki sepeda. Aish Umma kenapa hari ini kau sangat menyebalkan? Ah tidak baik mengatai orang tua seperti itu.

“Ne, hanya mentega kan yang harus dibeli?” tanyaku sambil menaruh uang yang diberikan Umma di kantong celana. Umma hanya menganguk sambil melanjutkan kegiatannya mengolah adonan, tanpa banyak bicara aku pun keluar dari rumah, mengeluarkan sepeda hitam pemberian Appaku sejak aku aku SD hingga sekarang, kelas satu SMP dari bagasi, setelah itu aku menaikinya dan mengayuh sepedaku keluar halaman rumah, membelah jalanan besar kompleks yang dipenuhi dengan dedaunan maple yang berguguran, karena ini sedang musim gugur, musim yang paling aku sukai.

**

Ya, kegiatan belanja selesai tanpa ada gangguan, tentu saja gangguan yang kumaksud disini adalah teman-temanku yang tumben sekali tidak bermain dihalaman sekolah, tapi itu merupakan suatu keuntungan tersendiri bagiku setidaknya tidak ada yang mengejekku disini. Aku pun mengayuh sepedaku melewati beberapa rumah bergaya minimalis dipinggiran jalan, memandang guguran daun maple yang berjatuhan membuatku semakin bersemangat untuk mengayuh sepedaku sampai kerumah kemudian melajutkan kegiatan membaca komikku yang tertunda. Aku menghentikan kayuhan sepedaku saat melihat segerombolan anak laki-laki tengah berkerumun di salah satu bangku taman yang terletak di  bawah pohon maple, aku kenal anak-anak itu mereka adalah teman temanku yang sering bermain di halaman sekolah bila sore hari, jadi ini yang membuat mereka tidak ada tadi? Tapi apa yang sedang mereka lakukan?. Ah bukan urusanku juga, aku menggelengkan kepala mencoba tidak peduli baru saja aku akan mengayuh sepedaku suara tangisan seseorang terdengar olehku.

“Hiks…hiks… jangan ganggu hiks… aku”

“Huuu, begitu saja nangis, tidak seru ah”

Karena merasa suara itu berasal dari kerumunan teman-temanku itu akupun segera turun dari sepedaku dan berjalan menghampiri kerumunan itu.

“Apa yang kalian lakukan disitu?” tanyaku pada mereka. Salah satu dari mereka yang kalau tidak salah bernama JunHyung langsung berbalik badan dan menatapku.

“Bukan urusanmu, pergi sana” usirnya sambil memasang wajah sangar, aku mengangkat sebelah alisku. Dia pikir aku takut dengan wajahnya yang seperti itu?.

“To…tolong a..hiks aku” terdengar suara isakan seorang yeoja, aku langsung menatap JunHyung.

“Suara siapa itu?”

“Mana ku tahu, sudah lebih baik kau pergi saja sana”

Hmm, mencurigakan sekali padahal jelas jelas suara itu berasal dari kerumunan teman-temannya. Dengan langkah berani akupun mendekati kerumunan itu.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” JunHyung terlihat panik dan mencoba menghalangiku namun bukan Luhan namanya kalau tidak bisa melawan, walaupun dari segi postur aku ini kecil tapi aku tahu berkelahi loh, karena aku pernah diajarkan karate sewaktu SD dulu oleh Appaku.

“Ya! Jangan mendekat” teriak JunHyung membuat semua teman-temannya menoleh ke arahku sehingga aku bisa melihat seorang yeoja seumuran denganku sedang duduk di bangku itu sambil menunduk ketakutan bahunya bergetar dan terdengar suara isak tangis yang kuyakini dari yeoja itu, oh jadi ini yang mereka lakukan mengganggu seorang yeoja yang lemah? Cih pengecut.

“Hei pendek, kau cari mati ya?” tanya salah satu dari mereka yang bertubuh paling tinggi, kalau tidak salah namanya DoongWon. Sialan anak itu, berani sekali memanggilku pendek.

“Hei tiang listrik berjalan apa kau tidak punya kerjaan lain ya? Bisa-bisanya menggannggu yeoja” balasku tenang. DoongWon langsung menatapku dengan tatapan membunuhnya.

“Neo… beraninya kau memanggilku tiang listrik” ia terlihat geram, tangannya terkepal kuat wajahnya memerah menahan marah.

“Ne, memang nyatanya tubuhmu itu tinggi kan? Jadi pantas saja kusebut tiang listrik berjalan” balasku lagi sambil tersenyum mengejeknya.

“Hmmmpp” semua temannya terlihat menahan tawa mendengar ucapanku, hahaha rasakan temanmu sendiri menertawakanmu. Aku melirik kearah yeoja itu, ia masih menunduk menyembunyikan wajahnya.

“Kau…”

SRET

BUK

Hhh. Untung refleksku cepat kalau tidak aku pasti sudah terkena bogem mentahnya si DoongWon. DoongWon pun berdiri dari posisi jatuhnya karena saat dia akan memukulku tadi aku menghindar sehingga ia kehilangan keseimbangan dan akhirnya…. terjatuh.

“Kau benar-benar memancing amarahku Xi Luhan…” ia menatapku tajam seolah ingin membunuhku sekarang juga “Teman-teman seraaang” komandonya langsung membuatku kaget, bagaimana tidak ia menyuruh semua temannya yang kuperkirakan berjumlah enam orang itu, mereka semua pun langsung berlari kearahku seraya ingin memukulku utnung aku cepat menghindar tapi tetap saja serangan terus berdatangan padaku, bisa dibayangkan enam lawan satu? Pastilah aku kalah.

Buuk. Kepala terasa pusing sekali karena aku baru saja mendapatkan pukulan di belakang kepalaku dari Lee Joon salah satu anak buah DoongWon. Aku pun terjatuh di tanah, rasa sakit benar-benar menyerang kepalaku aku bahkan sangat sulit untuk bangkit kembali, sementara ke enam anak itu tengah mengerumuni, mereka pasti ingin menghajarku rame-rame.

“Kau akan tahu akibatnya karena sudah berurusan denganku pendek” si tiang listrik berjalan (read : Doongwon :p) dengan kasar menarik kerah kemejaku membuat aku harus berhadapan dengannya. Ia pun mengangkat tangannya yang ia kepalkan keatas dan mengarahkannya padaku, sudah kuduga ia pasti akan menghabisiku.

“Tolong…tolong temanku di dipukuli oleh mereka”

Hanya tinggal beberapa centi kepalan tangan DoongWon akan menghantam wajahku sebuah suara teriakan terdengar disusul oleh suara langkah kaki beberapa orang yang menuju kesini, DoongWon langsung melepaskan cengkramannya pada kemejaku saat melihat beberapa Ahjussi yang berlari kearah kami ia langsung memberi komando pada teman-temannya untuk pergi atau lebih tepatnya kabur.

“Kau tidak apa-apa nak?” tanya seorang Ahjussi padaku sambil membantuku duduk di bangku taman disamping yeoja yang diganggu tadi.

“Aku tidak apa-apa kok Ahjussi, Gomawo sudah menolongku” ucapku sesopan mungkin

“Syukurlah, lain kali kalau mereka mengganggu kalian laporkan pada kami, mereka itu memang suka membuat keributan” terang Ahjussi lainnya, akupun hanya bisa menganguk jujur kepalaku masih sangat sakit. Setelah memastikan kalau keadaanku baik-baik saja para Ahjussi itupun meninggalkanku dengan yeoja itu.

“Kau bohong kan pada Ahjussi tadi?” tiba-tiba yeoja disebelahku ini mengeluarkan suara, walaupun sudah mendengar suara teriakannya tadi tapi aku tak menyangka kalau suara yeoja ini sangat halus. Aku menoleh kearahnya dengan tangan sebelah kiriku masih terus mengelus belakang kepalaku.

“Bohong tentang apa?” tanyaku tak mengerti, yeoja ini aneh sekali

“Kau bilang pada Ahjussi tadi kalau kau tidak apa-apa, padahal sebenarnya kepalamu sakit kan karena di pukul oleh anak-anak tadi” jawabnya dengan wajah sedikit khawatir. Aku agak kaget mendengarnya, yeoja didepanku ini kenapa bisa tahu kalau kepalaku masih sakit?.

“Oh, itu aku tidak ingin membuat mereka tambah khawatir jadi kubilang saja kalau aku sudah tidak apa-apa” aku tersenyum tulus kearahnya. Yeoja itu kemudian memalingkan wajahnya dan menunduk.

“Mianhe” ucapnya pelan. Aku mengangkat sebelah alisku kenapa yeoja ini malah minta maaf?

“Kenapa kau minta maaf?”

“Karena a..aku kau jadi terluka seperti ini” jawabnya. Oh jadi karena itu ia meminta maaf, yeoja ini aneh sekali padahal yang memukuliku sampai kepalaku sakit seperti ini kan teman-temannya DoongWon kenapa ia harus merasa bersalah seperti itu.

“Sudahlah tidak usah dipikirkan, aku sudah tidak apa-apa kok, tenang saja” ujarku meyakinkannya agar ia tidak semakin khawatir lagi padaku.

“Benarkah?” tanyanya masih belum yakin

“Ne, lihat kepalaku bisa kugerakkan dengan bebas” ucapku sambil menggerakkan kepalaku kesana-kemari, walaupun masih agak sakit aku mencoba menahannya agar yeoja ini tidak khwatir lagi. Yeoja itu pun tersenyum

“Gomawo Xi Luhan karena telah menolongku” ucapnya. Aku kaget mendengarnya bagaimana ia tahu namaku? Nama lengkap lagi. Jangan-jangan dia ini fansku lagi yang sudah lama mengagumiku (Luhan GR setengah Hidup#plak)

“Dari mana kau tahu namaku?”

“Tadi, salah satu anak yang mengangguku meneriaki namamu kan? Apa namamu bukan itu?” tanya yeoja itu

Yaa, aku pikir dia ini fansku tapi ternyata dia tahu namaku karena si tiang listrik berjalan.

“Ah iya namaku Xi Luhan tapi kau cukup memanggilku Luhan saja, kau anak baru ya di kompleks ini aku belum pernah melihatmu sebelelumnya?” tanyaku padanya, memang aku baru sekali ini melihat yeoja ini.

“Ne, aku baru pindah kemarin” jawabnya sambil tersenyum manis, Ya Tuhan senyumannya indah sekali, aish apa yang kau pikirkan Luhan kau masih 12 tahun jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting dulu.

“Hmm, kalau boleh tahu namamu siapa?”

“Aku Im Yoona tapi panggil Yoona saja” jawabnya lagi-lagi tersenyum, Ya Tuhan tidak bisakakh kau tidak tersenyum? Senyumanmu begitu indah Im Yoona

“Kau kenapa bisa diganggu oleh anak-anak tadi?” tanyaku penasaran. Karena setahuku DonogWon cs itu jarang sekali mengganggu yeoja, di sekolah saja mereka tidak seperti itu, mereka lebih suka membuat keributan dengan para kakak kelas dibanding menganggu yeoja.

“Aku juga tidak mengerti dengan yang terjadi tadi…” yeoja itu menggantungkan kalimatnya “ Tapi tadi namja yang bertubuh paling tinggi itu mendatangiku dan mengatakan kalau dia menyukaiku dan memintaku untuk menjadi kekasihnya” lanjutnya membuatku terbelalak kaget, wah berani juga si DoongWon masih kecil sudah punya nyali untuk menyatakan cinta pada seorang yeoja, tapi tak bisa dipungkiri yeoja ini sangat cantik dan memiliki senyum yang indah tidak heran kalau DoongWon sampai menyukainya.

“Lalu apa kau menerimanya?” tanyaku lagi

“Tentu saja tidak, aku kan masih kecil kewajibanku saat ini adalah belajar bukan untuk pacaran, lagipula Appaku sangat tegas dia tidak mau nilaiku turun hanya karena hal seperti itu” yeoja ini menjawab sambil meninggikan sedikit volume suaranya merasa tidak terima mungkin dengan pertanyaanku barusan.

“Ya! Menjawabnya biasa saja dong, aku kan hanya bertanya” dengusku sambil meliriknya sinis.

“Mianhe… aku hanya..” lirih yeoja itu sambil menundukkan wajahnya. Aku jadi merasa bersalah padanya, padahalkan maksudku tadi hanya bercanda kenapa yeoja ini menanggapinya serius lagipula lirikkan sinisku itu hanya pura-pura.

“Ya ampun Yoona-ah, aku kan hanya bercanda jangan ditanggapi serius dong” ucapku menenangkannya. Ia pun hanya menganguk

“Oh iya, kau sekolah dimana?” tanyaku setelah sebelumnya kami terdiam cukup lama. Aneh, kenapa aku jadi cerewet begini biasanya aku ini pendiam dan tak banyak bicara tapi kenapa pada yeoja ini aku sering sekali bertanya?

“Aku belum tahu” jawabnya. Aku tersenyum senang mendengarnya, kalian tahukan apa yang aku pikirkan?

“Bagaimana kalau kau sekolah di sekolahku? Jaraknya dekat kok dari taman ini” ucapku menawarkan, aku akan sangat senang kalau Yoona bisa satu sekolah denganku walaupun resikonya ia harus bertemu dengan si tiang listrik berjalan. Ia langsung menatapku dengan tatapan berbinar, aku yakin dia juga pasti suka.

“Ne, aku akan bilang pada Appa” jawabnya langsung sambil tersenyum, akupun membalasa senyumannya.

“Kau teman pertama ku disini Luhan-ah” ucapnya sambil mengangkat jari kelingkingnya akupun balas menautkan jari kelingkingku dengan kelingkingnya, tanda persahabatan.

“Ya! Luhan-ah, jadi kau disini? Kenapa lama sekali kau kembali?” tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat aku kenal, aku menoleh kearah teriakan itu dan ternyata itu Umma sedang berjalan kearahku dengan wajah marah, Huwaaaa aku lupa mengantarkan barang pesanan Umma

“Dasar kau anak nakal,” datang-datang Umma langsung menjewer telinga kananku membuat aku meringis kesakitan.

“Ampun Umma, ampun aduh..duh lepaskan” ucapku memohon sambil mencoba melepaskan jeweran Umma pada telingaku

“Hahahaha, wajahmu lucu sekali Luhan-ah hahahahaha” yeoja di sampingku tertawa lepas melihatku, aku tak menyangka ia bisa tertawa selepas ini. Aku pun hanya tersenyum melihat tawa renyah yang menguar darinya.

***

Aku tersenyum mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu itu, saat dimana aku bertemu dengan seorang yeoja yang telah menjadi cinta pertamaku. Ya setelah pertemuan pertama kami aku memang sudah menyukainya , tapi saat itu aku masih sangat belia sehingga aku membuang jauh-jauh perasaanku itu dan menganggapnya hanya sebagai teman. Setelah kejadian itu kami menjadi sangat dekat apalagi setelah Yoona masuk di sekolah kami sering bersama karena Yoona takut ia diganggu lagi oleh DoongWon. Mengingat masa-masa itu membuatku sangat rindu padanya, aku penasaran seperti apakah ia sekarang, dia pasti tumbuh menjadi seorang yeoja yang sangat cantik. Sampai sekarang aku masih tetap menyukainya, dia menjadi yeoja satu-satunya yang ada dihatiku hingga sekarang. Tapi kini kami terpisah jauh, semua itu karena sewaktu kenaikan kelas tiga Appaku dialih tugaskan di China yang merupakan negara kelahiranku, sebenarnya aku tidak ingin ikut karena aku tak mau meninggalkan Yoona sendirian, apalagi setelah tahu kalau dia satu kelas dengan DoongWon aku khawatir kalau dia akan diganggu lagi oleh si tiang listrik berjalan itu. Maka dari itu sebelum aku pindah aku sempat membuat janji pada Yoona

***

Sore itu begitu cerah, ditambah dengan bergugurannya daun maple membuat taman yang salalu aku kunjungi ini terlihat semakin indah. Aku sekarang memang sedang berada ditaman tepatnya dibangku di bawah pohon maple tentunya bersama Yoona, yeoja itu sedang asik menikmati se krim vanilla mintnya, ia terlihat begitu senang, namun aku sebaliknya aku sedang sedih hari ini karena tadi Appa mengatakan kalau besok kami sekeluarga akan pindah ke China.

“oppa kenapa wajahmu murung? Apa ada masalah?” tanyanya sambil menoleh kearahku, ku lihat es krimnya sudah habis. Yoona memang sering memanggilku oppa, padahal umurku dengannya sama, tapi aku kan sebulan lebih tua darinya jadi ia bersikeras untuk memanggilku oppa, awalnya aku tidak mau, aku terlihat tua apabila ia memanggilku begitu namun saat itu Yoona bilang kalau dulu ia mempunyai seorang oppa, namun saat ia berumur 10 tahun oppanya meninggal karena kecelakaan, karena itulah Yoona ingin sekali memanggilku dengan sebutan oppa, karena ia sudah menganggapku seperti oppanya sendiri.

Aku menoleh kearahnya dengan wajah murung

“Ne, aku memang sedang punya masalah” jawabku lesu, ia terlihat kaget mendengarnya, tentu saja aku adalah seorang anak yang bisa dibilang tidak pernah punya masalah, tapi kini masalahku begitu besar, menurutku.

“Memangnya masalahmu apa oppa?” tanyanya lagi. Aku menghela nafas, sepertinya aku memang harus memberi tahu pada Yoona soal kepindahanku ini.

“Appaku dipindahkan tugasnya di China…” ucapku memulai cerita, Yoona mendengarkannya dengan seksama, mungkin ia belum mengerti arah pembicaraanku

“Lalu?”

“Dan aku harus ikut dengan Appaku ke China” lanjutku dengan wajah sedih.

“MWO? Ja..jadi oppa a..akan meninggakanku?” Yoona nampak kaget mendengar ucapanku, tak kuduga matanya sudah berkaca-kaca. Aku jadi panik melihatnya

“Yoona-ah kenapa kau menangis?” tanyaku sambil memegang bahu mungilnya, sedangkan ia masih terus sesegukan

“Andwe, oppa aku tak mau kau pindah, aku tak mau” ucapnya dengan suara parau sambil menggelengkan kepalanya.

“Yoona-ah tapi aku harus tetap ikut dengan Ap-“

“Oppa, kau menyangiku kan?” tanyanya membuat aku terkejut, tentu saja aku sangat menyayanginya.

“Ne”

“Kalau begitu jangan tinggalkan aku oppa, kau satu-satunya temanku disini” Ia memgang tangaku erat mengisyaratkan agar aku tidak pindah, aku sendiripun inginnya begitu tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mungkin menolak perintah Appa lagipula disini aku mau tinggal dengan siapa? Semua keluarga berada di China.

“Mianhe, Yoona-ah, tapi aku harus tetap pindah, aku kesini untuk mengucapkan salam perpisahan” ucapku membuatnya menangis dengan kencang

“Huaaa, oppa kau jahat! Kau jahat” tangisnya yang begitu kencang membuat beberapa orang yang ada ditaman itu menatapku dengan tatapan ‘apa yang kau lakukan pada yeoja itu?’, aish yeoja ini sudah kelas 3 masih saja seperti anak kecil, tapi aku tak bisa menyalahkannya ia menangis karena ku juga kan?

“Yoona-ah, berhenti menangis, kau membuat semua orang menyangka aku menyakitimu” ucapku mencoba menghentikan tangisnya, akhirnya ia pun diam walaupun masih menyisakan isakn-isakan kecil. Aku kemudian berdiri dan mengambil sebuah besi yang sudah berkarat yang terletak tak jauh dari bangku tempatku duduk, kemudian aku menghampiri Yoona kembali, Yoona menatapku heran.

“Untuk apa besi berkarat itu?” tanyanya bingung, aku hanya tersenyum mendengarnya kemudian aku berjalan beberapa langkah dan berdiri didepan pohon maple yang tinggi itu

“Ayo kemari” ajakku padanya, tanpa banyak bertanya iapun datang menghampiriku

“Aku akan membuat sebuah janji yang akan kutulis disini” ucapku seraya tersenyum kearahnya, janji ini sudah kupikirkan dari semalam.

“Janji apa?”

“Kau lihat saja” aku pun dengan cekatan mengukir sebuah tulisan di batang pohon maple itu, ia hanya memperhatikanku dengan tatapan bingung. Setelah selesai aku mengusap keringatku, dan beralih menatapnya. Ia nampak kaget melihat tulisan yang kubuat itu

“Oppa..”

“Ne, tunggu aku ya”

***

Memori itu mengingatkanku akan janjiku pada yeoja itu, janji yang kubuat saat aku masih berumur 14 tahun, janji yang dengan penuh keyakinan ku ukir dan aku berniat untuk mewujudkannya, aku terdiam beberapa saat, sampai akhirnya aku sadar kalau aku harus menemuinya dan mewujudkan janjiku itu. Tanpa banyak bicara aku segera keluar dari kamarku menuruni tangga rumahku yang berkelok-kelok itu, aku akan berangkat ke korea sekarang juga.

“Luhan-ah” tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah belakangku, akupun menoleh dan terlihatlah Umma dan Appa yang sedang berjalan menghampiriku yang sudah berada di depan pintu.

“Ada apa Umma, Appa?” tanyaku sambil menatap kedua orang tuaku bergantian. Umma tersenyum kearahku, ia kemudian mengamit lenganku dan membawaku menuju ke sofa ruang tamu.

“Duduklah sebentar, ada yang ingin kami bicarakan” ucap Umma mendudukkanku dan dirinya di sofa yang didominasi warna coklat eboni itu, Appa juga ikut duduk bersama kami.

“Memangnya apa yang ingin Appa dan Umma bicarakan?” tanyaku penasaran, tumben sekali mereka ingin bicara serius denganku

“Luhan-ah, kau sudah dewasa, sudah waktunya kau memiliki pendamping hidup” ucap Umma membuat sebelah alisku terangkat

“Ah, Umma umurku kan masih 22 tahun”

“Ne, maka dari itu Appa dan Umma sudah mengambil keputusan” ucap Umma disertai dengan senyuman. Aku jadi merasa sesuatu akan terjadi.

“Appa akan menjodohkanmu dengan anak dari rekan bisnisAppa” lanjut Appa langsung membuatku tebelalak kaget, di jodohkan? Astaga ini sudah zaman apa? Kenapa harus dijodohkan segala

“Appa Umma yang benar saja, aku belum mau menikah” tolakku mentah-mentah selain karena alasanku tadi, aku juga harus mewujudkan janjiku pada yeoja di masa laluku, ya Im Yoona. Umma tertawa pelan, ada yang lucu?

“Luhan-ah, apa kau berpikir kalau kami akan segera menikahkanmu? Tentu saja tidak, kami juga ingin kau menyelesaikan pendidikanmu dulu, kau hanya perlu bertunangan dengan anak rekan bisnis Appamu itu”

“Aku tidak mau Umma, Appa aku sudah dewasa, aku bisa menentukan pilihanku sendiri” ucapku sambil berdiri, aku paling benci bila harus dikekang seperti ini.

“Ya! Xi Luhan beraninya kau melawan perintah Appamu” Appa berseru keras sambil menatapku tajam. Ya, memang selama ini aku tak pernah melawan apa yang Appaku katakan, tapi kali ini aku ingin terlepas dari bayang-bayang Appa

“Appa, berhenti memerintah semaumu, aku bukan anak kecil lagi”

“Tidak bisa, kau harus tetap mengikuti perjodohan ini, Appa tidak ingin ada penolakan” ucap Appa tegas kemudian berdiri dari duduknya dan berlalu meninggalkanku dan Umma, aku terduduk lesu di samping Umma, selalu begini aku tak pernah bisa untuk melawan Appa.

“Penuhilah kemauan Appamu nak, kau tahu kan bagaimana sifat Appamu? Dia sangat keras” ucap Umma sambil mengusap punggungku, aku hanya bisa menghelas nafas berat, Yoona-ah apa yang harus aku lakukan, aku ingin sekali bertemu denganmu tapi kali ini keadaannya sangat sulit.

“Cepat kau siap-siap, kita akan segera berangkat ke Korea” ucapan Umma membuatku kaget, Korea? Kenapa harus kesana. Aku menatap Umma dengan tatapan bertanya

“Calon tunanganmu adalah orang Korea, jadi kita harus berangkat kesana, ayo cepat berkemas” jawab Umma, kemudian beliau berdiri dan menuju kekamar, menyiapkan keperluan mungkin. Ke Korea berarti aku punya waktu untuk bertemu dengan Yoona? Tapi aku tak bisa mewujudkan janjiku padanya.

***

Korea sudah banyak berubah rupanya, dulu Korea tak sebagus dan secanggih ini, aku masih ingat betul bagaimana Korea waktu aku masih anak-anak. Kini aku berada didalam Limosin milik Appaku, seorang supir duduk di depan sementara aku dan kedua orang tuaku duduk di belakang. Dari tadi aku tak bisa mengatur moodku dengan baik padahal sejak dari bandara tadi Umma sudah menasihatiku untuk tidak menampakkan wajah tidak enak seperti itu. Perjalanan ke rumah rekan bisnis Appa itu memang lumayan jauh, sehingga membuatku bosan dan hampir membuatku tertidur namun mataku lebih asik memperhatikan guguran daun maple yang berjatuhan dari pohon di sepanjang jalan. Pohon maple? Aku kembali teringat akan janjiku pada Yoona, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan.

Akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang kami sampai juga di rumah rekan bisnis Appa itu, rumahnya sangat besar dan megah, baru sampai di ambang pintu kami sudah disambut oleh seorang pria yang seumuran dengan Appaku

“Mianhe, Ji Hoo Ssi, kami terlambat” ucap Appa sambil memeluk Ahjussi itu, oh jadi ini rekan bisnis Appa itu

“Ah, bukan masalah, mari silahkan masuk” ucapnya mempersilahkan kami masuk, tanpa banyak bicara kami pun masuk kedalam ruangan rumahnya tersebut.

“Silahkan duduk” ucapnya lagi, aku dan kedua orang tuaku pun duduk di sofa panjang yang terlatak di ruang tamu itu, saat ini aku sedang menebak-nebak seperti apa rupa anak perempuan teman Appa ini? Apa lebih cantik dari Yoona? Ah tidak mungkin, menurutku yang paling cantik itu tetap Yoona.

“Perkenalkan ini putra tunggalku..” Appa merangkulku, kemudian berbisik “ ayo perkenalkan dirimu” aku hanya menganguk

“Anneyeong Ahjussi, Xi Luhan imnida” ucapku sesopan mungkin sambil menundukkan tubuhku. Ji Hoo Ahjussi tersenyum kearahku

“Wah, anakmu tampan sekali, pasti cocok dengan putriku” ucapnya membuatku hampir batuk, aish aku inginnya bersama Yoona. Appa dan Umma hanya tertawa mendengarnya.

“Oh.. ya mana putrimu?” tanya Appa

“Sebentar lagi dia datang” setelah mengucapkan kata itu, terlihatlah seorang yeoja berpakaian pelayan menghampiri Ji Hoo Ahjussi dan membisikkan sesuatu

“Apa kenapa itu bisa terjadi? Suruh semua pengawal mencarinya” ucap Ji Hoo Ahjussi dengan wajah marah, yeoja itu menganguk dan berlalu pergi, sepertinya ada masalah disini, hm baguslah

“Ada apa Ji Hoo Ssi?” tanya Umma

“Hmm, sebenarnya aku tidak enak mengatakannya, tapi putriku tiba-tiba menghilang” tuh kan, apa aku bilang sedang terjadi maslaah disini, dan sepertinya putri Ji Hoo Ahjussi memang kabur karena tak ingin dijodohkan.

“Lalu bagaimana dengan?”

“Tenang Kris-ssi, aku sudah menyuruh semua pengawalku untuk mencarinya”

Sementara mereka masih dalam keadaan panik, aku hanya bersiul-siul sambil melihat foto-foto yang terpajang di atas meja kecil di ruang tamu itu, ku lihat ada foto seorang yeoja, hmm cantik juga mungkin dia putri Ji Hoo Ahjussi, akupun melihat-lihat lagi foto-foto lainnya dan betapa terkejutnya aku saat melihat foto seorang yeoja yang sanagt mirip dengan Yoona 12 tahun yang lalu.

“Ahjussi, apa ini putri anda?” aku menunjuk foto yang pertama ku lihat, untuk memastikan

“Ne, bagaiman putriku cantik kan?” tanyanya dengan nada menggoda, aku hanya menganguk “lalu yang ini…” tanyaku ragu sambil menunjuk foto yang mirip dengan Yoona saat umur 12 tahun

“Oh, itu saat putriku masih SMP”

“Apa nama putri anda, Yoona?”

“Benar, namanya Yoona, Im Yoona, apa kalian sudah saling kenal?”

Seketika itu juga senyum langsung mengembang dibibirku, akupun langsung memeluk kedua orang tuaku bergantian membuat mereka bingung

“Ada apa denganmu?” tanya Umma mengernyitkan dahinya

“Gomawo Appa, Umma” ucapku sambil tersenyum kemudian aku berlari keluar rumah

“Hei kau mau kemana?” teriak Ji Hoo Ahjussi

“Aku akan membawa putri kembali Ahjussi”

***

Aku memacu limosin putih milik Appaku dengan kecepatan tinggi, ternyata yeoja yang akan dijidohkan denganku adalah yeoja yang selama ini aku cari, Im Yoona. Aku tahu kemana akan pergi, karena aku yakin dia pasti menungguku disana. Butuh waktu setengah jam untuk sampai ketempat itu, tempat yang membuatku bertemu dengan yeoja yang menjadi cinta pertamaku. Dengan buru-buru aku keluar dari mobil dan berlari kecil menuju ke sebuah pohon maple besar yang terletak di tengah-tengah taman.

Di sana, di depan pohon itu berdiri seorang yeoja bertubuh tinggi yang membelakangiku, yeoja itu mengenakan dress putih panjang.

“Maaf, Nona Tuan Im memintaku untuk menjemputmu” ucapku layaklah seorang pengawal, yeoja itu berbalik, ternyata benar dia adalah yeoja yang ada difoto itu dia Im Yoona, tak kusangka dia bahkan lebih cantik dari yang di foto, ternyata ia tumbuh menjadi yeoja yang luar biasa.

“Shireo, aku tidak mau, aku ingin menunggu Luhan oppa disini” ucapnya dengan mata berkaca-kaca, aku tersenyum mendengarnya, ternyata kau masih mengingatnya Im Yoona, aku tak menyangka.

“Kalau begitu kau harus segera pulang Nona, karena orang yang kau tunggu ada disini” ucapku sambil tersenyum tulus kearahnya, ia terlihat kaget.

“Neo… Luhan oppa?” tanyanya tak percaya. Aku berjalan mendekat kearahnya masih tetap tersenyum.

“Ne, aku Xi Luhan orang yang pernah menolongmu sewaktu kau diganggu oleh anak-anak nakal, dan orang yang telah membuat janji ini” aku menunjuk batang pohon maple yang masih kokoh dan masih menjaga tulisan yang pernah kubuat dulu. Air mata jatuh membasahi mata Yoona.

“Oppa” serunya langsung memelukku erat, yang tentu saja ku balas dengan lebih erat lagi, aku sangat merindukan yeoja yang ada dipelukanku ini, sungguh.

“Oppa aku merindukanmu” ucapnya di tengah isakannya, kau menangis karena bahagiakan?

“Nado” aku melepas perlahan pelukannya dan menunjukkan tulisan di batang pohon maple itu “ aku akan mewujudkan janjiku” ucapku sungguh-sungguh. Ia terlihat senang, tapi

“Tapi aku sudah di jo—“

“Ne, orang yang dijodohkan denganmu itu adalah aku” ucapku memotong perkataannya, ia terlihat kaget (lagi)

“Jinjja?”

“Ne” ia kembali memelukku dengan erat. Ku balas pelukannya dengan hangat, saat ini aku benar-benar nyaman saat memeluknya, yeoja yang ada dipelukanku ini adalah yeoja yang aku cintai, janjiku yang pernah aku buat akan ku wujudkan dan takkan pernah kulanggar karena aku tak ingin kehilangannya. Setelah melepas pelukan kami, aku dan Yoona sama-sama melirik kearah batang pohon maple itu, kami tersenyum saat membaca tulisan yang tercetak di sana

Luhan dan Yoona akan selalu bersama

***

Jangan Lupa comment ya Chingu semuanya

Yang comment author doain ketemu Bias J

 

6 thoughts on “[FREELANCE] Someday

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s