[FREELANCE] Falling Into Pieces

Title  : Falling Into Pieces

Author  : Hangukffindo

Cast  :

Tao EXO a.k.a Huang Zitao
Suzy Miss A a.k.a Han Min Jae

Support Cast : Tiffany SNSD a.k.a Tiffany

Rate  : PG-15

Genre : Tragedy, Angst, Romance

Summary : Seorang teman lama datang kembali setelah 11 tahun menghilang, membawa sisa-sisa kepingan untuk melengkapi hidup Min Jae. Namun dia takut tidak mempunyai banyak waktu untuk menyelesaikannya.

***

“Kau masih takut pada kegelapan?”

Pukul 11 malam. Gerimis membasahi jalanan di depan mereka dan asap rokok membumbung  tinggi, hilang diantara titik-titik hujan yang jatuh dari langit. Aroma aneh antara tanah dan debu terkena air. Seorang teman lama baru saja datang dan Min Jae menghabiskan dua puluh detik untuk menyadarinya.

Pria berambut hitam itu berdiri di depan toko cokelat dimana dia bekerja. Mata yang gelap dan tubuh tinggi berdiri mengantri, menunjuk sepotong cokelat madu sebelum Min Jae membuka mulutnya, namun tidak ada kata yang keluar, karena pria itu baru saja mengangguk dan tersenyum.

Lalu mereka berakhir di trotoar yang gelap, kanopi toko cukup lebar melindungi mereka dari gerimis. Huang Zitao, seorang berumur 19 tahun tiba-tiba muncul kembali ke hadapan Min Jae, setelah 11 tahun yang lalu menghilang entah kemana, dan kini dia bertanya apakah Min Jae masih takut kegelapan. Bukankah itu aneh?

“Kau menghilang.” Bisik Min Jae, pandangannya melayang ke seberang jalan, asap rokok Zitao memburamkan penglihatan di malam hari. “Dan kau disini sekarang.”

“Apa itu membingungkan bagimu?” tanya Zitao, asap keluar dari hidung dan mulutnya, seperti ada kebakaran dalam tubuhnya.

Min Jae tertawa kering. “Membingungkan? Persetan dengan semua itu, Zitao!” dia masih Min Jae kecil yang suka marah dan Zitao menyukai caranya berbicara sekasar itu walaupun saat ini dia memakai sweater berwarna pink dan rok hitam selayaknya gadis-gadis polos di kota kecil itu. Rambut hitam gelapnya tumbuh lebih panjang daripada yang pernah Zitao ingat.

“Kau menghilang dan duduk disini seperti tidak ada yang terjadi. Kau brengsek, Tao.” Desis Min Jae tak sabar. Tenggorokannya sakit menahan sesuatu, namun dia yakin bukan asap rokok Zitao yang menyebabkannya.  Hanya sebuah perasaan yang terbendung lama dan dia benci merasakannya.

Zitao tertawa. Suara tawanya menggema di malam yang sepi itu. Dia menjatuhkan puntung rokok, menginjaknya hingga mati di jalanan yang basah. “Aku tahu aku akan selalu menemukanmu dimana pun kau berada.” Dia memiringkan kepalanya. “Apa kau masih takut kegelapan?”

Min Jae mendengus cukup keras, menatap Zitao seakan pria itu gila, pria itu orang asing, pria itu bukan teman masa kecilnya yang menghilang bagai kabut 11 tahun yang lalu. Tapi…dia tetap menjawabnya. Dia akan selalu menjawab setiap pertanyaan Zitao.

“Sedikit. Tapi waktu terus berjalan. Aku tahu semua itu akan menghilang seiring berjalannya waktu. Banyak yang berubah, Tao. Kau tidak tahu hal itu karena…kau tahu, kau menghilang.”

“Apa kita tidak bisa membicarakan hal lain selain menghilang? Kau tahu, ini mulai terdengar memuakkan.” ujar Zitao setengah tertawa sambil mengeluarkan satu puntung rokok lagi dari kantung jaketnya.

Min Jae memandang sepatunya yang kotor terkena becek, tidak yakin dengan apa yang ingin dia katakan, malah terdengar seperti ocehan. “Lalu apa yang kau inginkan? Pesta penyambutan yang meriah?”

“Terdengar menyenangkan, tapi mungkin lebih baik jika kau memberiku setengah harga untuk cokelat madumu, karena rasanya enak.”

Gadis itu memutar kedua bola matanya dan beranjak dari tempat dimana dia duduk. “Tetaplah bermimpi, Huang Zitao. Berhentilah merokok, suatu hari benda kecil itu dapat membunuhmu.”

Zitao tertawa dalam perjalanannya menyusul Min Jae yang belum terlalu jauh melangkah. Kenangan itu kembali lagi sembari mereka mengobrol dan tertawa seperti 11 tahun yang lalu, ketika mereka masih berumur 8 tahun, polos dan berlari-lari kecil di taman.

“Kau suka cokelat itu? Rasanya seperti sampah.”

***

Toko cokelat itu berdiri di bawah sinar matahari pagi yang hanya menyentuh ujung atapnya, terselip diantara gedung-gedung tinggi kota itu, dan Min Jae merasa jauh lebih kerdil diantara semua itu.

Dirinya cukup bersabar berdiri di belakang etalase cokelat dan memasukan cokelat ke dalam cetakan sepanjang siang. Tersenyum manis ketika pelanggan membeli sekotak cokelat, menerima uang, dan kembali bekerja sambil menatap kosong ke arah Tiffany sang pemilik toko. Wanita itu berbibir merah, mencium sisi wajah pria disampingnya, tertawa seakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang hari esok.

“Kenapa kau ada disini?”

Zitao menaruh dagunya ke atas etalase pendingin. Min Jae tahu dia tidak sempat menyisir rambut hitamnya itu.

“Aku sedang bekerja.” Jawab Min Jae, berusaha terlihat sibuk dengan mengelap kaca etalase.

“Tampaknya hanya aku pelanggan disini.”

Min Jae berhenti, melempar lapnya ke meja di belakang dan berkacak pinggang menghadap Tao. “Lalu apa yang kau inginkan?”

“Aku menagih janjimu memberiku setengah harga untuk cokelat madu.” Ujar Zitao santai. Cengirannya lebar, hingga Min Jae bisa melihat sederet gigi putih yang terawat baik. Dia ingat cengiran itu.

Gadis itu menaikkan sebelah alisnya. “Aku tidak ingat pernah menjanjikanmu diskon apa-apa.” Tiba-tiba Min Jae merasakan sebuah pandangan menusuk dari belakang Zitao, dia menggeser kepalanya dan bertemu pandang dengan Tiffany yang kini berhenti mencium pria itu.

“Pergilah, Tao. Aku harus kembali bekerja.” Bisiknya cukup keras dan secepat dia membalikkan cokelat dingin agar terlepas dari cetakannya, Zitao telah menghilang. Min Jae tidak heran jika Zitao dapat menghilang secepat itu, karena dia baru saja melihat motor hitam, melaju kencang di depan toko.

***

Pertemuan ketiga mereka adalah saat makan siang. Zitao bersandar pada tiang listrik, menatap Min Jae berjalan membawa kotak makan ditangannya. Gadis itu sangat kurus, lebih kurus daripada yang pernah dia ingat sebelumnya. Namun apapun alasan di balik itu, Zitao senang Min Jae mengeluarkan sekotak cokelat madu dari kantung roknya.

“Senang?”

“Tentu saja. Kau memberiku secara cuma-cuma.” Zitao langsung melahap dua buah cokelat ke dalam mulutnya, merasakan manis yang menggigit langit-langit.

Min Jae tidak membalas. Mereka duduk di seberang toko, tidak ada selera makan yang membuat Min Jae ingin melahap makan siangnya, kkimbap dan kimchi pucat. Zitao menunggu dalam diam, memperhatikan setiap senti wajah Min Jae dan dia tertawa saat menyadari bahwa gadis itu melamun beberapa detik.

“Apa?” Min Jae tersadar dari lamunannya.

Zitao mengangkat bahu. “Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Sekarang jawab pertanyaanku.”

Baru kali ini Min Jae berharap Tiffany keluar dari toko dan memotong jam makan siangnya lebih cepat dari hari-hari kemarin. Lalu dia akan berjalan meninggalkan Zitao, membiarkan dia menghilang lagi seperti angin.

“Kenapa kau disini?”

Min Jae tersenyum, menusuk salah satu kkimbapnya dengan jari telunjuk, terlihat menyedihkan dan rasa dingin menyentuh kulit.

Kenapa?”

“Ya, kenapa? Kenapa kau ada disini? Kenapa kau tidak kuliah? Kenapa kau berdiri di belakang etalase pendingin, membuat cokelat madu, dan mempunyai bos yang tampak seperti wanita penggoda?” Zitao memajukan tubuhnya untuk melihat wajah Min Jae, menunggu jawaban darinya.

Rambut hitam gadis ini beterbangan tertiup angin ketika dia menoleh pada Zitao, ada bayangan hitam di bawah matanya. “Kenapa kau ingin tahu?”

Zitao mengangkat bahunya. “Entahlah, aku temanmu, sahabatmu yang hilang 11 tahun lalu. Aku kehilangan 11 tahun tanpamu dan aku rasa aku perlu mengetahui hidupmu.”

“Hidupku…”   ada keganjilan beberapa detik. “Memang seperti ini. Semuanya telah berlalu dan menghilang, buat apa mengetahuinya, Tao?”

“Hanya penasaran.”

Min Jae menghela napas, memejamkan matanya dalam waktu yang cukup lama, dan Zitao tidak keberatan menunggu, karena dia selalu sabar menghadapi gadis ini. Terlalu banyak selang waktu yang terjadi, tapi Zitao tetap menunggu.

“Aku sakit. Sirosis hati. Dua tahun atau dua tahun setengah mereka memprediksikan hidupku. Namun demi apapun yang ada di dunia ini, aku tidak peduli, Tao. Aku tidak peduli dengan semua itu.”

Zitao membentuk kata ‘o’ mendengarnya. Dia mengangguk mengerti, namun tidak, dia belum cukup mengerti. Tiba-tiba begitu banyak pertanyaan menyeruak ke kepalanya, maka dia kembali bertanya. “Lalu?”

Min Jae tertawa keras. Kotak makannya hampir jatuh jika dia tidak segera menyadarinya dan meletakkan tangan di bahu Zitao. “Lalu aku sadar tidak akan ada gunanya jika aku tetap berkuliah, jurusan ekonomi, buruk, dan…” dia mengambil napas sejenak. “tidak aka nada gunanya jika aku berada di rumah bersama orang tuaku, melihat mereka kecewa, dan aku memutuskan untuk terpenjara disini.” Dia menunjuk toko cokelat di depannya. Tiffany sedang berkutat bersama pria barunya.

Zitao masih belum mengerti. “Lalu bagaimana dengan cita-citamu? Menjadi seorang penulis?”

Dia mencintai seni, dia mencintai buku, dia suka menulis cerita romantis dan berakhir tragis. Menyelesaikan satu tulisan dalam satu malam, membiarkan lampu di kamarnya menyala sampai pukul 3 pagi. Lalu mendapati dirinya tertidur di depan komputer yang masih menyala, berdengung sedih. Tidak ada yang menyangka bahwa hidupnya jauh lebih tragis daripada tokoh-tokoh yang pernah diciptakannya.

“Berapa banyak buku yang bisa kau hasilkan dalam dua tahun?” dia menatap Zitao, tersenyum pahit. “Berapa banyak kemungkinan kau akan berakhir menyedihkan, cerita murahan, penolakan dari penerbit, dan…”

Dia merangkul Zitao erat-erat. “Lupakanlah, Tao. Hanya…lupakan semua yang telah terjadi. Dan jalani hidup seakan kau tidak peduli akan apa yang kau hadapi hari esok.”

Zitao masih belum mengerti.

Belum cukup mengerti ketika Min Jae setengah berlari meninggalkannya kembali ke toko. Waktu makan siang sudah habis, namun pertanyaan masih banyak di kepalanya. Mengapa 11 tahun mengubah banyak hal? Mengapa dia kembali dan menemukan beberapa kepingan asing di hidup teman kecilnya? Mengapa gadis itu sakit? Dan mengapa dia merasa hari kemarin adalah hari terpenting yang tidak mungkin kau lupakan?

***

Zitao kembali lagi dan semakin sering mengunjungi Min Jae di toko itu. Mungkin mereka tidak menyadari bahwa selama ini Tiffany memperhatikan mereka dari sofanya, dari balik poni kemerahannya, dari balik tangan pria yang menyentuhnya.

Min Jae sedang menggulung apron ketika Tiffany melangkah ke dapur, setengah tersenyum padanya. “Siapa dia?” tanya wanita itu. Min Jae mengangkat alis. “Dia? Siapa?”

“Teman, sahabat, pacar, atau hanya ‘lelaki kurang dari 24 jam’?”

Lelaki kurang dari 24 jam? Apa itu? Min Jae tidak mengerti istilah konyol itu, dia memilih option lain untuk dijawab. “Eumm…teman?” dia tidak mengerti mengapa nada bicaranya berubah seolah bertanya pada Tiffany yang duduk di meja. Ya, apa Tao temannya? Mereka berpisah selama 11 tahun dan hal terakhir yang diingat Min Jae adalah Zitao berlari ke rumahnya, tampak basah oleh hujan. Zitao kecil yang kedinginan dibalik jaket biru.

“Kau yakin dia temanmu? Kau tahu, dia…tampak garang.” Min Jae tidak bisa menahan tawanya dan dia menggelengkan kepala walaupun dalam hati ada rasa setuju Zitao memang memiliki wajah yang garang dan seram.

“Dia teman masa kecilku.” Balas Min Jae membuka kotak makannya. Kkimbap lagi. Dingin dan aneh.

“Manis.” Tiffany mengangguk dan hendak kembali ke toko. Dia berhenti sejenak menatap kearah Min Jae yang baru saja mengambil secuil kkimbap,

“Eumm, apa kau memakan cokelat madu kemarin?”

Min Jae tidak bergerak. Sial. Tao…

 

 “Tidak.” Jawabnya singkat. Tiffany mengangguk untuk kesekian kalinya dan mengangkat bahu tidak peduli. “Cokelat madu sangat laku belakangan ini, apa para pelanggan…”

Suara wanita itu tidak lagi terdengar oleh Min Jae karena dia telah berjalan jauh dari dapur. Entah harus merasa lega atau marah, tapi Min Jae membiarkan dirinya tertawa. Terbayang wajah Zitao yang tersenyum senang setiap kali mengunyah cokelat madu dan…kkimbap hari ini mempunyai rasa yang sedikit lebih ‘terasa’ di lidahnya.

***

“Aku bosan.”

“Apa?”

“Aku bosan.”

Min Jae menutup pintu toko dibelakangnya selagi Zitao berbicara. Hari ini pria itu memakai jaket kulit berwarna hitam segelap langit malam. Aroma hujan menghantam aspal tercium dari pinggir trotoar dimana Min Jae berjalan menatap tanah.

“Kau bosan? Apa ini tentang cokelat madu?”

Zitao menggeleng. Rambut hitamnya selalu berantakan dan menempel di dahi.

“Bukan. Aku selalu menyukai cokelat madu buatanmu.”

“Lalu apa?” gadis itu menendang kerikil menyingkir dari jalannya. Begitu mudah seperti saat dirinya pergi ke depan ruangan rektor, mengajukan pengunduran diri sebagai mahasiswa ekonomi.

“Membayangkan menjadi dirimu, menjalani hidup sepertimu, membuatku bosan.” Jawabnya santai sambil memasukkan tangan ke kantung jaket.

Min Jae mendengus cukup keras hingga hidungnya sakit. Zitao suka sekali melucu, melontarkan lelucon-lelucon konyol, tapi yang satu ini berbeda. “Jangan membayangkannya kalau begitu.” Balas Min Jae enteng.

“Aku temanmu, sahabatmu. Aku bertemu denganmu setiap hari, tidak mungkin tidak melihat bagaimana hidupmu. Kau tahu,” Zitao menyatukan dua jarinya. “aku menempel dengan hidupmu.”

“Bodoh. Pergilah kalau begitu. Aku juga tidak ingin kau menempel pada hidupku dan meminta cokelat madu setiap hari.” Min Jae mengambil satu langkah ke kanan agar berjauhan dari Zitao. Sangat klise.

“Berhentilah berakting! Kau harus jadi artis, kau tahu itu.” Gurau Zitao mengikutinya bergeser, lengan mereka terkadang bersentuhan saat tertawa. Udara malam begitu dingin, Zitao mengeluarkan satu batang rokok dan menyalakan pemantik di ujung rokok itu. Asap membumbung dari dalam mulutnya dan Min Jae memutar kedua bola matanya.

“Kau harus banyak tersenyum, tertawa, dan merasa bahagia, Min Jae. Aku pernah membacanya di internet, para ahli mengatakan bahwa dengan tersenyum dan banyak tertawa akan memperpanjang umurmu. Yah, sedikit mungkin.” Jelas Zitao, mereka baru saja melewati pemusik jalanan yang bernyanyi sumbang. Jalanan tidak pernah sesepi ini.

“Benarkah?”

Min Jae tidak berharap dia tertarik dengan hal semacam ini. Dua tahun. Dua tahun setengah jika dia beruntung adalah harga mati baginya dan dia benar-benar tidak peduli.

“Tao…” Min Jae berhenti melihat lampu merah untuk pejalan kaki. “Dengar, aku tidak peduli. Aku tidak peduli apakah aku akan berumur panjang atau mereka menambahkan bonus padaku. Apa bedanya, huh? Apa kau tahu apa yang terjadi di masa depan? Saat umurmu menginjak 30 tahun dan dapatkah kau memprediksikan apakah kau akan bahagia atau tidak? Bisakah kau melihat masa depan, Huang Zitao?”

“Wow, wow, wow!” Zitao setengah berlari mengejar Min Jae yang lebih dulu berjalan di depannya. “Kau terlalu serius merespon pembicaraan ini, Jae-ah.” Dia tertawa lepas dan napasnya terengah-engah di tengah malam dingin ini. Zitao tidak menyangka gadis itu dapat berjalan lebih cepat darinya.

Min Jae berhenti di depan sebuah gedung berlantai tiga, kumuh dan tidak terawat. Dia menunggu Zitao menghampirinya, sedikit terengah-engah dan seringai menghiasi wajah.

“Kita berpisah disini.”

“Ini rum—“

“Sampai jumpa, Tao.” Potong Min Jae sebelum Zitao dapat berbicara. Dia berpikir selagi melihat Min Jae masuk ke dalam sana, tersenyum pada penjaga, dan menaiki tangga, tak nampak lagi, kapan terakhir kali Zitao mendengar kata ‘sampai jumpa’? 11 tahun yang lalu?

***

Musim gugur datang lebih cepat dari perkiraan orang-orang. Para pelanggan mengeluhkan cuaca dingin yang menusuk tulang. Min Jae terpaksa berdiri dibelakang etalase pendingin, mendengarkan setiap ocehan mereka sambil menghitung kembalian sebelum memberikannya pada pelanggan dan mencoba tersenyum dan dia teringat perkataan Zitao: banyak tersenyum dapat memperpanjang umur.

Tiffany keluar dari dapur memakai sweater lucu bermotif bunga-bunga. Hari ini tidak ada lelaki yang datang padanya, jadi Tiffany memutuskan untuk membantu Min Jae dibelakang etalase pendingin, walaupun dia tidak terlalu parah dan Min Jae baru mengerti apa itu istilah ‘lelaki kurang dari 24 jam’ ketika Tiffany mengoceh ini itu, menjelaskan berapa laki-laki yang dia temui dalam seminggu.

Satu hal yang dia dapat: Itu bukan ‘lelaki kurang dari 24 jam. Itu lelaki kurang dari 120 menit’.

Namun lelaki yang baru saja datang, membuka pintu hingga lonceng berdenting kencang, jelas bukan ‘lelaki kurang dari 24 jam’. Min Jae mengerutkan dahinya dan berpikir: lelaki kurang dari 8 tahun, menghilang dalam 11 tahun.

Dia tidak menghampiri Min Jae seperti hari-hari kemarin. Dia lebih memilih meja dekat jendela dan membolak-balik menu, seolah ada yang lebih menarik daripada cokelat madu, namun Min Jae berpikir mungkin Zitao menginginkan menu lain, karena terkadang Zitao bosan, mengingat percakapan terakhir mereka membahas tentang kebosanannya dan berakhir menggamtung.

Min Jae mendatanginya, membawa sebuah notes dan pensil. “Apa kau mau pesan sesuatu?”

Zitao tidak langsung menjawab, masih memandangi sekotak cokelat belgia yang tipis di menu. “Aku mau bicara denganmu. Makan siang?”

Min Jae bisa merasakan pandangan tajam dari Tiffany menembus kepalanya. Dia berusaha tersenyum dan memandang keluar jendela, matahari bersinar lemah selagi daun-daun jatuh berguguran. Hari ini Zitao menyisir rambutnya dengan rapi, masih memakai jaket yang sama.

“Bicara? Kau sedang berbicara padaku sekarang.”

“Kau tahu bukan itu yang kumaksud.” Zitao tersenyum padanya, lalu menunjuk gambar cokelat madu. “Aku pesan yang ini dan aku membayarnya.” Ujar Zitao menekankan nada di kata terakhir.

Gadis itu tertawa dan mengambil menu dari meja. “Tentu saja kau membayarnya.

Min Jae kembali ke belakang etalase pendingin, bergabung bersama Tiffany dan tepat seperti yang dia duga, serentetan pertanyaan keluar menyerangnya. “Siapa dia? Teman masa kecilmu? Apa kau yakin? Apa kau yakin dia bukan salah satu anggota mafia?” dan semua pertanyaan itu membuat Min Jae tertawa.

Dari kejauhan Zitao menahan tawa sebisa mungkin dan mengeluarkan ponsel untuk mengalihkan perhatiannya.

Min Jae membereskan semua meja sebelum jam makan siang usai, dia mengeluarkan kotak makan dari dalam tasnya dan berkata, “Tiffany ssi, bolehkah aku makan siang sekarang?” dia sempat melirik kearah luar toko. Seorang pria menghembuskan asap rokok tebal disana.

***

“Dimana orang tuamu?” Min Jae bertanya di suatu siang yang mendung. Zitao melipat kakinya di trotoar dan memasukkan rokok di antara bibirnya.

“Shanghai. Membuat restoran dan hidup bahagia.”

“Kenapa kau ada disini?” Min Jae tidak bermaksud membalikkan pertanyaan bagai boomerang pada Zitao, namun tampaknya pria itu juga tidak menyadarinya.

Zitao mengangkat bahu. “Entahlah. Aku punya kehidupan sendiri.” Ujarnya tidak jelas karena menghisap rokok dalam-dalam. Matanya menyipit ke langit, Min Jae tidak mengerti apa yang dilakukannya, namun lebih baik tidak bertanya lebih jauh, walaupun 11 tahun waktu yang cukup lama untuk melupakan teman masa kecilmu. Min Jae tidak pernah melupakan anak lelaki berkebangsaan Cina yang mendatanginya di hari pertama masuk taman kanak-kanak.

Kini dia tumbuh tinggi, hampir mengenai kerangka pintu bagian atas toko cokelat setiap kali dia datang. Rambutnya masih segelap yang dia ingat, kulit yang tidak putih, juga mata tajam bagai elang. Min Jae memerlukan beberapa detik untuk menyerap semua pemandangan yang ada di hadapannya sebelum berkedip dan memeluk dirinya sendiri.

“Apa kau masih ingat Baekhyun?” tanya Zitao membuang puntung rokok ke selokan. “Anak bertubuh kecil dan sering di bully.”

Ingatannya kembali pada 15 tahun yang lalu. Min Jae tersenyum memandangai telapak tangannya. “Ya, tapi Chanyeol melindunginya dari perang sumpit waktu itu.”

“Dia mengambil helm guru Shin dan memakaikannya pada Baekhyun. Menurutku mereka manis.”

“Apa yang terjadi dengan mereka? Dimana mereka sekarang?” ujar Min Jae setengah melamun. Masih segar dalam ingatannya, tangis Baekhyun berduet dengan suara teriakan Chanyeol yang cukup keras untuk anak seumurnya. Tapi pertanyaan dimana mereka, seperti apa mereka, apa Baekhyun masih sekecil yang dia ingat, apa Chanyeol akan mengoperasi kupingnya yang lebar itu, Min Jae memiliki mereka dalam kepalanya.

“Apa mereka bahagia?” lanjut Min Jae. Zitao membasahi bibirnya yang kering, lalu menjawab pertanyaan gadis itu. “Mungkin ya, mungkin tidak. Kenapa kau ingin tahu tentang mereka?”

“Sebenarnya…aku hanya ingin tahu apakah semua orang bernasib sama sepertiku. Tapi itu tidak mempengaruhiku sama sekali, toh aku tidak peduli pada hidupku—“

“Kenapa kau tidak peduli dengan hidupmu?”

“Kau terlalu banyak bertanya, Huang Zitao.”

“Aku ingin tahu.” Itu bukan sebuah jawaban, permintaan, perintah. Min Jae menatap kedua mata Zitao dan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sana.

Mungkin Min Jae harus lebih banyak membaca buku, mempersiapkan diri agar tidak terjebak oleh pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Zitao. Apa yang mereka lakukan saat ini? Berbicara tentang kehidupan? Seolah mengerti dan dapat memberikan solusi agar hidup dapat terasa lebih baik, lebih manis, lebih indah?

“Karena hidup adalah hidup. Mereka berjalan sendiri jika kau membiarkannya. Jadi tidak ada yang perlu kau benahi. Semuanya akan berjalan dengan sendirinya. Tidakkah kau menyadari itu, Tao?” Min Jae meraih botol minumnya, lalu menuangkan air ke jalan. “Kau lihat, hidup seperti air, mengalir dan mengalir sampai akhirnya botol ini kosong dan kau tahu, kau akan mati, meninggalkan dunia ini.”

Zitao menghentikan tangan Min Jae untuk tidak menuang air itu sampai habis. Tinggal setengah, Zitao menyuruh gadis itu memperhatikan dirinya.

“Hidup memang mengalir seperti air, namun mereka tidak mengalir begitu saja.” Dia menjulurkan tangan ke depan wajah Min Jae. “Tanganmu adalah pengendalinya. Kau menuangkan terlalu banyak, botol akan cepat kosong, namun jika kau menuangkannya sedikit demi sedikit…” Zitao berhenti dan dia memandang Min Jae yang sedang menatap botol itu.

“Maka botol tidak akan cepat kosong. Kau bisa memiliki hidup yang lebih lama.” lanjutnya terdengar seperti bisikan angin.

Min Jae tertawa. “A-astaga, Tao. Apa kau baru saja mengajarkanku tentang memperpanjang kehidupanku? Astaga, apa kau Tuhan, katakan padaku, Tao. Kau menghilang selama 11 tahun untuk belajar menjadi Tuhan?”

“Apa kau percaya adanya Tuhan?”

Min Jae tidak langsung membalas kali ini.

“Yang kutahu…aku hanya punyai waktu dua tahun untuk hidup dan aku tidak takut akan kematian.”

***

Min Jae tidak yakin apakah dia harus tetap berada di dalam apartmentnya dan berbaring di tempat tidur seharian, atau menerobos hujan yang besar ini, pergi bekerja layaknya karyawan yang patuh. Dia meletakkan tangan di dahi. Hangat. Dia tidak berharap jatuh sakit di saat-saat seperti ini, namun belakangan ini dia merasakan kelelahan yang luar biasa atau…

Mungkinkah kepulangan Zitao kembali ke dalam hidupnya membuat gadis ini menjadi lemah dan lemah, dan dia tidak menyukai ide itu. Min Jae masih mengkonsumsi obat-obat, menganggap rasa pahitnya merupakan permen yang melumer dalam mulutnya waktu dia masih kecil. Lagipula ini hanya sebuah peraturan yang dia taati, tanpa mengubah apapun.

 

Dua tahun atau dua tahun setengah jika beruntung.

Min Jae menjadi lebih sensitif dan kesal karena beberapa waktu yang lalu, dia sudah tidak lagi memikirkan hal itu. Setiap hari dia melewatkan satu obat, membuang satu sendok cairan sirup kental ke dalam wastafel, dan menderita sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya pada malam hari.

Semuanya kembali normal ketika pagi menjemput.

Min Jae merasa aneh dan asing melihat motor balap berwarna hitam silver di depan toko. Siapa yang memarkir seenaknya? Tiffany memanas ketika dia kembali dari luar, cuaca cukup dingin namun kulitnya memerah.

“Motor siapa itu? Apa dia tidak membaca larangan tidak boleh parkir di depan toko?!” pekiknya tidak sabar. Untunglah toko baru saja buka dan belum ada pengunjung yang datang menyaksikan adegan ini. “Motor itu tidak bisa dipindahkan! Menggerakkannya saja aku tidak bisa! Astaga, orang bodoh macam apa yang memarkirkan motornya disini! Demi Tuhan, dia bodoh sekali!”

Tiffany menghentak-hentakkan kakinya berjalan ke dapur, tidak mau tahu apa yang ada di depan tokonya. Apakah itu motor milik Brad Pitt, Leonardo Dicaprio, atau Choi Siwon sekali pun. Dia hanya ingin motor itu menghilang dari sana.

Min Jae tidak terkejut Zitao datang sepagi ini, namun dia jantungnya melompat tinggi ketika Zitao berkata, “Itu motorku.”

Min Jae seperti ikan kekurangan udara, dia menatap Zitao dan pintu dapur, Zitao lalu kembali pada pintu dapur. “Apa kau sudah gila! Singkirkan motormu dari sana, Tao!” pekik Min Jae tidak sabar melihat sikap santai yang ditunjukkan Zitao, seolah-olah memarkirkan motor disana adalah hal yang benar.

“Kau bisa membuatku di pecat.” Bisiknya emosi. Namun Zitao hanya mengangkat bahu.

“Tao!”

“Aku akan mengantarmu pulang naik motor.”

“N-naik motor? Apa…maksudku. Tidak.  Aku tidak akan naik motor denganmu. Aku bisa berjalan kaki dari sin—“

“Kalau begitu aku tidak akan memindahkannya dari sana.” Balas Zitao enteng.  Min Jae melotot padanya, “Kau kony—“

Lagi-lagi kalimatnya dipotong. Kali ini berasal dari dalam dapur. Itu suara Tiffany. Jantungnya terasa berhenti. “Min Jae?”

Min Jae melemparkan pandangan memelas pada Zitao, memohon agar lelaki ini dapat tergerak. Atau setidaknya berikanlah dia sedikit kekuatan untuk menggeser motor balap milik Zitao.

“Tao, kumohon—“

“Pulang bersamaku?”

“Min Jae?”

Min Jae menggigit bibir bawahnya dan mengangguk cepat. “Ya, ya, ya, baiklah. Aku pulang bersamamu. Sekarang cepat singkirkan motor itu sebelum Tiffany melihatnya dan memecatku.”

“Oke.” Zitao pun bergerak dari tempatnya dan menyengir. “Kenapa kau sangat takut, Jae-ah?” dia keluar dari toko, menaiki motor itu dan menyalakannya. Min Jae menyangka Zitao akan kembali ke toko setelah beberapa menit di luar. Namun…dia tidak terlihat di toko sampai malam datang, tidak memakan cokelat madu seperti biasanya.

Ini cukup aneh.

Zitao terlihat lagi sekitar pukul 10 malam. Motor balapnya berhenti tepat saat Min Jae mengunci pintu toko, bersiap pulang dan dia tidak bermaksud lari dari janjinya pulang bersama Zitao.

Motor itu menderu mengerikan di bawah gerimis dan langit malam, berselimutkan angin dingin. “Apa kau mau kabur?” tanya Zitao membuka kaca helmnya, memperlihatkan sepasang mata hitamnya yang tajam.

“Tidak.” Jawabnya singkat. Itu memang benar.

“Baik, naiklah.” Zitao menepuk tempat di belakangnya. Min Jae tampak ragu sejenak. Dia bertanya-tanya dari mana Zitao mendapatkan motor balap ini. Napasnya tampak jelas di udara malam. Bergelung tinggi bagaikan asap rokok Zitao. Dia tidak ingat kapan terakhir kali menaiki motor, bukan sebuah pengalaman buruk. Tetap saja ada rasa tidak aman menyelimuti kulitnya.

“Ayo naik.”

Perlahan-lahan, Min Jae menginjak pedal bagian belakang. Kakinya sedikit gemetaran, namun dengan cepat dia menaruh tangan di pundak Zitao agar tubuhnya tidak jatuh. Akhirnya dia dapat duduk dengan tenang di belakang.

Min Jae tidak merasa takut, tidak merasakan apa-apa ketika motor yang Zitao kendarai melaju menembus gelapnya malam. Hanya ada beberapa lampu yang menerangi jalan mereka dan gadis itu merapatkan sweaternya agar dingin tidak membunuhnya. Setidaknya…sampai beberapa tahun kemudian.

Jalanan berkelok-kelok. Min Jae menyadari bahwa Zitao mengambil jalan memutar gedung Bank itu. Tidak masalah, pikirnya. Namun itu menjadi masalah karena mereka baru saja tiba di belokan pertama dan apartement Min Jae sudah terlihat, menjulang di tengah beberapa gedung tinggi yang mengapitnya, suram dan gelap. Zitao tidak berhenti di sana.

Zitao melewati apartment Min Jae dan itu tentu membuat Min Jae bingung. “Tao, kau melewati apartmentku.” Ujarnya memberitahu, namun…entah apa Zitao tidak mendengarnya, atau dia berpura-pura. Pria itu terus mengendarai motor di tengah jalan yang sepi.

“Tao, kau—“

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?” tanya Zitao dari balik helmnya.

“Tidak. Aku tidak mau berjalan-jalan di malam hari. Aku ingin kau kembali ke apartmentku, sekarang juga.” Kata Min Jae sedikit kencang. Rambutnya beterbangan menutupi wajahnya sendiri dan itu menyebalkan. Angin dingin mengusik kulitnya, yang dia inginkan hanyalah Zitao berhenti berpura-pura.

“Apa? Aku tidak dengar!” balas Zitao.

“Aku bilang hentikan motormu sekarang juga!” pekik Min Jae. Lalu sedetik kemudian yang gadis itu lakukan adalah melingkarkan tangannya pada tubuh Zitao, karena pria itu baru saja mengencangkan laju motor. Entah apa yang dia pikirkan, namun suara motor balap itu lebih mengerikan daripada apapun dan jalanan di sampingnya seperti menantang Min Jae. Jika dia jatuh, semuanya akan sangat buruk.

“Tao!!!” teriak Min Jae, merasakan adrenalinnya bergemuruh menggila. Darah berdesir di telinganya. Ini meng—ini sangat menger— Min Jae mempererat pelukannya di tubuh Zitao dan tidak peduli betapa jaket kulit yang dipakai Zitao melekat tidak nyaman di pipinya.

Beberapa detik kemudian, Min Jae merasakan motor meliuk-liuk di tengah jalanan. Dia bersyukur ini sudah malam dan tidak ada mobil atau pun polisi. Dia bersyukur, di saat-saat seperti ini dia masih bisa ‘bersyukur’, setidaknya ini bukan tentang hidupnya, nyawanya.

Motor Zitao melaju sangat kencang, kencang, dan lebih kencang daripada apapun yang pernah Min Jae lihat dalam balapan motor. Sejauh apa mereka pergi? Apa Zitao sedang membawanya kabur pergi ke suatu tempat dan dia terburu-buru seolah takut matahari muncul dan menggagalkan rencananya? Atau apa Zitao membenci dirinya? Dia ingin membunuhnya?

Apa yang akan terjadi jika dia jatuh, kulit lembeknya bertemu dengan aspal dingin dibawah sana? Bagaimana rasanya? Apakah akan mengantarkannya pada kegelapan sementara? Atau selamanya?

 

Kematian.

 

Butuh 10 detik untuk menghentikan Zitao. Min Jae memukul-mukul punggungnya dan cara itu berhasil. Mereka berakhir di depan toko boneka yang sudah tutup. Sebuah boneka tersenyum sedih di balik kaca etalase, memandang mereka aneh.

Min Jae menjauhkan diri dari Zitao. Apa yang terjadi? Mengapa aku disini? Begitu banyak pertanyaan di kepalanya, namun tidak satu pun dapat menjelaskan mengapa tubuhnya berubah menjadi setumpuk jeli, tangan gemetaran menyapu poninya yang basah oleh keringat. Napas Min Jae berkumpul menjadi satu membentuk sebuah awan putih yang cepat menghilang.

Gadis itu mengumpulkan kekuatan sebelum terjatuh duduk di trotoar, kaki lemas dan dia memandang Zitao seakan pria berhelm itu akan membunuhnya. Itu merupakan sebuah pengalaman yang Min Jae yakin, setahun, dua tahun, dua tahun setengah, tidak dapat dia lupakan.

Zitao membuka helmnya, memperlihatkan betapa basah rambutnya. Min Jae mengerutkan dahinya. Pria ini tampak bukan seperti Zitao yang dia kenal beberapa minggu yang lalu atau teman masa kecil yang menghilang 11 tahun lalu dan kembali muncul di tokonya.

Pria itu mendekati Min Jae, menarik lengannya agar berdiri dari dimana dia duduk. Zitao berada sangat dekat sekali hingga Min Jae dapat mencium aroma rokok bercampur parfumnya yang samar-samar. Zitao berbicara, mulutnya bergerak-gerak dan Min Jae ingin mengeluarkan air mata saat itu.

“Bagaimana, Min Jae?” napas Zitao yang hangat menyentuh kulit Min Jae. “Bagaimana rasanya berada dekat dengan kematian? Bagaimana, Min Jae, katakan padaku.”

Min Jae menggeleng. Air mata berkumpul disudut matanya namun tidak jatuh.

Bisikan Zitao menimbulkan sebuah perasaan yang tidak dimengerti, jauh di luar jangkauan Min Jae untuk mengerti, mengapa Zitao bersikap seperti ini? Dia mendorong Min Jae hingga punggung gadis itu bertemu dinding dingin di belakangnya.

“Apa kau takut?”

Min Jae akan dengan cepat mengatakan ‘ya’, jika ini semua tentang kegelapan atau kecoa, tikus, dan tempat sempit.

Ini semua tentang…

Hidupnya.

***

Banyak orang yang berkata bahwa memakan cokelat akan menghilangkan stress. Menurut sebuah penelitian di Australia yang disiarkan, sebungkus coklat dapat menghilangkan stres, dibandingkan secangkir teh. Walau begitu, Min Jae tidak pernah sekali pun menyentuh cokelat di toko. Aroma wanginya begitu menusuk hidungnya setiap hari dan Min Jae tidak menyukai hal itu.

Zitao…

Sesungguhnya dia tidak ingin menyebut, mengingat, membayangkan segala sesuatu tentang Zitao. Hari ini pria bermata gelap itu tidak terlihat, bahkan saat makan siang, Min Jae tidak bertemu dengannya dan hati kecilnya bertanya-tanya dimana Zitao.

Mungkin Zitao telah menghilang. Dia selalu begitu jika melakukan hal yang buruk pada Min Jae, pergi dan tidak pernah meminta maaf, lalu keesokan harinya mereka akan bermain seolah tidak ada kesalahan yang pernah terjadi sebelumnya. Min Jae membiarkan Zitao yang seperti itu, sampai hari dimana Zitao benar-benar pergi.

Hari ini Tiffany bertemu dengan seorang pria bermuka imut. Namanya Xi Luhan. Hidungnya terlalu kecil untuk wajah itu, duduk memangku Tiffany yang menciumi wajahnya, tertawa ceria setiap kali Luhan membalas perbuatannya.

Waktu cepat berlalu hari itu. Min Jae ragu bahwa sosok yang berdiri di depan tiang adalah Zitao setelah Min Jae mengunci pintu toko. Dia berjalan cukup cepat melewati sosok di bawah remang-remang. Tidak peduli siapa dia, Min Jae berjalan seakan tidak ada yang salah. Dia tidak diikuti selayaknya film-film pembunuhan, Min Jae mencapai apartmentnya pukul 10.14 malam, dan tidur pukul 11.00.

Malam itu dia bermimpi aneh.

Min Jae ingat dia tidak pernah membiarkan tempat dia berada dalam keadaan gelap. Namun disana semuanya gelap. Hanya ada satu lilin kecil yang hampir padam di tangannya. Tidak ada siapa-siapa, hanya dia seorang di tempat yang gelap dan Min Jae sangat ketakutan.

Ada suara langkah dari ujung ruangan. Suaranya tidak mendekat, malah semakin menjauh lalu menghilang, meninggalkan Min Jae kembali sendiri bersama lilinnya. Kemudian angin meniup mati lilin.

 

Apa itu rasanya…

 

Kematian?

 

***

“Hei, Jae-ah.” Panggil Zitao dari belakang, mengikuti gadis ini menerobos kerumunan orang yang hendak pergi bekerja. “Hei, tunggu aku, Jae-ah.” Akhirnya Zitao dapat berada di sampingnya karena lampu berubah merah untuk pejalan kaki.

“Hei, Jae-ah. Ada apa denganmu?” tanya Zitao bersandar pada tiang lampu. Haruskah dia bertanya seperti itu? Setelah apa yang dia perbuat! Min Jae memanas, melihat ke arah lain, apa saja asalkan bukan Zitao yang dilihatnya. Pria itu terus mengoceh tanpa henti, sampai akhirnya Min Jae berjalan menyeberangi jalan sebelum lampu berubah warna, dia hampir saja ditabrak oleh pengendara motor yang berteriak, namun Min Jae dapat dengan selamat sampai di seberang jalan.

Zitao menyusul gadis itu dan menggapai lengan Min Jae sebelum dia berjalan secepat tokoh flash.

“Wow, wow, wow, Jae-ah. Kau sangat terburu-buru. Ada apa? Apa toko buka lebih cepat daripada biasanya? Hei…” Zitao melirik jam tangan dibalik jaket abu-abunya. “Ini masih pukul setengah 7. Bukankah toko mulai buka pukul 8?”

Tidak ada jawaban. Min Jae menatapnya seakan dia bukan orang yang dikenal. Zitao melepaskan genggamannya dari lengan Min Jae, menghela napas ringan.

“Apa ini karena dua hari yang lalu?”

Lagi-lagi Min Jae tidak menjawab. Zitao mengangguk paham, dia menatap gadis itu lewat poninya yang sudah memanjang dari pertama kali mereka bertemu. Mungkin ini bukan waktu yang tepat, berdiri di depan toko es krim kecil dan mengobrol seakan mereka-lah yang mempunyai jalanan ini.

“Aku tidak akan meminta maaf.”  Zitao mengumumkan setelah Min Jae berjalan meninggalkannya.

Dia berhenti, setengah menoleh.

“Aku tidak akan meminta maaf karena telah berbuat seperti itu. Kau pantas mendapatkannya, Min Jae.” Lanjut Zitao.

Lalu Min Jae kembali berjalan seakan kalimat itu hanyalah bisikan angin lalu yang tidak berarti.

***

 

Dia mengacuhkanku.

 

Zitao bisa merasakannya. Dia tidak membeli sekotak cokelat madu seperti biasanya. Dia hanya duduk di depan trotoar, sesekali melongok ke dalam toko, menemukan Min Jae sedang melamun di balik etalase pendingin. Dia tetap menunggu disana hingga langit cukup gelap untuk mata melihat.

“Hei.” Sapa Zitao dengan rokok di antara bibirnya.

“Hai. Apa yang kau lakukan disini?” ada kemajuan. Min Jae mau menjawabnya. Zitao menghisap rokok terakhir dalam-dalam sebelum berjalan bersama Min Jae.

“Masih marah?”

Min Jae tidak menjawab yang satu ini.

“Aku tidak akan minta maaf.”

“Aku tahu. Kapan kau pernah minta maaf padaku?” suara Min Jae terdengar sangat lembut ditelinga Zitao. Selembut madu dalam cokelat madu yang dia beli. Zitao pun tertawa kencang sambil memegangi perutnya. Dia merangkul Min Jae.

“Oke, oke, mungkin suatu hari aku akan minta maaf padamu. Tapi tidak hari ini.” Jelasnya.

Min Jae tidak peduli kapan, dimana, bagaimana, seorang Huang Zitao akan meminta maaf padanya. Tapi satu yang ada dalam pikirannya saat ini adalah mimpi aneh yang muncul semalam.

“Tao, kau…pernah bermimpi…maksudku, bermimpi apa saja. Pernahkah?” ujar Min Jae ragu sejenak, namun memikirkan bahwa Zitao adalah satu-satunya orang yang bisa dia ajak bicara, dia tentu akan tetap bercerita.

Zitao mengangguk pelan. “Tentu. Tentu aku pernah bermimpi. Mimpi indah, mimpi buruk, mimpi…kebanyakan aku lupa apa mimpiku di pagi hari. Jadi aku tidak terlalu mengingatnya. Kenapa?”

Ini berbeda dari apa yang dirasakan Min Jae. Mimpi itu begitu nyata terjadi. Panasnya lelehan lilin, kegelapan yang mencekam, dan suara langkah kaki, semuanya terasa nyata dan Min Jae terbangun dari tidurnya, keringat membasahi seluruh tubuhnya dan lampu kamar menyala terang.

Min Jae menceritakannya, namun Zitao hanya bisa mempererat rangkulannya sambil berkata, “Itu hanya mimpi. Tidak ada yang perlu kau takutkan.”

“Aku…” Min Jae membuka mulut untuk berbicara, lalu dia menyimpan kembali kata-katanya. Dia baru menyadari Zitao tumbuh lebih tinggi dari yang pernah dia ingat. Sahabat lama telah kembali dan…bukankah itu bagus?

“Apa yang kau makan dalam 11 tahun? Kau seperti raksasa.”

***

Min Jae terbangun di tengah malam. Dadanya sesak dan dia segera meludahkan cairan asin di mulutnya.

 

Darah.

 

Min Jae mengambil napas dalam-dalam dan meraba-raba obat di meja. Ini pasti karena aku tidak meminum obat selama seminggu.  Dia menelan sebutir pil, sesendok obat sirup, dan segelas air. Napasnya berat, Min Jae melirik jam. Pukul 3 pagi. Kepalanya sangat pusing, yang dia inginkan hanyalah berbaring, namun dia malah pergi ke apotik.

Min Jae membeli beberapa obat yang sudah habis. Dia tidak menunggu sampai di apartmentnya, obat-obatan itu langsung dia minum dalam perjalanan pulang. Dirinya pun bertanya-tanya.

Mengapa tiba-tiba dia peduli dengan hidupnya?

Mengapa tiba-tiba dia peduli tentang kesehatannya? Meminum obat sebagaimana dokter menganjurkannya.

Mengapa tiba-tiba dia tidak ingin tinggal di dalam kegelapan dan yang terbayang detik ini adalah wajah Zitao beserta rokok diantara bibirnya?

Mengapa kata ‘aku tidak peduli’ tiba-tiba menghilang?

Min Jae duduk di lobby apartmentnya yang kumuh. Untuk pertama kalinya, dia tidak hanya tersenyum pada penjaga disana, tetapi juga mengobrol, berinteraksi seperti tahun-tahun kemarin, dimana Min Jae bercengkrama bersaka teman-temannya di kuliah, mengobrol dengan para dosen, bergosip satu sama lain, memperhatikan laki-laki yang disukainya.

Apakah…

Min Jae kembali hidup?

***

“Jae-ah, kau ada acara Sabtu malam minggu ini?” tanya Zitao di suatu sore yang kelabu.

Tiffany sedang keluar. Pelanggan tentu sedang pergi entah kemana meninggalkan Zitao dan Min Jae berdua dalam toko itu.

“Eumm…apa aku terlihat seperti artis yang mempunyai banyak acara?” candanya.

“Aku serius.” keluh Zitao.

Min Jae tertawa melihat tingkahnya. Hari ini Zitao menyisir rambutnya ke belakang, tanpa menimbulkan kesan ‘dewasa’ padanya. Dia masih terlihat seperti Zitao 19 tahun yang Min Jae kenal.

“Memang ada apa? Kau tahu aku tidak akan pernah punya acara apa-apa.” Balas gadis itu.

“Eumm…maukah…” Zitao menautkan jemarinya, dia menunduk dan itu membuat Min Jae penasaran. “Pergilah bersamaku ke taman bermain Sabtu malam minggu ini.”

Itu bukan pertanyaan. Bukan sebuah tawaran. Namun itu adalah sebuah perintah. Zitao berbicara cepat saat mengajaknya. Min Jae tidak tahu apa alasan dibalik rona merah di pipi laki-laki itu.

“Apa…ini kencan?”

“Tidak tahu. Kita teman baik, sahabat. Entahlah apa ini kencan atau bukan, aku tidak peduli, aku hanya ingin mengajakmu kesana.” Benar! Min Jae kemudian menyesal menanyakan pertanyaan konyol itu.  Dia menerima ajakan itu dan memberikan segelas susu hangat kepada Zitao. Mereka menghabiskan sore dengan saling berbicara, mengingat  masa kecil mereka.

Min Jae merasa lebih ‘hidup’ dari sebelumnya.

***

Ini pertama kalinya, dari sekian banyak waktu yang dia habiskan di toko cokelat, kembali mengunjungi taman bermain yang penuh sesak orang-orang lalu lalang, tertawa, dan berteriak.

Zitao menghabiskan rokoknya dan membuang ke tempat sampah. Dia menatap Min Jae dari atas sampai bawah. “Kau mengenakan rok kesini? Oh ayolah, Jae-ah. Kita akan bermain roller coaster, bermain spinning plate, dan…dan…dan kau berpakaian seperti ini? Bagaimana bisa—“

“Siapa bilang aku ingin bermain semua permainan itu?” potong Min Jae, masih menikmati pemandangan di sekelilingnya.

“Lalu apa yang kita lakukan disini jika tidak menaiki semua itu? Kau payah, Min Jae. Kau tidak punya riwayat penyakit jantung kan? Itu tidak menjadi masalah kalau begitu.”

“Aku sakit sirosis hati.”

Kalimat itu menghentikan ocehan Zitao. Dia berhenti bicara dan tidak ada kata maaf. Ya, seperti biasa.

Min Jae berjalan ke salah satu stan penjual minum dan membeli segelas milk tea kesukaannya. Dia menyodorkan sedotan itu pada Zitao. Meskipun sudah menghabiskan setengah gelas, Zitao masih saja menggerutu di belakang Min Jae.

“Kau payah, Min Jae. Kau payah!”

Tidak semuanya gagal. Min Jae membeli balon berbentuk hello kitty dan Zitao memegang balon doraemon. Mereka menaiki komidi putar yang besar, mereka berada di posisi yang cukup tinggi untuk melihat kota ini dari atas, berkelap-kelip seperti bintang.

“Itu toko cokelat!” Zitao menunjuk salah satu bangunan dibawah papan reklame yang terang benderang. “Dan itu apartmentmu.”

“Kenapa kau begitu yakin?” ujar Min Jae menggigit gulalinya. Zitao mencomot sebagian darinya dan duduk santai menatap sekelilingnya.

“Apa kita benar-benar berkencan? Semua orang disini adalah…pasangan.” Zitao bergerak tidak nyaman di kursinya, namun matanya tidak salah.

Min Jae melihat beberapa pasangan berpelukan, menempel bagai cokelat dan madu, bahkan pasangan diseberang sana sedang berciuman, mungkin Zitao akan menutup mata jika dia duduk bersama Min Jae saat itu.

“Menurutmu?” tanya Min Jae.

“Kita…teman.”

“Kalau begitu bukan. Kencan hanya untuk sepasang kekasih. Kau mengerti? Astaga, Tao, berapa umurmu? 5 tahun? Kenapa kau masih mempertanyakan hal seperti ini. Bodoh.” Min Jae melipat tangan di dada.

Mereka kembali menginjak tanah. Zitao sangat diam sepanjang waktu. Dia memakan semua yang ditawarkan Min Jae layaknya anak kecil. Dia mengikuti kemana pun gadis itu pergi dan pada akhirnya, mereka berdiri di dalam box, bersiap berfoto.

Zitao sangat senang memakai topi panda di kepalanya, sedangkan Min Jae lebih memilih bando tanduk rusa untuk dirinya. Mereka bersiap, berpose, dan itu membawa kembali sejumlah kenangan manis antara Min Jae dan teman-teman kampusnya. Mungkin seharusnya dia lebih banyak melakukan hal ini.

1…2…3

Mesin menghitung dan memotret diri mereka. Zitao melingkarkan tangannya di bahu Min Jae lalu kembali tersenyum. Mereka melakukan bbuing bbuing yang lucu juga konyol. Empat kali berfoto, kini adalah kesempatan terakhir mereka.

“Ayo, bergaya, bergaya.” Ujar Min Jae bersemangat mengatur gaya. Namun…Zitao hanya diam. Oleh karena itu, Min Jae berhenti bergerak. Dia menatap bingung Zitao.

“Ada apa? Ayo, berpose.” Ajak Min Jae. Zitao tidak bergeming.

Lalu…

Zitao meletakkan kedua tangannya di leher Min Jae. Rasa hangat menjalar di kulit pucat gadis itu, berharap tangan itu dapat menenangkannya setiap malam, dimana Min Jae kesulitan untuk tidur.

1…2…3

Zitao menciumnya.

 

Ini bukan kencan. Kencan bukan untuk sahabat, melainkan sepasang kekasih.

 

          Lalu apa ini?

Tidak ada yang menggerakan bibir. Min Jae menarik diri dari Zitao. Ini jelas merupakan ciuman pertamanya dan Zitao memilikinya di kedua belah bibir itu. Sahabatnya sendiri yang mencium dirinya, menimbulkan sebuah perasaan yang Min Jae tidak yakin apa itu.

Gadis itu menghapus Zitao dari sana dengan punggung tangannya. Kemudian dia berlari keluar dari box, meninggalkan Zitao. Tidak. Dia tidak mendengar suara Zitao memanggilnya.

Malam itu Min Jae menyikat giginya beberapa kali, berkumur, dan mandi di bawah pancuran air hangat. Mungkin aroma Zitao, antara rokok dan parfum yang setengah luntur dapat menghilang, namun ada ‘rasa’ Zitao yang tertinggal disana.

Dia belum pernah merasakan sensasi sebesar ini. Malam terasa lebih panjang baginya. Mungkin Tuhan telah menambahkan beberapa jam, bukan 24 jam, melainkan 25 jam, 26 jam, 27 jam!

Untuk pertama kalinya dalam hidup Min Jae, dia berdoa pada Tuhan, mungkin dokter boleh menambahkan beberapa tahun ke dalam hidupnya. Bukan dua atau dua setengah tahun, melainkan tiga, empat, lima tahun?

Atau selamanya.

***

Zitao datang pagi-pagi sekali. Dia duduk di trotoar, menunggu Min Jae datang dengan sweater dan rok yang melambai tertiup angin. Min Jae lebih bingung darinya karena yang ada diantara bibir Zitao bukanlah rokok namun permen lollipop.

“Kenapa pagi-pagi sekal—“

“Maaf.”

Min Jae menjatuhkan kunci pintu toko. Dia tidak segera mengambilnya, dia tidak bergerak mendengar Zitao mengatakan kata itu. Kata yang dia kira tidak akan pernah didengar.

Gadis itu menoleh, melihat Zitao berdiri disana. “Maaf?”

Zitao mengangguk. “Maaf menciummu semalam.”

Min Jae ingin tertawa. Apa ini? Meminta maaf karena telah menciumku, sebuah ciuman yang tidak dapat membunuhku, lalu apa yang dia perbuat kemarin-kemarin? Hampir membunuhku dengan mengendarai motor seperti itu!

“Lupakan.” Ucap Min Jae mulai mengeluarkan bahan-bahan cokelat dari dalam lemari pendingin.

Zitao tidak membalas, membantah atau menceracau seperti biasanya. Dia hanya diam dan memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu. Lalu tanpa disadari, Zitao telah menghilang dari sana. Min Jae merasakan ada sesuatu yang janggal, namun dia tidak terlalu memikirkannya.

***

Min Jae salah.

Dia sangat salah dan terlalu banyak kesalahan yang dia perbuat.

 

Meninggalkan rumah dan berhenti kuliah.

Salah.

Bekerja di toko cokelat milik seorang wanita penggoda.

Salah.

Membuang satu pil setiap harinya, membuang satu sendok obat sirup ke dalam wastafel.

Salah.

Bertemu dengan teman lama, Huang Zitao dan membiarkannya memakan cokelat madu secara gratis.

Salah.

Menerima ajakan pulang dari Zitao menaiki motor.

Salah.

Menerima ajakan Zitao ke taman bermain.

Salah.

Menganggap ciuman dari seorang Huang Zitao tidak akan membunuhnya.

SALAH BESAR.

Min Jae menghabiskan beberapa hari dengan melamun di belakang etalase pendingin. Semua yang dia lakukan salah beberapa hari belakangan ini. Dia lupa memasukkan madu ke dalam cokelat, dia mencampurkan air terlalu banyak ke dalam bubuk cokelatnya, dan tak jarang pelanggan memprotes dirinya karena dia memberikan kembalian dalam jumlah yang salah.

Zitao menghilang dalam dua minggu. Tentu itu sebuah kejanggalan yang dia rasakan. Min Jae tidak bermaksud meninggalkan Zitao waktu itu, dia juga berkata dengan setengah hati, menyuruhnya untuk melupakan, karena saat ini dialah satu-satunya orang yang tidak bisa melupakan kejadian itu.

Zitao tidak pernah menyentuhnya seperti itu. Rasa hangat yang menjalar merayapi kulitnya atau…atau bibir lembab yang menempel padanya.

Sejauh yang Min Jae tahu sampai saat ini, dia tidak punya penyakit selain sirosis hati yang memvonis hidupnya. Tapi mengapa jantungnya sering berdetak tak karuan. Min Jae tidak bisa membiarkannya begitu saja.

Belakangan ini dia meminum obat dengan teratur. Tapi tidak ada efek yang terasa. Min Jae sering terbangun di tengah malam, meludahkan darah dari mulutnya. Rasa asin dan aneh yang membuatnya mual. Apakah dia salah meminum obat? Apakah dia perlu pergi ke dokter? Mengapa dia begitu mencemaskan hidupnya?

Min Jae ingin kembali seperti dulu, tidak peduli. Dia rindu kata ‘tidak peduli’ merambah kehidupannya, namun semuanya semakin sulit dilakukan saat bertemu Zitao. Dia ingin menyalahkan Zitao, seandainya dia tidak mempedulikan Zitao waktu itu, mungkin hal ini tidak perlu terjadi.

Kini…

Tanpa Zitao disampingnya. Min Jae merasa ketakutan, seperti kegelapan meliputinya.

Kemudian Zitao kembali muncul di hadapannya. Meminta cokelat madu, tersenyum, dan matanya yang gelap menatap ke dalam dirinya. Ini semua salah, salah, salah.

“Kau diam sekali hari ini.” Komentar Zitao menjilat ibu jarinya yang berlumuran madu.

“Kemana kau selama dua minggu ini?” tanya Min Jae tidak menjawab pertanyaan Zitao.

Pria itu bersandar pada dinding dengan tangan dibalik kepala. “Kau merindukanku?”

“Aku serius.”

“Oke, oke. Eumm…aku pergi mengunjungi teman.”

“Teman? Kau tidak pernah bercerita apapun tentang temanmu.” Min Jae menaikkan sebelah alisnya.

“Aku punya. Tentu punya. Dia tinggal jauh dari sini. Namanya Victoria dan dia sedang sakit. Jadi…aku menjenguknya.”

Sakit? Aku jug—

“Pasti sakitnya parah, sampai kau mengunjunginya dalam dua minggu ini.” Min Jae tidak bermaksud apa-apa. Dia hanya sedang memikirkan sebarapa parah penyakit ‘teman’ Zitao itu. Apakah lebih parah dari apa yang dimilikinya.

“Tidak juga,” Zitao meminum air minum milik Min Jae. “Hanya flu dan batuk.” Lalu dia mengeluarkan permen lollipop warna merah.

Min Jae mendengus. “Flu. Sangat parah.”

“Apa?”

“Tidak. Hei—“ Min Jae mengambil permen dari mulut Zitao dan tertawa kering. Apa Zitao sedang melucu? Ini…permen? “Dimana rokokmu? Apa ini rokok versi baru? Manis dan berwarna merah?” gadis itu kembali tertawa sembari Zitao mengambil permen dari tangannya.

“Kau pernah bilang suatu hari rokok dapat membunuhku. Yah, aku tidak mau mati muda, jadi kuputuskan untuk mencoba cara hidup sehat. Kau mau, aku punya yang warna ungu.” Zitao merogoh saku celananya, namun berhenti setelah Min Jae menggelengkan kepala.

“Bagus kalau begitu.” Gumam Min Jae.

Ada jeda yang cukup panjang diantara mereka. Suara jilatan dan emutan pada permen Zitao yang mendominasi suasana. Ada suara kucing, gemersik di balik tong sampah, juga lalat yang berdengung.

“Bagaimana denganmu?”

Tidak, tidak, tidak. Jangan bertanya tentang hal itu lagi.

“Masih tidak peduli—“

“Jangan bicarakan ini lagi.”

“Tapi, Jae-ah. Oh ayolah…” Zitao membuang wajah. Dia kesal, dia marah, dia benci melihat Min Jae harus selalu menolak membicarakan tentang hidupnya yang menyedihkan. Tidak tahukah dia, Zitao sangat, sangat peduli?

“Sampai kapan kau mau seperti in–”

“Dengarkan aku, Tao!” Min Jae memotong kalimatnya. Kini dia beranjak dari tempat duduknya, menatap Zitao dengan mata yang berkaca-kaca. “Mudah bagimu untuk memperpanjang umur, jika itu yang kau maksud saat ini. Ya, berhenti merokok dan jalani cara hidup yang sehat, memakan buah-buahan, sayur, dan segala macam vitamin untuk tubuhmu. Wow, kau tahu, itu sangat mudah dilakukan dan abracadabra, kau punya waktu seratus tahun untuk hidup. Tapi bagaimana denganku, Tao?”

Zitao berhenti menjilat permennya. Dia menunduk, menelan ludah dan lidah yang manis terasa pahit seketika itu juga.

“Aku sakit. Aku sakit, Huang Zitao. Aku hanyalah gadis biasa sebelum mereka memvonis hidupku. Aku gadis normal yang mempunyai hidup bahagia. Kau kira mudah menerima kenyataan, heh? Kau kira ini semua mudah kuterima? Tidak, Tao! Tidak!”

Mungkin Min Jae tidak menyebutkan betapa pedulinya dia pada hidupnya. Betapa pentingnya  setiap menit yang dia habiskan, berharap dia bisa membelah tubuhnya menjadi beberapa bagian, agar dia dapat merasakan ini dan itu. Pergi kuliah, pergi bersama teman-teman, bersama keluarga di rumah, belajar, bekerja, dalam waktu yang sama hingga tidak ada satu momen atau detik pun yang dia lewati.

Namun saat semuanya tidak mungkin dia lakukan, apa yang bisa dia pikirkan lagi? Dia ingin terjebak dalam satu waktu dan tidak pernah bergerak kemana-mana. Dia ingin terjebak bersama…Zitao selamanya, dan tidak akan pernah mencapai dua tahun atau dua setengah tahun itu dalam hidupnya.

Min Jae berlari meninggalkan Zitao untuk kesekian kalinya. Dan Min Jae tidak berharap Zitao yang menghilang dari hidupnya, mungkin dirinya sendiri yang akan menghilang seiring berjalannya waktu.

***

Min Jae tidak tahu apa yang terjadi. Mimpi buruk itu sering mendatanginya dan dia akan terbangun di pukul tiga yang dingin. Dia memuntahkan cairan berwarna gelap ke tempat tidurnya, ke dalam kloset, wastafel, terkadang dia merasa bayangan yang ada di cermin bukanlah dirinya. Kulitnya mulai berwarna  kuning pucat, bibir yang tidak berwarna merah segar, atau napasnya yang mulai melemah.

Gadis itu duduk di balkon, menengadah ke langit, memandang kedua telapaknya. Dia ingat saat masih kecil, ayahnya sering memberitahu bahwa dirinya adalah satu dari sejumlah bintang kecil di langit. Dia berkata bahwa Sang Pencipta terus memperhatikan bintang-bintang itu dan tidak akan membiarkan satu pun dari mereka padam.

Min Jae tertawa.

Mungkin Sang Pencipta telah melewatkannya. Min Jae menulis di telapak tangannya, sebuah pesan kecil untuk Sang Pencipta.

 

“Kau tahu…ada satu bintang yang padam.”

 

***

Min Jae berharap dapat menyembunyikan semua perubahan yang ada padanya. Tiffany mulai bertanya tentang warna kulitnya, atau betapa kurus tubuhnya, juga rambut yang kusam. Min Jae hanya bisa tersenyum, berkata dia tidak merasa sehat belakangan ini. Lalu Tiffany memberinya waktu untuk istirahat. Tapi dia berpikir  setelah itu, siapa yang akan mengurus toko, mungkin dia bisa.

Min Jae tetap bekerja selayaknya yang dia lakukan selama ini. Dia memasukkan cokelat batang ke dalam panci panas, melelehkannya, mencampurkannya dengan bahan-bahan lain seperti pewarna, susu, dan madu. Betapa manis mereka terasa di lidah Min Jae. Dia tidak menyadari bahwa selama ini cokelat yang dia buat selalu terasa enak.

Gadis itu berdiri di belakang etalase pendingin, setengah melamun ketika Zitao datang. Dia tampak berbeda, kemana jaket kulit yang biasa dia pakai? Sepatu boots hitam dan celana jeans hitam yang lusuh?

Hari ini Zitao melangkah masuk dengan penampilan yang sangat bukan dirinya. Atasan lengan panjang berwarna biru, rambut rapi, jeans biru gelap, dan sneakers putih. Dia tersenyum pada gadis di belakang etalase pendingin, menyesalkan beberapa tahun yang hilang dan tidak melihat bagaimana gadis ini tersenyum, memandanganya di balik poni lurusnya, atau betapa manis wajahnya jika dia banyak tersenyum juga tertawa.

Mereka tidak berbicara hingga hari cukup gelap. Tiffany pulang, semua pelanggan menghilang bagai kabut di pagi hari. Min Jae membereskan toko, dengan Zitao duduk di meja pengunjung, membaca majalah sepanjang hari tanpa merasa bosan. Min Jae pergi ke dapur, merasakan sakit yang menyerang bagian kanan atas perutnya.

Dia berlari ke wastafel disana, memuntahkan cairan gelap yang terasa asin sekaligus pahit di mulutnya. Air mengalir menghapus semua itu dan Min Jae merasa lebih pusing dari apa yang pernah dia rasakan. Dia terbatuk, menyeka mulutnya sebelum menemukan bayangan Zitao di cermin, memandangnya dalam ekspresi kosong.

Min Jae tersenyum sedih dan mengajak Zitao keluar dari toko. Mereka pulang menggunakan motor. Min Jae tidak perlu takut membayangkan pengalaman terakhir di atas motor ini, karena dia memeluk Zitao dengan sepenuh hati.

Betapa lembut dan hangat kain yang menempel pada pipinya, dan tanpa sadar Min Jae meneteskan air mata. Langit tidak terlalu bersih sehingga Min Jae tidak dapat melihat bintang-bintang di atas sana.

Gadis itu tidak bermaksud mengatakan bahwa dia takut, dia ingin seseorang menemaninya melewati malam ini. Zitao menggenggam tangannya sampai di dalam apartment. Min Jae tidak keberatan Zitao menghabiskan ruang di tempat tidur. Min Jae bergelung di sampingnya, saling menatap dan merasakan napas satu sama lain.

Berapa harga yang harus kubayar untuk berada dalam posisi ini selamanya? Berapa tumpuk uang yang harus kuberikan untuk merasakan tangan Tao di pipiku, menghapus air mata, dan menggumamkan kata-kata yang mengantarku tidur?

          Berapa?

 

          Katakan berapa?

 

Berapa banyak bintang dilangit yang kehilangan cahayanya dan terlupakan? Berapa banyak tahun yang terlewatkan, hingga dia baru menyadari bahwa melihat Zitao tidur, wajahnya yang tersirami sinar rembulan adalah hal terfavorit baginya?

***

Sikap Min Jae pada Zitao semakin dingin setiap harinya, sedingin lemari pendingin, juga musim gugur yang menggigit tulang.

Min Jae mengacuhkannya, tidak berbicara sampai toko tutup, mulai berharap dia tidak akan melihat Zitao berada di sekelilingnya esok hari. Tapi dia kemudian kembali menemukan pria itu, lagi dan lagi. Melihatnya membuat Min Jae ingin menjambak rambutnya sendiri, merobek kulitnya, memohon agar 11 tahun itu kembali datang dan dia tidak perlu mengenal Zitao, atau dia perlu mengulang masa taman kanak-kanaknya. Dia tidak akan pernah berkenalan dengan seorang anak kebangsaan Cina.

Zitao tidak mengulangi kejadian itu.

Ya, dia menempel pada hidup Min Jae.

Pada satu sore yang mendung, Min Jae mengemas bajunya ke dalam tas yang cukup besar. Dia toh tidak mempunyai banyak baju, jadi itu memudahkannya untuk pergi dari apartmentnya yang bercat abu-abu membosankan. Dia mengambil seluruhnya, menelepon untuk mendapatkan informasi tentang keberangkatan bus ke Daegu. Entah siapa yang tinggal disana, dia hanya ingin pergi dari sini.

Menghapus Zitao, tepatnya.

Min Jae mengambil napas dalam-dalam sebelum masuk ke dalam bus besar itu. Dia menyeka air mata yang hampir jatuh, namun air mata mengalir lebih banyak sepanjang perjalanan.

Dia memejamkan mata, masih melihat wajah Zitao disana dan betapa ironisnya gadis itu. Dia tertawa karena kini dia yang menghilang dari kehidupan Zitao. Namun dia tidak yakin Zitao benar-benar menganggapnya ada di dalam hidup pria itu. Tidak sepertinya, yang selalu menganggap Zitao ada dalam hidupnya meskipun dia masih berumur 8 tahun saat itu, dan ketika Zitao pergi, pria itu membawa sebagian kepingan dirinya.

Min Jae sedang mencoba tidur ketika bus berhenti mendadak, hampir melemparnya ke kaca depan, jika dia tidak segera berpegangan pada lengan kursi.

Suara ketakutan dan protes bercampur menjadi satu. Mereka mencari alasan di balik itu, namun Min Jae tidak perlu bertanya karena disana…

Zitao dan motor balapnya berdiri di depan bus. Dia baru saja menghadang bus ini.

Pria bermata tajam itu menatap lurus kearah Min Jae, dia berjalan ke bus, membuka pintunya dan menarik lengan Min Jae beserta tas besarnya. Ada suara ribut di belakang mereka, Zitao tidak mempedulikannya. Dia menyuruh bus untuk melewati mereka, melanjutkan perjalanan tanpa Min Jae. Meninggalkan asap kotor menyapu wajah mereka.

“Apa yang sedang kau lakukan, Min Jae?” desis Zitao. Mereka cukup dekat.

Min Jae membuang wajahnya, namun Zitao menangkup wajahnya agar kembali menghadap dirinya.

“Tatap aku, Min Jae. Kau kira kau bisa pergi begitu saja, heh? Kau tahu aku bisa menemukan dirimu dimana saja kau berada.”

Min Jae pun meledak. Dia mendorong Zitao cukup kuat dan pria itu berjauhan dengannya.

“Berhenti! Berhenti menceramahiku tentang hidup, Huang Zitao! Apa yang kau tahu tentang diriku? Tidak ada, tidak ada!”

“Ta—“

“Berhenti disana, Huang Zitao. Aku membencimu. Mengapa kau kembali dalam hidupku? 11 tahun kau menghilang dan kini kau kembali membawa kepingan hidupku yang sudah lama pergi dan kau kira kau bisa menyatukan itu semua kembali? Aku sudah rusak, dan kau kira kau bisa memperbaikinya?” sembur Min Jae di tengah jalan. Suaranya memenuhi jalanan sepi itu.

“Aku membencimu, Tao. Aku sangat membencimu. Kau tahu kenapa?” air mata jatuh membasahi sweater kuningnya. “Karena bersamamu mengingatkan betapa singkatnya hidupku, betapa detik-detik yang kumiliki terasa berharga dan aku tidak rela melewatkannya tanpamu, walau hanya sedetik saja. Aku ingin bersamamu selamanya, Tao. Aku ingin hidup selamanya, tidak hanya dua atau dua setengah tahun, atau mungkin aku mempunyai waktu yang lebih singkat dari yang pernah kuketahui.”

Dia berhenti sejenak untuk menelan ludah, menghilangkan rasa sakit pada tenggorokannya.

“Bersamamu mengingatkanku betapa dekatnya diriku dengan kematian, aku mulai menghitung hari sejak bertemu denganmu. Aku membencinya, Tao. Aku membencinya.”

“Lalu kau pikir dengan pergi dariku akan membuatmu lebih baik?”

Min Jae menutup wajahnya. “Aku tidak tahu. Aku tidak tahu.”

Zitao tidak memerlukan beberapa detik atau menit atau jam untuk mengerti apa yang dikatakan Min Jae. Dia memeluk gadis itu, teman masa kecil, sahabat…cinta dalam hidupnya. Hal teraneh ketika seseorang membencinya namun juga ingin bersamanya. Dua hal yang bertolak belakang dan memberikan alasan jelas mengapa dia kembali, mengapa dia ingin membawa kepingan itu, mencoba memasangkan beberapa potongan puzzle dan tidak menyadari bahwa dia terlambat.

Kepingan lain sudah menghilang entah kemana.

Ciuman kedua mereka lebih panjang dan dalam, terasa asin bercampur air mata, juga rasa manis permen lolipop. Min Jae tahu Zitao berbohong ketika mengatakan bahwa dia berhenti merokok. Dia masih merasakannya.

Tapi tak mengapa, karena Min Jae tetap menyukai Zitao apa adanya. Merasakan hangatnya tangan Zitao menyentuh kulitnya, merayap seakan ada kupu-kupu yang menari disana. Min Jae mengalungkan tangannya pada leher Zitao, takut jatuh ke dalam semua ini, karena Zitao melakukannya dengan sempurna.

 

Mungkin malam ini, ada satu bintang yang belum memadamkan cahayanya.

 

***

Rumah sakit bukanlah tempat yang menyenangkan walaupun perawat menjaga suhu ruangan selalu hangat bagi para pasiennya. Sepi. Suara tetesan di kantung infuse terdengar jelas di telinga Min Jae dan langkah Zitao menuju kamarnya. Dia tersenyum lebar melihat bunga di tangan Zitao.

“Hai.” Sapanya menutup notebook di pangkuan.

“Bunga lili, aku hampir tidak bisa menemukannya.”

“Terima kasih.” Min Jae memperhatikan Zitao mengganti bunga yang layu dalam vas.

Zitao duduk di tepi tempat tidur, memainkan permen di antara jemarinya. “Kau sedang apa?” ujarnya melirik notebook.

“Menulis.”

“Menulis? Buku? Tentang?” seperti biasa, Zitao terlalu penasaran tentang Min Jae, tidak akan pernah cukup ‘tahu’ dan ‘mengerti’.

Min Jae menggeleng. “Bukan. Bukan buku. Cerita pendek. Eumm…penuh kata-kata puitis dan kata klise dan lain-lain.”

“Apa seperti Romeo dan Juliet? Ugghh…drama tragis.” Keluh Zitao mengerutkan wajahnya, seolah cerita itu adalah cerita terkonyol sepanjang masa.

“Tidak. Sudahlah, kau tidak akan mengerti. Tenang saja aku tidak akan membunuh salah satu tokohnya. Para pembaca menyukainya, tapi aku…tidak.” Jelas Min Jae menyingkirkan notebook itu ke meja lalu bergeser, memberikan ruang yang cukup besar untuk Zitao berbaring disana.

Hal terfavorit kedua bagi Min Jae adalah merasakan wajah Zitao yang dekat dengannya, tubuh yang mengantarkan kehangatan di musim dingin ini. Min Jae menyisir rambut Zitao, membiarkannya terkubur helaian hitam.

“Kau tahu mengapa aku tidak ingin membunuh tokoh dalam tulisanku?”

“Tidak. Mengapa?”

“Karena terkadang, apa yang kutulis bisa menjadi kenyataan. Entahlah, mungkin diluar sana, ada yang menulis kisahku dan membunuhku diakhir cerita. Membangun kesan tragis yang menyedihkan.” Suara Min Jae terdengar lemah, lelah, dan sedih. Zitao menyapukan telunjuknya di bibir Min Jae diikuti suara “sshh” yang lembut.

“Itu benar, Tao. Namaku tercatat di buku Death Note mungkin.” Min Jae tertawa kecil dan Zitao mencium hidungnya.

“Siapa yang berani menulis namamu disana, hmm?”

“Mana kutahu. Tiffany? Atau pelanggan yang sering mengeluh?”

Kini Zitao yang tertawa. Bahunya bergetar membayangkan Tiffany memiliki Death Note dan mengukir nama Min Jae disana. Atau wanita tua yang mengeluh sakit perut sesudah memakan cokelat buatan Min Jae.

“Aku tidak akan membiarkan mereka menulis namamu. Aku punya keahlian wushu, mudah bagiku untuk menghalangi niat mereka.” Bisiknya mengalahkan suara penghangat ruangan yang berdengung memenuhi suasana.

Min Jae melengkungkan sebuah senyuman lemah, bersumpah bahwa jika ada banyak cara untuk mengungkapkan seberapa besar keinginannya agar bisa memiliki Zitao lebih lama, Min Jae akan melakukan apa saja.

“Bisakah kau mencuri buku itu, Tao? Jangan biarkan mereka menulis namaku disana.” Pinta Min Jae seakan cara itu dapat menyelamatkan hidupnya.

Seperti yang selalu Zitao pikirkan dalam kepalanya setiap detik, jam, hari, minggu, dan bulan, dia akan membuat Min Jae selalu hidup, walaupun nyawanya sebagai taruhan.

“Tentu. Tentu saja ya.”

***

Zitao tidak tahu, lagipula dia juga tidak menghitung berapa banyak bunga yang layu dan dia ganti. Berapa banyak kelopaknya yang jatuh dan Min Jae melihatnya sedih ketika dia masuk ke kamar, menutup pintu di belakangnya, dan berbaring menyamping agar dapat melihat Min Jae sepanjang malam.

Zitao tidak mengerti apa cairan yang disuntikkan ke dalam tubuh gadis itu, cairan berwarna-warni, terkadang kuning, merah, atau bening. Infus bergantung, beberap kantung habis dalam tiga hari.

Kini dia tidak membawa motornya ke toko cokelat dimana dia bisa mengunyah cokelat madu, merokok (belakangan ini, permen), menemukan seorang gadis di belakang lemari pendingin merupakan pemandangan yang dia habiskan setengah tahun ini. Tiba-tiba rumah sakit menjadi tujuannya.

Dia memandang Min Jae yang tidur, bukan Min Jae yang setengah melamun. Dia memandang Min Jae yang berbaring di tempat tidur, bukan Min Jae yang berdiri di belakang etalase pendingin. Dia memegang tangan Min Jae, mencium wajahnya, dan menyisir rambut kusamnya, dan dia terluka melihat itu semua.

“Aku bermimpi hal yang sama lagi.” Suatu hari Min Jae bercerita padanya. Zitao menutup buku dan merangkak ke sampingnya, bersiap mendengar.

“Aku bermimpi berada di ruangan gelap itu, dan lilin di tanganku semakin kecil, memendek.”

Zitao mengelus pipinya dan berkata, “Kau harus menghematnya.”

“Tapi aku takut kegelapan.”

“Aku bersamamu.”

“Tapi aku sendirian disana, Tao.”

Pada akhirnya, Zitao hanya bisa berkata bahwa itu hanyalah mimpi buruk biasa yang muncul karena dia terlalu sering memikirkannya.

“Lupakan. Lupakan mimpi itu.”

***

Min Jae tidak tahu apa yang dipikirkannya saat memasuki jurusan ekonomi dalam perkuliahan. Berbagai macam kurva melengkung indah di papan tulis, namun tidak satu pun bisa dia mengerti. Baru sekarang dia menyadari bahwa kurva diminishing of return tampak seperti kurva kehidupannya dan dia tertawa setelah sekian lama termenung.

Atau fakta ekonomi lain yang menarik adalah matematika ekonomi yang menunjukkan bahwa beberapa rumus mempunyai turunan. Pangkat yang ada di setiap angka semakin mengecil dan mengecil, mirip seperti kesempatan hidup yang dimilikinya.

Menarik.

Min Jae seharusnya menyelesaikan kuliahnya, dimana dia akan tahu titik terakhir. Dia seharusnya tidak perlu pergi dari rumah, mungkin saat ini bukan Zitao yang sepanjang hari menemaninya, namun keluarga, ibu, ayah, kakak. Dimana mereka semua?

Begitu banyak kesalahan, Min Jae tidak menyesal melakukannya. Zitao begitu sempurna dan banyak hal yang dilakukannya bersama. Zitao menyeka wajahnya yang penuh air mata, atau darah dari sudut bibirnya. Zitao menggumamkan seribu kata yang mengantarnya tidur, bermimpi dalam kegelapan, namun semakin percaya diri bahwa dia tidak benar-benar sendirian dalam ruangan itu.

Dia mencoba menghemat lilin yang memendek setiap kali bermimpi.

“Kau ingat, Min Jae?”

“Hmm? Ingat apa?”

“Sabtu malam kita pergi ke taman bermain?”

Bagaimana bisa aku melupakan hari itu. “Ya, aku mengingatnya.” Jawab Min Jae.

“Kau ingat kita berfoto seperti orang bodoh—“

“Dan kau menciumku.”

Zitao tertawa. “Baiklah, kau mengingatnya dengan baik.” Lalu dia mengambil sesuatu dari kantung celana jeans-nya. Min Jae sulit melihatnya dalam kegelapan dan Zitao menyalakan lampu.

Itu foto mereka. Lima kotak, lima gaya, empat pose, dan satu ciuman di akhir foto.

“Kau mencetaknya?” Min Jae meraih foto itu dan mengamati foto mereka satu persatu.

“Kita sudah membayarnya, tentu saja aku mencetaknya. Mana foto favoritmu? Aku suka yang ini.” Dia tidak menunjuk foto paling terakhir, dia menunjuk foto dimana Zitao merangkul Min Jae dan mereka tersenyum ceria.

Min Jae terdiam, menggigit bibirnya.

“Aku suka semuanya.”

Dia menatap Zitao, pandangannya buram oleh air yang menggenang di pelupuk. Satu fakta ekonomi yang bersangkutan dengan Zitao. Total utility merupakan tingkat kepuasan kostumer dalam mengkonsumsi suatu barang atau jasa. Dan Min Jae merasakan kepuasan sendiri setiap melihat Zitao, bertambah setiap harinya.

“Aku mencintaimu, Han Min Jae.”

Waktu berhenti. Min Jae berharap ada suatu kerusakan di system waktu tata surya, hingga kalimat itu dapat bergantung di udara, Min Jae bisa menggapainya dan memeluknya selama yang dia inginkan.

 

Kencan bukan untuk sahabat, melainkan sepasang kekasih.

 

          Lalu bagaimana dengan kata ‘Cinta’?

“Tao…” Min Jae menyeruakkan wajahnya ke lekukan leher Zitao yang hangat, dia menangis pahit, sepahit obat yang dia minum. Kata-kata itu menusuk hatinya dan betapa dia tidak ingin waktu mengalir seperti air, dia harap dapat mengendalikan waktu.

“A-aku mencintaimu, Tao. Lebih dari apapun yang kau tahu. Katakan kau tidak akan menyerah, Tao. Katakan kau tidak akan pernah meninggalkanku, kau selalu berada di sampingku.” Kata-kata itu keluar dari mulut Min Jae, merasakan sakit yang luar biasa setiap kali pengakuan yang selama ini tertahan.

“Maafkan aku, Tao.”

“Ssshhh…”

“Maafkan aku terlalu lama mengambil keputusan untuk tersenyum, untuk lebih sering tertawa dan merasa bahagia. Maaf, maaf, maaf.”

Zitao hanya manusia biasa, juga peneliti-peneliti itu. Seberapa banyak dan sering Min Jae tersenyum, itu tidak akan menyelamatkan hidupnya, hatinya yang berfungsi 20 persen saat ini.

Seberapa banyak kata ‘maaf’ yang terucap juga tidak bisa menghapuskan kesalahan di masa lalu. Hari kemarin tidak dapat kembali seperti yang dia inginkan. Sirosis hati tidak dapat menghilang dan dihindari.

 

Berikan satu, satu saja kesempatan pada bintang itu, untuk bercahaya di satu malam yang gelap.

 

***

Zitao terbangun jam 2 di pagi hari, dalam apartmentnya. Dia memakai jaket kulitnya, menyalakan motor, berkendara ditengah-tengah kabut dingin, juga rokok yang menyala.

Dia berbohong jika permen lollipop lebih manis dan enak terasa di lidahnya daripada rokok. Berapa lama dia tidak menyentuh rokok? Min Jae akan berteriak padanya jika melihat hal ini, tapi gadis itu tidak berada disana, berkacak pinggang, siap menyemburkan kata-kata.

Zitao tersenyum, menikmati setiap hisapan dan hembusan aroma rokok yang memasuki paru-parunya. Saat dirinya mulai memasuki jalan raya, beberapa pikiran mulai berenang memenuhi kepalanya.

 

          Apa yang akan kau lakukan jika Min Jae pergi?

 

          Apa yang akan kau lakukan jika Min Jae tidak ada disana, sosok yang dapat kau peluk, menghilang dari dunia ini?

 

          Bagaimana hidupmu, hatimu, tanpa dirinya?

 

          Apakah kau akan kembali ke Cina, menjalani hidupmu?

 

          Kau tahu semuanya tidak akan sama tanpa Min Jae disisimu.

 

Zitao menangis. Pria itu menangis dalam pagi yang dingin. Air mata membasahi pipinya dan angin mengeringkan secepat mungkin.

Ya, apa arti hidupnya tanpa Min Jae? Mengapa semuanya terasa lambat saat dia menjalani sebelas tahun tanpa Min Jae, namun ketika dia membawa kepingan itu, bersiap menyelesaikan puzzle yang menyimpan teka-teki, tiba-tiba saja dia tidak mempunyai cukup waktu.

Zitao merasa kosong, sakit dan lemah. Dia mengambil jalur kiri, bermaksud menyusul sebuah mobil sedan di depannya. Sebuah truk merah dari arah lawan bertemu dengannya.

Hal terakhir yang diingat Zitao adalah Min Jae.

Min Jae berada di tempat yang terang, bukan dalam kegelapan.

***

Pukul 3.10 di pagi hari, Min Jae terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Merasa sesuatu yang aneh di dada. Dia tidak menemukan Zitao di sofa, tertidur seperti hari-hari kemarin. Min Jae ingat bahwa hari ini ada beberapa urusan yang harus Zitao selesaikan dan dia tidak akan berada disana. Tapi…mengapa ada perasaan tidak enak melingkupinya.

Min Jae menyalakan lampu di meja samping tempat tidurnya. Tubuhnya sakit, perutnya, mata, kepala. Sulit menelan ludah saat lapar menyerang, namun tidak ada yang bisa kau makan. Tubuhnya menolak semua obat-obatan. Menerimanya hanya akan menjadi racun bagi tubuhnya.

Lalu…

Seseorang berdiri di depan pintu, dibawah keremangan. Dia tinggi dan Min Jae mengenalnya sebagai teman masa kecil, sahabat, dan cinta dalam hidupnya.

Dia mengenalnya pada umur 4 tahun, pada umur 8 tahun pria ini menghilang, 11 tahun berlalu tanpa dirinya, dan dia mencintainya pada umur 20 tahun, sedikit terlambat mengingat tidak banyak waktu yang dia miliki untuk mencintai, lebih mencintai pria ini.

Zitao berjalan mendekatinya. Min Jae memberikan ruang untuk Zitao berada disana, siap menghantarkan kehangatan yang dia perlukan.

Min Jae menatap wajah itu, berharap dapat mengambil notebook, membacakan puisi Shakespear yang baru dia temukan dan menggambarkan Zitao, Zitao yang dia cintai. Zitao bernapas pelan dan wajahnya berbeda…bercahaya bukan karena bantuan cahaya bulan.

“Kau sudah menyelesaikan urusanmu?” tanya Min Jae kembali tenang.

Zitao mengangguk. “Semudah menjentikkan jari.” dan Min Jae tertawa membelai dadanya. Selang oksigen membantunya bernapas, namun dia ingin menghirup aroma Zitao, antara rokok dan parfum setengah luntur, maka dia menyingkirkannya.

“Tao.”

“Ya?”

“Mengapa…malam ini aku tidak merasa takut?”

Zitao mencium kedua mata Min Jae, merambat ke pipinya, dan bibirnya yang kering. Bibir Zitao lebih lembut, hangat, dan manis.

“Karena aku bersamamu?”

“Mungkin…entahlah, aku hanya…” Min Jae membalas kecupan itu dan dunia terasa indah. Hidupnya lebih indah daripada yang pernah dirasakan orang lain, kisah cintanya lebih romantis daripada Romeo dan Juliet. Dan tidak ada kata terlambat, kesalahan, dan menyesal.

“Aku mencintaimu.”

 

Take,o take those lips away
by William Shakespeare

Take,o take those lips away,
That so sweetly were forsworn,
And those eyes,the break of day,
Lights that do mislead the morn!
But my kisses bring again,
Bring again;
Seals of love,but seal’d in vain,
Seal’d in vain!

***

Itu bukan sebuah kesalahan ketika mereka menemukan pasien di kamar ruang 21 berhenti bernapas, detak jantungnya berhenti, fungsi hati mencapai angka 2 persen.

 

Han Min Jae. Meninggal pukul: 04.05. Sabtu, 24 April 2014.      

Tuhan hanya memberinya satu setengah tahun dengan beberapa bonus yang bukan merupakan waktu, namun cinta.

***

Itu bukan sebuah kesalahan ketika polisi sampai pada tempat kejadian, mengidentifikasi korban kecelakaan beserta motor balapnya yang hancur.

 

Huang Zitao. Meninggal pukul: 03.30. Sabtu, 24 April 2014.

 

Tuhan tidak menjanjikannya apa-apa, tapi kesempatan untuk kembali bertemu dengan Min Jae, kembali bersamanya, mencintainya, membuatnya tersenyum di akhir cerita, menutupnya dengan kata ‘Cinta’. Itu lebih dari cukup.

***

Min Jae berada di dalam kegelapan, lilin ditangannya mulai memendek, sampai akhirnya angin meniup padam lilin itu, mendorongnya kembali ke dalam kegelapan yang pekat.

Namun…

Tiba-tiba dia mendengar langkah kaki itu. Tidak menjauh, malah semakin mendekat. Min Jae mendengar suara napasnya, juga aroma antara rokok dan parfum setengah luntur.

Sebuah lilin menyala di hadapannya. Min Jae mendongak dan melihat Zitao tersenyum padanya.

“Sudah kubilang kau tidak perlu takut pada kegelapan. Ada aku yang selalu bersamamu.”

THE END

A/N: BAGAIMANA??? (aiiihh gak nyante) bagaimana chingudeul? Menangis ato enggak? Author memang paling gak jago bikin air mata menetes, huhuhu malah authornya yang netesin air mata. Maaf ya…

Pokoknya, kasih jawaban di kolom comment oke oke oke?

I’m sorry for making Tiffany as a wild woman ;A; I didn’t mean it really ._.v

Gamsahamnida😀

14 thoughts on “[FREELANCE] Falling Into Pieces

  1. Oh my god !!! Ini ff terkeren yang pernah aku baca cerita tentang kehidupan yang moment2 nya tu real, nggak lebay pula.. Aku bener2 nggak bisa nahan airmataku setiap kata per kata huhuhu..
    Ya ampun nggak tau deh mau komen gimana lagi pokoknya ini tuh daeebaakk

  2. Tau nggk thor? Ini ff daebak bgt…panjang, bahasa bagus, ceritanya touching bgt….sukaaaaaakkk pkknya thor….plz trz buat ff about exozy, gumawo

  3. .,Knpa FF’a keren kyak gni…??? knpa Q gk bca dri dlu…???? author keren bnged..!!! yg gk bca psti nyesel…!!! rasa’a smpai ke hti..,,keren….deabak bwt author..*^_^*.,mskipun Q telat komen…,hehehe…#plakk🙂

  4. huhuhu T.T
    author sukses membuat air mataku jatuh..huhu;(
    bagus banget…
    happy ending tapi menyesakan… serasa jjleebb didada, bagaikan samurai berkilat jatuh dari langit menancap perih dalam tanah.*huii bahasanya.
    ffnya DAAEEBAKK bin BBANGEETT….
    like this.

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s