[FREELANCE] Don’t Judge Me (Chapter 1)

Title: DON’T JUDGE ME

Author: Voldamin-chan

Length: Multichapter

Rating: PG-15

Genre: Romance

Main Cast: Lay (Zhang Yixing), Kim Taeyeon

Other Cast: EXO and SNSD member

 

Fiuh.. akhirnya ane debut juga jadi author dengan mempersembahkan FF ini. Sebetulnya mau ane jadikan songfic gara-gara terinspirasi lagunya Chris Brown yang judulnya Don’t Judge Me makanya judulnya sama, tapi mungkin dan menurut ramalan masa depan kayaknya ga bakal jadi songfic. Pastinya kisah FF ini bakal terinspirasi dari berbagai macam lagu, drama, film dan novel yang pernah ane lihat dan baca. Yah, sekedar pengen buat dan melihat apa ane punya bakat jadi author dan yang pasti murni imaginasi pribadi hohoho (^o<)v. Memang sengaja ga pake semacam teaser atau prolog, soalnya ga bisa buatnya, poster FF ini juga bikin semampu ane hehe.. Okelah kalau begitu selamat menikmati hidangan FF yang masih labil begini dan jangan lupa tinggalkanlah komen yang nanti bisa ane jadiin ide ngelanjutin kisah FF labil macam begini hehe..

HAPPY READING

…We should never go there

Please don’t judge me…

…Just let it be beautiful…

***

Udara hari ini terasa begitu berbeda. Mungkin karena berada di belahan bumi yang berbeda sehingga perubahan cuaca kecil seperti ini membuat tubuh lebih sensitif. Begitulah yang dirasakan seorang laki-laki berambut hitam legam. Mengenakan jas hitam yang tebal serta sepatu boots hitam dan syal hitam. Berkabung. Mungkin itu pendapat orang-orang ketika melihatnya sekilas. Namun, baginya hitam adalah warna favorit dan cocok dengan wajahnya yang misterius.

Kau tahu, hitam yang misterius itu hanya menutupi kelembutan hatinya. Ketika hitam mau membuka hatinya maka putih akan muncul dan memperlihatkan betapa lembutnya hitam itu.” Kenangnya.

“Ya, benar. Hanya putih yang bisa memahami hitam. Kau paham betul fakta itu.” Ucapnya pada dirinya sendiri.

Berjalan menyusuri jalan raya yang baru dikenalnya beberapa jam lalu setelah ia tiba di kota menara eiffel ini dan hanya bermodalkan dompet hitam yang masih betah di dalam jas hitamnya. Tubuhnya separuh basah kuyup karena ternyata payung bening yang bermaksud melindungi dari serangan air hujan yang begitu dingin menurutnya, ternyata tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik.

“LES DEUX MAGOTS”

 

Disinilah ia menghentikan langkah kakinya setelah berjam-jam mengelilingi kota Paris tanpa arah dan tujuan. Langit pun sudah memudarkan warnanya. Lampu-lampu kota Paris mulai membuka matanya, menemani kesibukan kota Paris yang sepertinya masih bertahan pada malam hujan seperti ini. Laki-laki itu pun segera masuk ke dalam LES DEUX MAGOTS, begitu pula jas hitam kesayangannya yang setia menemaninya. Meskipun hari sudah semakin malam ternyata cafe ini masih ditemani oleh banyak pengunjung setianya.

Diletakkannya payung bening itu di sebuah keranjang coklat berdekatan dengan pintu masuk cafe ini, kemudian laki-laki berlesung pipit itu merebahkan tubuhnya di salah satu kursi kayu dekat jendela yang sepertinya sudut strategis baginya. Dia menatap jalanan Saint-Germain-des-Prés yang masih ramai oleh lalu lalang orang-orang Paris. Ada anak kecil yang diapit kedua orang tuanya, ada beberapa pasang rekan kerja yang kelihatannya masih sibuk membicarakan kegiatan kantor mereka, ada sesorang yang berjalan sendirian dengan tergesa-gesa, ada pula beberapa pasang kekasih yang saling berbagi payung.  Ternyata orang Paris tidak sependapat dengan laki-laki itu yang menurutnya cuaca hujan sekarang benar-benar menusuk kulit karena masih jalanan Paris masih dipenuhi orang yang berlalu-lalang.

Maaf… aku sudah tidak tahan dengan kita yang selalu seperti ini..

Selalu, kenangan dan kenyataan pahit itu menjadi langganan mimpi buruk baginya.

Kita selalu bertengkar dengan topik yang sama… aku sudah tidak sanggup lagi harus seperti ini…”.

Terbersit dipikiran laki-laki itu ‘apa yang aku lakukan disini?’ ‘bagaimana kondisinya saat ini?’. Kerinduan, sesal, dan ragu. Kosakata yang akhir-akhir ini terus berputar di pikirannya. Itulah yang membuat dia mengitari kota Paris yang besar ini selama berjam-jam dan tak tahu harus kemana yang pada akhirnya sampailah di LES DEUX MAGOTS, salah satu cafe ternama di kota Paris.

“Kau benar, Les Deux Magots memang tempat yang tepat bagiku..”guman laki-laki itu dalam hatinya. “lebih tepat jika kau yang menunjukkannya padaku sendiri..” lanjutnya sambil tersenyum masam.

Sumpah.. kau harus benar-benar melihatnya sendiri! Cafe itu benar-benar cocok dengan image dan hobimu, kau pasti akan menemukan banyak inspirasi disana! Les Deux Magots, kau benar-benar harus melihatnya” masih jelas di dalam ingatannya bagaimana gadis itu dengan wajah yang berbinar-binar menceritakan sebuah cafe yang saat ini ada dihadapannya.

Matanya menjelajahi satu persatu pernak-pernik yang meramaikan isi cafe ini. Cafe ini memang bernuansa seni, penuh dengan hiasan yang menawan didukung dengan suasana yang nyaman seperti ini. Pandangannya terhenti pada sesosok 2 patung yang menjadi ciri khas cafe ini. “The Deux Magots disana mengingatkanku padamu… kau tau, ternyata mereka dari China lho!”

Laki-laki itu membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Otaknya terasa penuh. Hatinya sesak. Tubuhnya seakan tidak kuat lagi menahan semua pikirannya yang sedang kacau saat ini.

Kenapa selama ini kau tidak pernah jujur padaku! Aku lelah!”

“Taeyeon-noona kumohon kau jangan seperti ini…”Laki-laki itu berusaha mendekatinya. Ingin memeluknya tapi tidak bisa atau mungkin tidak sanggup.

 

“Cukup,Lay! ! ! Kenapa kau membuatku seperti ini…”terlihat mata yang berkaca-kaca itu mulai tidak bisa mencegah butiran air mata yang mulai jatuh satu per satu.

 

“Taenggo-ya, kenapa kau tidak mau mendengar penjelasanku dulu…”

 

“CUKUP!!!  AKU LELAH,LAY! Tolong…  tolong tinggalkan aku sekarang… Aku mohon,Lay.”

 

Gadis itu duduk bersimpuh dilantai, tertunduk dan bisa terdengar isakan kecil tangisnya. Gadis itu terus memukuli kepalanya seakan-akan ia menyuruh isi kepalanya untuk tidak keluar tanpa ijin. Seorang pria lain yang berada disamping gadis itu mulai memeluknya. Berusaha menenangkan gadis itu meskipun gadis itu berusaha memberontak.

 

“Keluarlah…” Pria berperawakan tegap dengan pipi yang agak tambun itu menyuruhnya untuk tidak bersikeras memperkeruh suasana hati gadis itu sekarang. Laki-laki itu hanya bisa terdiam tanpa kata-kata, mungkin lebih tepat takut akan terjadi hal yang lebih buruk jika ia meneruskannya. Terpuruk. Itulah yang bisa ia lihat apa yang terjadi pada gadis itu.

 

Excuse me, Sir. What would you like to order?” suara seorang pelayan membuyarkan lamunannya.

Oh, Sorry. Just give me a cup of coffee and some croissant, please” balas laki-laki itu.

Alright Sir. Just a moment please” pelayan itu segara melesat pergi meninggalkan laki-laki itu sendirian lagi.

Lay melepaskan jas hitamnya yang baru disadarinya bahwa separuh jasnya memang  basah kuyup. Satu per satu dikeluarkannya isi kantong jas itu. Hanya ada dua benda yang bisa ia temukan di balik kantong jas itu.

Diletakkannya handphone dengan model keluaran terbaru miliknya dan sebuah dompet kulit hitam di atas meja kayu yang hanya berhiaskan vas bunga kecil dan standing card bertuliskan menu spesial hari ini. Kemudian disampirkannya jas separuh basah itu di punggung kursi yang sedang ia duduki sekarang. Lay mulai membuka dompet kulit berwarna hitam itu, hanya untuk melihat apakah uangnya cash yang ia bawa sekarang cukup untuk membayar pesanannya. Masih bisa dia sadari ada sebuah foto yang terpampang di dalamnya.

Disana terlihat seorang pasangan yang memakai kostum halloween yang tidak menyeramkan sama sekali melainkan lebih terlihat lucu. Seorang gadis dengan memakai hiasan telinga kucing berwarna putih dikepalanya, sedangkan laki-laki di sebelahnya memakai hiasan yang sama, hanya saja berwarna hitam. Terlihat senyuman lebar keduanya dengan memamerkan boneka ginger bread dengan ukuran lumayan besar yang ada diletakkan diantara kedua pasangan itu. Tujuan utamanya kini beralih memandangi foto itu.

‘♥Lay feat. Taenggo♥’

itulah yang tertulis disana dan ia tahu pasti itu adalah panggilan kesayangan diantara mereka menghiasi bagian bawah foto itu. Lay melihat gadis itu menunjuk lesung pipitnya sembari memegang boneka kesayangannya. Kini ia benar-benar merindukan senyuman gadis itu.

Excuse me, this is your coffee and croissant. Have a nice meal, sir.” Pelayan berwajah oriental itu membawakan menu yang ia pesan tadi. Lagi-lagi pelayan ini membuat Lay bangun dari lamunannya. “Merci becoup..” balas Lay. Pelayan itu hanya membalas dengan senyuman hangat sebagai tanda keramahan cafe ini.

Drrrtt… Drrrtt… Drrrtt..

Segera setelah pelayan itu meninggalkan Lay sendiri, handphone yang ia letakkan di atas meja bersebelahan dengan vas bunga disampingnya bergetar. Sekarang handphone it berpindah ke tangannya. Ia segera menjawab telepon setelah ia tahu siapa yang sekarang memanggilnya.

“Yeoboseyo. Ne, Minseok hyung. Ada apa?”

Ah, tidak. Hanya ingin tahu kau sudah sampai di Paris atau belum..

“Ne, aku sudah sampai di Paris beberapa jam yang lalu.”

“Apa hyung sekarang sedang bersama Taeyeon noona? Bagaimana kondisinya sekarang?”

Kebetulan dia sekarang sedang tidur.  Kondisinya mulai membaik dan Taeyeon sudah bisa melakukan rutinitasnya seperti biasa.

“Syukurlah ia baik-baik saja. Terima kasih, hyung.”

Baiklah kalau begitu, beristirahatlah. Semoga harimu menyenangkan dan jangan lupa hubungi aku,Ok?

“Ne, hyung. Aku akan sering-sering menghubungimu. Kalau ada perkembangan soal Taeyeon noona jangan lupa kabari aku hyung.”

….

“Ne.”

….

“Bye…”

Sambil menyesapi kopi dan menikamati roti croissant yang ia pesan tadi, Lay menyadari bahwa hari sudah semakin larut. Jam cafe ini sudah menunjukkan pukul 9 malam dan kelihatannya pengunjung sudah mulai sepi. Segera ia meminta bill dan membayarnya.

“Ah, Kris hyung pasti sudah sampai di apartemen…” guman Lay sambil memasukkan semua benda berharganya kedalam saku jas hitamnya itu. Dalam hitungan detik segera Lay melesat pergi meninggalkan Les Deux Magots menuju apartemennya.

***

Just let the past…

…Just be the past…

…And focus on things…

…That are gonna make us laugh…

-2 Years Ago-

‘KOREAN NATIONAL UNIVERSITY OF ARTS’

Tulisan besar itu menempel pada papan pengumuman  yang bertengger di dinding luar ruang auditorium milik salah satu universitas ternama di kota Seoul ini. Berbagai macam lembaran-lembaran memenuhi papan yang cukup besar itu dan berisikan informasi yang setidaknya bermanfaat bagi para siswa di sini. Sudut kanan papan itu sepertinya sangat menarik untuk dibaca, karena hanya sudut itu yang kini sedang menjadi pusat perhatian seorang gadis berambut ikal didepannya. Sepi. Seperti itulah keadaan kampus hari ini dan hanya gadis itu yang terlihat betah berlama-lama disana tanpa seorang pun menemaninya.

“Hmm… ‘The Julliard School’… ‘Conservatoire de Paris’… Hmm.. dua-duanya kelihatan menarik…”gumannya dalam kesunyian kampus sore itu.

Tiba-tiba perhatiannya teralihkan dari sudut papan itu ke ruang auditorium sebelahnya. “Sepertinya masih ada yang betah tinggal di kampus sesore ini selain aku…”

Pelan-pelan ia mengikuti sumber suara itu dan ia yakin ada seseorang yang sedang memainkan piano auditoirum disana. “Hmm… kalau tidak salah… ‘I Giorni’!” ucap gadis itu dengan lantang dan langsung membekap mulutnya sendiri takut kalau ia akan mengganggu permainan orang itu.

Di ujung auditorium itu hanya ada seorang laki-laki dan sebuah piano. I Giorni, seperti itulah ia menebak judul lagu yang keluar bersama dentingan piano sore itu. Cahaya matahari sore membuat sosok laki-laki itu tidak terlihat jelas. Gadis itu membuka pintu auditorium pelan-pelan bermaksud ingin mendengar lebih jelas sekaligus ingin menuntaskan rasa penasarannya pada sosok laki-laki misterius itu.

*TO BE CONTINUED*

Huwaaaaa…. Kyaaa…. My first piece akhirnya jadi meskipun cuman chapter awal siyy… hehehe… bagaimana pemirsah?? Sangat panjang kah? Maapkan ane yang bikin FF melankolis begini, entah ane juga ga yakin apa FF ini bener-bener melankolis, yang pasti genrenya romance^^. Hmm.. karena ane masih newbie sebagai pembuat FF dan belum se-profesional para admin dan author-author yang lain, jadi ane berharap sangat bagaimana seharusnya dan tidak seharusnya (ah jadi belibet ngomongnya.. hauuu -_-) jalan cerita yang baik bagi keberlangsungan FF perdana ane ini. Jadi, ane buka lebar-lebar saran dan kritik buat ide cerita FF ini karena sumpeh ane bikin FF ini disela-sela kerja jadi ide munculnya kayak kreditan gitu deh, ga lunas-lunas keluarnya. Aigooo… baiklah ane tunggu saran-saran dan ide-ide brilliant dari para readers yang budiman dan yang mau baca FF yang aneh begini d(^_^)v. Oh iya lupa mau ngucapin arigatou gozaimasu …m( _ _ )m… buat admin yang usah berbaik hati mempublish FF perdana ini dan para readers yang rela membuang-buang waktu cuman buat baca FF kayak begini,.. Matur nuwun dah …kekekekekek…

4 thoughts on “[FREELANCE] Don’t Judge Me (Chapter 1)

  1. aku suka sama bahasanya. hihi bagus. kapan2 authornya bikin ff taeyeon-baekhyun dong. oiya boleh saran ga? tulisan di wp ini diperbesar yah. biar ga pusing bacanya. soalnya aku baca di pc nih. oke khamsaaaa

  2. Huweee… Mr. Dimple my Love… apa yang terjadi pada Taeyeon Noona… hukz… terharu…
    Wow, ke Paris nih hehe…. Semoga eonni bisa menampilkan lebih banyak EXO-nya… kira2 Baekki muncul g y???

    • hehe… iya lagi pengen munculin Mr. Dimple nih.. apa yang terjadi ama Taeyeon? yg pasti gara-gara Mr. Dimple.. Tungguin aja deh ntr kenapa dan bagaimana hoho… So pasti EXO bakal muncul dunk ama Noona SNSD tentunya kekekekek.. Paris? yah keinget ama Nodame sih,jdnya pengen munculin Paris bentar… Anyway thx for comment.. hukz, ane terharu ternyata FF perdana ane ada yg mau baca, peluk readers..

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s