[FREELANCE] Intuition (Chapter 1)

Judul : Intuition

Author : @ghinaga

Cast :

Luhan (Exo-M)
Lee So Hee (OC)
Ji Yeon (T-Ara)

Summary : ‘Apa mencintai harus ada alasan ? Kurasa tidak. Aku tak peduli bagaimana dan apa yang dia lakukan. Aku hanya melihatnya seorang. Hanya melihat Luhan’ –So Hee. ‘Apa aku terlalu dingin padanya ? Haruskah aku membuka hati untuknya ?’ -Luhan

Genre : Sad, Romance, Friendship

Length : Multi-Chapter

Rating : Teen

Note : #engingeng# author kembali ! hehe. Kali ini author nongol bawa ff kedua author, nih ! soal cast, engga tahu kenapa author pengen banget bikin ff tentang Luhan. Jadilah ff ini deh.. menurut author sih Luhan cocok cocok aja dapet peran kaya gini, tapi sekali lagi itu pendapat author. Ga tau deh pendapat readers sekalian gimana.. kayanya kepanjangan nih cuap cuap author jadi langsung aja keceritanya.. eh bentar, disini author ga nyantumin POV soalnya rada ganggu menurut author, mianhae.. *jadi biasakanlah.. hehe* sip deh, cekidot..

Hembusan angin perlahan menerpa tubuhku. Kulihat air di Sungai Han yang tersorot sinar matahari, bagaikan permata yang berkilauan. Kendaraan-kendaraan yang melaju dengan cepat di jembatan itu seolah tak memperdulikan apa yang bisa mereka lihat dan nikmati disini. Sangat disayangkan, bukan ??

Menunggu. Itulah yang sedang kulakukan. Siapa yang kutunggu ? tentunya namja itu. Sebuah perjodohan menjadi alasan mengapa kami bersama.

Menikah ? tidak. Kami belum menikah, hanya dalam tahap berpacaran. Diusiaku yang masih muda, aku belum ingin menikah. Aku masih ingin mengejar karirku.

Aku belum bekerja, masih kuliah. Begitupula dia. Kami memilih jurusan yang berbeda, lagipula dia juga tidak kuliah di Korea, dia kuliah di luar negri—tepatnya di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.

Orang tua kami bersahabat, dan mereka ingin menjodohkan kami. Walau sebenarnya kami tak begitu akrab. Hem, sebenarnya sih tidak ada masalah bagiku. Tapi, entah bagaimana dengan dia. Apa dia menerimanya atau tidak, aku tak tahu.

Kenapa aku setuju ? entah sejak kapan aku mulai menyukainya.. Itu wajar, kan ??

Aku merasakan sentuhan yang hangat dipundakku. Aku menoleh sebagai respon gerak refleksku, seolah mencari asal rasa hangat itu. Ternyata Luhan. Ya, dialah namja itu.

“waiting me too long ?” tanyanya dengan datar. Ia memang seperti itu, walau aku tahu sebenarnya sikap aslinya tak seperti itu. Sepertinya dia begini karena tidak setuju dengan perjodohan kami, tapi apa boleh buat ? aku tidak bisa memaksakan keinginanku padanya, bukan ?

Aku hanya tersenyum, lalu kembali memandangi kumpulan air yang mengalir itu. Rasanya sudah lama aku tak melihat wajah baby faced-nya.

“how long do you want see the water ?” lanjutnya, lalu melipat kedua tangannya didada. “disini cukup dingin..”

Aku mengerutkan dahiku, “it’s not just water.”

“hah~ itu yang selalu kau katakan !” keluhnya lalu menyandarkan tubuhnya di railing sambil menatap kearah yang berlawanan denganku.

~oOo~

“sampai kapan mau seperti ini terus ?” tanyaku sambil memasukan tanganku kedalam saku celana. Daritadi kami berbicara dengan bahasa inggris, aku lupa kami sedang di Korea.

Dia hanya menundukan kepalanya, lalu kembali memandangi Sungai Han. Aku bingung dibuatnya, kenapa ia suka sekali berlama-lama di Hangang Park sambil memandangi Sungai Han, sih ?

Aku tahu dia menyukaiku. Tapi, aku berpura-pura tidak tahu. Bukankah itu lebih baik ? jujur saja, aku tidak menyukainya. Sebenarnya bukan tidak menyukai, tapi kurasa aku tidak memiliki cinta untuknya. Aku tidak mungkin menuruti keinginan orang tua kami untuk menikah, karena itu hanya akan membuatnya sakit hati. Jadi, yang bisa kulakukan hanyalah berpacaran dengannya. Lagipula dia juga tahu kebiasaanku bermain di club malam bersama para gadis. Tapi, aku tak seburuk itu. Aku hanya bermain dengan gadis-gadis dan tidak melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kulakukan bersama mereka. Hanya sekedar bersenang-senang.

“can you enjoying all of this ?” ucapnya dengan pelan. Nada bicaranya begitu lembut, dan aku menyukai itu. So Hee adalah yeoja baik-baik, wajahnya cantik dan manis, kulitnya putih, dan dia adalah yeoja yang cerdas. Hem, ya bisa dibilang dia cukup sempurna, tapi itu yang kulihat dari luar—

“someday—maybe, I can’t see this again..”

“what do you mean ?” tanyaku dengan datar. Kini perhatianku tertuju padanya. “you always like that. Berkata tak bisa melihat, ingin melihat, sebenarnya—”

Aku langsung menghentikan ucapanku yang sepertinya terlalu tajam padanya, saat aku melihat raut wajahnya yang berubah cepat. Ia tampak sedih, tapi ia tetap berusaha untuk menutupi kesedihannya dihadapanku. Dia selalu menyimpannya sendiri, atau mungkin aku yang tak memberikan sedikit pun celah untuknya ?

“kau bosan, ya ?” tanyanya, ia berusaha tersenyum padaku dengan sekuat tenaga. “sudah makan ? kalau belum ayo kita makan !”

Dia segera berjalan meninggalkanku seolah menggiringku menuju restoran yang dia maksud, sedangkan aku masih terdiam diposisiku tanpa bergeming sedikit pun. Dia berjalan terus tanpa menoleh kearahku, aku mulai beranjak mengikutinya dari belakang. Sesekali kulihat ia menundukan kepalanya dan kembali mengangkat kepalanya. Aku ingin tahu apa yang ia pikirkan.

Kami selalu seperti ini. Melakukan hal yang dilakukan sepasang kekasih walau sebenarnya tak ada cinta diantara kami. Melakukan hubungan jarak jauh dan tak pernah ada momen romantis yang pernah kami lakukan. Kadang aku ingin mengakhiri semua ini. Tapi, apa yang bisa kulakukan ?

Apa aku terlalu dingin padanya ? Haruskah aku membuka hati untuknya ?

~oOo~

Tak seperti biasanya, setelah makan tadi So Hee memilih untuk pulang. Aku sih menurut saja, lagipula untuk apa aku berlama-lama bersamanya ?

Aku membuka pintu kamarku, lalu menghempaskan diriku di tempat tidur. Sudah lama aku tak merasakan tempat tidur senyaman ini. Mungkin karena semua terasa nyaman jika berada di rumah sendiri.

Beberapa menit berlalu, hingga suara ketukan pintu membangunkanku.

Tok..tok..

“masuk..” kataku. Aku bangkit dengan wajah yang masih kusut, kini aku duduk ditepi kasur sambil memandang kearah pintu.

“kau sudah pulang ?” tanya eomma padaku. Sepertinya ia agak terkejut karena aku pulang begitu cepat.

“ne..” singkatku sambil mengucek mataku. Eomma menutup pintu kamarku, lalu berjalan masuk menghampiriku.

“kalian tidak jalan-jalan ? kau kan baru pulang dari Cambridge.. apa tidak saling merindukan ?”

Aku menarik tangan eomma-ku itu, lalu menggenggamnya dengan erat. “So Hee begitu mengerti aku. Ia tahu aku sangat merindukan eomma, makanya kami hanya bertemu sebentar..” Sebuah kebohongan terucap dari mulutku. Aku tak tahu apa So Hee berpikir seperti itu atau tidak, tapi aku mengatakan ini agar tidak terlihat ganjil dimata eomma.

Eomma mengelus lembut kepalaku, “belajar darimana kata-kata seprti itu ? dasar perayu !” canda eomma. Aku senang saat melihat eomma tersenyum, selama ini selama aku belum menemukan sosok yeoja yang mengisi hatiku, eomma-lah satu-satunya yeoja dihatiku.

Aku tersenyum kecil sambil mengaruk kepalaku yang sebenarnya tidak terasa gatal. “kalau aku tidak seperti itu, mana ada yeoja yang mau denganku ??”

Eomma kembali tersenyum padaku, aku begitu menyanyanginya aku selalu berusaha untuk membahagiakannya, makanya aku mau mengikuti perjodohan itu. “sudah sana, segera mandi !” perintah eomma seraya meninggalkan kamarku.

~oOo~

Beberapa hari kemudian..

Hari ini aku bersiap pergi kuliah. Aku mengenakan kasual blouse berwarna pink soft yang kupadukan dengan jeans. Aku membiarkan rambutku tergerai bebas karena ingin memamerkan ujung-ujung rambutku yang curly. Aku memasukan segala keperluanku kedalam tas selempang berwarna hijau itu. Setelah kurasa semuanya siap, aku kembali berkaca di cermin, sedikit merapikan tatanan rambutku dan bergerak menuju pintu kamarku.

Aku mulai menuruni tangga, dari sini aku bisa melihat eomma yang aku sayangi itu sedang menonton tv di ruang tengah. Aku segera menghampirinya, lalu mencium pipi eomma-ku itu sambil berpamitan, “eomma, aku berangkat !”

Dengan cepat aku sudah berada di dalam mobil lagi. Aku menyalakan mesin Mercedes SL 55 berwarna hitam itu, lalu menginjak gas dan mulai menggerakan stir.

Tak sampai 45 menit, aku sudah sampai di kampus. Ya, aku bersekolah di Yonsei University. Setelah memarkir mobilku, aku menekan tombol lock di kunci mobil dan segera berjalan menuju ruang kelas.

Aku memastikan jam, dan tiba-tiba ada dua orang yeoja yang menyergapku. Awalanya aku terkejut tapi seketika semua itu berubah menjadi senyuman hangat, ya mereka sahabatku, Se Na dan Ji Yeon.

“hei, hari ini jadi, ‘kan ?” tanya Ji Yeon padaku.

Hari ini kami bertiga berencana menghabiskan waktu bersama dengan..ya kalian tahulah, yang dilakukan jika wanita-wanita sedang berkumpul ? belanja !

Aku mengangguk mantap, mataku langsung memandang Se Na yang sepertinya akan berkomentar.

“jangan lupa kita harus pergi ke café baru yang ada dipinggir jalan itu !”

“tentu..” jawabku.

~oOo~

Ketiga yeoja itu sedang asyik berkeliling Myeongdong. Beberapa shopping bag telah tergantung di lengan mereka. Mulai dari toko tas, toko pakaian, hingga toko sepatu telah mereka kunjungi. Dan hasilnya ? ya shopping bag yang telah menumpuk tadi.

Merasa lelah berkeliling, tiga sahabat itu memutuskan untuk beristirahat di café yang baru saja dibuka beberapa hari yang lalu ditepi jalan.

Café itu tampak nyaman dan hangat, kesan kekeluargaan nampak jelas disana. Kayu mendominasi setiap furniture yang menghiasi café itu, membuat kesan natural yang mendalam. Selain itu, walau baru buka beberapa hari banyak pelanggan yang keluar masuk café ini, ya.. tempatnya memang nyaman jadi wajar kalau banyak pelanggannya, terutama anak muda.

Mereka memilih tempat duduk yang bersebelahan dengan kaca tembus pandang, karena dengan posisi itu mereka bisa melihat pemandangan yang ada di luar café. Seorang pelayan datang dan mencatat pesanan mereka.

Sambil menunggu pesanan, sesekali mereka bertukar canda, mengobrolkan berbagai hal—ya.. mereka saling berbagi dan saling menasehati. Itulah gunanya sahabat, bukan ?

Pesanan pun datang, seorang pelayan laki-laki datang sambil membawa nampan berisi pesanan mereka. Tak sengaja pelayan itu membuat milk shake yang Ji Yeon pesan terciprat ketangan So Hee. Sontak saja mereka kaget, pelayan itu segera meminta maaf dan memberikan tisu kepada So Hee.

“maafkan, saya.. sungguh, saya tidak sengaja..” kata pelayan itu dengan nada bergetar sambil membungkukan badannya.

So Hee tersenyum, “tidak apa-apa. Aku hanya perlu mencuci tanganku..” kata So Hee dengan lembut pada pelayan itu. Ji Yeon dan Se Na sudah mengira bagaimana So Hee si gadis baik hati ah tidak, terlalu baik hati itu menyikapi kecerobohan pelayan tadi.

“hei, aku cuci tangan dulu, ya ?” lanjut So Hee pada dua sahabatnya yang sudah menduga apa yang akan dilakukannya.

“agassi, sekali lagi saya minta maaf..” kata pelayan itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan meja mereka.

So Hee menggerakan kakinya menuju washtoffel yang ada di pojok café. Ia mencuci tangannya dengan telaten, sejak kecil So Hee memang diajarkan untuk menjaga kebersihan. Setelah mengeringkan tangannya, So Hee kembali berjalan menuju meja dimana teman-temannya menunggu.

Seketika senyuman itu luntur. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat seorang namja sedang mengelus lembut pipi mulus yeoja yang duduk dihadapannya, lalu menjalar ke rambut si yeoja yang panjang terurai bebas.

Mereka terlihat begitu menikmati keadaan. Seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Namja itu mengecup lembut punggung tangan yeoja yang ada dihadapannya, lalu mengakhirinya dengan senyuman. Wajah si namja yang baby faced terlihat sangat mendukung saat ia bersikap manja pada yeoja yang sedang bersamanya. Jelas sekali kalau yeoja itu juga sangat menyukai semua perlakuan namja itu padanya.

So Hee membeku. Matanya terus terpaku pada pemandangan yang membuat hatinya sakit itu.

Bruk..

So Hee tersadar dari lamunannya saat seorang pelayan menahan tubuhnya yang hampir terjatuh. Pelayan itu tak sengaja menabrak So Hee, selain itu So Hee juga sedang melamun, makanya dengan mudah ia kehilangan keseimbangan.

Pelayan itu segera meminta maaf pada So Hee. So Hee segera menegapkan tubuhnya, sang pelayan pun segera melepaskan pegangannya. Ternyata hal itu membuat Luhan dan yeoja yang sedang bersamanya mengalihkan perhatian pada So Hee.

“agassi, kau baik-baik saja ?” tanya pelayan itu seraya melepaskan tangganya dari lengan So Hee.

“jal jinaeyo..” kata So Hee agak gemetar. So Hee menoleh kearah Luhan, ia begitu terkejut saat mengetahui Luhan menyadari keberadaannya. Masih gemetar, So Hee segera pergi dari situ menuju mejanya.

Luhan yang melihat kepergian So Hee segera mengejarnya tanpa menghiraukan yeoja yang tadi bersamanya. Luhan tampak panik, ia khawatir dan juga takut. Sebuah perasaan yang campur aduk.

Ji Yeon dan Se Na masih tertawa bersama, tapi tawa itu segera redup saat mereka melihat So Hee yang datang dengan air mata yang mengalir di pipi mulusnya. Semua tampak asing dimata So Hee. Ia tak dapat berpikir dengan jernih lagi.

“So Hee, museun iriya ??” tanya Ji Yeon dengan hati-hati. Ia cukup terkejut melihat sahabatnya kembali dengan tetesan air mata yang membasahi pipinya.

“So Hee.. gwaenchanayo ?” tambah Se Na yang sama khawatirnya dengan Ji Yeon.

So Hee menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Ia segera meraih tasnya yang tergeletak dikursi tanpa menjawab pertanyaan kedua sahabatnya. So Hee segera meninggalkan café itu tanpa memperdulikan pesanan yang bahkan belum ia sentuh.

Melihat sikap sahabatnya yang mengkhawatirkan, Ji Yeon dan Se Na segera mengikuti So Hee yang sudah terlebih dahulu pergi menuju parkiran.

Napas Luhan mulai tersenggal-senggal saat mengejar So Hee yang begitu cepat meninggalkan café. Luhan segera keluar dari café, ia menoleh kekanan dan kekiri mencari-cari kekasih yang tak ia cintai itu. Entah kenapa Luhan merasa bersalah pada So Hee.

Matanya terus beredar mencari So Hee, hingga akhirnya Mercedes SL 55 berwarna hitam yang tak asing lagi untuknya melaju cepat dihadapnnya.

Ia menghela napas kecewa. So Hee telah pergi sebelum mendengar penjelasannya.

~oOo~

Luhan House

Aku terus mondar-mandir di balkon lantai dua yang terhubung langsung dengan kamarku. Pikiranku terus melayang. Entah mengapa aku merasa bersalah pada So Hee, aku tak ingin ia salah paham padaku.

Aku terus memukul dahiku dengan kepalan tanganku. Aku kesal dan kecewa pada diriku sendiri. Kenapa So Hee harus melihatku disaat seperti itu, sih ??

Aku terus menggerutu, menyalahkan diriku sendiri. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Apa yang harus aku katakan pada So Hee ? bagaimana kalau orang tuanya tahu dan melaporkanku pada eomma-ku ? Aiihh, kenapa semua jadi rumit begini, sih ??

Keesokan harinya..

Ini baru jam sembilan pagi, dan aku sudah memacu mobilku menuju rumah So Hee. Hari ini hari libur, So Hee pasti ada dirumah.

Aku sampai.. aku menoleh memandang sesaat rumah yang terlihat ‘hangat’ itu. Aku menghela napas untuk mengumpulkan keberanianku menemui So Hee.

Aku melepas safety belt, lalu turun dari BMW warna hitam milikku. Aku membuka pagar rumah So Hee, lalu berjalan menuju pintu rumahnya. Aku harus melalui taman yang dipenuhi bunga-bunga untuk mencapai pintu rumah itu.

Jariku terhenti saat akan menekan bel. Aku menghempaskan tanganku dan kembali menghela napas sambil menundukan kepala. Bagaimana ini ??

Aku membalikan badanku, ya aku mengurungkan niatku untuk menemui So Hee. Sungguh, aku ini benar-benar pecundang !

Baru beberapa langkah aku menjauh, suara yang hangat menahan ku untuk pergi, malah membuatku menoleh dan bertukar sapa dengannya. Ya, suara itu milik Yoon Ahjumma, ibu So Hee.

Aku segera memberi salam padanya, “apa kabar, ahjumma ??”

“sepagi ini kau sudah datang ? wah, senangnya.. mau bertemu So Hee, ya ?”

Sepertinya pipi ku memerah, aku menggaruk kepala bagian belakangku yang bahkan tak gatal. “ah, ne..”

Aku mengangkat kepalaku, aku menyadari pakaian ahjumma yang seperti siap untuk pergi piknik. “apa ahjumma ada acara ??” tanyaku.

“ah, iya.. apa So Hee tidak bilang ? hari ini kami sekeluarga akan pergi piknik ke Namsan.”

“ah, benarkah ?” tanyaku agak terkejut. Sepertinya aku datang disaat yang tidak tepat.

Terdengar suara yeoja yang tak asing lagi bagiku, “eomma ! hentikan So Hyun !” teriak yeoja itu. Pandanganku beralih pada yeoja yang muncul dari balik pintu sambil mengadu pada ibunya, yeoja yang ingin kutemui, So Hee.

Ahjumma membalikan tubuhnya, memandang yeoja yang tak lain adalah putri kesayangannya. Mataku juga tertuju pada yeoja yang mengenakan kaus berlengan panjang yang ia masukan kedalam mini rok A-line yang jatuh pas diatas lututnya itu.

~oOo~

Aku tertegun saat melihat Luhan ada diluar rumah bersama eomma-ku. Aku menundukan kepalaku, masih jelas terbayang kejadian kemarin yang membuatku tak mampu memandang namja itu.

“ada apa lagi, So Hee ?” tanya eomma padaku. Aku segera tersadar dari lamunanku, dan menjawab pertanyaan eomma tanpa memperdulikan keberadaan Luhan.

“eomma, So Hyun—” belum selesai aku mengadu, mobil remote control milik So Hyun menabrak kakiku. Membuat pandanganku beralih pada anak nakal itu.

“So Hyun~ah ! aku tahu kau punya mainan baru, tapi tolong hentikan !” semprotku pada So Hyun yang berjalan mendekatiku dan mobil remote control miliknya.

Aku menyadari Luhan yang menahan tawa mendengar ucapanku pada adik nakal ku itu. Aku menundukan kepalaku karena malu, Luhan yang menyadari perubahan sikapku segera menurunkan kepalan tangan yang tadi ia gunakan untuk menutupi mulutnya.

“So Hee, mengertilah adik mu itu..” kata eomma padaku. Aku masih menunduk malu dan tak berani milirik Luhan.

“O, ya. Luhan tadi kau ingin bertemu So Hee, kan ?”

Aku segera mengangkat kepalaku saat mendengar perkataan eomma. Luhan ingin menemuiku ??

Luhan terlihat ragu, ia menundukan kepalanya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. “eh, i..i..iya.” jawabnya degan terbata-bata.

Pandanganku segera berpindah saat appa muncul dari garasi sambil membawa tas besar yang tampak berat. Aku segera menghampiri appa sambil berkata, “apa yang appa lakukan ? kenapa tidak menyuruh Jang Ahjussi saja, sih ? nanti kalau sakit pinggang appa kambuh bagaimana ?? aku yang repot, ‘kan ?” omelku pada appa.

Aku segera memindahkan tas yang appa bawa ketanganku, appa hanya tersenyum seperti anak kecil padaku. “sesekali appa harus berolah raga..”

“apanya yang olah raga ??” balasku dengan nada khawatir.

“kalau mau olah raga appa jogging saja, atau kalau mau appa bersepeda..” lanjutku seraya beranjak menuju mobil untuk meletakan tas besar itu dibagasi. Luhan menghampiriku dan berhenti dihadapanku. Ia segera mengambil tas itu dari tanganku. Oh, tidak. jantungku..kembali berdetak cepat.

“biar aku saja yang bawa..” kata Luhan dengan lembut dan senyuman diakhir kalimat.

“wah, ada Luhan ??” komentar appa memecah pandanganku dan Luhan. “bagaimana kalau kau ikut bersama kami ?”

“ah, benarkah ?”

“tentu saja.. kau, kan sudah ada disini, kalau pulang sayang sekali, kan ?” tambah eomma.

Aku hanya bisa terdiam mendengar percakapan mereka. Hingga So Hyun datang dan menarik tanganku. “nuna, kau tidak apa-apa, kan ?” tanya So Hyun adik laki-laki ku. Wajahnya terlihat tulus mengkhawatirkanku, aku pun segera berjongkok dihadapannya sambil bertanya, “memang ada apa dengan, ku ?”

“kemarin..aku lihat nuna pulang dengan wajah sembap, sepertinya karena ulah hyu—“ aku segera membungkam mulut So Hyun dengan tanganku saat aku menyadari So Hyun melihatku kemarin. Terdengar suara tak jelas seperti orang berkumur dari mulut So Hyun.

Aku menaruh jari telunjukku dibibir agar So Hyun tidak membicarakan hal itu. Bisa gawat kalau eomma dan appa tahu.

“So Hee, apa lagi yang kau lakukan pada adik mu ?” tegur eomma padaku.

“ah, ani..” jawabku seraya melepaskan tanganku dari mulut So Hyun. Aku segera bangkit.

“Luhan, parkirkan mobilmu di garasi. Kita pakai satu mobil saja..” kata appa pada Luhan yang sedang menaruh tas dibagasi mobil.

“ah, ne..”

~oOo~

Flashback ~

“So Hee~ah..” kata Se Na dengan lembut padaku. Air mataku terus mengalir, tangis ku tak terbendung lagi. Aku tak peduli, aku tak peduli apa yang akan orang katakan jika melihatku seperti ini. Sangat menyedihkan.

“hah~ namja itu ! awas saja..” gerutu Ji Yeon yang sedang memandang keluar dari jendela kamarku.

Se Na memelukku dengan erat sambil menepuk-nepuk pundakku. “sudah..sudah.. tidak apa-apa..”

“hiks..hiks..ma..maaf.. hari ini..jadi seperti ini..” kataku disela-sela isakanku sambil mengurai pelukan sahabatku itu.

“ini bukan salahmu ! tapi, ini salah namja itu !” sela Ji Yeon dengan mantap. Itu memang sifatnya, ia agak keras tapi sebenarnya ia adalah yeoja yang penuh perhatian.

“kau sudah baikan ?” tanya Se Na padaku. Aku pun mengangguk pelan.

“lagipula, kenapa kau masih mau bersama namja itu, sih ? bukankah kami sudah menunjukkan bukti kalau dia itu sering bermain dengan yeoja-yeoja di club malam ?”

Aku terdiam. Selama ini aku tak menghiraukan semua bukti yang menunjukkan kalau Luhan tak pernah menganggap hubungan kami serius. Aku akan berkata ‘ya, aku tahu’ atau ‘aku harus melihatnya sendiri’. Dan ternyata benar apa yang dikatakan dua sahabatku, melihatnya secara langsung dan tak memperdulikan apa yang ada—hanya akan membuatmu semakin sakit. Dan itulah yang kurasakan sekarang.

“sudahlah.. akhiri saja.” Kata Ji Yeon pada akhirnya. Kini ia sedang berjalan mendekati kasur dimana aku dan Se Na sedang duduk.

Aku memandangi Ji Yeon yang memang terlihat sangat tegar. Aku tahu Ji Yeon jadi seperti ini karena mantan pacarnya yang mengkhianatinya, dan hingga saat ini Ji Yeon masih trauma. Entah ini efek karena pengkhianatan yang ia rasakan atau karena ia menyayangiku sebagai sahabat, tapi sejak awal ia tahu hubunganku dengan Luhan—Ji Yeon sudah memperingatkanku.

Kini ia berdiri dihadapanku, “So Hee~ah, aku tak ingin kau seperti ini terus. Ini hanya akan menyakiti hatimu..”

Aku masih bungkam. Ji Yeon, selama ini dialah yang paling kuat diantara kami. Padahal dialah yang memiliki luka yang begitu besar. Tapi, dia selalu menyemangatiku walau dengan cara yang terbilang agak kasar, dengan sifatnya yang keras dan terkadang angkuh—aku mengerti.

Kini aku terdiam sambil memandang kosong. Aku tak tahu bagaimana harus menyikapinya. Aku tak memungkiri kalau aku berharap semua yang kulihat bukanlah kebenaran. Atau aku berharap aku tak pernah tahu semua keburukan Luhan.

Apa alasanku menyukainya ? Aku tak tahu. Apa mencintai harus ada alasan ? Aku tak peduli bagaimana dan apa yang dia lakukan. Aku hanya melihatnya seorang. Hanya melihat Luhan.

“setelah ini aku yakin pasti Luhan akan bersikap baik padamu.. jadi, berhati-hatilah.. jangan termakan ucapan manisnya !”

Flashback end ~

Note : dudududdududududuu, okeh chapter 1 beres. Sebenernya author pengen jadiin ini oneshoot aja, tapi batal gara-gara pas udah diketik jadinya banyak.. hehe. Bagaimana ? dapet ga sih feel-nya kalo castnya Luhan ? *semoga iya* O,ya mianhae atas semua kekurangan di ff ini mulai dari typo, penggunaan bahasa inggris yang acak-acakan, hingga bahasa korea yang yang author pake *semuanya aja thor -_-* maafkan author yang penuh dengan kekurangan ini.. *bow 45 derajat* oke deh.. selanjutnya ditunggu komentarnya.. supaya author makin majuuuu kedepannya ! ^^ see you next chapter !

16 thoughts on “[FREELANCE] Intuition (Chapter 1)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s