[FREELANCE] Intuition (Chapter 2)

Intuition (Chapter 2)

Author : @ghinaga

Cast :             

Luhan (Exo-M)
Lee So Hee (OC)

Support Cast :

Ji Yeon (T-Ara)

Summary :

When I tried to make a beautiful memories with her.. Why she leaves me and make me alone ?

Luhan

Genre : Sad, Romance, Friendship

Length : Chapter

Rating : PG-13

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

Appa tetap ngotot untuk menyetir sendiri, padahal Luhan sudah menawarkan diri untuk menggantikan appa menyetir. Tapi, appa malah menolaknya.. Huh~ suasana jadi canggung begini. Aku merasa tidak nyaman, apalagi Luhan duduk disampingku selama perjalanan.

Dengan ragu aku melirik Luhan. Sial ! saat aku melirik kearahnya dia juga sedang melirik kearahku. Tentu saja aku langsung memalingkan wajahku—berpura-pura seolah tak terjadi apapun. Tapi, ada yang berbeda dengannya. Luhan tersenyum manis padaku.

Aku melihat So Hyun mencolek pundak Luhan dengan satu telunjuknya. Itu membuatku tertarik untuk melihat apa yang akan dilakukan adik laki-laki ku itu.

“ahjussi..” panggil So Hyun dengan polos, wajar bukan ? usianya baru 8 tahun. Luhan menoleh kebelakang, seolah mencari siapa yang memanggilnya.

“So Hyun, kenapa kau panggil dia ahjussi ?” potongku sambil tersenyum melihat tingkahnya.

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

Kenapa So Hee semanis itu ? dia begitu lembut dan ramah. Tunggu ! ada apa denganku ? kami sudah bersama selama 2 tahun, dan aku baru menyadari kalau So Hee itu manis ??

“habis, ahjussi itu..” jawab So Hyun sambil menunjuk kearahku. “lebih tua dari nuna, kan ?”

So Hee tertawa mendengar jawaban So Hyun. Aiishh Luhan ! kenapa kau baru sadar kalau kau melewatkan yeoja cantik dihadapanmu ??!

“kau ini.. ahjussi itu—tidak setua yang kau kira..” kata So Hee dengan nada bercanda. Saat ia mengucapkan kata ‘ahjussi’ dia melirik nakal kearah ku, lalu kembali menatap adiknya.

“ah.. tidak apa-apa..” potongku untuk mengusir sebuah rasa yang belum bisa kudefinisikan, “hei adik kecil. Kenapa kau memanggilku ?”

“mau taruhan main PSP tidak ?” tanya So Hyun dengan polos dan to the point.

“kalau main rubik, bagaimana ? kau bisa ?”

“memangnya ahjussi bisa ?”

Aku menganggukan kepalaku. Rubik ? itu keahlianku !

So Hyun mencari-cari sesuatu dari dalam ranselnya. So Hee tertarik melihat kami, ia pun melipat tangannya diatas sandaran bangku lalu meletakan dagunya disana.

“apa yang kau cari dalam kantong doraemon-mu itu ?” tanya So Hee pada So Hyun.

“kantong doraemon ?” tanyaku tak mengerti. Mendengar ucapanku So Hee segera mengalihkan pandangannya dari So Hyun padaku.

“ah, itu.. ransel So Hyun bagaikan kantong doraemon. Kau bisa temukan apa saja disana. Ah, tidak semua, sih. Kebanyakan mainan..” jelas So Hee padaku.

“ini dia !” seru So Hyun sambil mengacungkan dua buah rubik standar. Tatapan ku dan So Hee segera terputus, beralih pada So Hyun dan rubiknya.

“ayo.. siapa yang bisa menyelesaikan duluan, itu yang menang !” jelas So Hyun sambil menyerahkan rubik padaku. Dengan senang hati aku menerima rubik itu.

“nuna, hitung dengan timer, yah ?” pinta So Hyun pada kakaknya. Sepertinya So Hyun sangat antusias beradu main rubik denganku.

“kau yakin ??”

“tentu.. aku, kan pandai bermain rubik. Tidak seperti nuna yang menyerah begitu saja saat bermain rubik.”

So Hee menyipitkan matanya seolah tak setuju dengan pendapat adiknya. “eomma, lihat kelakuan So Hyun ! dia sudah bisa bertaruh dengan hyung-nya..” adu So Hee pada ibunya. Lalu mengambil ponsel dari dalam tas kecil yang ia bawa.

Kudengar tawa kecil dari ayah dan ibu So Hee. Keluarga ini sungguh hangat..

“baiklah..hana—dul—set..”

Kami mulai bermain rubik, menyelesaikan tantangan dan beradu dengan logika. Ini cukup mudah untukku.. baiklah, satu lagi.. dan..

“aku selesai !” seruku sambil mengangkat tanganku. So Hee segera mematikan timernya. Saat aku melirik kearah So Hyun, tak lama ia juga berhasil menyelesaikan permainan.

“whoooaa.. ahjussi hebat !” puji So Hyun. Sepertinya tingkat kepercayaan diriku meningkat.

Kini pandanganku tertuju pada So Hee, wajahnya menunjukkan rasa kagum yang mendalam.

Ada apa denganku ? aku menyukai yeoja yang tak lain adalah kekasihku ??

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

“aku tak tahu kalau kau pandai bermain rubik..” kata So Hee dengan polos pada Luhan. Ia tak sengaja mengucapkan kalimat itu, ia keceplosan mengucapkan isi pikirannya.

“ah.. tidak juga..” jawab Luhan malu-malu sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Pipinya memerah seperti tomat, mungkin ini efek kulitnya yang sangat putih.

“berapa waktunya, nuna ?” tanya So Hyun sangat penasaran.

“50 detik..” singkat So Hee lalu tersenyum diakhir kalimat.

“bagaimana mungkin kau tidak tahu Luhan pandai bermain rubik, So Hee ?” sela eomma, sambil melihat wajah So Hee dari spion.

So Hee terdiam, gawat ! bisa-bisa eomma tahu kalau Luhan dan So Hee—

“ah, aku tidak pernah menunjukkan kemampuanku didepan So Hee.” sela Luhan dengan lembut. Ia sangat sopan dalam bersikap dan berbicara pada orang tua.

Semoga saja eomma percaya pada perkataan Luhan.

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.ON

~oOo~

Dengan telaten Luhan membantu ayah So Hee untuk menggelar tikar dan mempersiapkan tempat. So Hee yang sedang bersandar di badan mobil tak menyadari kalau ia kembali terpesona pada Luhan. Pandangan matanya terus tertuju pada seorang namja yang sedang membantu kedua orang tuanya mempersiapkan acara piknik ini.

Seketika ia tersadar dari lamunannya, tangan yang hangat terasa menggengam telapak tangan So Hee. Ia pun menoleh kearah orang yang menggenggam tangannya, So Hyun.

“ada apa ?” tanya So Hee dengan lembut. Senyuman hangat terlukis jelas diwajah cantiknya, bahasa tubuhnya benar-benar menunjukkan perhatiannya sebagai seorang kakak.

“nuna, kalau ahjussi itu menyakiti nuna katakan saja padaku.”

So Hee tersenyum, lalu berlutut menyejajarkan dirinya dengan So Hyun. “memang apa yang bisa kau lakukan kalau ahjussi itu menyakitiku ?”

“aku bisa memberi dia pelajaran hingga jera.. yang jelas aku akan melindungi, nuna !”

So Hee mengacak-acak bagian atas rambut adiknya dengan gemas. “baiklah..”

“nuna jangan ragu begitu ! pokoknya kalau ahjussi itu menyakiti nuna, jangan takut untuk mengatakannya padaku. Pokoknya aku ada dipihak nuna !”

“hihi.. iya-iya, arasseo !”

“So Hee ! So Hyun ! kemari !” panggil eomma sambil melambaikan tangannya. So Hee pun bangkit, ia menggenggam tangan adiknya sambil berjalan menuju pohon yang dijadikan tempat istirahat.

“Luhan ?” panggil eomma dengan lembut. Luhan pun menoleh, seolah menunggu lanjutan perkataan eomma. “tadi, kau ingin bertemu So Hee, kan ? pasti ada yang ingin dibicarakan. Kalau begitu kalian jalan-jalan saja..”

“ah, itu..” kata Luhan dengan ragu. Ia pun memandang So Hee singkat, lalu kembali menatap eomma dan melanjutkan ucapannya. “apa boleh ?”

“tentu saja.. kalian sudah lama tidak bertemu, pasti saling merindukan, bukan ?”

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

So Hee berjalan disampingku. Ia terus menundukan kepalanya, membuatku hanya bisa melihat bagian atas kepalanya. Kenapa dia tidak mau memandangku, sih ?

Kami terus berjalan, rencananya aku ingin mengajaknya naik kereta gantung di Namsan Tower. Perjalanan terasa begitu lama dan jauh karena tak ada pembicaraan diantara kami.

Apa So Hee marah padaku ?

Aku kehabisan akal, hingga akhirnya aku menarik pergelangan So Hee, membuat dia berhadapan denganku. Rambutnya sedikit terhempas saat aku menarik paksa tubuhnya. Membuat aku sempat terlena dengan pesonanya. Ia masih menundukan kepalanya. Apa dia tidak bertanya kenapa aku melakukan hal ini padanya ? Aku menunggu responnya !

“So Hee.. kemarin,”

Ia mengangkat kepalanya dengan ragu, sesaat ia memandang lurus membuat tatapannya sejajar dengan dadaku. Kini bola matanya menatap kedua mataku, membuatku sedikit salah tingkah.

“..i wish only see what I want to see.”

Aku memfokuskan pikiranku. Kalimat So Hee begitu dalam. Membuatku terdiam mendengar ucapannya.

“Walaupun aku sadar, di dunia ini tak ada yang berjalan dengan lancar seperti apa yang aku inginkan,” ia kemudian menghela napas, seolah berusaha mengumpulkan seluruh tenaganya untuk kembali melanjutkan ucapannya padaku.

“aku akan berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi. Aku akan berpura-pura tidak pernah melihat dan mengetahuinya. Aku akan melupakannya. Kuharap kau juga tidak memikirkan kejadian itu lagi. Aku tidak ingin kedua orang tuaku tahu, jadi— kumohon..jangan mengungkitnya lagi..”

Tatapannya melemah, aku sungguh merasa bersalah padanya. Apa yang harus kulakukan ?

Sekarang ia berjalan menjauhiku setelah kalimat dalam bahasa inggrisnya itu berakhir. Aku ingin memeluknya, aku ingin menghapus semua kesedihan dan meminta maaf atas kelakuanku. Tapi, kenapa ? bukankah aku tidak menyukainya ?  lalu, kenapa aku seperti ini ? kenapa aku begitu ingin menghiburnya ?

Yeoja itu terus berjalan didepanku, tak sedikit pun ia menoleh atau menghiraukan orang-orang yang lalu-lalang disekitarnya. Ia hanya berjalan lurus tanpa arah. Aku tak tahan lagi. Aku tak tahan melihatnya terus bersedih seperti ini !

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

Aku terlonjak kaget, saat Luhan merangkulku. Aku segera menjauhkan diri darinya dan melayangkan tatapan tanda tanya padanya. Kenapa ia bersikap seperti ini padaku ?

“wae ?” tanya Luhan padaku dengan wajah polosnya. Ia bersikap seolah tak bersalah. Tatapannya penuh kehangatan, berbeda dengan tatapan-tatapan sebelumnya yang selalu ia berikan untukku.

Aku berusaha melepas rangkulannya, dan dengan mudah Luhan melepas rangkulannya padaku. Kini ia yang menatap dengan tanda tanya padaku.

“apa yang kau lakukan ?” tanyaku agak gemetar. Bukankah baru saja aku membahas kejadian itu ? dan dia sudah bisa bersikap seperti ini padaku ? Luhan, kau benar-benar.

Luhan merundukkan badannya berusaha menyejajarkan wajahnya dan wajahku. “I’m your boyfriend..” bisik Luhan ditelingaku.

“ini bukan tindakan illegal. You is mine.” lanjutnya lalu tersenyum nakal dihadapanku.

Aku segera mendorong dada Luhan yang bidang, setelah ia menyelesaikan kalimatnya agar ia menjauhkan wajahnya dariku. Aku segera berjalan meninggalkannya, tapi baru dua langkah—dia sudah menarik lenganku hingga tubuhku berbalik dan berhadapan dengannya.

“kau bilang ingin melihat apa yang ingin kau lihat, kan ? mulai sekarang aku akan membuatmu melihat apa yang ingin kau lihat. Merasakan apa yang ingin kau rasakan. Dan membuatmu selalu bahagia bila berada disisiku..” Kata Luhan dengan mantap seraya membelai lembut kepalaku.

Aku terdiam, aku tak tahu bagaimana harus menyikapinya. Apa yang dia lakukan ?? kenapa seperti ini ? secepat itukah hatinya berubah ??

Ia menegapkan tubuhnya, lalu menggenggam tanganku dengan erat. Jantungku berdegup kencang, kenapa ia bersikap seperti ini, sih ?

“saranghaeyo..” Luhan mengecup keningku dengan lembut tanpa melepas genggaman tangannya. Lalu, ia menarik lenganku agar aku berjalan mengikutinya.

Apa ini mimpi ??

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

Semua mendadak berubah. Sepertinya Luhan mulai menyadari perasaannya pada So Hee. Kenapa baru sekarang ?

Mungkin, karena sejak acara piknik itu Luhan baru menyadari bahwa ia melewatkan sosok yeoja yang selama ini ia cari. Seorang yeoja yang lembut, ramah, hangat, baik hati, perhatian, mandiri, dan terkadang bisa bersikap manja.

Dua minggu telah berlalu sejak acara piknik itu. Dan selama itu juga Luhan sering bertemu dengan So Hee dan mengajaknya berkencan. So Hee sendiri masih bingung dengan perubahan sikap Luhan. Ini terlalu drastis.

Luhan yang dulu bersikap datar dan dingin padanya, kini sangat protective padanya. Hampir 6 kali dalam sehari Luhan akan mentelpon So Hee, dan tak bosan-bosannya ia akan menanyakan kabar So Hee.

Akhir-akhir ini Luhan juga tak pernah terlihat bermain dengan yeoja-yeoja di club malam. Apa ini karena ia merasa telah memiliki So Hee ?

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

Sebuah pesan singkat baru saja masuk. Luhan yang sedang mengeringkan rambutnya yang baru saja ia keramas dengan handuk segera meraih ponselnya dan membuka pesan tersebut. Ternyata dari So Hee.

Sudut bibirnya naik, membuat senyuman tampak jelas diwajahnya. Luhan tak bisa menutupi rasa senangnya karena So Hee mengajaknya bertemu ditempat biasa, Hangang Park.

Dengan semangat yang luar biasa, Luhan segera memilih pakaian terbaiknya. Ia memilih salah satu semi formal jasnya dan memadukannya dengan kaus dan jeans. Ia menyemprotkan parfum mahal yang ia beli saat bermain ke Paris bersama teman-temannya. Ia mulai merapikan tatanan rambutnya didepan cermin. Setelah dirasa cukup, Luhan segera keluar dari kamar dengan membawa kunci mobilnya.

Hangang Park

Dari kejauhan Luhan bisa melihat yeojanya yang sedang memandang sungai Han sambil melipat kedua tangannya diatas handrail. Dengan langkah mantap dan senyuman, Luhan segera menghampiri So Hee.

So Hee yang mendengar langkah kaki Luhan, segera membalikan tubuhnya menghadap Luhan. Tak seperti biasanya, wajah So Hee begitu datar.

“kau sudah datang ?” ucap So Hee pada Luhan yang kini menghentikan langkah tepat dihadapannya. Perlahan angin meniup lembut rambut panjang So Hee yang tergerai bebas. Membuat aliran listrik menjalari tubuh Luhan.

“hari ini mau kemana lagi ?” tanya Luhan dengan bersemangat. Senyuman tak henti-hentinya ia pamerkan.

So Hee menggeleng pelan. Kini bola matanya yang berwarna coklat itu menatap wajah Luhan dengan dalam.

“..kau pernah bertanya, sampai kapan kita akan begini terus,” kata So Hee dengan pelan tapi mantap. Luhan menatap So Hee penuh tanda tanya, bukankah Luhan sudah mengatakan pada So Hee kalau dia mencintainya ?

“dan sekarang, akan ku jawab..”

“apa maksudmu ?” potong Luhan agak gemetar. Ia benar-benar takut kehilangan So Hee.

“kita akhiri sampai disini.”

Deg !

Luhan mematung, ia tak dapat mencerna perkataan So Hee. Akhiri ?? apa maksudnya ?

“aku tahu, kau tidak mencintaiku. Dan kurasa akan sangat berat jika ini terus berlanjut. Orang tua kita harus tahu kebenarannya, kalau dibiarkan terus..hanya akan menimbulkan luka.”

“..bukankah kita—“

“Luhan.. aku tak ingin kau terpakasa mencintaiku. Aku tak butuh belas kasihmu. Aku tak ingin hal yang dipaksakan.. Yang kubutuhkan adalah cinta yang tulus, bukan cinta yang dipenuhi keterpaksaan dan kebohongan.”

Luhan terdiam, ia tak tahu harus bagaimana. Ia juga tak tahu apa maksud So Hee. Dulu Luhan memang tak menginginkan perjodohan ini, tapi sekarang semuanya telah berubah. Luhan menyadari perasaannya pada So Hee. Ia menemukan sosok yeoja yang selama ini ia cari dalam diri So Hee.

So Hee menundukan kepalanya, lalu menatap Luhan yang lebih tinggi darinya. “terima kasih atas segalanya.. terima kasih karena kau telah muncul dalam hidupku.”

“Kau tak perlu khawatir, aku yang akan menjelaskan semuanya pada orang tua kita.” Lanjutnya.

Luhan masih menatap So Hee, tak sedikit pun pandangannya berpindah. So Hee menghapus air mata yang mulai menyeruak di sudut matanya, ia pun segera mengulurkan tangan pada Luhan untuk mengalihkan rasa sedih yang mulai merasuki hatinya, “suatu saat mungkin kita akan bertemu lagi. Terima kasih, Luhan-ssi.”

Dengan ragu Luhan menjabat tangan So Hee, dengan segera So Hee pun melepaskan jabatan tangan Luhan dan buru-buru pergi sebelum air mata benar-benar mengalir dari mata indahnya.

So Hee berjalan menjauhi Luhan, terus menjauh dan menjauh hingga Luhan tak dapat melihat sosok yeoja itu lagi. Luhan masih disana, masih terdiam membeku. Ia benar-benar shock atas ucapan So Hee.

Berpisah ? Akhiri hubungan ini ?

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

Hujan mulai mengguyur daratan Seoul. Aku bisa merasakan dinginnya air hujan walaupun aku berada di dalam rumah. Rasanya hujan seolah mewakili perasaanku hari ini.

Aku masih memandang keluar dari jendela besar dikamarku. Hujan begitu deras, apa Luhan baik-baik saja ?

Ponselku bergetar, aku segera berjalan menuju meja kecil yang ada disamping tempat tidurku. Sekilas ku lihat ID penelpon, dari ibu Luhan.

Dengan ragu aku mengangkat telpon, “yeoboseyo ?”

“So Hee~ah, apa Luhan bersama, mu ?” terdengar suara hangat yang tak asing lagi bagiku, nada bicaranya penuh dengan kekhawatiran. Membuat otakku mulai membuat hipotesis-hipotesis yang tak seharusnya terjadi.

“tidak. Memang, Luhan belum pulang ?”

“iya.. Luhan belum pulang. Aku sudah mentelpon beberapa teman dekatnya dan katanya Luhan tak ada bersama mereka. Oh, bagaimana ini ??”

Aku terdiam, apa jangan-jangan—Luhan masih ada di Hangang Park ?

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

Ditengah derasanya hujan, tampak seorang yeoja yang memakai payung dan membawa payung lainnya dengan tangan kirinya. Ia berjalan dengan mantap kearah namja yang sedang terdiam membeku ditengah derasnya hujan.

Ji Yeon berhenti tepat dihadapan Luhan yang sedang duduk di kursi taman tak jauh dari tempat dimana So Hee meninggalkannya.

“cepat pulang ! ibumu mencarimu !” kata Ji Yeon sambil menyodorkan payung yang sudah ia buka.

Luhan menengadahkan kepalanya, siapa yeoja itu ?

“mungkin kau tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu. Kau tahu ? kalau bukan karena permohonan sahabatku, aku tak akan sudi datang kesini dan membawakan payung untukmu !”

“kau.. sahabat So Hee ?” tanya Luhan dengan ragu.

“ya. Dengar, aku sangat senang So Hee akhirnya memutuskan hubungan dengan namja sepertimu yang kerjanya hanya bisa membuat wanita menangis ! hah~ So Hee memang terlalu baik hati.. pada namja menyebalkan sepertimu saja dia masih bisa menunjukkan rasa khawatirnya.”

“So Hee mengkhawatirkan, ku ?”

“sudahlah.. kalau kau tak segera pulang, ibumu akan terus-menerus mentelpon So Hee. Ia jadi terganggu tahu !”

Setelah Luhan menerima payung itu, Ji Yeon segera pergi meninggalkan Luhan yang juga memutuskan beranjak pergi menuju mobilnya.

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

Aku begitu khawatir, aku terus memandang keluar jendela mobil menunggu Ji Yeon yang sedang membujuk Luhan untuk pulang. Kuharap Luhan terbujuk dan mau pulang ke rumah. Aku khawatir dia bisa sakit..

Pintu mobil terbuka, kulihat kesamping Ji Yeon telah duduk dikursi pengemudi dengan outwearnya yang sedikit basah.

“bagaimana ? kau berhasil membujuknya ?” tanyaku begitu khawatir.

“iya..” jawab Ji Yeon dengan pelan. Ia membenarkan posisi duduknya, lalu memandang kearahku dengan raut wajah khawatir.

“lupakan dia.. kalau begini terus, akan sulit bagimu untuk lepas darinya.”

Aku mengangguk pelan, lalu mengarahkan pandanganku kedepan. “o, ya terima kasih Ji Yeon..”

“untuk apa ? membujuk namja itu ? aku bahkan tak membujuknya, aku memakinya hingga akhirnya ia mau pulang.”

Aku membulatkan mataku, aku sedikit terkejut atas pernyataan Ji Yeon “kau memakinya ??”

“nanti saja kuceritakan, sekarang..lebih baik kita pulang.”

To be continued..

A/N : bagaimana ? ceritanya belum masuk ke konflik utama nih.. bikin author makin tegang.. haih~ ditunggu jejaknya ! ^^

16 thoughts on “[FREELANCE] Intuition (Chapter 2)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s