[FREELANCE] Don’t Judge Me (Chapter 2)

Poster 2 - Don't Judge Me

Title
Don’t Judge Me

Author
Voldamin-chan

Length
Chaptered

Rating
PG-15

Genre
Romance

Cast
Kim Taeyeon

Lay (Zhang Yixing)

Kim Minseok

Cast
EXO and Girls’ Generation
Disclaimer
This story is mine, pure from my own imagination and all cast is belonge to their own but all my biased ^^

Backsound
1st     : Juniel – Bad Man

2nd   : Ludovico Einaudi – I Giorni

 

Author Note

Don’t forget to RCL and enjoy the story

-Don’t Judge Me-

Musim gugur. Pepohonan di taman kampus ini terlihat sudah mulai mencukur diri mereka sendiri. Daun-daun kecoklatan banyak berserakan di halaman kampus. Di sudut gedung kampus itu, terlihat wajah seorang yeoja di balik salah satu dinding kaca yang tidak begitu besar sedang menopang dagunya. Yeoja itu sibuk dengan pikirannya sendiri sambil menatap daun-daun yang mulai melepaskan diri dari induk mereka.

“Kelas ini adalah kelas vokal yang sangat saya banggakan” suara salah seorang dosen kampus ini menggelegar di dalam ruang kelas dengan ukuran kecil ini. “Oleh karena itu saya harap, tugas besar ini bisa kalian kerjakan dengan sempurna.” Sesekali yeoja itu mengalihkan pandangannya dari paparan sang dosen ke pemandangan diluar jendela kelasnya.

“Seandainya saja aku bisa seperti daun itu” guman yeoja itu.

“Kim Tae Yeon! Aku harap kau bisa menyumbang karyamu dalam tugas besar ini.” Yeoja bernama Kim Tae Yeon itu seketika sadar dari  lamunannya. “Ah, baik Lee songsaengnim.” jawabnya.

“Bagus, kita bertemu 2 minggu lagi untuk membicarakan konsep yang akan kalian pakai nantinya. Sekian kelas kita untuk hari ini.” lanjut dosen yang bermarga Lee itu yang sekaligus mengakhiri kelas musik hari itu.

Setelah memberi salam pada Lee songsaengnim, para siswa segera berhamburan keluar kelas untuk melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Taeyeon juga ingin cepat-cepat meninggalkan kelas ini seperti teman-teman kelasnya yang lain. Tiba-tiba suara seorang yeoja dari luar kelas menghentikan langkah Taeyeon yang akan segera bangkit dari tempat duduknya.

“YA! Kim Tae Yeon!” teriak yeoja berambut blonde dengan pakaian sporty tapi terlihat feminim itu. Segera ia memperpendek jaraknya dengan Taeyeon dan langsung duduk di bangku kosong yang ada dihadapannya. Taeyeon tidak langsung menjawab sapaan gadis blonde itu dan kini malah sibuk melanjutkan kegiatan merapikan tumpukan buku yang sempat tertunda tadi.

“Ya! Kim Taeyeon. Kau ini selalu bersikap sok cuek. Cobalah senyum sedikit, sayang kalau wajahmu yang cantik itu tidak dihiasi senyuman sama sekali. Nanti pasti banyak namja yang akan tertarik padamu.” Jelas panjang lebar yeoja blonde yang masih belum beranjak dari depan Taeyeon.

“Sudahlah, Jung Soo Yeon. Ada perlu apa kau kemari?” jawab Taeyeon tanpa menoleh pada gadis blonde bernama Jung SooYeon itu.

“Ya! Sudah kubilang kan panggil aku Jessica. Ingat Jessica bukan Soo Yeon, Taeyeon-a”

“Memang kenapa, kan itu memang namamu. Apa gara-gara dua namja itu?”

“Aish! Kau ini memang tidak bisa diajak keren sedikit. Bukan gara-gara dua namja ingusan itu dan tidak ada hubungan sama sekali dengan mereka berdua. Jessica itu nama Amerikaku” Sambung Soo Yeon.

“Ya ya ya ya, terserah kaulah. Aku sibuk sekarang. Maaf kali ini aku tidak bisa menemanimu ke kantin ataupun tempat lain.”

“Memang kau mau kemana sih? Kau ada perlu sama si Tembam itu?” sahut Jessica sambil melihat teman didepannya dengan banyak tumpukan buku yang kini berpindah dari meja ke dalam tasnya dan beberapa ada di pelukan Taeyeon.

“Aku tidak ada janji dengan Minseok, Soo Yeon-a. Aku mau ke perpustakaan pusat, ada tugas dari Lee songsaengnim. Jadi aku harus cepat-cepat. Kau ajak saja dua namja pengikut setiamu itu.” Taeyeon segera bangkit dari mejanya dan berjalan keluar dari kelasnya sambil sekilas melambaikan tangannya pada Jessica yang kini hanya bisa melihat kepergian temannya itu.

“YA! Kim Tae Yeon, sudah kubilang mereka bukan pengikutku!” sayang sekali teriakan Jessica tak terdengar lagi  oleh Taeyeon karena gadis itu sudah melesat pergi dari kelas. Hanya Jessica yang ada di kelas itu sekarang.

“Hahh.. Dasar yeoja aneh, terlalu rajin. Kenapa sih dia suka sibuk sendiri, beda denganku. Kuliah itu santai, tidak usah jadi beban pribadi, bisa jadi tambah pusing. Untung saja ada Minseok dan aku jadi temannya. Bisa-bisa dia jadi antisosial.” gerutu Jessica.

“Jess, sedang apa kau sendirian di dalam kelas? Ini kan bukan kelasmu?” terdengar suara pria jangkung yang sekarang berdiri di luar kelas. “Kenapa mencariku di kelas musik? Bukannya kita satu jurusan ya? Kita kan sama-sama ambil jurusan drama?”

“Hah, kenapa dia yang datang sih? Siapa juga yang mencarinya? Percaya diri sekali!” guman Jessica dalam hatinya. “Dasar! Hahh.. Mungkin Taeyeon benar. Salah satu pengikutku” desahnya.

“Jess? Kau baik-baik saja kan?” karena merasa tidak ada balasan dari Jessica, namja jangkung itu berjalan kearahnya.

Sebelum namja jangkung itu mendekat, Jessica segera beranjak dari kursinya. Segera ia tarik lengan namja itu. “Sudahlah. Ayo kau saja yang menemaniku ke kantin. Taeyeon sudah pergi. Dan ingat Kris, aku tidak mencarimu jadi jangan terlalu percaya diri! Kau pikir aku lupa ingatan kalau kita satu jurusan.”

Sepanjang koridor Jessica terus menggerutu tak jelas. Mungkin karena Taeyeon sudah menelantarkannya di kelas yang bukan kelasnnya sendiri dan sekarang bertemu namja jangkung ingusan yang Taeyeon sebut sebagai pengikutnya itu. Entahlah kenapa Taeyeon berkesimpulan kalau mereka adalah pengikutnya, Jessica tidak ambil pusing memikirkan alasan yang kurang penting menurutnya itu. Sedangkan namja jangkung yang masih dalam posisi lengannya diseret oleh Jessica, hanya diam dan mengulaskan senyum penuh arti.

-Don’t Judge Me-

Taeyeon sampai didepan pintu megah berwarna kecoklatan dengan kaca bening sebagai pembatasnya. Tertulis disana dengan ukuran huruf yang lumayan besar.

‘Korean National University of Arts’

‘CENTER LIBRARY’

“Kim Tae Yeon! Taeyeon-a!” seorang namja meneriakkan namanya dan otomatis menggagalkan niat Taeyeon untuk segera membuka pintu perpustakaan itu. Namja itu melambaikan tangannya supaya Taeyeon dapat mengenalinya dan segera berlari mendekati Taeyeon.

Taeyeon hanya diam tanpa sepatah katapun membalas sapaan namja itu. Dia melihat namja tembam yang sedang mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Ya, Taeyeon berpikir kalau namja ini memang agak sedikit tembam seperti yang Jessica katakan tadi dan tidak sejangkung seperti salah satu namja pengikut setianya Jessica tetapi juga tidak terlalu pendek buktinya namja itu lebih tinggi darinya.

“Hahh.. Taeyeon-a. Kau masih sibuk? Aku sudah selesai latihan kelas dance. Kalau kau mau pulang, kau bisa pulang bersamaku hari ini.” namja tembam itu membuka suaranya setelah ia mengatur napasnya karena tadi ia terburu-buru berlari kearah Taeyeon dan memang karena baru saja ia menyelesaikan kelas dancenya. Jadi jelas kalau namja tembam itu terlihat penuh dengan keringat. “Taeyeon-a?” sahut namja itu sambil menyentuh bahu Taeyeon, ingin meyakinkan kalau yeoja itu mendengarnya.

Tidak langsung menjawab namja itu, Taeyeon malah membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebotol air mineral. “Tidak usah. Kau pulang saja dulu. Aku masih ada tugas dari Lee songsaengnim, jadi aku harus segera mencari bahannya mulai hari ini. Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Aku bisa pulang sendiri.” Akhirnya Taeyeon menjawab namja tembam itu dengan panjang lebar sambil menyodorkan air mineral tadi.

“Kau yakin? Kau baik-baik saja pulang sendiri?” sahut namja itu dengan nada khawatir. Tidak hanya itu, bisa dilihat raut muka namja itu menyiratkan kekhawatiran pada yeoja yang sekarang ada dihadapannya.

“Minseok-a. Aku harus segera mencari bahan itu. Pulanglah” sergah Taeyeon dan langsung membuka pintu perpustakaan yang tadi sempat tertunda. Sekilas ia melihat namja tembam yang bernama Minseok. Ia tahu kalau namja itu khawatir, karena selama ini hampir setiap hari dia pulang bersamanya karena suatu alasan yang hanya dia dan Minseok yang tahu.

“Pastikan jangan pulang terlalu malam, Taeyeon-a! Hubungi aku kalau ada sesuatu!” seru Minseok dari balik pintu kaca itu. Berharap yeoja itu bisa mendengarnya kali ini.

Setelah yakin gadis itu masuk dengan aman, dengan terpaksa Minseok melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Taeyeon sendiri dengan perpustakaan itu. Berharap gadis itu baik-baik saja.

Don’t Judge Me

Jika tidak pernah ke perpustakaan ini, maka mereka tidak akan pernah tahu seberapa besar dan seberapa luas isi perpustakaan ini. Rak-rak buku yang berukuran besar dan menjulang tinggi kurang lebih hampir 2 meter lebih ini terisi dengan berbagai macam buku yang tersusun rapi, mustahil jika harus membaca atau mencarinya satu persatu jika tidak tahu apa yang harus dicari. Dan memang Taeyeon bukan orang gila yang akan melakukan hal yang mustahil semacam itu.

Taeyeon segera melesat menuju rak yang terletak di sudut belakang lantai 1 perpustakaan. Disanalah tempat tersimpannya harta karun bagi siswa kelas musik. Namun, tidak semua siswa kelas musik bisa menemukan harta karun mereka disana, karena mereka lebih memilih mencari dengan lebih mudah lewat internet. Itu semua karena pengaruh perkembangan teknologi yang begitu pesat termasuk di Korea Selatan yang juga menyumbang hal tersebut. Tapi tidak dengan Taeyeon.  Bisa dibilang hanya Taeyeonlah yang bisa menemukan hartanya disana karena dia sudah menjadi pengunjung tetap perpustakaan ini. Tidak hanya harta karun yang bisa ia temukan disana, tempat persembunyian, begitulah julukan yang Taeyeon berikan.

Matahari sudah mulai meninggalkan singgasananya. Diliriknya jam tangan kulit bernuansa silver diamond yang menghiasi lengan kiri Taeyeon. Pukul 4.30 sore. Tidak terasa sudah hampir dua jam Taeyeon sibuk dengan buku-bukunya disana. Dengan terpaksa Taeyeon harus segara angkat kaki dari perpustakaan ini, kalau ia tidak ingin mendapat hadiah celotehan tidak penting – menurutnya – dari si Minseok. Taeyeon bergegas merapikan buku-buku yang masih berantakan di lantai dan beberapa diantaranya harus ia pinjam karena tidak mungkin ia harus menginap disini hanya untuk menyelesaikan semua buku yang menurutnya penting itu.

Don’t Judge Me

Taeyeon berjalan menjauhi perpustakaan menuju gerbang utama kampus. Namun, seperti biasa dia selalu menyempatkan diri untuk menengok sebentar ke papan pengumuman utama yang letaknya tidak jauh dari auditorium kampus ini.

“5 menit saja, sepertinya cukup. Minseok tidak akan berceloteh kalau hanya terlambat 5 menit saja,kan?” guman Taeyeon meyakinkan dirinya sendiri.

KOREAN NATIONAL UNIVERSITY OF ARTS

Tulisan besar itu menempel pada papan pengumuman  yang bertengger di dinding luar ruang auditorium milik salah satu universitas ternama di kota Seoul ini. Berbagai macam lembaran-lembaran memenuhi papan yang cukup besar itu dan berisikan informasi yang setidaknya bermanfaat bagi para siswa di sini. Sudut kanan papan itu sepertinya sangat menarik untuk dibaca, karena hanya sudut itu yang kini sedang menjadi pusat perhatian seorang gadis berambut ikal didepannya. Sepi. Seperti itulah keadaan kampus hari ini dan hanya gadis itu yang terlihat betah berlama-lama disana tanpa seorang pun menemaninya.

“Hmm… The Julliard SchoolConservatoire de Paris… dua-duanya kelihatan menarik…” gumannya dalam kesunyian kampus sore itu.

“Sepertinya masih ada yang betah tinggal di kampus sesore ini selain aku.” Tiba-tiba perhatiannya teralihkan dari sudut papan itu ke ruang auditorium sebelahnya.

Pelan-pelan ia mengikuti sumber suara itu dan ia yakin ada seseorang yang sedang memainkan piano auditoirum disana. “Hmm… kalau tidak salah… ‘I Giorni’!” ucap gadis itu dengan lantang dan langsung membekap mulutnya sendiri takut kalau ia akan mengganggu permainan orang itu.

Di ujung auditorium itu hanya ada seorang namja dan sebuah piano. I Giorni, seperti itulah ia menebak judul lagu yang keluar bersama dentingan piano sore itu. Cahaya matahari sore membuat sosok namja itu tidak terlihat jelas. Taeyeon membuka pintu auditorium pelan-pelan bermaksud ingin mendengar lebih jelas sekaligus ingin menuntaskan rasa penasarannya pada sosok namja misterius itu.

Hari sore yang sepi. Keramaian tahun ajaran baru ini seakan berakhir begitu cepat. Hanya ada suara lembut sebuah piano yang menggema di gedung kampus ini.

Krieettt.. Untung saja suara kecil pintu ini tidak disadari oleh sang pianis. Seakan terhipnotis oleh permainannya sendiri, sang pianis tidak menyadari ada sesorang yang sedang memperhatikan dan menikmati permainannya. Tidak jauh dari sang pianis, Taeyeon menemukan tempat yang nyaman dan kini ia bersandar di dinding auditorium itu.

“Ludovico. Dia punya selera yang cukup bagus.” komentar Taeyeon, tapi tidak terdengar oleh sang pianis.

Namja itu sepertinya berbakat. Begitulah yang Taeyeon pikirkan. Sinar matahari sore yang masuk diantara sela-sela ventilasi ruangan itu seakan menjadi lampu sorot, namja berambut hitam agak berantakan dengan potongan ala model dan mempunyai lesung pipit yang menawan, membuatnya seperti seorang pianis sungguhan yang sedang menampilkan karyanya di panggung besar. Lagu yang ia mainkan juga sangat cocok dengan musim gugur seperti ini, pikir Taeyeon.

Sesekali Taeyeon menutup matanya sebagai tanda ia menikmati permainan pianonya. Alunan suara yang keluar dari piano itu begitu lembut. “Ludovico memang seorang pianis hebat.” Begitulah Taeyeon mengagumi pencipta lagu ini. Tidak diragukan lagi jika Taeyeon tahu banyak soal musik, buktinya seorang Lee songsaengnim yang notabene dosen papan atas di jurusan musik sangat berharap banyak padanya.

Prok.. Prok.. Prok.. Taeyeon memberikan applause pada permainan namja itu dan juga sebagai tanda permainan pianonya sudah berakhir. “Permainanmu sangat bagus!” puji Taeyeon dengan suara agak lantang karena jaraknya yang agak jauh dengan namja itu dan takut kalau dia tidak bisa mendengarnya.

Namja itu mengerutkan keningnya sambil menyipitkan matanya, ingin melihat jelas siapa yang ada di ujung sana. Namja itu tidak berkata apa pun ataupun membalas pujian dari yeoja itu. Yeoja itu berjalan ke arahnya sehingga ia bisa melihat dengan jelas sekarang seperti apa rupa yeoja yang sudah memuji permainanya tadi. Yeoja berambut coklat ikal sebahu, berpenampilan sporty dengan kemeja dan celana jins-nya. Selain itu, yeoja itu juga memakai ransel yang tidak begitu besar di punggungnya dan beberapa buku yang ada di tangannya.

“Maaf kalau mengganggumu, hanya menikmati permainanmu saja. Kim Tae Yeon. Salam kenal.” Sambil mengulurkan tangan kanannya, Taeyeon berusaha menjelaskan kenapa ia ada disana karena sepertinya namja itu terlihat terganggu dengan kedatangnnya. Sekilas ia mengulumkan senyumnya, seperti yang Jessica sarankan siapa tahu dengan cara itu ia bisa menambah beberapa teman, meskipun terlihat kaku.

Namja itu ikut berdiri dan menjabat uluran tangan Taeyeon. “Namaku Lay dan terima kasih atas pujiannya.” Balasan yang cukup singkat dari namja yang memperkenalkan dirinya dengan nama Lay itu.

“Permainan ‘I Giorni’mu tadi bagus sekali. Pilihan yang tepat. Kau penggemar Ludovico? Apa kau dari jurusan musik? Aku tidak pernah melihatmu.” tanya Taeyeon panjang lebar.

Baru kali ini dia sendiri yang berinisiatif memperkenalkan dirinya dihadapan orang asing yang sama sekali tidak ia kenal. Biasanya selain Minseok dan Jessica, ia tak pernah mau berurusan dengan orang lain. Maklum, Taeyeon selalu memberikan respon hanya pada hal-hal yang menarik baginya yaitu musik. Mungkin kerena namja bernama Lay ini memainkan salah satu karya favoritnya.

“Maaf. Aku sedang ada urusan. Jadi, Permisi.” Lay tidak menggubris pertanyaan beruntun dari Taeyeon. Disambarnya tas miliknya yang masih tergeletak disamping grand piano auditorium itu. Merasa tidak ada urusan dengan yeoja yang kini ada dihadapannya, Lay melesat pergi meninggalkan Taeyeon sendirian di dalam ruang itu.

“Baiklah, sepertinya memang aku harus pulang sekarang. Terbukti memang ide gila Soo Yeon tidak mempan buatku.” Taeyeon merasa apa yang disarankan temannya tidak mampu merubah karakternya. Yah, dia merasa cukup Minseok dan Jessica yang menjadi temannya. Ia tidak mau ambil pusing memikirkan soal teman yang lain. Yang sekarang ia harus pikirkan adalah tugas dari Lee songsaengnim masih menunggunya.

Saat ia akan mulai beranjak dari tempatnya berdiri sekarang, Taeyeon melihat sebuah buku tergeletak di samping grand piano. Langsung saja ia ambil buku itu. Ternyata buku itu adalah milik namja yang bernama Lay tadi, karena tertulis jelas namanya di sampul depan buku berukuran A4 itu. Tanpa basa-basi, langsung dibukanya buku itu.

“Wah, benar dugaanku. Dia memang berbakat.” Dibukanya satu persatu halaman buku berwarna hijau itu. Setelah melihat beberapa isi halaman buku itu, Taeyeon berpikir bahwa namja ini berbakat menjadi seorang komposer. Isi buku itu tidak lain adalah lagu-lagu yang Taeyeon simpulkan adalah karangan pribadi namja itu.

“Oh, ternyata dia junior 2 tahun dibawahku. Pantas saja aku tidak pernah melihatnya.” guman Taeyeon setelah ia membuka kembali sampul depan yang berisi biodata singkat sang pemilik.

“Maaf ini milikku.” Ketika sedang mengagumi isi buku yang menurut Taeyeon menarik itu, tiba-tiba seseorang menyambar buku yang ia pegang beberapa detik yang lalu. Buku itu kini telah berpindah dari tangan Taeyeon ke tangan sang pemilik. Ya, namja itu kembali untuk mengambil bukunya yang tertinggal. Tanpa ucapan terima kasih, namja itu telah menghilang dari hadapan Taeyeon. Ia tidak bisa menemukan sosok namja itu lagi.

Drrtt.. Drrrtt.. Drrttt..

Handphone miliknya bergetar yang menandakan ada pesan masuk. Taeyeon merogoh sakunya dan langsung membuka flip handphone-nya. Ternyata pesan dari Jung Soo Yeon, pikir Taeyeon.

From: Jung Soo Yeon

 

Taeyeon-a, kau ada dimana sekarang?

Aku dan Minseok sudah menunggumu di apartemenmu.

Cepatlah datang sebelum Minseok menguliahku gara-gara kau datang terlambat!

“Kapan aku pernah mengajak mereka ke apartemenku? Pasti ulah Soo Yeon lagi. Ck.. Mengganggu saja.” Seketika itu Taeyeon benar-benar meninggalkan kampusnya menuju apartemennya yang tidak begitu jauh dari kampusnya. Ia hanya harus berjalan kaki sekitar 15 menit untuk sampai di apartemennya. Taeyeon malas jika harus berdesak-desakan di dalam bus meskipun bisa lebih cepat.

*TO BE CONTINUED*

Huho! Fiuh, lap keringat dulu. Begitulah chapter 2 ini tercipta. Yah, sempet bingung mau nerusin kayak gimana dan alhasil inilah chapter 2 yang masih jauh dari kesempurnaan #wow author lagi alay. Bagi yang menunggu chapter ini silahkan menikmati. Jangan lupa RCL ya, biar tau maunya readers gimana hehe.. Maap juga kalau FF yang terbilang perdana ini agak aneh ceritanya. Yang pasti masih tetep terinspirasi dari lagunya Chris Brown hehe^^. Bagaiman? Terlalu panjang kah? Terlalu aneh kah jalan ceritanya? #bow to readers m(_ _)m

4 thoughts on “[FREELANCE] Don’t Judge Me (Chapter 2)

  1. Yak.. lagi2 misteri baru muncul di chapter 2 ini.. penasaran memang apa sih rahasia yang hanya Taeyeon dan Minseok tau? Huhoo.. ada Jess-Kris jd bintang tamunya nih hehe.. Lanjut thor!

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s