[FREELANCE] When Author Meets Editor (Chapter 1)

Poster - When Author Meets Editor

Title
When Author Meets Editor

Author
Voldamin-chan

Length
Oneshoot

Rating
PG-15

Genre
Romance

Cast
Kwon Yuri

Kim Minseok

Other Cast
EXO and Girls’ Generation

Disclaimer
This story is mine, pure from my own imagination and all cast is belonge to their own but all my biased ^^

Recomended Backsound
1st     : McFly – Love is Easy

2nd   : Girls’ Generation – Echo

 

Author Note

My second fanfiction masterpiece^^. Let me know your opinion about this story so don’t forget to RCL, don’t bash and enjoy the story.

 

 

-When Author Meets Editor-

 

Amour…

Lieben…

愛… (re: ai)

사랑… (re: sarang)

Cinta…

 

Dalam kamus, Cinta didefiniskan sebagai suatu kata sifat yang memiliki arti kasih sayang atau rasa saling tertarik antara pria dan wanita. Yah, siapa sih yang tidak tahu kosa kata ‘CINTA’. Bisa dipastikan semua orang di dunia mempelajari kata ‘Cinta’ di setiap pelajaran bahasa. Kata ‘Cinta’ mayoritas dipakai dalam setiap lagu atau musik, novel, drama, film, bahkan ‘cinta’ juga menjadi topik penelitian di kalangan ilmuwan. Bagi yang sudah merasakan yang namanya ‘cinta’ pasti sudah mengenal bagaimana rasa cinta itu manis ataukah pahit. Semua orang ingin merasakan sensasi cinta dan mendambakan kisah cinta yang romantis seperti drama-drama televisi.

 

Tapi sepertinya 0,001% dari ‘semua orang’ itu tidak terlalu tertarik dengan yang namanya ‘cinta’ dan salah satu di antara mereka adalah seorang yeoja bernama Kwon Yuri, seorang ordinary woman. Tidak ada yang salah dengan seorang Kwon Yuri. Bukan dari keluarga broken home, bukan dari keluarga kaya raya ataupun super miskin seperti tokoh utama drama atau novel romantis. Bukan seorang kutu buku yang suka menyendiri dan tidak punya teman ataupun seorang yeoja primadona yang dipuja banyak laki-laki di sekolah seperti cerita di komik-komik serial cantik.

 

Secara fisik Yuri punya proporsi tubuh yang normal. Tubuh tinggi semampai, hidung tidak terlalu mancung, mata tidak terlalu sipit, punya wajah natural beauty tanpa operasi plastik yang mahal, rambut hitam panjang tapi juga tidak seindah di iklan shampo. Hanya saja Kwon Yuri adalah seorang ‘ordinary woman’, seorang wanita biasa diantara berpuluh juta wanita biasa lainnya.

 

Kwon Yuri, usia 24 tahun, bekerja sebagai seorang novelist bergenre misteri yang cukup terkenal tetapi bukan seorang novelist best seller. Meskipun tidak bisa menjadi seorang novelist best seller, Yuri termasuk novelis favorit diantara penggemar novel yang berbau detektif atau pembunuhan.

 

“Huwaaa… kau kejam sekali Yuri-a! Kau tidak punya perasaan! Tidak manusiawi! Kenapa kau harus mutilasi tubuhnya!”

 

Seketika konsentrasi Yuri terganggu gara-gara teriakan seorang yeoja yang duduk memunggungi Yuri di meja yang berbeda. Kegiatan mengetiknya terhenti, Yuri melepas kacamatanya kemudian menoleh ke sumber kebisingan yang ada di belakangnya.

 

“Ck! Ya, Kim Taeyeon! Kau mengganggu konsentrasiku! Editor macam apa kau ini, tidak bisa memberikan suasana yang tenang bagi novelisnya. Aish!” umpat Yuri kesal pada yeoja bernama Kim Taeyeon yang ada di belakangnya, sekaligus menjabat sebagai editor pribadi Yuri. Imaginasi pembunuhan sadis dan mengerikan serta adegan-adegan penyelidikan fantastis yang tadi memenuhi otaknya kini buyar seketika gara-gara kebisingan yang dibuat oleh editornya sendiri.

 

PLETAK!

“Ya! Kau panggil aku apa?! Kim Taeyeon?! Tidak sopan sekali kau pada orang yang lebih tua darimu, panggil aku eonni! Kenapa juga yeoja cantik sepertimu membuat novel mengerikan begini. Pantas kau tidak punya pacar sampai sekarang.” Taeyeon melayangkan penggaris besinya ke kepala Yuri, merasa kesal pada seorang novelis terkenal tapi tak tahu sopan santun pada yang lebih tua itu.

 

“Awww… sakit eonni! Kau mau membuat seorang novelis kehilangan sumber imaginasinya? Aish.. Taeyeon eonni jangan marah-marah terus nanti bayimu bisa kena efeknya.”

 

Yuri memicingkan matanya pada perut buncit Taeyeon sambil mengeluarkan gerakan-gerakan tangan yang aneh. “Bisa-bisa nanti keponakanku yang lahirnya imut seperti Luhan oppa, gara-gara virus dari luar angkasa plus kejiwaan yang dibawa ibunya, sang bayi berubah menjadi monster psikopat yang siap memangsa manusia lain tanpa ampun dengan kedok muka babyface yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Lalu…”

 

PLETAK!

Lagi-lagi kepala Yuri menjadi sasaran penggaris besi milik Taeyeon. “Aww! Ya eonni! Kau benar-benar ingin membunuhku?” kali ini Yuri meringis kesakitan sambil mengusap ubun-ubun kepalanya akibat kedua kalinya ia dapat hukuman pukulan dari Taeyeon.

 

“Rasakan! Berani-beraninya kau membayangkan yang aneh-aneh soal anakku. Maaf ya aegi, ajumma yang satu ini memang aneh dan suka bicara ngawur. Aegi manis, semoga kau tidak punya sifat aneh seperti Yuri ajumma ya? Aegi pasti cantik seperti omma dan pintar seperti appa.” ucap Taeyeon tersenyum sambil mengelus perut buncitnya seakan ia berbicara pada bayi di dalam perutnya.

 

‘Dugh!’

Taeyeon merasakan bayinya sekarang menendang perutnya, seakan merespon pendapatnya soal Yuri tadi. Taeyeon tersenyum. “Hahaha… keponakanmu setuju kalau kau memang aneh.”

 

Heol… Dasar! Taeyeon eonni, anakmu sepertinya akan punya sifat seperti Luhan oppa. Muka imut tapi perkataan menusuk. Aigoo~” Yuri memilih menyerah untuk berdebat dengan editornya dan kembali ke posisi semula. Ia memutar kursi kerjanya, memasang kacamata dan kembali menatap layat notebook-nya. Jari-jari Yuri mulai melakukan tarian yang indah dengan gerakan yang cepat di atas keyboard. Ia mulai mendapatkan kembali ide dan imaginasi yang fantastis untuk melanjutkan kisah novel misterinya. Sebagai novelis profesional dan cukup terkenal, dengan mudah ide cerita ia tampilkan melalui tulisannya.

 

Sudah hampir 5 tahun ini Kim Taeyeon menjadi editor Yuri, sejak ia memulai debut karirnya sebagai seorang novelis. Taeyeon, selaku editornya pun mengakui kemampuan Yuri sebagai seorang novelis profesional. Ia selalu tepat waktu pada deadline-nya dan seakan tidak pernah kehabisan ide cerita dan imaginasi yang luar biasa untuk novel-novelnya. Banyak yang menyukai gaya penceritaan Yuri sebagai novelis bergenre misteri. Menurut beberapa penggemarnya, kisah-kisah misteri yang dibuat oleh Yuri berbeda dengan novel misteri pada umumnya, ia memberikan imaginasi yang cantik sekaligus mengerikan di dalam novelnya. Hanya saja Taeyeon tidak habis pikir, kenapa yeoja yang sudah ia anggap sebagai dongsaeng-nya ini punya imaginasi mengerikan seperti itu. Kenapa tidak ia coba saja novel bergenre romantis, mungkin saja Yuri bisa menembus best seller. Pernah Taeyeon mengutarakan isi pikirannya ini pada Yuri, tapi selalu saja jawabannya sama. “Aku tidak tertarik dengan hal-hal berbau romantis. Terlalu membosankan dan biasa. Kenapa harus cerita hal yang romantis, misteri kan juga bisa jadi best seller nantinya. Sudahlah eonni, kan aku novelisnya kenapa eonni yang pusing.” Begitulah tanggapan datar dari seorang Kwon Yuri.

 

Taeyeon hanya bisa menghela napas mengingat hal itu lagi. Rasanya percuma saja menyuruh Yuri membuat novel tentang cinta. Yuri sendiri tidak pernah berpacaran dengan seorang namja satu pun. Taeyeon menatap prihatin yeoja di depannya ini. Pakaian terlihat compang-camping tapi tidak seburuk kelihatannya, hanya memakai kaos dengan ukuran yang terlalu besar, celana panjang yang kedodoran, rambut yang diikat sembarangan, poni depan diikat ke atas seperti anak kecil ditambah kacamata bundar yang dipakainya sekarang. Benar-benar tidak rapi. Dengan dandanan yang seperti ia lihat sekarang membuatnya putus asa soal kisah percintaan Yuri nantinya. Andai saja Yuri mau memperhatikan penampilannya sedikit saja, mungkin saja nanti ada namja yang mau jadi pacarnya. Entahlah, Taeyeon pusing memikirkannya. Luhan saja tidak digubris, apalagi Taeyeon.

 

“Yuri-a, kau tidak bosan sendirian?” tanya Taeyeon tiba-tiba.

 

“Maksud eonni?” Yuri mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud pertanyaan Taeyeon tanpa menoleh padanya dan tetap fokus pada layar monitor.

 

“Maksudku, kenapa kau tidak mencari pacar atau calon suami? Kau ini sudah berusia 24 tahun, tapi belum pernah berpacaran sama sekali. Kau tidak bosan sendirian terus, huh?” jelas Taeyeon.

 

Sejenak Yuri menghentikan kegiatannya dan memandang Taeyeon “Taeyeon eonni, aku ini mandiri dan sudah terbiasa sendiri tanpa seorang namja satu pun. Aku sudah bahagia seperti ini, dengan cita-citaku sebagai seorang novelis. Aku merasa tidak ada yang kurang. Aku bukan Taeyeon eonni yang tidak bisa hidup tanpa cinta dan lagi namja itu merepotkan. Ingat dulu ketika eonni masih berpacaran dengan Kris oppa? Huh, kemana-mana selalu ikut dan setiap jam selalu ditelpon, seperti tahanan saja. Sampai-sampai Taeyeon eonni dibuat susah oleh Kris oppa. Untung sekarang eonni menikah dengan Luhan oppa, dia lebih baik yah… meskipun hobinya menceramahi orang.” jelas Yuri panjang lebar dan terdengar mantap.

 

“Hahaha… kenapa Kris tiba-tiba muncul disini. Itu kan sudah lama sekali, Yuri~a. Luhan cerewet seperti itu kan gara-gara masalahmu juga. Kau ini suka pelupa, ceroboh, berantakan dan akhirnya menghilangkan barang karena lupa kau taruh dimana. Luhan orangnya rapi, jadi kalau melihat makhluk sepertimu ya tombol cerewetnya otomatis hidup sendiri.” Taeyeon terkikik mendengar komentar Yuri soal Luhan, suaminya.

 

“Ah, sudahlah eonni. Kau jadi ikut menceramahiku kan. Oh iya eonni, katanya kau sudah mendapatkan penggantimu sebagai editor sementara? Laki-laki atau perempuan? Hah~ jangan sampai nanti mereka mengacaukan ide ceritaku.” Setelah beberapa kali kegiatannya tertunda, Yuri kembali membelakangi Taeyeon untuk segera mengeluarkan berbagai ide yang sedang berputar di otaknya ke dalam rangkaian paragraf pada layar notebook-nya.

 

“Kau tidak perlu ke kantor besok. Luhan bilang editor yang baru akan datang ke apartemenmu besok, jadi kau fokus saja pada deadlinemu.” Taeyeon melanjutkan tugasnya meneliti beberapa karangan Yuri yang sudah selesai dikerjakan. Ia membalik lembar demi lembar kertas yang berisi banyak huruf itu. Ia malas kalau harus mengeceknya di layar komputer karena dengan kondisi hamil yang sudah mencapai 8 bulan itu, Taeyeon lebih cepat lelah di banding biasa. Jadi, Taeyeon lebih memilih mecetaknya dan mengoreksi rangkaian kalimat di dalam kertas itu sambil merebahkan tubuhnya di sofa empuk. Kadang Taeyeon terlihat mencoret beberapa lembaran kertas itu dan menumpuknya di atas meja kerja Yuri setelah diberi beberapa catatan pembetulan darinya.

 

Yuri hanya mengangguk kecil dan ber-Oh ria mendengarkan penjelasan Taeyeon. “Hah~ rasanya hanya menjadi editormu saja susah, sangat melelahkan membaca cerita mengerikan begini. Aigoo~ aegi-ya sabar ya, mulai besok kita bisa istirahat.” bisik Taeyeon pada dirinya sendiri dan bayinya dengan sesekali mengusap perutnya yang sudah semakin membuncit itu.

 

Yuri memanyunkan bibirnya kemudian tersenyum kecil mendengar bisikan Taeyeon yang masih bisa ia dengar. Yuri juga merasa kasihan pada eonni-nya yang masih mau bekerja dengannya meskipun dengan beban yang ia bawa di perutnya saat ini. Mulai besok Taeyeon sudah bisa beristirahat dan pekerjaannya akan digantikan dengan editor baru. Yuri masih penasaran siapa yang akan jadi editornya kali ini, karena selama ini hanya Taeyeon yang bisa bertahan bekerja dengannya. Apa kali ini sang editor baru bisa bertahan? Kita lihat saja nanti.

 

-When Author Meets Editor-

 

Kriiing..~

Kriiing..~

Kriiing..~

 

Nada dering kuno sebuah handphone menggema di seluruh penjuru kamar. Kamar itu gelap, cahaya sulit masuk karena masih terhalang oleh kelambu. Hanya pancaran cahaya dari handphone tadi yang hanya cukup untuk menerangi tempat handphone itu tergeletak.

 

Sreekkk..

 

Yuri menyembulkan kepalanya dari dalam selimut yang tadi masih menutupi seluruh bagian tubuhnya. Masih dengan mata terpejam, Yuri mengulurkan tangannya dan meraba-raba meja di sebelah tempat tidur, mencari sebuah handphone yang sedari tadi terus memaksa Yuri untuk bangun dan menjawabnya.

 

“Yeo~ boseyo~?” dengan suara serak Yuri berhasil menjawab panggilan seorang di seberang sana.

 

Ini sudah jam berapa Kwon Yuri dan kau masih belum bangun juga? Aku hanya ingin meningatkanmu kalau editor barumu datang hari ini. Mungkin sekitar 5 menit lagi dia datang. Namanya Kim Minseok, baik-baiklah dengannya dan ingat jangan berbuat ulah lagi. Oya, Taeyeon titip salam buatmu.” Yuri meresponnya dengan anggukan beberapa kali walaupun tidak bisa dilihat oleh lawan bicaranya di telepon.

 

“Iya.. iya.. aku sudah diberi tahu istrimu semalam, Luhan oppa~” jawab Yuri seraya kembali menelungkupkan kepalanya ke dalam selimut, malas untuk keluar dari tempat tidurnya. Ia merasa masih belum siap untuk bangun karena semalam luapan ide di dalam kepalanya memaksa Yuri untuk tetap berkutat dengan notebook-nya sampai dini hari.

 

“….”

 

“iya~”

 

“….”

 

“iya~ aku tahu. Sudah ya? Jaga Taeyeon eonni baik-baik oppa. Annyeong~” Yuri kembali meringkung di dalam selimutnya segera setelah ia memutuskan sambungan telepon. Sekilas ia mengecek jam di layar handphonenya.  Ah~ 5 menit lagi katanya? Pasti akal-akalan Luhan oppa saja. Ini kan masih jam 8, ah masa bodoh pokonya aku mau tidur lagi. Dalam hati Yuri merutuki orang yang menelponnya tadi yang sekaligus mengganggu kedamaian tidurnya.

 

TING TONG! TING TONG!

 

Ck! Siapa sih iseng-iseng pagi seperti ini?! Pasti kelakuan si gigi deterjen itu lagi!

Sungguh! Yuri ingin memaki semua orang yang sudah mengganggu kedamaian paginya hari ini. Apa mereka tidak tahu bagaimana beratnya pekerjaan novelis yang menuntut mereka untuk tidak tidur semalaman?

 

TING TONG! TING TONG!

Bel apartemen Yuri masih bertahan berbunyi meskipun pemiliknya memilih untuk tidak menanggapinya.

 

Sialan! Park Chanyeol si gigi deterjen sialan! Dasar anak ingusan, apa dia tidak kuliah pagi-pagi begini?!

Aish! Biarkan saja nanti juga dia capek sendiri, benar-benar tetangga kurang kerjaan!

 

Tik..

Tik…

Tik…

 

Hening. Hanya bunyi jam dinding kamar Yuri yang terdengar sekarang. Bel apartemennya tidak terdengar lagi, mungkin memang benar dugaan Yuri hanya tetangganya yang usil. Kini Yuri bisa melanjutkan tidurnya dengan tenang dan damai.

 

Sraakkk…

“Yuri-ssi? Waktunya bangun.” Seseorang dengan kasar membuka selimut yang awalnya menyembunyikan sosok Yuri, untung saja yeoja itu masih memakai pakaiannya dengan lengkap. Tak ada tanggapan atau reaksi apapun dari Yuri, yeoja itu malah meringkuk dan mengulung diri seperti orang kedinginan.

 

Sraakkk…

Kali ini giliran kelambu kamar Yuri dibuka lebar-lebar sehingga cahaya matahari langsung menyeruak dan menerangi seluruh kamar.

 

“Yuri-ssi? Waktunya bangun.” karena sebelumnya tak ada tanggapan dari Yuri, namja itu menggoyangkan bahu Yuri lalu berpindah menyentuh pipi yeoja manis itu dengan jari telunjuknya, bermaksud supaya yeoja itu cepat membuka matanya. Namun hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda yeoja itu sadar dari alam mimpinya.

 

Dia ini tidur atau mati sebenarnya sih? Ck.. ya sudah kalau begitu, apa boleh buat terpaksa pakai cara itu saja. 100% pasti bangun.. kekekeke~

 

Dekat. Wajah namja itu semakin mendekat. Sekarang wajahnya dengan milik Yuri hanya berbeda 5 cm. Sedikit lagi… Dan…

 

Cup~

 

Tepat di bibir mungil Yuri, namja itu mendaratkan sebuah kecupan singkat. Seketika itu juga Yuri membuka matanya lebar-lebar, masih dengan posisi tidurnya. Yuri meraba bibirnya, belum yakin benda apa yang tadi menempel sekilas di bibirnya. Lalu ia menengadah ke atas dan melihat sosok namja asing yang bertahan berdiri disana sambil menyunggingkan senyuman polos, menurut Yuri.

 

“Kya~ aa~ a!! YA! Siapa kau?! Bagaimana kau bisa masuk?! Dan.. apa yang sudah kau lakukan tadi?!” Namja itu menutup kedua telinganya erat mendengar jeritan yang sedikit serak dari yeoja bernama Kwon Yuri. Strateginya benar-benar berhasil, yeoja itu sudah sadar 100%.

 

“Annyeonghaseyo. Perkenalkan namaku Kim Minseok, editormu yang baru. Hehehe…” Namja bernama Kim Minseok, editor baru Yuri, itu membungkun dan memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lebar dengan pipi tembam yang menghiasi senyuman polosnya itu.

 

“Dasar namja KURANG AJARRR!!!” dengan sigap Yuri mengeluarkan kepalan tangannya. Bersiap melayangkan tinju andalan yang ia arahkan pada namja di hadapannya.

BUAKK!

 

-When Author Meets Editor-

-to be continued-

3 thoughts on “[FREELANCE] When Author Meets Editor (Chapter 1)

  1. Bwahaha.. apa-apaan nih gila si Xiumin langsung maen samper aja tuh… wow Taeyeon istrinya Luhan nih, wah couple unyu2 dunk… lanjuttt

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s