[FREELANCE] Sweetest Disaster (Chapter 1)

SD

Title: Sweetest Disaster
Author: Ei-si.
Main Casts: Zhang Yixing/Lay EXO-M & OC
Support Casts: Lu Han & Xiumin EXO-M, Suho EXO-K
Genre: Romance, Drama
Rating: PG-13
Length: Twoshots
Disclaimer: I have none of the casts except OC and the plot.
A/N: Minna, this is my first fanfic! Iseng-iseng nyoba nulis sambil menyalurkan ide, hehe. FF ini cuma 2 shots kok, udah pernah di-post di WordPress pribadi dan final-nya udah ada di sini. Bagi yang penasaran, you go there check that out! ;D Jangan lupa tinggalkan comment ya! Arigatou! ^^)b

© Ei-si. 2013

Seorang pemuda yang berdiri di belakang kasir terlihat sedikit gelisah. Serba salah dengan apa yang ia lakukan, ia terus menengadahkan pandangannya ke arah meja-meja di sana. Bukan, tepatnya ke arah pemuda yang nampak lebih muda darinya. Tak ambil banyak waktu ia pun berjalan menghampirinya.

“Sudahlah, Lay, pekerjaanmu sudah cukup sampai di sini.”

Pemuda bernama Lay itu pun menolehkan kepalanya cepat, kaget serta tak percaya dengan apa yang orang di hadapannya katakan barusan. “A-apa Hyung baru saja memecatku? Begitukah, Joon Myun Hyung?”

“Tsk, apa yang kau pikirkan? Aku mana mungkin memecatmu,” Joon Myun membalas.

“Lalu?”

“Aku hanya tidak tega memberikan semua pekerjaan di sini padamu. Harusnya aku meminta bantuan Jong In saja tadi. Sekarang pulanglah. Sisanya biar aku saja yang kerjakan.”

“Ahaha, Hyung,” Lay menepuk pundak Joon Myun pelan, “tidak usah merasa tidak enak begitu. Lagipula aku senang melakukannya.”

Joon Myun berkacak pinggang sebal dan mendesah, “Tidak usah memaksa, Yixing-ah. Akhir-akhir ini kau bekerja sampai larut. Aku tidak mau kau mengabaikan kesehatanmu. Itu saja.”

Hyung santai saja, memang sudah seharusnya begitu, kan? Ini karena Min Seok Hyung yang meminta izin mengunjungi neneknya. Tidak apa-apa. Ah, itu ada pelanggan!” Lay berseru sambil mendorong punggung Joon Myun, “Lebih baik Hyung kembali. Cepat!”

Joon Myun menurut perkataan Lay dengan raut keheranan, lalu kembali ke balik kasir.

“Selamat datang!” sapa Lay riang pada dua pengunjung yang baru datang. Ia berjalan menghampiri mereka yang sudah duduk di tempatnya sambil mengeluarkan catatan kecil dari apron hijaunya. “Bisa kucatat pesanan Anda sekarang?”

“Ah, Lay! Aku pesan seperti biasa saja, hmm, lalu… Ya, Ryu Hae Ra! Berhenti memasang tampang seperti itu atau aku akan meninjumu!”

“Tinju saja kalau berani!”

“Tsk! Samakan saja pesanannya denganku, Lay.”

Lay yang tidak tahu-menahu hanya mengangguk polos sembari mencatat pesanan mereka. Dengan jelas ia mendengar dua orang tersebut berbincang sengit.

“Lu Han, kalau kau mau aku bisa mengajakmu makan ke tempat yang lebih baik. Sudah kukatakan aku tidak suka makan di sini!”

Lu Han mencubit lengan Hae Ra membuat gadis itu mengaduh, “Apa susahnya sih menuruti permintaanku sekali saja? Lagipula ini kan sebagai traktiran karena kau telah membantuku mengerjakan tugas. Seharusnya kau berterima kasih.”

Hae Ra pun tak henti-hentinya mencibir Lu Han sedangkan Lay berdiri gelisah di antara mereka, masih mencatat pesanan.

“Baiklah, pesanan seperti biasa, kan, Lu Han-ssi? Akan segera datang 10 menit lagi,” ucap Lay ketika selesai. Ia tersenyum memperlihatkan lesung pipi indahnya lalu meninggalkan Lu Han dan Hae Ra.

Cepat, tak sampai 10 menit pesanan mereka sudah siap. Lay membawa nampan berisi dua mangkuk jjajangmyeon yang masih mengepulkan asap dan mengantarkannya ke meja dekat jendela. Sampai dekat dengan meja tersebut, entah apa yang Lay rasakan tetapi itu membuat pandangannya mengabur. Ia berjalan terhuyung hilang keseimbangan sampai pada akhirnya… entahlah. Lay memejamkan matanya tak berani menebak apa yang terjadi.

Ketika ia mulai berani membuka matanya, ia melihat seorang gadis tepat di hadapannya mengepalkan tangannya geram. Wajahnya memerah menahan amarah dan tampak kacau dengan jjajangmyeon yang sudah tidak berupa mengotori wajah dan kepala gadis itu.

“APA YANG KAU LAKUKAAAN?!” teriak Hae Ra membahana. Lu Han menatap gadis itu ngeri.

“Haaa, maafkan aku, Ahgassi,” Lay terus menerus membungkuk meminta maaf. “A-aku be..benar-benar tidak sengaja.”

YA!”

“Bagaimana hasilmu?”

Hae Ra menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke dinding koridor kampus sambil meluruskan kakinya. Ia menyerahkan selembar kertas kepada Lu Han.

“85. Hmm, tidak begitu buruk.”

“Benar, Lu Han. Tidak begitu buruk,” ucap Hae Ra sinis menekankan kalimat terakhirnya.

Lu Han tampak berpikir dan memekik tiba-tiba, “Ah!” Ia menepuk dahinya keras seraya menyejajarkan tubuhnya duduk di samping Hae Ra. “Ini benar-benar malapetaka. Bagaimana bisa seorang perfeksionis seperti Ryu Hae Ra mendapat nilai, berapa? 85? Impossible.” Lu Han mengetuk-ketukan jari di atas lututnya yang tertekuk. “Mungkin nilai terendahmu ini yang paling tinggi di antara teman-temanmu, Bodoh,” ucap Lu Han lagi sambil memukul kepala Hae Ra menggunakan kertas di tangannya, “berapa pun itu seharusnya kau bersyukur.”

Hae Ra memutar bola matanya malas, “Terserah kau saja, Tuan Rusa. Lalu bagaimana denganmu?”

Lu Han tidak menjawab. Ia hanya meringis memamerkan sederet gigi putihnya sewaktu menunjukkan kertasnya.

“Cih, bahkan kau sekarang sudah bisa melampauiku, ya. Sungguh hebat,” Hae Ra mendecih kesal. Lu Han mengerucutkan bibirnya.

“Ini kan berkat bantuanmu juga, Hae Ra-ya,” balas Lu Han sambil merangkul pundak Hae Ra, “tapi aku tidak menyangka kau malah mendapat nilai segitu, aku jadi merasa bersalah. Sebagai rasa terima kasih dan permintaan maaf, akan kutraktir kau di kedai ramyeon kemarin!”

Mwo?” mata Hae Ra membulat, “Kedai ramyeon itu lagi?! Oh, ayolah, Lu Han, aku bahkan bisa mentraktirmu makan di restoran Italia termahal di Korea. Shirreo! Walau kau memaksa aku tetap tidak akan mau!”

“Sekalipun aku memberimu seember es krim stroberi kesukaanmu itu?”

“Ya, sekalipun kau—mworago? Seember katamu?” tanya Hae Ra antusias. Lu Han mengangguk.

Jeongmal?! Aaah, kajja!”

Hae Ra mengetuk-ketukan jarinya di atas meja. “Hari ini cukup ramai,” gumamnya.

Cheogiyo, bisa kutulis pesanannya sekarang?”

“Ah, ya,” Lu Han menyahut, “aku pesan seperti…lho? Bukan Lay yang melayani kami?”

“Hari ini dia tidak masuk. Aku Kim Min Seok—yang menggantikannya.”

Lu Han membulatkan bibirnya membentuk huruf O. “Memang kemana dia?”

“Aku tidak yakin tapi sepertinya dia sakit. Kelelahan mungkin,” jawab Min Seok sedikit ragu. “Jadi, sudah memutuskan akan memesan apa?”

Lu Han nampak tidak fokus maka Hae Ra yang merespon pertanyaan Min Seok. Lelaki berpipi gempal itu pun segera melangkahkan kakinya menuju belakang dapur untuk menyampaikan pesanan.

Hari ini memang lebih ramai dibanding ketika kemarin Hae Ra berkunjung dengan Lu Han. Tentu saja, saat itu adalah jam makan siang. Orang-orang lebih memilih memburu makan siang mereka ketimbang melanjutkan aktivitasnya. Awalnya Hae Ra memang kesal diajak ke tempat itu karena jujur saja, bagi Hae Ra, kedai ramyeon itu sangat tidak layak. Tempatnya kecil dan terletak di pinggiran. Beda seperti kebanyakan tempat makan yang pernah Hae Ra kunjungi bersama keluarganya yang nyatanya adalah restoran mahal dan mewah. Namun karena kedai itu menyuguhkan makanan yang tak diragukan lagi rasanya, Hae Ra menerima saja ajakan Lu Han. Pikirnya itu tidak terlalu buruk.

“Beda. Apa karena dia tidak masuk?” batin Hae Ra.

Benar. Hae Ra merasa ada yang beda dan kurang. Apa karena keabsenan lelaki berlesung pipi itu?

“Kau langsung pulang saja, Hae Ra-ya. Tidak apa, kan?” Lu Han bertanya ketika keluar dari kedai tersebut.

Waeyo? Memangnya kau mau kemana?”

“Aku ingin menjenguk Lay ke rumahnya.”

“Aku ikut!”

Ne?”

“Haaah… haha.”

Hae Ra tertawa sendiri seperti orang gila di balik bantalnya. Ia berguling ke samping dan telentang, tak lama berguling lagi hingga tengkurap. Begitu seterusnya. Entah apa yang sedang ia lakukan.

Ya, Hae Ra-ya!” Hae Ra menyembulkan wajahnya dari balik bantal, “Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau tiba-tiba meminta Lu Han mengajakmu ke rumahnya, hah? Aish.” Hae Ra mengacak rambutnya kesal dan sekali lagi menenggelamkan kepalanya di bantal.

Benar, hal itu yang membuat hatinya gelisah. Atau mungkin senang. Siapa yang bisa menebak Hae Ra tiba-tiba saja memohon pada Lu Han untuk mengajaknya serta ke rumah Lay tempo lalu. Dengan gamblang ia mengatakan bahwa ia juga ingin melihat bagaimana keadaan Lay. Aneh memang tetapi alih-alih menolak, Lu Han justru dengan senang mengajak Hae Ra. Ayolah, siapa yang tidak menanggapnya aneh, Hae Ra baru mengenal Lay beberapa kali, tepatnya sekali saat Lay tidak sengaja menumpahkan jjajangmyeon waktu itu, ingat? Lagipula apa pedulinya pada orang asing yang baru dikenalnya dalam waktu singkat? Daripada merasa peduli lebih tepat jika Hae Ra masih menaruh rasa kesalnya karena kelakukan Lay di kedai itu, kan?

Hae Ra sudah tidak mau ambil pusing. Ia keluar kamar dan berjalan menuju dapur mencari makanan mengingat sejak pagi tadi belum ada yang mengisi perutnya. Sesaat ia menekuk wajahnya kesal. “Bahkan di hari Minggu pun rumah ini tetap sepi seperti kuburan? Tsk.”

Hae Ra mengambil sticky note yang tertempel di pintu kulkas.

Appa dan Eomma sedang mengadakan pertemuan dengan klien Appa di luar. Oppa-mu sudah berangkat untuk latihan basket bersama temannya sejak pagi. Mianhae, Hae Ra-ya, sepertinya hari ini kau harus mengurus dirimu sendiri. –Eomma

“Terserah.”

Dengan malas Hae Ra membuka pintu kulkas, berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakan tetapi yang ditemukannya nihil. Ia mendesah keras dan menghentak-hentakan kakinya kesal.

Eommaaa, aku lapar! Buatkan aku makanaaan!” teriak Hae Ra menghadap langit-langit rumah. Bodoh.

Lay mengelap peluh di keningnya. Hari itu panas dan Lay seharusnya berada di rumah untuk istirahat—atau setidaknya ia berada di kedai saat ini. Beberapa orang yang berlalu-lalang di sekitarnya membuatnya pusing.

“Kenapa susah sekali sih mencarinya?” desahnya kesal.

Ia merasa asing dengan tempat ini yang sebenarnya adalah sebuah kampus. Lay berniat menemui Lu Han untuk mengembalikan dompetnya yang tertinggal di rumah Lay ketika Lu Han mengunjunginya. Namun sepertinya ia kehilangan arah. Besarnya area kampus itu membuat Lay linglung. Jangankan menemui Lu Han, menemukan fakultas tempat Lu Han belajar pun sulit.

Lay ingin mengistirahatkan dirinya sejenak ketika ia melihat sebuah kursi panjang di taman kampus tersebut. Ia berjalan lunglai sambil menendang kerikil di bawahnya. Bermaksud iseng, Lay menendang kaleng soda di depannya sampai terpental jauh. Awalnya ia pikir tidak akan apa-apa—tidak akan mengenai siapa pun, tetapi ia justru mendengar orang berteriak seperti kesakitan.

Dang it! Siapa yang berani-beraninya… Kau?!”

Lay berhenti tepat di depan orang yang terkena kaleng tadi. Sontak ia menutup mulutnya kaget mengetahui siapa yang ada di hadapannya kini.

“Tamat kau, Zhang Yixing,” gumam Lay.

Ya!!! Kenapa kau lagi?! Aish, awas kau!” jerit Hae Ra, gadis yang kedua kalinya menjadi korban Lay.

Dan sekarang di sana, Lay duduk dengan kikuk di ujung sebuah kursi panjang sebuah taman. Ia menghela napasnya pelan. Dibungkusnya beberapa balok kecil es batu yang ia dapatkan dari kantin kampus menggunakan saputangannya.

“Ini,” Lay menyodorkan kompresan es batu ke arah Hae Ra. “Joesonghamnida, Ahgassi, aku tidak tahu kalau—” ucapan Lay terputus. Dengan cepat Hae Ra mengambil kompresan itu dari tangan Lay. Lelaki itu kembali menghela napas. Kali ini terselip nada penyesalan di dalamnya.

“Jika bisa membuatmu lebih baik,” lanjut Lay seraya memberikan sekaleng minuman dingin kepada Hae Ra. Dan lagi, gadis itu tidak berkata apa pun dan langsung mengambil kaleng minuman itu. Hae Ra masih kesal, mungkin?

Lay menatap lekat gadis yang duduk di sampingnya. Gadis itu terlihat memberengut kesal sambil susah payah mencoba membuka kaleng minumannya. Namun Lay justru berpikiran, dengan wajah ditekuk saja sudah membuat hatinya bergetar, apalagi jika ia tersenyum. Pasti akan sangat manis.

“Kalau kau membutuhkan bantuan katakan saja,” usul Lay setelah kembali dari awangannya, membantu Hae Ra membuka minumannya. “Setidaknya ucapkanlah sesuatu. Aku tidak tahu kau memaafkanku atau tidak,” lanjutnya.

“Tak apa.”

Lay menoleh. Hanya respon itu yang Lay dapatkan, lebih baik daripada gadis itu membungkam mulutnya. Entah siapa yang membiarkan tetapi keheningan menyeruak di antara mereka. Memang di saat seperti itu sudah tidak ada lagi yang perlu diperbincangkan apalagi Lay yang dirundung rasa bersalah yang dalam.

“Omong-omong, apa yang kau lakukan di sini?” Hae Ra kembali membuka suara.

“Eh? Aku…” Lay berpikir sejenak, “Ah, iya! Aku ke sini untuk bertemu dengan Lu Han. Apa kau tahu dia ada di mana?”

Molla. Seharian ini aku tidak melihatnya. Memangnya ada perlu apa?” tanggap Hae Ra. Kini ia terlihat lebih tenang.

Lay mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, “Aku hanya ingin mengembalikan dompetnya yang tertinggal di rumahku tempo hari. Bagaimana kalau kau mengantarku ke tempatnya, Ahgassi, fakultasnya mungkin? Kajja!” Kali ini Lay menarik tangan Hae Ra bersemangat.

‘Apa-apaan orang ini?!’ batin Hae Ra, sontak ia menghentakkan tangannya ingin melepas genggaman Lay.

“A-ah, ma..maaf. Aku… Umm, jika kau keberatan bagaimana kalau kau saja yang memberikannya pada Lu Han? Kurasa itu lebih baik,” ucap Lay canggung.

“Akan kuberikan padanya,” jawab Hae Ra ketus, mengambil dompet itu dan segera meninggalkan Lay.

“Yixing! Zhang Yixing!”

“Huh?”

Hae Ra mengernyitkan keningnya bingung. Ia kembali membalikkan badannya menghadap Lay. Kini dilihatnya lelaki itu sedang tersenyum manis padanya yang seketika sanggup membuat Hae Ra membeku di tempatnya.

“Namaku Zhang Yixing. Orang-orang biasa memanggilku Lay, kau pun begitu. Kau sendiri, Ahgassi?”

“Ryu Hae Ra…”

“Nama yang bagus. Oh, ya. Aku senang bertemu denganmu lagi di sini.”

“Panaaas!”

Lu Han sedang duduk bersandar di bawah pohon rindang sambil mengipas-kipas. Sungguh ia tidak pernah berpikir hari akan menjadi sebegini panasnya. Ditambah lagi rentetan kuliahnya hari ini yang begitu membosankan membuatnya makin penat.

“Lu Han!” teriak Hae Ra menghampiri pemuda itu.

“Bersemangat sekali. Habis memenangkan lotre?”

Aniya! Bagaimana kalau kita pergi makan? Aku yang akan mentraktirmu!”

“Ke mana?”

“Kedai ramyeon!”

Mwo?!” rahang Lu Han jatuh. Ia kaget, tentu saja. Tumben sekali Hae Ra yang mencetus ide untuk pergi ke kedai itu. Biasanya gadis itu akan menolak mentah-mentah apabila diajak ke sana. Namun sekarang nyatanya berkebalikan. “Tidak ke restoran Italia paling mahal di Korea saja, Ryu Hae Ra?”

“Sudahlah, kajja!”

Di sinilah dirinya berada sekarang, kedai ramyeon, yang entah sejak kapan menjadi tempat favoritnya mencari makan. Bahkan Lu Han sendiri pun heran mengapa gadis itu bersemangat sekali jika ke tempat ini.

“Hae Ra-ssi?”

Hae Ra yang sedaritadi asyik melamun sambil mengaduk-aduk ocha tidak mengacuhkan orang yang memanggilnya.

Ya! Sampai kapan kau akan terus melamun, Hae Ra-ya?!” Kali ini Lu Han berseru keras, sedikit membuat beberapa pengunjung lain menatap ke arahnya. Hae Ra yang tersadar pun gelagapan.

“Hae Ra-ssi, makananmu sudah siap. Makanlah sebelum dingin.”

Hae Ra mendongakkan kepalanya, dilihatnya Lay sedang tersenyum. Senyum itu lagi.

“Ah, n-nde, Lay-ssi. Gomawo.”

Hae Ra dengan kecepatan supersonik menyambar mangkuk ramyeon di depannya dan memakannya dengan lahap. Ia tidak benar-benar lapar kala itu, lebih tepatnya ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan saking gugup dan salah tingkah di depan Lay. Memalukan.

“Hmm…” Lu Han terus menggumam sepanjang perjalanan pulang. Ia berjalan mendahului, meninggalkan Hae Ra di belakangnya. “Sepertinya dugaanku benar.”

“Apa?”

Lu Han berbalik, “Dugaanku memang benar. Kau menyukainya, kan? Kau menyukai Lay, Ryu Hae Ra?”

MWO?!” Hae Ra memekik. Aku harus menjawab apa? A-aniyo!”

“Tepat sekali. Kau memang benar-benar menyukai Lay, Hae Ra-ya.” Lu Han berjalan mendekat, “Kau gugup dan tidak tahu harus menjawab apa, kan? Kau harus belajar lagi kalau ingin membohongiku,” lanjutnya sambil mengacak rambut Hae Ra.

“A..apa yang kau bicarakan, heh?! J-jangan mengada-ada! Siapa yang bilang aku menyukainya?” kilah Hae Ra. Oh Tuhan, andai saja gadis itu tahu semerah apa wajahnya sekarang.

Aigoo, masih juga mengelak. Kurasa kau cocok jika bersamanya. Lagipula Lay pria yang baik, aku pasti akan dengan senang hati menyetujui hubungan kalian! Oh, tunggu, Lay menjadi adik iparku? Bukan ide yang buruk.”

YA!!! LU HAN SILUMAN RUSAAA!”

Hae Ra terus mengumpat kecil sembari mendorong troli belanja. Ia tidak habis pikir dirinya akan berakhir dengan mendorong troli belanjaan di sebuah supermarket hari ini. Mengapa tidak? Tentu saja, Hae Ra sekarang seharusnya berada di kamar berkutat dengan tugas tengah semesternya yang menumpuk. Jika saja bukan eomma-nya yang memohon untuk pergi berbelanja, ia pasti enggan melakukannya.

Hae Ra mendesah untuk yang kesekian kalinya, “Telur dan gula sudah. Apa lagi, ya?” Ia tampak berpikir dan melanjutkan, “Ah, daging!”

Hae Ra berjalan ke arah bagian daging yang terlihat padat dipenuhi orang-orang. Tanpa sengaja ia menabrak troli salah satu pengunjung di sana.

Mianhamnida, aku tidak lihat a—”

“Hae Ra-ssi? Kebetulan sekali kita bertemu di sini!”

Mulut Hae Ra terbuka, ia jelas terkejut. Yang lebih membuat dirinya tidak habis pikir lagi adalah kenapa ia bisa bertemu Lay di sini? Ayolah, supermarket di kota Seoul yang luas tidak hanya ini, kan?

“L-lay-ssi? Sedang apa kau di sini?” Hae Ra tergagap. Pertanyaan bodoh itu pun tak ayal meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Memang apa lagi yang orang lakukan di tempat sepeti ini? Bermain sepak bola?” Lay terkekeh.

Shoot! Jangan lagi kau mempermalukan dirimu di depannya, Hae Ra-ya. Bersikaplah sewajar mungkin.

“Kau ingin membeli daging? Ah, kalau begitu sama denganku. Ayo kita ke sana.”

Lay berjalan mendahului Hae Ra dan gadis itu hanya mampu memandangi punggung Lay yang entah kenapa ingin sekali ia raih. Seketika itu juga Hae Ra kembali teringat perkataan Lu Han sore itu.

Cocok? Menyetujui hubungan? Adik ipar?! Hae Ra menggeleng sekuat tenaga. Debaran jantungnya yang kelewat batas sudah tidak ia pedulikan lagi, bahkan kalau sampai jantung itu berhenti berdetak ia juga tidak akan peduli. Oh, yang benar saja. Tunggu, debaran jantung? Apa ini artinya Hae Ra membenarkan pernyataan Lu Han bahwa ia memang menyukai Lay?

“Belanjaanmu banyak sekali. Apa tidak berat? Mau kubantu?” tanya Lay menawarkan bantuan.

“Tidak perlu, Lay-ssi, ini tidak berat sama sekali.”

“Baiklah kalau begitu. Oh, ya. Rumahmu di mana? Akan kuantarkan kau pulang.”

‘Mengantarku pulang? Aigoo, eotteokhae?!’ Hae Ra memerangi batinnya sendiri. “Tidak usah repot, aku bisa pulang sendiri. Lagipula bukankah daerah ini sudah dekat dengan rumahmu?”

“Hmm,” Lay menggumam, “tapi tidak ada salahnya kan jika mengantarmu pulang. Atau kau keberatan?”

“Tidak sama sekali. Baiklah kalau kau me—”

“AWAS!”

-To be continued-

Well, hope you like it. Thanks to those who have read. Your like/comment will surely be appreciation for me. Jaa!😉

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s