[FREELANCE] Sweetest Disaster (Chapter 2-END)

SD

Title: Sweetest Disaster
Author: Ei-si.
Main Casts: Zhang Yixing/Lay EXO-M & OC
Support Casts: Lu Han & Xiumin EXO-M, Suho EXO-K
Genre: Romance, Drama
Rating: PG-17
Length: Twoshots
Disclaimer: I have none of the casts except OC and the plot.

© Ei-si. 2013

 

“Kau keberatan jika aku mengantarmu pulang?”

“T-tidak. Bukan maksudku begitu. Tapi, baiklah kalau kau me—”

“AWAS!”

Brug.

Hae Ra memejamkan matanya. Kejadian barusan rasanya cepat sekali terjadi, ia bahkan tidak tahu apa yang menimpanya sekarang. Yang ia tahu dirinya berada dalam dekapan seseorang, entah siapa itu. Berniat memastikan, Hae Ra membuka matanya perlahan dan dapat ia dengar suara hiruk-pikuk orang-orang sekitar berlari menghampirinya. Sesaat kemudian, Hae Ra merasa kepalanya seperti dihantam batu besar—pusing bukan main, kerongkongannya mengering, lidahnya kelu barang digerakkan sedikit pun kala ia melihat orang yang kini tengah mendekapnya erat.

“LAY!!!”

Hae Ra menggigit bibirnya keras. Berulangkali ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, tetapi tetap tidak bisa. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya tak urung berhenti memutus aliran sungai kecil di pipi tirus gadis itu. Tiba-tiba Hae Ra merasakan suatu kehangatan menggenggamnya lembut.

Nan gwaenchana.”

Hae Ra sejenak tertegun. Tangan yang ada dalam genggamannya saat ini begitu hangat, pikirnya.

“Bagaimana bisa kau bilang baik-baik saja sementara tanganmu terluka seperti ini?” tanya Hae Ra masih terisak. Gadis itu sudah tidak peduli dengan supir taksi yang turut memerhatikannya yang sedang menangis melalui kaca spion tengah mobil—memandangnya dengan tatapan prihatin. Ia tak kuasa menahan kekhawatirannya. Terang saja, darah segar mengucur deras dari lengan kiri Lay akibat tertimpa papan reklame yang jatuh saat menolong Hae Ra tadi dan barusan ia bilang baik-baik saja. Benarkah?

“Ini bukan apa-apa. Aku bisa mengobatinya sendiri di rumah,” ucap Lay pelan. Ia terus memegangi lukanya yang terbalut saputangan untuk menghentikan pendarahan.

Sementara itu, Hae Ra berusaha memapah tubuh Lay memasuki rumahnya setelah turun dari taksi yang mengantar mereka. Hae Ra mendudukkan Lay di sofa ruang tamu sedangkan ia berlari masuk ke dalam berusaha mencari first aid yang bisa digunakan. Lay sudah tidak bisa menahan rasa sakit pada lengannya kala itu. Saputangan yang membalut lukanya bahkan sudah basah kuyup akibat rembesan darah yang juga menodai pakaiannya. Sungguh ia tidak kuat. Untung Hae Ra tidak memakan banyak waktu untuk menemukan obat yang dicari.

“Akh…” rintih Lay saat Hae Ra membuka balutan.

“Oh, Tuhan!” Hae Ra menutup mulutnya takut melihat keadaan Lay. Air matanya pun tak sungkan untuk kembali turun. Ia mendekat ke arah Lay berusaha membersihkan luka Lay dan mengobatinya.

Dalam hati Lay mengumpat, mengutuk rasa sakit yang luar biasa ia rasakan. Ia menengadahkan dan menyandarkan kepalanya di kepala sofa. Sesekali ia meringis menahan napas saat Hae Ra mengolesi cairan antiseptik di atas lukanya.

Lay membuka mata sedikit demi sedikit saat ia merasa lebih baik. Namun hal itu malah membuat jantung Lay serasa meronta ingin melompat keluar, napasnya tertahan ketika sekarang ia lihat wajah Hae Ra tepat berada di depan wajahnya. Lay tidak bergerak—begitu juga Hae Ra.

Mereka sama-sama diam di posisi masing-masing tetapi bisa Hae Ra yakini kini Lay berusaha menghilangkan jarak di antara mereka, dan benar. Sedetik kemudian, bibir Lay mendarat mulus di bibir gadis itu. Hae Ra mengejang, terpaku di tempatnya. Matanya membulat tak percaya. Darah berdesir kencang mengaliri seluruh sel tubuhnya, jantungnya berdentum keras seolah berkhianat untuk berdetak senormal biasanya, syaraf otaknya seperti tersengat listrik bervoltasi tinggi membuatnya tak mampu berpikir apa pun, badannya kaku tidak bisa digerakan. Sungguh ini di luar dugaannya.

Hae Ra sedang berusaha mencerna apa yang tengah terjadi ketika Lay melumat bibirnya lembut. Bibirnya memanjakan bibir Hae Ra, memberi tekanan pada objek yang kini tengah ia kecupi. Hae Ra memejamkan matanya kala kecupan ringan tersebut berubah menjadi hisapan nikmat di bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Tangan Lay yang terbebas dari luka kini bergerak mengelus tengkuk gadis itu memperdalam ciumannya. Seolah kehilangan akal sehat, Hae Ra kini berani membalas perlakuan Lay, meletakkan tangannya di dada lelaki itu lalu merangkak naik menuju leher. Lay yang seakan diberi lampu hijau menggigit pelan bibir Hae Ra dan melesakkan lidahnya segera setelah Hae Ra membuka mulutnya. Lidah Lay dengan lihai menari-nari dalam mulut Hae Ra, ingin mengajaknya bermain dan sekali ia berhasil menemukan lidah Hae Ra, mereka saling membelit satu sama lain.

Memabukkan. Bagi Hae Ra ini memabukkan. Ini memang bukan kali pertamanya berciuman, tetapi gadis itu berasumsi bahwa perlakuan Lay benar-benar membuatnya ketagihan. Andai Hae Ra memang kehilangan akal sehatnya, bisa saja gadis itu meminta sesuatu yang lebih ketimbang hal ini. Ia baru sekali ini merasakan sensasi nikmat yang menggoda. Positif ini membuatnya gila.

Decapan demi decapan dari permainan keduanya memenuhi seisi ruangan. Hae Ra tak mampu lagi menahan desahan yang lolos saat kini tangan Lay bergerak turun menyusuri tubuhnya. Lay mengusap pinggang gadis itu dari balik mantel beludru dan kemeja yang dikenakannya, memberikannya sensasi yang menggelitik. Betapa senangnya Lay saat ini. Lukanya sudah tidak ia acuhkan lagi, yang ia rasakan hanyalah jutaan kupu-kupu menari dalam perutnya. Cukup lama mereka menikmati pautan bibir masing-masing sampai akhirnya Hae Ra tidak sengaja menekan lengan Lay yang terluka.

“Eungh…”

Mi-mianhae, Lay-ssi.” Hae Ra lantas menjauhkan dirinya dari Lay. Wajahnya merah padam mengingat apa yang baru saja mereka lakukan. Rasanya Hae Ra ingin menampar wajahnya sendiri karena begitu bodohnya ia melakukan hal tadi bersama Lay. Namun tak dapat dipungkiri, ia menikmati semua itu.

Hae Ra tiba-tiba bangkit dari duduknya, mengambil kantung belanjaan dan berkata, “Semoga lekas sembuh. Annyeong!”

Hae Ra berlari menuju pintu meninggalkan Lay yang memasang wajah bingung. Namun itu tak lama kala bibirnya mengukir senyum kecil di sana. “Sejak kapan kau membuatku jadi gila seperti ini, Ryu Hae Ra-ssi?”

Lu Han menyobloskan sedotan stripe ke kotak minuman dan menyodorkannya ke arah Hae Ra.

“Sudah empat hari ini kau diam saja—tidak seperti biasanya. Apa kau sakit?”

Hae Ra menggeleng pelan, diraihnya kotak minuman yang diberikan Lu Han tadi.

“Nilaimu menurun? Apa appa dan eomma-mu terlalu sibuk sampai tidak memerhatikanmu? Atau Hae Joon Hyung menjahilimu di rumah?” Lu Han menuntut beberapa pertanyaan.

Kembali hanya sebuah gelengan yang Hae Ra berikan menanggapi pertanyaan Lu Han. Dirinya kini memang berada di taman kampus sembari menunggu dengan jenuh mata kuliah selanjutnya, tetapi tentu tidak dengan hati dan pikirannya. Pikiran gadis itu melayang entah kemana, lebih tepatnya melayang memikirkan pria yang belakangan ini berhasil membuatnya gelisah. Apa yang nanti akan dilakukan Hae Ra apabila ia bertemu langsung dengan Lay setelah kejadian itu? Hae Ra mendesah berat.

“Apa ini ada hubungannya dengan Lay?” Pertanyaan yang barusan dilontarkan Lu Han membuat Hae Ra mendadak mendelik. “Omong-omong soal Lay,” Lu Han melanjutkan, “sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya.”

Hae Ra hanya diam memerhatikan apa yang akan dikatakan Lu Han selanjutnya. Semua topik pembicaraan mengenai lelaki itu selalu membuat Hae Ra mengalihkan perhatiannya dari hal lain.

Lu Han menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. “Padahal aku ingin berterima kasih padanya. Bahkan waktu aku ke kedai pun dia tidak ada,” lanjutnya sambil mendesah. “Min Seok bilang dia sakit.”

Jinjja?”

Eo. Ah, kanda!”

Eoddiga?”

“Ke kedai. Kau pasti—”

“Aku ikut!”

Hae Ra memegangi lengan kemeja Lu Han dengan tatapan memohon. Benar memohon karena ia ingin bertemu dengannya, paling tidak Hae Ra ingin mengetahui bagaimana keadaan Lay saat ini.

“Bukankah kau ada mata kuliah selanjutnya?” Bukannya menjawab, Hae Ra langsung bergegas meninggalkan Lu Han. “Ah, geurae. Dia pasti mengkhawatirkan namja-nya.”

Hae Ra berjalan di belakang Lu Han. Sedikit ia merutuki dirinya yang bodoh karena sudah empat hari terakhir ini ia memang selalu menolak ajakan Lu Han untuk pergi ke kedai itu. Alasannya? Singkat saja, ia tidak berani bertemu dengan Lay, lelaki yang sudah berhasil masuk ke ruang hatinya. Apalagi saat itu Lay mencium Hae Ra.

Nde. Arraseo, Min Seok-ah, aku akan segera ke sana!”

Hae Ra mengalihkan pandangannya melihat seorang pria dengan telepon genggam di ujung sana.

“Eh? Tutup?” Lu Han buka suara saat mereka menghampiri pria tersebut.

“Oh, Lu Han-ssi. Benar kami tutup karena aku harus ke rumah sakit sekarang juga.”

“Rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit, Joon Myun-ssi?” Lu Han mengerutkan kening.

Joon Myun menggembok pintu depan kedai dan memasukkan kuncinya ke dalam saku celana. “Lay. Min Seok baru saja menelepon kalau dia menemukan Lay tidak sadarkan diri di rumahnya,” terang Joon Myun, “aku khawatir. Min Seok bilang tangan Lay terluka. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi ini sangat gawat!”

Hae Ra merasa persendian lututnya melemah. Ia ingin jatuh saat itu juga kala Joon Myun memberitahu tentang Lay pada mereka barusan. Joon Myun sendiri terlihat gelisah. Ia segera memberhentikan taksi yang lewat.

“Ah, Joon Myun-ssi, boleh kami ikut?” Lu Han menatap Joon Myun lekat meminta persetujuan. Joon Myun pun mengangguk.

“Jadi,” Lu Han buka suara sesaat setelah mereka berada dalam taksi, “tadi kau bilang ini sangat gawat. Sebenarnya ada apa?”

Joon Myun menghela napas berat, “Hemofilia.” Ia menundukkan kepalanya. “Lay mengidap hemofilia.”

Sontak Hae Ra membelalakkan matanya tak percaya, “H-hemofilia…?”

Majayo, Hae Ra-ssi.”

“Bagaimana bisa?” Lu Han ikut terkejut mendengarnya.

“Itu memang penyakit yang dideritanya sejak kecil. Ibunya pun menderita penyakit yang sama.” Joon Myun hendak meneruskan kembali ceritanya saat taksi mereka telah sampai pada tujuan.

Jeongmal kamsahamnida, Seonsaengnim.”

“Min Seok-ah!” teriak Joon Myun dengan napas terengah-engah, diikuti Hae Ra dan Lu Han di belakangnya. “Bagaimana?”

Min Seok sekali lagi membungkuk singkat pada dokter dan duduk di deretan kursi tunggu rumah sakit. Ia duduk gelisah sambil menautkan jemarinya, “Keadaannya tidak begitu baik, Joon Myun-ah. Dokter bilang Lay tidak membutuhkan waktu yang sebentar untuk penyembuhan lukanya.”

Joon Myun mengerang. Ia mengambil tempat duduk di sebelah Min Seok.

“Izinkan aku masuk ke dalam!” Hae Ra yang sedaritadi bungkam kini berucap. Belum sempat ketiga lelaki yang berada di sana merespon, Hae Ra telah mengambil langkah masuk ke kamar rawat inap Lay. Ia memutar kenop pintu, membuka dan menutupnya kembali dengan hati-hati.

Sungguh bukan ini yang Hae Ra harapkan. Melihat Lay terbaring di atas ranjang dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya membuat dada Hae Ra sesak seakan terhimpit batu karang yang keras. Hae Ra mendekat, mengelus wajah Lay lembut. Sekuat tenaga ia menahan tangis tetapi apa daya, air matanya tetap memaksa turun.

“Entahlah, aku rasa aku akan—”

“Joon Myun-ssi, bisa kita bicara sebentar?” Hae Ra memotong pembicaraan Joon Myun ketika keluar dari kamar rawat Lay. Suaranya terdengar bergetar.

Nde?”

“Ada yang ingin kutanyakan. Kantin rumah sakit?”

Joon Myun menarik salah satu kursi dan duduk di hadapan Hae Ra. “Apa yang ingin kau tanyakan, Hae Ra-ssi?”

“Mengenai Lay.”

“Oh, itu…” Joon Myun membenarkan posisi duduknya. Ia kembali teringat akan ceritanya sewaktu dalam perjalanan menuju rumah sakit tadi. “Entah sejak umur berapa—aku tidak tahu, Lay mengidap hemofilia. Awalnya aku tidak tahu apa hemofilia itu, tapi baru kusadari saat dia membantuku memasak di dapur. Dia tanpa sengaja melukai dirinya sendiri sewaktu memotong sayuran. Kupikir itu hanya luka goresan kecil tapi lukanya tak kunjung sembuh. Baru kutahu kalau dia mengalami kelainan darah. Itulah sebabnya apabila dia terluka, pendarahannya sulit dihentikan.

“Tadi aku mengatakan kalau ibunya juga mengidap penyakit yang sama, kan? Memang benar, dari beliaulah Lay bisa dikatakan mewarisi penyakit itu. Ibunya meninggal saat melahirkan Lay—karena pendarahan hebat. Tak lama ayahnya menyusul. Lay sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Oleh sebab itu aku selalu mengkhawatirkan dirinya. Berulangkali aku menasihati Lay agar menjaga kesehatannya, tapi bukan Lay namanya kalau dia menurut. Dia bahkan pernah bilang bahwa dia rela mengorbankan dirinya demi melindungi sesuatu yang berharga baginya.”

Diam. Tidak ada yang bicara setelah itu. Tidak ada pula tanggapan yang terlontar dari Hae Ra. Ya, benar. Hae Ra bahkan tidak mendengarkan dengan baik penjelasan panjang lebar Joon Myun. Ia terduduk lemas, kakinya lemah, dadanya sakit. Hanya air mata yang mengalir yang menjadi pergerakan di dirinya.

“Hae Ra-ssi, bisa aku meminta bantuan?” pertanyaan Joon Myun membuyarkan lamunan Hae Ra. “Tolong bantu menjaganya.”

Gadis itu mendesah berat, masih menenggelamkan kepalanya di atas meja. Ia sadar kalau dirinya saat ini bukanlah dirinya seperti sediakala yang biasanya ceria dan bersemangat. Ia juga tentu sadar bahwa hanya lelaki itu yang bisa membuat hati dan dirinya gundah seperti ini. Hanya Lay yang bisa.

Hae Ra menjambak rambutnya sendiri merasakan pening yang menghujam kepalanya. Ia meringis—kalut dan serba salah. Perasaan campur aduk pun menyeruak masuk mengobrak-abrik hatinya. Perasaan bingung harus bagaimana dan sikap seperti apa yang harus ia tunjukan saat ia bertemu dengan Lay nanti. Perasaan khawatir yang seolah mencekiknya melihat keadaan Lay yang memprihatinkan. Perasaan bersalah karena secara tidak langsung Hae Ra yang menjadi faktor utama mengapa Lay sekarang terbaring di rumah sakit. Semua itu terlalu sesak untuk dirasakannya.

“Apa yang telah kau lakukan, Lay-ssi? Kenapa kau membuatku seperti ini?” gumam Hae Ra, lebih ke dirinya sendiri.

“… dia rela mengorbankan dirinya demi melindungi sesuatu yang berharga baginya.”

Hae Ra mengangkat kepalanya cepat kala ia teringat kembali perkataan Joon Myun tempo hari. Berharga?

Hae Ra lantas menjambak rambutnya kembali frustasi. Bahkan ia berani sumpah ia belum pernah merasakan dirinya sekalut ini, apalagi karena seseorang. Hae Ra sendiri tidak yakin tetapi yang jelas selalu ada perasaan aneh juga melegakan tatkala dirinya berada di dekat Lay atau bahkan hanya dengan memikirkan lelaki itu saja jantung Hae Ra berdebar sangat cepat. Setiap kali ia mencari jawaban definisi atas perasaan apa yang ia miliki, ia selalu berujung pada satu kata.

“Ya Tuhan, aku mencintainya…”

Satu tetes lagi air mata yang tak mampu ia bendung. Hae Ra dengan tiba-tiba bangkit dan menyambar mantelnya berjalan keluar kamar.

Lay mengangguk semangat menanggapi perkataan suster yang sedang memeriksanya.

“Jaga kesehatanmu. Beristirahatlah yang banyak,” pesan suster tersebut sebelum berjejak meninggalkan ruangan. Lay kembali mengangguk dan tersenyum. Tak lama setelah itu, pintu kamar rawat Lay kembali terbuka, menampilkan sosok yang sangat ia rindukan. Senyum Lay pun mengembang.

“Hae Ra-ssi?”

“Apa kabarmu?” Hae Ra berjalan mendekat. Ia duduk di sofa samping ranjang Lay berbaring.

Lay bangkit dari tidurnya dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. “Dirawat selama 8 hari tentu saja membuatku lebih baik. Sangat sangat baik,” katanya. “Mungkin lusa aku sudah bisa pulang.”

Hae Ra tersenyum. Ia melangkah dan duduk di sisi kanan ranjang Lay. Tidak ada lagi yang ia ucapkan, gadis itu hanya fokus mengupas apel merah dan menyuapinya ke arah Lay. Sembari menyuapinya dengan telaten, Hae Ra terus memerhatikan wajah Lay yang polos, sesekali tersipu merasa jengah mendapat pandangan seperti itu dari Hae Ra. Gadis itu menahan tawanya.

Lay mendesah. “Aku bosan. Aku ingin keluar sebe—”

“Jangan! Jangan lakukan apa pun. Kau tidak boleh banyak bergerak atau kau akan pendarahan lagi!”

“Eh?”

Hae Ra mengernyit, merutuki dirinya sendiri. Apa yang baru saja dikatakannya tadi?

“A-anu… A..aku… aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Aku sudah tahu semuanya,” ucap Hae Ra. Ia meletakkan sepiring potongan apel di atas nakas.

“Jadi, kau sudah mengetahui semuanya?” Hae Ra mengangguk lemah. “Dan kau mengkhawatirkanku, Hae Ra-ssi?”

“Lebih dari itu,” lirih Hae Ra. “Aku sangat mengkhawatirkanmu dan itu membuatku tersiksa…”

Detik itu juga Lay merengkuh tubuh Hae Ra ke dalam dekapannya. Sungguh, Hae Ra tidak pernah tahu kalau pelukan Lay bisa sehangat ini. Jika saja ia mengetahuinya lebih awal maka pelukan Lay akan menjadi sandaran favoritnya.

Mianhae,” lirih Lay, “maaf membuatmu khawatir.”

Hae Ra tidak merespon dengan kata, sebaliknya, ia membalas pelukan Lay lebih erat. Tak selang berapa lama Hae Ra melepaskan pelukan mereka, bukan karena ia merasa tidak nyaman, hanya saja lebih ingin mengetahui tentang sesuatu yang mengganjal selama ini.

“Lay-ssi,” panggil Hae Ra, “apa yang membuatmu menolongku saat itu?”

“Aku mencintaimu.”

Mata Hae Ra melebar. Ia lantas mendongak dan menatap lelaki di hadapannya lekat. Tidak terbayang pengakuan Lay bisa sampai membuat jantungnya menggelinjang di dalam sana, membuat serta rahang gadis itu kaku tak mampu ia gerakan untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Hae Ra hanya bergeming. Mungkin kalau tepat di sampingnya terdapat jurang yang curam, ia lebih melompat ke dalam daripada harus mati kutu di depan Lay saking tidak ada apa pun yang bisa ia lakukan.

“Aku mencintaimu, Hae Ra-ssi,” ulang Lay. “Maaf, mungkin ini terdengar aneh, tapi… aku sendiri tidak yakin. Aku tahu kita hanya baru beberapa kali saja bertemu dan entahlah, aku hanya merasakan perasaan ini saat bersamamu,” lanjutnya, “hanya kau yang bisa membuatku seperti ini.”

“A-aku…”

Lay membelai pipi mulus Hae Ra dengan tangan kanannya. Ia mendekatkan wajahnya pada Hae Ra dan mengecup bibir gadis itu sekilas. “Kau berharga bagiku.”

‘Ternyata benar kata Joon Myun,’ batin Hae Ra senang.

“Jadilah kekasihku, Ryu Hae Ra.”

Lay menatap intens langsung ke dalam manik coklat milik Hae Ra. Tatapannya serasa menusuk, bukan dalam artian harfiah, tetapi menusuk ingin memasukinya lebih dalam. Kemudian ia mengambil sepotong kecil apel dari atas piring. “Ini,” katanya, “kalau kau menerima cintaku, suapi apel ini untukku.” Lay terdiam sejenak lalu melanjutkan, “Tapi jika kau menolakku, makanlah apel ini untuk dirimu sendiri.”

Kalang kabut. Hati Hae Ra kalang kabut. Bukan bermaksud untuk menolak, tetapi coba pikirkan, siapa yang tidak senang orang yang dicintainya ternyata memiliki perasaan yang sama dan secara terang-terangan mengutarakan langsung padanya. Namun Hae Ra sendiri tidak tahu harus bagaimana. Perlahan ia mengulurkan tangannya meraih potongan apel itu.

Lay menatap Hae Ra yang kini mengarahkan apel tersebut ke dalam mulutnya sendiri. Oh, hancur sudah harapan Lay. Tatapan Lay berubah sendu. Ia sudah tidak bisa mengharapkan apa pun lagi tetapi baru saja berpikir begitu ia menaikkan alisnya bingung. Hae Ra menggigit ujung potongan apel dan mengarahkan bagian ujung lainnya ke arah Lay. Lelaki itu tidak sadar saat Hae Ra tiba-tiba mendekat dan merengkuh tengkuknya. Ya, yang terjadi saat ini adalah mereka yang sama-sama menggigit bagian apel yang berada di mulut mereka masing-masing. Sampai habis, sampai mereka menelannya, sampai tidak ada yang tersisa, sampai bibir mereka kembali bertemu.

“Jadi,” ucap Lay saat melepaskan pautan bibir mereka, “kau menerimaku atau tidak?”

Hae Ra tersenyum. Sangat manis. “Masih belum jelas?”

Lay mengangguk polos, “Mengapa jadi kita berdua yang memakannya?”

“Aku, Ryu Hae Ra, menerimamu, Zhang Yi Xing, menjadi kekasihku,” ucap Hae Ra mendeklamasi. “Awalnya kupikir akan mendapat kesialan lain jika aku menerimamu.”

Lay mengernyit, “Maksudmu?”

Jjajangmyeon dan kaleng soda. Kau ingat?” Lay yang mengingat kejadian itu pun menunduk penuh penyesalan. Hae Ra yang melihat perubahan raut Lay menarik dagu lelaki itu dengan lembut dan berkata, “Tapi bagiku, kau adalah kesialan yang paling indah.”

Dan sekali lagi, bibir mereka bertemu.

Mereka terhanyut, sama-sama terbuai karena perlakuan masing-masing. Tak ayal mereka berdua saling menikmati rasa yang mengalir dari ciuman lembut dan hangat itu, berusaha menyampaikan dan merasakan perasaan kasih dari keduanya.

Saranghaeyo.”

Nado sa—”

Cklek.

“LU-LUHAN?!”

-Fin-

A/N: Any kinds of appreciation are very welcome J Thank you! Hihi ^^

2 thoughts on “[FREELANCE] Sweetest Disaster (Chapter 2-END)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s