[FREELANCE] DON’T JUDGE ME (Chapter 3B)

Poster 3B - Don't Judge Me

Title
Don’t Judge Me

Author
Voldamin-chan

Length
Chaptered

Rating
PG-15

Genre
Romance

Cast
Kim Taeyeon

Lay (Zhang Yixing)

Kim Minseok

Cast
EXO and Girls’ Generation

Disclaimer
This story is mine, pure from my own imagination and all cast is belonge to their own but all my biased ^^

Recomendded Backsound
Ailee feat. Swing – My Love

 

Author Note

Don’t forget to RCL and enjoy the story

 

-Don’t Judge Me-

 

Rutinitas seperti ini sudah biasa dilakukan mereka berdua. Setiap kali Minseok datang memasak, Taeyeon yang mendapat bagian bersih-bersih. Maklum, Taeyeon tak begitu bisa memasak masakan berat dan mewah seperti Minseok. Mungkin hanya menggoreng telur atau memasak mi instan saja, jadi membiarkan Minseok sibuk dengan hobi memasaknya membuat Taeyeon bisa makan makanan enak hampir setiap hari. Taeyeon juga tidak merasa keberatan karena mereka berdua sudah mengenal sejak kecil dan sudah Taeyeon anggap seperti saudara sendiri. Begitulah pendapat sepihak dari Taeyeon yang tentunya jauh dari pendapat Minseok yang menganggapnya lebih dari sekedar seorang saudara. Sikap Taeyeon yang agak tertutup itu membuat dirinya tidak mempunyai begitu banyak teman. Hanya Minseok, Sooyeon dan namja itu.

 

Sejak Taeyeon ‘kehilangan’ kedua orang tuanya dan tinggal sendiri di apartemen ini, Minseok selalu datang untuk sekedar melihat keadaan Taeyeon dengan alasan ingin mengasah hobinya karena ibunya melarangnya mengotori dapur rumahnya sendiri. Sebelumnya Taeyeon juga pernah diminta tinggal bersama oleh ibu Minseok dan sekarang ia bisa tinggal disini setelah kerja keras Taeyeon meyakinkan Kim ajumma. Seperti mahasiswa pada umumnya dengan alasan ingin mandiri dan membiayai uang kuliahnya sendiri, Taeyeon bekerja part time di sebuah lembaga kursus musik di sekitar lingkungan apartemennya. Bukan bermaksud sombong, meskipun tak ada yang bisa menolak kegeniusan Taeyeon dalam hal musik, tapi ia tak bisa menutupi kecanggungannya untuk berinteraksi dengan orang yang ia anggap asing.

 

Sejak Taeyeon ‘kehilangan’ kedua orangtuanya, Taeyeon menutup diri pada orang asing dan tak mau bersosialisasi dengan orang lain yang tak pernah dikenalnya. Ia patut berterima kasih pada Minseok, Minseok lah yang merekomendasikan Taeyeon untuk bekerja disana, karena pemiliknya adalah teman Minseok sendiri, Jung Sooyeon yang lebih suka dipanggil sebagai Jessica. Ya, disanalah Taeyeon mengenal Jessica. Ah bukan, tepatnya Jessica seorang gadis hiperaktif dan sedikit pemaksa itu yang mendekati Taeyeon sampai akhirnya Taeyeon ‘terpaksa’ menambahkan Jessica dalam daftar temannya. Taeyeon pernah bertanya pada Jessica kenapa ia begitu keras kepala ingin berteman dengannya, Jessica hanya menjawab “Memangnya berteman perlu syarat ya? Hmm.. menurutku kau itu unik hehehe..”. Sampai sekarang Taeyeon tidak tahu bagian mana yang ‘unik’ darinya. Mungkin ini sebuah kebetulan, ia ingat dengan jelas dan dengan alasan yang sama pula namja itu bersikeras mendekatinya. Hasilnya mereka berdua bisa mendekati Taeyeon, namun dengan cara dan konteks yang berbeda.

 

Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Apa aku perlu menjenguknya ya? Mungkin akhir-akhir ini aku terlalu disibukkan dengan tugas yang diberikan Lee-saem, sampai aku lupa menjenguknya. Apa aku ajak Minseok juga? Ah, jangan! Nanti dia malah marah-marah lagi. Sudahlah biar aku sendiri saja yang menjenguknya setelah menemui Lee-saem. Taeyeon sibuk dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba saja ia teringat dengan namja itu.

 

“YA, Taeyeon perhatikan cucianmu! Lihat, bisa-bisa dapur kesayangku ini nanti banjir!” sontak Minseok membuat Taeyeon tersadar dari lamunan pikirannya sendiri dan menyadari bahwa air keran sudah hampir meluap memenuhi piring-piring yang masih belum selesai ia cuci.

 

“Astaga!” segera Taeyeon matikan keran airnya dan memindahkan piring-piring yang sudah bersih. “Ck.. Minseok-a sejak kapan dapurku jadi dapur kesayanganmu?”

 

“Sejak dulu. Memang dimana lagi aku harus menyalurkan bakatku. Kau bilang sendiri kan kalau bakat terpendamku selain dance ini tidak boleh dihilangkan. Lagipula kau jarang sekali memakai dapurmu, jadi ya ku manfaatkan saja. Gratis pula. Aku hanya perlu membayarmu dengan masakanku, kau sendiri yang menawariku. Bagaimana sih?” bantah Minseok sambil menggembungkan pipinya.

 

“Aish.. iya.. iya.. aku masih ingat. Kau ini cerewet sekali sih, hanya 1 kalimat pertanyaan kenapa harus sepanjang itu jawabannya. Dan lagi jangan menggembungkan pipimu seperti itu. Jessica akan selalu mengataimu ‘tembam’ kalau kau sok imut begitu.” Taeyeon sedikit sebal dengan sifat cerewet Minseok yang memang sudah tak bisa diubah lagi. Memang benar apa kata pepatah ‘buah tak jatuh jauh daripohonnya’, ibu dan anak sama-sama punya baby face dan cerewet. Dengan wajah baby face yang agak sedikit tembam itu, siapa yang menyangka kalau Minseok sudah berada di tahun terakhir kuliahnya.

 

“Oh iya, sore ini aku harus menemui Lee-saem di kampus. Kalau kau masih ingin melanjutkan mengasah bakatmu di ‘dapur kesayanganmu’ itu, silahkan saja tapi aku tidak bisa menemanimu hari ini.”

 

“Ha? Kau harus menemui Lee-saem di hari libur seperti ini?! Kenapa orang itu gemar sekali pergi ke kampus di hari libur begini sih, songsaengnim yang aneh. Untung saja orang itu tidak mengajar di kelasku, bisa terancam hari liburku.” Gerutu Minseok yang masih sibuk merapikan meja makan Taeyeon.

 

“Entahlah, katanya saem ingin menanyakan perkembangan proyek tugas dariku.” Jelas Taeyeon.

 

“Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu saja. Sekalian aku juga ada janji bertemu dengan Kris dan Joonmyeon di dekat kampus.”

 

“Oke, kalau begitu tunggu aku 15 menit lagi. Aku akan siap-siap dulu.” Minseok membalasnya dengan anggukan beberapa kali. Minseok melihat Taeyeon melesat pergi ke kamarnya setelah meletakkan piring bilasan terakhir.

 

Minseok masih bertahan di ruang makan. Setelah ia pastikan Taeyeon masuk ke kamarnya, Minseok terduduk lemas. Ia rebahkan kepalanya di atas meja makan. “Ah, Sial! Kau pengecut, Minseok! Kenapa kau tak pernah berani bilang terang-terangan padanya. Kenapa kau tak belajar dari kesalahanmu dulu. Kau mau ia direbut lagi oleh orang lain lagi seperti waktu itu, hah? Argggh!” Minseok mengerang frustasi, mengacak-acak rambutnya kesal karena kebodohannya sendiri.

 

-Don’t Judge Me-

 

Gedung kampus memang sewajarnya sepi dihari libur, mungkin hanya segelintir orang yang masih mau menyibukkan dirinya sendiri disini selain penjaga kampus dan para cleaning service tentunya. Terlihat sebuah motor sport keluaran terbaru memasuki gerbang depan kampus besar ini. Pengendara motor itu berhenti tepat di samping gedung, tepatnya area parkir kampus.

 

Setelah membenarkan posisi gitar yang ia sampirkan di punggungnya, Lay segera meninggalkan area parkir menuju ruang dosen untuk menemui Lee-saem. Ia tidak mau dibilang tak disiplin dan berurusan yang lebih rumit lagi kalau tidak segera muncul dihadapan dosennya itu.

 

Lay sudah berdiri tepat di depan ruangan Lee-saem, tetapi niatnya untuk masuk ke dalam sana terhenti ketika ia mendengar dosennya sedang berbicara dengan sesorang di dalam. “Bagus, aku memang tak salah memilihmu. Kita gunakan konsep ini saja untuk pertunjukan musical nanti. Kau memang jenius Kim Taeyeon.”  Tunggu sepertinya ia pernah mendengar nama itu.

 

DEGH!

“Aish, kenapa lagi denganku? Akhir-akhir ini jantungku bereaksi berlebihan. Ck, kurasa aku perlu ke rumah sakit untuk meyakinkan jantungku baik-baik saja.” Lay menggerutu sambil memegangi dada kirinya.

 

“Selamat sore. Maaf mengganggu anda, Lee-saem.” Tanpa babibu, Lay segera masuk ke dalam. Bukannya tidak sopan, Lay hanya ingin segera menuntaskan janjinya dengan Lee-saem hari ini dan pulang secepatnya. Lay membungkukkan badannya sebagai tanda ia menghormati dosennya itu.

 

“Ah, Zhang Yixing. Kau sudah datang rupanya. Kemarilah.” Kedatangan Lay ternyata memang sudah dinanti oleh dosennya. Tanpa beranjak dari tempat duduknya, Lee-saem menyuruhnya untuk segera mendekat. Sesuai dengan instruksinya, Lay memperpendek jaraknya dan sekarang berdiri tepat di depan meja dimana disana berdiri sebuah balok kayu yang terukir dengan nama dosennya itu.

 

“Annyeonghaseyo.” Sekali lagi Lay memberi salam pada dosennya.

 

“Hahaha.. Tak usah terlalu seformal itu, Yixing. Oh, iya kenalkan gadis disampingmu ini adalah mahasiswi andalanku, Kim Taeyeon. Dan Kim Taeyeon, dia adalah keponakanku yang sangat berbakat, Zhang Yixing.” Setelah saling diperkenalkan oleh Lee-saem, keduanya saling membungkuk dan memberi salam.

 

“Annyeonghase.. Ah~ Kau…” sahut keduanya bersamaan.

 

-Don’t Judge Me-

 

Lay berjalan mengekor mengikuti gadis bernama Kim Taeyeon yang sekarang ada didepannya. Tentu saja Lay bukan seorang penguntit, ia terpaksa mengikutinya akibat pertemuannya di kantor pamannya tadi. Begitulah, mau tidak mau Lay mengakui bahwa Lee-saem yang notabene seorang dosen perfeksionis itu adalah pamannya sendiri. Lay malas untuk bercerita panjang lebar bagaiman dosennya itu bisa menjadi pamannya yang intinya adalah dari perkawinan keluarga tentunya.

 

Oh.. Kalian berdua sudah saling kenal rupanya? Bagus, kalau begitu tidak ada yang perlu dirisaukan lagi. Mulai sekarang aku mohon bantuan kalian berdua merancang konsep musical untuk proyek festival kampus akhir tahun ini. Aku percaya pada kemampuan dan bakat kalian berdua. Aku yakin kalian tidak akan mengecewakanku. Oke, 3 minggu lagi kita bertemu lagi dan  selamat bekerja.

 

Itulah yang terjadi di ruang Lee-saem 10 menit yang lalu. Tanpa menghiraukan pendapat Lay dan Taeyeon, Lee-saem secara sepihak memutuskannya begitu saja. Sebenarnya Lay ingin protes, tapi gadis di depannya ini hanya menanggapinya dengan anggukan yang secara tidak langsung menyetujui keputusan pamannya.

 

“Ck, ternyata ini alasan paman Lee mengajakku pindah ke Korea dan membiayai semua uang kuliahku. Seharusnya aku sudah tau kalau paman Lee tidak akan mungkin sebaik ini. Dan sekarang dia menyuruhku untuk bekerja berdua dengan gadis yang baru kukenal hanya untuk proyeknya sendiri? Hah~” Lay menghela napas panjang, meratapi kepolosannya sendiri karena begitu saja percaya pada pamannya yang perfeksionis itu. Selain itu, Lay tidak berani menentang perintah pamannya itu karena janji yang sudah mereka berdua sepakati. Lay tahu persis bagaimana watak pamannya dan menuruti kemauannya adalah satu-satunya cara supaya pamannya tidak melakukan hal-hal yang aneh padanya. Sekali lagi Lay menghela napas panjang.

 

“Maaf. Zhang Yixing-ssi, sepertinya kau keberatan untuk membantuku? Kalau kau memang keberatan, silahkan katakan langsung pada pamanmu itu.” ternyata helaan napas Lay agak keras sehingga Taeyeon dengan tidak sengaja menyadarinya. Taeyeon membalikkan tubuhnya menghadapi namja di depannya dengan menunjukkan kerutan di keningnya.

 

“Ah, maaf bukan begitu Taeyeon-ssi. Tenang saja, aku akan melakukan tugasku dengan baik. Oh, iya panggil saja aku Lay, nama China-ku memang agak susah untuk di ucapkan. Senang berkenalan denganmu dan semoga kita bisa bekerjasama dengan baik.” Lay mengulurkan tangan kanannya di depan Taeyeon, tak terkecuali senyuman lesung pipitnya juga ia tunjukkan.

 

Tanpa diduga Taeyeon menerima uluran tangan Lay dan balik menjabat tangannya.

 

DEGH!

DEGH!

DEGH!

 

Taenggoo-noona! Taenggoo-noona!

 

“Baiklah kalau begitu, kita akan mulai bekerja besok. Temui aku di perpustakaan pusat besok jam 10 pagi.” Ucap Taeyeon setelah membalas uluran tangan Lay sebagai tanda mereka berdua sepakat untuk bekerja dalam 1 tim.

 

“Taenggoo-noona?” tiba-tiba kata-kata asing itu begitu saja keluar dari mulut Lay. Lay masih tidak melepas tangan Taeyeon, malah menatap yeoja didepannya dengan tatapan menerawang.

 

“Maaf, Lay-ssi. Apa kau mengatakan sesuatu barusan?” tanya Taeyeon berusaha meyakinkan apa yang baru saja ia dengar dari namja di depannya ini.

 

“Ah, maaf. Oke, jam 10 di perpustakaan pusat. Aku akan tepat waktu.” Lay segera melepaskan jabatan tangannya seraya ia sadar dari sekilas lamunannya tadi.

 

“Maaf, Aku harus pergi ke suatu tempat jadi tidak bisa mulai bekerja denganmu hari ini. Sampai jumpa besok, Lay-ssi” sekilas Taeyeon membungkukkan badannya sebelum ia resmi meninggalkan Lay sendirian disana. Lay masih berdiri terdiam ditempatnya. Ia menatap yeoja itu berjalan menjauh dan kini sudah lenyap di balik gerbang kampus. Lay perlahan menutup kedua matanya sembari memijit pelipis dengan jari-jari tangannya.

 

“Taenggo-noona? Siapa dia? Astaga, hari ini aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Sepertinya aku butuh istirahat. Lebih baik aku pulang sekarang dan tidur.”

 

No one could replace you

I will give you all of me

Nothing is more precious than you to me

since you’re my everything

 

 

-Don’t Judge Me-

To be continued

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s