[FREELANCE] Intuition (Chapter 5)

Intuition

Author : @ghinaga

Cast :

Luhan (Exo-M)
Lee So Hee (OC) / You
Suho / Kim Joon Myeon (Exo-K)
Oh Sehun (Exo-K)
Ji Yeon (T-Ara)
Se Na (OC)
Lee So Hyun (OC)

Genre : Sad, Romance, Friendship

Length : Multi-Chapter

Rating : Teen

A/N : anyeong ^^ mian kelamaan yah readers ? soalnya kemaren author harus focus sama TO.. tapi, sekarang TO-nya udah beres kok ^^ oh, iya disini ada moment-nya Luhan sama So Hee lho~ soalnya kemaren ada yang minta moment mereka.. so, let’s to the story ! happy reading~

 

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

Semua telah kembali seperti semula. Dimana So Hee bisa kembali beraktivitas seperti saat dimana ia bisa melihat. Namun, sesuatu terjadi. Ayah So Hee, Tuan Lee, jatuh sakit. Sehingga So Hee sebagai anak tertua, harus menggantikan posisi ayahnya sebagai presdir sementara Tae San Group.

Tae San Group merupakan perusahaan turun-temurun. Pertama kali dirintis oleh kakek So Hee. Sebuah perusahaan yang memiliki cabang di berbagai bidang. Dimana ribuan pekerja mempertaruhkan hidupnya pada Tae San.

Memang terasa begitu mendadak. Walaupun So Hee memanglah seorang gadis yang cerdas dan pandai berargumen, namun diusianya yang masih muda dan belum memiliki banyak pengalaman ia harus menjabat sebagai presdir sementara.

 

Rapat direksi hari ini, cukup membuat So Hee kelelahan. Apalagi, dia harus menyelesaikan proyek yang ia kepalai sebelum menjabat sebagai presdir sementara.

Tapi, bagaimanapun juga So Hee tetaplah seorang gadis muda yang membutuhkan kasih sayang.

 

Tok..tok..

 

“masuk..” kata So Hee yang masih sibuk memeriksa beberapa laporan keuangan Tae San.

“nuna !” panggil seorang anak laki-laki sambil berlari kearahnya.

So Hee mengangkat kepala, membuat matanya dapat melihat sosok dongsaeng dan eomma-nya yang sedang berjalan menghampirinya.

So Hyun langsung menyerbu kakaknya. “nuna.. nuna tidak lupa ‘kan ?” tanya So Hyun yang masih memeluk erat So Hee.

“iya, aku tidak lupa..” kata So Hee seraya melepas pelukkannya lalu tersenyum pada eomma-nya.

“apa kami mengganggumu ? kau tampak lelah, So Hee.” tanya eomma.

So Hee menggeleng pelan. “hari ini ‘kan ulang tahun So Hyun.. tentu aku harus merayakannya tanpa rasa lelah, bukan ?”

So Hyun tersenyum pada nuna-nya yang sedang mengacak-acak rambutnya itu.

“kalau begitu, ayo berangkat !”

 

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

 

Tae San Department Store~

“selamat sore, presdir..” kata seorang pegawai sambil membungkukkan badannya pada So Hee.

“jangan panggil aku presdir. Sekarang aku sama dengan pemebeli lainnya.”

Pegawai itu hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan mereka untuk menggambilkan sepasang sepatu yang diinginkan So Hyun.

“Luhan masih datang ke rumah sakit ?” tanya So Hee datar pada eomma-nya.

“iya. Ternyata dia itu perhatian sekali, ya ?”

“o, ya eomma. Sampai saat ini, masih ada pertanyaan yang mengusik pikiranku. Dan itu benar-benar membuatku tak dapat berkonsentrasi.”

“apa ?”

“siapa yang mendonorkan mata ini untukku ?”

 

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

 

Kututup keran air itu setelah mencuci bersih kedua telapak tanganku. Kupandangi bayangan diriku yang ada di cermin besar.

“Joon Hee.. jadi, ini mata Joon Hee ?”

 

Kulangkahkan kakiku keluar dari toilet yang ada di Tae San Departement Store. Tak kusangka, aku menangkap sesosok namja yang tak lain adalah Suho !

“Suho-oppa ?” panggilku agak ragu. Dan benar saja, namja berjas hitam itu menoleh lalu tersenyum hangat padaku.

 

Café~

“bagaimana keadaanmu sekarang ?” tanya Suho padaku. Tatapannya masih hangat. Ini membuatku semakin bersalah, apalagi setelah mendengar cerita panjang lebar dari eomma.

“aku baik-baik saja..”

“syukurlah.. aku ikut senang. Tapi, kudengar Tuan Lee dirawat ?”

“eung.. appa jatuh sakit, sehingga sekarang aku harus menggantikan posisinya untuk sementara.”

Deeerrtttt.. *bunyi macam apa ini ?? -,-*

Kurasakan ponselku bergetar. Kuraih ponselku, lalu membeca pesan yang baru saja masuk ke inbox-ku.

“ada apa ?” tanya Suho agak khawatir begitu melihat raut wajahu yang berubah cepat.

“tidak.. hanya sms tidak penting.” Jawabku lalu tersenyum untuk mengalihkan.

“oh..” katanya sembari menganggukan kepalanya.

“O, ya.. Suho-oppa,”

“ne ?”

“lain kali, kau harus ajak aku bertemu Joon Hee !”

 

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

 

“kau kemana saja, sih ?” tanya eomma khawatir.

“nuna ! jangan mendadak menghilang begitu, dong !” tambah So Hyun.

“maaf..maaf.. tadi aku tak sengaja bertemu Suho-oppa. Lalu, kami bicara sebentar.” Jawabku sembari duduk di kursi kosong.

Sesaat keheningan terjadi.

“ya sudah, nuna cepat makan ! nanti keburu dingin.”

“iya-iya..”

Baru saja So Hee menyentuh sumpitnya, ponselnya bergetar. Seseorang dengan ID, Sehun mentelponnya.

 

“eung, Sehun-ah.”

 

“So Hee-ah, apa Luhan ada bersama mu ?”

 

“tidak..” jawab So Hee agak ragu.

 

“ahh, bagaimana ini ? sekarang aku ada di rumahnya tapi dia tidak ada disana. Ku telpon tapi tidak di angkat.”

 

“be..benarkah ?”

 

“hah~ yasudah, maaf sudah mengganggumu malam-malam begini So Hee ! aku akan kembali mencari Luhan.. mungkin dia masih dikantor.”

 

“ne..”

 

Mendadak pikiran So Hee menjadi kabur. Luhan. Baru saja Suho bercerita padanya tentang Luhan yang selalu menungguinya ketika di rumah sakit, dan sekarang Sehun mentelponnya.

 

Haruskah aku kembali pada Luhan ?

 

“So Hee ? apa yang terjadi ?” tanya eomma.

“eomma, So Hyun ! aku minta maaf. Aku tidak bisa ikut makan malam bersama kalian. Mungkin aku akan pulang terlambat. Nanti, aku akan menyuruh supir menjemput kemari. Oke ? aku pergi dulu, ya ?”

“nuna !” panggil So Hyun. Namun, yang ia lihat hanyalah punggung nuna-nya yang semakin lama semakin jauh hingga akhirnya menghilang.

 

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

 

Aku mempercepat langkahku. Dan mungkin sekarang aku bukan berjalan lagi tapi berlari. Aku tak peduli dengan orang-orang yang memperhatikanku dan melayangkan tatapan seperti aku ini ‘orang aneh’, aku tak peduli dengan tatanan rambutku yang mungkin sudah acak-acakan tak karuan karena berlari dan tertiup angin malam. Karena yang kupedulikan sekarang adalah dia.

Akhirnya aku sampai. Aku mengatur tempo napasku yang tersenggal-senggal sambil mengedarkan mataku kesekeliling mencari sosok namja itu. Apa yang ada didalam pikirannya ? ini sudah malam, cuaca tidak menundukung, udaranya juga dingin. Untuk apa dia masih menungguku disini ??!

Mataku terhenti disatu titik. Aku segera berjalan dengan langkah cepat kearah namja itu.

Ia terus menggosokkan telapak tangan ke lengannya. Lalu, ia memeluk dirinya untuk menghangatkan badan. Sepertinya ia menyadari seseorang tengah berjalan menghampirinya. Ia menoleh kearahku yang sedang berjalan dengan wajah cemas kearahnya. Ia menggerakkan badannya menghadapku sesaat setelah ia yakin sosok yang ia lihat adalah aku.

Kulihat ia tersenyum padaku. Dan kini aku menghentikan langkahku tepat dihadapannya. Aku menatap matanya penuh kekhawatiran, sepertinya sudut mataku mulai basah.

“akhirnya kau datang..” katanya sambil membalas tatapanku dengan hangat. Aku mengalihkan pandanganku darinya, untuk menutupi sudut mataku yang sudah basah. Aku menyeka air mataku yang baru saja menetes secepat mungkin.

“apa yang kau lakukan ??!!!” kataku sambil menatap matanya. Aku berusaha menguatkan hatiku agar tidak menitikan air mata dihadapannya. “kenapa kau masih menungguku ?!”

 

Tidak, aku tidak boleh menangis !

 

Luhan memandangku dengan tatapan tanda tanya. Ia seolah tak mengerti apa yang kuucapkan.

Aku kembali mengatur deru napasku. Aku berusaha menahan hatiku, menahan emosiku agar aku tidak menitikan air mata dihadapannya.

“..aku tahu kau pasti akan datang.” Kata Luhan dengan lembut dan polos.

Bibirnya sudah pucat. Wajahnya juga seperti tak sanggup lagi menahan dinginnya angin malam. Tapi, ia masih tersenyum padaku ?

“kau !”

 

Brruukkk..

 

Luhan jatuh tersandar ketubuhku. Aku segera menahan tubuhnya yang cukup berat bagiku.

Aku menghela napas saat aku menyadari dia telah melewati batas kekuatannya. Aku memeluknya. Memeluknya dengan hangat..

 

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

 

So Hee membaringkan tubuh Luhan dengan hati-hati di kasur king size milik Luhan. Sampai sekarang So Hee masih ingat alamat rumah Luhan. Ia mengatur napasnya, So Hee pasti kesulitan membopong Luhan kekamarnya. Mengingat dimalam hari tak ada pelayan dirumah Luhan.

Luhan tampak pucat, bulir-bulir keringat terlihat jelas membasahi lehernya. So Hee semakin tak tega meninggalkan Luhan seorang diri.

Setelah melepas outwear-nya, So Hee menggulung lengan bajunya lalu membuka kaus kaki Luhan. Ia segera menyelimuti Luhan yang tampak kedinginan. Setelah dirasa posisi tidur Luhan cukup nyaman, So Hee segera keluar dari kamar Luhan. Menuruni tangga menuju dapur. Menyiapkan air serta handuk untuk mengkompres Luhan yang tubuhnya cukup panas.

So Hee meletakan mangkuk kaca itu di meja kecil tepat disamping tempat tidur. So Hee pun duduk ditepi kasur tepat disamping Luhan. So Hee mulai memasukkan handuk kecil itu kedalam mangkuk berisi air, memerasnya, lalu meletakkannya didahi Luhan.

Malam sudah larut, dan So Hee masih setia menunggui Luhan yang sedang mengigau karena suhu tubuhnya yang begitu panas. Sepertinya dia demam.

So Hee mengangkat handuk yang tadi ia pakai mengompres dari dahi Luhan. Kini berganti telapak tangannya yang menyentuh dahi Luhan. Ia bisa merasakan suhu tubuh Luhan.

 

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

“emm..”

Aku mulai membuka mataku. Tunggu, kenapa aku tidur di kasur ?

Aku mengucek mataku, lalu memastikan keadaan. Kurasakan seorang namja tengah memelukku dengan erat dan hangat, seolah tak ingin melepaskanku.

Aku sedikit terkejut. Tapi, aku segera mengontrol refleksku. Aku tak mau membangunkannya yang sepertinya sedang tertidur pulas.

Aku kembali tidur seperti posisi semula saat aku baru bangun. Kupandangi wajah namja yang sedang tertidur menyamping sambil memelukku itu.

Perlahan, kugerakkan telapak tanganku hingga menyentuh dahinya. Aku pun menghela napas lega, saat aku tahu suhu tubuhnya sudah kembali normal.

Aku terdiam. Tak tahu apa yang harus kulakukan.. aku ingin memperbaiki posisi tidurku agar lebih nyaman, tapi—

“jangan banyak bergerak..” kata Luhan. Aku terkejut. Dia sudah bangun ??

Aku membulatkan mataku, terdiam sejenak dan “hei !”

Dia semakin mengeratkan pelukkannya padaku. “sudah kubilang jangan banyak bergerak, kan ?”

Aku mengerutkan dahiku. Aku segera mengurai pelukkannya dan berusaha untuk bangun. Tapi, gagal. Saat aku sudah terduduk ia malah menarikku hingga aku jatuh menimpa tubuhnya. Ia kembali memelukku.

“sebentar saja..” bisiknya ditelingaku. Entah mengapa aku tak bisa melawan. Mungkin karena aku merasa tak tega melihatnya. Atau sebenarnya aku masih menyukainya ?

Sepertinya sudah 5 menit kami berada dalam posisi seperti ini. Hingga akhirnya aku mengurai pelukkannya dan duduk tepat disamping Luhan.

“kau sudah merasa baikkan ?” tanyaku. Kini ia memandangku dengan hangat.

“eung..”

“baguslah.. mau sarapan ? kubuatkan, ya ?”

Aku pun bangkit dari tempat tidur. Tapi, baru saja aku bangkit Luhan sudah menahanku dengan cara menggenggam tanganku. Aku pun membalikkan badan, memandang Luhan yang kini sedang berusaha bangkit.

“terima kasih..” kata Luhan pada akhirnya.

“untuk apa ?”

“everything..”

Aku tersenyum. Ia pun segera bangkit dan berdiri dihadapanku sambil menggenggam kedua tanganku.

“terima kasih kau sudah datang menemuiku. Terima kasih kau sudah menjagaku semalaman. Terima kasih..terima kasih kau masih mencemaskanku..”

Aku megalihkan pandanganku untuk menutupi rasa maluku. “..aku tak ingin ada orang yang sakit karena diriku..”

“jadi.. rasa bersalah, ya ?”

Kini aku menatapnya. Menatap Luhan yang sepertinya mengharapkan diriku. Aku pun segera mengalihkan pembicaraan.

“mau pesan apa untuk sarapan ? aku sedang berbaik hati, jadi akan kubuatkan..”

“hm..?”

“mau bubur ?”

“boleh pesan yang lain ?”

“tentu..”

 

Deg !

 

Apa yang dia lakukan ??! dia menciumku ???!

Setelah puas, ia mengakhiri ciuman lembut itu. Aku sendiri masih membeku dengan mata membulat karena perbuatannya.

Dia tersenyum padaku. “terima kasih. Kau koki yang paling hebat. Kau bisa memberikan semua pesanan pelangganmu dengan baik..”

“kau—”

“hihi, ah tidak-tidak. Hanya Luhan satu-satunya pelangganmu !”

 

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

 

So Hee meletakkan panci berisi sup yang masih panas dengan uap yang masih mengepul jelas dimeja. Luhan memperhatikan setiap gerak-gerik bahkan tetesan keringat yeoja yang ia sukai itu dengan seksama. Setelah semua makanan tersaji dimeja, So Hee pun duduk dikursi tepat disebrang Luhan.

Luhan pun mengambil sendoknya lalu mengacungkannya seperti anak kecil. So Hee tersenyum kecil melihat tingkah Luhan apalagi wajah baby face-nya sangat mendukung.

Jiwa keibuan So Hee muncul, ia segera mengambilkan lauk dan menaruhnya dimangkuk nasi Luhan. Luhan pun memandangi So Hee dalam-dalam.

“hei ! jangan memandangiku seperti itu..” kata So Hee lalu memutuskan tatapannya dan Luhan. Ia menggigit bibirnya. Luhan memperhatikan So Hee yang menggigit bibirnya lalu berkomentar.

“jangan gigiti bibirmu terus, nanti—”

Luhan memandang So Hee seperti ia telah menyadari sesuatu, “jangan-jangan itu first kiss mu, ya ?” lanjutnya.

So Hee ingin mengomel pada Luhan, tapi ia segera menahannya karena memang itu kenyataannya. Luhan yang telah mengambil first kiss-nya.

“pipimu memerah. Wah, jadi benar itu firstkiss mu ? wah, seharusnya,” So Hee kini memandang tajam Luhan yang mulai berkomentar, ia kira Luhan akan minta maaf karena mengambil first kiss-nya tanpa izin, tapi—

“aku melakukannya lebih panas lagi.. haha.”

So Hee mengerutkan dahinya sambil menyipitkan mata pada Luhan dan menatapnya dengan tatapan intimidasi. So Hee benar-benar malu sekaligus marah..

Luhan menahan tawanya, lalu segera menyeruput kuah sup untuk mengalihkan rasa ingin tertawanya.

“hm~ masakanmu enak.. sudah lama aku tidak makan masakan rumah.” komentar Luhan lalu menyendokkan nasi kemulutnya.

Entah mengapa So Hee tak bisa marah. Ia malah merasa lega setelah mendengar candaan Luhan.

“o, ya. Semalam aku mentelpon orang tuamu, tapi tak diangkat. Apa sudah ganti nomor ?” tanya So Hee memecah suasana.

Luhan menurunkan sendoknya, raut wajahnya berubah drastis. “ah, apa orang tuamu tidak cerita ?”

So Hee hanya menggeleng tak tahu. “cerita apa ?”

Luhan menghela napas, seolah mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan pembicaraan. “mereka sudah meninggal..”

So Hee terdiam membeku dengan mata membulat dan hati yang seolah terhempas.

“satu tahu yang lalu, mereka meninggal dalam kecelakaan pesawat saat akan kembali ke Korea..” lanjut Luhan dengan pelan.

“ah, aku..”

“tidak apa-apa..” Luhan meletakkan sendoknya, lalu beranjak dari meja makan sambil berkata, “aku ke kamar mandi dulu..”

So Hee hanya bisa melihat bagian belakang tubuh Luhan yang terus berjalan menjauhi dirinya menuju kamar mandi. Ia juga kehilangan nafsu makannya. Rasa bersalah lagi-lagi menggelayuti hatinya.

 

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

Luhan sedang terdiam memandang jauh dari balkon kamarnya. Ia menopang tubuhnya dengan memegang handrail balkon. Ia terus memandang sekelilingnya dengan tatapan sedih. Ia seperti lelah, seperti tersakiti, seperti terpuruk, seperti seseorang yang telah kehilangan sesuatu, seperti seseorang yang telah jatuh dan terhempas jauh kedalam lubang tak berdasar. *akibat author berlebihan*

Terdengar suara pintu terbuka. Tapi, Luhan tak menghiraukannya. Ia tetap memandang jauh entah kemana.

“Luhan ?” panggil So Hee dengan hati-hati sambil menyembulkan kepalanya di pintu. Ia kemudian berjalan masuk saat mengetahui Luhan tak menjawabnya, ia pun menghampiri Luhan yang sedang merenung dibalkon.

“katanya mau ke kamar mandi, kenapa kau malah ada disini ?” tanya So Hee membuka pembicaraan. Ia berharap bisa mencairkan suasana.

So Hee berdiri tepat disamping Luhan, kini ia juga memandang jauh seperti Luhan seolah ingin menemani Luhan agar ia tak kesepian. So Hee melirik Luhan, ia melihat raut wajah Luhan yang tak biasa, penuh beban.

“you can share with me..” kata So Hee membuka pembicaraan. Kini ia memandangi Luhan dengan tangan kiri yang ia letakkan di handrail.

“what can I share with you ?”

“everything..”

Luhan tersenyum kecil sambil memandang So Hee. Kini ia berbalik menghadap So Hee.

“I need you.. can you always stay beside me ?”

So Hee terdiam. Ia tak tahu bagaimana harus menyikapinya.

“..I can’t promise. But I’ll try it for you.”

“hm.. jadi, aku tetap sendirian.”

“what did you say ? you’re not alone !”

Luhan menghela napasnya. Kemudian berlalu meninggalkan So Hee masuk kedalam kamarnya. So Hee hanya memperhatikan tingkah Luhan tanpa berkomentar. Luhan pun menjatuhkan tubuhnya di kasur, seperti ia juga menghempaskan semua bebannya.

“I wanna sleep.. you can leave me.”

So Hee mengerutkan dahinya, lalu menghampiri Luhan yang sedang menikmati kasur empuknya.

“hei ! kau belum makan ! masa mau tidur lagi ? nanti kalau kau sakit bagaimana ??!”

“biarlah..” Luhan memejamkan matanya seolah ingin masuk kedalam alam mimpinya.

So Hee menghela napas sambil melipat tangannya didada. “ayo makan ! aku tak mau mengurusimu terus tahu !”

“justru aku ingin terus sakit, agar kau terus berada disampingku.. menjagaku.”

So Hee membelalakan matanya. Sepertinya pipinya memerah, tapi ia berusaha menutupinya. “apa yang kau inginkan agar kau mau makan ??”

Luhan tak menghiraukan pertanyaan So Hee. Ia malah semakin larut dalam tidurnya.

“if you wake up, and take your breakfast.. I’ll kiss you.”

Luhan segera bangun dan duduk ditepi kasurnya. Ia sangat bersemangat saat mendnegar penawaran So Hee. Tapi, saat ia bangun ia hanya melihat So Hee yang berlalu begitu saja meninggalkan kamarnya.

“Ya ! where is my kiss ??!”

 

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

 

“sepertinya sekarang aku harus pulang..” kata So Hee sambil menaruh piring terakhir yang ia cuci. Ia kemudian melepas apron oranye yang ia pakai.

“kenapa ? aku masih ingin kau disini..” balas Luhan lalu mendekat kearah So Hee.

“dari kemarin aku belum mandi.. lagipula aku juga belum bilang kalau aku disini pada eomma..”

“hmm~”

So Hee menepuk pundak Luhan, “tenang nanti aku akan kesini lagi..”

“o, ya.. semalam saat kau tidur ada seseorang yang mentelponmu.”

“eung ?”

“dia seorang namja. Tenang saja.. aku tidak melihat ID-nya kok.”

“jadi kau mengangkat telpon untukku tanpa meminta izin dariku ??!”

“hei, hei.. habis semalam kau tidur lelap sekali, sih.. aku tak mau membangunkan mu.”

So Hee menyipitkan matanya pada Luhan. Ia pun segera beranjak menuju lantai dua untuk mengecek ponselnya.

Beberapa menit kemudian..

“Luhan.. aku pulang dulu, ya ?” kata So Hee pada Luhan.

“eung..” jawab Luhan tak bersemangat.

“nanti aku main lagi kesini..”

“hm..”

“huh~ kau kenapa, sih ? jangan seperti orang yang tak punya harapan !”

“hm~ baiklah. Janji ya nanti kau main lagi kesini ?”

So Hee menganguk, melangkahkan kakinya keluar dari rumah Luhan. So Hee melambaikan tangannya pada Luhan dan Luhan pun membalasnya. Kini aku kembali sendirian..

 

~oOo~

I.N.T.U.I.T.I.O.N

~oOo~

 

A/N : *lagi-lagi author muncul* bagaimana ? don’t forget to leave your comment guys ! hehe, buat yang punya pertanyaan silakan bertanya~ *kaya di sekolah aja deh* oh, iya author galau mau beresin ini di chapter berapa.. jadi, kasih tahu author okay readers sekalian mau ceritanya panjang atau berakhir di chapter 6 ^^ bye bye, see you next chapter

 

21 thoughts on “[FREELANCE] Intuition (Chapter 5)

  1. Mianhae saya baru comment di part ini, baru baca soalnya hehe. Makin kesini ff ini makin bagus chingu. Awalnya banyak banget aku baca di part2 awal diksi2 yg kurang pas, tapi makin kesini aku ngerasa ff ini makin great!🙂

    Ditunggu chapter selanjutnya author🙂

  2. waktu pertama baca FF ini, bikin hati meleleh hihi
    suka banget sama ceritanya thor.. pokoknya ditunggu next chapter
    sukses juga buat ujiannya..😀

    • Aw aw aw author tersentuh bgt *plak* haha.. Aaaammmmiiiinnnnn, author lg berjuang nih buat nyelesaiin chapter selanjutny tp tetep belajar buat TO akhir bulan ini ^^ fighting ! Thanks for ur comment ^^ always support ‘Intuituon’ okay? See u next chapter~

  3. Yg tlp sapa sih??
    So hee ma Luhan aja ya thor.. Kasian Luhan udh ngu lama.. Klo soal adik suho gpplah suho iklhas kn😀
    Ditgu nextx😀

  4. kyaaa, ada moment luhan-sohee nya. Huhu gemes dah mereka kissing, luhan ngegombal wakak. Terakhirnya jangan sad ya thor wkwk, oh iya thor aku comment ff nya dimanapun yaw(?) kadang di exofanfic, indofanfic ataupun disini wkwk

    • Haha, ya begitulah.. Ga tau knp mendadak author ada ide jd begini deh alur ceritanya -,- sebenernya author udh punya bnyk ide buat the next Luhan So Hee momment tapi berhubung author lg banyak ulangan kayanya author mau mengakhiri Intuition nih😥 tapi tenang, mungkin author bakal bikin sequel >< haha thanks for ur comment ^^

  5. Thooor, akhirnya Sohee mau ‘nerima’ luhan lagi xD chapter ke depannya banyakin sohee moment ya thor. Dan yang penting harus Happy Ending :-9
    Lanjut ya! Chapter 6 end tapi harus panjang sekaliiiiiiii ya thor??! #Maksa -___-
    okedeh, ditunggu :-))

    • Waaaa, dian~ u always know if I post this FF.. haha
      Okay, next chapter lebih banyak lg.. Tapi berhubung genrenya sad mohon dimengerti yah..

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s