[FREELANCE] Follow Your Heart

Title     : Follow your heart

Author : EShyun

Genre   : Friendship, romance

Length             : Oneshot

Main cast       :

  •          Kim Min Seok a.k Xiumin
  •          Kim Jong In a.k Kai
  •          Hwang Rara
  •          Kang Jihwa

 

Annyeong readers ^^

Sebelumnya Cuma mau ngasih info kalau ni ff udah pernah di publish di blog sebelah. Jadi kalau ngerasa udah ngebaca ini memang hasil karya aku ^^

Udah deh, capcus… happy reading..

 

Follow Your Heart

 

Hamparan rumput hijau terbentang luas. Seorang yeoja berdiri di tengahnya dengan wajah bingung, seakan tak mengenali sekitarnya. Perlahan kakinya mulai melangkah mencari jalan keluar dari tempat asing itu. Tiba-tiba sebuah sinar menyilaukan matanya. Dari arah sinar itu, dia melihat seorang namja tengah berdiri membelakanginya. Dia seakan mengenali sosok itu dan kemudian menghampirinya lalu membuka suaranya.

 

“Xiumin.. Kaukah itu?”

 

Namja itu tak menghiraukannya, dan melangkah menjauh namun yeoja itu mengejarnya.

 

“Xiumin.. Kau mau kemana? Tunggu aku. Aku tak mau kau pergi lagi dariku. Xiumin… Xiumin….”

 

Rara terbangun dengan nafas yang tak teratur, ia kembali bermimpi bertemu dengan sahabat kecilnya, Xiumin.

 

“Ah, aku mimpi dia lagi. Xiumin… Kau dimana sekarang? Apa kita bisa bertemu lagi?” gumam Rara. Setelah merasa tenang, Rara mandi lalu pergi ke kampusnya.

 

“Hey Kai..” sapa Rara.

“Hey, hmm, siang nanti kau ada acara? Aku ingin mengajakmu makan siang, mau?”tanyanya.

“Ok, nanti aku akan menghubungimu lagi,.” Jawabnya lalu pergi.

“Iya, aku tunggu.”

 

Kai berjalan menuju lokernya lalu membukanya, kembali ia menemukan sebatang coklat yang dihiasi dengan pita biru dan selembar kertas yang berisi kata-kata penyemangat. Seperti biasa, ia selalu mendapati hadiah-hadiah kecil seperti itu. Ia tak tahu siapa yang memberikannya, tapi ia merasa bahwa itu adalah pemberian dari Rara. Karena setiap setelah ia bertemu dengan yeoja itu, ia akan menemukan hadiah-hadiah.

 

“Rara, lagi-lagi kau memberikan hadiah kecil untukku. Kali ini apa ya isi pesan darimu?” Kai bergumam sambil membuka kertas kecil.

 

“Nice morning^^ hope you always happy and enjoying your day. Keep smile, ok”

 

“Tentu saja Rara, aku akan selalu mengingat semua pesan darimu. Ahh, sepertinya kau telah membuatku jatuh cinta. Aku harus segera mengungkapkan perasaan ini, harus!” gumamnyasembari tersenyum.

 

Dari kejauhan seseorang sedang mengamati Kai. Sebuah senyum terukir indah di wajahnya saaat ia melihat namja itu tersenyum. Setelah memastikan Kai hilang dari pandangannya, diapun pergi.

 

Siang harinya, Kai dan Rara pergi makan siang di sebuah cafe yang tak jauh dari kampus mereka. Tawa tampak menghiasi wajah keduanya, seakan sangat menikmati saat-saat itu.

 

“Setelah ini kau mau kemana? Langsung ku antar pulang atau kau ingin ke suatu tempat?” tanya Kai.

“Terserah kau saja, Kai.”

“Hmm, bagaimana kalau kau menemaniku ke suatu tempat? Aku ingin membelikan hadiah untuk sepupuku, kebetulan lusa adalah hari ulang tahunnya. Tapi aku tak tau harus memberikan apa, mungkin kau ada saran?”

“Dia yeoja atau namja? Dan berapa usianya?”

“Dia yeoja, usianya 12 tahun. Dia sangat manja dan penyuka warna Hijau.”

“Bagaimana kalau kau memberikannya boneka? Yeoja sepertinya pasti sangat menyukai boneka.”.

“Oke, kita bisa pergi sekarang?”

“Yah, tentu saja.”

 

Setelah percakapan itu selesai, mereka berdua lalu pergi menuju kesebuah toko boneka. Mereka memilih-milih boneka sembari bercanda. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk membeli boneka keropi berukuran besar. Setelahnya Kai pun mengantarkannya pulang kerumah.

 

“Terima kasih kau telah menemaniku membeli ini.” Ujarnya saat mereka telah sampai di depan rumah Rara.

“Yah, kau tak perlu sungkan. Kalau kau butuh bantuan, aku dengan senang hati akan membantumu, jika aku bisa tentunya.”

“Ah iya, ini untukmu Rara.”Kai menyodorkan sebuah bungkusan pada yeoja itu.

“Apa ini Kai?”

“Hadiah. Untukmu. Karena kau telah menemaniku.”

“Wow, ini lucu sekali.”ujarnya setelah membuka bungkusan dari Kai. “Kapan kau membelinya, Kai?”

“Tadi, tanpa sepengetahuanmu yang pasti.”jawab Kai. “Syukurlah kau menyukainya, jaga dia baik-baik ya. Ah, ini sudah sore, aku harus pulang. Sampai jumpa besok, Rara.”

“Iya, tentu saja aku akan menjaganya. Kau berhati-hatilah. Sampai jumpa besok, Kai.”ujar Rara sembari melambaikan tangannya. Setelah memastikan Kai hilang dari pandangannya, iapun segera masuk kerumah.

 

Sejak saat itu, hubungan Rara dan Kai menjadi sangat dekat. Mereka selalu terlihat bersama-sama. Hingga suatu hari, ada seorang anak baru di kampus mereka. Seorang namja tampan dan sangat imut. Dia terlihat sangat friendly, terbukti dia telah mendapatkan banyak teman disana, padahal dia baru beberapa hari di kampus itu.

 

Saat Rara sedang bersama teman-temannya di kantin, anak baru itu menghampirinya. Rara merasa aneh dengan kedatangannya.

 

“Hai.”Anak baru itu membuka suara ketika sampai di dekatnya. “Bolehkah aku duduk disini?”tanyanya kemudian.

“Ya, silahkan.” Jawab Rara sekenanya.

“Rara, Hwang Rara. Benarkan?”tanya anak baru itu yang berhasil membuatnya terkejut.

“Iya, bagaimana kau mengetahui namaku? Sepertinya kita tidak saling kenal.” Tanyanya heran.

“Haha, tentu saja aku tahu. Benarkah kita tak pernah saling kenal?”

“Maaf, aku tak mengerti maksudmu. Memangnya kita pernah kenal?” ia kembali bertanya dengan penuh rasa penasaran.

“Rara, benarkah kau melupakanku?”namja itu memasang wajah sedih. “Ah, apa kau juga melupakan ini?”namja itu kemudian menunjukkan ekspresi muka yang sangat lucu, dan seketika itu pula Rara mengingat semuanya.

“Xiumin? Kau Xiumin kan, Oppa…?”jerit Rara histeris, lalu memeluk namja yang ternyata adalah sahabat kecilnya.

“Hey, kau mengingatku. Yah, aku Xiumin. Baozi.”ujarnya sembari membalas pelukan Rara.

“Kau, jahat. Kenapa kau meninggalkanku begitu lama? Kenapa saat itu kau tak memberitahuku kemana kau akan pergi? Apa kau tak tahu selama ini aku selalu mencarimu? Aku selalu memimpikanmu, aku sangan merindukanmu Oppa.”ia terisak di pelukan Xiumin.

“Mianhae, Rara. Saat itu kita masih sangat kecil. Tak terfikir olehku untuk memberitahu kemana aku akan pergi. Dan kenapa aku meninggalkanmu terlalu lama, itu karena orang tuaku yang tak ingin aku jauh dari mereka. Kau kan tahu, aku ini anak tunggal. Mereka takut merasa kesepian, sehingga aku harus mengikuti kemanapun mereka pergi. Aku juga merindukanmu, Rara. Sangat merindukanmu. Makanya sekarang aku ada disini, hanya untukmu.”jelasnya sambil membalas pelukan Rara.

“Tapi tetap saja kau jahat padaku, aku sangat tersiksa sejak kepergianmu. Tak ada lagi teman bermainku, tak ada lagi yang akan membelaku jika aku di ganggu, dan tak ada lagi yang menghiburku ketika aku sedang sedih. Aku selalu menyendiri dirumah menunggu kau datang, tapi kau tak pernah datang oppa.” ia masih terisak dipelukan Xiumin.

“Ya, aku tahu itu Rara. Mianhae, jeongmal mianhae. sekarang aku disini dan berjanji tak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan selalu ada untukmu, akan selalu menemanimu, membelamu, dan menghiburmu. Jadi sekarang kau tak perlu bersedih lagi, arasseo?”Xiumin melepas pelukannya lalu menghapus air mata Rara. “Rara, ternyata kau masih cengeng seperti dulu.” Ujar Xiumin sambil tertawa.

“Oppa…. Aku tak cengeng, aku hanya  sedikit terharu karena bertemu lagi denganmu, oppa.”Rara kembali memeluk Xiumin.

“Iya, iya aku tahu. Sudahlah, orang-orang melihat kita.”

“Biarlah, aku tak peduli. Yang penting aku bertemu denganmu lagi oppa. Aku benar-benar merindukanmu.”

“Haha, ternyata kau memang tak berubah sedikitpun. Baiklah, terserah kau saja” ia membalas pelukan Rara.

 

Setelah mereka saling melepas kangen, merekapun memutuskan untuk pergi ke pantai, tempat favorit mereka saat kecil dulu.

 

“Waaaah, ini masih terlihat sama seperti dulu, hanya saja ada lebih banyak rumah disekitar sini sekarang.”Ujarnya setelah mereka sampai di tempat tujuan. “Apa kau mau bermain air Rara?”tanpa jawaban Rara, ia memercikkan air ke arah Rara dan alhasil merekapun bermain air bersama.

 

Merasa lelah, mereka memutuskan untuk beristirahat. Duduk di tepi pantai sambil memandangi ombak yang sangat indah.

 

“Oppa, tapi bagaimana kau masih mengenaliku?”

“Itu.”Xiumin menunjuk suat benda yang tergantung di tas Rara. “Dan naluri tentunya.”lanjutnya.

“Ah iya, ternyata kau melihat ini dan masih mengingatnya?”

“Bagaimana aku bisa lupa? Dulu disini aku membuat ini dan kau merengek memintaku untuk membuatkannnya juga tapi aku menolak. Akhirnya kau menangis dan tak mau diam sampai aku menunjukkan ekspresi “baozi”. Padahal itu hanya kerang yang dilekatkan dengan lem dan di bentuk seperti kura-kura. Aku tak menyangka kau masih menyimpannya, aku kira itu akan rusak setelah beberapa bulan kemudian.”

“Ini entah sudah berapa kali aku perbaiki. Karena ini satu-satunya kenangan darimu, aku bertekad untuk menjaganya sampai kapanpun itu. Dan bukannya saat kau pergi aku memberikanmu sebuah cincin oppa?”

“Yah, ini.”ia mengeluarkan kalung yang tertutup oleh kemejanya. “Karena ukurannya sangat kecil, makanya aku menjadikannya mainan kalung. Ini akan aman jika diletakkan disini.”lanjutnya.

“Oppa, aku kira kau sudah membuangnya.”ujarnya lega.

“Haha, tentu saja tidak Rara.” Jawabnya sembari tersenyum. “Ini sudah sangat sore, bagaimana kalau aku mengantarkan kau pulang sekarang?”

“Baiklah, ayok oppa.” Rara menarik tangan Xiumin menuju mobil sport white milik Xiumin. Dan merekapun bergegas pulang.

 

Tak lama, mereka telah sampai.

 

“Oppa kau tidak mau singgah dulu? Umma pasti senang jika melihatmu.”

“Baiklah, lagian aku juga sudah sangat merindukan umma. Bagaimana dengan appa?”

“Appa sedang tugas di luar, jadi hanya ada umma dirumah. Silahkan masuk, oppa.” Rara mempersilahkan Xiumin masuk. “Umma.. ummaaaa…”panggil Rara.

“Ne, ada apa Rara? Kenapa kau teriak-teriak seperti itu?”tak lama umma Rara datang.

“Umma, lihat siapa yang datang.”

“Siapa?”umma melihat ke arah Xiumin dan seketika itu pula langsung mengenalinya. “Xiumin? Ya ampun, kau sudah besar nak. Bagaimana kabarmu, dan keluargamu apa mereka disini juga?”Umma memeluk Xiumin yang telah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.

“Ne, umma. Aku Xiumin, ternyata kau masih mengenaliku.”Xiumin membalas pelukan umma. “Aku baik-baik saja, dan keluargaku juga. Tapi sekarang mereka tak disini, appa sangat sibuk dengan pekerjaannya di Cina dan aku sendiri disini. Aku pindah kesini umma, karena aku merindukan kalian.”

“Umma juga merindukanmu nak. Jadi kau tinggal dimana?”

“Aku menyewa sebuah apartement, tak jauh dari kampus.”

“Umma.. bagaimana bisa kau langsung mengenali Xiumin? Aku saja awalnya tak tahu, kalau bukan dia yang menghampiriku, pasti aku tak mengetahuinya.”Rara cemberut melihat ummanya mengenal Xiumin dengan cepat.

“Bagaimana bisa aku melupakan Xiumin yang sudah aku anggap sebagai anakku sendiri, Rara..”ujar umma. “Xiumin-ah, malam ini kau harus makan malam disini, umma akan membuatkanmu makanan yang enak, arasseo?”

“Ne, umma. Tentu saja. Aku merindukan masakan umma juga, hehe.”ujar Xiumin sambil terkekeh.

“Nah, sekarang kau bisa beristirahat dulu. Rara, kau bisa menemani Xiumin kan?”

“Tentu saja umma, lagian masih banyak lagi yang ingin aku tanyakan padanya, aku sangat merindukannya umma. Kau tahu itu kan?”

“Ya, kau tahu Xiumin, sebulan setelah kepergianmu dia selalu menangis dan tak mau makan. Dia selalu menggenggam foto kalian berdua, bahkan sampai saat ini pun dia masih sering melihat foto itu. Dan juga selalu menyebut namamu disaat tertidur.”ujar umma yang berhasil membuat pipi Rara merona, malu. “Sudah, sekarang umma masak dulu ya.”

“Ne, umma.” Jawab mereka serempak.

 

Rara mengajak Xiumin ke kamarnya. Xiumin duduk disudut tempat tidur lalu mengambil sebuah foto yang terletak di meja sebelah tempat tidur.

 

“Hey, inikah foto yang dimaksud oleh umma? Kau beruntung sekali masih mempunyainya, sedangkan aku sama sekali tak memilikinya foto kita berdua.”ujarnya sambil memperhatikan foto itu.

“Ne, oppa.”Rara duduk disebelah Xiumin. “Rasanya aku ingin kembali pada saat kita kecil dulu, oppa. Jika itu bisa terjadi, pasti saat itu aku tak akan membiarkanmu pergi meninggalkanku, karena aku ingin kita tumbuh besar bersama, dan kau akan selalu menjadi oppa terbaikku.”lanjutnya sembari meletakkan kepalanya di bahu Xiumin.

“Ya, jika itu bisa terjadi mungkin aku juga tak akan pernah meninggalkanmu seperti dulu. Tapi kau tak perlu khawatir, mulai sekarang aku akan selalu ada bersamamu dan tak akan pernah meninggalkanmu lagi.”Xiumin sambil membelai rambut Rara.

“Yaksok?”

“Ne, yaksok.”

 

Tak lama, umma memanggil mereka turun untuk makan. sambil makan, sesekali mereka bersenda gurau membuat suasana menjadi sangat hangat.

 

Selesai makan, Xiumin berpamitan pulang. Sebelumnya ia tak lupa untuk bertukar nomor handphone dengan Rara.

 

“Oppa, berhati-hatilah.”

“Ne, tentu saja.”

 

Rara masuk ke rumah dengan hati gembira. Bertemu lagi dengan Xiumin adalah keinginan terbesarnya sejak dulu dan ia berfikir bahwa itu hanya bisa terjadi didalam mimpi. Tapi ia salah, buktinya sekarang mereka bertemu lagi dan bisa kembali menjalin persahabatan mereka.

 

Saat hendak memasuki kamar, tiba-tiba handphone Rara berbunyi menandakan ada panggilan masuk.

 

“Yeoboseo.”

“Yeoboseo.”

“Ada apa Kai?”

“Hmm, aku hanya ingin meneleponmu saja. Ah, tadi aku mencarimu dikampus tapi aku tak bisa menemukanmua. Tadi kau kemana?”

“Oh, tadi aku pergi dengan temanku. Maaf sebelumnya karena tak memberitahumu. Ada apa kau mencariku?”

“Hmm, besok kau ada kegiatan apa? Aku bermaksud untuk mengajakmu ke taman bermain. Kau mau?”

“Taman bermain? Baiklah, kebetulan sudah lama aku tak kesana.”

“Oke, besok jam sepuluh akan ku jemput. Sekarang sudah malam, kau beristirahatlah.”

“Ne, sampai jumpa besok Kai.” Ujarnya lalu mematikan sambungan telepon.

 

“Sepertinya ini adalah hari keberuntunganmu Rara. Pertama kau bertemu kembali dengan Xiumin oppa, dan yang kedua Kai mengajakmu berkencan besok. Ahh, aku tak sabar menanti hari esok.”gumannya lalu beranjak tidur.

 

Tepat jam 10 Kai sudah berada dirumah Rara. Setelah meminta izin dengan umma, mereka segera pergi menuju taman bermain.

Disana mereka mencoba setiap wahana yang ada. Terlukis raut kegembiraan diwajah keduanya. Mereka saling bercanda dan tertawa bersama. Mungkin orang-orang yang melihat, akan menganggap mereka sebagai sepasang kekasih.

Merasa lelah, mereka memutuskan untuk beristirahat. Rara mengajak Kai untuk membeli ice cream. Saat menunggu pesanan, tanpa sengaja mata Rara menangkap sosok yang ia kenali lalu berlari menghampiri orang tersebut.

 

“Oppa…” panggilnya pada orang itu yang ternyata adalah Xiumin. “Oppa, bagaimana bisa kau disini? Kau sendirian?”Rara bertanya setelah sampai didekatnya.

“Hey, akhirnya aku menemukanmu. Tadi aku kerumah, tapi umma bilang kau pergi kesini dengan temanmu jadi aku menyusulmu. Dari tadi aku mencarimu, bahkan aku meneleponmu berkali-kali namun kau tidak mengangkatnya.”jelas Xiumin.

“Mianhae oppa. Sepertinya aku meninggalkan handphoneku dirumah.”

“Rara, kau kenapa meninggalkanku?”Kai datang dengan membawa 2 buah ice cream. “Ini punyamu.”lanjutnya sambil menyodorkan sebuah ice cream.

“Gomawo.”Rara mengambil ice cream yang disodorkan Kai. “Mianhae Kai, tadi aku melihat dia jadi aku menghampirinya. Kai, kenalkan ini Xiumin oppa, sahabatku dari kecil.”

“Xiumin? Bukankah kau anak baru itu?” tanya Kai.

“Iya, dia anak baru di kampus kita. Dulu saat aku masih kecil kami tinggal bersebelahan, dialah orang yang selalu bersamaku. Hingga suatu hari dia harus pindah bersama keluarganya dan akhirnya kami kembali bertemu lagi.”jelas Rara. “Dan oppa, ini Kai. Temanku.”

“Hey.”sapa Xiumin. “Kau teman Rara? Benarkah? Aku fikir tadi kau adalah namjachingunya.”ujarnya.

“Haha, itu tak seperti yang kau fikirkan. Saat ini kita hanya berteman kok.”jawab Kai.

“Kai, bagaimana kalau Xiumin oppa ikut bersama kita? Bukankah kalau lebih ramai akan semakin seru?”

“Hmm, tentu saja. Ayo.”

 

Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama hingga tak terasa hari sudah semakin sore dan mereka memutuskan untuk pulang. Awalnya Kai ingin mengantarkan Rara pulang, namun ditolak dengan alasan dia akan pulang bersama Xiumin karena setelah itu Xiumin akan bermain dirumahnya. Kai tentu saja menerima alasan itu walau dengan berat hati. Dan disitulah mulai muncul rasa cemburu Kai pada mereka.

Hari berganti hari, hubungan Xiumin dan Rara semakin dekat. Bahkan Rara lebih sering terlihat bersama Xiumin daripada Kai. Hal ini membuat Kai sedikit marah dan cemburu. Namun ia tak mau memperlihatkan kemarahan dan rasa cemburunya itu dihadapan Rara.

Karena hubungan yang semakin dekat, Xiumin dan Rara mulai merasakan perasaan yang berbeda. Setiap bersama, jantung mereka berdetak lebih cepat dan mereka merasakan kenyamanan yang sebelumnya tak pernah mereka rasakan. Dan akhirnya mereka sadar, kebersamaan membuat mereka saling jatuh cinta.

Xiumin akhirnya memantapkan diri untuk mengungkapkan perasaannya itu. Sebelumnya ia telah memberitahu umma tentang keinginannya dan itu disambut baik oleh umma.

Keesokan harinya, Xiumin datang kerumah Rara. Didapatinya rumah itu kosong dan dengan mudah Xiumin masuk kedalam karena ia telah mendapatkan kunci dari umma. Ini adalah salah satu dari rencana mereka. Umma mengajak Rara keluar, sementara Xiumin menyiapkan semuanya.

Sorenya Rara dan umma telah pulang. Rara agak terkejut karena melihat Xiumin sedang duduk di luar pagar, seakan sedang menunggu sesuatu. Melihat kedatangan Rara, Xiumin berdiri dan mendekati Rara.

 

“Hey, bagaimana dengan jalan-jalannya? Apakah menyenangkan?”tanya Xiumin sambil tersenyum.

“Oppa, bagaimana kau bisa tahu? dan apa kau sudah lama menunggu disini? Mengapa kau tak menghubungiku?”Rara menjawab dengan pertanyaan pula. Ia sedikit khawatir.

“Apa yang tak aku ketahui darimu, Rara? Aku sudah menyiapkan sebuah kejutan untukmu. Sekarang kau harus memejamkan matamu.”Xiumin lalu menutup mata Rara dengan sehelai kain.

“Kejutan? Tapi inikan bukan ulang tahunku oppa.”

“Sudahlah, ikuti saja perkataanku.”

 

Setelah menutup mata Rara, Xiumin membawanya ke taman yang telah ia sulap menjadi tempat yang sangat indah. Bunga mawar putih menghiasi setiap sudutnya, dan di tengah-tengah beberapa lilin disusun membentuk sebuah hati. Xiumin mengarahkan Rara menuju lilin-lilin itu.

 

“Nah, sekarang kita sudah sampai.”Xiumin membuka penutup mata Rara. “Its just for you, Rara. I hope you like it..”

“Oppa, apa ini? Kau…??”Rara terkejut melihat pemandangan sekitarnya. Xiumin berlutut didepannya lalu mengeluarkan sebuah kotak mungil dari kantung celananya.

“Hwang Rara, would you be my girlfriend?”ujar Xiumin sambil menyodorkan kotak mungil yang berisi sebuah cincin berlian yang sangat indah.

“Oppa, kau…. benarkah ini? Apa aku tak bermimpi?”Rara kembali terkejut dan masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia alami.

“Tidak Rara, ini kenyataan. Baiklah aku akan mengulanginya lagi. Hwang Rara, would you be my girlfriend?”ulangnya.

“Ne oppa, I do…”ujar Rara lalu menyuruh Xiumin berdiri dan seketika itu pula ia langsung memeluk Xiumin. “Oppa, aku sangat bahagia.. Aku kira hanya aku saja yang merasakan hal ini, ternyata kau juga.”

“Iya, aku juga merasa sangat bahagia. Karena mulai sekarang kau adalah milikku..”Xiumin membalas pelukan Rara. “Saranghae, Rara.”

“Nado oppa.”

“Ini cincin untukmu, aku membelinya bersama umma semalam.”

“Umma? Berarti ini semua sudah kau rencanakan? Dan umma tahu tentang hal ini?”

“Ya, tentu saja. Sini aku pakaikan.” Xiumin menarik tangan Rara lalu memakaikan cincin itu. “Pas, kau terlihat lebih cantik Rara.”Xiumin membelai rambut Rara.

“Gomawo oppa. Aku berjanji akan selalu menjaganya seperti kau menjagaku.”

“Ne, aku pasti akan menjagamu dan tak akan membiarkan kau merasa sakit sedikitpun.”Xiumin mengakhiri perkataannya dengan ciuman lembut di dahi Rara. “Kau berjanjilah tak akan meninggalkanku dan akupun tak akan meninggalkanmu.”

“Ne oppa. Aku berjanji.”Rara meletakkan kepalanya di bahu Xiumin.

 

Sore itu terasa sangat indah bagi keduanya. Sore berganti malam, Xiumin akhirnya memutuskan untuk pulang walaupun Rara masih enggan untuk berpisah dengannya.

Hari-hari mereka jalani sebagai sepasang kekasih. Namun Kai yang masih menaruh hati pada Rara tak mengetahui hal itu. Dia memang merasa kalau Rara mulai menjaga jarak padanya, namun hal itu tak terlalu ia hiraukan karena ia berfikir bahwa Rara sedang sibuk dengan kuliahnya.

Hari ini adalah ulang tahun Kai. Dia bermaksud untuk mengajak Rara berjalan-jalan dan akan mengungkapkan perasaannya. Ia tahu sangat kecil kemungkinannya untuk Rara menerima ajakannya, tapi ia tetap akan mengajak Rara. Selesai kuliah saat ingin menemui Rara, ia tak sengaja melihat sesuatu yang berbeda di depan lokernya. Karena penasaran iapun berjalan mendekat.

 

“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday… happy birhday to you.. Selamat ulang tahun Kai, semoga apapun yang kau inginkan dapat tercapai^^“ Ah, aku memiliki hadiah untukmu, aku berharap kau menyukainya. Itu ada di dalam lokermu.”

“Huh, mungkin ini saatnya aku untuk menunjukkan siapa aku sebenarnya. Temui aku sore nanti di taman dekat kampus dan pakailah apa yang aku berikan. Aku akan menunggumu sampai kau datang. See you, Kai”

 

Setelah membaca pesan itu, Kai membuka loker dan menemukan sebuah bungkusan kemudian membukanya. Ia mendapati sebuah kemeja didalamnya. Ia tersenyum senang lalu memasukkan kemeja itu kedalam tasnya dan berjalan menuju motornya.

 

“Rara, ternyata kau mengingat ulang tahunku. Baiklah, nanti aku akan mengungkapkan semuanya padamu. Tunggu aku, Rara.”guman Kai.

 

Sore hari ditaman dekat kampus, Rara dan Xiumin bermain-main disana. Mereka saling bersenda gurau dan tertawa bersama, memperlihatkan kemesraan mereka berdua.

Sementara ditempat lain, seorang yeoja tengah duduk sendirian. Ia seperti sedang menunggu seseorang, itu terlihat dari raut wajahnya.

Tak lama Kai datang dengan mengenakan kemeja yang ia dapat tadi dengan membawa sebuket bunga. Ia mencari-cari keberadaan Rara, lalu matanya menangkap sosok Rara dan ia bermaksud mendekatinya. Tapi langkahnya terhenti saat melihat orang yang bersamanya, Xiumin. Ia merasa ada yang berbeda, kemesraan terpancar dari keduanya. Kai terdiam melihatnya, kakinya seakan enggan melangkah mendekati mereka sampai ia melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat. Xiumin dan Rara berciuman. Refleks, buket bunga itu terjatuh dari tangannya, dengan fikiran yang kacau ia berjalan mendekat lalu memukul Xiumin hingga tersungkur.

 

“Kai, apa yang kau lakukan?”Rara terkejut melihat kelakuan Kai, lalu ia membantu Xiumin berdiri.

“Kau… apa yang kau lakukan bersamanya ha? Apa maksud semua ini? Kau bilang dia hanya sahabatmu, tapi apakah sahabat saling berciuman seperti yang kalian lakukan tadi?”Kai berkata dengan emosi.

“Ya, kami memang bersahabat. Tapi itu dulu, sekarang hubungan kami adalah sepasang kekasih. Apa hakmu untuk melarang kami?”jawab Rara. “Lihatlah apa yang telah kau perbuat.”lanjutnya.

“Aku tak kenapa-kenapa Rara, kau tak perlu marah seperti itu. Pasti ada alasan kenapa Kai melakukan ini.”Xiumin menengahi pertengkaran mereka.

“Tidak kenapa-kenapa gimana oppa? Lihatlah bibirmu berdarah oppa.”ujar Rara.

“Huh, dasar kau namja lemah.”Kai meremehkan Xiumin.

“Ya! Apa maumu Kai? Kenapa kau tiba-tiba datang dan malah mengacaukan suasana?”tanya Rara.

“Apa mauku? Harusnya aku yang bertanya padamu apa maumu Rara. Apa maksudmu melakukan ini padaku? Kau selalu memberiku hadiah-hadiah kecil dan kata-kata penyemangat, kau seakan memberikan harapan padaku. Dan kau lihat, seperti permintaanmu aku datang menemuimu disini dengan mengenakan kemeja pemberianmu. Tapi apa yang aku dapati? Kau malah bermesraan dengan dia, apa ini maksudmu menyuruhku datang kesini? Untuk pamer kemesraan dan menyakitiku seperti ini?”Kai meluapkan emosinya.

“Hadiah? Kata-kata? Dan kemeja? Kau tak mengerti maksudmu Kai. Aku sama sekali tak pernah melakukan apa yang kau katakan. Dan aku juga tak ada menyuruhmu untuk datang ketaman ini. Memang dulu akau sempat mempunyai rasa padamu, tapi itu dulu sebelum Xiumin oppa datang.”

“Tunggu, kau bilang kau tak pernah melakukan semuanya? Apa kau bercanda Rara? Kemeja ini, bukankah tadi kau memberikannya padaku sebagai hadiah ulang tahunku?”Kai terkejut mendengar jawaban Rara.

“Kemeja? Ulang tahun? Hey, bahkan aku tak mengetahui kalau hari ini ulang tahunmu Kai.”jawab Rara.

“Tapi, aku tadi…”Kai terdiam. “Rara, benarkah selama ini bukan kau yang melakukan itu?”

“Iya Kai, aku sama sekali tak melakukan apa yang kau sebutkan itu.”

“Kai, aku fikir kau telah salah sangka.”Xiumin yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara. “Kau menyangka semua itu dilakukan oleh Rara, padahal sebenarnya kau tak mengetahuinya kan? Hmm, aku tahu bahwa orang yang kau cintai itu bukanlah Rara, tapi yeoja yang melakukan itu. Selama ini kau hanya mengikuti fikiranmu bukan hatimu.”lanjut Xiumin.

“Tidak, aku yakin kalau rasa ini memang untuk Rara.”bantah Kai.

“Kai, apa yang kau rasakan saat menerima hadiah-hadiah itu dan apa yang kau rasakan saat sedang bersama Rara?”tanya Xiumin kemudian.

“Tentu saja aku merasa senang, aku…”Kai terdiam. “Hanya saja itu sedikit berbeda.”lanjutnya.

“Nah, itulah yang  kumaksud Kai. Kau tak sepenuhnya mencintai Rara, separuh hatimu menginginkan yeoja itu.”

“Jadi maksudmu selama ini aku salah?”

“Ikutilah kata hatimu Kai, dan kau akan menemukan kebenarannya. Sebaiknya kami pergi, aku tahu kau butuh waktu untuk sendiri.”ujar Xiumin lalu pergi bersama Rara.

 

Kai hanya bisa menatap kepergian Xiumin dan Rara. Dia merasa perkataan Xiumin itu benar. Kai terduduk di bawah pohon lalu memejamkan matanya, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

 

“Kai,”terdengar suara seorang yeoja, lalu Kai membuka matanya dan melihat yeoja itu duduk disampingnya. Dia merasa tak mengenali yeoja itu.

“Siapa kau?  Kau mengenalku?”tanya Kai heran.

“Ya, tentu saja aku mengenalmu bahkan sangat mengenalmu. Hanya saja kau yang tak mengenalku.”jawab yeoja itu sambil memperhatikan Kai lalu tersenyum.

“Hmm, apa yang kau lihat? Apa ada yang salah dariku?”

“Ani, aku hanya merasa senang. Ternyata kemeja itu sangat pas denganmu.”

“Kemeja?”Kai terkejut. “Jadi yeoja itu, kau?”lanjutnya tak percaya.

“Ya, itu aku. Semua yang kau temukan di loker adalah pemberianku. Jujur, sudah lama aku menaruh rasa padamu, Kai. Tapi aku terlalu malu untuk mengungkapkannya, bahkan untuk menyapamu saja aku tak memiliki keberanian. Aku takut kau mengabaikanku dan akhirnya aku merasa sakit, makanya kau melakukan ini. Maaf kalau kau merasa terganggu, aku tak bermaksud. Aku hanya ingin membuatmu tersenyum bahagia. Karena bagiku bahagiamu adalah bahagiaku.”jelas yeoja itu lalu menundukkan kepalanya.

“Hey, tatap aku.”pinta Kai. “Semua yang kau bilang, apakah benar?”tanya Kai dan dijawab dengan anggukan oleh yeoja itu. “Mianhae, jeongmal mianhae…”Kai tiba-tiba memeluk yeoja itu. “Maafkan aku….”

“Maaf untuk apa Kai?”tanya yeoja itu heran.

“Kau tahu, selama ini aku telah salah. Aku menyangka bahwa Rara yang melakukan itu. Karenamu aku merasa bahagia, setiap kata-kata darimu seakan menjadi mantra untukku menjalani hidup dengan lebih baik lagi. Ternyata benar yang dikatakan Xiumin, hati tak akan salah. Dan kau tahu, sekarang aku sadar bahwa yang aku cintai bukanlah Rara, tapi kau…”

“Kai…”yeoja itu sangat terkejut mendengar perkataan Kai. “Kau tidak sedang bercanda kan?”

“Tentu saja tidak. Aku mungkin memang tak mengenalmu, tapi dengan apa yang telah kau lakukan padaku itu telah membuatku jatuh cinta padamu.”Kai melepas pelukannya. “Hey, tapi aku tak mengetahui namamu.”lanjutnya yang sukses membuat yeoja itu tertawa.

“Aku Jihwa, Kang Jihwa.”

“Jihwa.”Kai tersenyum. “Saranghae Kang Jihwa.”Kai mencium dahi Jihwa.

“Nado, Kai.” ujarnya lalu memeluk Kai.

 

Kai dan Jihwa mnghabiskan sore itu dengan saling mengenal satu sama lain. rasa bahagia terpancar dari keduanya. Kai menceritakan semuanya pada Jihwa, termasuk peristiwa yang baru terjadi antaranya dengan Rara dan Xiumin. Dia berkeinginan untuk meminta maaf dan berterima kasih kepada mereka.

 

Besoknya Kai dengan Jihwa menemui Rara dan Xiumin. Mereka mencari dikampus dan akhirnya menemukan mereka di kanti. Kai lalu menghampiri mereka.

 

“Hey.”sapa Kai. “Apa aku boleh duduk disini?”

“Hey. Ya tentu saja, silahkan.”jawab Rara. “Kai itu siapa?”sambungnya sambil menunjuk yeoja yang disampingnya.

“Ah, kenalkan ini Kang Jihwa. Dia yeojachinguku.”jawab Kai.

“Yeojachingu?”tanya Xiumin dengan senyum penuh arti.

“Ne, ini semua berkatmu Xiumin. Semua yang kau katakan itu benar, selama ini aku hanya mengikuti fikiran, bukan hatiku. Tapi sekarang aku sadar kalau dialah yang aku cintai, yeoja yang selalu memberiku hadiah-hadiah itu.”

“Jadi, dialah yeoja itu? Bagaimana bisa kau menemukannya?”tanya Rara.

“Setelah kepergian kalian semalam, aku masih terus berfikir hingga dia tiba-tiba menghampiriku dan mengatakan semuanya padaku. Saat itulah aku sadar, aku mencintainya.”jawab Kai sambil tersenyum. “Xiumin, soal semalam aku ingin meminta maaf padamu, dan juga berterima kasih. Karenamulah aku bisa menemukan cintaku.”lanjutnya lalu merangkul Jihwa.

“Iya, aku sudah melupakan kejadian semalam. Aku ikut senang karena kau telah menemukan yeojamu, aku harap hubungan kalian akan bertahan selamanya.”ujar Xiumin.

“Iya Kai, aku juga senang mendengarnya.”lanjut Rara. “Jihwa, kau jagalah Kai dan bahagiakanlah dia.”kali ini Rara berkata pada Jihwa.

“Iya, tentu saja Rara.”

“Berarti sekarang kita sudah punya pasangan masing-masing? Hmm sepertinya sesekali kita bisa double date.”ujar Rara yang disambut oleh tawa mereka.

 

Akhir yang indah, walaupun tidak dengan awal yang indah. Tapi sekarang semuanya telah mendapatkan kebahagiaan masing-masing. Ingatlah untuk menggunakan hati, bukan fikiran. Karena hati tak akan pernah membohongimu…

 

END–

Uwaaa, sebenarnya author bingung mau buat endingnya gimana, dan jadilah meng-gaje gini. Mian, kalau ff nya nggak bagus TT, author masih dalam masa pembelajaran.. komen… komen… jangan lupa yak^^

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s