[FREELANCE] (LightHeaven’s Story) 100 Days

tumblr_mb5t6n9ikv1r317gxo1_500

(LightHeaven’s Story) 100 Days

Author :: Seara Sangheera

Cast :: Byun Baekhyun of EXO-K, Hwang Sera (OC)

Genre :: Romance, Friendship

Rating :: General

Karena galau tak kunjung hilang nunggu EXO comeback,,Baekkiee ma Sera jadi tak bikin abu-abu gak jelas kayak gini. Yasudahlah,,jika anda berkenan silahkan anda baca ep-ep saya…

Monggo-monggooo… Maaf ya kalau byk typo…

 

_Sera POV_

“Bisa cepat sedikit tidakk?!”kataku pada orang diseberang telepon. Wajahku sudah tertekuk sempurna. Kesal karena lagi-lagi orang ini melanggar janjinya untuk tepat waktu.

Orang diseberang telepon itu, Byun Baekhyun menjawab,”Arraseo-arasseoo, aku kesana. Astaga, Suho hyung benar-benar sulit ditembus.”

“Joonmyun? Ya! Aku sudah bilang padanya kalau aku akan meminjammu hari ini jam tujuh. Dasar Joonmyunie pengkhianat!”

“Nee. Tapi dia lebih takut pada manajer hyung daripada kau, Sera-chan, hahaha. Eo, Sera, Aku sudah dilobi. Kau pakai mobilnya Jaejoong Hyung atau mobil si kembar?”

“Aku pake mobil Jae. Jangan lupa pakai capuconmu. Tutupi wajahmu rapat-rapat. Aku nggak mau berurusan dengan fans-fansmu yang histeris itu.”

“Hahaha, arasseo, chagiya…”

Keningku mengeryit. “Jangan panggil aku ‘chagiya’!”

“Hahaha…”

Suara tawa Baekhyun menghilang diganti suara tut tut monoton. Aku menggerutu pelan.

Dasar tukang kabur.

Aku menghela napas panjang,menyandarkan tubuhku dengan lebih rileks kesandaran kursi mobilku. “Wah, salju turun,”gumamku pelan. Hari ini aku dan Baekhyun merayakan 100 hari jadian kami. Bukan sesuatu hal yang istimewa sebenarnya, karena kami sudah lengket sejak ratusan ribu hari yang lalu. Tapi kata Baekhyun, 100 hari ini perlu dirayakan. Apalagi setelah White Day kami gagal total kemarin.

Mungkin maksudnya yang perlu dirayakan adalah transformasi hubungan kami yang berhasil menginjak 100 hari. Karena sejak awal banyak yang pesimis pada hubungan kami. Yuki, kakakku yang tertua, tertawa saat mendengar bahwa kami pacaran. Dia bilang untuk orang sebesar kami, seharusnya kami berhenti bermain-main. Myungsoo, Minsoo, Hyuna, Mirae, dan teman-teman 92liners kami yang lain juga menasehati kami macam-macam. Menurut mereka, akan gawat jika kami putus karena bisa merusak persahabatanku dengan Baekhyun yang sudah terjalin sejak kami TK.

Aku tidak pernah berpikir kalau pacaranku dan Baekhyun adalah main-main. Hubungan kami juga tidak akan putus semudah itu. Tapi, mungkin memang tidak bisa dibilang serius seperti pasangan-pasangan pada umumnya. Tidak ada ungkapan cinta dan sebagainya, apalagi suasana romantis dengan lilin-lilin atau mawar.

Hari itu, Baekhyun libur dan main kerumahku seperti biasa. Kami ngegame dan nonton anime sampai tengah malam dikamarku. Mungkin karena terbawa suasana romantisnya Asuna dan Kirito di Sword Art Online, Baekhyun tiba-tiba menembakku.

“Bagaimana kalau kita pacaran?”

Bukan kata-kata romantis, tapi mampu membuatku shock untuk beberapa saat. Aku memandangnya, mungkin saja dia sedang menahan tawa sekarang karena berhasil membuat lelucon yang tidak lucu seperti itu. Tapi, anak itu tidak berani memandangku sama sekali. Matanya lurus menatap layar televisi, walaupun aku yakin tidak ada adegan apapun disana yang berhasil ditangkap oleh matanya. Hhh, ternyata dia serius…

“Hmm, boleh juga…”

Itu jawabanku.

100 hari lalu.

Aneh? Memang. Aku sendiri tidak percaya kalau hanya seperti itu awal mula pacaranku dan Baekhyun. Padahal kami berdua sama-sama berpengalaman dalam urusan berpacaran. Terutama Baekhyun, sewaktu SMP dan SMA dia sudah memacari banyak gadis. Aku jadi tidak bisa membayangkan caranya mengajak gadis-gadis itu berpacaran. Kalau caranya sama seperti yang dia lakukan padaku, mungkin gadis-gadis itu akan langsung angkat kaki dari hadapannya. Mana ada yang mau pada cowok yang tanpa tedeng aling-aling seperti itu? Atau ada?? Yahh, Baekhyun memang sangat populer sih dulu. Wajahnya mungkin bisa dibilang diatas rata-rata dan dia orang yang sangat supel.

Hmm, sebenarnya apa yang dipikirkannya ya saat itu? Kalau sebegitu kesepiannya dia karena lama menjomblo, kenapa aku yang kena tembak? Jawaban yang paling mungkin adalah karena tidak ada cewek lain selain aku dikamar itu. Yap!

“Sera-chann…”

Aku menoleh. “Eo, Baekie..”

Baekhyun masuk kedalam mobilku dan menghenyakkan tubuhnya kekursi penumpang.

“Kau tadi melamun ya?”

“Ani. Aku Cuma memandangi salju. Saljunya indah…”

“Melamunkan salju?”

Eung?? Telinga Baekhyun pasti bermasalah…

“Kan tadi aku bilang aku tidak melamun..”

“Bukan melamunkan salju, berarti melamunkan aku…”

Aish… Ternyata otaknya yang bermasalah.

“Yaa~!”seruku jengkel.

“Haha.. Senangnya…”

“Berhenti menggodaku, Baekkie!!”

“Eh? Aku? Kapan??”

Buk.

“Auww, kenapa kau menendang kakiku, A-chan? Sakitt!”Keluhnya sambil mengusap-usap kakinya yang beradu dengan sol tebal sepatuku.

Aku mendengus tidak peduli. Kujalankan mobilku dijalanan Seoul yang basah karena salju.

“Mau kemana kita?”tanyaku karena baru ingat kalau kami berdua sama sekali tidak punya rencana spesifik akan pergi kemana hari ini. Aku menyiapkan sesuatu tapi mungkin ada hal lain yang ingin Baekhyun lakukan.

“Ja.. Mari kita beri makan perut pacar tampanmu ini, Sera-chan!”

“Hoo? Aku tidak ingat punya pacar tampan, ada juga pacar cerewet yang sok kecakepan.”

“Aaah, kamu menceritakan diriku yang lain, eh? Aighoo, jangan keras-keras. Itu tidak termasuk imageku. Bisa gawat kalau fansku dengar”

“Tenang saja, mereka akan menerima sisi gelapmu yang itu juga…”

“Sepertimu ya, A-chan?”

Aku menoleh. Baekkie tersenyum kearahku.

“Kalau aku sih karena terbiasa…”

“Aighooo, A-chan tidak jujur nihh, hahaha”

Bukan.

Aku bukannya tidak jujur. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan perasaanku pada Baekhyun. Terlalu lama berada didekatnya, menjadi sahabat yang paling mengerti dirinya, membuatku sulit melihat perasaanku sendiri. Tapi…

Sejak lama aku telah memahami satu hal, bahwa bersama dengan Baekhyun adalah hal yang terpenting bagiku. Entah itu cinta atau bukan, aku hanya butuh Baekhyun berada disisiku.

_Baekhyun POV_

100 hari jadiku dan Sera-chan dirayakan direstoran daging. Aish, yang benar saja…

“Ya!! Dagingnya gosong, Baekkie…”seru Sera sambil buru-buru meletakkan ponsel yang barusan diutak-atiknya lalu dengan lincah mengambil sumpit untuk membalik-balikkan irisan daging yang terpanggang dihadapannya. “Kau ini melamun ya?”

“Aku masih tidak mengerti kenapa kita disini,”ujarku suram. Seiris daging disuapkan Sera untuk menyumpal mulutku. Wajahku pasti nampak kucel sekali sekarang.

“Siapa yang bilang lapar tadi?? Siapa yang tadi mengeluh belum makan dari siang? Kau kan? Makanya kita disini untuk makan! Gimana sih…”

“Aku kan minta kerestoran italia saja. Disana suasananya lebih bagus kan?”

“Memangnya disini nggak bagus? Ini kan restoran favoritmu. Lagipula, mana kenyang kalau makan spaghetti.”

“Ada steak disana…”

“Aku tahu kau sekarang sudah jadi artis. Tapi jangan lupa kalau kau baru 1 tahun jadi artis. Pergunakan uangmu dengan bijaksana, Baekkie…”

“Aku tidak akan bangkrut hanya karena menraktirmu makan direstoran mahal…”

“Tapi kau akan kehilangan banyak uang untuk sesuatu yang tidak penting…”

“100 hari jadi kita penting, Hwang Sera!! Karena itu aku menginginkan sesuatu yang istimewa. Bukannya di restoran daging seperti ini!!”

Sera terdiam. Aku juga. Ukh…aku lepas kontrol sampai membentaknya.

Sera menatapku tajam. Aku membuang muka. Takut.

Sera menunduk, berkutat dengan daging dan sayuran lotusnya. Lalu menyuapkannya padaku. Aku menurut. Merasa bersalah karena merusak suasana.

“Byun Baekhyun, habiskan makanmu. Setelah ini, aku ingin ke Sungai Han. Sepertinya asyik jika kita ngobrol dipinggir sungai. Aku bawa hanabi lho, kutaruh dibagasi mobil. Aku ingin lihat hanabi dibawah turunnya salju. Pasti indah. Aku juga bawa cemilan dan Hite. Tapi Cuma dua kaleng. Eotte??”

Aku menelan makanku dan menatap Sera dengan wajah merana. “Kau benar-benar pintar membuatku merasa bersalah…”

“Ani. Kau sendiri yang baka, Baekkie. Rasakan.”

Aku mengangkat tanganku tanda menyerah dan Sera tertawa melihatnya. Aku heran, selama bertahun-tahun aku mengenalnya, kenapa aku masih saja sulit menebak apa yang ada dibenak gadis ini. Kadang aku bisa merasa begitu mengenalnya, tapi tidak jarang aku salah paham seperti ini.

Sera tentu saja akan memilih berjalan-jalan denganku dipinggir sungai Han daripada dinner romantis di restoran mahal. Seleranya memang seperti itu. Mengajakku ke restoran daging ini memang hanya karena ingin mengisi perut dan sama sekali bukan bagian dari perayaan 100 hari. Ahh, seharusnya aku tahu.

Aku dan Sera sebelumnya adalah seorang sahabat. Kami kenal sejak TK dan memutuskan tidak akan terpisahkan sejak SD kelas 1. Kalau dihitung-hitung berarti sudah 13 tahun kami bersahabat. Saat kami kelas 4 SD, kami memutuskan untuk menjadi saudara kembar. Serius! Itu terjadi karena Sera iri pada oneechannya, Yuki-Haru, yang kembar identik. Menurutnya punya kembaran itu keren dan tidak mungkin bisa terpisahkan untuk selama-lamanya. Akhirnya, kami memaksa teman-teman untuk mengakui kami sebagai saudara kembar, memaksa orangtua kami membeli barang-barang kembar untuk kami berdua, bahkan kami tidur bersama (bergiliran senin dirumahku, selasa dirumah Sera, Rabu dirumahku, dst…) selama 2 tahun. Saat masuk SMP kami memperkenalkan diri kami sebagai saudara kembar pada teman-teman baru kami.

Itu adalah permainan tergila kami. Kadang kami bahkan pura-pura bertengkar selama beberapa hari hanya karena seumur-umur kami tidak pernah saling mendiamkan satu sama lain.

Kenangan-kenangan kami itu membuatku bertanya-tanya, kali ini apakah kami sedang bermain-main juga??

100 hari yang lalu, aku mengajak Sera berpacaran. Ajakan yang kusesali hingga sekarang. Astaga!! Kenapa aku melontarkan kata-kata tidak bermutu seperti itu!! Bisa-bisanya seorang Byun Baekhyun mengajak seorang gadis berpacaran dengan kata-kata dangkal seperti itu!!

“Bagaimana kalau kita pacaran?”

Ah sial… aku tidak akan menyalahkan Sera jika ia menganggapku tidak serius saat itu. walaupun pada kenyataaannya Sera menyanggupi untuk berpacaran denganku. Aku tidak yakin dia benar-benar  punya alasan kuat—cinta misalnya?—untuk menerimaku. Bagaimana tidak? Kami bersahabat dan tumbuh bersama permainan-permainan konyol yang kita lakukan setiap hari. Jadi kemungkinan besar ini juga merupakan bagian dari permainan-permainan itu.

Padahal aku sungguh-sungguh. Keinginanku menjadi pacar Sera bukan keinginan yang muncul begitu saja, tapi berkembang selama bertahun-tahun kebersamaan kami. Semakin aku menginginkannya, anehnya semakin sulit aku bisa mengungkapkannya.

Saat itu Sera juga masih berpacaran dengan orang lain, dan dia nampak begitu mencintai orang itu, bahkan mungkin sampai sekarang. Aku menyadari diriku patah hati saat pacarku menamparku karena kecewa. Dia bilang, aku tidak pernah berusaha sungguh-sungguh dengannya dan dia terluka karena aku hanya mempermainkannya. Dia benar dan aku tersadar, saat itu aku memang tidak pernah melihat gadis lain selain Sera.

Aku senang dia benar-benar memakai kalung pemberianku saat White Day. Tapi aku tidak merasa cukup. Sekedar memakai kalung itu tiap hari, apa susahnya? Kadang aku merasa pesimis, apa harapan itu benar-benar ada?

Aku tidak pernah bisa membaca isi hati Sera. Aku tidak pernah tahu dan tidak pernah menanyakannya. Chanyeol bilang aku berubah menjadi pengecut jika sudah berurusan dengan Hwang Sera. Sepertinya dia benar.

_Author POV_

Bum. Bum. Bum.

“Sughooiii!!”

“Wahh, daebakkk!!”

Langit diatas Sungai Han bersinar mejikuhibiniu. Gemerlap diantara salju putih yang melayang-layang pelan dan pekatnya langit di musim dingin. Sera dan Baekhyun menatap kembang api itu dengan senyum lebar dibibir. Memang tidak semegah kembang api pergantian tahun, tapi cukup untuk membuat malam itu menjadi malam yang menyenangkan.

“Hite! Hite! Ayo kita toast, Baekkie!”

“Eo!”

Baekhyun dan Sera mengambil kaleng bir masing-masing. Mereka sudah cukup umur untuk minum, walaupun Sera benci alkohol karena efeknya, tapi untuk saat-saat seperti ini tidak ada salahnya untuk minum sedikit (Bukannya author ngajarin jelek ya, tapi di Korea, minum itu udah kayak budaya. Liat aja drama-drama Korea, hampir pasti ada adegan minum n mabuknya. Tapi tetep, adegan ini tidak boleh dicontoh, hoho). Bunyi berdesis dan buih keluar saat keleng bir dibuka. Dengan semangat mereka membenturkan kaleng satu sama lain.

“One Shottt!” Glek. Glek. Glek.

“Aaahhh, aku menyerahh…”seru Sera setelah tegukan kelima. Kemudian ia bersorak menyemangati Baekhyun yang masih bertahan meneguk Hite tersebut sampai tandas. “Yaaa… Kau hebat.”

“Kkkhhh, beneran kau Cuma bawa satu??”tanya Baekhyun sambil meletakkan kaleng kosongnya.

“Ne. Satu saja cukup, Baekkie. Aku tidak mungkin membiarkanmu mabuk.”

“Ah, arasseo…”Baekhyun membuka kaleng minuman soda dengan berat hati. Sampai dorm nanti dia akan minum satu kaleng bir lagi.

“Setelah ini apa yang akan kita lakukan?”tanya Sera.

“Kau tidak ada rencana?”

“Sebenarnya hari ini aku hanya ingin jalan-jalan dan ngobrol denganmu,”Sera meneguk lagi bir kalengnya yang belum habis. “Semenjak kau debut dan aku kuliah, kita tidak punya banyak waktu lagi berduaan seperti ini. Kalau tidak kau yang menyempatkan mampir kerumahku menjelang tengah malam, dan aku yang merelakan weekend-ku untuk datang kedorm-mu, mungkin sudah sebulan ini kita tidak bertemu. Rasanya aneh, padahal dulu kita selalu kemana-mana berdua dan setiap hari bertemu karena kita bertetangga. Mungkin aku sedikit merasa kehilangan. Yahh… Mau bagaimana lagi ya, Baekkie?”

Baekhyun tertegun. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa Sera ternyata merasa kehilangan. Gadis itu selalu terlihat normal dan tidak pernah menunjukkan perasaannya. Tapi tiba-tiba hari ini, dia mengeluh. Itu membuat Baekhyun sangat lega.

Selama ini, Baekhyun juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Sera. Sering dia merindukan Sera, pertemuan selama satu jam dan hubungan via ponsel sama sekali tidak cukup sebagai obat. Kadang Baekhyun masih merasa menyesal karena dia berhasil debut, sementara Sera tidak. Apalagi saat Baekhyun harus tur konser keluar negeri. Jika saja kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin Sera sekarang sudah sukses bersama f(x) dan mereka bisa tur konser SMTown bersama-sama.

“Kembalilah ke SM…”ucap Baekhyun.

Sera tertawa. “Apa itu jalan satu-satunya supaya kita bisa bersama seperti dulu?”

“Eo. Aku kesal jika tidak melihat mukamu setiap hari.”

“Hahaha… Kau ini apa tidak bosan?”

“Kau juga, kan? Tidak bosan bersamaku.” Baekhyun tersenyum. “Kita ini benar-benar sudah melekat terlalu lama.”

“Sampai akhirnya terlalu keras untuk dipisahkan.”

“Gwenchana. Aku rasa aku bisa menghabiskan seumur hidup bersamamu.”

“Hahaha, aku juga. Karena itu kita pacaran kan?”

“Eo.” Baekhyun menelan ludah. Bukankah ini saat yang tepat? Mereka sedang mengungkapkan perasaan satu sama lain, bukankah Baekhyun harusnya mengatakan inti dari semua ini? Bahwa dia mencintai Sera dan dia butuh kepastian untuk mempercayai perasaan Sera padanya.

“Sera, aku—“

“Baekki, aku senang bisa bersahabat denganmu,”potong Sera yang membuat Baekhyun menelan kata-katanya kembali.

“N-ne?”

“Tidak semua orang punya seseorang untuk bersandar sepertiku, jadi aku merasa bersyukur sekali. Aku ingin kita tetap seperti ini, selamanya. Bisa kan?”

Dada Baekhyun terasa sesak. Maksudnya ‘seperti ini’ itu seperti apa, Sera? Berpacaran tanpa cinta?

“Asal aku bersamamu itu cukup. Aku tidak butuh alasan lain. Dulu, alasanku berpacaran adalah cinta, tapi ternyata kami tidak bisa bersama selamanya.”

Baekhyun mendesah lirih. Kenapa Sera bisa punya kesimpulan seperti itu tentang cinta? Apa yang sebenarnya terjadi saat ia putus dengan orang itu?

“Aku juga ingin selalu bersamamu,”jawab Baekhyun jujur. Walaupun pada kenyataannya ada hal lebih yang ingin dia katakan.

Sera terhenyak. Perasaan hangat meliputi dadanya. Buru-buru dia berdiri, karena rasa hangat didadanya telah merambat kematanya. Sera tidak akan membiarkan dirinya menangis, itu memalukan. “Ja. Sudah mulai dingin sekali disini. Kita berjalan-jalan yuk Baekkie, untuk menghangatkan diri.”

Baekhyun ikut bangkit. Dengan langkah panjang ia menyusul Sera yang berjalan didepannya. Sera yang melihat Baekhyun sudah berada disampingnya, tersenyum. Ia melingkarkan lengannya ditangan Baekhyun dan memasukkan telapak tangannya kesaku jaket. Baekhyun tersenyum dan melakukan hal yang sama, memasukkan telapak tangannya kesaku jaketnya (mudeng ndak? Tangan mereka jadi berbentuk silang gitu). Ini style mereka jika sedang berjalan bersama.

“Kenapa kita mellow sekali ya hari ini?”

“Kau kan yang pertama mulai…”

“Kekeke… Bagaimana kalau kita pergi ke-noraebang?”

“Ayo! Aku ingin menyanyi sepuasnya hari ini…”

“Yatta!! Kita buat duet maut Baekhyun-Sera!”

“Hahaha…”

Mungkin memang masih butuh waktu. Jika alasan ‘ingin bersama selamanya’lah yang membuat Sera selalu berada disisi Baekhyun, dia terima. Ada banyak hal yang telah menimpa gadis itu hingga ia jadi begitu bergantung pada Baekhyun, dan butuh dirinya. Baekhyun senang sekaligus sedih. Cinta bertepuk sebelah tangan selalu menyakitkan. Bagi Baekhyun cinta selalu menjadi alasan. Bagi Sera Baekhyun-lah alasannya.

100 hari ini, perasaan itu masih harus dipendam sedikit lebih lama. Ya, semoga benar-benar hanya sedikit lebih lama.

END???

 

Eottee??

Jelek ya?

Ck, sudah saya dugaaa…

Mohon kritik dan sarannya ya pembaca yang budimannn. Saya ini banyak kekurangan tapi kadang sulit introspeksi diri sendiri(-_-!!)

Gamsahamnidaaa…

6 thoughts on “[FREELANCE] (LightHeaven’s Story) 100 Days

  1. Bagus kok .. bahasanya gampang dimengerti, trus feelnya dapet bgt
    Aku baru baca 2 cerita di blog ini, jni cerita ke dua yang ku baca.. aku akan lanjut kan baca yang lainnya..

    FIGHTINGG!!!! untuk bikin cerita lainnya

  2. Hallo kamu.. Baru mulai baca di sini nih. Ceritanya seger deh.. Ini story pertama yg aku baca (dan aku berniat baca yang lain juga nanti) bahasanya fleksibel banget! Author jpopers juga nih kayaknya. Haha.

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s