[FREELANCE] JONGJAE (Chapter 3) a Little Mission

Author            : Shin Jae Jae

Judul              : JJ (JongJae?)

Genre              : Romance, friendship

Rate                : PG-13

Length            : Multi Chapter

Cast                : Main cast : Shin Jae Jae (you), Kim Jongin (Kai)

Other cast : EXO K, Kim Jonghyun (SHINee) , Park JunHae

Hai chingudeul..😀 come back with JJ story. Mian lama, soalnya dari admin emang ngantri FFnya, jadi publishnya lama. Penasaran apa yang dilakukan Kai? Checkidot..😀

Happy reading😀

Part 3

Shin Jae Jae POV

Aku masih terkejut dengan kehadiran Kai yang tiba-tiba berada di hadapanku. Tiba-tiba Kai menarik tanganku yang sejak tadi membatu, kemudian membawaku ke balkon. Aku masih mematung, menatap punggungnya dengan berbagai pertanyaan di kepalaku. “Apa Kai mendengar semuanya tadi? Apa Kai tadi hanya berpura-pura tidur? Apa yang harus kukatakan padanya nanti?”

“Noona, katakan padaku yang sejujurnya. Kenapa kau lakukan semua itu? Wae?Kenapa kau menyembunyikannya dariku?”, tanya Kai padaku. Posisi kami kini berhadapan. Kai menatapku tajam. Aku bahkan tak mampu membaca arti tatapannya.

“Mwo? Memangnya apa yang aku sembunyikan darimu?”, jawabku bingung.

“Kau tak usah berpura-pura noona. Aku dengar semua yang kau bicarakan dengan Baekhyun hyung. Kenapa kau sembunyikan itu dariku noona?”, tanyanya semakin memojokkanku.

“Mmm..aku..aku..hanya..”, jawabku terbata-bata. Bingung harus menjawab apa, namun memori manajer yang memarahiku tadi kembali datang ke kepalaku.

“Kenapa kau yang harus dimarahi manajer hyung? Kau tak bersalah, aku lah yang salah. Kenapa kau mengatakan kau yang mengajakku?”, tanya Kai sambil menggoyang-goyangkan badanku. Aku tak mampu berkata apapun. Kepalaku menunduk. Air mataku berlinang mengingat apa yang dikatakan manajer tadi siang. Aku pun juga merasa bersalah telah menyembunyikan ini dari Kai.

“Aku tadi yang mengikutimu, kenapa kau malah menyalahkan dirimu sendiri di depan manajer hyung? Kenapa kau tak bilang aku lah yang bersalah? Kenapa noona? Kenapa?”, suara Kai kini semakin terdengar tinggi. Entah kenapa aku merasa ada rasa khawatir dalam nada suaranya itu. Tapi aku masih tidak bergeming dengan posisiku. Kai pun semakin menggoyang-goyangkan badanku semakin keras.

“YA! APA KAU PIKIR DENGAN AKU MENGATAKAN YANG SEBENARNYA MANAJERMU AKAN BEGITU SAJA PERCAYA? APA AKAN ADA ORANG YANG PERCAYA SEORANG ARTIS MENGIKUTI FANSNYA SAMPAI LUPA JADWALNYA? JADI AKU MENGATAKAN YANG SEBENARNYA ATAU TIDAK, TIDAK AKAN MEMENGARUHI KEADAAN! TETAP AKU PASTI AKAN DIMARAHI!!”, jawabku sambil mengangkat wajahku, menatap mata Kai lekat-lekat. Tanpa kusadari air mataku semakin berlinang deras.

“KAU PERGI DENGANKU SAAT ITU, JADI OTOMATIS KAU ADALAH TANGGUNG JAWABKU KAI! KAU PAHAM!”, suaraku bergetar saat mengucapkan itu. Kai yang mendengar jawabanku diam, tak berkata apapun. Namun mata kami masih bertatapan.

 

Grepp

“Mianhe noona. Jeongmal mianhe.”, kata-kata itu lembut terucap dari mulut Kai.

Udara tengah malam musim dingin yang sedari tadi menusuk tulangku kini seperti tak terasa lagi. Hangat. Ya, aku merasa hangat. Kata-kata Kai tadi benar-benar membuat semua emosiku hilang seketika. Hanya dua kalimat, namun aku tak mampu menjawabnya. Bahkan aku tak mampu melihat ekspresinya saat mengatakan itu, karena tangannya yang besar telah meraih badanku. Dia memelukku. Erat sekali. Hangat. Nyaman yang kurasakan. Tubuhku seperti membatu, bahkan tak bisa hanya untuk membalas pelukannya. Entah berapa lama kami bertahan pada posisi itu. Hanya malam yang tahu.

D-1 ( malam sebelum acara memasak untuk Suho)…

Shin Jae Jae POV

Ear phone ini masih setia di telingaku, mengalunkan lagu-lagu yang kusukai. Aku masih berkutat dengan novel di hadapanku ini, menyelami alur demi alur. Sampai tiba-tiba kurasakan ponselku bergetar, ada sebuah pesan dari nomor yang tidak kukenal.

Dari: 001-5087-xxx

Jae-Jae ah. Apa yang sedang kau lakukan? Kuharap kau masih ingat untuk membuatkan masakan Indonesia untukku besok. J

Leader Suho.

Mwo? Suho oppa mengirim pesan padaku? Bagaimana dia bisa tahu nomor ponselku?Hmm,,pasti karena formku waktu itu.”, kalimat itu berputar-putar di kepalaku. Lalu secepat kilat aku membalas pesan itu.

Untuk: 001-5087-xxx

Kyaa~oppa ^^. Kau mengagetkanku. Benarkah ini nomormu oppa? Akan kusimpan. Tentu saja aku tak lupa untuk memasak untukmu. Dan novel yang sedang kubaca ini sangat membantuku.^^

 

Dari: Suho oppa

Oh ya? Mianhe mengagetkanmu. Nde, ini nomor ponselku, gomawo untuk menyimpannya🙂 Baiklah, besok pagi seusai sarapan kita pergi berbelanja. Oke? ^^

 

Untuk: Suho oppa

Arasso oppa. Tapi jangan menyesal ya, karena pasti akan melelahkan saat berbelanja. ^^

 

Dari: Suho oppa

Hehehe,,pastinya tidak akan. Sudah malam, cepatlah beristirahat. Semoga tidurmu nyenyak. ^^

 

Untuk: Suho oppa.

Nde, gamsahamnida oppa. Semoga tidurmu nyenyak juga.😀

 

Sampai disitu kami saling mengirim pesan. Aku tersenyum-senyum melihat pesan yang dikirimkan oleh Suho oppa.

“Ya! Noona! Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri? Apa kau sudah gila?”, tanya Kai yang berbaring di tempat tidurnya. Telinganya tersumpal earphone nya.

“Biarkan saja. Memangnya kenapa? Toh, aku juga tidak mengganggumu.”, cibirku padanya.

“Kau ini noona. Cepatlah tidur. Sudah malam.”, katanya sambil menarik selimutnya sampai badannya, tubuhnya pun ia balikkan membelakangiku.

“Terserah aku mau tidur jam berapa. Memangnya kau? Dasar kau ini tukang tidur!”, jawabku kesal. Namun sejurus kemudian kudengar suara hembusan nafas lembut, pertanda Kai sudah tidur.

“Dasar kau ini tukang tidur. Tidur cepat sekali.”, kataku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Kututup novel yang ada di tanganku, lalu beranjak ke tempat tidur Kai. Kutarik selimutnya hingga menutupi pundaknya.

“Selamat tidur Kai”, aku mengucapkan dengan suara pelan. Setelah kupastikan penghangat ruangan bersuhu nyaman, aku pun segera beranjak ke tempat tidur.

 

Kai POV

Aku sebenarnya ingin berbincang-bincang lebih banyak dengan noona. Namun ini sudah malam, tidak mungkin pembicaraanku kulanjutkan.

“Kau ini noona. Cepatlah tidur. Sudah malam.”, kataku sambil menarik selimutku kubalikkan tubuhku membelakanginya.

Aku berpura-pura tidur agar noona bisa segera tidur. Tiba-tiba dia datang ke tempat tidurku dan menyelimutiku.

“Selamat tidur Kai.”, aku mendengar kalimat yang diucapkan noona padaku saat menyelimutiku. Mataku terbelalak kaget, namun seketika pula aku tersenyum. Setelah kupastikan noona tidur dengan mendengar suara tarikan nafasnya, aku berani menjawab ucapannya.

“Selamat tidur juga noona, semoga kau bermimpi indah.”, senyum masih menghiasi wajahku.

D Day (acara memasak untuk Suho)

Hari itu seperti biasanya, kami sarapan di meja makan. para dongsaengku (yeoja) yang berpakaian seragam pun segera berangkat ke sekolah seusai menyelesaikan makannya. Dan seperti biasanya pula, aku dan Suho oppa yang harus membersihkan semua piring kotor.

“Kai, kau ada pemotretan dengan Sehun dan Baekhyun jam berapa? Jangan sampai terlambat.”, kata Suho oppa pada Kai.

“Eung, nanti jam 8 kami berangkat hyung. Manajer hyung sudah bilang pada kami tadi.”, jawab Kai seadanya. “Noona, kau ikut kan?”

“Mwo? Ikut kemana?”, tanyaku kaget bercampur bingung.

“Tentu saja ke pemotretan Noona.”, jawab Kai agak kesal. Dia menghampiriku. “Kau ini polos atau memang tidak tahu sih, noona?”, tanya Kai gemas lalu mengacak rambutku pelan.

DEG. Entah kenapa darahku seperti berdesir dan jantungku berdegup saat Kai mengacak rambutku. Panik! Tapi aku mencoba menutup kepanikanku dan menjawab “Eung, umm..aku..aku tidak bisa. Aku sudah janji dengan Suho oppa hari ini.”, sahutku sambil menyingkirkan tangan besarnya dari kepalaku, kemudian aku memandang ke arah Suho oppa. Raut mukanya sedikit berubah, wajahnya memandang Kai seperti raut tidak suka.

“Benarkah itu hyung?”, tanya Kai pada Suho oppa, dan hanya dijawab dengan anggukan dan senyuman tipis. “Ya sudahlah. Tapi lain kali kau harus ikut noona,eoh?”, lanjut Kai dengan senyum lebarnya. Entah kenapa aku merasa hari ini Kai agak aneh dan berbeda. Mungkin otaknya sudah tidak waras. Itu yang kupikirkan.

“Sudahlah, cepat kau bergegas Kai. Lihatlah Sehun dan Baekhyun sudah siap.”, kata Suho oppa menengahi. Kai pun segera beranjak dari dapur dan pergi. Aku dan Suho oppa masih melanjutkan pekerjaan kami sambil sesekali bercanda. Udara di luar sangat dingin memang, namun aku masih punya semangat untuk berbelanja bersama Suho oppa.

Author POV

Suho menghabiskan makanan yang ada di hadapannya dengan cepat. Tak ada sedikit pun yang tersisa. Hal itu membuat Jaejae tersenyum, lalu dengan cekatan dia membereskan piring dan gelas yang dipakai oleh Suho tadi.

“Bagaimana Oppa? Enak?”, tanya Jaejae sambil membersihkan meja.

“Neoomu mashitta.”, jawab Suho sambil tersenyum.

“Wah!Wah! Ada apa ini? Kenapa hyung makan tak mengajak kami?”, tanya Chaenyol yang tiba-tiba datang bersama Kyungsoo.

“Og, mianhe. Karena Jaejae hanya memasak satu porsi dan itu khusus untukku.”, jawab Suho sambil tertawa puas.

“Ah, kau curang hyung. Jaejae, lain kali kau harus memasak untuk kami juga.”, kata Kyungsoo tak mau mengalah.

“Oke. Aku janji. Eh, tapi aku masih punya kue untuk kita berempat. Mau?”, tawar Jaejae yang langsung dijawab dengan anggukan dan senyuman lebar oleh yang lain.

Jaejae pun kembali ke dapur untuk mengambil kue dan coklat panas. Dibawanya satu piring kue dan empat cangkir coklat yang terlihat nikmat. Hari itu memang masih pukul dua siang, tapi cuacanya masih sangat dingin.

“kalau kita sedang berkumpul dan makan seperti ini paling asyik jika kita juga melakukan permainan.”, ajak Chanyeol tiba-tiba.

“Setuju. Bagaimana kalau kita bermain Truth and Dare?”, jawab Kyungsoo tak kalah semangat.

“Lalu apa hukumannya jika memilih Dare?”, tanya Jaejae.

“Hukumannya harus mencium orang yang ditunjuk, buka di pipi, tapi di bibir.”, jawab Suho serta merta yang sukses membuat semua mata berpaling padanya. Kyungsoo yang notabene bermata besar, wajahnya seperti tenggelam oleh matanya yang terlihat membulat saat itu.

“Aku setuju.”, celetuk Chanyeol.

“Aku juga.”, sahut Suho.

“Ba..baiklah. aku juga setuju.”, sambut Kyungsoo yang sempat terlihat ragu. Akhirnya mau tidak mau Jaejae pun mengangguk.

Botol pun diputar. Putarannya tidak terlalu kencang, namun cukup membuat mereka gugup. Putaran semakin melemah dan akhirnya berhenti di hadapan Kyungsoo. Semua pasang mata pun tertuju padanya.

“Aku yang memberi pertanyaan.”, celetuk Jaejae. “Tapi sebelumnya, kau pilih apa? Truth or Dare?”, lanjut Jaejae.

Kyungsoo terlihat berpikir sebentar, dan akhirnya mulutnya membuka “TRUTH!! Aku pilih itu!”.

“Baiklah, aku ingin tanya, peristiwa apa yang membuatmu sangat sedih?”, tanya Jaejae dengan wajah polos. Mendengar pertanyaan itu Suho dan Chanyeol langsung mengeluh. Di sisi lain, Kyungsoo memasang tampang lega dan tersenyum senang.

“Ya! Kenapa kau tanya hal yang tidak penting begitu, Jaejae? Kukira kau akan bertanya tentang mantan pacarnya atau apa? Huh!”, celetuk Chanyeol dengan muka kesal.

“Heung? Memangnya aku salah berkata seperti itu? Kukira namja tidak akan menceritakan kapan dan mengapa mereka menangis karena sedih. Jadi kutanyakan itu padanya.”, jawab Jaejae innocent. Suho dan Chanyeol yang gemas dengan Jaejae pun mencubit pipi Jaejae.

“Aww!!Appooo!!”, jerit Jaejae. Kedua pipinya memerah karena bekas cubitan kedua namja tadi.

“Sudahlah, pertanyaan sudah dilayangkan dan aku akan menjawab. Ini pertama kalinya aku bercerita pada orang lain. Aku memang pernah merasa sedih, sangat sedih, dan membuatku sangat terluka. Namun ini bukan karena yeoja atau masa training yang sangat berat.”, jawab Kyungsoo dengan wajah serius. Ketiga orang di hadapannya kini berkonsentrasi dengan apa yang akan dikatakan Kyungsoo lebih lanjut.

“Saat itu kami sedang mengadakan showcase di China. Dan saat showcase itu aku sangat merasa sedih. Saat itu Kai terluka di pinggangnya, sehingga dia tidak bisa menari di depan. Entah mengapa, aku merasa sangat sedih dan seperti merasakan kesakitan Kai. Dari wajahnya terlihat dia menahan rasa sakitya demi tampil.”, ucap Kyungsoo bersungguh-sungguh. Wajahnya pun seakan menerawang mengingat kejadian waktu itu. Suho dan Chanyeol terdiam.

“Benar sekali. Aku pun merasa sangat khawatir waktu itu. Aku sebagai leader merasa sangat sedih dengan keadaan Kai. Dia sudah kuanggap dongsaengku. Saat itu seakan-akan aku ingin menggantikan rasa sakitnya.”, tambah Suho tiba-tiba.

“Aku bisa membayangkan bagaimana kalutnya perasaan kalian waktu itu. Aku turut bersedih.”, kata Jaejae dengan wajah sedih.

“Sudah, kita kan sedang bermain. Kita tidak boleh bersedih. Ayo kita lanjutkan lagi. Kyungsoo, putar botolnya.”, celetuk Chanyeol menengahi. Kyungsoo pun segera meraih botol itu dan memutarnya. Botol itu pun berhenti tepat di hadapan Jaejae.

“Aku yang ingin bertanya.”, kata Suho. “Pilih truth or dare?”

“Bisakah aku memilih setelah kau memberikan pertanyaan? Kumohon.”, jawab Jaejae dengan wajah memohon. Ketiga namja itu berpikir, dan akhirnya membolehkannya.

“Baiklah, selama ini kau selalu bercerita mengenai oppamu yang bernama Jonghyun. Sebenarnya Jonghyun itu member SHINee atau bukan?”, tanya Suho serius.

“Ige bwoya???? Benar-benar membuatku stress!! Kenapa dari tadi pertanyaannya hanya enteng begitu?”, tanya Chanyeol berteriak sambil mengacak-acak rambutnya.

“Sudahlah, ini kan pertanyaan dari Suho hyung. Kita terima saja.”, kata Kyungsoo menghibur. Chanyeol masih terlihat stres. Di satu sisi, Jaejae menampakkan raut muka bingung.

“Jadi, kau mau memilih apa? Truth or dare?”, tanya Suho. Jaejae masih menimang-nimang jawabannya. Ketiga orang yang lain menanti pilihan jawaban Jaejae.

Dare”, akhirnya Jaejae membuka suara yang disambut dengan ekspresi kaget dan heran dari ketiga namja di hadapannya. “Ya, Dare. Aku memilih Dare.”, jawab Jaejae meyakinkan jawabannya. Ketiga namja itu heran dan saling berpandangan seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Jaejae.

Jaejae POV

Kalut. Bingung. Apa yang harus kulakukan? Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalaku. Kulihat kalender. Masih tanggal 10 Januari. Empat hari lagi. Ya, empat hari lagi ulang tahun Kai. Dan aku dibuat sangat pusing karenanya.

Empat hari yang sangat ditunggu-tunggu semua orang. Semua fans Kai tentunya. Dan juga ditunggu-tunggu oleh para member EXO. Tapi hari itu terasa gelap di mataku. Eottokae?eottokaji?

Still Jaejae POV

14 Januari, peringatan ulang tahun Kai…

Kami semua sudah berdandan. Para member EXO K memakai kaos dan baju yang casual, mengingat hari ini acara yang santai. Hari ini tepat ulang tahun Kai yang ke-21 untuk usia Korea. Dua hari sebelumnya Kyungsoo berulangtahun juga, dan sekarang usianya 22 tahun (umur Korea). Perayaan ulang tahun mereka berdua digabung hari ini karena permintaan dari manajer. Mungkin agar lebih menghemat waktu dan tenaga.

Para yeoja berkumpul dan bergabung dengan para fans EXO K yang sudah berdatangan. kami mengambil tempat duduk paling depan, karena sudah diatur oleh para staff. Pikiranku masih kalut. Dan sekarang semakin bingung. Aku bahkan tidak berkonsentrasi pada acara itu. Yang kutahu para member berbincang-bincang dengan fans, dan fans berteriak. Acara pemotongan kue, dan lain sebagainya. Sesaat mataku tertuju pada sosok Suho oppa dan Chanyeol.

Saat aku menatap kedua orang itu, tiba-tiba saja mata kami bertemu. Chanyeol tersenyum nakal padaku dan seolah-olah mengataan padaku “Ingat janjimu”. Hah! Kata-kata itu mengingatkanku pada kejadian seminggu yang lalu.

 

Flashback…

Dare”, kataku memberi keputusan. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu sehingga aku memilih dare. Kulihat mereka semua kaget dengan pilihanku, sehingga memaksaku untuk mengulangi perkataanku. “Dare!”

            “Apa kau yakin, Jaejae? Hanya untuk pertanyaan semacam itu kau memilih Dare?”, tanya Suho oppa meyakinkanku. Aku mengangguk menyakinkannya. “Mungkin bagi kalian pertanyaan itu sangat mudah dijawab, tapi bagiku tidak.”, batinku.

            “Baiklah, aku yang putuskan hukumannya. Sesuai perjanjian kita tadi, hukumannya adalah mencium seseorang yang ditunjuk. Dan aku putuskan kau harus mencium Kai tepat saat ulang tahunnya nanti yang ke-21.”, Chanyeol pun mulai menengahi.

            Aku langsung terlonjak kaget. “Ya! Kenapa begitu? T..ti..tidak bisakah hukuman itu diganti saja?”. Saat itu kurasakan hukuman itu sangat keterlaluan.

            Chanyeol menggeleng. “Aniya. Kau harus mencium Kai. Dan bukan di pipi, tapi di bibir. Dan itu harus kau lakukan saat perayaan ulang tahun Kai.”

            “Tapi jika Jaejae noona melakukannya di depan para fans bukankah nanti akan menimbulkan keributan? Lebih baik saat kita merayakan di dorm saja. Jadi hanya kita yang tahu.”,  Kyungsoo menambahi. Dan itu semakin membuatku frustrasi.

            “Dan satu lagi, jangan sampai Kai tahu dengan perjanjian kita ini. Itu akan menjadi kejutan baginya.”, tambah Chanyeol sambil mengeluakan senyum evilnya.

            “Ok!Ok! Baiklah! Aku terima!”, putusku akhirnya. Saat itu pikiranku buntu. “Awas nanti suatu saat aku akan membalas kalian!”, lanjutku mengancam. Kyungsoo dan Chanyeol tertawa, lalu melakukan toss. Suho oppa kulihat dia hanya tersenyum, namun wajahnya terlihat aneh.

 

End of flashback…

Entah tatapan Chanyeol itu membuatku sangat kesal. Sehingga tanpa sadar aku merobek-robek kertas yang ada di hadapanku. Hal itu membuat orang-orang menatapku aneh. Tersadar, aku pun menghentikan aktivitasku. Kai yang juga menatapku malah semakin membuatku menjadi risih. Ah! Eottokae??

Suho POV

Tepat pukul tujuh malah kami semua berkumpul. Kami merayakan ulang tahun Kai hanya bersama para member dan keenam yeoja. Tetapi dari tadi kulihat Jaejae belum turun. Kami mulai berbincang-bincang sambil menanti Jaejae turun dan berkumpul. Sesaat kemudian Jaejae pun turun dengan sebuah kotak kecil berwarna coklat di tangannya. Wajahnya tampak pucat, ditambah lagi dengan lingkaran hitam di kedua matanya. Nampak ia sangat kelelahan.

Kami saling bercanda selama acara itu. Namun Jaejae hanya melamun dan sibuk pada pikirannya sendiri. Mungkin dia terbebani oleh janjinya seminggu yang lalu. Padahal sebenarnya hal itu sudah tidak aku permasalahkan. Malahan aku tidak ingin mengungkitnya.

Tibalah saat kami mengucapkan selamat ulang tahun pada Kai dan memberikan kado padanya satu persatu. Tibalah giliran Jaejae terakhir. Dia mendekat pada Kai ragu-ragu, namun sejurus berkata, “Bisakah kau tutup matamu sebentar?”. Kutatap Chanyeol yang tersenyum nyengir.

 

Jaejae POV

Ah, jinjja! Badanku terasa sangat lemas. Aku bahkan tak bisa berpikir apapun. Mungkin ini efek aku tidak makan sejak pagi tadi. Bukan karena diet, tapi memang aku tak doyan makan gara-gara memikirkan janjiku pada Chanyeol, Kyungsoo dan Suho. Dan akhirnya giliranku pun tiba. Giliranku mengucapkan selamat pada Kai, dan tentunya giliranku untuk melaksanakan janjiku.

Aku melangkahkan kakiku pelan. Sepertinya terasa sangat berat. Tenang, tenang.kau pasti bisa. Ujarku dalam hati, menghibur diriku sendiri. Sesaat kemudian aku sudah berdiri di hadapan Kai.

“Chukkahae Kaiah. Eung..aku ingin memberikan kado untukmu, namun, bisakah kau tutup matamu sebentar?”, kataku pada Kai pada akhirnya. Sebenarnya aku meminta Kai untuk menutup mata bukan karena aku ingin memberikan surprise padanay, namun karena aku tak sanggup menatap mata Kai yang begitu dalam. Entah akhir-akhir ini aku merasa mata Kai terlalu berbahaya untukku. Selalu bisa membuat hatiku mencelos saat matanya bertemu dengan mataku.

Kai pun mengangguk dan menutup kedua matanya. Perlahan namun pasti wajahku kudekatkan ke wajahnya untuk menyelesaikan misiku. Aku bahkan tak berani bernafas agar Kai tidak tahu. Kujingkatkan kedua kakiku agar wajahku bisa sejajar dengan wajahnya. Jantungku semakin tak karuan bekerja. Rasanya seperti ingin copot dan keluar dari tulang rusukku. Kututup juga mataku pada akhirnya. Perutku mulai sakit. Kepalaku juga terasa sangat berat. Semakin kucoba mendekatkan wajahku ke wajahnya. Gelap. Sedetik kemudian, kudengar teriakan dari orang-orang di sekitarku.

Kai POV

Kami semua berkumpul di kamarku. Kejadian tadi berlangsung sangat cepat, aku tidak begitu mengetahui persisnya. Mula-mula noona memintaku menutup mata, namun beberapa saat kemudian orang-orang menjerit karena noona pingsan tepat di hadapanku. Entah apa yang terjadi, namun segera saja kugendong tubuhnya ke kamarku. Sementara Kyungsoo hyung membuatkan bubur untuk noona,. Baekhyun hyung membuatkan teh ginseng hangat untuknya.

Suho hyung mengoleskan minyak ke hidung noona agar segera sadar. Kami semua masih merasa panik dengan pingsannya noona secara tiba-tiba. Beberapa saat kemudian noona pun sadar dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Wajahnya pucat. Dia pun meringis sambil memegangi perutnya. Dengan sigap Baekhyun hyung menyodorkan secangkir teh kepada Suho hyung, yang segera dimunumkan pada noona.

“Kau tidak apa-apa Jaejae? Kenapa kau bisa pingsan begitu?”, tanya Suho hyung khawatir dengan keadaan noona.

“Gwenchana oppa. Mungkin ini karena aku belum makan sejak pagi tadi.”, jawab noona lemah.

“Sejak pagi? Sepertinya aku tidak melihatmu makan sejak kemarin sore noona.”, jawabku dengan nada khawatir.

“Kenapa kau tidak makan sejak kemarin Jaejae? Jaga kesehatanmu.”, kata Suho hyung lagi, yang dibalas dengan anggukan lemah noona.

“Kau harus makan ini. Perutmu harus diisi.ini bubur buatan Kyungsoo. Ayo makan.”, kata Suho hyung setelah menerima semangkuk bubur buatan Kyungsoo hyung. Entah karena insting leadernya, Suho hyung mulai menyuapi noona sendok demi sendok. Noona pun memakannya dengan lemah. Kami semua terpaku. Begitu juga aku.

“Noona, katakan padaku, sebenarnya apa yang kau pikirkan sehingga kau tidak mau makan dari kemarin?”, tanyaku pada noona. Semua orang telah pergi untuk membiarkan noona beristirahat. Aku menatap noona sebentar sambil menutup jendela kamar. Kulihat noona masih terdiam dan menunduk.

“Katakan saja padaku. Sebenranya apa masalahmu?”, tanyaku mendekat ke tempat tidurnya. Aku pun duduk di sampingnya, selimutnya pun kunaikkan sampai menutupi pundaknya. Kutatap dia serius. Dia pun berpikir agak lama, kemudian mulai membuka suara.

“Sebenarnya..seminggu lalu aku kalah bermain dengan Chanyeol, Suho dan Kyungsoo. Aku mendapat hukuman karena itu.”, jawabnya dengan wajah tertunduk.

“Lalu apa hukumannya?”, tanyaku lagi.

“A..A..aku harus menciummu di saat ulang tahunmu. Dan itu membuatku sangat stres tiap kali memikirkannya.”, jawabnya sambil mendengus kesal.

“O,,jadi begitu.”, aku menggumam, lalu terkekeh kecil.

“Kenapa kau tertawa begitu?”, tanyanya semakin kesal.

“Eung, aniya. Sudahlah, kau harus segera tidur. Kau masih sakit.”, jawabku tiba-tiba. Pandanganku mulai tertuju pada puluhan kado dari fans-fansku tadi. Aku pun duduk di tepian tempat tidurku dan membuka kado-kado itu satu persatu.

“Kai..jangan sampai Chanyeol tahu aku sudah mengatakannya padamu. Kau mau berjanji?”, tiba-tiba dia bertanya.

“Hmm? Jadi selama ini aku sebagai permainan?”, jawabku tanpa memandangnya.

“Ani. Ani. Aku minta maaf. Ini semua salahku. Kau benci saja padaku. Tapi kumohon jangan sampai Chanyeol tahu.”, katanya memohon.

“Waah,,topi ini benar-benar bagus. Kau tadi sepertinya membawa kado untukku ya noona?”, tanyaku mengalihkan. Noona hanya mendengus dan menunjuk ke arah meja, disitu terdapat dua kotak kecil. Satu berwarna biru muda, satu berwarna coklat.

“Ambil saja yang biru. Itu hadiah dari temanku, Junhae yang sangat menyukaimu. Jangan kau ambil yang berwarna coklat itu.”, jawabnya sambil menunjuk kotak kecil berwarna biru.

Kuambil kotak berwarna biru, kubaca suratnya, dari Park Junhae. Isi kado itu adalah boneka kecil. Kai kecil. Segera kuraih kotak kecil berwarna coklat yang dilarang disentuh oleh noona.

“Ya!!! Kenapa kau ambil?”, noona mulai protes.

“Wae? Di sini tertulis untuk Kai. Jadi aku berhak membukanya.”, jawabku mencibir. Noona ingin merebutnya, namun sepertinya ia terlalu lemah untuk bangkit. Akhirnya dia pun pasrah.

Kubuka kotak kecil itu. Sebuah sapu tangan berwanra biru muda dengan sulaman nama asliku di sudut sapu tangan, yang disulam dengan huruf hangul. Sederhana, namun manis.

“Kenapa kau memberiku ini noona?”, tanyaku pada noona yang masih cemberut. Wajahnya merah padam.

“Kubilang jangan kau buka. Aku malu.”, katanya.

“Wae? Ini bagus. Kenapa kau memberiku ini?”

“Itu..karena..Junhae dulu pernah menonton video tentang kau yang selalu kesulitan saat mengelap keringatmu setelah tampil. Jadi kuberikan itu agar kau bisa menyeka keringatmu dengan sapu tangan itu. Dan mengenai hadiah itu, aku malu karena fans-fansmu memberikan hadiah yang sangat bagus. Sedangkan aku, tidak.”, jawabnya sedikit menyesal. Aku tersenyum kecil.

“Aku bisa membantumu untuk menyelesaikan misimu dengan Chanyeol hyung. Jaejae noona kaget.

“Mwo? Apa maksudmu? Bagaimana kau membantuku?”, tanyanya tertarik.

“Ne. Aku akan membantumu. Tapi dengan satu syarat.”, jawabku sambil menarik selimut untuk bersiap tidur.

“A..apa? Apa syaratnya?”, tanya noona tertarik. Dari nada bicaranya mungkin dia sudah bangkit duduk dari tidurnya.

“Masih kupikirkan. Yang penting kau berjanji saja. Nanti akan kuberitahu. Sekarang cepatlah tidur. Selamat malam.”, kataku menutup pembicaraan. Mataku mulai kupejamkan. Dan noona mendengus kesal kembali.

 

-TBC-

Gimana chingu? Penasaran selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya *bow with Kai* ditunggu koomennya😀

 

One thought on “[FREELANCE] JONGJAE (Chapter 3) a Little Mission

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s