[FREELANCE] Caffeine

Caffeine

Caffeine

Cast : Kris (Exo-M) and OC || Support Cast : Find by yourself ! || Genre : Angst, Romance || Length : Vignette || Rating : G

Ghivorhythm’s special present

= C.A.F.F.E.I.N.E =

 

Karena kau seperti kafein.

 

Membuatku kecanduan.

 

Membuatku terjaga hanya karena dirimu.

 

Karena memikirkanmu.

 

Cause you’re like caffeine

= C.A.F.F.E.I.N.E =

Kris. Namja bertato yang hampir menyelesaikan kuliahnya. Baju ala rocker, rambut yang diberi highlight merah, piercing di telinga, hingga kecanduannya terhadap kafein. Itulah Kris. Seorang playboy yang telah berhenti. Berhenti karena menemukan kafein. Hal yang membuatnya kecanduan. Kafein bernama Ling Zhi.

.

.

.

.

.

“Tao, bisakah kau bangunkan Kris ??” pinta Luhan yang sedang memasukan buku ke dalam tasnya. Suaranya terdengar samar karena masih ada roti di dalam mulutnya.

Tao pun beranjak menuju kamarnya dan Kris, maknae penurut.

“Luhan, percuma saja kau meminta Tao untuk membangunkan Kris.” Kata Xiumin sambil membawa sepiring telur yang baru saja dibuatkan Lay. Ia kemudian duduk di meja yang sama dengan Luhan.

“oh, sudahlah. Yang penting Kris bangun.”

“kalau mau Kris-gege bangun, seharusnya kau telpon Ling Zhi.” sambung Chen yang baru saja keluar dari kamar mandi (apa pembicaraan mereka terdengar sampai kamar mandi ?).

“aku tak mau merepotkan gadis manis itu, Chen.” Oh, ayolah.. apa Luhan masih menyukai Ling Zhi ? ini gawat.

Pandangan Xiumin dan Chen beralih, membuat Luhan mengikuti arah bola mata mereka yang ternyata tertuju pada Tao. “dia tidak mau bangun, gege.” lapornya. Sudah kuduga Luhan, usaha mu sia-sia saja.

“selamat pagi..?” suara lembut yang tak asing lagi memecah atmosfer apartemen kecil yang sering mereka sebut dengan dorm itu. Tentu saja semua mata kini tertuju pada si pemilik suara yang berjalan menghampiri mereka. “apa aku mengganggu ?”

Semua menggeleng. Oh, ini bagaikan sebuah keajaiban bagi Luhan ! ia tak perlu bersusah payah membangunkan Kris lagi !

“oh, Ling Zhi ?” Itu Lay. Dia menyembulkan kepalanya dari mini bar.

Luhan segera menarik tangan Ling Zhi, menggenggamnya dengan erat. “oh, untunglah kau datang !”

“memangnya ada apa ?”

“tolong bangunkan Kris..” mata Luhan benar-benar berbinar dan itu membuat Ling Zhi tersenyum lucu akan tingkahnya.

“hei, Xi Luhan ! lepaskan tangannya !” seru Kris yang berdiri di ambang pintu kamarnya, secepat itukah dia bangun ? sepertinya Kris memiliki semacam ‘alat pendeteksi Ling Zhi’.

Luhan segera melepaskan genggamannya, tentu ia tak mau badannya remuk karena menjadi korban aksi kecemburuan Kris. Kris kemudian berjalan menghampiri mereka dengan mata yang agak menyipit akibat perbedaan intensitas cahaya di kamarnya dan ruang tengah.

“kenapa baru bangun ? ini sudah siang, Kris !” omel Ling Zhi pada Kris. Sepertinya Kris tidak merasa terbebani, dia malah mengacak-acak rambut Ling Zhi dengan gemas.

“hei ! sulit untuk merapikannya lagi tahu !” protesnya. Kris hanya tersenyum sedang Ling Zhi berusaha menata rambutnya seperti semula.

“Kris, kau tidak pergi ke kampus ? ini sudah siang, lho.” Kata Lay mengingatkan. Ya, lelaki itu baru saja bergabung dengan mereka di ruang tengah setelah memasak beberapa telur dadar untuk sarapan mereka semua.

“sebentar lagi aku akan lulus, hanya menunggu wisuda saja. Untuk apa ke kampus ?”

Lalu untuk apa kau meminta Luhan membangunkanmu, Kris ??

“bagaimana dengan kuliah mu, Zhi ?” Ling Zhi segera mengalihkan pandangannya pada si pemilik suara, Lay.

“sejauh ini, semua berjalan dengan lancar kok.” Jawabnya, riang. Ya, gadis manis itu memang ramah pada siapa pun.

Sepertinya  Kris tidak suka ketika teman-temannya bertanya ini itu pada Ling Zhi, atau lebih tepatnya mengganggu waktunya dengan Ling Zhi, “hei, apa kalian tidak pergi ke kampus ? kau juga Xiumin, apa tidak pergi ke toko bapao mu ?”

“hari ini toko tutup..” sahut Xiumin seraya melahap telur dadarnya.

“aku sih tidak ada jadwal kuliah..” sambung Chen, enteng.

Luhan pun bangkit dari kursi, membuat suara decitan kecil. “baiklah aku akan pergi. Karena aku mengerti dirimu, Kris !” katanya sambil mengerdipkan sebelah mata. “Ling Zhi, aku duluan ya ? hati-hati dengan Kris.”

Sebenarnya Kris ingin melayangkan tinjunya pada Luhan, enak saja dia memperingatkan Ling Zhi untuk berhati-hati padaku, tapi dia sudah keburu pergi. Lalu, bagaimana dengan yang lain ?? oh, ayolah apa mereka tidak mengerti maksud Kris dan Luhan ?

“sepertinya aku harus pergi..” kata Chen sambil memastikan jam. Ia kemudian pergi dengan terburu-buru.

“aku juga..” sambung Xiumin dan Tao.

“Kris, jangan lupa makan sarapanmu !” tambah Lay, lalu mengikuti Chen, Xiumin dan Tao yang sudah terlebih dahulu meninggalkan dorm.

Oke, sekarang hanya ada Kris dan Ling Zhi.

Hanya mereka berdua.

.

.

.

.

Makan jajanan di pinggir jalan, jalan-jalan di tengah keramaian, hingga mengobrolkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Itulah yang dilakukan Kris dan Ling Zhi saat ini. Menghabiskan waktu mereka bersama-sama.

“hari ini sangat menyenangkan, Kris.” Kata Ling Zhi dengan senyum mengembang diakhir kalimat. Hei, Kris ! pipimu  memerah !

“ya, hari ini memang sangat menyenangkan.” Kris menggenggam erat tangan Ling Zhi, sepertinya ia tak ingin kehilangan gadis manis itu.

“aku ingin terus seperti ini..”

“aku juga..”

Mereka terus berjalan seirama, dengan tangan yang bertautan. Membelah lautan orang yang lalu-lalang. Yang mereka pikirkan, hanyalah cinta mereka.

“lain kali aku akan membelikan mu cincin.”

“..tidak usah.”

“kau sedang merendahkan ku ? aku ini memang pria yang tak punya banyak uang. Tapi, apapun akan ku lakukan demi kekasihku tahu !”

“ya, aku tahu Kris.”

Tapi, sebuah masalah muncul di benak Kris. Alasan yang menghalangi dirinya dan Ling Zhi bersama; orang tua Ling Zhi.

“Zhi,” Kris menghentikan kakinya membuat irama langkahnya dan Ling Zhi tidak beraturan. “aku tahu orang tua mu tidak menyetujui hubungan kita.”

Ling Zhi tak bergeming, ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Maka ia hanya diam menunggu Kris melanjutkan kalimatnya.

“aku hanyalah seorang pria miskin yang ingin hidup bahagia bersamamu. Aku hanyalah seorang pria yang bahkan tak tahu apa masa depanku cerah atau tidak. Tapi,” Kris berhenti sejenak seperti memberi jeda untuknya bernapas, membiarkan oksigen masuk memenuhi paru-parunya.

“demi dirimu aku akan berubah. Aku akan membuktikan pada orang tua mu kalau aku adalah pria yang pantas untukmu. Seseorang yang layak untuk menjadi pendamping hidupmu. Aku janji, Zhi.”

.

.

.

.

.

.

.

Pagi ini terasa sangat berbeda. Bagaimana tidak ? baru saja Ling Zhi mendapat telpon dari Luhan. Luhan bilang pagi ini Kris akan pergi ke Canada !

Hal itu membuat Ling Zhi panik, ia pun segera menyerbu kunci mobilnya. Keluar dari rumah mewahnya dengan tergesa-gesa dan memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi. Oh, Ling Zhi ! pikirkan keselamatanmu !

.

.

.

.

.

.

Pemandangan yang langka. Dimana Lay, Xiumin, Tao, Chen dan tentunya Luhan menitikan air mata mereka karena kepergian Kris.

“oh, ayolah ! ada apa dengan kalian ?” tanya Kris, menyemangati. Hanya sebuah ransel yang menemani perjalannya kali ini.

gege.. aku akan merindukanmu..” kata Tao ditengah isakannya. Oh, Tao bersihkan lendir yang mulai keluar dari hidungmu itu !

“maafkan aku.” Kata Chen pada akhirnya. Matanya terlihat berkaca-kaca, lengkap dengan hidung yang memerah. “aku selalu membuatmu kesal.”

“maaf, kalau masakanku tidak enak, Kris.” Oke, itu pasti Lay.

Kris tertawa kecil mendengar ucapan teman-temannya. Inikah salam perpisahan mereka ??

“aku hanya pergi ke Canada ! tak akan lama, kok.”

“itu akan memakan waktu yang lama, Kris.” kini Luhan buka mulut. Dia kemudian menyeka air matanya dengan punggung tangannya.

“makanya, doakan aku agar cepat mendapat uang banyak !”

“untuk apa uang-uang itu ? kami tak peduli jika kau tak punya Kris.” Oh, itu sedikit menyakitkan Xiumin ! “kami berjanji jika kau tidak pergi kami tidak akan meminjam uang darimu lagi Kris.”

Kris tersenyum miring. Alasan mengapa ia harus mencari uang yang banyak, menjadi orang yang sukses, menjadi orang yang berguna, semua itu karena satu hal. Hanya karena Ling Zhi.

“..ini semua demi gadis itu.”

Semua terdiam. Ini benar-benar perpisahan yang menyedihkan.

“kurasa Ling Zhi menerimamu apa adanya, Kris.” Komentar Luhan. Ia tahu benar kalau Ling Zhi sangat menyukai Kris, tak peduli Kris memiliki tato ataupun Kris hanyalah pemuda miskin. Ling Zhi mencintai Kris.

“aku tahu itu, Han.”

“lalu, apa masalahnya ?” tanya Tao masih sesunggukkan. Tampaknya Tao benar-benar tak ingin Kris pergi. Atau karena dia takut tidur sendirian di dorm ??

“..aku harus membuktikan pada orang tua Ling Zhi, kalau aku ini adalah orang yang bertanggung jawab. Orang yang pantas menjadi pendamping hidup Ling Zhi.”

“kau orang yang bertanggung jawab. Buktinya, selama ini kau lah leader kami.”

“bukan itu Tao !”

“kau serius akan menikahi Ling Zhi ?” tanya Chen. Lagi-lagi Kris tersenyum tipis.

“ya. Tapi, setelah aku berhasil menjadi orang sukses yang memiliki banyak uang. Haha.” Oh, Kris ! itu tidak lucu.

“dengar. Sekarang ini aku hanyalah pemuda yang baru lulus kuliah. Belum memiliki pekerjaan yang tetap dan masa depan yang cerah. Kalian tahu ‘kan konsekuensinya jika seseorang memutuskan untuk menikah ? ia harus menghidupi keluarganya. Lalu, kalau aku masih menjadi pemuda miskin yang tak punya uang, bagaimana caranya aku akan menghidupi Ling Zhi dan anak-anak ku kelak ?”

Darimana kau belajar merangkai kata-kata seperti itu, Kris ?? kau benar-benar membuat mereka menangis sejadi-jadinya karena kata-katamu yang seratus persen benar.

“Kris !” suara yang tak asing lagi memanggil Kris. Ya, itu Ling Zhi.

Kris tersenyum melihat Ling Zhi yang akhirnya datang menemuinya. Gadis yang ia sukai. Gadis yang ia cintai.

“apa yang kau lakukan ??!” tanya Ling Zhi langsung ke inti permasalahan. Ia masih mengatur napasnya yang sedikit terengah-engah akibat berlari.

“seperti yang kau dengar dari Luhan. Aku akan pergi ke Canada.”

“untuk apa ?? disini juga banyak pekerjaan Kris !”

“dosenku memiliki kenalan disana, dia bilang gaji disana itu cukup tinggi.”

“lalu, kalau kau punya gaji yang tinggi untuk apa ?!”

“..tentu untuk menikah denganmu.”

Kris ! kau ini pria yang pandai merayu !

“..aku tidak membutuhkan uang, Kris. Yang aku butuhkan hanya dirimu.”

Tapi, Kris tak memperdulikannya Ling Zhi. Dia memiliki harga diri yang tinggi dan tekad yang sudah bulat.

“aku tahu, Zhi. Tapi, orang tua mu tidak berkata seperti itu.”

“memangnya kau akan menikah dengan orang tua ku ?! apa peduli mereka ?!”

Kris tersenyum, lalu melayangkan tangannya membelai lembut rambut Ling Zhi.

“restu dari orang tua adalah yang terpenting, Zhi. Jangan lupakan itu.”

Oke, Ling Zhi tak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia tak tahu bagaimana caranya menghentikan Kris, pria keras kepala itu.

“cukup tunggu aku, Zhi. Dan aku akan menunjukkan pada orang tua mu kalau aku layak menjadi pendamping hidup dari pewaris tunggal White Group.”

Kris menarik kembali tangannya, bersamaan dengan jatuhnya air mata Ling Zhi. Kris lalu membetulkan letak ranselnya menjadi lebih nyaman.

“Tao, jangan takut tidur sendirian di dorm.” Pesan Kris sambil menatap Tao. “Lay, masakanmu itu enak, tapi akan lebih baik lagi jika kau menambahkan sedikit garam. Xiumin. Bekerja keraslah di toko bapao mu itu ! Lalu, Chen. Jangan buat kesal orang lain dengan celotehanmu itu ! cukup aku saja yang kau buat kesal ! dan terakhir, Luhan. Hiduplah dengan baik. Carilah seorang gadis untuk menemani hari-harimu ! tapi, jangan Ling Zhi !”

Kelima pemuda itu hanya bisa mengangguk kecil mendengar pesan perpisahan dari leader mereka.

“dan kau, Ling Zhi.” Suara Kris melembut dan tatapannya sangat hangat. “cukup tunggu aku.”

Kris mendaratkan tangannya di pipi Ling Zhi. Menyapukan jejak air mata gadis itu. “Kris, kumohon jangan pergi.” Pinta Ling Zhi, lirih. Ia memegangi tangan Kris yang masih hinggap di pipinya.

“aku tidak bisa, Zhi.”

Kris menarik tangannya. Sesaat kemudian terdengar panggilan untuk para penumpang pesawat tujuan Canada. Kris pun segera berpamitan. Mulai melangkah menuju pintu keberangkatan. Menyisakan lima teman dan kekasihnya disana.

.

.

.

.

.

Aku bilang jangan. Tapi, dia tidak mendengarkannya. Dia terus berjalan mengikuti keyakinannya. Seperti awan yang akan selalu mengikuti arah angin.

Aku hanya bisa memandang sendu kearah punggungnya yang terus menjauh, hingga akhirnya lenyap dari pandanganku.

 

Kris

 

Aku mencintaimu

= C.A.F.F.E.I.N =

Seorang pria tampan mengenakan stelan jas dan sepatu mengkilap yang indah, memakai parfum mahal, serta memiliki banyak uang, rumah dan mobil. Aku yakin, banyak wanita yang akan bertekuk lutut hanya untuk mendapatkan cintanya.

Tapi, lelaki itu sudah meninggalkan hatinya untu seorang gadis yang ia cintai. Gadis bernama Ling Zhi.

.

.

.

.

.

.

Kris benar-benar berubah. Pepatah yang mengatakan, hidup ini bagaikan roda yang akan terus berputar, memang benar adanya. Kini hidupnya tak sesulit dulu. Ia sudah memiliki rumah yang mewah serta mobil mahal yang menjadi nilai tambah.

Tak ada Kris yang senang bermain-main. Hanya ada Kris si pekerja keras yang telah menuai hasil. Tak ada tato yang terlihat, walau aku yakin masih ada tato bertuliskan nama Ling Zhi di balik kemejanya.

Kali ini mobil yang ia gunakan sedang melaju menuju sebuah rumah yang Kris yakini sebagai tempat Ling Zhi berteduh. Ia benar-benar tak sabar ingin melepas rindu dengan kekasihnya itu.

 

Bagaimana keadaan Ling Zhi ?

 

Wangi parfum seperti apa yang ia gunakan ?

 

Apakah rambutnya masih sepanjang saat terakhir kali mereka bertemu ?

 

.

.

.

.

.

.

.

Ternyata Ling Zhi masih sama seperti dulu. Rambut panjang yang tergerai indah, hingga parfum yang disukai Kris. Ia masih sama.

Tapi, ada satu hal yang membedakan Ling Zhi yang sekarang dan Ling Zhi 5 tahun yang lalu. Ada sebuah perbedaan Kris. Perbedaan yang membuatmu dan Ling Zhi tak dapat bersatu.

“aku merindukanmu..” bisik Kris tepat di telinga Ling Zhi. Tangannya yang melingkar di pinggang Ling Zhi membuatnya semakin terkejut.

“Kris ?”

Kris tersenyum penuh kemenangan. Sepertinya ia sangat senang membuat Ling Zhi terkejut. “lama tak bertemu.”

“..kau, bagaimana bisa kemari ?”

“itukah kalimat pertamamu setelah sekian lama tak bertemu denganku ?”

Kau membuat suasana menjadi canggung Kris.

“oh, baiklah. Aku baru saja pulang dari Canada. Dan aku memutuskan untuk menemui mu.”

“bagaimana kabarmu ?”

“tentu baik. Kau bisa lihat itu, kan ?”

“kau sangat berubah Kris.”

“apa aku seberbeda itu ? sepertinya iya. Tapi, ada dua hal yang tak berubah, Zhi.”

“apa ?”

“tato bertuliskan namamu disini,” Kris menunjuk kearah dada kanannya. “dan cintaku untukmu.”

Ling Zhi terdiam. Ia masih memandangi Kris lekat, hatinya begitu kacau. Hingga tak sadar air mata mulai menggenang disana.

“hei ? apa kau tidak merindukanku ?” tanya Kris. Ia tampak khawatir karena respon Ling Zhi yang seperti itu. Apa ada yang salah ?

“bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu, Kris ?”

“kalau begitu peluklah aku.” Kris membentangkan tangannya, bersiap menyambut Ling Zhi dalam pelukannya.

Tapi.. sudah tidak bisa Kris.

 

“aku pulang..” terdengar suara seorang pria menggema di seluruh ruangan. Kini pria yang menggendong seorang gadis kecil itu berdiri tak jauh dari Kris dan Ling Zhi.

“ada tamu ?” katanya sambil menatap Ling Zhi. Gadis kecil yang baru saja turun dari gendongan pria yang bisa diprediksi adalah ayahnya itu segera berlari menyerbu Ling Zhi.

“ibu, aku lapar.” rengek gadis kecil itu sambil memeluk kaki Ling Zhi.

Ling Zhi berjongkok dihadapan gadis kecil itu, “tunggu sebentar, ya ? ibu akan membuatkan makanan untukmu. Tapi, sebelum itu ganti baju dulu, ya ?”

“iya.”

“kau bisa ‘kan ganti baju sendiri ? ibu harus bicara dulu dengan paman ini.”

Gadis kecil itu mengangguk. “paman, aku ke kamar dulu, ya ? permisi.” Katanya sembari membungkuk di hadapan Kris. Sesaat kemudian gadis kecil itu sudah lenyap dari pandangan Kris.

Ini merupakan pukulan yang sangat keras untuk Kris. Hatinya benar-benar kacau. Dadanya terasa sesak dan kakinya terasa lemas. Peruangannya selama 5 tahun ini ternyata sia-sia.

“seorang suami dan anak ?” kata Kris dengan pandangan kosong. Ling Zhi tak dapat berkata apapun, air matanya juga tak dapat terbendung lagi.

“kenapa ? kenapa kau tidak menungguku ?!”

Isakan Ling Zhi mulai terdengar. Ini benar-benar kacau.

“hei ! jangan berteriak pada istriku !”

“Chanyeol-ah !” suara Ling Zhi seperti mengisyaratkan agar suaminya, Park Chanyeol, tidak mencampuri urusan mereka.

“katakan padaku. Katakan padaku. Sekalipun itu kenyataan yang pahit, aku ingin mendengarnya langsung darimu.”

Ling Zhi terus menangis. Kedua tangannya tertaut dan terlihat gemetar.

“kau sudah menikah ?”

Ling Zhi mengangguk.

“dia suamimu ?”

Sekali lagi Ling Zhi mengangguk.

“dan.. gadis kecil itu. Dia anakmu ?”

Ling Zhi mengangguk pasti sebagai jawaban dari pertanyaan Kris, walau matanya sembap dan pipinya terbasahi air mata.

Kris hanya bisa berdengus kecil. Hatinya hancur seketika.

“apa tak ada yang ingin kau katakan ?” tanya Kris, datar. Sepertinya ia menginginkan sebuah alasan mengapa Ling Zhi tidak menunggunya.

Dan, Ling Zhi menggeleng pelan.

“kalau aku ada,”

“gadis kecil itu. Anakmu. Dia cantik sekali. Mirip seperti kau.”

Kris pun membalikan tubuhnya, melangkahkan kakinya keluar dari rumah yang sejak 4 tahun lalu ditinggali Ling Zhi.

Tangisan Ling Zhi semakin menjadi. Ia tak dapat menahan isak tangisnya lagi. Hatinya juga hancur, seperti hati Kris yang hancur. Tapi, ia tak dapat mengatakan apapun pada Kris. Karena jujur saja, sampai saat ini Ling Zhi masih menunggu Kris.

Lalu, mengapa Ling Zhi tak memberi Kris penjelasan mengapa ia menikahi seorang pria bernama Park Chanyeol ?

Hanya karena ingin Kris tak semakin terjatuh.

Hanya karena ingin Kris tetap bertahan.

Hanya karena ingin Kris membencinya dan menemukan wanita lain untuk menemani harinya.

Ling Zhi meminta Kris agar ia tak pergi. Tapi, Kris tidak memperdulikannya. Ia tetap pergi. Maka, tak ada Kris yang akan memperjuangkan Ling Zhi disaat ia akan dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria bernama Park Chanyeol.

Tak ada Kris saat itu.

Tak ada.

.

.

.

.

.

.

.

.

“kau tahu ? kau seperti kafein bagiku.”

 

 

“apa ? kenapa kafein ?”

 

 

“karena kau membuatku kecanduan..”

 

 

“tapi, aku tidak suka kafein.”

 

 

“mengapa ?? kafein itu sangat mirip denganmu, lho.”

 

 

“jangan samakan aku dengan kafein, Kris !”

 

 

“haha, ayolah~”

 

 

.

 

.

 

.

 

 

Kau benar Kris.

 

 

Aku seperti kafein.

 

 

Membuatmu kecanduan.

 

 

Sekaligus membuatmu sakit.

 

 

= C.A.F.F.E.I.N =

It’s late, I need to sleep and I already counted all the sheep in my head

In order to fall asleep somehow, I showered again

I keep drawing your face out on the ceiling and when I close my eyes,

A book with the story our ended love opens

.

 

.

 

.

Cause you’re like caffeine, I can’t fall asleep all night

My heart keeps racing and again, I hate you

Like caffeine, I try to stay away

I try to forget about you but I can’t do it, I can’t help it

END

a/n : First of all, elap keringet dulu. Haha, akhirnya FF ini beres juga *party kembang api bareng Kris* Oke, saatnya aku curhat *check sound : one two three* Ini FF aku buat ditengah hujan gede, petir menggelegar dan gelapnya rumah aku akibat pemadaman listrik gara-gara ada petir. So, ini adalah hasil kolaborasi aku sama Rain dan Thunder *nah loh ?* yang keduaaaa, ini FF persembahan spesial aku sebelom UN ^^ ntar abis UN juga aku ngepost FF lagi, hehey. Yang ketigaaa *banyak amat ghi ???* Thank you for read my first angst story ! and I hope you’ll leave your comment. So, I can know what do you think and feel about my FF ^.^ Last, thank you very much and wish me luck on National Exam !!!! pai pai~

11 thoughts on “[FREELANCE] Caffeine

  1. ya ampun! keren banget ff nya! ga kepikir, chanyeol yg jd suaminya. kasian banget kris, dikira kris yg bakal ngelupain ling zhi, ternyata kebalik. btw ini ff nya nyambung banget sama judulnya, aku suka yg bagian akhir. ditunggu sequelnya. mangat thor!

    • Makasih ^^ inikan emang agst story O,O
      Aduh sebenernya aku ga tega bikin my precious Kris berakhir seperti itu, cuma mau gmn lagi kalo akhirnya engga gitu kan ga asik~ hehe, makasih banyak commentnya

    • Aduh author jadi malu >\\\< haha, author ga kepikiran buat sequel tapi ntar deh yah kalo ada ide author buat sequel ^^ endingnya emg kaya begitu *maklum pertama kali bikin angst*
      Makasih doa sama commentnya~ ^.^

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s