Serendipity (Chapter 1)

serendipity

Serendipity

by

ellenmchle

Main Cast : EXO-M’s Kris Wu & SNSD’s Tiffany Hwang || Support Cast : SNSD’s Jessica Jung & 2PM’s Nichkhun Buck Horvejkul || Genre : Romance & Life || Rating : PG-15 || Length : Chaptered || Disclaimer : Inspired by “Serendipity” Movie (2001) – Marc Klein || Credit Poster : pearlshafirablue

“Two people who are meant to be together will have occurences happening around them, if they look out for those signs they will be together in the end.”

“You don’t have to understand. You just have to faith.” – Tiffany
“Faith in what ?” – Kris
“Destiny..” – Tiffany

 

New York, USA – September, 18th 2008

Bloomingdale’s, salah satu department store ternama di kota New York, USA yang berlokasi di 59th Street and Lexington Avenue selalu ramai akan pengunjung setiap harinya. Terlihat dua orang pegawai Bloomingdale’s sedang bertugas menyeleksi stock pakaian, syal, sarung tangan, tas dan dompet yang akan di sale akhir bulan. Satu persatu item itu diseleksi dengan teliti sampai seorang di antara mereka menemukan sepasang sarung tangan berwarna hitam. Pegawai berambut cokelat kemerahan itu memeriksa sepasang sarung tangan yang didapatkannya dari tumpukan pakaian itu beberapa kali dan kemudian memindahkan sarung tangan tersebut ke dalam sebuah keranjang berwarna putih yang menandakan sarung tangan itu belum layak untuk di sale atau dengan kata lain dianggap masih mempunyai nilai jual yang tinggi.

Tidak ada yang meyangka bukan sepasang sarung tangan berwarna hitam yang hampir di sale itu dapat mengukir banyak cerita di dalamnya ?

 

 

New York, USA – December, 24th 2010

 

Salju turun menghiasi indahnya malam natal di kota metropolitan itu, sekelompok orang dewasa terlihat sedang berbincang sambil sesekali meneguk caffè latte di salah satu coffee shop ternama, ada yang menyusuri sepanjang jalanan kota bernama New York itu dengan tangan yang saling bertautan demi mendapatkan sedikit kehangatan, ada juga yang sedang dalam perjalanan menuju gereja atau bahkan sudah di gereja, berbeda dengan anak-anak yang sedang duduk manis di dalam rumah mereka masing-masing sambil menunggu hadiah natal dari keluarga mereka tapi sebenarnya yang paling anak-anak itu harapkan adalah hadirnya sosok seorang Santa Claus dengan sekawanan rusa yang membawa hadiah bagi anak-anak yang berperilaku baik selama ini, walaupun kebanyakan orang dewasa menganggap itu tidak masuk di akal tapi begitulah, anak-anak memang mempunyai dunia mereka sendiri.

Jika sebagian penduduk di kota itu sedang sibuk menyambut datangnya hari natal yang hanya tinggal beberapa jam saja lain halnya dengan gadis berambut merah bertubuh mungil yang masih betah di dalam kamar dengan earphone yang menyumbat kedua lubang telinganya. Beberapa majalah fashion tampak ikut memenuhi kasur bernuansa pink gadis itu, satu persatu majalah dibacanya dengan teliti tanpa melewatkan satu halaman pun. Tidak ada niatan sedikit pun dari gadis berambut merah itu untuk mengakhiri kegiatannya sampai kemunculan sosok seorang gadis berambut pirang dengan raut wajah yang cukup sulit diartikan berhasil membuatnya melepaskan earphone yang sudah betah di telinganya selama 3 jam itu.

“Kenapa lagi?”

“Buruk!”

“Apa? Jangan bilang kencanmu dengan laki-laki tua itu tidak membuahkan hasil lagi atau jangan-jangan..”

“Kau tahu, dia memaksaku melakukannya.”

“Bagaimana bisa? Apa kau lupa membawa pil andalanmu itu?”

“Minuman yang ku masukkan pil itu diminum oleh temannya.”

“Lalu?”

“Aku terpaksa melayaninya dan sialnya dia bukan seorang manager, bahkan dia hanya memiliki 2 lembar 10 dollar di dalam dompetnya tanpa credit card ataupun yang lainnya.”

Kedua mata gadis berambut merah itu membulat seketika, dalam hitungan detik raut wajahnya yang tadi menunjukkan ketidakpercayaan sekarang berubah menjadi menunjukkan belas kasihan.

“Ini lebih buruk dari perkiraanku. Ku rasa kau memang sedang sial akhir-akhir ini, Jane.”

Kerasnya kehidupan dunia membuat gadis berambut pirang berusia 24 tahun itu harus mau melakukan pekerjaan semacam itu demi bertahan hidup dan membiayai kebutuhannya yang terbilang tidak murah mengingat mereka tinggal di kota seperti New York.

“Kau bisa memakai uangku dulu.”

“Tidak, Fany. Kau tahu aku bahkan belum bisa mengembalikan setengah dari jumlah uang yang ku pinjam darimu bulan lalu.”

“Hey, Ayola.. Jane. Kau tahu aku tidak pernah mempermasalahkan itu.”

“Dan itu bukan berarti aku harus pura-pura melupakannya kan? Sudahlah Fany, aku tidak ingin hutangku semakin membengkak dan terima kasih atas tawarannya.”

“Hey, Jane. Lihat ini!”

Gadis berambut merah bernama lengkap Tiffany Hwang itu meraih Ipadnya dan mengecek inbox emailnya. Matanya berkaca-kaca setelah membaca isi email dari sebuah department store.

 

YEAR END SALE

UP TO 70% OFF

ON GREAT SELECTIONS

DECEMBER 22 – 31

Bloomingdale’s

“Sepertinya aku akan sangat menyesal jika melewatkan malam ini hanya di dalam kamar berduaan denganmu.”

“Kau memang selalu menyesal jika melewatkan hal-hal seperti ini.”

Keduanya saling tersenyum satu sama lain dan dalam hitungan detik mereka pun beranjak dari kasur yang dibiarkan berantakan dengan majalah, gadget dan beberapa bungkus snack yang menghiasinya. Membuka lemari pakaian adalah hal pertama yang dilakukan Tiffany, sementara dirinya sibuk mempadupadankan pakaian yang akan dipakai dengan accessories yang mayoritas berwarna pink, Jane sahabat satu-satunya yang ia miliki di New York itu memilih membersihkan dirinya terlebih dahulu.

“Cepatlah Jane, kita tidak punya banyak waktu.”

“Kau tunggu saja di bawah, aku akan segera menyusul.”

“15 menit, jika kau terlambat sedetik saja aku tidak segan-segan meninggalkanmu.”

“Aku hampir berniat meninggalkanmu, kau tahu!”

“Kau sudah mengatakan kalimat itu untuk yang keseribu kalinya dan aku belum pernah melihatmu melakukannya sampai saat ini. Haha. Aku tahu kau tidak akan tega, Nona Hwang.”

“Tutup mulutmu sebelum ku tendang kau keluar dari mobilku!”

“Ku rasa lebih baik kau jalankan mobilmu sekarang sebelum Bloomingdale’s tutup!”

sial’ rutuk Tiffany dalam hati, dia selalu saja kalah debat dengan teman seperjuangannya itu. Entah sudah takdir atau apa, tapi begitulah kenyataannya. Tiffany sepertinya masih terlalu polos untuk hal-hal seperti itu.

Bloomingdale’s mana yang akan kita datangi?”

“Aku rasa 59th Street lebih dekat, kita tidak punya banyak waktu lagi.”

“Ya..”

“Apa kau punya ide untuk kado natal kali ini?”

“Untuk Khun lagi?”

“Tentu saja bodoh! Memangnya kau kira aku punya berapa kekasih?”

“Aku kira kau punya simpanan di New York.”

“Tutup mulutmu, Jane!”

“Haha, aku hanya bercanda bodoh! Tapi aku salut pada kalian, LDR selama 2 tahun tanpa punya selingkuhan..hmm, aku rasa bukanlah hal yang mudah bagi pasangan jaman sekarang.”

“Jadi maksudmu aku dan Khun berasal dari jaman pra-sejarah?”

“Tidak begitu juga. Hey, kenapa kau sensitif sekali hari ini? Kau sedang ‘M’?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Sampai!”

Akhirnya mobil Tiffany terparkir sempurna di parking area Bloomingdale’s. Dengan cepat Tiffany segera melepaskan sabuk pengaman, menarik kunci mobilnya dan melesat keluar.

“Fany, aku ke toilet sebentar. Kau jalan saja dulu, nanti aku menyusul.”

“Baiklah.”

Di lain tempat seorang pemuda berketurunan Chinese-Canadian sedang sibuk dengan tugasnya sebagai seorang bartender, pemuda itu sedari tadi sibuk mencampurkan koktail klasik seperti Cosmopolitan, Manhattan, Old Fashioned, dan Mojito untuk disajikan kepada tamu bar yang datang. Tampak beberapa wanita dewasa memperhatikan sosok pemuda itu dari tempat duduk mereka. Terpesona, mungkin itulah kata yang cocok untuk menggambarkan perasaan mereka saat melihat pemuda berambut pirang dengan tubuh atletis itu.

Tanpa ragu satu di antara wanita-wanita itu berjalan ke arah dimana pemuda itu masih berdiri. Bukan, bukan memesan minuman yang ingin mereka lakukan, melainkan..

“Apa nanti malam ada acara?”

“Ya, Nyonya?”

Wanita dengan mini dress bercorak leopard itu menyodorkan selembar post it note berwarna putih bertuliskan angka-angka kepada pemuda itu.

“Hubungi aku..”

Merasa pemuda itu sudah paham akan kemauannya, ia pun berjalan pergi menuju pintu keluar.

Sejenak pemuda itu terdiam membaca apa yang dituliskan oleh wanita itu, dan benar dugaannya, nomor handphone wanita itu tertulis rapi dengan tinta hitam di sana. Sedetik kemudian ia merobek post it note itu menjadi dua bagian dan membuangnya begitu saja ke dalam tong sampah tanpa ada pikiran untuk mempertimbangkan terlebih dahulu tawaran wanita itu.

“Tawaran kencan lagi?”

Rekan kerjanya yang merupakan seorang pelayan di bar itu berhasil menangkap basah apa yang dilakukan pemuda berambut pirang itu beberapa detik yang lalu.

“Menurutmu?”

“Wanita-wanita seperti mereka sepertinya tidak akan berhenti menunggumu, Kris. Apa kau tidak mau mempertimbangkan tawaran mereka?”

“Menurutmu?”

“Aku rasa jika kau menerima tawaran kencan mereka kau tidak perlu lagi susah-susah menjadi bartender, bisa jadi kau bahkan tidak perlu lagi bekerja.”

“Sudah cukup?”

“Kau tahu mereka pasti membayarmu tinggi, Kris.”

“Kalau begitu kau saja yang kencani mereka.”

Tiffany masih sibuk mengelilingi department store di mana dia berada sekarang sambil menunggu Jane yang sedari tadi belum menghubunginya. Beberapa paper bag sudah berhasil memenuhi tangan kirinya tapi ia belum berniat untuk menghentikan kegiatan berbelanjanya itu mengingat ia belum menemukan kado natal yang cocok untuk kekasihnya.

1 jam berlalu, Tiffany merasa dirinya hampir selesai mengelilingi Bloomingdale’s, sebelum melanjutkan kegiatannya ia memutuskan mengistirahatkan kedua kakinya terlebih dahulu dan segera menghubungi Jane yang entah sudah berapa lama meninggalkannya. Dan apa yang didapatkannya sebelum teleponnya tersambung dengan Jane? Ya, matanya menangkap sepasang sarung tangan berwarna hitam tergantung bersama beberapa pasang sarung tangan lainnya, entah mengapa sarung tangan berwarna hitam itu terlihat lebih istimewa dibanding yang lainnya di mata Tiffany. Kakinya tergerak untuk menuju ke arah di mana sarung tangan itu tergantung. Namun pada saat tangannya hendak meraih sarung tangan itu seseorang juga ikut menarik sebelah dari sepasang sarung tangan itu. Orang itu akhirnya berhasil mendapatkan sepasang sarung tangan itu dan kemudian mengangkat tangannya ke atas untuk menjauhkan sarung tangan tersebut dari jangkauan Tiffany.

“YA! Kembalikan padaku! Itu milikku!”, teriak Tiffany seraya mengangkat kedua tangannya dan berjinjit demi menggapai tangan seorang pemuda dengan tinggi badan mencapai 187 cm yang juga menginginkan sarung tangan yang sama.

“Kau? orang Korea?”, tanya pemuda itu tidak percaya, pemuda itu tidak menyangka bisa menemukan seorang korea di kota sebesar New York ini.

“Apa kau bodoh? Jelas-jelas aku sedang berbicara denganmu menggunakan bahasa Korea. Aish, sudahlah! Tidak penting membahas itu! Cepat kembalikan sarung tangan itu padaku!”

“Aku yang melihatnya duluan, dan ini milikku!”

“Dan aku yang menemukannya duluan, itu milikku!”

Beberapa pengunjung lainnya menatap kedua orang yang sedang berteriak satu sama lain itu dengan tatapan aneh, bagaimana tidak, mereka berteriak di tengah keramaian dengan menggunakan bahasa asing, tentu saja sangat menarik untuk dijadikan tontonan.

Merasa menjadi bahan tontonan yang memalukan Tiffany akhirnya mengalah dan berinisiatif menanyakan pegawai department store itu apakah sarung tangan yang ia maksud masih ada stock atau tidak.

“Hey, turunkan sarung tangan itu. Aku mau menanyai mereka apa masih ada stock lain atau tidak.”

“Kau ingin membodohiku?”

“Apa?”

“Kau berpura-pura mengalah sekarang tapi setelah ku serahkan sarung tangan ini padamu kau pasti akan merebutnya lalu berlari meminta bantuan security kan? Cih! Dasar perempuan!”

“APA? Bisa-bisanya kau berpikir seperti itu? Aku bahkan tidak-“

“Sudahlah tidak usah menyangkal. Aku yang akan menanyai pegawai itu.”, pemuda itu kemudian berjalan ke arah di mana pegawai Bloomingdale’s berdiri.

“Cih! Dasar laki-laki!”, balas Tiffany kemudian berjalan menyusul pemuda itu.

“Maaf, Tuan. Tapi itu adalah stock terakhir kami.”

“Apa anda sudah mengeceknya?”, tanya Tiffany kecewa.

“Stock yang ada sudah kami pajang semua, Nona. Jadi jika tinggal 1pc berarti itulah stock terakhir kami. Maaf.”

“Ya! Kau sudah dengar kan? Sebaiknya kau pilih saja sarung tangan yang lain dan lupakan sarung tangan ini!”, ucap pemuda itu seraya mengambil kembali sarung tangan yang diinginkannya dari tangan pegawai itu.

“Tidak bisa! Ini tidak adil! Kita menyentuh sarung tangan itu di waktu yang bersamaan, jadi kita harus mengulanginya lagi untuk menentukan siapa yang benar-benar duluan menyentuhnya.”

“Maksudmu?”

“Gantung kembali sarung tangan itu pada tempatnya dan kita kembali ke sini, siapa yang duluan meraih sarung tangan itu dialah yang berhak mendapatkannya dan yang kalah harus merelakannya.”

“Baiklah, aku setuju!”

Pemuda itu kemudian menggantung kembali sarung tangan yang dipegangnya itu pada tempat semula dan kemudian kembali ke tempat di mana Tiffany berdiri sekarang.

“Hey, Nona. Tidakah kau merasa ini sama saja?”

“Maksudmu?

“Lihatlah kau pendek sekali..”

“YA! Jangan menghinaku! Memangnya kenapa kalau pendek? Postur tubuh sepertimu belum tentu bisa gesit dan lincah sepertiku! YA! Kau mencuri start duluan! YA!”

Tanpa mendengarkan ocehan dari Tiffany, pemuda itu berjalan dengan cepat menuju arah di mana sarung tangan itu harusnya tergantung. Ya, seorang laki-laki berusia sekitar 60 tahun terlihat sedang membawa sarung tangan yang mereka inginkan ke kasir.

“Maaf, Paman. Tapi saya sudah membelinya.”

“Apa? Bagaimana mungkin barang yang sudah dibeli masih tergantung di sini.”

“Paman, itu milik saya. Saya yang duluan menemukannya tadi.”, Tiffany ikut-ikutan mencegah laki-laki tua itu untuk membelinya.

“Kalian? Sepasang kekasih?”, tanya laki-laki tua itu.

“Oh, tidak Paman. Kami-“

“Ya, kami akan menjadi sepasang kekasih sebentar lagi. Sarung tangan itu akan saya berikan sebagai hadiah natal bagi calon kekasih saya. Jadi Paman, saya sangat butuh bantuan Paman agar saya dan gadis di sebelah saya ini bisa bersama.”, bohong pemuda itu seraya merangkul pundak Tiffany.

Tiffany yang tahu akal busuk pemuda itu pun hanya bisa pura-pura tersenyum dan ikut bersandiwara di depan laki-laki tua.

“Baiklah, aku kembalikan ini pada kalian. Semoga hubungan kalian bisa segera diperjelas. Merry Christmas.”, laki-laki tua itupun mengembalikan sarung tangan itu ke Tiffany.

Tanpa keduanya sadari ternyata jam sudah menunjukkan pukul 12.00 AM dan itu artinya Hari Natal sudah tiba. Tidak terpikirkan sama sekali oleh keduanya bisa menyambut datangnya Natal dengan situasi seperti ini, apalagi perkataan dari laki-laki tua itu seperti mendoakan mereka untuk bersama.

TBC

 

Bagi yang sudah baca daripada nanti di ending ga dapat password mendingan comment sekarang aja ^^ sekalian meminimalisir jumlah dosa kalian ._.v SILENT READERS dosanya lumayan berat lho.

21 thoughts on “Serendipity (Chapter 1)

  1. sukaaaaaaa banget udah ada chap 2 nya ga?
    Chingu, aku minta recomend ff ff krisfany yg lainnya donk, soalnya shipper bgt sama mereka🙂 makasih🙂

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s