This Is Our Story (Sequel of Iam Not Crazy!)

1-7

Author : Intaaany

Tittle : This Is Our Story (Sequel : Iam Not Crazy!)

Length : Oneshoot

Genre : Teenager, romance, fantasy, supranatural.

Rating : PG-15

Main Casts :

–          Xi Lu Han

–          Kim Hyun Ri (OC)

–          Oh Se Hoon

Other Casts :

–          Kim Hyun Ah

–          Park Chan Yeol

Disclaimer : All of this fanfiction is belong to me! The plot, the story, and the artwork are mine. All of the casts are belong to God. Luhan is belong to me.

Author’s Note :

Hello! Intaaany’s back B-) /potong tumpeng bareng Sehun/ berhubung banyak yang minta sequel dari ffku yang berjudul “Iam Not Crazy!” aku buat sequelnya :3 ini menceritakan tentang kehidupan Luhan dan Hyunri setelah Hyunri bebas dari RSJ ya:> kali ini aku tambahin jadi oneshoot biar agak panjangan hehehe. Terus aku tambahin beberapa new casts juga. Oh iya satu lagi, anggap aja kalo Hyuna ama Chanyeol lebih tua dari Luhan dan Hyunri 2tahun. Terus Sehun itu seumuran sama Luhan. Okay? Dan jangan bingung kalo tiba-tiba POVnya berubah. POVnya cuma antara Author’s sama Hyunri’s POV:> Penasaran kenapa Sehun tiba-tiba jadi main cast di sini? >…< udah baca aja! Cekidot!

Intaaany present!©

 

Check this out!

 

“I know you earlier, but why you choose him?”

 

**

“Bintangnya indah ya Luhan?” ujar Hyunri pada Luhan sambil tersenyum.

“Tentu saja, tapi bintang ini kalah indah jika dibandingkan denganmu” mendengar perkataan Luhan, Hyunri langsung menyikut lengan orang yang telah membebaskannya dari neraka kecilnya itu.

Mereka hanya tertawa. Tertawa bahagia. Hyunri selalu merasa bersyukur pada Tuhan karena telah dipertemukan dengan orang seperti Luhan. Bertemu dan bersahabat dengan Luhan adalah salah satu hal terbaik yang pernah ia miliki di dunia ini. Ia bersyukur, karena Luhanlah yang membuat kedua orang tuanya sadar bahwa sebenarnya ia memang tidak gila. Namun, ada satu hal yang selalu mengganjal hati Hyunri. Kakaknya. Satu-satunya saudara kandung yang ia miliki. Sejak kakaknya kuliah di New York, ia belum pernah bertemu dengan kakaknya sama sekali. Bahkan mungkin kakaknya tidak tahu bahwa ia pernah mendekam di Rumah Sakit Jiwa.

“Merindukannya lagi, Hyunri?” tanya Luhan membuyarkan lamunan seorang Kim Hyun Ri.

“Tentu saja, aku selalu merindukannya, Luhan” jawab Hyunri sambil menatap langit.

“Aku yakin kau akan bertemu dengannya” kata Luhan sambil merangkul bahu Hyunri.

Tanpa Luhan dan Hyunri ketahui. Sepasang mata onyx memerhatikan mereka tanpa berkedip sedetik pun. Gurat kemarahan tercetak dengan sangat-sangat jelas di raut wajahnya. Dia cemburu. Sosok itu pun kemudian menghilang di balik pohon mangga di pekarangan rumah Hyunri.

“Ini sudah malam Luhan, pulanglah” ujar Hyunri sambil melepas rangkulan sahabatnya.

“Baiklah, aku pulang dulu Hyunri-ya, sampaikan salamku pada kedua orang tuamu, bye” Luhan pun bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah gerbang rumah Hyunri. Sebelum keluar, ia melambaikan tangannya pada orang yang telah menemaninya selama ia berada di Korea Selatan ini. Hyunri pun membalas lambaian tangan Luhan. Setelah itu, barulah Luhan benar-benar meninggalkan kediaman Hyunri yang cukup megah ini.

Ketika berbalik, Hyunri melompat kaget ketika mendapati sosok lelaki berkulit putih susu, berhidung mancung, berambut coklat, serta berpostur tinggi muncul tiba-tiba di hadapannya. “Maafkan aku Hyunri-ya, kau kaget ya? Hahaha maaf aku selalu mengagetkanmu” kata lelaki itu sambil mengacak-acak rambut Hyunri. “Come on Oh Se Hoon! Tak terhitung jumlahnya kau telah membuatku hampir jantungan karena kemunculanmu yang tiba-tiba! Kau menyebalkan setelah bisa berubah menjadi manusia, Sehun” ujar Hyunri sambil mengerucutkan bibirnya. “Menyebalkan tapi tampan, bukan?” tanya lelaki yang dipanggil Sehun sambil mengerlingkan sebelah matanya, genit. “Sudahlah! Ayo masuk” kata Hyunri sambil berjalan mendahului Sehun.

•••

Inilah kebiasaanku setelah Luhan pulang dari rumahku. Aku akan menghabiskan malamku bersama Sehun. Dia bukan kekasihku. Melainkan sahabatku yang lainnya.  Sehun adalah jelmaan manusia dari angin yang sejak kecil menjadi sahabatku. Entah bagaimana prosesnya hingga Sehun bisa berubah menjadi seorang manusia tampan seperti sekarang ini, yang jelas aku menikmati perubahan
Sehun sekarang. Namun sialnya, Sehun hanya bisa berubah menjadi manusia sejak pukul 9 pm KST hingga pukul 6 am KST. Tidak lama memang. Maka dari itu aku sangat menikmati detik demi detik yang kulalui bersama Sehun. Karena aku mampu menyentuh Sehun. Sekarang ia sudah tidak maya. Ia nyata.

“Jangan memikirkanku seperti itu Nona Kim, aku tahu aku tampan” candanya.

“Cih, sombong sekali kau Tuan Oh, dibandingkan dengan aktor seperti Song Joong Ki kau tidak ada apa-apanya” ujarku meledeknya. Aku senang mengejeknya seperti ini.

“Hey, tentu saja aku dengan Joongki masih lebih tampan diriku” ujarnya tak mau kalah. Ya, ya, ya, dia adalah orang yang tingkat kepercayaan dirinya sangatlah tinggi. “Terserah kau saja” jawabku pasrah.

Sehun adalah satu-satunya tempatku berbagi segala ceritaku. Memang saat ini aku bersahabat dengan Luhan juga. Namun, aku akan tetap lebih nyaman ketika bercerita dengan Sehun.

“Harus berapa kali kubilang? Kau tidak boleh terlalu dekat dengan pria bernama Luhan itu” ia mulai membuka suaranya ketika sudah sampai di kamarku.

“Kau tidak berhak melarangku, Oh Sehun, bilang saja jika kau cemburu, iya kan?” aku senang menggodanya. Wajahnya akan memerah bak kepiting rebus. Menggelikan.

“T-tidak mungkin! Untuk apa aku cemburu padamu, huh?” benar apa kataku bukan? Semburat merah kini benar-benar nampak jelas di permukaan kulit pipi putihnya.

“Hahahaha kau ini lucu sekali, wajahmu memerah bagaikan kepiting rebus! Rupanya kau memang cemburu padaku hahahaha” sumpah demi apapun! Aku tidak bisa menahan tawaku melihat tingkahnya yang benar-benar lucu. Ia pun menggembungkan kedua pipinya. Menggemaskan. “Sudahlah Sehun, aku hanya bercanda, tolong jangan memasang tampang seperti itu, atau aku akan menertawakanmu sepanjang malam? Hm, bagaimana?”.

“Baiklah” ujarnya pasrah pada akhirnya. Aku memang tak pernah kalah darinya.

•••

“Kau tahu Hyunri? Setiap detik denganmu kulalui dengan penuh perasaan, sungguh, aku tak rela jika harus kehilangan waktu manusiaku denganmu” ujar Sehun. Hyunri menatap manik hitam yang selalu bisa membuatnya nyaman. Kemudian, Hyunri tersenyum. “Sehunnie, listen to me, aku sangat menikmati saat-saat aku bersama dengan wujud manusiamu, namun percayalah, aku selalu senang jika kau ada di sisiku meskipun dalam wujud angin” Hyunri menautkan jari-jarinya di antara jemari Sehun. Seolah mereka menyatu. Percaya atau tidak, detak jantung salah satu dari mereka berdegup lebih cepat dari biasanya. Aliran darahnya berdesir seolah tersengat arus listrik namun mampu membuatnya begitu nyaman. “Waktu manusiaku sebentar lagi habis, tidurlah” ujar Sehun pada Hyunri yang memang sejak tadi berada dalam posisi tidur dengan paha Sehun sebagai bantalannya. “Baiklah, sampai nanti malam Sehunnie” kemudian Hyunri memejamkan kedua matanya. Sedangkan Sehun hanya mengelus-elus surai hitam milik Hyunri.

**

11am KST

 

“Hey tukang tidur, ayo bangun” suara lelaki itu memaksa Hyunri untuk bangun dari dunia bawah sadarnya. “Luhan, ayolah aku masih mengantuk, lagi pula ada apa kau datang kemari pagi-pagi, huh?” jawab Hyunri yang masih bertahan dengan posisinya. Ia masih setengah sadar. “Pagi katamu? Kau lupa hari ini, hm? Ini sudah pukul sebelas, Hyunri, aku sudah menunggumu di taman sejak tadi” mendengar penuturan Luhan, Hyunri langsung membuka matanya. “Luhan maafkan aku, astaga bagaimana aku bisa lupa? Maaf Luhan, maaf” ujar Hyunri yang kini telah duduk di tepi ranjang tepat di samping Luhan. Mendengar jawaban Hyunri, Luhan hanya tersenyum. Manis sekali. “Sudahlah tidak usah dipikirkan, mandi sana, aku akan menunggu di bawah” Luhan pun bangkit dan keluar dari kamar Hyunri. Sedangkan Hyunri masih mengucek-ucek matanya.

“Mandilah tukang tidur” sebuah bisikan tepat di telinga Hyunri membuat Hyunri bergidik. “Sehunnie, keluar sana, aku ingin mandi” jawab Hyunri. “Hahaha baiklah sleeping beauty” ujar Sehun kemudian wuzz seolah angin itu pergi keluar melalui jendela kamar Hyunri.

Seusai mandi, gadis itu pun memilih-milih pakaian. Sedikit bingung dengan pakaian apa yang harus ia kenakan hari ini. Pada akhirnya, pilihannya jatuh pada T-hirt berwarna hijau muda dengan gambar kartun yang entah ia sendiri tidak tahu namanya, dan celana pendek di atas lutut berwarna hitam. Tak lupa ia menguncir satu rambutnya. Terlihat manis. Setelah memastikan bahwa make upnya tidak terlalu tebal, Hyunri pun bergegas menuruni tangga untuk menemui Luhan.

“Luhan, ayo pergi” ajak Hyunri. Luhan pun langsung menoleh ke arah Hyunri kemudian mengeluarkan angelic smile andalannya. Jangankan manusia, bidadari pun bisa lupa diri ketika melihat senyum angel milik Luhan. “Kau terlihat berbeda hari ini” puji Luhan pada Hyunri. “Hahaha berbeda apanya? Semua terlihat sama saja, Luhan” jawab Hyunri. “Menurutmu mungkin begitu, tapi menurutku kau terlihat lebih cantik dari biasanya, bukan maksudku berkata hari-hari biasa kau tidak cantik, tidak bukan itu maksudku, kau selalu nampak cantik setiap harinya, hanya saja kau terlihat berbeda, kau terlihat lebih cantik dari biasanya hehehe” ujar Luhan salah tingkah. Bagaimana bisa seorang dokter tampan seperti Luhan salah tingkah di hadapan seorang gadis yang notabenenya biasa saja seperti Hyunri?

12 pm KST

 

Kini, Luhan dan Hyunri tengah berada di sebuah café dengan pengiring musik di sana. Terkesan aneh karena ada pengiring musik siang hari seperti ini. “Kau tahu? Alasan pertamaku berada di Korea adalah karena pekerjaan yang mengharuskanku” Luhan berkata sambil mengaduk-aduk jus mangga yang sudah ia pesan sedari tadi. “Namun sepertinya aku memiliki alasan lain untuk menetap di sini” lanjut Luhan kemudian. “Apa itu? Kau serius untuk menetap di Korea? Ahh!!! Aku senang sekali mendengarnya, Luhan” Hyunri tersenyum bahagia. “Aku rasa aku telah jatuh terperosok pada pesona seorang gadis Korea, kau tahu? Ia begitu manis” ujar Luhan sambil menopang dagu dengan tangannya.

DEG!

 

Beribu tusukkan jarum menohok hati seorang Hyunri. Perih. Entah mengapa mendengar Luhan telah jatuh cinta pada seorang gadis membuat hari Hyunri merasa sakit. Apakah ia jatuh cinta pada dokter muda berwajah dan berhati malaikat itu? “S-siapa?” tanya Hyunri. Oh, sungguh Hyunri sedang berusaha untuk menormalkan pernafasannya. Tubuhnya sedikit bergetar. “You” jawab Luhan seraya menggenggam tangan Hyunri. “Biar kuperjelas, aku telah jatuh cinta padamu, Kim Hyun Ri,  would you be mine?” tanya Luhan kemudian mengecup punggung tangan Hyunri. Jika saja lelaki itu bukanlah lelaki yang Hyunri sukai, jangan harap ia bisa kembali ke rumahnya dengan wajah tampan. Setidaknya dengan beberapa tanda merah keunguan yang disebut lebam menghiasi wajahnya. “Are you joking now Xi Lu Han?” tanya Hyunri, ia masih belum sepenuhnya percaya. “See my eyes, am I lying?” Luhan menaruh kedua tangannya di kedua pipi Hyunri. Seolah memaksa Hyunri untuk menatap mata angel cokelat itu. “I would, Luhan” jawab Hyunri. Kini rona merah menghiasi paras cantik wanita itu. Tandai hari ini! 18 April 2013 sebagai hari yang bersejarah bagi Hyunri. Karena untuk pertama kalinya, ada lelaki yang menyatakan cintanya pada Hyunri.

Sementara itu, Sehun dalam wujud angin yang berada di sebelah Hyunri menyaksikan kejadian tadi. “Too much drama” gumam Sehun. Perih? Tentu saja, asal Hyunri tahu. Bahwa selama ini—selama Sehun menjadi sahabat Hyunri—Sehun menyukainya. Tentu saja. Seandainya saat ini Sehun berada dalam wujud manusia, ia bersumpah ia akan menghajar Luhan hingga wajahnya tak berbentuk lagi mungkin. Ia menyesal kenapa ia tidak memilih pilihan yang waktu itu ditujukan padanya oleh Chanyeol.

Flashback.

 

30 March 2013

 

“Oh Sehun, kau dipanggil oleh Raja Chanyeol untuk menemuinya di atas awan” sebuah bisikkan terdengar oleh Sehundalam wujud anginnya. Mendengar itu, Sehun pun dengan segera melayang ke atas awan tempat di mana Raja Chanyeol menunggunya. Sebut saja Khayangan Angin. Di Khayangan itulah mereka membicarakan tentang daerah mana saja yang sekiranya cocok untuk diberikan angin berlebih. Bahkan tak jarang ada angin tornado atau angin puting beliung menimpa suatu daerah. Itu semua sudah ditentukan di Khayangan ini.

 

“Sehun, perkenalkan, dia adalah permaisuriku, selama ini kau tak pernah bertemu dengannya, bukan?” ujar Chanyeol basa-basi. Sehun sudah tahu taktik sahabatnya yang satu ini. Tentu saja. “Jika kau memanggilku ke mari hanya untuk memperkenalkan permaisurimu, lebih baik kau cari orang lain, kau membuang-buang waktuku” jawab Sehun ketus. Di Khayangan ini, semua angin berwujud layaknya manusia, memiliki dua mata, satu hidung, satu mulut dengan dua bibir sebagai pelengkap, dua telinga, wajah yang tampan serta cantik, dua tangan, dua kaki, sempurna layaknya manusia.

 

“Hahaha, tenang Sehun, ketus sekali, namanya adalah Kim Hyun Ah, kakak dari Kim Hyun Ri, apakah kau mengenal Hyunri, Sehun? Hm?” tanya Chanyeol setengah menggoda lelaki tampan bernama Sehun itu. “Kakak? Hyunri? Jadi selama ini kakak Hyunri menghilang dan kau yang telah menculiknya, man? Oh kau mencari masalah denganku man!” Sehun sedikit naik pitam. Emosinya seakan tersulut oleh Chanyeol. “Tidak, Sehun, Chanyeol tidak menculikku, aku yang ingin bersamanya, percayalah, dan beritahu Hyunri bahwa pada tanggal 20 April nanti aku akan mengunjunginya” timpal Hyuna sembari tersenyum. “As you wish” ujar Sehun pada akhirnya.

 

“Oh Sehun, aku memiliki tiga penawaran untukmu” Chanyeol membuka pembicaraan. “Cih, penawaran untuk apa?” tanya Sehun sambil melipat tangannya di dada. “Penawaran pertama, kau bisa berubah menjadi manusia hingga tanggal dua puluh april, penawaran kedua, aku bisa mengubah Hyunri menjadi seperti kita dan membuat Hyunri menjadi pasanganmu selamanya asalkan pada tanggal dua puluh april nanti Hyunri mau menciummu dalam bentuk manusia yang tidak dikenalnya dengan tulus, dan penawaran terakhir, kau bisa menjadi manusia selamanya, namun kau tidak mengenal Hyunri sama sekali begitu pun sebaliknya, bagaimana Sehun? Penawaranku menarik bukan?” ujar Chanyeol sambil merangkul bahu permaisurinya yang notabenenya adalah kakak kandung dari Kim Hyun Ri. Wanita yang selama ini menjadi pujaan hati seorang Oh Sehun.

 

Cukup lama Sehun berfikir. Ia takut. Ia takut ia akan salah langkah. “Jika aku memilih pilihan pertama apa yang akan terjadi?” akhirnya Sehun membuka suaranya. Pada akhirnya ia berani mengungkapkan apa yang sedari tadi mengganjal fikirannya. “Pilihan pertama? Eung, jika selama kau menjadi manusia dan Hyunri bisa mencintaimu layaknya kekasih, kau bisa terus bersamanya dalam wujud manusia, Sehun tapi hanya jika ia mencintaimu dan ingin menjadi kekasihmu” bukan Chanyeol yang menjawab. Melainkan Hyuna. “Aku memilih pilihan pertama” jawab Sehun pada akhirnya. “Baiklah, kukabulkan, Sehun, namun kau hanya bisa berubah sejak pukul sembilan malam hingga pukul enam pagi” setelah mengatakan itu, Hyuna pun berjalan menuju Sehun. Kemudian memukul-mukul pundak Sehun pelan. “Bersiaplah Sehun” dalam satu hentakan, Hyuna menjatuhkan Sehun dengan cara membantingnya.

 

Setelah itu, Sehun sudah berada di bumi dalam wujud manusianya. Persis seperti wujudnya ketika ia berada di Khayangan.

 

Flashback End.

 

Seandainya, seandainya, dan seandainya. Hanya seandainya yang bisa ia ucapkan. Menyesal? Tentu saja, seharusnya ia memilih pilihan kedua waktu itu. Ia yakin, Hyunri akan ingin menolongnya. Kemudian, ia baru teringat akan pesan Hyuna.  “Beritahu Hyunri bahwa pada tanggal 20 April nanti aku akan mengunjunginya” entah mengapa tiba-tiba bisikan itu terngiang-ngiang di kepalanya. Ia lupa akan pesan Hyuna tempo hari.

8.30pm KST

 

Sehun hanya bisa menatap nanar dua insan yang kini tengah bermesraan di hadapannya. Wanita itu, adalah wanita yang telah kurang lebih selama dua puluh tahun ini bersahabat dengannya. Karena ia bertemu dengan Hyunri ketika usianya—dalam wujud angin menginjak lima tahun. Bagaimana bisa seorang Kim Hyunri begitu bodoh karena tidak menyadari akan perhatian-perhatian khusus yang selama ini Sehun berikan—meskipun dalam wujud angin. Namun, Sehun menyadari bahwa selama ia dalam wujud angin, Hyunri merasa sengsara. Bahkan yang terparah, Hyunri dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa karena dianggap memiliki gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh Sehun. Sehun selalu mengajaknya berbicara, bersenda gurau, atau bahkan sesekali Sehun menceritakan kisah sedih yang romantis sehinnga tak jarang orang-orang di sekitar Hyunri melihat Hyunri menangis sendiri, tertawa sendiri, serta berbicara sendiri.

“Luhan, sebenarnya aku ingin memperkenalkan seseorang padamu, namun kau harus menunggu sekitar satu jam lagi, hehe, bagaimana?” Hyunri tersenyum, memperlihatkan deretan-deretan giginya yang putih. “Hmm, boleh, memangnya siapa?” tanya Luhan. “Sahabatku, angin, dia bernama Sehun, Oh Sehun” Hyunri bercerita dengan penuh semangat. Sementara Luhan tidak mengerti maksud dari perkataan gadisnya itu. “Kau pasti bingung, bukan? Angin sahabatku itu, bisa menjadi manusia, dia berubah menjadi manusia setiap pukul sembilan malam, Luhan” Hyunri menjelaskan semuanya pada Luhan. Butuh waktu bagi Luhan untuk mencerna maksud dari perkataan Hyunri. Karena ia sedikit tidak mengerti tentang angin yang bisa menjadi… Manusia? “Seperti di negeri dongeng saja” Luhan membatin. “Oh, beritahu aku, aku ingin berterimakasih pada angin itu” Luhan tersenyum. Mendengar itu, Hyunri hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sehun yang mendengar itu merasa aneh. Berterimakasih? Berterimakasih untuk apa? Memangnya aku pernah melakukan apa padanya hingga ia ingin berterimakasih padaku? Sehun berbisik—dalam wujud anginnya. Sebentar lagi, pertanyaannya akan terjawab. Dalam hitungan detik, ia akan berubah ke wujud manusianya. Wujud yang membuatnya mampu menyentuh Hyunri. Wujud yang mampu membuatnya menghabiskan waktu dengan Hyunri. Wujud yang juga mampu membuatnya merasakan kehangatan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.

20 detik

 

15 detik

 

10 detik

 

5 detik

4 detik

3 detik

2 detik

1 detik

 

“Hai aku Sehun” Sehun memperkenalkan dirinya pada Luhan. Melihat sosok di hadapannya, lantas Luhan langsung bangkit dari duduknya. Ia merasa bahwa ia pernah mengenal sosok itu sebelumnya, namun entah di mana. Ia tidak begitu mengingatnya. “Luhan, Xi Luhan” ujar Luhan sambil menyodorkan tangannya. “Sehun, Oh Sehun imnida” Sehun pun menjabat tangan Luhan. Melihat pemandangan seperti ini, Hyunri tersenyum bahagia dalam hatinya. “Selamat malam, Hyunri” Sehun menyapa, sambil memperlihatkan senyumnya. “Malam, Sehun” Hyunri pun ikut tersenyum. Sedikit terpana dengan tingkah Sehun. Karena biasanya, Sehun akan menyuruh Hyunri menjauhi Luhan. Namun kini, dengan ramahnya Sehun menyapa Luhan.

“Kau ke mana saja hari ini, Sehun? Tumben sekali kau tidak mengikutiku hari ini” ujar Hyunri sambil mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Sehun hanya tertawa kecil. Manis piker Hyunri. “Maaf, tapi sebenarnya aku mengikuti kalian, hanya saja kalian terlalu sibuk dengan dunia percintaan kalian sendiri” Sehun berbicara sambil sesekali tersenyum. “Benarkah itu Sehun-ssi?” tanya Luhan seolah tidak percaya bahwa hari ini ia diikuti oleh sosok angin dari Sehun. Padahal sebenarnya, bukan hanya hari ini ia diikuti. Melainkan setiap Luhan pergi dengan Hyunri. “Untuk apa saya berbohong, Luhan-ssi bahkan setiap anda menghabiskan waktu dengan Hyunri, saya selalu ada di sana” Sehun menjelaskan. Luhan hampir tersedak mendengar pernyataan Sehun. Jadi… Selama ini aku dibuntuti oleh angin? Luhan bertanya-tanya dalam hatinya. Konyol. “Hahaha maafkan kebiasaan Sehun, Luhan, Sehun itu sudah seperti penguntit pribadiku, hanya saja dalam wujud yang kasat mata, sehingga kita takkan pernah dapat melihatnya dalam sosok asalnya”  Hyunri berbicara dengan pandangan objektifnya. Hyunri memang benar.

Cukup lama mereka bersenda gurau, sebenarnya arti dari kata mereka adalah Hyunri dan Luhan. Karena sedari tadi Sehun hanya sesekali ikut tertawa bersama mereka. Sesungguhnya Sehun tidak tahu apa yang ia tertawakan. Ia tidak banyak bicara, ia hanya memikirkan. Bagaimana caranya memusnahkan rasa cemburu yang begitu berkobar seolah membakar hatinya saat ini. Seandainya tidak ada Hyunri di sini. Sehun pasti sudah menghajar pemuda bernama Luhan itu. Pemuda yang telah mengambil pujaan hati seorang manusiamaya tapi nyatabernama Oh Sehun. “Nampaknya ini sudah larut malam Hyunri-ya, aku harus pulang, sampai nanti, selamat malam Hyunri-ya dan juga Sehun-ssi” Luhan membungkukkan badannya. Kemudian ia pun berjalan menuju pintu gerbang rumah Hyunri. Seperti biasa, sebelum benar-benar pulang, Luhan akan berhenti dan melambaikan tangannya ke arah Hyunri. Setelah ia memastikan bahwa Hyunri membalas lambaian tangannya, Luhan beranjak meninggalkan rumah Hyunri.

•••

Setelah Luhan pergi. Sehun menarik lenganku kasar. Ia membawaku ke kamarku. Tempat di mana kami akan menghabiskan malam kami. Seperti biasanya tentu saja. Namun, kali ini berbeda. Sehun entah kenapa bertingkah kasar padaku. Padahal biasanya, Sehun akan memperlakukanku dengan sangat lembut. Aku pun menepis tangannya yang sedari tadi menarikku kasar. “Sehun, lepaskan! Kau menyakitiku” ujarku geram. Dalam satu hentakkan, Sehun melepaskan lenganku. “Kenapa kau menerima Luhan menjadi kekasihmu?” Sehun bertanya sambil menatapku tajam. Bukan tatapan Sehun yang biasanya, sungguh. “Aku mencintainya tentu saja” aku mengatakan itu dengan jujur, tentu saja. “Lalu apa arti diriku bagimu?” aku mengernyitkan dahiku. Tidak mngerti maksud perkataannya. “Baiklah, simpel saja, aku mencintaimu, Hyunri, aku tahu ini sudah sangat-sangatlah terlambat, namun setidaknya kau mengetahuinya” Sehun menggenggam tanganku. Mmengecupnya lembut. “Aku, aku kalap, aku terlalu cemburu melihatmu dengan Luhan, mengertilah” Sehun melanjutkan perkataannya. Aku diam mematung. Tak percaya dengan apa yang Sehun ucapkan barusan. “Sehunnie, kau.. Serius?” tanyaku ragu. “Apakah aku pernah berbohong padamu?” jawaban telak dari Sehun. Ya, Sehun tidak pernah membohongiku.

Oke, ini aneh. Aku selalu merasakan apa yang kurasakan pada Luhan ketika bersama Sehun. Detakan jantungku akan lebih cepat dari biasanya. Bagaikan tersengat listrik ketika bersentuhan dengan Sehun. Apa aku menyukainya juga? Oh, itu tidak mungkin. Lalu bagaimana dengan Luhan? Aku yakin aku mencintai Luhan. Sangat. Setelah beberapa saat bergumul dengan pikiranku sendiri. Aku pun berjalan mendahului Sehun menuju kamarku. Aku sedikit salah tingkah, mungkin.

•••

19 April 2013

 

12am KST

 

Semalam, Hyunri hanya menghabiskan malamnya dengan melamun. Tak banyak berbicara dengan Sehun. Ia sibuk berkutat dengan pikirannya. Bahkan hingga saat ini, ia berjalan di trotoar tanpa memerhatikan sekitarnya. “Perhatikan jalanmu, aku tidak ingin terjadi hal-hal yang buruk padamu” sebuah bisikkan menyadarkan Hyunri. Ia tahu, Sehun ada di sini bersamanya.

Siang ini ia sedang berada di antara deretan-deretan pertokoan. Ia ingin mencari hadiah untuk Luhan. Untuk ulang tahunnya besok. Ia selalu menoleh ke arah kanan dan kirinya. Berharap menemukan sesuatu yang bagus untuk Luhan besok. Matanya berbinar ketika melihat toko jaket. Ia ingat, Luhan sangat menyukai jaket. Ia pun masuk ke dalam toko itu. Berkeliling di sana. Sampai salah satu pegawai menghampirinya. “Permisi agasshi mencari jaket yang seperti apa? Bisa saya bantu?” ucap pegawai itu ramah. “Aku ingin mencari jaket yang simpel, dan berwarna tidak terlalu mencolok” ujar Hyunri. “Baiklah, mari saya antar” pegawai toko itu mempersilahkan Hyunri. “Bagaimana dengan yang ini?” pegawai itu menyodorkan sebuah jaket yang lucu. Hyunri tersenyum, “Baiklah aku ambil yang itu” . Pegawai itu pun membungkus jaket tadi.

Hyunri bersiul-siul kecil. Hari ini ia tidak menemui Luhan, dikarenakan jadwal Luhan sebagai dokter mengharuskannya untuk tidak menemui Hyunri. Hyunri mengerti. Lagi pula itu mempermudah dirinya untuk membeli hadiah untuk Luhan. Kini, ia pun kembali ke rumahnya. Berniat untuk menyiapkan pesta kecil-kecilan ulang tahun Luhan. Ia ingin merayakannya bertiga, dirinya, Luhan, serta Sehun.

7pm KST

 

Hyunri mengelap peluh yang membasahi wajahnya. Butuh waktu beberapa jam untuk mendekorasi tempat ini. Sehun yang melihat itu—dalam wujud anginnya—sedikit merasa kasihan. Inginnya ia membantu. Namun apa daya? Ia belum berubah menjadi manusia. Lagi pula besok adalah hari terakhirnya. Besok, Hyuna juga akan mengunjungi Hyunri.

9pm KST

 

Sehun berjalan mendekati Hyunri yang menekuk wajahnya. “Kau sudah hubungi dia?” tanya Sehun yang mengagetkan Hyunri. Hyunri menggeleng. “Hubungilah, aku yakin dia akan datang” Sehun mengusap pipi Hyunri dengan ibu jarinya. Hyunri mengangguk. Kemudian mengambil ponselnya dari sakunya. Ia pun mengetikkan beberapa nomor.

Yoboseyo Luhan, kau jadi ke rumahku kan malam ini?”

“…..”

“Baiklah, tidak apa-apa, setidaknya kau akan ke rumahku, hati-hati di jalan, Luhan, sampai nanti”

Klik. Telepon diputus. “Bagaimana? Apa katanya?” Hyunri menghela nafasnya. “Dia akan datang, tapi pukul sebelas nanti, dia bilang pasiennya di rumah sakit sedang mengamuk” Hyunri menaruh ponselnya di atas meja. Sehun dapat melihat wallpapernya adalah foto Hyunri bersama Luhan. Sakit ketika melihat hal itu. Namun, Sehun berusaha bahagia untuk Hyunri.

“Hyunri-ya aku ingin memberitahumu sesuatu” Sehun menatap manic coklat yang selama ini berhasil membiusnya terseut.

“Memberitahu apa?” tanya Hyunri.

“Sebenarnya aku hanya bisa berubah menjadi manusia hingga besok, dan setelah itu aku tidak bisa kembali ke bumi lagi, aku diangkat sebagai putra mahkota di khayangan dan satu lagi, kakakmu, Hyuna, akan mengunjungimu besok, ia datang untuk mengunjungimu, serta menjemputku” Sehun tersenyum miris. “Mungkin aku telat, seandainya aku bisa menjadi manusia lebih dulu sebelum kau mengenal Luhan, mungkin kau bisa mencintaiku, tapi itu hanya angan, Hyunri, berjanjilah padaku bahwa kau akan bahagia bersama Luhan pilihan hatimu”

Hyunri terisak. Bongkahan kristal bening itu melesak keluar begitu saja dari kedua matanya. Membentuk sebuah aliran sungai kecil di kedua pipi putihnya. Sehun mengusap air mata Hyunri. “Jangan menangis, kumohon” Hyunri memeluk Sehun. “Jangan pergi, kumohon, apa yang bisa kulakukan agar kau tidak pergi?” Hyunri membenamkan wajahnya pada dada bidang Sehun. “Tidak ada, ini sudah takdirnya, kumohon jangan menangis, aku tetap mengawasimu dari atas sana” Sehun mengelus puncak kepala Hyunri. “This is our story, just keep it inside your heart, don’t let anybody know about our story, because it is our secret” Sehun mengecup puncak kepala Hyunri. Hyunri pun duduk menghadap Sehun. “Aku akan sangat merindukanmu, Sehun, apa jadinya hari-hariku tanpa bisikan-bisikanmu nantinya? Aku baru sebentar merasakan kehangatan kulitmu, baru sebentar aku bisa melihatmu dengan kedua mataku sendiri” Hyunri kembali terisak. “Namun aku tidak ingin menjadi orang yang egois, aku menyayangimu Sehun, sangat” Sehun pun memeluk Hyunri. Mencoba merasakan kehangatan yang sebentar lagi tidak dapat ia rasakan.

11.45 KST

 

Luhan berdecak kagum melihat dekorasi yang disiapkan oleh Hyunri. Luhan tersenyum dan berjalan mendekati dua siluet yang familiar baginya. “Selamat malam” ujar Luhan. Hyunri dan Sehun menoleh bersamaan. Hyunri pun berjalan mendekati Luhan. “Duduklah, sepuluh menit lagi adalah hari ulang tahunmu” Luhan menggenggam tangan Hyunri. “Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya Hyunri berbasa-basi. “Melelahkan, beberapa pasien entah apa penyebabnya berteriak histeris, dan ada juga yang mengamuk, sulit memang jika mengabdi pada Rumah Sakit Jiwa” Luhan menggelengkan kepalanya. “Sudah sejak tadi berada di sini Sehun-ssi?” tanya Luhan. “Ya, setiap hari pun aku berada di sini, Luhan-ssi” Sehun memutar bola matanya. Hyunri hanya tertawa geli. Sedangkan Luhan mengelus tengkuknya. Benar juga yang dikatakan Sehun. Bahwa setiap hari Sehun ada di sini 24jam non stop.

Alarm ponsel Hyunri berdering. Menandakan sudah pukul dua belas malam waktu Korea Selatan. “Zhu ni shengri kuaile Luhan” Hyunri mengeluarkan hadiahnya dan langsung memberikannya langsung kepada Luhan. “Happy Birthday Luhan” Sehun menyalami Luhan. “Terimakasih semuanya, Hyunri, bolehkah aku membukanya?” tanya Luhan. Hyunri hanya mengangguk sebagai jawaban. Betapa bahagianya Luhan ketika mendapati sebuah jaket berwarna biru tua bergaris-garis merah yang selama ini ia inginkan. “Bagaimana kau tahu bahwa aku ingin jaket ini?” tanya Luhan tak percaya. “Benarkah? Bahkan aku tidak tahu hahaha, pegawai tokonya yang memilihkan itu untukku” Hyunri tersenyum manis.

Angin yang cukup besar menyapu halaman belakang rumah Hyunri. “Mereka datang” gumam Sehun. Selang beberapa detik kemudian, muncullah seorang lelaki dan seorang wanita. “Kak Hyuna!” Hyunri berlari menuju Hyuna. Kemudian memeluknya. Ia tak percaya bahwa kini kakaknya berada di hadapannya.”Apa kabar Hyunri-ya? Lama tak bertemu” Hyuna membalas pelukan Hyunri. “Kakak kemana saja? Kau membuat kami khawatir” Hyunri melepaskan pelukannya. “Aku telah dipersunting oleh Raja Khayangan Angin, dan sebentar lagi ia akan merekrut Sehunmu untuk menjadi Putra Mahkota di sana, oh ya Hyunri, apakah dia Luhan?” tanya Hyuna. “Ya, saya Luhan, senang bertemu dengan anda Hyuna noona ternyata anda sama cantiknya dengan Hyunri” ujar Luhan. “Mereka memang kakak beradik yang luar biasa” timpal Chanyeol. “Jadi, kedatangan kalian kemari ingin menjemput Sehun? Sekarang?” Hyunri bertanya dengan nada memelas. “Ya, kami akan menjemputnya, sebelum itu Hyunri, aku ingin mengajukan dua pilihan padamu, pilihan pertama, kau bisa terus bersama dengan Sehun, namun kau akan kuubah menjadi angin seperti kami dan tanpa Luhan, atau pilihan kedua, kau akan menjadi manusia selamanya dan terus bersama Luhan tanpa Sehun” ujar Hyuna.

Kini, Hyunri dilema. Ia tidak bisa memilih di antara keduanya. Ia menyayangi mereka. Hyunri membutuhkan Sehun, dan ia juga membutuhkan Luhan. “Ikuti kata hatimu, Hyunri” Sehun merangkul Hyunri. Hyunri kembali terisak. “Semoga pilihanku tidak salah, aku memilih pilihan kedua, bukan karena aku tidak membutuhkan Sehun, hanya saja aku tidak ingin egois, bagaimana nasib kedua orang tuaku jika aku tak ada? Sudah cukup mereka kehilangan Hyuna, aku tidak ingin mereka kian bersedih, aku mencintai Luhan, dan aku juga mencintai Sehun, tapi inilah pilihanku” Sehun tersenyum. “Pilihanmu tepat, Hyunri, aku memang mencintaimu, tapi aku yakin Luhan juga mencintaimu sama besar denganku, aku hidup di dalam hatimu, dan sampai nanti Hyunri, aku yakin kita akan bertemu lagi” Sehun mengecup kening Hyunri. “Luhan, kumohon jaga dia baik-baik, untukku, dan juga untukmu, sampai nanti, dan kalian berdua, berbahagialah” setelah mengatakan itu. Angin bertiup lebih kencang dari yang sebelumnya,  dan ketika itu pula ketiga sosok itu menghilang.

Luhan memeluk Hyunri yang masih menangis. Sedikit menyesal melepaskan Sehun. Kini, ia harus terbiasa dengan tanpa Sehun di sisinya. Setidaknya, Tuhan menggantinya dengan sosok Luhan. Luhan adalah malaikatnya.

**

2 years later

 

Kini, pesta yang lumayan megah diadakan di gereja yang tak jauh dari pusat kota. Acara sakral yang disebut dengan pernikahan akan dilangsungkan beberapa saat lagi. Pernikahan Hyunri dengan lelaki berkebangsaan China bernama Luhan.

“Xi Lu Han, apakah kau bersedia menerima Kim Hyun Ri sebagai pendampingmu? Terus bersamanya dikala susah maupun senang, dikala sakit maupun sehat, dikala kaya maupun miskin, bersedia menerimanya selamanya?” pendeta itu memulai acara puncaknya.

“Saya bersedia” ucap Luhan mantap.

“Kim Hyun Ri, apakah kau bersedia menerima Xi Lu Han sebagai pendampingmu? Terus bersamanya dikala susah maupun senang, dikala sakit maupun sehat, dikala kaya maupun miskin, bersedia menerimanya selamanya?” pendeta itu melangsungkan pertanyaan yang sama pada Hyunri.

“Saya bersedia” ucap Hyunri tak kalah mantap.

“Baiklah, mulai sekarang, kalian resmi sebagai pasangan suami-istri” sang pendeta mengumumkan. Riuh tepuk tangan membahana ke seluruh penjuru ruangan. Kini Luhan tengah menyematkan cincin pada jari manis Hyunri. Setelah itu, Hyunri pun melakukan hal yang sama pada Luhan. “Silahkah kau mencium pasanganmu” ujar pendeta itu. Luhan mendekatkan wajahnya pada wajah Hyunri. Tak butuh waktu lama, Luhan mengecup bibir Hyunri.

Sementara itu di sudut ruangan. Seorang lelaki tersenyum miris melihat pemandangan di depannya. “Selamat berbahagia Hyunri, kuharap kau tidak menyesal dengannya”. Oh Sehun nama lelaki itu, yang kini menghilang di balik kerumunan tamu undangan.

-END-

 

“Wind is an illusion. But we can feel it. Just like my love to you. It’s illusion, I can’t see it with my eyes. But I always can feel it everytime, with my heart” – Kim Hyun Ri

 

∞∞∞

HUAAHHHH!! /elap keringet/ gimana ceritanya readersdeul? Ini sudah saya panjangin >…..< Maaf kalo rada gak jelas. Soalnya saya juga bagi waktu saya sama belajar. Maklum bentar lagi UN hihi u____u ini saya ngebut bikinnya jadi ya….. ginilah .-. maafya hehe. Ayo di comment! Saran dan Kritik sangat membangun untuk saya:-) and this is my own idea! DON’T BE A PLAGIATOR! Hargailah karya orang yang telah membuatnya dengan susah payah:-)

4 thoughts on “This Is Our Story (Sequel of Iam Not Crazy!)

  1. hyun ri.. Milih sehun aja.. !! *maksa bener -_-”
    thor.. Aku nangis lhoo bacanya😥 kenapa dewi fortuna tidak berpihak pada sehun??? Wae?? Wae?? *esmosi
    sehun. Kamu sama aku aja yya😉

    thor, feelnya dapet banget. Aku aja ampe nangis teriak” ga jelas *lebay
    tapi ini cius lo thor…😦
    author harus tanggung jawab :p

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s