Serendipity (Chapter 2)

serendipity

Serendipity

by

ellenmchle

Main Cast : EXO-M’s Kris Wu & SNSD’s Tiffany Hwang || Support Cast : SNSD’s Jessica Jung & 2PM’s Nichkhun Buck Horvejkul || Genre : Romance & Life || Rating : PG-15 || Length : Chaptered || Disclaimer : Inspired by “Serendipity” Movie (2001) – Marc Klein || Credit Poster : pearlshafirablue

“Two people who are meant to be together will have occurences happening around them, if they look out for those signs they will be together in the end.”

“You don’t have to understand. You just have to faith.” – Tiffany
“Faith in what ?” – Kris
“Destiny..” – Tiffany

|| PreviousCHAPTER 1 ||

 

New York, USA – December, 25th 2010

Serendipity III 3 Restaurant General Store, di sinilah gadis berambut merah itu harus menghabiskan waktunya semalaman bersama dengan pemuda bernama lengkap Kris Wu. Mimpi buruk ? Ya, pada awalnya gadis itu memang akan menyimpulkan demikian namun sepertinya keadaan ini tidak terlalu buruk. Kedua orang itu kini bahkan sedang terlibat perbincangan yang terdengar sangat menarik seraya menikmati caramel mocha frappe pesenan mereka.

“Jadi kau orang Korea juga?”, tanya Tiffany yang sedari tadi sudah sangat penasaran dengan asal usul pemuda itu.

“Bukan, lebih tepatnya orang China yang menghabiskan setengah dari usianya untuk menetap di Korea.”

“Jadi kau Chinese? Bagaimana ceritanya sampai bisa tinggal di Korea selama itu?”

“Hey, kenapa kau sangat penasaran dengan kehidupanku? Jangan bilang kau mulai menyukaiku?”

“Jangan berpikir yang aneh-aneh, mana mungkin-“

“Maaf nona, tapi aku sudah bertunangan.”

Tiffany tidak terkejut sama sekali mendengar pernyataan pemuda itu barusan karena memang pada kenyataannya Tiffany tidak tertarik sama sekali dengannya bahkan Tiffany rela duduk semeja dengannya sekarang hanya karena tidak ingin menghabiskan jam pertama di hari natal dengan duduk sendirian seperti orang bodoh sambil menunggu Jane yang ternyata mengendarai mobilnya dan pergi begitu saja untuk kepentingan yang bahkan Tiffany tidak tahu. Inilah kebiasaan Jane yang paling membuat Tiffany kesal, Jane selalu saja tiba-tiba pergi dan membawa mobilnya tanpa sepengetahuannya, kini Tiffany benar-benar menyesal mengapa waktu itu dia harus rela menyerahkan kunci serep mobilnya pada Jane.

“Oya? Sedih sekali harus mendengarnya begitu awal. Padahal aku berharap kita bisa berkencan di kemudian hari.”, canda Tiffany.

“Kalau begitu mari berkencan sebelum matahari di hari natal ini terbit.”

“Apa?”

Sedetik kemudian Iphone Tiffany berbunyi menandakan ada panggilan masuk dan benar dugaan Tiffany, Jane telah datang mempertanggung jawabkan kesalahannya di hari natal ini yang membuat dirinya harus rela menghabiskan sekitar 1 jam dengan orang asing yang bahkan namanya saja tidak tahu. Dengan segera Tiffany memutuskan sambungan telepon dari Jane dan mengambil coat dan beberapa paper bag miliknya kemudian beranjak dari kursi yang sudah menempel dengannya selama 1 jam itu.

“Mau kemana?”

“Temanku sudah datang. Senang bisa berbincang denganmu. Sampai jumpa.”

Tanpa menunggu respon dari Kris yang masih sibuk menyeruput frappe-nya Tiffany segera meninggalkan Kris dan menuju pintu keluar. Setelah berhasil keluar dari Serendipity III 3 Restaurant General Store itu Tiffany mulai melangkahkan kakinya menuju tempat di mana mobilnya terparkir. Kris yang sudah menyelesaikan pembayaran segera mengejar Tiffany yang sudah berjarak cukup jauh dari Serendipity III 3 Restaurant General Store.

“Hey nona.”

“Ya?”

“Bisakah kita bertukar nomor? Oh, atau berikan nomormu padaku, nanti aku akan menghubungimu.”

“Ya?”

“Sepertinya aku akan punya banyak waktu senggang di akhir tahun ini. Mungkin kita bisa keluar bersama?”

“Aku rasa tidak perlu, jika memang kita ditakdirkan untuk bertemu lagi di kemudian hari kita pasti akan bertemu.”

“Setidaknya aku bisa mengetahui namamu bukan? Aku Kris, Kris Wu.”

“Kau akan mengetahuinya suatu saat nanti.”

“Hey, apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku sebelum kau pergi begitu saja?”

“Merry Christmas, Kris.”, Tiffany pun masuk ke dalam mobil.

—-

“Kau akan menerima akibatnya karena sudah meninggalkanku, Jane!”

“Laki-laki itu?”

“Si Pirang itu? Aku tidak mengenalnya, kami hanya tidak sengaja bertemu di Bloomingdale’s.”

“Lumayan tampan.”

“Apa? Asal kau tahu saja, dia itu sangat menyebalkan!”

“Kenapa?”

“Semua itu karena sepasang sarung tangan. Tunggu, Sarung tanganku? Jane, putar balik!”

“Apa? Kau menyuruhku putar balik setelah kita hampir sampai?”

“Aku bilang putar balik! Sekarang juga!”

 

-Flashback-

 

“Ini..”

Tiffany yang sedang duduk di kursi panjang di luar Bloomingdale’s tersadar dari lamunannya begitu sosok seorang pemuda bertubuh jangkung menghampirinya seraya menyodorkan sebuah paper bag ukuran medium bergambarkan pohon natal dengan tulisan Bloomingdale’s.

“Sepertinya benda ini tidak begitu cocok denganku.”

“Kau?”, Tiffany mulai merespon pemuda itu.

“Ya. Mungkin lebih baik jika kau yang memilikinya.”

“Aku akan mengganti uangmu.”

“Tidak perlu. Anggap saja hadiah natal titipin dari Santa Claus.”

“Cih! Kau pikir aku masih anak-anak?”

“Tubuhmu membuktikannya.”

“Kau menghinaku lagi?!”

“Mau minum bersama?”

Keduanya tampak berjalan menuju Serendipity III 3 Restaurant General Store yang letaknya tidak terlalu jauh dari Bloomingdale’s.

“Terima kasih…”

“Akan ku sampaikan padanya (Santa Claus).”

 

-Flashback END-

 

Di waktu yang bersamaan Kris juga kembali ke Serendipity III 3 Restaurant General Store untuk mengambil syal miliknya yang tertinggal. Tanpa ada harapan untuk bertemu lagi Tiffany harus dikejutkan dengan menemukan syal berwarna cokelat tua yang ia yakini milik Kris karena sebelumnya ia melihat Kris melepaskan syalnya dan menaruhnya begitu saja di meja. Langkah berat itu akhirnya membuat Tiffany menoleh ke arah asal suara itu dan menemukan sosok Kris, pemuda yang sangat ingin dihindarinya muncul tepat di hadapannya dengan ekspresi wajah yang juga tak kalah kaget.

“Serendipitiy?”, gumam Kris.

“Oh, Hey. Ini memang terlihat begitu aneh tapi sepertinya-“

“Ingin pergi melakukan sesuatu?”

“Ya?”

“Bagaimana dengan ice skating?”

Tempat ice skating di Wollman Rink yang berlokasi di Central Park itu masih ramai akan pengunjung walaupun jarum jam sudah menunjukkan pukul 03.32 AM. Sepertinya memang natal membawa keistimewaan tersendiri bagi penduduk kota New York. Beberapa pasang kekasih terlihat menikmati ice skating di tengah hujan salju yang semakin membuat suhu kota itu semakin terasa dingin.

“Jadi bagaimana dengan orangtuamu?”

“Aku tidak begitu yakin mereka akan menyuruhku pulang ke Korea dalam waktu dekat. Mereka mungkin akan sangat bahagia jika aku bisa selamanya di sini.”

“Kenapa begitu?”

“Entahlah, mereka terlalu sibuk untuk mengurus hal selain bisnis. Kau sendiri?”

“Orangtuaku meninggal saat umurku masih 3 tahun.”

“Maaf aku tidak bermaksud mengungkitnya.”

“Dan aku beruntung karena paman dan bibiku masih mau menampungku.”

“Lalu, kenapa kau bisa tinggal di Korea dengan waktu yang cukup lama?”

“Aku melarikan diri.”

“Apa?!”

“Sepertinya kehadiranku selalu membawa sial dalam keluarga pamanku. Ya, paman dan bibiku selalu bertengkar karenaku. Pamanku sampai bangkrut dan akhirnya ditinggal pergi bibiku. Terdengar sangat menyedihkan bukan?”

“Seharusnya kau tidak meninggalkan pamanmu di saat dia terpuruk kan?”

“Aku akan semakin menjadi bebannya jika aku tidak segera pergi dari kehidupannya.”

“Dan kenapa kau bisa sampai di New York?”

“Aku di sini karena profesiku sebagai bartender.”

“Wah, kau seorang bartender? Kau bekerja di bar mana?”

“Sepertinya tidak adil kau mengetahui segalanya tentangku sedangkan namamu saja aku belum tahu.”

“Sudah ku bilang suatu saat nanti kau pasti akan mengetahuinya sendiri.”

“Iya jika kita bertemu lagi setelah ini.”

“Hey, aku rasa mungkin setelah ini kita akan sering bertemu.”

BUK!

 

Kris terpaksa harus menarik bibirnya dan memamerkan deretan giginya yang rapi itu karena pemandangan di depannya yang terlihat cukup menyedihkan memang tapi cukup lucu juga untuk ditertawakan, Tiffany harus rela mendarat bebas begitu saja setelah kehilangan keseimbangan dan membiarkan seluruh badan bagian belakangnya menyetuh dinginnya lantai ice skating di tengah keramaian.

“Hey, kau baik-baik saja?”

“Tidak buruk. Aku sudah sering terjatuh seperti ini.”

“Kau benar-benar seperti anak kecil, Nona.”

Kris membantu gadis mungil itu berdiri dengan menarik lengan kanannya, alhasil mereka harus menghentikan kegiatan mereka karena tangan kiri Tiffany yang sedikit terluka. Keduanya melangkah bersamaan menuju kursi panjang untuk mengistirahatkan diri mereka sejenak, pemuda berambut pirang itu pun berinisiatif untuk segera pergi mencari plester namun rencananya sepertinya tidak akan bisa terwujud.

“Ku rasa sebentar lagi matahari akan terbit, haruskah kita segera mengakhiri kencan buta ini?”

Kris melirik jam tangannya dan memang benar, jarum jam sudah menunjukkan pukul 05.17. ‘Sial’ rutuk Kris dalam hati, kenapa semuanya harus berakhir secepat ini. Baiklah, pada kenyataan Kris memang tidak berniat sama sekali untuk mengkhianati tunangannya dengan melakukan kencan buta ini begitu juga dengan Tiffany yang tidak bisa berhenti memikirkan Khun selama dirinya bersama Kris sedari tadi. Tapi entah mengapa, keduanya begitu menikmati kebersamaan ini, kehangatan yang sudah lama tidak dirasakan Tiffany setelah dirinya harus dihadapkan dengan hubungan jarak jauh bersama Khun bisa didapatkannya kembali dari pemuda ini. Sepertinya memang keduanya harus segera mengakhiri semua ini sebelum sesuatu yang tidak diinginkan mereka harus terjadi di antara mereka.

“Baiklah, aku akan menemanimu mencari taxi.”

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Kris maupun Tiffany selama kaki-kaki mereka menginjak tumpukan-tumpukan salju melewati beberapa toko yang tentunya masih tutup di hari natal, dinginnya kota New York membuat suasana di antara mereka semakin dingin pula, layaknya baru pertama kali bertemu mereka yang tadinya terlihat begitu nyaman sekarang malah diselimuti suasana canggung.

“Ini..”, Tiffany membuka pembicaraan seraya menyodorkan selembar kertas hasil robekan dari notebooknya. 2 baris tulisan tertulis dengan cukup rapi menggunakan tinta berwarna pink di kertas itu. Tiffany Hwang kemudian diikuti 555-5510 di baris kedua.

“Aku tidak percaya aku akan memberikan ini pada orang asing sepertimu tapi ku rasa akan sangat menarik jika suatu saat nanti kita bertemu lagi.”

Kris menoleh ke arah Tiffany dan mendapati selembar kertas hasil robekan di hadapannya. Tidak yakin bahwa gadis di hadapannya akan memberikan suatu informasi mengenai dirinya sendiri, Kris yang penasaran dengan apa yang ditulis di kertas itu berusaha mengangkat tangan kanannya dan membiarkan jari-jarinya menggapai kertas mepunyai panjang tidak lebih dari 5cm itu. Sedetik kemudian sebuah truk pengangkut sampah lewat begitu saja, buruknya hal itu menimbulkan angin yang sangat kencang dan tebak apa yang terjadi selanjutnya? Ya, kertas yang hampir berhasil berpindah ke tangan Kris itu harus terbang begitu saja terbawa angin kencang dan akhirnya bergabung dengan kertas-kertas kecil yang ikut berterbangan di sekitar mereka.

“Kau bisa menulisnya kembali kan?”

“Tunggu, tidakkah kau merasa ini sangat aneh?”

Tiffany yang merasakan sesuatu tidak berniat sama sekali menjelaskan pada Kris apa yang dirasakannya. Gadis berambut merah itu lebih memilih untuk berjalan pergi begitu saja meninggalkan Kris yang masih terdiam di tempatnya.

“Hey, kau hanya cukup menuliskan kembali bukan? Apanya yang aneh? Truk itu berhak lewat begitu saja dan angin kencang juga berhak tiba-tiba muncul di tempat umum seperti ini. Ini jalanan dan semuanya bisa saja terjadi di sini.”

“Tidak! Kau tidak mengerti, Kris!”

“Apanya yang tidak ku mengerti? Hey, Tidakkah kau merasa dirimu sangat aneh?”

“Aku?”

“Kau terlalu membesar-besarkan masalah sepele, Nona.”

“Baiklah, kau mungkin akan menganggapku aneh.”, ujar Tiffany seraya mengeluarkan sebuah pen dan selembar uang 5 dollar dari tasnya dan kemudian membuka lipatan uang 5 dollar itu.

“Tulis nama dan nomormu di sini.”, lanjutnya seraya menyodorkan pen dan uang 5 dollar itu ke hadapan Kris.

“Apa kau sudah kehabisan kertas? Sebutkan nama dan nomormu, aku akan langsung menyimpannya di contact-ku.”, tolak Kris seraya mengeluarkan ponsel dari sakunya. Tentu saja hal itu dilakukannya untuk menghindari hal-hal yang akan terjadi berikutnya, bisa saja kan uang 5 dollar itu terbang pergi begitu saja terbawa angin seperti kejadian sebelumnya?

“Tidak. Kau hanya perlu menuliskannya di sini.”, Tiffany ikut menolak dan tetap menyodorkan selembar 5 dollar itu ke hadapan Kris.

Mau tidak mau sepertinya memang Kris harus menuruti permintaan Tiffany yang sebenarnya memang terlihat cukup aneh. Kris mengambil alih pen dan uang itu dan kemudian menempelkan uang itu ke sebuah patung Santa Claus di dekat mereka dan menuliskan nama serta nomornya,  Kris Wu555-1798 .

“Kau gadis asing yang begitu menarik.”

“Ya. Begitulah aku. Tunggu sebentar di sini.”, Tiffany meraih uang 5 dollar yang sudah tertuliskan nama dan nomor Kris. Tanpa berniat untuk membacanya terlebih dahulu, Tiffany menukarkan uang itu begitu saja untuk membeli sebungkus permen berwarna pink yang dijual di sebuah kedai yang tidak terlalu jauh jaraknya.

“Hey, apa yang kau lakukan?”

“Tidak ada. Aku hanya sedang ingin memakan permen.”

“Lalu untuk apa kau menyuruhku menuliskannya di sana?”

“Kau akan tahu sendiri nantinya.”

“Kau benar-benar gadis yang aneh!”

“Ya, begitulah diriku.”

“Kau membuatku gila!”

Lain hal dengan Kris yang berusaha mengontrol emosinya karena semua kegilaan ini, Tiffany malah mengeluarkan sebuah buku berjudul “LOVE IN THE TIME OF CHOLERA” karangan Gabriel García Márquez dari tasnya yang membuat Kris semakin bingung.

“Kau lihat buku ini?”

“Untuk apa lagi?”

“Pastikan kau sudah melihatnya dengan baik?”

“Ya? Dan apa yang akan kau lakukan lagi dengan buku itu?”

“Aku akan menuliskan nama dan nomorku di buku ini setelah aku pulang dan setelah itu aku akan menyerahkannya ke perpustakaan.”

“Aku tidak mengerti.”

“Jika memang kita akan bertemu lagi setelah ini kau pasti akan menemukan buku ini dan aku akan menemukan kembali uang dollarku.”

“Ini konyol.”

“Ya, bagimu.”

Tiffany yang sadar mereka sekarang berada  di dekat sebuah hotel segera menarik tangan Kris dan membawanya ke dalam lobby hotel itu. Hotel berbintang 4 dengan 26 lantai yang cukup terkenal di New York.

“Hey, kau gila? Kau ingin mengajakku tidur bersama?”

Tiffany masih tidak menghiraukan Kris, ia sibuk mencari lift hotel itu dan setelah berhasil ia kembali menarik Kris yang masih bingung dengan kelakuannya.

“Sepertinya kau perlu untuk memesan kamar terlebih dahulu, Nona.”

“Kau pikir aku mau tidur denganmu?”

Tiffany kembali dengan kesibukan menarik Kris menuju lift hotel itu. Kebetulan di sana sedang sepi dan itu sangat membantu Tiffany dalam melakukan aksinya. Ada 6 buah lift di sana, 3 buah di sebelah kiri dan 3 buah di sebelah kanan mereka. Tiffany menekan tombol di lift nomor 3 di sebelah kirinya dan kemudian menyuruh Kris berdiri di sana sedangkan dirinya sendiri berlari ke lift nomor 3 lainnya di sebelah kanan dan menekan tombol lift itu juga.

“Apa yang kau lakukan?”

“Tetap di sana. Jangan bergerak!”

“Dan?”

“Jika kita ditakdirkan untuk bertemu lagi setelah ini kita pasti akan bertemu di lantai yang sama.”

“Apa?”

“Masuklah.”

Pintu lift keduanya akhirnya terbuka dan Tiffany sudah melangkahkan kakinya ke dalam lift, sedangkan Kris yang masih bingung akhirnya menuruti perkataan Tiffany. Kini keduanya sudah berada di dalam lift.

“Hey, I really don’t understand this!”

“You don’t have to understand. You just have to faith.”

“Faith in what?”

“Destiny..”

Sebelum pintu lift tertutup Tiffany melemparkan paper bag yang berisikan sarung tangan itu ke arah Kris yang pada akhirnya membuat Kris berkali-kali lipat semakin bingung.

“Hey, it’s Tiffany. My name is Tiffany..”, ucap gadis itu sebelum pintu lift berhasil tertutup sempurna.

TBC

16 thoughts on “Serendipity (Chapter 2)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s