I Got A Girl, Yeppeo

Image

Nama Author : Rut Lyvia

Title : I Got A Girl, Yeppeo.

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG-15

Main Cast :

  • Kris Wu
  • Jessica Jung

Support Cast :

  • Yuri
  • Kai
  • Find it by yourself!

***

            Gadis yang berambut coklat tua itu sedang mengamuk di kamar-nya. Gadis itu melempar selimutnya kesana, kemari, mengacak-acak meja riasnya yang dipenuhi alat make upnya, dan memukul-mukul pintu kamarnya dari dalam dengan keras. Memar sudah ada di tangan kanan dan kirinya. Bahkan tidak hanya itu, tepat dibawah matanya terdapat kantung mata yang cukup besar karena gadis itu menangis tanpa berhenti sejak tadi jam 4 sore. Dia menangis hingga tengah malam ini. Beberapa tetangga sudah memasuki rumah-nya dan menegur appanya karena kelakuan dia yang mengganggu ketenangan sekitar. Jessica namanya.

TING TONG

Suara bel dari bawah sana terdengar sampai ke kamar Jessica. Seorang namja yang sedang duduk di ruang tamu sambil meminum kopinya itu langsung bergegas berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu.

Mianhamnida, Jung ahjussi. Apakah Jessica berada di rumah?” Tanya seorang yeoja yang berparas cantik dengan mantel yang sangat tebal.

Nuguya?” Hanya itu respon yang keluar dari mulut orang yang dipanggil Jung ahjussi tersebut. Raut wajah aneh semakin terpampang jelas karena ini sudah tengah malam dan masih ada tamu?

Joneun Yuri imnida. Aku teman-nya Jessica. Bisakah aku bertemu dengannya?”

“Apakah kau yakin? Keadaannya sedang tidak baik sekarang.”

“Yap, aku yakin. Aku cukup mengenalnya baik.” Yuri tampak berbohong. Dia berbohong agar bisa masuk ke rumah tersebut. Yuri sebenarnya dipanggil oleh Jessica itu. Yuri disuruh berbohong agar appa dari Jessica tidak mengintrogasinya macam-macam.

“Baiklah. Kau boleh masuk. Jessica berada di kamarnya. Ah! Kamarnya di lantai dua.” Kata namja yang bermarga Jung itu.

Ne. gomawoyo, ahjussi.” Balas Yuri lalu masuk ke rumah tersebut. Yuri berjalan dan menaiki tangga hingga sampai didepan pintu kamar yang terdapat gantungan Jessica’s Room. Anehnya, gantungan itu miring karena pukulan Jessica tadi. Yuri yang tidak tahu hanya menatapnya bingung.

“Sejak kapan Jessica menata kamar-nya seperti ini?” Gumam Yuri yang terdengar oleh Jessica. Jessica sekarang sedang menempelkan telinganya dipintu untuk mengetahui siapa yang berjalan ke kamarnya karena tadi Jessica mendengar suara hentakan kaki disana. Jessica yang mendengar suara tersebut langsung menyunggikan sedikit senyumannya lalu membuka pintu.

“Yuri-ah!” Panggil Jessica. Yuri yang melihat Jessica langsung terkejut. Rasa terkejutnya bertambah ketika melihat keadaan kamar Jessica yang bisa dibilang seperti tempat kejadian perperangan. Kamar Jessica sangat berantakan! Yuri langsung masuk ke kamarnya. Jessica menelan ludahnya dengan sangat susah payah, ia tahu kalau sahabat terdekatnya itu akan menceramahinya.

“Kenapa seperti ini kamarmu?” Tanya Yuri dengan sedikit nada tinggi. Yuri menghampiri Jessica.

“Ada apa denganmu? Kenapa kantung matamu terpampang jelas?” Tanya Yuri lagi. Yuri memerhatikan Jessica dari atas hingga bawah. Matanya berhenti di kedua tangan Jessica.

“Kenapa bisa memar?” Suara Yuri semakin terdengar khawatir.

“Kamu kenapa sica-ah?” Tanya Yuri, Jessica masih diam.

“Kau menyuruhku datang tengah malam begini. Kau tahu kalau Kai mengantarku tadi? Padahal Kai sudah berada di alam mimpinya tadi.” Yuri semakin sebal karena Jessica mengacuhkannya. Jessica berjalan dan menutup pintu sedangkan Yuri berinisiatif untuk mengambil kotak P3K yang Jessica simpan di lemari.

“Biar kuobati.” Kata Yuri sambil mengajak Jessica duduk di tepi kasur. Yuri mengobati Jessica dengan hati-hati. Acara mengobatinya itu terhenti ketika Yuri mendengar isakan tangis. Yuri menoleh ke Jessica yang sedang menangis itu.

Wae?” Tanya Yuri sambil membetulkan rambut Jessica yang berantakan.

“Kau tahu kan kalau aku menyukai Kris…” Jessica menggantungkan kata-katanya dan Yuri mengangguk pelan.

Appaku akan menikah dengan ummanya. Apa yang harus aku lakukan yuri-ah?” Tanya Jessica. Kini Yuri yang diam, Yuri tidak bisa memberi pendapat, Yuri tidak pernah mengalami ini sebelumnya dan ia berharap untuk tidak mengalami ini.

“Yuri-ah, bagaimana?” Tanya Jessica sekali lagi.

“Yang memutuskannya hanya dirimu sendiri. Lebih besar mana rasa sayangmu? Untuk appamu atau Kris?” Jawab Yuri. Jessica berteriak keras, Yuri reflex menutup kedua telinganya.

“Bagaimana?!” Teriak Jessica.

“Sica! Ini sudah malam. Jangan bertingkah seperti ini!” Kata Yuri.

“Bagaimana?!” Teriakkan Jessica kali ini ditemani suara tangisan. Yuri yang kebingungan langsung mengacak rambutnya frustasi.

“Sekarang kau tidur, aku akan menjagamu.” Perintah Yuri. Jessica menatap Yuri tidak percaya. Jessica baru tahu kalau Yuri bisa sebaik ini.

“Sudah tidur saja! Jangan membuatku berubah pikiran!” Ancam Yuri. Jessicapun merebahkan tubuhnya lalu mulai memejamkan matanya. Yuri menyelimuti tubuh Jessica dan berjalan ke meja rias Jessica. Yuri memunguti barang-barang yang jatuh dan meletakkannya kembali ke tempat semula.

“Bagaimana bisa dia membuang barang-barang mahal ini? Ck!” Oceh Yuri sambil membereskan kamar Jessica yang berantakan.

***

            Jessica membuka matanya. Sinar matahari mengganggu tidurnya. Terkadang dia membenci matahari karena selalu mengganggu tidurnya.

“Sudah bangun?” Tanya seseorang yang tak lain adalah appanya Jessica. Jessica menoleh lalu mengangguk pelan. Appanya menghampiri Jessica lalu mengelus rambut Jessica.

“Kalau kau seperti ini, appa merasa gagal.” Kata appanya yang membuat hati Jessica hancur. Mengapa kemarin ia melawan appanya dengan alasan tidak ingin ada yeoja yang menggantikan ummanya.

“Tidak, Jessica yang gagal menjadi anak yang baik dan patuh untuk appa.Maafkan Jessica yang selalu membuat appa susah, membuat appa sedih dan masih banyak lagi. Kelakuan Jessica yang buruk terhadap appa tidak bisa dikatakan. Terlalu banyak.” Balas Jessica sambil menggeleng pelan.

“Jika kau tidak mau appa menikah, appa akan membatalkannya.”

“Tidak. Appa harus melanjutkannya. Appa juga mempunyai hak untuk nahagia. Selama ini appa cukup susah dan hanya Jessica yang bahagia dan puas.”

“Bukannya kamu tidak suka?”

“Sica juga sadar bahwa sica tidak akan selalu ada disisi appa. Suatu hari sica pasti hidup dengan keluarga sica sendiri.”

“Kau yakin kalau kau tidak akan menyesal?” Jessica hanya mengangguk ketika mendengar pertanyaan appanya itu. Appanya menatap Jessica keseluruhan lalu membuka suara.

“Lebih baik hari ini tidak usah kuliah. Keadaanmu terlihat buruk.” Lagi-lagi Jessica menjawabnya dengan sebuah anggukkan.

“Ah ya! Yuri temanmu tadi baru saja pulang sehabis membuat sarapan untukmu dan appa. Dia teman yang baik. Kamu harus bersyukur mempunyai teman seperti itu.” Lalu appanya langsung keluar dari kamar Jessica. Jessica juga beranjak dari kasurnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

***

            Jessica tidak berniat untuk makan atau semacamnya.. bahkan Jessica tidak berniat turun dari kasur sehabis mandi tadi. Tak lama kemudian suara ponselnya berdering menandakan panggilan masuk. Jessica meraihnya dengan cepat dan mengangkatnya.

Yeoboseyo?” Kata Jessica.

“Sica-ah, apakah kau baik-baik saja?” Terdengar suara yang khawatir disebrang sana. Siapa lagi kalau bukan Yuri?

“Aku baik-baik saja.”

“Baguslah. Kau tahu kalau tadi Kris menanyakanmu?”

“Benarkah?”

“Benar! Dia bertanya kepadaku seperti ini.Ehem, ‘Dimana Sicachu dimana sicachu?’” Yuri membuat nada yang sedikit lucu ketika bagian Kris dia contohkan. Jessica terkekeh pelan lalu menghela nafas.

“Ya, sebentar lagi dia tidak bisa memanggilku ‘sicachu’.”

“Wae?”

“Karena dia akan memanggilku noona.

            “Jadi kau menyetujui pernikahannya?”

“Ah, ne.

Kalau aku jadi kau, aku tidak tahu bagaimana nasibku sekarang.”

“Haha. Kalau tidak ada kau, aku tidak tahu bagaimana nasibku sekarang.”

“Jangan mengulangi kata-kataku!”

“Ah, terima kasih Yul sudah membereskan kamarku dan membuat sarapan untukku dan appaku.”

Apakah sarapan buatanku enak?”

“Aku belum memakannya.”

“Kau gila! Sekarang sudah pukul 3 sore dan kau belum makan sama sekali?! Sekarang kau harus makan!”

“Aku mau kau menyuapi aku.”

“Are you serious? Baiklah, aku datang!”Yuri menutup sambungan teleponnya. Jessica lagi-lagi tersenyum karena kelakuan hyperactivenya Yuri. Senyumannya menghilang ketika mendapat pesan dari seseorang, Jessica membukanya.

From : Nae Appa

            Jessica, nanti malam appa akan mempertemukan kamu dan calon appa nanti bersama anaknya. Dandan yang cantik ya!

“Rasanya aku seperti melawan maut.” Kata Jessica.

***

            “Kai-ah, kita ke rumah Jessica ya?” Ajak Yuri kepada Kai yang ada disampingnya. Mereka sedang berada di café yang baru buka. Karena ada promo, mereka mencobanya.

“Berdua saja? Tanpa Kris?” Tanya Kai.

“Suruh pergi sendiri saja.”

“Kenapa tidak bersama-sama?” Yuri langsung memukul pelan kepala Kai, Kai hanya meringis pelan.

“Kenapa memukulku?” Protes Kai.

“Dasar bodoh! Itu karena aku ingin pergi berdua denganmu.”

“Baiklah. Mianhae chagi-ya.”

***

            “Bagaimana? Enak? Aku membelinya di café sebelah kampus. Café itu baru buka hari ini.” Kata Yuri sambil memerhatikan Jessica yang sedang makan.

“Ya, gomawo. Seharusnya aku hanya mengambilnya tanpa mengajakmu masuk dengan kekasihmu itu. Hanya membuat cemburu.” Kata Jessica.

“Memangnya Kris kemana?” Tanya Kai yang tak lain kekasih Yuri. Yuri langsung menyikut perut Kai. Sepertinya Kai belum tahu masalah Jessica. Jessica langsung menghentikkan acara makannya. Matanya terasa panas. Sepertinya ia akan menangis lagi.

TING TONG

Suara bel rumah Jessica berbunyi. Jessica langsung mendongkakkan kepalanya.

“Mau kubukakan?” Tawar Yuri.

“Tidak usah. Biar aku saja.” Tolak Jessica lalu turun kebawah untuk membuka pintu. Jessica sangat terkejut dengan orang yang dibalik pintu. Bagaimana orang itu bisa kesini?

“Ah! Sicachu!!” Kata Kris selaku orang yang datang ke rumah Jessica.

“Kenapa kemari?” Tanya Jessica sambil mempersilahkan Kris masuk.

“Aku khawatir karena sahabatku tidak masuk kelas hari ini.” Jawab Kris sambil melingkarkan tangannya di leher Jessica. Terkadang Kris memperlakukan Jessica terlalu berlebihan. Bahkan Jessica pernah digossipkan dengan Kris di kampus. Tapi hati Jessica sangat sakit karena itu hanyalah sebuah gossip. Apalagi ketika tadi Kris mengatakan kalau Jessica sahabatnya. Jessica menutup pintu lalu berjalan mendahului Kris. Apakah Kris tidak tahu masalah ini, batin Jessica.

Kini Jessica, Kris, Yuri, dan Kai berada di kamar Jessica. Mereka berbincang seru teruatam Kris dan Kai. Tak lama kemudian Kris menatap arlojinya.

“Sepertinya aku harus pulang.” Kata Kris.

“Kenapa?” Tanya Kai.

“Aku harus menemani ummaku untuk bertemu calonnya dan anaknya.” Jawab Kris. Jessica langsung menunduk dan Yuri menatap Jessica dengan tatapan yang sangat..khawatir?

“Sicachu! Aku pulang dulu ya?” Tanya Kris.

“Pulang saja. Ah ya, Kai dan kau Yuri lebih baik juga pulang. Karena aku juga akan pergi.” Kata Jessica. Yuri sangat mengerti lalu mengangguk.

“Kami pulang ya.” Kata mereka serempak dan hanya dibalas Jessica dengan anggukkan.

***

            Jessica sudah tampil cantik. Dia menggunakan gaun pemberian Kris ketika Jessica berulang tahun diumur 18 tahun. Pintu kamar Jessica terketuk.

“Kau sudah siap, nak?” Tanya appa Jessica.

Ne.” Jawab Jessica lalu mereka turun dan menaiki mobil appanya. Selama perjalan mobil itu sangat hening dan tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah restoran mewah. Jessica dan appanya datang lebih awal ternyata. Jessica menunggu kira-kira 10 menit sampai ia menangkap sosok namja yang tinggi yang berjalan mendahului ummanya. Jessica sudah bisa menebak bahwa itu orang yang ia tunggu sedari tadi. Mata Jessica dan namja itu bertemu. Namja itu melebarkan kedua matanya dan tersenyum lebar.

“Sicachu!”

Annyeong.” Dua suara beradu. Suara Kris dan ummanya. Kris langsung menatap ummanya heran, begitu juga ummanya.

“Ayo duduk, Kris.” Ajak ummanya sambil duduk di depan appa Jessica. Jessica tampak tenang. Berbeda dengan Kris yang sangat terkejut saat ini.

“Haha, umma kenapa duduk disini? Ini bukan tempat kita kan?” Tanya Kris yang suaranya terdengar lemas. Dia tidak menyangka bahwa ummanya akan menikah dengan appanya Jessica.

“Ini tempat kita sayang.” Kata ummanya.

“Eh, kau tadi memanggil siapa?” Lanjut ummanya.

“Sepertinya dia memanggil anakku.” Jawab appa Jessica.

“Kalian saling mengenal?” Tanya umma Kris.

Ne, kami berteman baik.” Jawab Jessica dengan tenang, actingnya sangat bagus.

“Duduklah Kris. Mau sampai kapan kau berdiri?” Tanya umma Kris. Kris langsung duduk di sebelah ummanya.

***

            “Mulai sekarang kau harus memanggilku noona bukan sicachu lagi.” Kata Jessica membuka pembicaraan. Jessica dan Kris sedang berada di dalam mobil untuk pergi ke kampus bersama. Ya, orang tua mereka sudah menikah dua hari yang lalu.

“Apakah kau tidak akan rindu dengan panggilanku itu?” Tanya Kris.

“Pasti.”

“Apakah kau tidak akan rindu status kita sebagai sahabat?” Tanya Kris lagi. Kali ini pertanyaan yang dilontarkan Kris benar-benar membuat Jessica sakit. Ini kesalahannya karena bisa jatuh cinta dengan sahabat sendiri.

“Mungkin.” Jawab Jessica.

“Kenapa tidak pasti?” Tanya Kris lagi.

“Karena aku tidak menyukai status kita sebagai sahabat.”

“Mungkin aku tidak baik menjadi sahabat untukmu.”

“Kau baik, sangat baik.”

“Maksudmu? Bukankah tadi kau yang bilang bahwa tidak menyukai status sahabat kita?” Jessica hanya mengangkat bahunya sebagai tanda tidak tahu. Jessica juga tidak yakin bahwa Kris melihat dia sekarang.

“Nah, sudah samapi, noona.” Kata Kris lalu menghentikkan mobilnya dan keluar dari mobil. Jessica juga keluar dengan hati yang benar-benar sakit. Kenapa Kris sangat mudah mengatakan hubungan mereka yang dulu itu sahabat? Jelas-jelas kelakuannya seperti menganggap Jessica kekasihnya. Ditambah lagi hanya Jessica dan Yuri teman perempuannya.  Kenapa Kris mudah sekali memanggil Jessica dengan kata noona? Itu semakin membuat Jessica sakit. Tapi Jessica melakukan ini untuk orang tuanya. Kris berjalan didepan Jessica sambil memasukkan tangannya di saku celananya. Jessica hanya mengikuti Kris dari belakang.

Tiba-tiba Kris berhenti lalu menoleh ke belakang dan tersenyum lebar. Senyuman yang membuat Jessica jatuh hati padanya.

“Kelasmu selesai jam berapa?” Tanya Kris.

“Jam 10.”

“Baiklah. Aku akan menunggumu. Kita pulang bersama.” Jessica hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.

***

            Sudah seminggu orang tua Jessica dan Kris menikah. Kini Jessica sedang meng-flashback­ kenangannya bersama Kris. Entah mengapa Jessica berfikir kenangan itu tidak akan terulang kembali. Isakan tangispun memenuhi kamar Jessica. Kris yang sedang lewat kamar Jessica langsung berhenti dan membuka pintu tanpa mengetuk, dia hanya menunjukkan kepalanya.

“Kau kenapa noona?” Tanya Kris, lagi-lagi dia memanggil Jessica dengan sebutan noona.

Gwaenchanayo.” Jawab Jessica. Lalu kris hanya menganggukan kepala dan menutup pintu kembali. Jessica menghempaskan tubuhnya ke kasur.

“Apakah aku harus membuatnya cemburu?” Tanya Jessica pada diri sendiri.

“Bagaimana bisa cemburu? Menyukai aku saja tidak!” Oceh Jessica.

“Jika aku coba tidak ada salahnya kan?” Lanjut Jessica. Dia langsung meraih ponselnya dan menelepon Yuri.

***

            Ponsel Yuri berdering sebagai tanda panggilan masuk. Yuri meraihnya dan mengangkatnya.

“Yeoboseyo?”

            “Yuri-ah..”

“Jessica? Waeyo?

“Aku ingin membuat adikku cemburu.”

“Adik?”

“Iya, sekarang Kris itu adikku. Aish, babo!”

“Oh iya aku lupa. Kenapa ingin membuatnya cemburu?”

“Agar dia melihatku sebagai wanita. Bukan sebagai sahabat ataupun noonanya.”

“Terserah. Lebih baik jangan.”

            “Kenapa?”

“Molla. Menurutku jangan.”

“Hhh. Kupikir rencana ini akan berhasil.”

“Percaya padaku kali ini. Rencanamu akan gagal total!” Yuri langsung memutuskan sambungan telepon lalu meraih makanan ringan dan memakannya sambil memerhatikan televisi yang sedang menyala.

***

            “Aish, kenapa sambungan teleponnya dimatikan?” Oceh Jessica. Jessica mencoba untuk menelepon Yuri lagi dan hasilnya nihil. Yuri malah mereject telepon dari Jessica dan mematikan ponselnya.

“Yuri-ah, babo!!” Oceh Jessica lagi. Jessica beranjak dari kasurnya. Dia membuka pintu lalu turun dan duduk di ruang tengah. Dia menyalakan televise tapi tidak menontonnya. Pikirannya penuh dengan Kris. Tiba-tiba Kris muncul lagi dan duduk disebelah Jessica. Jessica masih belum sadar dilamunannya.

“Kau menonton acara seperti ini noona?” Tanya Kris tapi Jessica tidak menjawab.

Noona?” Panggil Kris. Jessica langsung kaget dan sadar dari lamunannya itu.

“Kenapa?!”  Tanya Jessica jutek.

“Kau menonton acara itu?” Kris menunjuk ke televisi dan Jessica langsung kaget karena acara yang diputar adalah acara bola.

“Jadi kau suka sepak bola? Kau suka yang mana? Chelsea atau Barcelona?” Tanya Kris.

“Bodoh! Tentu aku tidak suka.” Jawab Jessica lalu memukul kepala Kris dengan remote yang ia genggam.

“Lalu kenapa nonton itu?”

“Tidak ada acara bagus.”

“Lalu kenapa menyalakan televisi? Buang-buang listrik saja.” Kris langsung merebut remote di tangan Jessica dan mengganti channel televisi menjadi acara masak.

“Lebih baik kau nonton ini. Agar bisa memasak untuk kami.” Saran Kris lalu berlari meninggalkan Jessica. Kris berlari karena dia tahu Jessica akan mengejarnya. Ya benar, Jessica mengejarnya.

“YA! Kris! Berhenti kau!” Teriak Jessica lalu melempar Kris dengan bantal sofa. Kris berhenti untuk membetulkan rambutnya yang berantakan oleh Jessica, Jessica yang masih berlari malah menabrak Kris dan jatuh. Kris ditimpah oleh Jessica tapi Kris membelakangi Jessica. Debaran jantung Jessica semakin keras, Kris merasakannya.

“Kenapa memukul punggungku?” Tanya Kris polos.

“Aku tidak memukul!”

“Cepat berdiri, kau berat!” Jessica berdiri lalu merapikan bajunya. Krispun begitu.

“Dasar putri Fiona!” ledek Kris lalu berlari meninggalkan Jessica dan masuk ke kamarnya. Sedangkan Jessica hanya berdiri sambil memegang dada sebelah kirinya.

“Masih berdebar toh!” Gumam Jessica.

***

            Kris yang sedang membuka laptopnya dan menunggu laptopnya selesai loading hanya duduk untuk menunggu loadingnya selesai tapi pintu kamarnya terbuka dan muncullah wanita paruh baya yang tidak lain ummanya, Kris menoleh.

“Kris-ah, apakah umma boleh bertanya sesuatu?” Tanya umma Kris,

“Ada apa?”

“Apakah kau dan Jessica pernah menjalin hubungan spesial?”

MWO? Tentu saja tidak! Kami hanya sahabat baik.”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Tapi tadi umma mendegar percakapan kalian.”

“Yang mana?”

“Soal dia memukul punggungmu.”

“Ah ya betul! Dia memukulku tapi pukulannya lemah sekali. Padahal dia cukup gendut!”

“Kenapa kamu masih polos begini sih?” ummanya menggelengkan kepalanya pelan.

“Maksudnya?” Tanya Kris.

“Itu detak jantungnya. Jantungnya berdebar keras saat bersamamu tadi.”

“Oh begitu…”

***

            Kini Jessica berada di kamarnya sendiri. Dia merutuki dirinya yang mengejar Kris tadi.

“Aigoo, Jessica bodoh!” Oceh Jessica pada dirinya sendiri. Dia berjalan menuju kaca besarnya itu.

“Wajahku..seperti kepiting rebus!” Respon Jessica ketika melihat wajah nya yang merah merona karena Kris. Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya dan pintu kamarnya terketuk.

TOK! TOK! TOK!

            Jessica membetulkan rambut dan poninya lalu berjalan menuju pintu kamarnya dan membukanya, terpampang dengan jelas Kris di depan pintunya dengan bantal dan guling.

“Mau apa kau?” Tanya Jessica.

“Aku bosan tidur di kamarku.” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Kris dan segera masuk ke kamar Jessica, meniduri tempat tidurnya.

“YA! Keluar kau!” Teriak Jessica.

“Aku tidak mau. Kalau kamu mau tidur di kamarku saja, noona.

“Tidak! Kembali ke kamarmu!”

“Tsk! Sudah berapa kali aku bilang kalau aku tidak mau?”

“Aku juga tidak mau tidur di kamarmu!” Balas Jessica, Kris langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke Jessica, menariknya pelan ke arah tempat tidur Jessica.

“Aku tahu maksudmu, kamu mau tidur satu ranjang denganku, huh?” Tanya Kris. Jessica yang mendengar itu langsung terkejut. Dia mendorong tubuh Kris hingga terjatuh di tempat tidur.

“Bodoh! Baiklah, aku tidur di kamarmu!” Jessica langsung mengambil bantal dan gulingnya dan langsung menutup pintu kamarnya dengan keras dan berjalan ke kamar Kris.

“Aigoo, foto itu.” Oceh Kris ketika dia mengingat sesuatu.

***

            “Oh my, benar-benar berantakan!” Oceh Jessica ketika mendapati kamar Kris yang sangat amat berantakan.

“Bagaimana aku tidur dengan kamar berantakan ini?” Oceh Jessica lagi dan melihat ke sekelilingnya, kedua bola matanya berhenti di sebuah bingkai foto. Foto itu terdapat Kris dan…..dirinya? lagi-lagi wajah Jessica bersemu merah.

“Bagaimana bisa?” Tanya Jessica pada dirinya sendiri. Dia pun berinisiatif untuk membereskan kamar Kris dan tidur disana dengan nyenyak.

***

            “Bagaimana perasaan jatuh cinta, noona?” Tanya Kris yang sedang berada satu mobil dengan Jessica.

“Memangnya kamu tidak pernah merasakannya, huh?” Tanya Jessica balik.

“Aku saja tidak tahu jatuh cinta bagaimana, bagaimana aku tahu jika aku jatuh cinta?” Jessica yang mendengar itu langsung menelan ludahnya.

“Ka..kamu akan merasakan debaran hebat disini jika bersama dia.” Kata Jessica sambil memegang dada sebelah kirinya. Kris hanya melirik sekilas.

“Oh begitu..” Respon Kris.

“Memangnya kamu sedang jatuh cinta?” Tanya Jessica.

“Maybe, dengan salah satu sunbae di kampus.” Hati Jessica serasa di paku ketika mendengar perkataan Kris tadi.

“Lihat saja nanti setelah kelasmu berakhir.” Lanjut Kris. Jessica merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan. Maksud Kris, dia akan mengajak salah satu sunbae itu berkencan di depan Jessica?

***

            Dosen sudah keluar dari ruang kelas Jessica, semua murid juga keluar. Jessica members-bereskan bukunya. Hari ini dia tidak satu kelas dengan Yuri. Jessica menatap arlojinya.

“Huh, pukul 2 siang.” Keluhnya. Baru saja dia mendongkakkan kepalanya tapi di hadapannya sudah penuh dengan orang-orang. Ada yang dia kenal, ada juga yang tidak dia kenal. Jessica kebingungan.

“Ada a..apa?” Tanya Jessica. Semua orang itu hanya tersenyum dan menyingkir seperti membuat jalan untuk Jessica. Jessica memerhatikan jalan yang dibuat oleh mereka dan bingo! Jessica melihat Kris disana.

Waeyo Kris?” Tanya Jessica, dia benar-benar tidak mengerti dengan ini semua. Kris berjalan perlahan menuju Jessica dan tersenyum lebar.

Noona, aku tidak peduli jika orang tua kita saling menikah. Aku tidak peduli jika aku baru menanyakan rasanya jatuh cinta tadi padi kepadamu. Aku juga tidak peduli jika kamu sunbaeku di sekolah. Aku tidak mengerti, tapi disini..berdebar hebat jika melihatmu.” Jelas Kris sambil menunjuk dada sebelah kirinya.

“So, do you wanna be my girlfriend?” Tanya Kris. Jessica menjatuhkan air matanya, air mata kebahagiaan.

“Yes, I want.” Jawab Jessica. Kris menghapus air mata yang jatuh di pipi cantik yeoja itu lalu memeluknya dengan erat.

“Syukurlah.” Kata Kris lalu melepaskan pelukannya. Kris menengok kea rah teman-temannya yang dia minta tolong untuk membuat rencana ini semakin sukses.

I Got A Girl, Yeppeo!” Teriak Kris yang berhasil membuat wajah Jessica berubah menjadi warna merah. Kris menarik lengan Jessica dan keluar dari kelas itu.

THE END

One thought on “I Got A Girl, Yeppeo

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s