Under The Rain

weather-picture-photo-mist-rain-reddeath

Author : Intaaany ( @Intaaany )

Tittle : Under The Rain

Genre : Sad romance, romance.

Rating : PG17

Length : Oneshoot

Main Casts :

–          Byun Baek Hyun

–          Shin Se Young

Support Cast :

–          Park Chan Yeol

 

A/N : Hello!! Intaaany datang membawa FF baru, tapi masih punya hutang FF How Can I Live Without You ya? Wkwk maaf T_T lagi buntu sama FF itu, jadi bingung nerusinnya gimana :”” ga tau ini tiba-tiba dapet ide gitu. Jadi, sayang kan kalo ga dituangkan hehe :3 yaudah ih langsung baca aja! Yuk capcus~

 

Intaaany’s present©

 

Check this out!

•••

 

Kutatap pantulan wajahku di cermin. Wajahku menyimpulkan bahwa aku memang tidak sedang baik-baik saja. Sekali lagi, kutatap wajahku itu. Pucat pasi, bak sebuah mayat. Ingin rasanya aku menjerit. Ternyata kehilangan seseorang yang kau cintai dapat berakibat seperti ini? Kulirik jam dinding yang tergantung di atas tempat tidurku. Baru pukul sembilan pagi rupanya. Sebelum beranjak keluar dari kamarku, kupandangi sebuah figura foto berukuran cukup besar di dinding kamarku. Di sana terdapat fotoku dengan pria itu. Ya, pria yang membuatku kehilangan semangat hidupku.

 

Kutapaki jalan setapak yang hanya muat untuk dua orang beriringan saja. Karena dihimpit oleh dua tembok raksasa. Sekali lagi, aku berada di tempat ini. Tempat yang menyisakan begitu banyak kenangan pahit, namun manis. Kupandangi tempat ini lekat-lekat. Kakiku berjalan mendahului kehendakku. Menuntunku pada sebuah air mancur dengan sebuah patung anak kecil di puncaknya. Sudut-sudut bibirku tertarik menyimpulkan seulas senyuman. Ingatanku melayang ke masa lalu.

 

**

Flashback

 

Dia merupakan seniorku ketika SMA. Berpostur tidak terlalu tinggi, berkulit putih, berhidung mancung, serta bersuara emas. Suaranya bagaikan senandung malaikat yang bisa kapan saja terngiang di telingaku. Pada awalnya, untuk mengenalnya pun aku tidak berminat. Bukannya aku tidak berminat padanya. Hanya saja, masih banyak wanita yang berpuluh-puluh kali lipat lebih cantik dan lebih menarik dariku, dan terlebih di mataku dia terlihat sangat sempurna. Rasanya sangat mustahil jika aku akan bersanding dengannya.

 

Keajaiban berkata lain. Ia mendatangiku dengan alasan bahwa aku butuh teman untuk berbagi cerita. “Berbagi cerita? Sedangkan cerita yang ingin kubagi dengan sosok teman adalah tentang dirimu” batinku memprotes. Kami cukup dekat, bahkan dapat dikatakan sangat dekat. Hubungan kami hanya sebatas junior-senior dan seorang teman. Namun, jauh di lubuk hatiku. Aku tak memungkiri bahwa aku memiliki perasaan lain terhadapnya. Bukan perasaan layaknya seorang teman pada temannya.

**

 

Hari ini adalah hari kelulusanku. Sedangkan ia sudah lulus setahun yang lalu. Namun, hari ini ia datang sebagai perwakilan para alumni untuk memberikan sambutan. Ia tidak berubah, ia masih tampan, dan yang kutahu dia masih menjadi sosok temanku. Tepuk tangan terdengar riuh ketika ia selesai dengan segala macam pidatonya. Kemudian, ia duduk di kursi kosong yang berada di sampingku. Ia menggenggam tanganku erat. Satu hal yang pasti, wajahku sedang merona sekarang.

 

Seusai acara kelulusanku. Ia mengajakku untuk pergi ke sebuah tempat yang hanya bisa dilalui oleh sebuah gang kecil. Tempat itu benar-benar luar biasa indahnya. Terdapat danau yang berwarna bening. Pepohonan rindang di sekeliling. Sebuah bangku taman yang persis menghadap ke danau. Serta sebuah air mancur di sampingnya. Belum pernah aku pergi ke tempat seperti ini. Ini terlalu indah untuk dilukiskan dengan kata-kata. “Gomawo, oppa” ucapku sambil menatap manik hitam yang selalu bisa membiusku. “Terimakasih? Untuk apa?” tanyanya dengan ekspresi datarnya. “Untuk tempat ini, dan untuk segalanya” ujarku kemudian. Ia hanya tersenyum, senyum yang takkan pernah bisa kulupakan sampai kapan pun.

 

Perlahan namun pasti, ia mendekatkan wajahnya padaku. Tanpa menunggu lama, ia menyatukan kami dalam sebuah ciuman. Ciuman pertamaku, dan terasa sangat manis. Kemudian ia melepaskan tautan di antara kami. Bibirnya mengulas sebuah senyuman. “Jadilah kekasihku” ujarnya to the point. Mataku terbelalak dan mulutku menganga sempurna. “Hey, kamu kenapa? Tidak ingin menjadi kekasihku?” ujarnya lagi. “Apakah kau serius Baekhyun oppa?” tanyaku. Sedikit ragu dengan pertanyaannya barusan. “Tentu saja, jadi kau mau atau tidak Nona Shin?” pertanyaan itu kembali dilontarkannya. “A-aku mau, oppa” baru saja aku menjawab. Ia sudah menarikku ke dalam pelukannya. Terasa sangatlah nyaman, dan juga hangat.

 

**

 

Perlahan airmataku turun membasahi pipiku. Ketika memori-memori menyakitkan sekaligus manis itu menyeruak dalam fikiranku. Mengingatnya sama dengan melempar boomerang yang kembali lagi padamu namun menghantam tubuhmu, sakit dan juga perih. Sebuah tangan menyentuh bahuku. Aku pun menoleh, dan mendapati Chanyeol berdiri di sampingku. “Kau tidak datang? Acaranya sebentar lagi akan dimulai” ujarnya. Aku hanya menggeleng. “Apa kau yakin?” tanyanya lagi. Aku mengangguk. Entah mengapa, lidahku terasa kelu untuk mengucapkan sebuah kata pun. “Baiklah, aku tidak akan memaksamu, kalau begitu aku duluan ya?” ujarnya yang kemudian meninggalkanku.

 

Aku memang sengaja datang ke mari untuk menghindari acara sakral itu. Baekhyun, akan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Kuakui, gadis itu memang sepuluh kali lipat lebih sempurna dibandingkan denganku yang tidak ada apa-apanya ini. Kupandangi langit yang menunjukkan perubahan warna. Menjadi abu-abu. “Mendung” gumamku. Namun, apa peduliku? Toh, hujan atau pun tidak, acara itu tidak akan pernah bisa dibatalkan. Kakiku menuntunku untuk duduk di bangku taman yang dicat berwarna crem. Otakku kembali memutarkan kenangan pahit berlatar belakang rasa manis itu.

 

**

 

Flashback

 

Pria itu menatapku lekat-lekat. Manik hitamnya kembali memaksaku untuk membalas tatapan matanya. “Is anything wrong, oppa?” tanyaku padanya. Ia terlihat menundukkan kepalanya, dan langit semakin gelap. “Any” tuturnya. Aku mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. “Apa?” tanyaku. “Kita sudahi saja hubungan kita, aku mohon kau mengerti, kedua orang tuaku sudah menjodohkanku” tuturnya. Penuturannya menjadi hantaman yang membuatku terhempas jauh. Bagaikan halilintar yang menyambarku. Manusiawi jika aku menangis, hatiku merasakan sakit dan perih yang teramat-sangat. “Aku pergi dulu” ujarnya yang dengan sangat cepat, menghilang di gang itu. Saat itu juga hujan turun membasahi bumi. Seolah langit ikut menangis menyaksikanku dengan Baekhyun oppa.

 

Hubungan kami baru saja menginjak usia satu tahun bulan lalu. Ingin rasanya aku menabrakkan diriku dengan truk yang berlalu-lalang di jalanan. Namun rasanya aku tidak boleh egois, aku masih memiliki keluarga, dan juga temanku, Park Chan Yeol.

 

**

 

Sejak hari itu, hidupku berubah. Tidak ada canda, tawa, dan segala keceriaan yang biasanya kudapatkan dari Baekhyun. Jarang makan, jarang bicara, dan jarang sekali keluar rumah. Jikalau keluar rumah pun tidak ada tempat yang senyaman taman itu. Aku dan Baekhyun mengklaimnya sebagai “BaekYoung’s corner” terdengar aneh. Namun itu terdengar lucu di telingaku. Baru saja aku ingin melangkah ke taman itu. Hatiku dibuat panas oleh dua insan yang salah satunya sangat kukenal. Baekhyun dan calon istrinya, sedang bermesraan di taman itu. Kemudian Baekhyun melihatku yang tengah terpaku di tengah gang. Baekhyun pun menghampiriku. “Sudah kuduga kau pasti ke sini, ini undangan untukmu, aku tidak memaksa kau untuk datang, setidaknya aku lega sudah menyampaikan ini” ujar Baekhyun sambil memberiku selembar undangan berwarna emas dengan motif bunga. “Terimakasih, lanjutkan saja acaramu, aku akan pergi” jawabku kemudian berbalik, dan pergi dari tempat itu. Belum lama aku berjalan, hujan sudah mengguyur bumi. Hujan selalu tahu letak kesedihanku. Seolah ia menangis menyaksikanku menangis.

 

**

 

Sama seperti hari ini, hujan sudah kembali mengguyur bumi. Aku pun menangis, sambil menatap kosong objek di hadapanku. Sampai kurasakan sebuah tangan menyentuh bahuku. “Pergilah Chanyeol, aku butuh waktu sendiri, jangan harapkan aku datang, karena itu mustahil” ujarku tanpa menoleh sedikit pun. Tak adakah secercah harapan pun bagiku untuk kembali dengan sosok itu? “Kau menganggapku Chanyeol?” seketika tubuhku menegang. Kuberanikan diriku untuk menoleh ke belakangku. “B-Baekhyun oppa?” ucapku tergagap. Ia hanya tersenyum. Senyum terbaiknya, yang selalu menghangatkan perasaanku. “Apa acaramu sudah selesai?” tanyaku dengan volume suara agak keras, takut jika suaraku tersamarkan oleh hujan yang perlahan makin deras. “Aku membatalkan acaranya, aku tidak siap jika harus bersanding dengan orang yang bahkan aku tidak tahu asal-usulnya” ucapnya enteng.

 

Ia semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku. Ia mencium keningku, lalu turun ke hidungku, dan terakhir bibirku. Ciumannya masih sama, masih terasa manis. Kemudian aku melepaskan tautannya di bibirku. “Kau kembali untukku?” entah mengapa tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dari mulutku. “Ya, kita akan bersama lagi, mau, kan?” ujarnya. Senyum merekah di bibirku. Bodoh jika aku menjawab tidak. “Tentu saja” jawabku. Kemudian, ia merengkuh tubuhku ke dalam pelukan hangatnya di tengah-tengah hujan yang dingin.

 

-END-

Oh astaga aku nulis apa ini x_____x maaf kalo gaje begini. Namanya juga ide tiba-tiba wkwk T^T Btw, ayo dicomment. Ini pasti cerita jelek banget ya ampun T^T

4 thoughts on “Under The Rain

  1. ko pendek bgt si? lg seru bca tiba2 end –” aku suka bgt thor, bgus, susunan kata2nya menarik bgt, sekedar masukan aja, td kan beberapa kali ada flashback nah ketika ceritanya udh kmbli k alur yg semula lbh baik d ksh tnda ‘flashback off’ gt thor biar pembca gak bingung, itu aja, keep writing thor! oiya, squelnya jg yg thor :p

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s