[FREELANCE] Daylight

Daylight

Daylight

Cast: Kris (Exo-M) and You || Genre: Fluff, Romance || Length: Vignette || Rating: PG-15

Recommended song: Daylight – Maroon 5

= Summary =

When the daylight comes, I’ll have to go

But tonight, I’m gonna hold you so close

Cause in the daylight, we’ll be on our own

But tonight I need to hold you so close

Ghivorhythm’s special present

 

 

// DAYLIGHT //

 

 

Tiit. Suara merdu yang sangat ku rindukan—akhirnya terdengar juga. Suara apartemen terbuka. Rasanya hanya mendengar suara semacam itu saja, hatiku sudah sangat senang—sebenarnya karena membayangkan tempat tidur yang nyaman dimana aku akan beristirahat.

Hari ini cukup melelahkan, mulai dari kuliah hingga kerja paruh waktu. Badanku pegal-pegal semua. Rasanya ingin segera berendam di—

“Kris?”

Aku segera menutup mulutku saat sadar aku mengucapkan nama kekasihku itu cukup keras. Aku tak mau mengganggu tidurnya. Ia pasti sangat lelah, sampai-sampai tertidur di sofa tanpa terlebih dahulu melepas jaket dan kacamata tak berlensanya. Pasti karena mempersiapkan comeback.

Alih-alih menghampiri Kris, aku malah berbelok menuju kamarku. Sebisa mungkin aku berusaha agar tidak menimbulkan suara-suara yang dapat membangunkannya. Tapi..

“Mau kemana?” Terdengar suara berat Kris yang agak serak.

Gawat, tertangkap basah. Sebenarnya cukup terkejut, sih, tapi aku berusaha menyembunyikannya dan bersikap seperti biasa.

“Sudah bangun, ya?” kataku sambil tersenyum lebar.

Kris bangkit, lalu berjalan dengan langkah gontai ke arahku. Aku bisa melihat wajah lelahnya. Dan sesaat kemudian, dia sudah mendaratkan kepalanya di bahuku. Wangi parfum Kris yang sudah bercampur dengan keringat memenuhi rongga hidungku, wangi yang selalu membuatku merasa aman dan nyaman.

“Kris..sesak.” protesku. Tapi, Kris malah semakin mengeratkan lingkaran tangannya di tubuhku.

“Ini hukuman karena pulang terlambat! Jadi, terima saja.” balas Kris, dingin. Kalau begini, sih, tiap hari aku akan pulang terlambat.

Aku tak berminat meladeni ucapannya—atau lebih tepatnya tak tahu harus menjawab apa, jadi selama beberapa menit tak ada pembicaraan diantara kami. Kris terus memelukku dan aku hanya bisa membiarkannya.

“Besok, Exo akan comeback.” kata Kris pada akhirnya. Samar-samar, tersirat ketakutan dalam kalimatnya.

“Baguslah. Fans kalian sudah menunggu lama.” sahutku, masih dalam pelukkan Kris.

“Berarti, kita akan jarang bertemu.”

Ah, iya. Tapi, itu memang resikonya, Kris. Dan aku tahu itu. Kau akan sibuk dengan promosi lagu dan acara manggung dimana-mana, tidak bisa menemaniku lagi seperti hari-hari yang lalu. Tapi, aku juga akan sibuk, kok. Sibuk dengan kuliah dan kerja paruh waktu. Lagipula hal seperti itu, tak dapat dihindari, bukan?

“Kita tahu hari itu pasti akan datang. Tapi, kita masih bisa saling mengabari lewat telpon, kan?” kataku. Sebisa mungkin kutunjukkan keceriaan dalam setiap kalimatku agar Kris tak merasa khawatir.

“Hm..” Bisa kurasakan Kris mengangguk kecil karena dagunya masih menempel di bahuku.

“Sudah makan?”

“Belum.”

“Kenapa? Mau kubuatkan makanan? Ah, terlalu lama. Kita pesan saja, ya?”

Sebenarnya aku malas masak, sih, —walau Kris suka masakanku—makanya aku menawarkan memesan makanan saja. Habis aku tak punya tenaga lagi.

“Pesan makanan saja,” kata Kris, dia bahkan tak mau melepaskan pelukkannya—tapi setidaknya dia setuju dengan usulku, “kalau aku memintamu masak, kasihan kau.”

“Kasihan aku?”

“Habis kerja paruh waktu, kan? Bahumu tegang, tuh. Kerja apalagi, sih? Aku, kan, sudah bilang, jangan kerja paruh waktu lagi.”

Duh, jadi ketahuan, ya? Kris memang mengerti diriku, sih. Tapi, aku malah tidak mengerti dirinya. Walau dia sudah melarangku untuk kerja paruh waktu, tapi tetap saja aku melakukannya.

“Tidak berlebihan, kok. Cuma kerja paruh waktu di toko CD.”

“Bohong. Aku bisa mencium aroma kopi tahu!”

Lagi-lagi ketahuan. Ternyata menyanggah tak ada gunanya. Sepertinya aku memang tak ditakdirkan untuk berbohong pada Kris. Habis, mau bagaimana lagi? Hanya satu kerja paruh waktu tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhanku.

“Itu aroma parfumku.”

“Bohong.”

“Benar, kok! Aku baru beli kemarin.”

“Tidak percaya. Aku tahu selera parfummu seperti apa.”

Oke, tak bisa menghindar lagi. Selain kerja paruh waktu di toko CD, aku juga bekerja di coffee shop.

.

.

.

.

.

.

“Kenapa tidak dimakan?” tanyaku seraya menyuapkan mulnaengmyeon—mie dingin—ke mulutku.

Kris tersenyum, “Melihatmu makan sudah membuatku kenyang.”

Itu mengejek atau apa, sih? Setelah meliriknya singkat aku kembali fokus pada makanan enak yang ada dihadapanku. Lagi-lagi Kris tersenyum, tapi kali ini ia memakan mie itu. Setidaknya tatapannya tidak lagi tertuju padaku.

“Lain kali, jangan lupa makan!” kataku, mencairkan suasana—habis aku merasa malu kalau Kris terus memperhatikanku saat makan.

“Aku tidak lupa, kok.”

“Kalau bagitu, kenapa jam segini belum makan?”

“Tidak ada waktu.”

Ah, iya. Aku lupa, latihan. Dia pasti sangat sibuk. Tapi, kalau sibuk, mengapa masih sempat datang kemari? Kenapa tidak pulang ke dorm saja?

“This is our last night.” kata Kris dengan tatapan hampa setelah beberapa saat. Apa katanya? This is our last night? Seperti orang yang mau berpisah saja. Kau tidak akan memutuskan hubungan kita, kan, Kris?

Aku tak tahu harus berkata apa, dan aku tak tahu apa yang dirasakannya saat ini hingga dia berkata seperti itu. Karena jujur saja walaupun aku ini kekasihnya, ia tak membiarkanku mengetahui semua tentang dirinya. Yang kuketahui hanyalah hal umum yang biasa diketahui seorang kekasih dan beberapa hal tentang keluarganya. Sisanya aku tak tahu.

“Apa yang kau bicarakan, sih? It’s not our last night!”

Yeah, aku berharap ini bukan yang terakhir. Tapi—”

“Masih banyak malam lainnya!” kataku, menginterupsi, “jadi, makan saja makananmu!”

Kris menyuapkan mie ke mulutnya, samar-samar aku mendengar gumamnya: “But it’s late.” Begitu katanya.

“Kau tidak pulang ke dorm?” tanyaku, lembut—berbeda dengan tadi. Sebenarnya aku bimbang, antara menyuruh Kris untuk pulang ke dorm atau membiarkannya menginap disini. Kalau aku menyuruhnya pulang ke dorm, berarti aku bisa bebas beristirahat tanpa harus khawatir akan keberadaannya. Tapi, kalau aku menyuruhnya pulang.., besok, kan, tidak bisa bertemu dengannya.

“Kenapa? Kau ingin aku pulang?”

“Tidak, kok.”

“Baguslah. Hari ini aku akan begadang.”

Aku sedikit terkejut. Harusnya ia ingin istirahat bukan begadang. “Jangan! Besok kau harus tampil baik. Kalau tidak tidur, nanti kelelahan.”

Kris bangkit, dengan gelas kosong yang berada di tangannya. Ia beranjak menuju kulkas sambil berkata, “I’m trying not to sleep.”

Benar-benar terdengar seperti anak-anak yang melawan perintah ibunya.

.

.

.

.

.

.

Kris memang tak pernah bercanda dengan ucapannya. Sekarang kami berdua sedang begadang sambil melihat pemandangan dari kaca tembus pandang yang ada di ruang tengah. Aku dan Kris menghangatkan diri dengan selimut yang cukup untuk menyelimuti kami berdua. Rasanya hangat dan romantis.

“Mengantuk?” tanya Kris sambil memandangku yang saat itu sedang menguap. Aku tersenyum kecil dengan tatapan kami yang saling bertemu. Dia kemudian merapikan poniku. Jantungku berdegup cepat, dan sepertinya pipiku bersemu.

Setelah merapikan poniku, Kris tersenyum lalu mencubit pipiku gemas. “Kalau mengantuk, tidur saja.”

Aku menggeleng pelan. “Aku akan menemanimu.”

“Jangan dipaksakan! Aku tahu kau lelah.”

Aku terdiam, memikirkan alasan apa yang harus kuberikan. Selama itu Kris masih memandangiku lekat-lekat, membuatku tersipu malu karenanya.

“Kalau begitu, aku mandi dulu, ya?”

“Jam segini mandi? Apa tidak terlalu malam?” Tampaknya Kris khawatir, dan aku selalu suka saat dia mengkhawatirkanku.

“Tidak, kok.”

Aku segera bangkit, berjalan menuju kamarku. Tapi, tiba-tiba ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada Kris. Dan ternyata, kakiku telah berhenti melangkah, “Kris..?” kataku. Kris menoleh. “Kenapa kau ingin begadang?”

Pertanyaan yang agak aneh memang. Habis aku penasaran. Malam ini, kan, tidak ada siaran pertandingan bola, lalu mengapa Kris ingin begadang?

Sudut bibir Kris terangkat. Smirk. Oh, dia itu! Benar-benar membuatku semakin terjatuh untuknya.

Angin keseriusan tiba-tiba bertiup, “Cause I know, when I wake, I will have to sleep away.”

Aku terdiam. Sepertinya aku mulai memahami apa yang Kris rasakan saat ini. Sebuah rasa antara bahagia—karena comeback-nya bersama Exo—dan rasa takut—karena akan jarang bertemu denganku. Jadi, yang bisa kulakukan saat ini hanyalah, kembali melanjutkan langkahku menuju kamarku, dimana kamar mandi dengan bathtub menungguku. Tapi..

“Kris..?”

Aku menyembulkan kepalaku di pintu. Kris yang menoleh pun berkata, “Apa lagi?”

“Aku tidak menyangka kalau seleramu itu..warna pink.”

Kris membulatkan matanya, terkejut (Kris saja terkejut, bagaimana dengan aku??). “Semua barang-barang di kamarku, mulai dari boneka, jenga, hingga bouquet semuanya kau yang pilih, kan?”

Tawa Kris terdengar, ia menghampiriku. “Memangnya kalau aku pilih benda-benda itu, kenapa? Hanya karena warnanya pink, jadi kau menyimpulkan kalau aku menyukai warna pink?”

Kris masih tertawa, sedang aku hanya bisa diam sambil memandanginya yang lebih tinggi dariku. “Tapi, maniskan ?” tanyanya, penuh pengharapan. Pandangan kami saling bertemu.

“Aku suka bouquet-nya. Warnanya pink soft. Tapi, sisanya..”

Kris merengut, “Ya, sudah. Kalau tidak suka kuberikan pada gadis lain saja.” Dia berkata seperti itu sambil beranjak masuk ke kamarku. Tapi, aku lebih cepat darinya. Tanganku sudah terlentang di pintu, menahannya agar tidak masuk untuk mengambil barang-barang itu.

“Haha, kau ini..” Kris mencubit pucuk hidungku dengan gemas. Sepertinya dia puas sekali melihat responku. Kini wajahnya benar-benar berada di depan wajahku, membuatku bisa melihat dengan jelas setiap lekukan indah wajahnya. Alhasil, pipiku pun bersemu.

“Dengar ya?” kata Kris, nadanya seperti sedang berbicara dengan anak TK, “kalau kau rindu padaku, sedang sedih, ataupun bahagia, jangan peluk orang lain! Apalagi memeluk pria lain, itu sangat dilarang! Jadi, sebagai penggantinya, kau peluk boneka itu saja.”

Jadi itu alasannya mengapa dia memberiku boneka? Haha, kekanak-kanakan, sih. Tapi, entah mengapa, aku selalu suka caranya. Setiap caranya memperhatikanku dan menunjukkan kecemburuan serta rasa takutnya. Di mataku, hal itu tampak manis.

“Oh, iya. Kalau kau sedang bosan, jangan main dengan pria lain. Main jenga saja. Oke?” tambahnya. Ia kemudian mengacak-acak rambutku gemas.

“Dasar, kekanak-kanakan! Jadi, kau memberiku boneka karena tak mau aku memeluk orang lain? Kau memberiku jenga, karena tak mau aku bermain dengan pria lain?” kataku, menyimpulkan.

Kris menjauhkan wajahnya, kemudian berkata dengan tenang, “Memang kekanak-kanankan, sih. Tapi, itu lebih baik, daripada suatu saat nanti, ketika aku sedang perform pikiranku buyar karena memikirkanmu yang sedang berpelukan dengan pria lain.”

Ya ampun! Polosnya. Aku baru tahu Kris seposesif itu. Tapi, tak apa, sih. Di mataku sifat kekanak-kanakannya itu malah berubah menjadi pelengkap dari kesempurnaanya. Oh, Kris! Kau tak perlu takut aku akan berpelukan dengan pria lain—kecuali ayahku—karena aku sepenuhnya telah jatuh untukmu.

“Sudah. Sana mandi!” kata Kris, datar. Ia beranjak meninggalkanku, menuju sofa putih di ruang tengah.

Tadi posesif, sekarang datar. Maunya apa, sih? Tapi, ya sudahlah. Lebih baik aku mandi dan menghilangkan aroma kopi yang sedaritadi dia keluhkan. Anggap saja itu sebagai ungkapan rasa terima kasihku atas semua pemberiannya—sebenarnya, sih, karena aku tak mau tampil buruk di hadapannya.

.

.

.

.

.

.

 

Nyamannya. Setelah berendam di bathtub, berganti pakaian, dan menyisir rambutku, rasanya aku kembali hidup (Oke, itu terlalu berlebihan). Sekarang tinggal satu sentuhan lagi—walau sebenarnya jarang sekali kulakukan kalau tak ada Kris di apartemen—menyemprotkan parfum.

Baiklah. Saatnya keluar, dan menemani Kris. Tapi, apa dia masih terjaga? Oh, sebaiknya aku bawa boneka besar pemberiannya. Sedikit candaan pasti akan menghidupkan suasana, kan? Hehe.

Aku melangkah, menghampiri Kris—yang sibuk dengan ponselnya—sambil menyeret boneka teddy bear yang sangat  besar itu (ternyata boneka itu lumayan berat).

Sadar akan keberadaanku, Kris mengangkat wajahnya dari layar ponsel dan menoleh ke arahku. Tatapannya seperti heran, tapi ya sudahlah.

“Kau tega sekali.” katanya tanpa mengalihkan maniknya dariku.

“Tega?” tanyaku setelah duduk di sampingnya. Oh, ada Ace juga? Kapan dia membawanya? Sepertinya tadi aku tidak melihatnya.

“Melihat boneka itu diseret, aku juga merasa kau seret.”

Oops, aku lupa. Boneka teddy bear itu, kan, diibaratkan seperti Kris. Haha, duh, maaf ya, Kris. Aku lupa.

“Hihi, kau mau kuseret?” godaku, iseng. Kris melayangkan tatapan ngeri, dan aku puas melihatnya. Kris kemudian menyelimutiku, dan kami kembali dalam suasana hening. Aku tak melihat rasa kantuk di wajah Kris. Sepertinya ia benar-benar ingin begadang. Lalu, bagaimana denganku? Kalau aku begadang juga, bisa-bisa besok telat berangkat ke kampus.

Kris menyingkirkan ponselnya, sepertinya ia bermain dengan ponselnya karena bosan menungguku—yang malah asyik berendam. Jadi merasa bersalah.

“Sepi, ya?” kataku, memecah keheningan. Aku memeluk kedua kakiku dengan dagu yang bertumpu disana.

“Lalu, kau mau bagaimana? Mau mendengar alunan lagu rock?”

Duh, betapa tidak romantisnya pria ini. Tapi, dia itu pria yang sama dengan pria yang memberiku boneka dan bouquet, kan ? “Tidak. Tidak usah. Lebih baik hening. Aku suka itu.”

“Huh, dasar! Aku, kan, cuma bercanda.”

Lagi-lagi hening. Rasa kantukku semakin menjadi-jadi, apalagi tak ada pembicaraan di antara kami. Duh, bagaimana ini?

“Hei?”

“Apa?”

“Ace mau menginap lebih lama disini.”

Hah? Ace? Menginap lebih lama? Duh, Kris! Kau itu si leader Exo-M itu, kan? Iya, kan? Yang karismanya selalu terlihat itu, kan? Kok, dia begini, sih? Apa katanya tadi? Ace mau menginap lebih lama disini?

“Katanya..dia ingin menginap di rumah ibunya.”

Apa? Ibunya? Jadi, aku ibunya Ace, Kris? Oh, aku tidak bisa menahan tawaku yang tak bisa kutahan lagi. Tapi, kalau tertawa nanti Kris terluka, padahal dia sudah bersikap manis seperti itu. Duh, mengulum senyum saja, deh.

“Kenapa tertawa?” tanya Kris. Marah, ya? Haha, manisnya..

 “Untuk kedepannya, aku akan sangat sibuk. Jadi, tak bisa mengurusi Ace. Kurasa akan lebih baik kalau dia disini.” Dia menyerahkan Ace—boneka alpaca-nya—padaku. Aku, sih, menerima saja. Lagipula, Ace, kan imut.

“Jaga baik-baik, ya?”

Aku memicingkan mataku, rasanya aneh kalau aku cemburu pada Ace. Dia hanya boneka tapi Kris sebegitu sayangnya padanya.

“Iya.” singkatku.

Lagi-lagi rasa kantuk menghampiri. Apalagi ada Ace dalam pelukkanku, rasanya cukup merebahkan badan dan aku akan terbang ke alam mimpi.

Tiba-tiba Kris menarik bahuku, menyandarkan kepalaku di dadanya. Hangat. Dia membelai rambutku pelan, dagunya diletakkan di atas kepalaku, kalau begini caranya aku bisa tidur nyenyak!

“Tidurlah..” bisiknya, lembut. Dia terus membelai rambutku, tapi, aku tak mau dia begadang sendirian. Maka, aku mendorongnya, menarik diriku—dan Ace tentunya—dari pelukkannya yang terasa begitu hangat. Ekspresinya menunjukkan kalau ia sedang kebingungan. Benar-benar lucu.

“Tidak mau.” kataku, membantah. Lama-lama aku seperti anak kecil yang sulit disuruh tidur.

“Kenapa? Tidur dalam posisi seperti tadi enak, kan?” tanyanya. Dia itu sedang menggodaku, ya?

Aku kehabisan alasan. “..em, kalau aku tidur, nanti kau kabur lagi!” Oke, itu alasan yang cukup aneh. Tapi, kurasa lumayan juga.

Kris menunjukkan senyumannya yang mematikan. Ia mencubit pipiku, namun sesaat kemudian berubah menjadi belaian lembut. Merasa canggung dan malu, itulah yang kurasakan. Aku jamin pipiku semerah tomat!

“A..apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku, terbata-bata. Sepertinya aku belum bisa mengontrol diriku.

“Aku?” kata Kris, “I’m staring at your perfection.”

Ya-am-pun. Sebuah pertanyaan yang seharusnya tak kuucapkan. Ini malah membuatku semakin terjebak! Sekarang pipiku semakin merah saja. Pria ini. Kris. Benar-benar perayu yang hebat!

Aku tak sanggup bicara lagi. Hatiku telah melambung jauh ke udara. Merasakan lembutnya awan-awan yang dihiasi pelangi cinta. Baiklah, kali ini aku akan membiarkan Kris menang dan membiarkan pipiku memerah serta jantungku berdegup kencang—bahkan sangat!

Entah berapa menit atau jam yang Kris habiskan hanya untuk memandangiku. Namun, kini ia mulai buka suara.

“Kenapa terasa cepat sekali, ya?” katanya.

“Hm..? Apanya?”

“Sekarang sudah jam 2 pagi.” Dia melirik ke arah jam dinding. Ah, benar. Ternyata waktu berlalu dengan cepat, ya?

“I never want it to stop.” katanya, lagi. Dari nadanya, aku benar-benar yakin Kris sedang bimbang. Tapi, aku juga merasa beruntung. Menjadi kekasih Kris. Mewarnai hari-harinya. Aku sangat bersyukur.

“..so, don’t let it to stop.”

Akhirnya Kris menarik tangannya, kembali memandangi kaca tembus pandang yang sampai sekarang tirainya tak kubuka.

“I will tell you something,” katanya, aku bisa merasakan sebuah keseriusan, “when the daylight comes, I’ll have to go. But tonight, I’m gonna hold you so close. Cause in the daylight we’ll be on our own. But tonight, I need to hold you so close..”

Inikah ungkapan perasaannya? Sebesar itukah rasa takutnya? Hanya karena dia akan kembali sibuk dengan promo dan perform, dia..

Entah mengapa sepertinya mataku mulai berkaca-kaca. Kini Kris menggenggam tanganku, pandangannya tertuju pada kedua mataku, sangat lekat. “All that I want, it’s you.”

Dia membunuh jarak di antara kami, dan dalam sekejap bibirnya sudah berada di atas milikku. Sangat hangat. Penuh rasa sayang dan cinta.

Kini aku mengerti.

Hal yang Kris takutkan.

..dan yang Kris inginkan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Here I am waiting
I’ll have to leave soon
Why am I holding on?
We knew this day would come
We knew it all along
How did it come so fast?
.

.

.
This is our last night but it’s late
And I’m trying not to sleep
Cause I know, when I wake, I will have to slip away
.

.

.
And when the daylight comes I’ll have to go
But tonight I’m gonna hold you so close
Cause in the daylight we’ll be on our own
But tonight I need to hold you so close
.

.

.

END

 

 

A/N: HUUUAAAAAAAA /capslock jebol/  /terlalu semangat gara-gara exo yg mau kambek/ Ini..duh..emang bener yah aku tuh nulis tergantung banget sama mood. Kalau moodnya lagi good ya nulis sehari pun jadi. Tapi, beneran deh ini tuh happy ending atau sad ending aku ga tau O___O  Tapi, aku tetep berharap (banget malahan) ‘rasa manis’ nya nyampe ke kalian ^.^ Kalo ada kesalahan dan lain sebagainya, mohon dimaklum yaaa~ Terakhir, aku harap kalian mau ninggalin review ^.^

Gomawo~ Bye-bye~ See you again~

4 thoughts on “[FREELANCE] Daylight

  1. So sweet banget!
    Apalagi sekarang rambutnya baru dan makin ganteng, jadi ngebayangin sendiri rasanya jadi pacarnya Kris >.<

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s