[Oneshot] Evening Sky

evening-sky

 

Evening Sky || Written by pearlshafirablue || Staring by Seo Joohyun [GG] – Oh Sehun [EXO-K] – Kim Minseok [EXO-M] || Romance – Hurt/Comfort – Sad || PG-15 || Oneshot-Songfic

Disclaimer
This story is inspired from Ailee’s Evening Sky. This is only a fiction. Don’t think this too hard. I don’t make money for this.

Summary
Ini kisah tentang seorang gadis yang belum pernah mendapat kebahagiaan dalam hidupnya. Ketika ia baru saja menemukan kebahagiaannya, Tuhan dengan cepat merenggutnya. Dan siapa yang tahu bahwa sebenarnya kebahagiaannya selalu berada di sampingnya.

PEARLSHAFIRABLUE®

Seperti apapun harinya

Aku punya kebiasaan

Untuk tidak memandang langit senja

Aku takut seisi dunia akan meninggalkanku

Aku tak suka perasaan aneh itu

PEARLSHAFIRABLUE®

            “Ayo keluarlah, Seohyun!”

Aku memutar mataku—mengalihkan pandangan dari hamparan pasir luas di hadapanku. Ke arah lelaki itu.

Aku menggeser tubuhku mundur ke belakang beberapa meter. Senja sebentar lagi datang. “Tidak, Sehun-ah.”

Mendengar sahutanku yang begitu tak bersuara, Sehun mendekatiku. Lengan bajunya yang ia gulung sampai di atas siku bermandikan keringat—atau air laut. Entahlah. Yang jelas lengan kokohnya yang panjang itu basah kuyup. “Kenapa, chagi?” Tanyanya dengan suara lembut.

Aku tidak menjawab.

“Ayolah, Seo-ya. Masa daritadi kau diam saja disini? Aku bosan melihat Luhan ge dan Tiffany noona bermesraan di sana.”   Ujarnya sambil mengerucutkan bibir—menunjuk ke arah Tiffany unnie dan Luhan ge yang sedang bermain di pinggir pantai.

“Lagipula, sebentar lagi senja datang, Seohyun.”

Ucapan Sehun langsung membuat tatapanku teralih ke arahnya. Menatap mata dinginnya itu dengan intens. Buku-buku jariku mengeras.

Sehun memiringkan kepalanya—tidak mengerti dengan apa yang terjadi denganku. Tentu saja, tidak akan ada yang mengerti. “A-ada apa, chagi? Kau sakit? Tidak enak badan?”

Aku hanya diam. Diam lagi, diam lagi. Dan Sehun masih tetap bertahan denganku kendati tingkahku aneh seperti ini.

“Seohyun-ah! Sehun-ah! Sedang apa kalian disana?! Kemari!” Terdengar seruan Tiffany unnie. Aku dan Sehun spontan menoleh ke arahnya yang sedang menyiram Luhan ge dengan seember air laut.

Aku langsung berdiri. Membersihkan pasir yang bersarang di antara lekukan rok pantaiku. Bisa kurasakan tangan Sehun menyentuh pergelanganku.

“Ayo, Seohyun. Tiffany noona sudah memanggil—”

“Sehun, bisakah kita pulang sekarang?”

PEARLSHAFIRABLUE®

Padahal besok mentari yang tenggelam itu akan datang lagi

Tapi rasanya bukan mentari yang akan menyinariku

Meski kau pergi cinta akan datang lagi

Meski perpisahan terasa mengguncang

Tetapi kamu tetap terbayang

 

PEARLSHAFIRABLUE®

            “Kanker otak. Sudah memasuki stadium 3. Kenapa baru diperiksakan sekarang?”

Perkataan dokter itu terus mengiang-ngiang di dalam otakku. Kanker otak? Selama ini aku mengidap kanker otak?

Aku mengacak-ngacak rambutku dengan kasar. Tidak tahan dengan semua kejadian yang mengejutkan ini.

Eh?

Aku memandang tangan kananku dalam diam yang panjang.

Tak terasa air mata sudah membentuk anak-anak sungai di pipiku.

Aku jatuh terduduk. Kupandangi ribuan helai rambut coklat yang kini menyangkut pada jari-jari tangan kananku.

Apa ini cobaan untukku, Tuhan?

GUBRAK!

Suara tersebut berhasil membuatku menoleh—melupakan rasa sakitku sejenak.

Seorang namja yang bertubuh sedikit gempal tampak sedang sibuk dengan seorang suster.

Ya! Kalau bawa trolley yang betul dong, suster! Coba lihat! Saya jadi jatuh, kan.” Gerutunya sambil membersihkan bagian bawah celana denim-nya.

Mwoya?! Maaf tuan, bukan bermaksud melawan, tapi kau jatuh karena tali sepatumu sendiri. Saya hanya kebetulan lewat.” Balas suster itu dengan lembut—sambil membungkukkan badan.

Namja itu melirik ke bawah—ke arah sepatunya. Benar saja, tali sepatu kanan dan kirinya saling terikat.

Namja itu berhasil membuatku terkekeh.

“Ah! Tidak mungkin, suster! Pasti insiden tadi yang membuat tali sepatu ini terikat sendiri!” Protes namja itu dengan pipi merah. Ia berusaha membetulkan tali sepatunya.

“Tapi tuan, tidak mungkin saya—”

“Hah, sudahlah! Mengaku saja suster! Atau saya adukan kepada satpam?” Bukannya tampak ketakutan, suster itu malah tertawa mendengar ancaman namja tadi. Begitupun denganku.

Ya! Kenapa kau tertawa, suster? Tidak ada yang lucu!” Seru namja itu dengan wajah serius yang menggemaskan. Entah ada angin apa, matanya bertemu dengan mataku. Dia memandangku dengan syok dan cemas. “Suster! Lihatlah! Kenapa yeoja itu?”

Namja dan suster tadi langsung mendekatiku. Aku berusaha berdiri—untuk membuktikan bahwa aku baik-baik saja.

Tapi mendadak dunia di sekelilingku berputar. Kepalaku pusing sekali. Perlahan-lahan mataku menutup.

“Hei, bertahanlah!”

Namja itu yang terakhir kulihat sebelum kesadaranku benar-benar menghilang.

PEARLSHAFIRABLUE®

Kalau kuberikan hatiku pada seseorang

 Aku punya kebiasaan menyisakan setengahnya

Aku takut dia akan pergi bila kuberikan semuanya

Aku tak suka prasangka aneh itu

PEARLSHAFIRABLUE®

            Are you sure you’re okay, Seohyun?”

Aku memandang wajah Tiffany unnie dengan lirih. Aku yakin sekali wajahku persis seperti mayat hidup sekarang.

“Iya, Seohyun. Kalau kau benar-benar sakit, kita langsung ke rumah sakit saja.” Tambah Luhan ge—sembari memberikanku sebotol air mineral. Wajahnya tampak pucat dan cemas. Oh God, aku sudah membuat semua orang khawatir.

“Seohyun!” Terdengar seruan Sehun dari belakang. Kami bertiga menoleh. Di belakang kami mobil jeep hitam Sehun sudah terparkir dengan rapi.

Sehun buru-buru keluar dari kursi pengemudi dan langsung menuntunku masuk.

Ketika Sehun memanaskan mobil, mendadak Luhan ge memanggilnya dari kursi penumpang belakang. “Hunnie, aku dan Tiffany tampaknya berhenti di depan jalan tol saja.”

“Apa?” Sehun tampak kaget. Begitu juga denganku. “Kenapa?”

“Malam ini aku dan Tiffany diundang makan malam di rumah keluarga Wu. Kris ge akan menjemputku disana.” Jelas Luhan ge.

Ge, aku bisa mengantarkanmu sampai—”

“Tidak usah, Sehunnie.” Potong Luhan ge dengan cepat. Dia langsung menoleh ke arahku. “Seohyun tampaknya tidak sedang baik-baik saja. Kau harus antar dia pulang secepatnya.”

Sehun buru-buru memandang ke arahku. Dia menatapku lama sekali hingga akhirnya dia mengangguk. “Arasseo.”

PEARLSHAFIRABLUE®

Aku tak bisa sampai memberikan setengah hati yang kusimpan ini

Aku tak mau menunjukkan setengah diriku yang telah hancur

Terkadang aku tertawa karena senang

Dan terkadang aku merasakan kebahagiaan

Tapi dirimu masih di dalam diriku

PEARLSHAFIRABLUE®

            Aku membuka kedua mataku dengan perlahan. Putih.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata berkali-kali dan langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Tentu saja rumah sakit.

Ya, aku berada di salah satu bangsal di rumah sakit Seoul.

“Tidak bisa begitu, suster! Dia sakit!”

Mendadak aku mendengar kegaduhan dari luar. Suara namja itu lagi.

“Tapi, tuan, kalau tidak ada satupun keluarga yang mendampinginya kita tidak bisa tetap merawatnya! Apalagi tentang administrasi—”

Halah! Administrasi biar aku saja yang urus! Yang jelas, wanita itu harus tetap dirawat! Kau tidak dengar perkataan dokter tadi? Dia sakit kanker!”

Kanker? Ah, aku sudah tahu.

Tiba-tiba pintu terbuka. Aku menoleh ke arahnya dan bisa kulihat namja tadi memandang ke arahku.

Dia mendekatiku.

“Kim Minseok imnida.” Namja itu mengulurkan tangannya kepadaku. Di wajahnya terpasang senyuman lebar—memamerkan deretan gigi-gigi putihnya.

Aku menjabat tangannya. “Seo—”

“Waah!” Mendadak dia berteriak. “Tanganmu dingin sekali!” Tambahnya sambil berbalik memunggungiku. Aku yang sedikit syok melihat reaksinya hanya bisa melihatnya berjalan dan membawa secangkir teh—panas mungkin—di tangannya.

“Mungkin dengan meminum teh ini kau bisa—aah!” Aku bisa melihat dengan jelas Minseok tersandung selang infus. Tanpa bisa kusadari, teh yang tadi dipegangnya sudah tumpah membasahi pergelangan tanganku.

“Aaaaaa!” Aku berteriak dengan suara serak. Panas! Aku tidak bohong, panas sekali!

Ketika air mataku nyaris keluar, dengan anehnya Minseok ikut berteriak. “Kyaaaaaa!” Jeritnya—sambil memandang pergelangan tanganku yang memerah. “Kau tidak apa-apa? Kau tidak apa-apa? Aku minta maaf!”

Minseok langsung menyambar tanganku dan ia menaruhnya di atas dada bidangnya. Ia mengelus-ngelusnya dengan lembut. Untuk sesaat aku sudah tidak merasakan sakit lagi.

Mataku bertemu dengan matanya. Aku merasa waktu berjalan lama sekali saat mata bulat besarnya itu menatap mataku dengan intens.

“Apa… tanganmu sudah hangat?” Tanyanya perlahan—masih tetap menatapku.

Aku menarik bibirku untuk memberikannya senyuman. “Sudah.”

PEARLSHAFIRABLUE®

Ada dimanakah hatimu?

Apakah di dekatku?

Seperti aku, terkadang

Tampaknya waktu tidak bisa menghapus segalanya

Aku masih tak mampu menyebut namamu dengan nyaman

PEARLSHAFIRABLUE®

            “Terimakasih atas tumpangannya, Sehun-ah!”

“Iya, lain kali aku yang akan membawa mobil, deh.”

Aku memandang ke arah Tiffany unnie dan Luhan ge yang kini sudah berada di luar mobil. Kedua tangan mereka saling berkaitan. Di wajah mereka terpampang senyum bahagia.

Mendadak aku ingin menjadi seperti mereka.

Tersenyum, bersama orang yang disayang.

Ah, aku saja sudah lupa bagaimana caranya tersenyum.

“Sama-sama, Tiffany noona, Luhan ge!” Jawab Sehun dengan senyumnya yang khas itu. Kemudian dia menoleh ke arahku. “Kau tidak mengucapkan salam perpisahan kepada gadis cantik ini?”

Aku menarik bibirku sedikit mendengar ucapan Sehun.

“Ah, sampai jumpa, Seohyun!” Seru Tiffany unnie dengan riang. “Jaga kesehatanmu ya! Minggu depan aku dan Luhan akan mengajakmu ke gunung kalau kau sehat!” Tambahnya—diikuti anggukan Luhan ge.

“Baiklah, tampaknya kita harus segera pergi. Sampai jumpa!” Seru Sehun sembari menginjak gas.

Akhirnya setelah beberapa detik mobil jeep Sehun sudah terpaut jauh dengan tempat pemberhentian Tiffany unnie dan Luhan ge.

“Seohyun-ah.” Sehun memanggil namaku.

“Hm?” Sahutku seadanya.

“Ada apa denganmu?” Tanya Sehun dingin—menatap jalanan dengan tatapan kosongnya itu.

“Tidak ada.” Jawabku—lagi-lagi seadanya. Aku memang tidak ingin banyak bicara dengannya.

Mobil tiba-tiba berhenti. Aku melihat kedepan. Lampu merah menyala dengan terang.

“Seohyun.” Sehun menoleh ke arahku. Kini tatapannya sedikit sendu. “Apa kau mencintaiku?”

Deg. Pertanyaan Sehun langsung menusuk ulu hatiku. Apakah aku mencintainya? Sampai sekarang pertanyaan itu bahkan belum bisa kujawab.

PEARLSHAFIRABLUE®

Bukan kau yang akan memelukku

Bukan aku seseorang yang akan memelukmu

Seperti ini hari terus berlalu

PEARLSHAFIRABLUE®

            “Ya! Oppa! Kembalikan!” Aku mengerang ketika novel yang sedang kubaca tadi direbut paksa oleh Minseok oppa.

Catch me if you can!” Serunya sambil menjulurkan lidah. Aku mendengus sebal dan langsung mengejarnya.

Tapi sayang sekali. Minseok oppa salah mengajakku lomba lari. Tak sampai 30 detik tubuh gempalnya sudah kupukuli dengan novel tebal tadi.

Ya! Sudah, Seohyun! Ya!” Serunya mengerang kesakitan. Aku memberikan death glare terbaikku dan langsung turun dari tubuhnya.

Minseok oppa menggosok-gosok bagian tubuhnya yang kupukuli tadi sambil memandangku dengan tatapan bengisnya. Aku tertawa melihatnya.

“Kenapa kau tertawa?!” Serunya sebal. Aku berhenti tertawa dan hanya mengulum senyum.

“Kau lucu sekali, oppa. Badanmu saja yang besar. Tapi kekuatanmu tak seberapa.” Ejekku sambil terkekeh. Minseok oppa langsung mencubit pipiku dengan keras. “Ya!”

“Makanya, jangan mentertawakan Kim Minseok.” Balasnya sambil mengerucutkan bibir.

Aku hanya terkikik sebentar dan langsung memandang ke atas. Langit sudah hamper senja. Matahari sudah mulai menghilangkan dirinya. Angin malam sudah mulai terasa. “Oppa…”

Ne?” Minseok oppa menoleh ke arahku.

“Aku bosan.” Ucapku manja sambil menatap ke arahnya.

Minseok oppa tampak berpikir. Alisnya yang naik turun itu selalu membuatku geli.

“Ah!” Tiba-tiba ia berteriak—membuatku benar-benar terkejut. “Kita keluar saja yuk!”

Aku membulatkan mataku. “Keluar?”

“Iya, keluar dari rumah sakit ini. Kau pasti bosan kan, sudah 2 bulan kau di sini terus, tidak pernah keluar.”

“Tapi, oppa, kata dokter—”

“Hah, sudahlah. Tidak usah perdulikan orang sok tau itu. Aku akan membawamu keluar!” Minseok oppa menarik tanganku ke arah lorong rumah sakit.

“Memangnya kita mau kemana?” Tanyaku—masih ragu.

Minseok oppa menatapku sambil tersenyum penuh arti. “Aku akan membawamu ke tempat favoritku.”

PEARLSHAFIRABLUE®

            “Kau bertanya apa, Sehun-ah?”

Terdengar bunyi klakson yang mengaum-ngaum dari belakang. Jalanan kota Seoul hari ini benar-benar padat akan kendaraan. Sudah nyaris 30 menit mobil kami tidak bergerak dari sini.

“Apakah kau—”

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku menatap Sehun sebentar dan dia mengangguk—menyuruhku mengangkatnya terlebih dahulu.

Yeoboseyo?”

Seohyun?” Terdengar suara Jessica unnie dari seberang sana.

Ne, unnie?”

Kau sedang berada dimana sekarang?” Tanya Jessica unnie.

“Ah, aku sedang dalam perjalanan pulang bersama Sehun. Ada apa?”

Bisakah Sehun mengantarkanmu ke rumah unnie? Hari ini Tiffany menginap di rumah keluarga Wu bersama Luhan. Bisakah kau menemani unnie malam ini?” Tanya Jessica unnie dengan suara penuh harap.

“Tentu saja, unnie.” Jawabku. “Aku akan sampai di rumahmu sekitar setengah jam lagi, Seoul macet parah hari ini.”

Baiklah, sampai ketemu nanti, Seohyun!”

Aku memutus sambungan telepon.

“Siapa?” Tanya Sehun tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya.

“Jessica unnie.” Jawabku singkat. “Antarkan aku ke rumahnya, Sehun. Hari ini aku bermalam di sana.”

“Bukankah kau berjanji akan bermalam di rumahku hari ini?” Tanyanya sarkastis. Aku menyipitkan mata. Apa aku tidak salah lihat? Wajah Sehun terlihat dingin sekali.

“Ah, maaf, Sehun. Mungkin lain kali. Kau tahu kan, Jessica unnie tidak akan bisa tidur jika tidak ada seorangpun yang menemaninya?” Balasku sambil membuka bagasi dashboard mobil—bermaksud mencari kesibukan lain.

Sehun tidak menjawab.

PEARLSHAFIRABLUE®

            “Pantai?” Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Nyaris semua orang di sekelilingku sekarang mengenakan pakaian renang dan baju-baju pendek. Banyak orang berjualan di belakangku. Dan bisa kudengar dengan jelas suara deburan ombak yang cukup asing di telingaku.

“Ya.” Jawab Minseok oppa singkat. Ia memandang ke langit. Dengan senyuman mengembang di bibirnya. Kurasa kini Minseok oppa bahagia sekali.

Kami berdua mengambil tempat duduk di dekat sebuah kedai makanan di pinggir pantai. Aku meraba pasir di bawahku—dan menggenggamnya. Aku benar-benar tidak pernah ke tempat ini.

“Jadi…” Aku memulai pembicaraan. “Tempat favoritmu adalah pantai, oppa?” Tanyaku.

Minseok oppa menoleh ke arahku. Dia hanya tersenyum sambil menggeleng. “Tidak juga.”

Mwo?” Aku menyerngitkan dahi.

“Ya, pantai sebenarnya bukan tempat favoritku.” Ujar Minseok oppa. Ia melukis sesuatu di atas pasir dengan ujung jari telunjuknya. “Aku hanya suka melihat matahari terbenam dari sini.”

“Matahari terbenam?”

“Ya. Aku suka sekali memandang langit senja. Ketika matahari mulai kembali ke peraduannya, ketika bulan mulai naik ke atas untuk menerangi dunia malam… intinya aku sangat menyukai senja.” Jelasnya sambil menatap ke arahku.

Langit senja?

Aku mengangkat kepalaku ke atas. Berusaha mencari daya tarik apa yang ada pada langit saat senja.

“Kau bisa bernyanyi, Seohyun?” Tanya Minseok oppa tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya dengan cepat dan wajahku mulai memanas.

“Ah… aku… aku…”

“Tunggu sebentar, ya.” Ucap Minseok oppa beranjak berdiri dari tempatnya.

Beryanyi? Ah. Sudah lama aku tidak bernyanyi.

Tak sampai semenit, Minseok oppa datang kembali dengan gitar di tangannya.

“Ka-kau serius, oppa?” Tanyaku sambil memandang gitar di tangan Minseok oppa dengan ragu.

“Ya, bernyanyilah, Seohyun.” Pinta Minseok oppa sambil menaruh gitar coklat itu di atas pangkuannya. “Gadis sepertimu membutuhkan banyak refreshing. Menyanyi bisa menyegarkan pikiranmu, Seo-ya.”

“Ta-tapi—”

“Ayolah.” Minseok oppa menarik lenganku—mendekatkan diriku dengannya. “Kau tahu lagu Taylor Swift? Speak Now?”

“Itu lagu kesukaanku!” Seruku refleks. Minseok oppa tersenyum ke arahku. Aku buru-buru menutup mulutku. “Ah, ti-tidak oppa, aku hanya—”

Kata-kataku tertahan di tenggorokan. Memandang senyuman Minseok oppa yang begitu tulus itu membuatku tak bisa berkata apa-apa.

“Baiklah.” Jawabku membalas senyumannya.

“Nah! Itu baru Seohyun-ku!” Seru Minseok oppa dengan semangat. Perkataan Minseok oppa barusan membuatku tersipu.

Aku mulai bernyanyi.

I’m not the kind of girl

Who should be rudely barging in

On a white veil occasion

But you are not the kind of boy

Who should be marrying the wrong girl

I sneak in and see your friends

And her snotty little family

All dressed in pastel

And she is yelling at a bridesmaid

Somewhere back inside a room

Wearing a gown shaped like a pastry

This is

Surely not what you thought it would be

I lose myself in a daydream

Where I stand and say

Don’t say yes, run away now

I’ll meet you when you’re out

Of the church at the back door

Don’t wait or say a single vow

You need to hear me out

And they said ‘Speak Now’

PEARLSHAFIRABLUE®

            Aku menyerngitkan dahi saat mobil Sehun berbelok ke arah jalanan yang tidak kukenal. “Ini bukan jalan menuju rumah Jessica unnie.”

Sehun tidak menjawab. Ia tetap menatap jalanan di depannya dengan tatapan kosong yang tidak bisa kuartikan.

“Sehun-ah? Kau mendengarku?” Aku menyentuh pundaknya. Dia menoleh sebentar.

“Kita akan ke suatu tempat, Seohyun.” Jawabnya datar.

“Kemana?” Tanyaku tajam. Ada sesuatu… yang aneh disini.

Sehun tersenyum dingin. “Kau tidak perlu tahu.”

PEARLSHAFIRABLUE®

            Aku berjalan dengan langkah gontai menuju kamar mandi rumah sakit. Sudah nyaris setahun aku mendiami tempat ini. Tidak banyak yang kulakukan.

Tapi keadaan ini tidak sepenuhnya buruk.

Ya, dia adalah alasanku masih berada disini. Bukannya mengakhiri hidup dengan sebatang pisau yang awalnya sempat terbersit di otakku.

Kanker otak. Apa separah itu?

Aku berbalik. Berniat untuk mematut diriku sebentar di atas cermin kecil di atas westafel.

Mendadak tubuhku membeku.

Ba-bayangan siapa yang terpantul di cermin itu?

Mata merah dengan lingkaran hitam, pipi tirus, bibir pucat…

Dan yang terparah, rambutku mungkin hanya tinggal beberapa helai.

Inikah Seo Joohyun sekarang?

Aku menoleh ketika mendengar derit pintu dibuka. Minseok oppa memandangku dengan lirih. Ia menghampiriku dengan cepat. Ditariknya aku dalam pelukannya.

“Apa kau tidak mendengarkanku?! Kubilang jangan lihat cermin!” Bentak Minseok oppa tiba-tiba. Air mata sudah menggenang di pelupuk mataku.

O-oppa… apa seburuk itukah rupaku?” Tanyaku terisak.

“Itu bukan kau yang sebenarnya, Seohyun! Itu bukan kau! Kau tetap seorang gadis cantik dan ceria seperti pertamakali aku bertemu denganmu! Kau tetap Seohyun yang kukenal!” Serunya serak. Disusul dengan suara isak tangis.

“Kumohon Seohyun… tetaplah berjuang… kau akan sembuh… percayalah…” Isak Minseok oppa getir.

Oppa…” Aku melepas pelukannya. Memandang mata kelabunya yang kini banjir oleh air mata. Betapa tersiksanya aku melihat dirinya seperti ini. Tidak seperti Minseok oppa yang kukenal.

Perlahan—tapi pasti, kudekatkan wajahku ke arah wajahnya. Kutempelkan bibirku di atas bibir bawahnya. Begitu lembut.

Minseok oppa menarik diriku lebih rapat ke arahnya. Dia membalas ciumanku. Hangat tubuhnya merambat ke tubuhku melewati sentuhan ini. Begitu nyaman disini. Aku ingin bertahan dalam posisi ini untuk ribuan tahun.

Mendadak rasa sakit itu datang lagi. Kepalaku kembali mati rasa. Otakku berteriak-teriak kesakitan. Secepat inikah Kau mengambil kebahagiaanku, Tuhan?

“Se-Seohyun? Kau kenapa? Bertahanlah! Aku akan memanggil dokter!” Samar-samar kulihat bayangan Minseok oppa pergi menjauh.

Tidak, oppa… kumohon, jangan pergi…

PEARLSHAFIRABLUE®

            “Cukup, Oh Sehun!” Aku mendorong Sehun hingga tubuhnya terlempar sejauh 5 kaki di hadapanku. Ia menarik poninya ke belakang—menatapku dingin. “Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau nyaris membuatku kehabisan nafas.” Tuturku sebelum ia berucap apapun.

“Tapi kau kasar sekali, Seohyun. Kau tidak pernah ini jika aku menciummu.” Balasnya datar sembari berdiri dan membersihkan debu yang menempel di celana jeans-nya.

“Aku…” Aku merebahkan diriku di tempat tidur. Memandang Sehun yang berjalan menuju lemari pakaian dengan sudut mataku. “Hanya lelah, Sehun.”

Sehun tidak menunjukkan reaksi apapun. Ia sibuk memandangi salah satu vas bunga antik yang ada di atas meja kayu di sebelah lemari pakaian coklat di sudut ruangan. Hotel milik Yixing ini memang hotel bintang 5 yang benar-benar classy.

Aku berusaha untuk tidak menghiraukan Sehun dengan mengambil remote televisi dan menekan tombol on. Layar di depanku langsung menyala. Berita sore sedang diputar rupanya.

“Seohyun, kau tahu? Kau belum menjawab pertanyaanku di mobil tadi.” Ujar Sehun tiba-tiba. Aku langsung tersedak air liurku sendiri.

“Ya-yang mana?” Tanyaku berusaha tenang.

“Tidak usah pura-pura. Kau tahu apa maksudku.” Ucapnya tajam sambil memandang ke arahku. Tatapan dinginnya itu berhasil membuatku membeku.

“Te-tentu saja aku mencintaimu, Sehun. Kau namjachingu-ku. Buat apa aku menerimamu dulu kalau aku tidak mencintaiku?” Jawabku—tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi. “Anyway, bisakah kita ke rumah Jessica unnie sekarang? Lagipula untuk apa kau mengajakku kesini, Hunnie?”

Sehun beranjak bangkit dari tempat duduknya tadi—kursi kecil di depan mejar rias. Ia berjalan ke arahku dengan perlahan. Bisa kurasakan tempat tidur ini bergoyang saat tubuhnya menyentuh sprai.

“Kau menerimaku… bukan sebagai pelampiasan dari Kim Minseok kan?”

Deg.

Refleks aku menoleh ke arahnya. Aku menatapnya dengan intens.

“Apa aku tidak salah dengar? Kau tahu apa soal Minseok opp—maksudku Kim Minseok?” Desisku tajam.

Sehun tersenyum miring. “Sebagai dokter yang merawatmu dulu tentu saja aku tahu bocah itu. Bocah bodoh yang selalu datang menjengukmu, bermain denganmu, walaupun dia sudah kuberitahu berulangkali kalau umurmu hanya tinggal setengah tahun. Tapi dia tetap semangat membuatmu tersenyum.” Jawabnya pelan.

Kenapa? Apa kalian kaget bahwa Sehun adalah dokter yang merawatku saat kanker dulu? Tapi begitulah kenyataannya. Aku bertemu dengannya di rumah sakit itu.

“Hanya itu kan? Tidak lebih, eoh?” Balasku, sambil berusaha bangkit dari tidur. Sekarang diriku berhadapan dengannya.

“Yah, setidaknya aku tahu sesuatu yang tidak kau tahu, Seohyun-ah.”

Apa?

Aku terdiam cukup lama, hingga akhirnya ia membuka mulut lagi. “Siapa yang tahu kalau dia jatuh miskin karena kau.”

Aku menyerngitkan dahi—tidak mengerti. Sehun menatapku. Ia kembali menyeringai. “Kau tidak pernah tahu kan? Bahwa Minseok membayar biaya rumah sakitmu dengan menjual rumahnya? Menjual tanah dan warisan dari kedua orangtuanya? Kau tidak tahu kan?”

Tubuhku mendadak lemas.

“Kau juga tidak tahu kan kalau dia sampai menjual jantungnya untuk membayar biaya operasi dan terapi terakhirmu?”

Untuk yang satu ini, aku benar-benar tidak tahu.

PEARLSHAFIRABLUE®

“Selamat sore, agashi. Sedang apa Anda disini? Seohyun sudah selesai diperiksa, anda boleh kembali masuk ke ruangannya.”

“…”

“Minseok-ssi?”

“Ah! Dokter Sehun! Ada apa?”

“Hmm… Seohyun sudah selesai diperiksa. Anda boleh masuk ke ruangannya.”

“Oh, baiklah. Terimaksih, dokter.”

“…”

“Minseok­-ssi?”

“Ya, dokter?”

“Apa yang sedang Anda pikirkan?”

“Maksud dokter?”

“Saya tahu Anda tampaknya sedang memikirkan sesuatu. Soal Seohyun lagi?”

“Ya, dokter. Saya bingung, bagaimana caranya melunasi biaya perawatan Seohyun. Saya sudah menjual semua aset yang saya punya, termasuk rumah satu-satunya—warisan orang tua saya, tapi semuanya belum cukup…”

“…”

“Minseok-ssi?”

“Ya?”

“Saya tahu, bagaimana caranya melunasi biaya itu dengan cepat.”

PEARLSHAFIRABLUE®

            “Oppa…” Dengan sekuat tenaga, akhirnya aku berhasil memanggilnya. Kendati dengan suara serak nan samar ini.

“Ya, Seohyun? Kau membutuhkan sesuatu?” Dia berjalan mendekatiku. Di tangannya terdapat secangkir kopi panas.

Aku menyentuh pipi bakpao-nya perlahan. Dia sudah tidak seperti dulu lagi. Kini dia tampak lebih kurus. Lingkaran hitam terlihat jelas di sekeliling matanya. Dia kurang tidur. Dan aku tahu sekali apa penyebabnya.

Oppa… pulanglah… kau tampak lelah. Aku bisa merawat diriku sendiri disini. Lagipula ada Dokter Sehun dan suster yang akan membantuku… kumohon, tetaplah sehat, oppa…” Desisku dengan serak.

Minseok oppa menatapku dengan sendu. Ia tersenyum tipis. “Aku tidak apa-apa, Seohyun. Sungguh. Kau yang kenapa-napa. Akhir-akhir ini kau sering tidak sadarkan diri.” Ucapnya lirih.

Aku membalas senyumannya.

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Dokter Sehun datang dari sana. Ia tersenyum ke arahku.

“Selamat siang, Seo Joohyun.” Sapanya riang. Aku hanya membalasnya dengan anggukan. Kini dia mengalihkan pandangannya ke arah Minseok oppa. “Minseok-ssi. Sudah siap.”

Hah? Sudah siap apa?

Minseok oppa menatap Dokter Sehun dengan tatapan yang sulit kuartikan. Kemudian dirinya berbalik ke arahku. Mata hazel-nya bertemu dengan mataku.

Oppa… oppa pergi dulu ya, Seohyun. Tunggu disini.” Bisiknya perlahan. Tangannya mengelus pipi kananku.

“Ma-mau kemana, oppa? Kumohon tetaplah disini.” Isakku.

Oppa hanya sebentar saja, Seohyun. Oppa mau mengurus operasi kamu selanjutnya. Tenang saja, oppa tidak akan kemana-mana.” Balas Minseok oppa sembari beranjak berdiri. Ia mulai berjalan menjauhiku.

Tiba-tiba dadaku berdegup kencang saat bayangan Minseok oppa dan Dokter Sehun menghilang dibalik pintu yang berdebam. Tangisku tiba-tiba pecah.

Firasat buruk.

Entah kenapa aku merasakan bahwa aku tidak akan bertemu dengannya lagi.

…6 Months Later…

            “Se-Seohyun?”

Aku membuka mataku dengan perlahan. Aku mengerjap sebentar dan langsung mengangkat tubuhku.

Dua orang gadis langsung berteriak gembira saat aku menatap mereka.

Jessica dan Tiffany unnie.

Oh, thanks, God! You save our Seohyun!” Seru gadis berambut merah—Tiffany unnie.

“Seohyun! Are you okay?” Gadis berambut coklat langsung mendekatiku. Memelukku sebentar dan menatapku dengan bahagia.

“Siapa yang akan menyangka, kau hilang tanpa kabar selama 2 tahun dan nyaris membuatku gila karena kau berjuang melawan sakitmu. Tanpa siapapun disini kecuali Dokter Sehun.” Aku menoleh ke kanan. Seorang namja berambut coklat pirang mengerling sebentar ke arah namja dengan jas putih di sebelahnya.

Xi Luhan.

“Seohyun! Please, say something! Don’t make us worry again!” Pinta Tiffany unnie. Aku menatapnya dengan bingung. Masih tidak mengerti apa yang terjadi disini.

Namja berjas putih tadi mendekatiku. Ia merangkul pundakku dan berkata, “kurasa Seohyun masih syok. Dia butuh waktu sendiri untuk benar-benar pulih. Kalian bisa menunggu di luar. Saya akan menjaganya disini.” Ucapnya. Ternyata dia Dokter Sehun. Berbeda sekali dengan terakhir aku melihatnya.

Akhirnya mereka bertiga keluar dari ruangan ini. Dokter Sehun duduk di salah satu sofa di dekat tempat tidurku sekarang. Ia seperti sedang mencorat-coret sesuatu di atas kertas yang dilapisi scanner board.

“Do-dokter?” Panggilku pelan. Suaraku tidak seserak biasanya.

“Ya, Seohyun?” Jawab Dokter Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari scanner board di depannya.

“Ini tahun berapa?” Tanyaku takut.

Dokter Sehun tertawa sebentar. Ia langsung menaruh scanner board-nya dan berjalan ke arahku. “Ini Maret 2013, Seohyun-ssi. Kau tertidur selama 6 bulan. Siapa yang sangka kalau kau ternyata masih bisa sembuh saat para suster nyaris mencabut alat pacu jantung dan alat bantu nafasmu. Tuhan memang masih sangat menyayangimu, Seohyun-ssi.”

Aku hanya bisa terdiam mendengar pernyataan dari Dokter Sehun.

“Saya juga tidak menyangka ternyata Luhan ge adalah sahabatmu. Dia adalah salah satu sahabat saya juga dahulu. Dan ketika dia bercerita kepada saya bahwa dia kehilangan kontak selama setahun dengan sahabatnya yang tinggal sendirian di Seoul, saya langsung menceritakan tentangmu kepadanya. Hingga akhirnya Tiffany-ssi dan Jessica-ssi yakin bahwa yang saya ceritakan adalah Seo Joohyun, sahabat mereka, mereka datang kesini dan benar-benar menyesal karena meninggalkanmu di Seoul sendirian dan malah tinggal di London.” Jelas Dokter Sehun panjang lebar.

Ya. Aku masih bisa mengingat jelas saat Luhan, Tiffany unnie dan Jessica unnie memutuskan untuk pindah ke London. Sedangkan aku bersikeras untuk tetap di Seoul.

“Kau tidak tahu, ya Seohyun? Tadi malam adalah malam terburuk dalam hidup kami. Kau kritis dan jika salah sedikit saja nyawamu bisa melayang. Tadi malam Tiffany-ssi dan Jessica-ssi menangis habis-habisan. Termasuk Luhan ge. Padahal sebelumnya saya tidak pernah melihat sahabat saya itu menangis. Hahaha. Tetapi untungnya kau masih bisa selamat. Kau berhasil melawan penyakitmu itu. Selamat, Seo Joohyun.” Tambah Dokter Sehun. Ia tersenyum ke arahku.

Aku tidak tahu harus bahagia, atau bagaimana menghadapi situasi ini. Aku telah sembuh. Ketiga sahabat baikku sudah kembali ke Korea. Ada seorang dokter muda yang sangat perhatian padaku. Tapi aku masih merasa janggal. Ada sesuatu yang tidak ada.

“Dimana Minseok oppa?” Akhirnya pertanyaan itu keluar dengan lancarnya. Dokter Sehun langsung berhenti tersenyum dan menatapku dengan terkejut. Tubuhnya menegang. Bisa kurasakan hal itu.

“Minseok? Kim Minseok-ssi?” Ulang Dokter Sehun dengan hati-hati. Aku mengangguk tegas.

“Dimana dia? Kenapa dia tidak menyambut kesembuhanku?” Tanyaku lagi.

Dokter Sehun hanya diam. Ia tidak menjawab pertanyaanku.

“Dokter? Dimana Minseok oppa?! Dimana dia?!” Kali ini suaraku terdengar lebih tinggi. Mataku mulai memanas. Firasat buruk lagi.

Dokter Sehun menoleh ke arahku. Ia menggeleng pelan. “Ti-tidak ada…”

Melihat reaksinya aku langsung turun dari tempat tidur tanpa mempedulikan infus yang sedang menempel di pergelanganku. “Apa maksud dokter? Tidak ada? Tidak ada apanya?”

Ya! Seo Joohyun! Kau masih dalam masa pemulihan! Jangan bangun seenaknya!” Dokter Sehun langsung panik saat aku mendekat ke arahnya. Ia menggiringku kembali ke atas tempat tidur.

“Dimana Minseok, dokter?! Jawab aku!” Aku mendorong tubuh Dokter hingga ia mundur ke belakang beberapa langkah. “Apa Anda tidak mendengarku, dokter?”

Dia tetap tidak menjawab. Ia langsung beranjak dari hadapanku menuju sebuah meja kecil di samping pintu masuk. Bisa kulihat ia membuka laci teratas dan mengambil sesuatu. Secarik amplop.

Kenapa dia mengambilnya? Apakah Minseok oppa ada di sana?

Tanpa bicara apapun Dokter Sehun memberikan amplop itu kepadaku. Aku memandangnya dengan penuh tanya dan ia langsung menunduk, mendekatkan kepalanya ke arah telingaku.

“Mungkin surat itu akan membantumu mencari tahu dimana Minseok-ssi.” Bisiknya pelan. Aku hanya bisa menyerngitkan dahiku sambil memandang secarik amplop kusam itu.

Buru-buru aku membukanya. Kurobek paksa penutup amplopnya dan kuambil dengan kasar surat yang ada di dalamnya.

Halo, Seohyun! Apa kabar?
Hahaha, aku yakin kau tertawa mendengar sapaaanku barusan. Aku tidak sebaik itu,
ne?
Aku yakin sekali ketika kau membaca surat ini kau benar-benar sudah sembuh, sudah terbebas dari penyakit kanker sialan yang sudah membuatmu terpuruk selama setahun belakangan ini.
Sebenarnya aku tidak punya maksud lebih dalam menulis surat konyol ini. Aku hanya ingin menjelaskan kenapa aku tidak ada di sampingmu sekarang.
Kau tahu? Mungkin ini memang sudah digariskan oleh Tuhan.
Ketika aku sehat, kau tidak, dan ketika kau sehat, aku tidak ada
.
Kau mengerti maksudku kan, Seohyun?
Tapi jangan khawatir, kita akan bertemu lagi.
Di tempat yang lebih indah.
Oya, satu lagi. Ada satu hal penting yang selama ini tidak sanggup kukatakan kepadamu.
Aku mencintaimu.

Your Handsome Oppa :*

PEARLSHAFIRABLUE®

            “JADI KAU MENYURUH MINSEOK OPPA MENJUAL JANTUNGNYA KEPADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG UNTUK MELUNASI BIAYA PERAWATANKU?” Aku tidak sanggup berkata-kata halus kepada manusia biadab di hadapanku ini.

“Seohyun! Keep calm! Apa yang telah kulakukan selama ini didasari oleh kesembuhanmu! Aku tidak mungkin melakukannya jika bukan untukmu!” Seru Sehun sambil menyentuh pundakku lembut.

Kutepis tangannya itu dengan kasar.

“Aku lebih baik mati, Sehun! Aku lebih baik menghabiskan sisa hidupku bersamanya dibanding hidup tanpanya seperti ini!” Bentakku kasar. Pipiku sudah mulai memanas.

“Tapi dengarkan aku dulu, jika dulu ia tidak mau, aku tidak akan memaksanya, Seohyun. Tapi dia sendiri yang mau! Dia bahkan meminta! Dan kebetulan memang ada seorang pasien penyakit jantung kaya yang membutuhkan donor jantung!” Balas Sehun tidak mau kalah.

“Kau tidak pantas jadi dokter, Sehun! Kau tidak pantas! Kau memainkan nyawa orang lain untuk mendapatkan kesenangan!”

“Kesenangan?! Apa maksudmu?! Kau pikir aku bahagia karena Minseok menjual jantungnya?!” Sehun tidak terima dengan tuduhanku. Ia menatapku dengan sinis.

“Apa kau pikir aku tidak tahu?! Kau sengaja melakukan itu untuk menghilangkan Minseok oppa dari kehidupanku kan?! Aku tahu kau mencintaiku sejak dulu, Sehun!” Tukasku sambil mendorong tubuhnya.

Sehun tercengang mendengar pernyataanku barusan. Tubuhnya membeku seketika.

“Kenapa? Aku benar ya?” Aku menyilangkan kedua lenganku di depan dada.

Mendadak, Sehun menarik bibirnya—membentuk seringai tajam.

“Kyaaa!” Aku terjungkal ke belakang saat tubuh Sehun menubruk tubuhku. Dan kini tubuhnya mengunci tubuhku yang terbaring di lantai kamar hotel milik Yixing. Bibirnya dengan paksa menyusup masuk ke dalam mulutku. Bisa kurasakan nafsunya membara saat tangannya berusaha masuk ke dalam pakaianku.

“Ber-hen…ti!” Seruku terputus-putus. Aku berusaha mendorong tubuhnya sebelum sesuatu yang lebih parah terjadi.

BRRAAK!!

Tubuh Sehun menabrak sebuah buffet kecil ketika aku berhasil menjauhkan tubuhnya dariku. Tanpa basa-basi aku langsung berlari keluar kamar tanpa sempat mengambil clutch dan heels-ku.

Jderr!

            Petir menyambar dengan cepat ketika aku berhasil sampai di teras hotel. Hujan turun dengan derasnya.

Apakah tidak akan ada kata bahagia dalam hidupku?

Akhirnya tangisku pecah. Aku berlari dalam hujan tanpa memedulikan kakiku yang tidak terbalut apapun.

Kenapa kau melakukannya, oppa? Kenapa kau mengakhiri hidupmu dengan sia-sia?

Hujan semakin deras saat aku sampai di jalan raya. Aku terus berlari membabibuta tanpa arah. Aku hanya ingin lari. Aku hanya ingin lari dari kenyataan ini.

Aku baru ingat bahwa ponselku masih berada di saku-ku. Kuambil dengan paksa benda mungil itu dan kutekan tombol X.

“Yeoboseyo? Seohyun? Ada apa?”

            Gege!” Seruku sambil menangis. Persetan dengan berapa banyak orang yang kini sedang menatapku.

Seohyun? Kau kenapa?! Kenapa kau menangis? Suaramu tidak jelas, Seohyun!

“Sehun… Sehun… dia… dia brengsek, ge.” Isakku.

Apa Seohyun? Kau tahu, kau lebih baik masuk ke dalam ruangan yang sunyi sekarang. Suaramu sama sekali tidak terdengar!”

“Sehun! Dia—KYAAAAAAAAAAAAAA!”

TIIN-TIIN!!!!

Aku menutup mataku ketika mobil Audi hitam melaju dengan kecepatan tinggi ke arahku.

Aku tidak merasakan apa-apa. Aku belum mati kan?

Aku membuka mataku dengan perlahan. Mobil itu berhenti persis 5 sentimeter dihadapanku.

Di tengah guyuran hujan, bisa kulihat siluet seseorang keluar dari kursi pengemudi mobil tersebut.

“Ka-kau tidak apa-apa, agashi?” Siluet itu kini berdiri di hadapanku. Tetesan hujan mulai membasahi bagian depan rambut coklatnya.

Hujan mulai reda saat aku berdiri. Aku membersihkan debu yang menempel di pakaianku. Aku mengangkat kepalaku ke atas. Tubuhku tercengang saat mataku bertemu dengan matanya.

Mi-Minseok oppa?

            “Ada apa, agashi? Kenapa Anda melihat saya seperti itu?” Tanyanya perlahan. Rambut coklatnya itu benar-benar persis. Matanya, bibirnya, pipinya…

“Kau… Kim Minseok?” Dengan hati-hati kusentuh pipinya. Benar-benar persis seperti Minseok oppa!

“Ah,” dia menepis tanganku dengan lembut. “Mungkin Anda salah orang. Aku bukan Kim Minseok.” Ucapnya sambil tersenyum. “Anda basah kuyup, nona. Kebetulan aku sedang senggang. Mau kuantar pulang?”

Aku hanya bisa mengangguk—terbius dengan dirinya yang persis seperti Minseok oppa!

Aku masuk ke mobilnya.

Mobilnya mulai melaju membelah jalanan sore kota Seoul. Aku terus-terusan menatap wajahnya. Aku tidak mau melewatkan satu detikpun tanpa mengagumi guratan indah ciptaan Tuhan itu.

“Nona?” Tiba-tiba dia bersuara. Aku langsung menelan ludah. “Kenapa anda memperhatikan saya terus?” Tanyanya hati-hati sambil tersenyum awkward.

Aku hanya bisa menggaruk tengkukku sambil nyengir. “Ka-kau hanya persis seperti temanku, Tu-tuan.” Jawabku sekenanya.

“Oh, aku mengerti.” Tuturnya sambil kembali memandangi jalanan. “Omong-omong, siapa nama Anda?”

“Namaku… Seo Joohyun. Bagaimana denganmu? Kau orang sini kan?”

“Sebenarnya aku baru saja datang dari Beijing. Sudah 5 tahun aku tinggal disana.” Jawabnya.

Aku hanya bisa manggut-manggut mendengar penjelasan darinya. “Dan… namamu?”

“Oh, perkenalkan,” ia mengulurkan tangan kanannya—kebetulan saat ini mobil berhenti karena lampu merah. “Namaku Xiumin.”

END

Wohoo~~ Gimana FF-nya? Kurang dapet ya feelnya?
Hehehe, sori, soalnya inipun idenya aku dapet mendadak. Dan bener-bener pengen nulis FF dengan cast baozi :3
Kenapa aku milih lagu Speak Now buat di atas? Bcs Seohyun is fuckin amazing when sing that song at SBS xD
Okedeh, ini FF pertamaku di exomk-fanfiction xD semoga suka! Ditunggu ya komentarnya!

10 thoughts on “[Oneshot] Evening Sky

  1. minseok ku…
    oh no kenapa mati ??
    ya ampun thor ini ff pertama yg bikin aku banjir T.T
    ditambah sambil denger musik nya lagu galo semua
    makin banjir deh
    대밖!!!!!!!!!
    thor keren bgt
    kpn” bikin ff minseok lagi ya thor

  2. asli, feelnya dapet banget..
    awalnya aku kurang ngerti, tp pas udh ke pertengahan fic aku mulai ngerti.. aku suka bgt ma critanya🙂
    pokoknya DAEBAK banget😀
    i love it Thor ^^

    authorr, bkin sekuel nya yaa? #pasang puppy eyes, hehe bnyk maunya nih.. ^^
    kyaaa, skali lagi Daebak🙂

  3. Daebak banget thor! Ini bisa bikin aku nangis dari pertengahan ff sampe akhir gak abis abis hiks
    Bikin ff ber cast Baozi&Seohyun lagi ya thor!!

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s