[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 3)

CM-Chap 3

Title : Clumsy me

Subtitle : I Hate Him!

Author : NadyKJI

Web : http://cynicalace.wordpress.com/

Genre : Comedy (a little?), romance, friendship, School Life

Length : Chaptered

Rating : G

Maincast:

  • Kim Jong In – Kai
  • Cha Naraya (OC)

Other : Oh Sehun, Lee Ria (OC), Min Chan Rie (OC), Park Chanyeol, Byun Baekhyun, D.O, Tao, Chen, Choi Minho (Shinee), Sulli (fx), Kang  Chae Kyong, (will be added)

Disclaimer : FF ini murni ide-ide khayalan author yang kelewat tinggi, dilarang meniru dengan segala cara apapun, jika tidak ff ini tidak akan dilanjutkan lagi. Terima Kasih.

Author’s Note :

Sudah chapter 3 lagi… perjuangan Author tidak sia-sia, hehehe.

Jari author beneran keriting… makin panjang aja ff ini, atau makin handalkah author? #pengennya.

Author kasih Warning :

Di Chapter ini Author sekalian mau ngenalin temen-temen tokoh utama, jadi mian kalau cerita di chapter ini tidak terlalu fokus ke 2 tokoh utama kita ya…

Mianhae… ya kalau misalkan chapter ini agak gaje jadinya. Author tidak bermaksud seperti itu. *bow

Terima Kasih dengan segala comment, author akan membalasnya selama internet author mendukung… suka lemot nyebelin ><

Ya sepertinya Author sudah kehabisan kata kata, jadi langsung saja keceritanya, #para readers pasti senengkan author mingkem juga.

Happy Reading All ^^

___

-:Chen:-

“Narayaa!!!”

Aku berlari membuka pintu kamar adikku itu, mendapatkan gadis itu sedang berbaring di ranjang sembari membaca novel.

Sepulang sekolah, saat mau menjemput adikku, ia sudah tidak ada di kelas dan tasnya pun sudah tidak ada. Saat itu, sahabatnya Ria menghampiriku…

:FLASHBACK:

‘Uhmm, Chen-sunbaenim, kakakknya Naraya kan ?’ kata gadis itu ragu-ragu.

‘Ne, Naraya gwaenchana?’ aku bertanya was-was.

‘And… andwae. Dia tadi terjatuh dari tangga, kakinya terkilir…’

Aku sudah hampir menyela gadis itu.

‘Tunggu, biarkan aku menyelesaikannya. Ia sudah diantar oleh teman sebangkunya yang membawa mobil pulang pada jam pelajaran ke 3, kalau tidak salah.’

Setelahnya gadis itu diam, menunggu reaksiku.

‘Oh, gamsahabnida.’

Tanpa banyak bicara lagi aku langsung membalikkan badan. Memijat pelipisku, seketika kepalaku sakit mendadak. Naraya, tidak bisakah ia tidak mengalami kecelakaan satu kali saja. Setiap meninggalkannya aku selalu merasa ia akan tersandung  ataupun terjenggal kakinya sendiri saat aku berbalik memunggunginya.

Begitu sampai di mobil aku langsung memacu mobilku secepat mungkin.

:FLASHBACK END:

“Oppa?”

Kudengar nada enggan dari Naraya. Ia sudah duduk di pinggir ranjang, hendak bangkit menghampiriku.

“YA!  Tetap di sana. Jangan bergerak, oppa saja yang kesana ya…” seketika aku membentaknya.

Naraya hanya memandang bingung ke arahku.

Untung saja ia tidak tersinggung saat aku membentaknya, dasar polos.

Aku ingin sekali tertawa, betapa polosnya adikku ini. Ia tidak marah melainkan bingung, tidak seperti orang kabanyakan yang pasti akan marah jika di bentak mendadak.

Aku menghampirinya, ia sudah berbaring lagi, aku duduk di sisi ranjang. Melihat pergelangan kaki kanannya yang dibalut perban.

“Apakah baik-baik saja?”

Naraya memandang bingung. Aku langsung menganggukkan kepalaku ke arah pergelangan kakinya. Seketika mulutunya membentuk O.

“Aku terjatuh di tangga saat buru-buru ke ruang vokal…” ia menghela nafas sejenak, “Tapi, tidak apa-apa kok, aku diantar pulang oleh temanku.” Tambahnya cepat.

“Siapa dia?”

“Ria…”

“Bohong, tadi Ria memberitahuku kau di antar teman sebangkumu.”

“Ria teman sebangkuku…”

“Rasanya bukan, kalau iya dia tidak akan menggunakan ‘teman sebangkunya’, siapa?”

Naraya menghela nafas, memberengutkan mukanya. Sepertinya ia jengkel karena semua kebohongannya tidak mempan.

“Seorang namja.” Jawabnya singkat.

Itu membuatku semakin ingin tahu.

“Oppa, cukup interogasinya… kalau mau tahu kau mampir saja ke kelasku…” katanya merengek, menenggelamkan mukanya ke balik novel tebal yang sedang ia baca.

Aku terkekeh pelan. Adikku ini lucu kalau sedang merengek seperti ini.

“Baiklah, Oppa akan mencari tahu sendiri.”

Aku bangkit seraya mengusap puncak kepalanya.

-:Naraya:-

BLAM

Suara pintu yang tertutup perlahan itu menandakan bahwa aku sendiri lagi.

‘Seorang namja’

Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Percakapan tadi mengingatkanku pada seseorang yang tadinya sudah berhasil aku lupakan. Ya, siapa lagi kalau buka Kai – namja yang menolongku saat terkilir pagi ini.

“Oppa, nan dangsin-eul sirreo…” aku berbicara sendiri di kamarku yang hening ini.

*(Oppa, aku membencimu)

Gara-gara oppa aku jadi mengingat namja itu.

Mau di kemanakan mukaku, pagi-pagi sekali aku sudah menabrak namja itu. Beberapa jam berikutnya aku sudah di bopong olehnya ke ruang kesehatan, ia menawarkan untuk mengantarku pulang pula.

Babo…

Tanpa gadis itu sadari, semburat merah mendadak mucul saat ia memikirkan namja itu.

_

“Naraya, mianhae… kalau aku tidak tertidur kau pasti tidak akan celaka..”

Huft…

Naraya sudah mendengarkan permintaan maaf dari sahabatnya ini beribu-ribu kali, dari pertama ia masuk kelas sampai saat ini – saat mereka sedang berjalan ke kantin.

“Sudahlah Ria, aku sudah sehat lihat, aku sudah bisa jalan… lukaku ringan, aku bahkan tidak memerlukan kruk sama sekali. Lihat?”

Aku meloncat-loncat kecil untuk menyakinkan Ria.

“E..eh…”

Aku sedikit kehilangan keseimbanganku.

Seseorang menangkap sikuku.

“Hati-hati, babo. Luka ringan? Kau sampai tidak bisa berjalan kemarin, ne?”

Orang itu berbisik di samping telingaku. Nafasnya di telingaku membuatku geli.

“YA!”

Aku menghindarinya, telingaku adalah salah satu kelemahanku.

Terlalu cepat.

Aku sudah hampir jatuh lagi. Kali ini orang itu menahan pinggangku.

-:Kai:-

“Kau ini, bisakah berdiri dengan benar? Baru saja sedetik kau sudah mau jatuh lagi.”

Gadis ini membuatku was-was saja. Baru sedetik aku menahannya, sekarang ia sudah hilang keseimbangan lagi.

Bagaimana nasib orang yang ada di sekitarnya?

Kami – aku dan gadis itu membatu, dalam posisi yang kurang mengenakan pula.

“Kau berat…” aku berkata asal.

Gadis di depanku kontan melepaskan diri dariku. Berdiri canggung di depanku. Aku memasukkan kedua tanganku ke saku celana.

“Kai, sedang apa kau?”

Aku menoleh, ternyata  Sehun.

“Ah, tidak. Ayo, aku lapar.” Aku mengajaknya ke kantin.

“Cobalah untuk tidak terjatuh, babo.”

Aku berkata, mendekatkan wajahku ke wajah gadis itu.

Detik berikutnya aku sudah berjalan bersama Sehun di sampingku yang tertawa kecil.

“KAU, lihat saja nanti. MENYEBALKAN!!!”

Aku bisa mendengarkan teriakan kesal gadis itu di belakangku.

_

“Kai, apakah kau tertarik dengan gadis yang di kantin itu?” kata Sehun tiba-tiba.

“Ukh, Uhuk!”

Aku tersedak coca cola yang aku minum.

Sehun yang berada di sebelahku itu tertawa melihat reaksiku.

Aku dan Sehun sedang berjalan santai di daerah perumahanku dan Sehun – rumah kami berdekatan, hanya beda beberapa blok saja, menghabiskan waktu.

“Tentu saja tidak, kau gila apa?”

Setelah batukku reda aku menjawabnya.

“Tidak, hanya saja sikapmu padanya terlihat lebih kau apa adanya daripada saat kau bersama yeoja lain.”

Aku menjitak kepalanya.

“Sialan! Jadi maksudmu apa?”

“Ah, masa kau tidak sadar. Kau selalu berpura-pura baik di hadapan yeoja lainnya atau mungkin tebar pesona.”

Sial, dia malah semakin menggodaku, dasar anak ini. Belajar dari mana ia cara membully orang, setahuku Sehun itu termasuk anak alim. Ajaib saja ia bisa berakhir berteman denganku.

-:Sehun:-

Aku berbaring di ranjang. Kumainkan ponselku, kulempar dan kutangkap berulang kali.

Lee Ria…

Nama gadis itu sedikit mengusikku. Gadis itu baru saja membuatku heran kemarin. Berani-beraninya ia tidur sambil mendengarkan ipod. Tapi… gadis itu lumayan.

Ah, lupakan, lupakan. Apa yang baru saja kau pikirkan Oh Sehun? Masa kau sudah tertarik dengan seorang yeoja yang bahkan baru kau tahu namanya saja.

Aku merasa tidak nyaman dengan pikiranku sendiri. Memilih menghindarinya aku mejamkan mata memilih tidur.

_

Aku turun dari motorku. Berjalan menuju ke kelas.

Kulihat Kai yang sepertinya datang lebih cepat beberapa menit itu sedang berjalan santai di halaman sekolah ini.

‘Ya! Siapa dia, ganteng…’

‘Kau tidak tahu? Ia anak kelas 1-B, Jong In. Untung saja XXX ada d kelas itu jadi aku bisa tanya.’

‘Jong In, noona menyukaimu,’

‘Gaya rambutnya keren…’

‘aihh…’

‘kyaaaaaa!’

Aku tertawa kecil, dasar yeoja-yeoja kurang kerjaan. Kai, tentu saja temanku itu sudah sering jadi bahan bicaraan para gadis, bahkan dari SMP. Ia tampan, dan ia juga tidak menyia-nyiakan ketampanannya itu – tahu kan, ia sedikit playboy. Sekarang hari ketiga saja ia sudah bisa membuat semua yeoja yang melihatnya tertarik, kakak kelas bahkan. Aku membayangkan mungkin besok lebih banyak dan ada yang menyatakan cinta mungkin.

Sudah puas membiarkan Kai berjalan sendiri dan menjadi pusat perhatian itu aku memutuskan mengampirinya.

Enak saja dia mau terkenal sendiri, hahaha.

-:Lee Ria:-

Aku dan Naraya berjalan memasuki lingkungan sekolah, begitu kami semaki dekat. Terdengar para yeoja bahkan kakak kelas juga membicarakan sesuatu. Kupingku yang tajam ini langsung saja mulai menyimak. Siapa tahu kabar terbaru tentang boyband atau namja-namja ganteng. Hehehe.

‘Kau tidak tahu? Ia anak kelas 1-B, Jong In. Untung saja XXX ada d kelas itu jadi aku bisa tanya.’

‘Jong In, noona menyukaimu,’

‘Gaya rambutnya keren…’

‘aihh…’

‘kyaaaaaa!’

‘Oh Sehun, dia juga ganteng ya?’

‘eh siapa? Kau tahu dari mana?’

‘itu yang baru saja bergabung bersama Jong In, tentu saja aku tahu, dia itu imut kan?’

‘mereka berdua terlalu ganteng! Mereka berteman lagi, hueee.’

‘asdfghjk$%^&*..’

Dan seterusnya.

Aku langsung melihat ke arah dua namja itu. Mereka tampaknya sedang bercakap-cakap biasa. Dan jujur mereka memang menarik.

“Cih, dasar menyebalkan. Sekarang dia tebar pesona. Napeum namja.”

Perhatianku langsung teralihkan, melirik Naraya yang kelihatan sangat sewot dengan namja bernama Jong-In itu. Aku hanya dapat menggelengkan kepalaku. Sejak insiden hari pertama sekolah Naraya memang selalu sial. Tak tanggung-tanggung ia selalu berakhir sial dengan namja itu, ditambah perlakuannya di kantin kemarin, tentu membuat Naraya semakin kesal.

“Naraya, kau jangan begitu, diakan sudah menolongmu. Lagian wajahnya lumayan, tapi aku lebih tertarik dengan temannya itu. Hanya saja namja bernama Oh Sehun itu tidak banyak bicara, aku tidak bisa apa-apa bahkan duduk disebelahnya juga.”

“Ya! Lee Ria! Maumu apa sih, sekarang kau malah membela namja jelek itu dan mengincar temannya itu.” Gadis itu semakin sewot saja.

Aku tertawa cukup keras sampai membungkuk-bungkuk. Bisa aku rasakan tatapan Naraya melihatku seakan mau membunuhku, karena itu aku berusaha menghentikan tawaku. Lebih baik daripada kehilangan teman.

“Hehe, ayolah Naraya. Aku tetap memihakmu, tapi aku tetap tertarik dengan Sehun. Dan aku sarankan percayalah akan karma. Siapa tau kau malah bisa suka pada namja itu.”

Naraya hanya memutar bola matanya dan melanjutkan jalan ke kelas.

“Ya! Naraya! Aku kan tidak tahu bisa suka dengan siapa, jangan marahhh.”

Aku berteriak berlari menghampiri Naraya yang sudah berjalan cukup jauh.

-:Sehun:-

Aku sedang melamun bosan memandang ke pintu kelas. Aku dan Kai baru saja sampai ke kelas. Hari-hari pertama sekolah sangat membosankan – semua masih seperti orang asing, belum bisa berinteraksi dengan akrab.

‘Ya! Naraya! Aku kan tidak tahu bisa suka dengan siapa, jangan marahhh.’

Aku mengenali suara itu, suara gadis yang sempat menganggu pikiranku, Lee Ria. Dasar, apakah ia senekat itu, berteriak, dan ‘suka’?

Siapa yang gadis itu sukai?

Entah ada apa aku penasaran begitu saja.

Ria dengan temannya itu masuk ke kelas, membuka pintu dengan kasarnya. Apakah dia perempuan? Aku bertanya heran.

Ria menghampiri bangkunya yang tepat berada di sebelahku.

Aku tersenyum sedikit kepadanya. Dan ia terdiam sejenak. Lalu membalas dengan senyuman juga. Senyumnya manis.

“Hei, Sehun, ne? Aku pikir kau tidak bergaul.” Ia tiba-tiba berkata.

“Wae?”

“Kau tidak sadar, sejak aku pindah duduk disebelahmu kau tidak pernah menyapa dan kulihat kau hanya berteman dengan namja itu.” Katanya sembari menganggukan kepalanya ke arah Kai.

“Kai? Hehe, kami memang satu SMP dan aku bukannya tidak bergaul. Hanya belum terbiasa saja, kau juga kenapa bukannya menyapa dari kau pindah kalau aku tidak menyapa?”

Aku memposisikan tubuhku menghadap Ria. Gadis ini, menarik.

“Mwo?! Dasar kau ini. Namja atau namja. Dimana-mana umumnya namja dulu yang menyapa.”

Balasnya sengit.

“Bukankah sekarang sudah jamannya laki-laki dan perempuan sederajat ya ?”

“Aishh, kau tahu tidak sih bagaimana memperlakukan perempuan?”

“Uhmm, tidak.” Aku menjawab singkat, kulihat Ria menghela nafas.

“Begini ya, sepertinya aku harus memberitahumu, bisa kacau dunia ini kalau semua namja seperti kau.”

Aku hanya tersenyum, dan gadis di sebelahku ini mulai berbicara macam-macam.

-:Author PoV:-

Kedua orang bernama Sehun-Ria ini masih terus mengobrol – atau lebih tepatnya Ria yang masih melanjutkan ceramahnya walaupun Chae Kyong-seongsaengnim guru geografi sudah memulai pelajarannya.

Sehun yang biasanya peduli dengan pelajaranpun kini rela untuk lebih memperhatikan Ria, walaupun namja itu masih menulis catatannya.

_

Jam istirahat.

“Naraya, kau ke kantin tidak?” Ria mengampiri Naraya yang duduk di depannya itu.

“Tidak. Sepertinya aku mau di kelas aja, malas berjalan. Hehehe.”

“Mwo?! Dasar anak aneh. Kakimu kan sudah mulai sembuh, ayo berjalanlah. Hitung-hitung agar kakimu tidak kaku.”

“Justru itu. Makanya aku tidak mau banyak bergerak dulu. Kau tahu kan kecerobohanku tidak akan berhenti di situ saja.”

Di sudut lain kelas, ada seorang yeoja penyendiri – ingatkah dengan yeoja menyeramkan yang mengambil tempat Naraya?, gadis itu tampak asyik dengan dunianya sendiri. Mendengarkan ipodnya.

Ria akhirnya tidak jadi ke kantin, ia memilih menemani Ria saja. Tapi apa daya, Ria bukanlah orang yang cukup pendiam seperti Naraya. Seakan-akan ada yang kurang jika dirinya diam. Matanya melihat-lihat kelas yang kosong. Lalu matanya melihat yeoja itu. Rambut yeoja itu pirang.

Pikirannya mendapat ide.

“Naraya, kita kenalan yu sama anak itu… aku bosan.” Celetuk Ria asal.

“Yeoja berambut pirang itu?” Naraya menunjuk punggung gadis itu.

Ria hanya menangguk mengiyakan.

“Tidak kau saja. Dia terlihat seram.”

“Ya! Dasar kau ini.”

Karena sebal dengan kepasifan Naraya, Ria menghampiri yeoja itu.

“Hei, namamu siapa?” Ria menghampiri gadis itu.

Gadis itu menoleh, melepas ipodnya. Memandang dingin ke arah Ria.

“Mi Chan Rie.” Katanya singkat-padat-jelas.

Ria yang tidak membaca suasana langsung kagum.

“Wah, kau orang asing ya? Bahasa koreamu sepertinya bagus.”

“Ne, terus maumu apa?”

“Maukah kau menjadi temanku? Ada juga Naraya, ia temanku dari TK.”

“Haruskah?” gadis itu mengangkatsebelah alisnya, meremehkan.

“Dangyeonhaji!” Ria benar-benar menarik gadis itu menuju meja Naraya.

Sementara Cha Rie berpikir, gadis di depannnya ini adalah gadis yang terlalu hiper.

Naraya yang melihat Ria berhasil menyeret yeoja sangar itu mendekat, kaget.

Naraya yang kaget tanpa pikir panjang menarik Ria menjauh sebentar, sedikit terlalu cepat, sehingga kaki Naraya yang sehat menendang kaki meja, membuat meja bergeser heboh.

“Bagaimana kau bisa menyeret yeoja itu?”

“Apa salahnya?”

“Tidah, tapikan aku kira yeoja itu tidak ramah.”

“Aish, kau ini.” Ria sedikit menjitak kepala Naraya.

Chan Rie yang melihat adegan itu tertawa kecil.

Ya, tidak ada salahnya berteman dengan mereka sepertinya.

Setelah itu ketiga yeoja yang baru berkenalan ini mencoba mengobrol, mengenal satu sama lain.

_

Pelajaran : Desain.

Durasi : 120 Menit.

Tugas : membuat perspektif ruangan.

Keadaan kelas : Ribut.

Naraya sedang sibuk menggambar, menggambar adalah salah satu kesukaan gadis itu. Sehingga di pelajaran desain ini ia begitu berkonsentrasi.

Kai yang berada di sampingnya hanya mencorat-coret kertas asal.

Sehun dan Ria mereka malah mengobrol, melanjutkan yan tadi pagi.

Berhubung keempat orang itu sedang sibuk dengan urusan masing-masing, mari berpindah ke sisi lain kelas. Tepatnya dua bangku terdepan yang dekat pintu. Yang dihuni oleh Chanyeol, Tao, Chan Rie, dan seorang yeoja yang tidak diketahui namanya.

Chanyeol sang wakil ketua kelas ini tidak terlalu berminat akan pelajaran gambar – bisa dibilang ia tidak suka semua pelajaran. Ditangannya ada kuas yang sudah diberi cat, tak tanggung-tanggung cat berwarna merah, merah menyala. Tangannya itu sudah perlahan maju mundur ingin mengenai baju Chan Rie, yeoja yang duduk tepat di depannya itu.

“Yeol, aku pinjam pengserut dong!”

Chanyeol mendongak menunda keinginannya dengan kesal. Tao, namja yang meminjam pengserutnya itu mengambil benda tersebut tampa rasa bersalah sedikitpun.

Chanyeol yang kesal dan tidak pernah kehilangan ide langsung menganti sasarannya. Sekarang tangannya bergerak ke depan serong kanannya. Kuas itu sudah dekat dengan punggung Tao. Mungkin tinggal satu mili lagi

“Heh, kau sedang apa hah?” Chan Rie menyentak Chanyeol yang sedang berkonsentrasi ini.

Dengan sentakan yang cukup keras dari Chan Rie, Tao langsung otomatis menoleh, mencari sebabnya. Sudah siap dengan kepalan tangannya itu apabila Chanyeol berani kurang ajar kepada Chan Rie teman sebangkunya itu.

“Mwo? Kenapa kau bisa berbalik?” bukannya mengelak Chanyeol dengan bengongnya bertanya.

“Memang kenapa? Mau berbalik mau tidak, itu hak orang tau! Katakan kau mau lakukan apa lagi? Dasar otak kriminal.” Chan Rie melotot tajam ke arah Chanyeol.

Sementara Tao masih mensurvei apa yang terjadi. Matanya menangkap kuas bercat merah di tangan Chanyeol yang diam, namun tangannya itu masih mengarah ke arah Tao. Seketika Tao mengerti apa yang terjadi, dan hatinya yang terlampu lembut itu tersentuh karena merasa dibela oleh Cha Rie yeoja sangar yang duduk di sebelahnya itu.

Setelah beberapa menit cacian kata-kata pedas dari Cha Rie, Chanyeol yang sudah tidak bisa menyangkal hanya bisa nyengir dengan tidak bersalahnya.

Chan Rie yang sudah memperkirakan betapa idiotnya Chanyeol tanpa basa-basi langsung berbalik dan melanjutkan apa yang dia kerjakan. Mengetuk-ngetukan pensilnya dengan kasar ke meja.

“Thanks, hehe.” Tao yang ingin berterima kasih akhirnya dapat mengatakannya setelah acara caci maki Chanyeol.

Cha Rie menoleh membuat wajah meremehkan.

“Untuk apa?”

“Eh… karena kau tadi mencegat Chanyeol. Kalau tidak bajuku pasti sudah berwarna merah.” Tao kehilangan kata-kata.

Yeoja ini galak sekali, batinnya.

“Gwaenchana, lagian aku hanya kebetulan lihat. Aku tidak suka saja dengan orang kurang kerjaan seperti dia.”

(*Bagian ini sangat gaje ya readers? Mian…#tiba-tiba muncul.)

-:Kai:-

“Kau pilih eskul apa?”

Pikiran itu terlintas begitu saja di kepalaku. Kami baru saja pulang dari acara peragaan eskul di hari Sabtu yang terik ini. Menandakan satu minggu sudah aku resmi bersekolah.

“Anggar sepertinya.” Sehun yang berjalan di sebelahku menjawab, sambil menghentikan aktifitas makan es krimnya itu.

“Wae?”

Aku mengerutkan kening. Aku bahkan baru dengar ada istilah Anggar saat peragaan tadi. Kupikir Sehun akan memilih yang lebih normal layaknya sepak bola, basket, dan mungkin dance?!

“Entahlah, kelihatan keren saja di mataku. Hehehe.”

Matanya menerawang seakan membayangkan, sambil mengemut es krimnya. Membuatnya terlihat lucu.

-:Naraya:-

“Naraya, ppali. Bangun ayolah. Temani aku untuk lari pagi di taman depan komplek.”

Suara rengekan Ria membangunkanku. Dengan sangat tidak rela aku membuka mataku yang terasa lengket masih ingin menutup. Perlahan aku duduk di pinggir ranjangku.

“CK! Kau ini. Pagi-pagi…,” aku melirik jam beker kecil di meja sebelahku, “JAM TUJUH PULA?!”

Kali ini aku benar-benar berteriak, padahal sudah susah payah aku menekan kebiasaanku yang suka marah kalau di ganggu tidurnya. Ria yang ada di depanku meringis menutup kupingnya.

“Siapa yang membiarkanmu masuk hah?! Sini aku hajar saja!”

Aku menggulungkan lengan kaus tidurku yang kebetulan bertangan panjang, memasang muka sangar terbaikku.

“Hehe, Chen, oppamu.”

“Mwo?!”

Oppa lihatlah pembalasanku nanti!

Kecamku dalam hati.

Aku akhirnya bangun dan mengambil handuk.

“Apa yang kau lakukan?” Ria yang sudah mengambil ahli kasurku bertanya.

“Mandilah.”

“Yey! Kau baik hati.”

“Ish, bukan begitu. Lagian aku sudah tidak bisa tidur lagi. Lebih baik ikut kau saja lari pagi, sekalian olah raga.” bantahku gengsi.

_

“Ya!”

Aku melakukan pemanasan, memasang earphoneku bersiap-siap lari.

“Naraya…”

“Apa?”

Ada apalagi anak ini?! Sudah merusuh di rumahku pagi-pagi, memaksaku, dan sekarang – seperti ada tapi saja.

“Jangan lari dulu. Berjalan ya, supaya terbiasa.”

Ria memasang muka memelas, aku memutar bola mataku.

“Kajja, dasar, yang mengajak yang malas.”

Aku mulai berjalan meninggalakan Ria.

_

Aku masih berjalan cepat, akibat Ria yang terus mengelak. Memperhatikan keadaan sekeliling, ada seorang anak berbaju hijau sedang bermain sepeda. Kurang lebih sepuluh tahun aku taksir.

“Ah, tidak seru. Aku tidak bisa naik sepeda.”

Aku berkata mencoba memecah keheningan.

“Gwaenchana. Aku juga tidak bisa kok.”

“Aniyo, kau bisa. Aku saja yang sial, setiap mau berlatih ban sepedaku selalu kempes. Jadilah aku yang tidak bisa naik sepeda ini.”

Aku malah mengomel merengangkan tanganku ke atas.

Seketika dua namja yang bermain sepeda menyalip kami dari belakang.

“Ya! Enaknya bisa naek sepeda!” aku berteriak refleks, sehingga salah satu dari namja itu menolehkan wajahnya.

“Naraya, namja itu keren ya? Yang tadi menoleh itu lho.”

Ria langsung menarikku mendekatkan mulutnya ke telingaku.

Karena aku yang kurang memperhatikan wajah namja itu aku hanya bisa mengangguk asal.

“Ria, ayolah lari sebentar saja.”

Aku akhirnya merengek, kesal juga. Anak ini yang mengajak, kok dia yang terkesan tidak niat.

“Uwohh! Hati-hati, rambutmu menampar pipiku.”

Ria protes, rupanya aku yang menoleh membuat kucir kudaku menampar pipinya.

Rasakan, hihihi.

“Ne, ayo lari.” Ia menyetujui.

Tanpa pikir panjang, mumupung lagu yang sedang diputar mp3-ku lagu ngebeat aku berlari semangat. Meninggalkan Ria yang berlari dibelakangku.

_

Setelah beberapa keliling nafasku terengah, aku memelankan lariku yang berangsur menjadi jalan.

Tanpa sepengetahuanku dua namja yang tadi di bicarakan Ria melewatiku lagi. Pikiranku langsung saja tertuju kepada Ria ingin memberitahunya. Siapa tahu ia iri. Aku memacu lariku lagi, mencoba mencari Ria.

“NARAYAA!”

Aku berhenti menoleh, ternyata Ria. Sudah duduk di pinggir taman itu tidak jauh dariku yang ternyata melewatinya.

Aku menyusul duduk disampingnya.

“Hei, kau lihat tidak namja yang tadi kau bilang keren itu!”

“HAH? Di mana? Kau yakin?”

Aku mengangguk , menunjuk dua namja bersepeda itu yang sudah lumayan jauh.

“Kenapa bisa tidak lihat hah?”

“Molla. Sepertinya pikiranku melayang.”

“Hmmm, tapi sepertinya namja yang menoleh padaku tadi memang lumayan ganteng. Aku sempat melihatnya dengan jelas hehehe. Ayo kita lari lagi. Lumayan kalau papasan lagi.”

“Aniyo. Aku lelah, mau mencari minum saja. Hehe.”

“Anak ini!”

Aku menjitak kepalanya, meneruskan lariku.

_

Aku bertemu dua namja bersepeda itu lagi. Hehe.

Kenapa aku yang jadi memikirkannya ya?!

Aku menggelengkan kepalaku.

Sudahlah kalau lumayan ya biarkan, tidak ada salahnya.

Karena Ria sudah tidak bersamaku lagi otomatis aku sendirian dan bosan. Lagu tidak cukup untuk menemaniku. Jadi aku melihat-lihat sebisanya jarak pandangku.

Aku melihat siluet orang bersepeda lagi disampingku, mataku melotot seketika.

Kim Jong In?!

Namja itu juga menoleh, namun detik berikutnya ia sudah pergi, mengabaikanku.

Nyebelin, sialan kau! Aku meruntuki namja itu.

_

Aku masih berlari, sembari mencari keberadaan Ria. Kemana anak itu? Bukankah ia harusnya sedang jajan di sekitar taman ini.

Kembali dua namja bersepeda itu lewat, sudah cukup banyak kali kedua namja ini berhasil menyusulku, membuatku semakin kelewat tertarik.

Tak lama kemudian Kim Jong In yang lewat. Begitu melihatnya aku langsung memacu lariku mengabaikan namja itu.

Rasakan, bagaimana rasanya diabaikan hah?

Ish, kenapa kau jadi yang sewot?!

Tanpa dikomando aku langsung berhenti, pikiran macam apa hah itu?!

Sepertinya aku memang sudah lelah berlari di dalam lingkaran ini terus, pikirku.

Menoleh kesana-kemari, mataku menangkap gambaran kursi taman. Langsung saja aku mengampiri kursi itu, duduk mengistirahatkan kakiku. Mengambil Iphoneku dan mengirimkan pesan kepada Ria.

Sinar matahari semakin terik saja, menyilaukan mataku. Mana lokasi kursi taman ini sangat strategis di sinari matahari langsung. Dengan asal aku mengusap keringat di dahiku, berharap menghilangkan sedikit lelah.

Tring~~

Ringtone Iphoneku sedikit mengagetkan.

LEE RIA:

Aku berada di tempat jus yang sedikit tertutup oleh stand wafel hehe.

Coba tebak aku bertemu siapa?^0^

Hah, dasar. Siapa lagi yang dia temui coba?

_

“Ish, kau ini. Yang akhirnya lari pagi malah aku.”

Aku berjalan mendekati Ria memelototi yeoja itu. Namun perhatianku teralihkan begitu melihat siapa yang duduk disebelahnya – Sehun. Pantas saja dia senang, harusnya aku bisa menebaknya. Tunggu?! Kalau ada Sehun – ck, tentulah tadi aku bertemu Kim Jong In!

“Ria, ayo pulang… aku lelah.”

“A-ni-yo!” katanya perlahan mendekatiku.

“Duduklah sebentar, aku masih ingin disini.” Ia melirik ke arah Sehun yang sedang memengang ponselnya.

“Tidak, aku tidak mau. Kalau ada Sehun pasti ada – ck! ”

Belum aku menyebutkan, namja itu sudah muncul. Membuat Sehun gembira – pastinya, dia temannya.

Seakan tidak peduli dengan keinginanku Ria menyeretku duduk.

_

Jadilah aku, diam menunggu Ria dan Sehun hingga menyelesaikan obrolannya. Kulihat Jong In yang juga berada disebelah Sehun menatap bosan layar Iphonenya – ponselnya sama denganku : Iphone. Hanya saja dia hitam… dan aku putih?!

“Ne, kenapa kau bisa ada di taman ini?”

“Rumahku dan Jong In di komplek xxxx.”

“Ouh, hehe, rumahku dan Naraya berarti berada di sebrang komplekmu dong. Dekat.”

“Kompleks xxxxxxx ya?”

“Ne.”

Dan seterusnya…

Aku menatap masam ke arah jalan taman.

“Naraya, itu lihat! Namja yang tadi! Hehe, keren sekali kan?!”

Ria yang berada di hadapanku menarik-narik lengan kausku dengan sadis. Kukira ia tidak akan melihat saking sibuknya dengan Sehun.

“Ne.”

Suaraku datar sekali saat menjawabnya.

“Kau yakin? Yeoja babo sepertinya bisa naksir orang?”

Seseorang menyela perkataan Ria – kulihat siapa pelakunya – Jong In. Sial namja jelek, napeum namja!

Seakan memperburuk Sehun hanya tertawa.

“Andwae, anak ini sangat dingin. Ia tidak pernah menyukai seorang namja sampai sekarang.”

 Ria dengan polosnya membuka aibku yang memang belum pernah menyukai seseorang itu. Aku menepuk jidatku.

Aku mau pergi saja.

TO BE CONTINUE…

11 thoughts on “[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 3)

  1. hollaaa, author masih ingat dengan saya? #author: tidakk!!😄
    kmaren aku udah baca tp kepala aku lg mumet gx jelas jadi gx sempet koment..hehehe😀
    lanjut Thor.. makin penasaran nih ma kisah’y naraya🙂

    • Hehehe
      Ayo thor fighthing *mennyemangati diri sendiri ._.
      Semoga author bisa bikin yg panjang!!
      Ehehe, saya msh pemula *usap keringat di jidat
      Gomawo commentnya😀
      *Deep bow

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s