[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 4)

CM-Chap 4

 

Title : Clumsy me

Subtitle : Still Hate Him?

Author : NadyKJI (@nadyana1711)

Web : http://cynicalace.wordpress.com/

Genre : Comedy (a little?), romance, friendship, School Life

Length : Chaptered

Rating : G

Maincast:

  • Kim Jong In – Kai
  • Cha Naraya (OC)

Other : Oh Sehun, Lee Ria (OC), Min Chan Rie (OC), Park Chanyeol, Byun Baekhyun, D.O, Tao, Chen, Choi Minho (Shinee), Sulli (fx), Kang  Chae Kyong, Han Yeon Yuk (OC), (will be added)

Disclaimer : FF ini murni ide-ide khayalan author yang kelewat tinggi, dilarang meniru dengan segala cara apapun, jika tidak ff ini tidak akan dilanjutkan lagi. Terima Kasih.

Author’s Note :

Haiiiii….

Kali ini author mau mengumumkan sesuatu, hehehe

Author tiba-tiba pengen bikin sekuel buat ff ini, tokohnya? Tebak sendiri yaaaa. Semoga ff ini bisa selesai yaa. Jadi author bisa buru-buru bikin sekuelnya heuheuehue.

Mungkin readers mikir author ini terlalu ya….

Belum rampung satu ff udh kepikiran bikin sekuel.

Tapi tenang saja… author bakalan bkin ff ini rampung dulu aja.

Oke deh makin hari author makin bingung mau isi apa buat authors note ini.

Dadah, selamat membaca yaaaaaa *tanda-tanda author stress kurang ide ini

Hehe, selamat membaca ya *lagi?

___

-:Naraya:-

Hari-hariku berlanjut normal seperti seharusnya ya… dengan kecerobohan kecil yang bahkan tidak melukaiku. Yang aku kagetkan adalah yeoja sangar yang aku takuti itu menjadi teman kami – Ria dan aku. Sekarang aku, Ria, dan Cha Rie suka menghabiskan waktu istirahat bersama. Tapi terkadang Chan Rie masih memilih untuk di kelas daripada ke kantin.

Hari ini hari Selasa.

Pelajarannya menguras tenaga sekali, olah raga dan dance?! Bidang yang sangat tidak kukuasai.

Aku mematut diriku di cermin. Diriku sudah siap, memakai baju olah raga. Baju ganti untuk kelas dance (kaos longgar, celana pendek, dan sepatu), dan baju seragam sudah di dalam tas.

“YA! NARAYA, CEPATLAH!”

Ups, oppa sudah menunggu rupanya. Aku bergegas turun ke lantai bawah.

“MIANHAE OPPA, AKU TURUN.”

“NARAYA, JANGAN LARI!”

Suara teriakan aku dan oppa memenuhi rumah, membuat kegaduhan.

Akhirnya… sampai dengan selamat ke ruang makan, hehe.

“Nara-ah, jangan begitu. Gaduh sekali, eoma bagaimana coba kalau kamu jatuh lagi.” Eoma tersenyum jahil padaku.

“Eommaaaa, masa begitu pada aegimu ini?” aku merajuk.

“Hehehe, emang harus bagaimana? Kau kan memang cerobohnya luar biasa. Ngomong-ngomong kau tidak cocok menyebut dirimu aegi.”

Chen oppa menambahkan, ia sudah siap dengan kunci mobil yang ia mainkan di tangannya. Aku memukulnya ringan.

Aku hanya menegak segelas susu.

“Kajja Oppa, annyeong eomaa.” Aku menarik tangan oppa. Sedangkan eoma hanya bisa menghela nafas. Appa? Ia sepertinya asik dengan koran yang ia baca, menulikan diri dari tingkah kami yang sudah seperti anak jadi-jadian ini,xixixixi.

_

Seperti biasa aku membuka pintu mobil dan berlari kecil ke gerbang sekolah. Membiarkan oppa memarkirkan mobilnya sendiri.

“Naraya! Oppa bilang jangan lari!”

Aku memutarkan bola mataku. Sepertinya oppa selalu mengucapkan kata itu setiap aku keluar mobil.

Dasar kaset rusak, hehehe, mianhae oppa, tapi kau baik kok.

Aku berjalan sambil menyenandungkan lagu yang sedang aku gemari ‘Good Time – Owl City ft Carly Raep Jensen’. Tanpa sadar aku malah menubruk seseorang.

Aku mendongak,

“Ya! Kau!” aku langsung saja berteriak emosi.

KIM JONG IN orang ini sukses membuatku hampir celaka pagi ini. *siapa yang salah sih disini?

“Kau lagi?! Ck, bisa tidak sih kau berjalan dengan benar?” Jong In membalas Naraya dengan sengit.

Seketika, aura membunuh terpancar dari kedua orang ini.

“Cih.”

Aku langsung meninggalkan namja itu kesal, memasuki gedung sekolah.

-:Kai:-

Dasar yeoja gila, yang menabrak siapa yang marah siapa! Ck!

Yeoja gila itu berhasil merusak pagiku ini. Padahal tadinya aku sudah merasa damai selama beberapa minggu terakhir ini aku hidup normal tanpa gangguan.

_

Pelajaran pertama olah raga. Kegiatan: tes. Sangat membosankan.

Itulah kesimpulanku yang singkat tentang pelajaran olah raga. Habis mau bagaimana lagi. Inilah adanya bagiku, tidak menarik hanya tes saja.

Aku duduk di pinggir lapangan dekat keranjang bola, melihat murid yang masih tes. Sekarang bagian anak perempuan.

“Cha Naraya, giliranmu.”

Guru olah raga – Yeon Yuk-seongsaengnim menyerahkan bola voli kepada gadis itu.

Gadis itu memulai ancang-ancang seperti yang lainnya, hanya saja saat ia mencoba tangannya salah. Ia malah mengambil resiko jarinya patah dengan memukul bola itu tepat di atas jempolnya yang mengepal. Ketiga percobaan gadis itu gagal, seongsaenim menyuruhnya mengulang minggu depan. Gadis itu kemudian langsung mengambil bola dari keranjang, dan berjalan ke sisi lain lapangan. Aku mengikuti gerakannya.

Ternyata dia berlatih. Tapi tetap saja tangannya salah. Dia sudah mencoba 10 kali dan tangannya memerah. Karena gemas aku beranjak menghampiri gadis itu.

Begitu berada di sampingnya, gadis itu menatapku sengit.

“Mau apa kau?” ia menghentikan aktifitasnya sejenak.

“Membantumu, babo.”

“Kalau kau hanya ingin mencemoohku lupakan saja.” Kata gadis itu tetap dengan nada memusuhi.

“Berikan bolanya.”

Kami saling bertatapan. Aku hanya menunggu, gadis itu ragu-ragu. Tapi sedetik kemudian ia menyerahkan bola itu padaku. Aku mengambilnya, mengajarinya.

“Kau tahu kesalahanmu?” aku bertanya, ia menggeleng.

“Begini, aku melihat caramu memukul. Kamu memukul di sini kan?” aku menunjukan kepalan tanganku tepat di jempol.

Sejenak ia melihat bagian tangannya yang memerah, “Iya.”

“Memukullah di sini.” Aku mengengam tangannya yang masih terkepal, membalikkanya. Aku menunjuk tepat di atas urat nadi, di bagian telapak tangannya yang empuk.

“Cobalah.” Aku mundur memberikannya ruang.

Ia gagal, tapi masih lebih baik dari tadi.

“Cobalah begitu terus. Jangan menggunakan jempol, nanti beresiko patah.”

Kegiatanku berikutnya adalah melihat gadis itu berlatih dan mengoreksi bila ada yang salah.

_

PRITT

Suara peluit yang di bunyikan seongsaengnim menandakan bahwa pelajaran berakhir. Aku dan gadis itu berjalan mendekat.

“Siapa yang bertugas piket hari ini?”

Hening, tidak ada yang menjawab, tentu saja tidak ada yang ingin piket dan kehilangan beberapa menit waktu istirahat yang berharga.

Seakan sudah terbiasa akan hal ini, mata seongsaengnim mulai melihat kesetiap murid.

“Ya sudah, kalau begitu kalian berdua saja yang piket ya.”

Ia menunjuk aku dan gadis itu yang memang sedang duduk bersampingan.

“Sesudah ini tidak ada pelajaran olah raga lagi. Jadi bawalah semua peralatan ini ke ruang penyimpanan.”

Sesudah memberikan kami tugas ia pergi begitu saja diikuti bubarnya semua anak yang sudah ingin istirahat.

Aku menghembuskan nafas dan berdiri.

“Ayo, kalau kita tidak bergerak tidak akan selesai.”

Aku sudah mulai mengambil papan-papan pembatas dan membawanya ke ruang penyimpanan yang berada tidak jauh dari situ. Gadis itu mengikuti sambil mendorong keranjang bola.

Kami bekerja dalam diam, tidak ada yang berniat bicara.

Kami baru saja menyimpan barang-barang terakhir. Aku kemudian mengunci ruangan itu.

“Ehmm, terima kasih.” Gadis itu berbicara pelan.

“Untuk apa?”

“Kau sudah mengajariku voli, dan beberapa waktu lalu kau juga yang menolongku saat di tangga, bahkan mengantarku pulang. Bagaimanapun terima kasih.”

“Gwaenchana, lagian saat aku mengantarmu pulang menguntungkan juga bagiku, bisa keluar sekolah sebentar.”

Aku menyeringai kepadanya.

“Kim Jong In…” ia memanggilku.

Aku menoleh menatapnya, apa lagi dengan gadis ini.

“Kai saja, panggil aku Kai. Tapi jangan biarkan temanmu yang lain memanggilku begitu.”

“Wae?”

“Aku tidak suka dipanggil Kim Jong In, tapi aku juga tidak suka di panggil Kai oleh orang yang tidak dekat denganku.”

“Tapi aku tidak dekat denganmu.”

Aku memutar bola mataku, gadis ini, sedetail itukah ia harus mendapat penjelasan.

“Kau yakin? Dengan kecerobohanmu yang selalu berakhir padaku? Kau pasti akan selalu berada di sekitarku, dan aku tidak ingin mendengar nama Kim Jong In darimu terlalu sering. Jadi panggil aku Kai saja. Mengerti?”

“Mwo?!” kulihat gadis itu melotot kearahku.

Aku berbalik memunggungi gadis itu.

“Cha Naraya aku punya nama! Tadi aku mau bilang kau itu tidak seburuk yang kupikirkan, tapi kata-kata itu kutarik kembali.”

Ia sedikit berteriak, kutolehkan kepalaku ke belakang. Gadis itu memeletkan lidahnya ke arahku sambil berkacang pinggang.

Aku tahu namamu, babo. Sejak saat itu…

-:Naraya:-

“Naraya, kenapa kau lama sekali sih tadi? Ada sesuatu ya?” goda Ria, sambil mencubit lenganku.

“Apaan sih?! Namanya juga di suruh piket, barangnya banyak begitu lagi. Cih.”

Aku kesal juga dengan Ria, bukannya berniat baik membantu, eh dia malah langsung pergi saja ke kantin bersama Chan Rie. Sekarang malah bertanya dan mencubitku, enak saja!

“Naraya, jangan begitu dong. Aku kan mau melihat Sehun, hehehe.”

Jawabannya tidak membaik pula?!

“Sehun, Sehun, namja tampan saja yang kau pikirkan!? Besok siapa lagi?”

“Hehe, tenang Naraya. Sepertinya Sehun sedikit berbeda.” Ia nyengir.

“Ya, ya… buktikan saja, aku bosan dengan perkataanmu yang begitu melulu. Sudah, seongsaengnim datang.”

Aku buru-buru memotong Ria, sudah hafal dan bosan dengan segala balasannya. Berteman dengannya sejak TK mungkin membuatku mengenalnya dengan baik.

Perhatianku kembali kepada seongsaengnim yang sedang membaca selembar kertas di tangannya. Sepertinya ia sedang menimbang-nimbang sesuatu dengan serius. Aku jadi tegang sendiri. Bagaimana kalau itu daftar murid yang terburuk dalam menari?! Aku hanya bisa berdoa semoga aku tidak masuk kategori itu. Namun aku akui, aku cukup payah dalam hal menari.

“Hmmm… Ya.”

Hening sejenak, membuatku ,menelan ludah.

“Sebentar lagi – ehmm, tidak juga sih sebenarnya – akan ada pentas seni, jadi saya memutuskan untuk membuat kalian menari berpasangan. Pasangan terbaik akan saya suruh tampil. Jangan di anggap remeh, ini mempengaruhi nilai kalian. Ingat ini untuk tugas semester! Bersyukurlah saya memberitahukannya sekarang.”

Seongsaengnim yang berkata seperti itu menakutkan. Padahal seongsaengnim itu cantik menurutku. Sekarang aku meremas tanganku, aku dipasangkan dengan siapa ya? Semoga saja dengan yang bisa menari, lebih unggul sedikit dariku juga aku sudah bersyukur.

“Tadi saya meminta daftar murid pada wali kelas kalian, tapi ia malah memberikan denah tempat duduk. Itu bagus, memudahkan saya. Kalian suda tau kan jadinya. Pasangannya sesuai dengan denah saja.”

Perkataan seongsaengnim seperti hukuman bagiku. Aku harus berpasangan dengan Kai? Ya, secara teknis aku baru saja menganggapnya lebih baik, tapi berpasangan dengannya bukanlah pilihan bijaksana.

Aku menggelengkan kepalaku.

Positive thinking Naraya.

“Naraya, kau dengar? Aku berpasangan dengan Sehun kalau begitu.” Ria yang tidak mengerti kondisiku menoleh dengan mata berbinarnya.

“Apa yang ingin seongsaengnim tekankan…”

Perkataan seongsaengnim tidak kudengarkan. Bukannya tidak mau, tapi murid-murid yang mulai gaduh dan Ria yang meminta perhatianku untuk curhat bahagianya bukanlah kondisi yang mendukung.

“Naraya, kau mendengarkanku kan?”

Sekarang ia mengucangkan bahuku kelewat bersemangat.

“Iya, aku dengar. Patnermu adalah Oh Sehun, sang pujaan hatimu yang duduk disebelahmu. Dan kau sangat bersyukur karena Minho-seongsaengnim yang membuat denah duduk seperti itu dan kau jadi menyukai guru itu terlepas dari mata pelajaran yang diajarkannya.”

Aku berkata lancar nyaris tanpa jeda, dengan nada datar.

Ria yang masih memegang bahuku hanya bisa nyengir mendengar omonganku.

“Euhm, pernah kudengar dari oppa kalau pentas seni itu masih sekitar akhir November atau awal Desember? Berarti masih lama dong? ” aku menanyakan ragu.

“Tepat sekali dan jangan perdulikan itu dulu. Ayo lihat kita akan menari apa.”

“Eh?”

Sebelum aku sempat berpikir Ria menarik tanganku dengan tidak sabaran. Menerobos masuk di antara murid lain yang berebut ingin melihat. Aku yang tidak suka bersesak-sesakan ini terpaksa ikut di dalamnya karena tangan Ria yang masih mengenggamku – ayolah hanya 18 murid, bagaimana bisa terlihat sesesak ini. Kaca ruang tari yang bersih bening menjadi buram akibat tapak-tapak tangan barbar murid.

“Sa…salsa?!” kata Ria memberi penekanan.

Aku yang mencium gelagat anehnya langsung berdiri di sampingnya ikut melihat berhubung sudah kerumunan sudah mulai sepi.

“Kau salsa?”

Aku bertanya padanya sembari melihat nama-nama lain, dan mencari namaku.

“Andwae. Kau yang salsa. Aku dapat quick step…”

Salsa?! Tari apa itu, aku sama sekali buta dengan berbagai jenis tari.

“Quiks step? Kurasa itu cocok untuk kita, berhubung kau lincah sekali.”

Aku menoleh melihat siapa yang bicara – Sehun. Langsung saja Ria mengabaikanku memilih pergi bersama Sehun untuk memikirkan koreografi mereka.

Aku? Aku seketika merosot terduduk begitu saja, punggungku bersender sepenuhnya pada dinding kaca. Aku dudu memeluk lutut memikirkan tari salsa itu seperti apa. Sepertinya pernah dengar tapi terlupakan oleh otakku ini.

TUK

Aku berjengit kaget, sesuatu yang dingin tiba-tiba menempel di pipiku. Membuat kepalaku dengan sukses membentur kaca.

“Auw.” Aku meringis mengusap-usap belakang kepalaku yang sakit.

Setelah rasa sakitnya memudar aku mendongak, ingin tau siapa pelakunya.

Di depanku berdiri Kai, tangan kanannya mengenggam sekaleng pocarisweat – barang bukti yang membuatku kaget itu. Ia sedang menahan tawanya. Ia sepertinya tidak memperhatikanku yang sudah memelototinya.

“YA! KAU INI.”

Aku berteriak kepadanya. Membuatnya sedikit terlonjak.

“Mianhae, aku pikir kau tidak akan kaget. Gwaenchana?”

Kai ikut duduk di lantai mensejajarkan dirinya denganku.

“Kau sudah lihat?”

Belum sempat aku menjawab pertanyaan pertamanya, ia sudah bertanya lagi. Kulihat arah pandangnya.

“Salsa. Kau tahu?”

“Ya…”

Kedatangan seongsaengnim menghentikan perkataan Kai. Membuat aku mendongak.

“Kalian sedang apa? Tidakkah kalian ingin berlatih seperti yang lainnya?”

“Aku belum tahu salsa itu apa saem.”

Menjawab begitu sama saja menyatakan dirimu yang mengahambat proses latihan, dan aku menyesal sesaat setelah menjawabnya.

“Gwaenchana. Lebih baik jujur daripada pura-pura tahu dan hasilnya kurang maksimal, eoh?” seongsaengnim berkata seakan mengetahui betapa menyesalnya aku jujur padanya.

“Berdirilah Naraya. Kita lihat seberapa lentur tubuhmu. Untuk permulaan.”

Detik berikutnya seongsaengnim sudah menyuruhku mengangkat kakiku seperti penari balet. Meyuruhku duduk dengan kaki lurus lalu mendorong punggungku hingga hidungku menyentuh lutut dengan sempurna. Sisanya aku tidak begitu bisa mendiskripsikan saking rumitnya.

“Daebak! Kau cemerlang Naraya!” mata seongsaengmim seakan berbinar setelahnya.

Tidak percaya, itulah yang aku rasakan. Aku tidak begitu terbiasa di puji dan reaksiku selanjutnya sedikit memalukan. Bukannya tersenyum atau mengucapkan terima kasih aku malah menundukkan kepalaku malu. Dan saat itulah kejadian naas kembali terjadi.

“UWAHH, AHH, AWAS, MENYINGKIRR!”

Kudengar teriakan tepat dibelakangku. Karena refleksku bisa dibilang lemah sudah pasti aku telat merespon. Aku sudah mengangkat kaki kananku untuk berpindah. Namun kecerobohanku tidak menghilang begitu saja, aku malah terpeleset, kurang lebih. Aku tidak tahu lagi. Aku sudah menutup mataku menyerahkan diriku yang melesat menuju Kai. Tanganku terayun bebas.

Mianhae Kai.

“WAAA!” aku memjamkan mataku takut.

Kurasakan seseorang menggenggam tanganku. Kai?! Kurasa iya, tapi aku tidak berani membuka mata.

Hening cukup lama. Seperti Deja Vu, membuatku enggan membuka mata.

“Naraya, Kai!! Brilliant! Sebelum kalian berlajar, kalian sudah mempraktekkannya.”

Kudengar seongsaengnim berteriak bahagia bertepuk tangan disusul tepuk tangan murid lainya.

Kubuka mataku cepat. Wajah Kai sangat dekat dengan wajahku membuatku kaget, tapi tidak bersuara. Aku dia membeku di posisi aneh ini. Yang bisa aku dikripsikan adalah, aku nyaris split, tangan Kai mengenggam tanganku sedangkan yang satunya memeluk pinggangku. Yang terpenting muka kami dekat sekali. Dari yang aku tangkap – menurut perkataan seongsaengnim, ini adalah salah satu gerakan salsa?! Yang benar saja…

_

Pelajaran tari sudah selesai lama sekali. Kejadian awkward tadi sangat membuatku malu.

Sekarang aku sedang melangkahkan kakiku menuju ruang seongsaengnim bersama Kai tentu saja. Setelah kejadian tadi, semangat seongsaengnim sangat menggebu-gebu. Misalkan sekarang. Pulang sekolah ini kami harus ke ruangannya, ia ingin aku dan Kai mengambil contoh video salsa untuk bahan berlatih. Secara tidak langsung ia sangat mengharapkanku dan Kai. Tidak baik untukku.

“Ne, muridku, perlu aku katakan, salsa itu identik dengan kedua penari yang jatuh cinta. Pandangan mata yang intens…”

Mwo?! Mati aku, hubunganku dan Kai tidak sebaik itu, apalagi cinta? Tamatlah aku. Perkataan seongsaengnim sudah seperti radio rusak yang tidak jelas. Aku sangat menolak mendengarkannya.

Setelah selesai dengan ceramahannya, ia memberikan Kai satu CD. Tanganku ada dibalik punggungku, seakan menolak untuk menerima.

_

“Mau kemana kau?”

Suara itu menghentikanku yang sudah menuju gerbang sekolah. Ck, aku harus cepat, sebelum gerbang sekolah ditutup. Aku berbalik menghadap Kai.

“Pulang tentu saja.”

“Kuantar.”

“A…aniyo. Aku pulang sendiri saja.”

“Tidak boleh.”

“Mwo?!”

“Yeoja ini.”

Aku diam saja.

“Sekarang sudah mulai gelap. Kuantar. Aku tahu rumahmu, aku pernah mengantarmu, Ne? Lagi pula rumahku dekat dengamu. Sudah pernah dengar dari Sehun bukan?!”

Kai berkata kepadaku seakan-akan tidak boleh ada penolakan sama sekali. Namun aku cukup keras kepala. Aku tetap diam di tempatku, tanpa niat mengikutinya.

-:Author Pov:-

“Ck!”

Kai berdecak kesal. Naraya – gadis di hadapannya ini keras kepala sekali.

Tanpa pikir panjang, Kai langsung menggenggam tangan Naraya. Mengabaikan penolakan dari gadis itu. Setengah menyeret gadis itu menuju mobilnya yang terparkir cantik dibawah pohon.

“Kajja, masuk!”

“Andwae!” Naraya melipat tangannya di dada.

Kai sudah berada di dalam mobil. Aku bisa kabur kapanpun aku mau, batin Naraya.

“Masuklah, jangan membuatku memaksamu. Tidak ada gunanya, aku secara fisik aku lebih kuat darimu.” Kai tersenyum kecil, mengetuk-ngetukkan jarinya di setir mobil menunggu gadis itu masuk.

“Andwae!!!”

Naraya langsung saja berlari pergi, berusaha menjauhi mobil Kai.

Kai dari dalam mobilnya terlonjak kaget. Ia pikir Naraya akan menurutinya dengan mendengar ancamannya. Kai memunculkan smirk andalanya. Keluar dari mobilnya mengejar Naraya yang belum berlari terlalu jauh.

Kai berlari mengejar Naraya. Kakinya yang panjang itu melangkah dengan cepat. Menyusul Naraya yang mulai lelah karena berlari.

Detik berikutnya Naraya sudah berada dalam pelukan Kai, Kai memeluknya dari belakang. Membuat Naraya tidak bisa melihat ekspresi apa yang muncul di wajah namja itu.

“Hmph. Kau pikir kau bisa melarikan diri?!”

Kai berbisik di telinga Naraya. Gadis itu tidak bisa bergerak, tangan Kai mengunci pinggangnya dengan kuat.

“YA! Napeum namja, lepaskan aku. Menyebalkan!”

“Eoh.”

“Jjinja?” Naraya bingung sendiri dengan keraguannya, padahal ia yang bertanya.

Pelukan Kai mengendur, melepaskan yeoja itu seketika. Namun belum sempat Naraya dapat bergerak, tangan Kai sudah menggendongnya – bridal style!

_

Mercedes hitam milik Kai berhenti dengan mulus di depan rumah gadis yang diantarnya. Disampingnya terduduk Naraya, yeoja itu tampak merengut.

“Sudah sampai. Eh? Mau sampai kapan kau merengut seperti itu?”

“Sampai aku bisa mengulang kejadian tadi dan pulang sendiri.”

Gadis itu masih saja dengan keras kepalanya.

Kai keluar begitu saja, membiarkan Naraya tetap duduk diam di kursinya.

Ting… Tong…

Namja itu baru saja memencet bel rumah Naraya.

Naraya melongok dari jendela, “Apa yang kau lakukan?”

“Membuatmu turun. Kalau kau tidak mau turun dengan sukarela aku bisa meminta bantuan orang tuamu mungkin?!”

Kai menjawab dengan polosnya, membuat Naraya yang masih berada dimobil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Sabar Naraya, namja ini memang gila dan sudah kehilangan akal. Buat apa kau menghabiskan tenagamu untuk marah padanya…

Gadis itu membatin, menenangkan dirinya.

Pintu rumah terbuka, dari balik pintu keluarlah Chen-oppa. Naraya yang tidak menyangka kalau kakaknyalah yang akan membukakan pintu langsung keluar dari mobil. Sebuah senyum kemenangan terlukis di wajah Kai detik itu juga.

“Oppa!”

“Naraya, kau darimana saja? Oppa mencarimu, kupikir kau sudah pulang duluan karena suatu kecelakaan lagi.”

“Ish.” Naraya langsung saja melotot marah pada oppanya itu.

“Ah, ani. Tadi saya dan Naraya dipanggil dulu oleh seongseangnim.”

 “Hmm, namamu?”

“Kim Jong In imnida.”

Chen mulai menginterogasi Kai dengan pertanyaan ala kakak yang kelewat protektif pada adik perempuannya. Naraya yang mulai menyadari gelagat salah paham kakaknya langsung menyela.

“Oppa, dia hanya teman. Tadi kami memang dipanggil guru tari, saem ingin memberikan bahan untuk kami saja. Karena sudah larut ia menawarkan akan mengantarku pulang.”

Chen hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

“Ne, gamsahabnida. Masuklah untuk ikut makan malam mungkin?” tawarnya.

“Tidak terima kasih. Tapi seperti yang sudah Naraya bilang sekarang sudah larut. Sebaiknya aku pulang saja. Anneyonghaseyo.”

Beberapa menit kemudian mobil Kai menghilang, meninggalkan Naraya dan Oppanya yang kelewat ingin tahu.

“Wae?!”

Naraya mendelik kesal ke arah oppanya dan langsung berjalan memasuki rumah.

Chen yang melihat tatapan jangan-tanya-lagi-nya Naraya langsung memilih diam.

TO BE CONTINUE…

 

7 thoughts on “[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 4)

  1. hula min…. ini komen prtma sya😀 mklum uda bosan jdi stalker #ngek

    ff’a part ini keren min … aplgi pas part sikai main(?) peluk*an =D

    NEXT part’a ditunggu …. fighting !!!!

  2. hoyaaa.. reader gaje dtng lagii😀
    lanjut Thor, makin seru.. ^^
    semangat Thor biar trus lanjut and bkin sekuelnya😀

    • Hollaaa sekarang author gaje dah yang muncul wkakakakak!! Author skrng pke Id ini yaaa, ga pke yg nadyace85 wkakaka – di putuskan buat id wp aj wkwk #oke-ga-penting-abaikan #plak

      Lanjutt yeeeeeee! Tungguiiin author yaa *total error
      Sudah autho balik ke habitat saja a.k.a dpn laptop heula nuliss #sok-gaya

      Gomawo commentnyaaa
      Annyeong! :*

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s