[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 5)

CM-Chap 5

Title : Clumsy Me

Subtitle : Stupid Salsa!

Author : NadyKJI

Web : http://cynicalace.wordpress.com/

Genre : Comedy (a little?), romance, friendship, School Life

Length : Chaptered

Rating : G

Maincast:

  • Kim Jong In – Kai
  • Cha Naraya (OC)

Other : Oh Sehun, Lee Ria (OC), Min Chan Rie (OC), Park Chanyeol, Byun Baekhyun, D.O, Tao, Chen, Choi Minho (Shinee), Sulli (fx), Kang  Chae Kyong, Han Yeon Yuk (OC), Cho Youn Hee (OC),  (will be added)

Disclaimer : FF ini murni ide-ide khayalan author yang kelewat tinggi, dilarang meniru dengan segala cara apapun, jika tidak ff ini tidak akan dilanjutkan lagi. Terima Kasih.

Author’s Note :

Helo readers!!!

Tidak kerasa ya sudah chapter 5 lagi *author menangis haru.

Author ingin memberitahukan nama guru tari Naraya – Cho Youn Hee. Tadinya sih tidak author kasih nama. Apa daya, sepertinya guru ini akan banyak muncul, jadi author beri nama, hehehe. *Thor, emng lw ibu-bapanya ya?!

Huee, author minta maap kalau posternya gaje ya ya yaaa~

Auhtor cuman pengen memberikan bayangan kepada readers ehehe (^∞^)

Ngomong apa lagi ya???

Oh, iya.. para readers pliss coba datang ke wp author : cynicalace.wordpress.com dam meninggalkan jejak – huhu sedih wpnya kosong sepi #plak

Dan author mau terima kasih sama admin exomkfanfiction.wordpress.com yang udah post ff ini ^^ jeongmal gomawoo!

Udah deh, blm kepikiran lagi.

Happy Reading^^

Comment sangat diharapkan yaaa😀

Author lagi garing segaring keripik lays *LOL

___

-:Author PoV:-

Semenjak kejadian gerakan salsa kecelakaan itu, Youn Hee-seongsaengnim menyuruh dua anak didiknya untuk segera berlatih. Bahkan mau mengkhususkan diri untuk melatih dua muridnya itu. Sedangkan Kai dan Naraya yang menjadi objek penderita hanya bisa pasrah akan panggilan saemnya untuk berlatih. Tak jarang waktu istirahat kedua mereka disabotase oleh sang saem yang terlalu obsesi ini.

_

“Nae Hakseng, kalian briliant. Cobalah Senin sepulang sekolah berlatih di ruang tari. Nanti saem yang bilang kepada petugas agar tidak dikunci dulu ruangannya.”

Kata Youn Hee-seongsaengnim kepada Kai dan Naraya pada saat latihan hari Jumat istirahat kedua tentu saja.

Kai dan Naraya hanya menganggukkan kepala pasrah. Mereka merasa sudah terpilih untuk mengisi acara saja. Saem sepertinya sudah melupakan tujuan awalnya membuat pasangan tari dari setiap kelas.

-:Naraya:-

“Bagaimana menurutmu?” aku bertanya kepada Kai.

“Eh?”

“Latihan Senin sepulang sekolah?”

“Terserah padamu saja.”

Sejujurnya aku masih sedikit kesal dengan insiden mengantar pulang dengan paksa yang diprakarsai oleh Kai. Aku lupa tepatnya, mengingatnya saja membuatku kesal setengah mati.

“Kenapa terserah padaku? Ini menyangkut kau juga dong!”

Aku tidak terima dia melimpahkan semua keputusan padaku. Kalau aku salah dan dia menyalahkanku nantikan tidak adil. Nappeun namja!

“Nanti saja dipikirkannya, eoh?”

Namja itu sedikit menyentakku, membuatku terlonjak sedikit.

“Cih, nappeun namja.”

Aku berjalan cepat meninggalkan namja menyebalkan itu menuju kelas.

_

Aku berjalan kearah tempat parkir, cuaca sabtu siang ini terlalu terik. Pelengkapan melukisku yang banyak inipun sama sekali tidak membantuku. Aku baru saja selesai dari kegiatan eskul melukisku, tapi entah kenapa tanganku masih gatal untuk melukis. Mungkin karena kanvas yang berada dalam pelukanku ini hanya terisi dengan sketsa gambar saja. Inilah diriku yang selalu perfeksionis segala harus tuntas tanpa ditunda dulu.

Dugh.

Suara barangku yang aku letakkan begitu saja di kap mobil berbunyi. Aku sudah sampai pada tujuanku – mobil oppa. Kekurangannya adalah Chen sang pemilik mobil belum ada, sehingga aku tidak bisa masuk dan langsung pulang. Padahal aku sudah lelah.

Pintu mobil yang masih tertutup kujadikan tempat untuk bersandar, sejenak melepas lelah walau hanya sedikit. Pandanganku mengarah ke lapangan sekolah yang lalu lalang dengan murid-murid yang baru keluar.

Mataku tiba-tiba saja menyipit. Seseorang keluar dari gedung dan langsung di kerumuni oleh para yeoja – baik dari anak kelas 1 sampai anak kelas 3. Seiring dengan orang yang di kerumuni berjalan mendekati tempat parkir, teriakan gumaman para yeoja itu semakin jelas. Tanpa bisa dicegah langsung saja telingaku mendengarkan ribut-ribut tersebut.

‘Jong In, ayo pergi dengan noona.’

‘Jong In, ini minumlah, kau haus kan?’

‘Tadi aku lihat, kau keren lho saat main anggar.’

‘Kyaaa!’

‘Oppaa…’

‘Jong In, kau ganti gaya rambut ya?’

‘Dongsaeng noona yang lucuu?!’

‘Saranghaeeee,’

Mendengar ribut-ribut itu cukup membuatku kesal. Kai. Namja tebar pesona itu. Setiap kali aku melihatnya di lapangan sekolah pasti saja membuat keributan dengan penggemarnya yang bejibun itu. Bagaimana orang semenyebalkan itu menjadi pasangan tariku? Mana Youn Hee-seongsaengnim juga menyukainya lagi – tentu saja karena Kai pintar menari.

Aku masih menatap kerumunan itu jengkel, sedikit menyipitkan mata karena silau.

“Naraya, apa yang kau lakukan?”

Punggungku terlonjak dan seakan terpeleset di badan mobil yang licin membuatku hampir jatuh. Sampai satu tangan menahan sikuku.

“Oppa! Mengagetkanku saja.”

Chen oppa tidak memperhatikanku, ia malah melihat ke arah pandangku tadi – kerumunan Kai.

“Kau menyukainya?”

“Hah? Oppa tidak mengigaukan?”

“Aniyo. Oppa secara sadar menanyakan padamu.”

“Ish, mana mungkin aku suka namja tebar pesona itu. Menyebalkan.”

“Hmm, kenapa aku melihatmu seperti mengawasi namja itu ya…”

“Oppa! Oppa kenapa sih? Aneh.” Cibirku tidak terima.

“Ya sudahlah. Kau memang masih polos.”

“Wa…wae?”

Sebelum aku bisa menahannya, aku menyadari hal lain. Cahaya matahari yang tadi begitu menyorot itu tiba-tiba lenyap. Seperti seseorang telah menghalangin cahaya matahari itu. Refleks layaknya orang biasa aku menoleh ke arah yang kuyakin adalah letak si penutup cahaya itu.

“Aku hanya mau menyampaikan, latihan hari Senin nanti jadi! Saem tadi memaksaku saat bertemu di lorong.”

Sudah tahu kan siapa? Kai. Setelah berkata seperti itu ia berbalik menghilang dikerumuni oleh para penggemarnya.

Cih, sudah tebar pesona. Sekarang memerintah?!

_

Hari minggu aku hanya berdiam bosan, menatap lukisanku yang belum selesai sabtu kemarin. Aku tiduran di kasur membayangkan warna yang harus aku pakai. Sampai satu harianpun masih belum terpikirkan.

-:Kai:-

Aku duduk di pojok ruang tari, sedang mengikat tali sepatuku. Sudah 10 menit dan Naraya belum juga muncul. Apakah gadis itu lupa?

SREKKK

Tap, tap, tap

Brak

Aku mendongak mendengar suara ribut yang berakhir disebelahku itu.

“Kau sedang apa?”

Naraya, gadis itulah yang membuat suara gaduh tersebut.

“Melukis, mian. Aku telat gara-gara ini.”

Ia menunjuk tangannya yang memegang kanvas berlukiskan bunga sakura berwarna merah menyala itu. Kanvasnya masih menunjukkan bagian-bagian berwarna putih menandakan belum selesai dilukis.

“Bagus, selesaikanlah dulu.”

“Jjinja?”

“Eoh. Kalau tidak kau tidak akan konsentrasi bukan?”

Kata-kata itu meluncur begitu saja, mungkin karena hyungku yang seorang pelukis membuatku sedikit mengerti. Tabiat seorang pelukis jika lukisannya belum rampung pasti uring-uringan. Kulihat tangan mungil gadis itu sudah membuka cat dan memegang kuas. Memulaskan warna-warna kepada kanvas di depannya.

Hening.

“Uhm..”

“Wae?”

Aku bosan diam terus…

“Kau suka melukis? Hobi?”

“Molla. Aku sendiri bingung. Tapi kebanyakan aku melukis saat aku kesal. Lebih tepatnya terkadang tempat pelarianku adalah lukisan atau toko peralatan lukis mungkin.”

“Wae?”

“Keluargaku bukanlah keluarga utuh. Appaku sekarang bukan appa kandungku. Eomaku menikah lagi. Chen adalah anak appa, jadi ia kakak tiriku. Tapi Chen baik sekali padaku.Eh, mian… aku jadi bercerita tidak jelas begini.”

“Gwaenchana, lagian kalau diam terus juga aku bosan.”

“Apakah melukis membutuhkan waktu lama? Aku lihat kau hanya berkutat dibagian itu terus. Padahal masih ada bagian yang belum tersentuh.”

“Hehe, melukis ada suatu kesabaran. Jika kau tidak sabar – lukisanmu tidak akan memuaskan.”

_

“One, two, three, four,”

 jeda

“five, six, seven, eight.”

Aku dan Naraya sedang berlatih ketukan. Walaupun sudah diajari saem, Naraya masih kurang hafal dengan ketukannya. Jadi aku memutuskan melancarkan dasarnya saja. Musik jadinya tidak di putar. Sudah mulai gelap, keadaan jadi benar-benar hening.

Click.

Satu suara kecil namun berdampak cukup fatal. Kami berdua terdiam sejenak.

Sial!

Aku berjalan menggapai pintu kayu ruang tari, di kunci.

Skakmat.

“Wae?”

“Pintunya terkunci.”

“Bagaimana bisa? Tidakkah petugas itu melihat lampu masih menyala?”

Aku menggeleng, “pintu ruang tari ini sangat rapat, aku pikir cahaya dari dalam sini tidak bisa menembus keluar.”

“Saem? Bukankah dia bilang akan bilang pada petugas?”

“Molla. Coba aku telepon saem.”

Kuambil Iphoneku dari dalam tas. Kuketikkan nomor saem dan meneleponnya.

Tut, tut, telepon yang Anda hubungin sedang sibuk silahkan menghubungi beberapa saat lagi.

Suara Iphone ku yang di loudspeaker itu sudah memberitahukan kami kalau saem tidak bisa dihubungi.

_

Disisi lain tepatnya apartemen Youn Hee-seongsaengnim.

Wanita itu sedang berteleponan dengan kekasihnya, meninggalkan dua anak didik tercintanya terkunci di ruang tari semalaman.

_

“Tidurlah, gwaenchana. Aku akan membangunkanmu kalau seseorang membukakan pintu. Minimal saat saem bisa dihubungi.”

Kulihat Naraya yang masih duduk memeluk lutut.

Sekarang sudah jam 11 malam. Saem masih tidak bisa dihubungi. Dasar saem gila, mana ada guru yang menelantarkan anak didiknya seperti ini.

Sebagaimanapun aku kesal dengan yeoja disebelahku ini, masih ada keinginan untuk melindunginya sebagai namja. Mengabaikan kenyataan bahwa hubunganku dengannya memang tidak begitu baik aku mengulurkan tanganku perlahan.

Tanganku serasa macet ketika digerakkan. Beberapa menit lamanya baru tanganku berhasil memegang kepala gadis di sebelahku ini dan menaruhnya di bahuku. Bisa kurasakan ketakutannya.

“Gwaenchana, ne? Kau tidur saja. Aku pasti membangunkamu.”

Mulutku mengulangi perkataan yang sama agar gadis ini mau tidur walaupun sebentar.

_

Mataku terasa berat. Baterai Iphoneku sudah tinggal 20%.

Sekarang sudah hari Selasa jam 11. Harusnya sebentar lagi ruangan ini terbuka, berhubung kelasku yang ada pelajaran.

Aku bukannya tidak usaha. Hanya saja lantai satu itu sepi sekali, apalagi bagian ruang tari yang terpojok. Usahaku mengedor-gedor pintu sia-sia saja.

Click.

Suara itu yang memulai kesialan ini, suara ini pula yang mengakhirinya. Aku tertawa dalam hati. Aku mengendong Naraya dan menghampiri pintu. Beruntunglah hanya ada Youn Hee-seongsaengnim.

“Mwo?!”

Saem terlonjak kaget melihatku.

“YA! Saem kemana saja, sudah aku telepon tidak menjawab. Kemarin petugas mengunci ruang tari.”

“Eh? Petugas menyerahkan kunci padaku sambil berkata dia tidak merasakan tanda-tanda kalian latihan karena itu ia mengunci pintunya.”

“Aish, mian saem. Kemarin kami berlatih, tapi tidak menggunakan lagu karena ketukan Naraya belum benar. Sekarang saem, bisakah saem membuatkan surat ijin untuk ke ruang kesehatan dan beristirahat?”

_

Perlahan aku membaringkan Naraya di ranjang UKS, menyimpan barang bawaannya di kursi sebelahnya.

Aku sendiri merebahkan diri di ranjang sebelah yang terpisah oleh tirai.

Sesudah menemukan kami saem yang merasa bersalah langsung berlari ke ruang kesehatan dan menjelaskan bahwa dua muridnya sakit, sehingga ia mendapatkan ijin untukku dan Naraya agar bisa beristirahat.

-:Naraya:-

Seseorang menyentuh keningku. Aku yang sudah setengah sadar dapat merasakannya.

Perlahan aku membuka mataku,

“Ah, Naraya. Mianhae. Seongsaengnim ini lalai hingga kau sampai begini.”

Kulihat Youn Hee-seongsaengnim duduk disebelahku.

“Gwaenchanayo saem.”

Aku perlahan bangkit. Saem yang masih khawatir berusaha menyuruhku tetap berbaring.

Aku setengah memenangkan perdebatan. Aku sudah tidak berbaring lagi, tapi tumpukan bantal tetap menahanku agar tidak bangun sepenuhnya. Hanya membuatku duduk tegak diranjang.

Hal pertama yang aku lakukan adalah menyurvei sekelilingku.

Bau antispetik khas rumah sakit, dinding putih yang di hias gambar daun pepermint, ranjang, lemari obat, dan tirai. Ruang kesehatan? Bagaimana bisa aku sampai disini?

Seakan membaca pikiranku saem menceritakan apa yang terjadi padaku. Aku mendengarkan dengan sabar, tentang kesalapahaman petugas itu.

_

“Dan yang membawamu kesini adalah Kai. Dia namja yang baik.”

Saem mengakhiri ceritanya.

Aku mengangguk-angguk asal. Pikiranku melayang.

Kemarin aku berlatih tari, tapi tiba-tiba pintu terkunci. Kai meminjamkan bahunya untukku tidur, dan sekarang ia membawaku kesini? Kenapa tidak dibangunkan? Dia kan sudah janji!?

“Dimana dia?”

Tangan ramping saem menunjuk tirai.

Kusibakan tirai putih itu dan mendapati Kai sedang tertidur. Wajahnya saat tidur sangat tampan dan terkesan polos. Tidak seperti saat ia dikerumuni para penggemarnya, tidak juga saat ia menatapku sinis akibat kecerobohanku. Tapi dia selalu menolongku dari kecerobohanku!

Aku mengeplak kedua pipiku.

Bagaimana bisa namja ini yang selalu menolongku?

-:Author PoV:-

Sejak kejadian itu Naraya menghindari Kai. Bukan karena benci, tapi karena malu. Sehingga latihan tari belum dilaksanakan lagi. Saem yang merasa sangat bersalah, memaklumi keabsenan dua muridnya itu. Tanpa sadar Naraya dan Kai sudah menjadi murid kesayangannya.

Sedangkan Kai yang merasa Naraya menjaga jarak mulai aneh dengan sikap gadis itu. Apa salahnya, ia tidak mengerti. Setelah kesehariannya yang duduk di sebelah gadis ceroboh itu ia merasa ada yang aneh ketika gadis itu dan kecerobohannya tidak mengganggunya. Ada sebuah rutinitas menolong gadis itu yang hilang.

Sedangkan Naraya sendiri uring-uringan dengan rasa bersalah dan malunya karena di tolong terus oleh Kai. Perasaannya menjadi aneh jika dekat-dekat namja bernama Kai itu.

_

Sudah hampir dua minggu Naraya menjauhi Kai, membuat Kai sedikit uring-uringan.

“Ne? Kai?”

“Mwo?”

“Aish, dengarkanlah pembicaraan, eoh?”

Sehun berkata gemas pada Kai, sudah sejak awal istirahat eskul anggar Kai menghilang entah kemana. sedangkan Tao yang baru dekat dengan Sehun tidak bisa mengerti apapun.

“Mian, kalian mengobrolkan apa?”

“Tidak jadi.”

Sehun melihat ke arah Kai sedikit kesal.

“Tentang tari untuk nilai semester.” Tao menjawab dengan polosnya.

“Bagaimana dengan pasangan kalian?” Kai mencoba berpartisipasi.

“Chan Rie bisa diajak bekerja sama. Gerakannya kaku, tapi cocok untuk hip hop menurutku.”

Begitu Tao menyebutkan nama Cha Rie, Kai yang sudah lebih berpengalaman tersenyum. Jelas sekali Tao tertarik dengan Chan Rie.

“Kau bagaimana?”

Tao bertanya balik, yang tidak mengetahui itulah asal-muasal uring-uringannya Kai – pasangan tarinya.

“Ani…”

Sehun yang sendari tadi diam tiba-tiba tertarik.

“Wae? Bukankah kalian menjadi perhatian saem?”

Kring….

Kai menoleh ke tasnya. Iphonenya berbunyi. Nama seorang yeoja tertera di layar iphone itu. Biasanya Kai akan langsung mengambilnya dan menjawab telepon itu. Sebuah keajaiban sedang terjadi, Iphone itu di abaikannya sampai  berhenti berbunyi.

“Wae geurae?

*(Apa yang terjadi? / Ada apa?)

Sehun yang semakin melihat kelakuan aneh temannya itu melotot meminta penjelasan.

“Ya, nanti saja Sehun. Hehe. Ayo latihan sudah mau mulai lagi.”

Kai mengalihkan pembicaraan, berjalan menjauhi Sehun dan Tao.

-:Sehun:-

Ada yang aneh dari Kai…

Eskul sudah selesai, sekarang kami bertiga akan pulang.

Seperti biasa kami pasti di kerumuni oleh yeoja-yeoja. Para fans Kai. Tapi sangat lain, Kai tidak tersenyum ataupun melambai. Wajahnya melihat ke bawah, pandangannya menerawang jauh. Untuk pertama kalinya aku khawatir akan keadaan Kai.

Dari balik kerumunan aku melihat Ria yang berjalan berdampingan dengan Naraya. Tanpa permisi aku langsung mendesak keluar. Aku harus bicara pada Ria. Ada yang salah diantara Kai dan Naraya. Menurut penglihatanku masalah ini tidak sehat untuk jiwa mereka berdua. Begitu mendekat kulihat Naraya yang keadaannya tidak lebih baik dari Kai – sama-sama melamun.

Aku menarik tangan Ria.

“Ada apa dengan mereka?”

“Molla. Dia sudah begitu entah sejak kapan.”

Ria melirik kearah Naraya yang masih berdiri diam tidak jauh darinya.

-:Naraya:-

Apa yang kau lakukan?

Kenapa jadi menjauhinya?

Aneh!

Aishhhhh?!

Aku berguling-guling gelisah di kasurku. Kenapa mengetahui selalu Kai yang menolongku sangat mengangguku?! Bukannya berterima kasih, kau malah menjauhinya tanpa alasan, Naraya.

Babo!

“AIH!”

Aku terduduk di kasurku sekarang. Otakku panas memikirkan masalah ini. Aku harus melakukan sesuatu. Kulihat sekeliling kamarku. Aku jadi teringat perkataan eomma.

‘Naraya, bereskan buku SMPmu!’

Ingatan itu seakan memberi berkah. Aku langsung menumpuk dan memisahkan buku-buku SMPku. Mencari sedikit kesibukan.

Debu-debu yang menumpuk bertebaran.

“Hatchih! Hatchih!”

Aku bersin-bersin hebat. Aku melupakan kenyataan aku alergi debu. Mau berhenti tanggung juga, alergi sudah kambuh. Aku memutuskan melanjutkan.

Setelah cukup lama memilah-milah buku aku turun ke lantai bawah. Lampu masih menyala, tapi ruangan sudah sepi. Sepertinya semua sudah memilih berdiam diri di kamar masing-masing. Setelah mengambil empat kardus aku kembali ke kamarku.

SRETTT “Hatchii!” – SRET SRAT “Hatchih!” SRET – “Hatchih, Hatchi!!”

Aku beraksi dengan lakban. Memasukkan bukuku dan melakbannya disertai bersin-bersin. Lebih parah lagi hidungku sudah meler, sekotak tissu sudah bertengger manis di sampingku. Kehadiran kotak tissu itu bagaikan pelampung penyelamatku.

Aku melihat jam dinding, jam 10 malam.

Huaa?! Malam sekali. Aku belum mandi!

Aku melihat keadaan tanganku yang kotornya sangat mengenaskan – aku memutuskan bergerak cepat. Aku asal mengeluarkan kotak-kotak ke luar. Menyapu kamarku yang sudah seperti kapal pecah sebisanya.

Terakhir aku mengambil handuk, mandi dengan air hangat.

_

“Hatchih!”

Sial, sudah mandi air hangat pun masih dingin.

Suara dengungan hairdryer memenuhi kamarku, aku tidak mau mengambil resiko sakit kepala besok.

Setelah semuanya beres aku memasukkan diriku ke selimut menghangatkan tubuhku.

Merasa nyaman, aku mulai memperhatikan hal lain. Iphoneku contohnya.

Iphone yang sendari tadi aku anggurkan di meja samping ranjangku aku ambil. Ada pesan dari Ria.

Lee Ria:

Narayaa, sedang apa kau? Aku tadi melihat foto reherseal dari Shinee yang baru.

Taemin melakukan hal yang lucu, wajahnya jadi terlihat ‘derp’. Tapi menurutku tetap tampan. ><

Tahu tidak, aku pikir Sehun lebih tampan daripadanya…

Aku melihat pesan itu malas. Aku mulai mengetikkan balasan.

Iya “Hatchih!”  iya “Hatchih!”  Sehunnya Ria memang tampan.

Tanpa mengeceknya lagi aku mengirim pesan tersebut.

Balasan datang dengan cepat, lebih cepat dari yang aku bayangkan. Masa ia menuliskan fangirling yang pasti banyak itu sebentar sekali.

Lee Ria:

YA! Apa yang ada dipikiramu? Aku tampan? Gila kau!

Aku kaget melihat balasannya. Aku mengerjapkan mata. Kulihat pesan yang kukirim sebelumnya.

TO: LEE RIA

Iya ita, Ria memang tampan.

Aku terdiam sejenak, tanpa alasan jelas aku membayangkan muka kaget yang biasa Ria dimunculkan berkat keserampanganku.

“Hahahahhha.”

Aku tertawa tanpa henti. Tubuhku bergetar sempurna di balik selimut.

Kring…Kringg…

Ada telepon.

Kulihat nama yang tertera – Lee Ria.

Aku mengangkatnya masih tertawa.

“Halo? Haahhahaahahahah.”

“Mwo? Kenapa kau Naraya?”

Sekali lagi aku membayangkan wajah kagetnya. Semakin tertawalah aku. Aku tidak bisa bicara. Otakku masih menyuruhku tertawa. Entah ada angin apa aku bisa tertawa seheboh ini.

“CHA NARAYA! APA YANG MERASUKIMU HAH?!”

Ria sudah setengah berteriak.

“A.. Ani. Ahahahha,” aku berhenti sebentar,“Ria tampan… heheahaahahah.”

“Bagus kau sekarang membullyku hah? Apa yang baru saja kau lakukan?”

“Ah, hanya membersihkan kamar. Mengepak buku SMP. Hatchih!”

Aku bersin kembali.

“Alergimu kumat heh?”

“Sepertinya. Ahahahhahhah. Ria sekarang Sehun tidak akan menyukaimu. Kau kan tampan.”

“YA! Yeoja ini!!”

“Ahahhaa, mian, mian. Sepertinya ada yang tidak beres denganku.”

“Ne, kelihatan kok.” Ria menjawabku dengan nada datarnya.

“Ahahahhaa.”

“…..”

Tut….

Sambungan telepon terputus.

_

“Hatchih!”

“Aish, alergiku bertahan sampai sekarang.”  Ujarku begitu bangun tidur keesokan harinya.

Aku bangun dengan malas langsung turun, berteriak menganggu eomma.

“Eomaaaaaa! Ada minuman yang hangat tidak? Hatchih!”

Ahhhh~, batinku menderita.

_

Kakiku berjalan asal memasuki gedung sekolah. Sepagian ini konsentrasiku hanya pada hidungku yang bersin dan mulai meler ini – menyebalkan.

“Hatchih!”

“Ha… hatchih!”

Sepanjang jalanku – ralat, sepanjang hariku ini hidupku hanya di penuhi dengan bersin, aku asumsikan.

“Hatchi-…”

GREP!

Seseorang menahan dahiku dari belakang, dari maut mencium kusen pintu.

“Gomawo…,” aku berbalik dan berterima kasih kepada orang yang menolongku, “…Kai.”.

“Gwaenchana. Hati-hatilah.”

Namja itu langsung berjalan masuk mendahuluiku. Membiarkan aku mematung sambil memegang jidatku terpana.

“Ha…ha…hatchih!”

“Ish…”

-:Kai:-

“Hatchih~”

“Hatchih~”

“Ha…hatchih~”

Suara bersin tertahan gadis disebelahku ini sudah aku dengar sejak gadis ini masuk kelas. Ada apa dengannya? Aku hanya bertanya-tanya dalam hati.

Beberapa menit berlalu…

“Hatchih!”

Tak

Aku menoleh.

“Eum, mian. Bisakah kau mengambilkan pensilku yang jatuh?”

Aku melirik kebawah kursiku, kearah yang Naraya tunjuk. Dengan sigap aku mengambil pensil itu.

“Hatchih!”

Tak

Aku menoleh.

“Eum Kai, mian. Bisakah kau mengambilkan pensilku yang jatuh, lagi?”

Aku melirik kebawah kursiku, kearah yang Naraya tunjuk. Dengan sigap aku mengambil pensil itu lagi… -_-“

“Hatchih!”

Tak

 “Eum Kai…”

Sebelum gadis itu berbicara aku sudah mengambil pensilnya yang jatuh, untuk yang ketiga kalinya dalam 10 menit. Ada apa sih? Flu?

Tak

Aku memutar bola mataku kesal, sekali lagi mengambil pensil gadis itu.

“Ya! Ada apa dengamu?”

Pada akhirnya aku penasaran, juga tidak kuat menahan sabar.

“Ehehe, mian, sungguhan. Alergiku debuku kambuh karena kemarin aku membereskan kamar.”

Kulihat wajah gadis itu yang sudah memerah, terutama bagian hidungnya. Lucu juga.

-:Author PoV:-

“Hei, apa yang sebenarnya kedua orang itu lakukan?”

Sehun yang dari tadi bingung melihat Naraya yang tak kunjung berhenti dan menjatuhkan barangnya lalu diambil oleh Kai. Bertanya pada Ria, yeoja teman sebangkunya itu.

“Molla. Tapi kalau soal Naraya yang menjatuhkan barang karena bersin itu aku tahu.”

“Wae? Flu?”

“Andwae. Alerginya kumat, jadi bersin-bersin. Otaknya juga pasti sangat tidak beres.”

“Jjinja? Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?”

“Eoh… Kemarin malam entah kenapa saat aku meneleponnya ia hanya tertawa heboh. Sendirian. Tidak ada sebab.”

Ria yang mengingat kejadian kemarin malam hanya menunjukan straight facenya. Tidak usah di bahas tentang sms Naraya yang sangat tidak masuk akal itu.

Heuhhh…Dasar manusia error… batin Ria kesal.

_

Kai berjalan di sebelah Naraya menuju ke ruang tari. Sepanjang jalan itu Kai hanya bisa menghela nafas pasrah saat Naraya yang bersin-bersin itu tersandung ataupun hampir menabrak sesuatu. Tangannya yang cekatan hanya bisa menahan siku gadis itu, sebelum terlibat kecelakaan. Namja itu tidak melihat kehadiran Ria, sahabat Naraya di sekitar gadis itu sejak pagi. Sehingga mau tidak mau ia yang merasa was-was berkat ketidakkonsenan Naraya, berjaga mengantikan posisi Ria. Kegiatannya itu didukung juga dengan keabsenan Sehun.

Sedikit demi sedikit perasaan uring-uringan Kai berkurang. Berada di samping Naraya dan gadis itu tidak menghindarinya membuatnya lega.

-:Naraya:-

“Hatchih!”

Aku duduk di pojok ruang tari. Hidungku tidak membaik. Saem yang melihatku bersin-bersin seperti orang berpenyakit akut membiarkanku duduk.

Aku menyenderkan kepalaku de dinding kaca, memejamkan mata, mengistirahatkan seluruh tubuhku yang lemas habis tenaga karena bersin-bersin.

“Kemana Ria?”

Kurasakan seseorang tiba-tiba duduk disebelahku. Aku tidak ambil pusing, masih memejamkan mata aku menjawabnya.

“Molla, kurasa ia hanya merajuk, hatchih!”

“Wae?”

“Ani. Hal memalukan.”

Hening…

“Kenapa…”

Perkataannya mengangtung.

“Mwo?”

“Kenapa kau menghindariku? Jawab aku.”

Mataku langsung terbuka lebar-lebar. Perasaan lelahku hilang sudah.

Aku membeku, melihat ternyata Kai yang berada di sebelahku.

“Tidak berlatih?” aku mencoba berbasa-basi – sepertinya gagal (@_@).

“Ani, bagaimana bisa berlatih jika pasangan tarimu menghindarimu dan sekarang terduduk tak berdaya begini?! Dan jangan coba-coba untuk mengalihkan pembicaraan. Kupastikan kau tidak pandai dalam hal itu.”

Benar kan….

Kai menatapku tajam, membuatku salah tingkah. Merasa dalam keadaan tidak menguntungkan, dengan pengecutnya aku perlahan mundur, bersiap pergi. Apapun resikonya. Aku bahkan tidak mengerti diriku.

“You can’t run!”

Pergelangan tanganku sudah di tangkap Kai, memaksaku untuk beringsut mendekatinya.

“Jawab aku!”

Suara Kai datar, dingin.

“Eh? Uhmm…”

Aku memutar otakku, apakah ada alasan bagus untuk sikapku yang memang aneh ini. Jauh di dalam hatiku aku tahu, namja ini harus mendapat penjelasan.

“Aku…,” setelah jeda cukup lama, “tidak tahu.”

Alis Kai terangkat, mulutnya sudah membuka akan memprotes jawabanku.

“Tunggu. Itu benar, aku tidak berbohong. Aku memang tidak tahu.”

“Mwo?! Kau menghindariku tapi kau tidak mengetahui alasannya?!” Kai berkata padaku tidak terima, “YA, lalu untuk apa kau menghindariku? Babo.”

Aku mengigit bibirku, tanganku yang bebas menutup mukaku. Dalam hati aku meratapi, mengapa aku bisa sebodoh ini.

“Biar kuluruskan. Jika kau memang tidak memiliki alasan, jangan menjauhi orang. Kau seperti membuat orang itu bersalah padahal tidak. Lagipula jika ada sesuatu katakanlah. Eoh?”

Setengah berpikir aku menganggukkan kepalaku.

“Ha…hatchih!”

JDUK

Kali ini bersinku membuat kepalaku terbentur dinding kaca.

“YA! Yeoja ini. Tidak bisakah kau tidak membuat dirimu sial sehari saja?!”

Kai yang berada di sebelahku terperajat kaget.

TO BE CONTINUE…

 

 

6 thoughts on “[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 5)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s