[Oneshot] The Dancer’s Problem

yixing19

The Dancer’s Problem

presented by pearlshafirablue

Zhang Yixing [EXO-M]
Kim Hyoyeon [GG] – Kim Jongin [EXO-K]
EXO’s Members

| Life, Canon, slight!Romance | General | Oneshot |

“All of the characters are God’s and themselves’. They didn’t gave me any permission to use their name in my story. Once fiction, it’ll be forever fiction. I don’t make money for this.”

Summary
Terkadang Zhang Yixing tidak ingin dilahirkan sebagai seorang Lay.

A/N
Agak bingung sebenarnya ini masuk genre apa. This story is inspired from a fanfiction written by Jo-eon who published here. Trust me, I forgot the title. It’s already one year ago. A fanfiction with Cho Kyuhyun as the main cast. Already published here and here.

-o0o-

Semuanya mengenai dia.

Tidak ada orang lain. Hanya dia, cuma dia, dan akan selalu menjadi dia.

Ya, inilah dia, sebuah bintang yang kini tengah menggenggam dunia.

Segalanya dapat ia miliki. Apapun. Mobil mewah, rumah megah, tablet-pc keluaran terbaru. Nyaris tidak ada satupun yang kurang dalam hidupnya.

Bukankah tadi aku berkata nyaris?

Ya, nyaris artinya tidak sempurna. About to perfect but it’s not perfect enough.

Indeed. Ada yang kurang. Masih ada puing-puing yang hilang. Ia sendiri tidak tahu harus mencarinya dimana. Bahkan, ia tidak tahu hal apa yang kurang.

Tapi, percayalah. Dia merasakannya.

Ya, langsung saja, sambutlah bintang kita,

Zhang Yixing.

Oh, bukan.

Lay.

-o0o-

“Aku ingin tahu sesuatu.”

Lelaki itu menoleh perlahan. Tampak tidak peduli. Pipinya masih memerah. Matanya sayu—berair. Ada 2 botol soju kosong di depannya. Dan masih ada segelas penuh di samping botol-botol tersebut. “Mari berbicara.”

Lelaki yang duduk di seberang langsung mencondongkan tubuhnya. Rambut merah-mudanya tertiup angin malam. Kentara sekali, jendela yang berjarak 10 meter dari tempatnya berada masih terbuka lebar.

“Apa yang ingin Gege ketahui?”

Lu Han hanya tersenyum. Lelaki itu mengusap rambutnya sebentar—berpura-pura berpikir. “Kau pernah berbohong, Yixing?”

Pria yang dipanggil Yixing itu hanya bisa mendengus sambil tersenyum meremehkan. Ayolah, manusia jenis apa yang tidak pernah berbohong! “Apakah aku harus menjawabnya? Retoris sekali pertanyaanmu, Ge. Aku tidak bisa membayangkan jika hal inilah yang kau bicarakan dengan Sehun selama ini.”

Kali ini Lu Han yang tersenyum. Yixing adalah satu-satunya member yang benar-benar ia hormati—sekalipun lebih muda dari dirinya. Caranya mengambil sikap, memutuskan, dan mematuhi setiap perintah leader membuat Yixing menjadi sosok yang spesial bagi Lu Han. Hati-hati Oh Sehun! Yixing merebut Lu Han darimu!

“Kurasa ini bukan cerita yang singkat, Ge.” Yixing kembali menekuk bibirnya ke bawah. “Aku akan menceritakan beberapa hal yang kuingat. Picisan. Drama sekali.”

“Kalau begitu, aku tidak mau mendengarnya—” Lu Han hendak menutup telinga saat tangan Yixing meraih pergelangannya.

“Ini akan menjadi cerita yang cukup panjang.”

-o0o-

—tentang dirinya.

“Kau bodoh?! Zhang Yixing! Sadar! Kau bukan seorang trainee lagi sekarang!”

Napasnya tersengal-sengal. Tungkainya bak diinjak puluhan kudanil dengan berat masing-masing 100 kilogram. Kilatan amarah di iris hitamnya kini memudar, tergantikan oleh sorot letih dan keterpurukan.

Dengan susah payah, ia berdiri. Menahan nyeri di pinggangnya yang begitu memuakkan. Tidak ada yang tahu. Dan memang tidak ada satupun orang yang harus mengetahuinya. Tidak ada yang butuh untuk tahu.

“Maaf, Wufan Ge.” Hanya 3 patah kata itu yang bisa keluar dari mulutnya. Itupun terdengar seperti bisikan. Lima pasang mata yang daritadi terpaku padanya kini mulai beralih—kembali ke posisi semula. Mereka memerhatikan pantulan diri mereka di cermin besar yang menempel dengan erat di tengah-tengah dinding krem ruangan itu.

“Wufan?”

Sang leader menoleh. Rambut hitamnya yang dipotong cepak itu terlihat lepek, keringat mengemulinya. Tidak ada bedanya dengan Yixing, dirinya terlihat lelah. “Ada apa, Lu Han?”

“Bisakah kita sudahi latihan hari ini?” Suara lelaki yang lebih tua 7 bulan darinya terdengar memelas. Ia melirik Yixing sebentar. “Semuanya tampak buruk. Kita harus istirahat, leader.”

Wufan hanya bisa menatap Lu Han dalam diam. Jam dinding yang tergantung di atas pintu sudah menunjukkan pukul 01.00 AM. Memang bukan waktu yang wajar untuk berlatih. Tetapi, sang leader selalu menginginkan penampilan yang sempurna. Tentu saja, hal tersebut hanya bisa terwujud dengan latihan yang tidak ada habisnya.

“Apa kalian semua berpikir seperti itu?”

Mata elang sang leader berpendar. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap pasang mata member-nya. Tidak ada yang bersuara. Keempat member lainnya sudah terlalu lelah untuk membalas ucapannya.

“Kau tahu, mereka semua sudah—”

“Baiklah.” Wufan memotong. Ia berbalik dan sekonyong-konyong bersila di atas lantai ruang latihan. “Cepat kalian minum, dan mandi. Setelah itu kita tidur. Tidak ada yang menonton televisi sehabis ini.”

Percayalah, tidak ada satupun yang berminat untuk menyetel televisi, leader.

Yixing membuang napas kasar. Demi Tuhan, pinggangnya laksana ditusuk ratusan jarum! Perih dan nyeri menjadi satu. Ia membungkuk sebentar, dan berjalan ke arah pintu kamar mandi, berniat membasuh wajahnya yang diselimuti lapisan keringat.

“Yixing.”

Tuhan, ada apa lagi?

Dengan senyum terpasang di bibir ia menoleh. Matanya bertemu dengan kedua manik mata sang leader. Leader yang menurutnya terbaik dibandingkan leader-leader lainnya—termasuk Joonmyun.

“Ada apa, Ge?”

“Kau tidak apa-apa?” Suara berat itu terdengar lirih. Sorot matanya memancarkan kecemasan yang amat. Mata Yixing sedikit melebar. Ia tahu, seorang Wu Yi Fan tidak akan pernah membentak member-nya tanpa alasan.

“Aku… tidak apa-apa,” desis Yixing pelan. Ia memberikan Wufan sebuah senyum tipis. Semua orang tahu bahwa senyum itu terkesan sangat palsu. Sangat dipaksakan.

Kecuali Wufan.

“Baiklah, aku senang mendengarnya.” Wufan membalas senyuman Yixing tadi. Yixing hanya bisa membungkuk dan kembali membelakangi Wufan, berjalan mendekati pintu.

Ia benci. Sangat benci dengan keadaan dimana ia harus tersenyum saat semuanya terasa sangat buruk. Tetap terlihat gembira ketika hidupnya menggantung di pinggir jurang. Ia tidak suka. Percayalah, terkadang dirinya berharap bahwa ia hanya terlahir sebagai Zhang Yixing, tidak sebagai seorang Lay. Ia merasa tidak sanggup untuk memerankan seorang Lay—yang sempurna di mata semua orang.

“Yixing, kau pernah menyesal menjadi bagian di antara kita?”

Langkah pria itu terhenti. Ia menatap lurus ke depan. Telinganya menangkap setiap kata yang diucapkan oleh Wufan. Tentu saja, ia mendengarnya.

“Hei, jangan bercanda.” Yixing terkekeh. Tubuhnya masih memunggungi Wufan—yang kini tengah menatap bagian belakang kepalanya. “Apa yang membuatmu tiba-tiba bertanya seperti ini?”

“Jawab saja, Zhang Yixing.” Suara Wufan memang pelan, tapi tetap terdengar tegas. Yixing menghela napas.

“Tentu saja tidak, Wu Yi Fan. Aku tidak akan pernah menyesal.” Yixing menoleh ke belakang tepat ketika bibirnya menyunggingkan senyum samar.

Dia tidak berbohong ‘kan?

Tentu saja,

…ia berbohong. Tidak ada satupun mahkluk hidup yang pernah mengetahui apa yang ia rasakan. Tidak ada. Tidak Wu Yi Fan, tidak juga Lu Han. Atau member lainnya. Sekali lagi, ia berbohong. Dan tidak ada yang mengetahuinya.

-o0o-

—tentang lelaki itu.

Ge, kau mau pergi kemana?”

Sang empunya nama menoleh. Seorang lelaki yang postur tubuhnya sedikit lebih tegap dari dirinya menatapnya heran. Itu Huang Zi Tao.

“Te-tentu saja, ke mobil. Kita tidak lama-lama disini ‘kan?” Rasa gugup Yixing terkesan gamblang. Tapi nampaknya Tao tidak terlalu memedulikan hal itu.

“Jongin dan Kyungsoo bahkan belum keluar. Lagipula leader hanya mengambil tasnya tadi. Sudah 2 bulan lebih kita tidak bertemu dengan K members. Aku rindu masakan Kyungsoo. Dan juga… Jongin. Kau sudah lama ‘kan tidak menari dengannya? Tunggulah sebentar, mereka akan keluar.”

Kau tahu Zi Tao, lelaki itulah yang paling dihindari Yixing saat ini.

Yixing hanya bisa menghela napas. Ia mengangguk dan mengikuti Tao masuk ke dalam dorm K—asrama dimana keenam anggota EXO-K tinggal.

Termasuk Kim Jongin.

“Kau tampak gembira sekali, Zhang Yixing.”

Mata Yixing membesar perlahan. Rahangnya mengeras. Ia bisa merasakan deru napas seseorang menggelitik tengkuknya tatkala suara berat itu masuk ke lapisan gendang telinganya.

Ya! Yixing! Jongin! Apa yang kalian lakukan disana? Ayo kemari! Kyungsoo membuat gopchang-bokkeum[1]!”

Hening.

Suara Joonmyun nyaris tidak diindahkan oleh kedua belah pihak. Yixing masih menatap lurus ke depan, Jongin berada tepat di sampingnya, dengan bibir yang siap mengutarakan sumpah serapah di telinga lelaki kelahiran 1991 itu.

Yixing bergeming.

“Sudah ada yang mengetahuinya?” Desisan Jongin terdengar sangat menuntut. Yixing hanya bisa menggeleng kecil. Jongin tersenyum, “tentu saja, kau tidak akan berani menceritakannya kepada siapapun. Tidak ada seorang kriminal yang mengakui kejahatannya pada orang lain, Zhang Yixing.”

Jongin nampak tidak terlalu peduli dengan umurnya yang terpaut 3 tahun lebih muda dari Yixing. Ia sudah tidak menggunakan ‘hyung’ atau ‘gege’ lagi di dalam kalimatnya. Pasalnya, rasa sakit yang terkubur di lubuk hati lelaki bermarga Kim itu terasa begitu memilukan dan tampak pantas untuk dibalas. Laksana diiris sembilu. Mungkin tidak akan terasa seperih ini jika bukan Yixing yang menyembilunya. Jika itu Lu Han, Baekhyun, atau bahkan Joonmyun, tidak akan jadi masalah baginya. Tapi ini Yixing. Ia tidak pernah berasumsi bahwa seorang Zhang Yixing, akan berbuat sedemikian rupa padanya.

Tetapi, sekali lagi, percayalah. Ini semua bukan kesalahan unicorn itu. Ia hanya seekor musang tak berdosa yang kebetulan lewat di tengah-tengah pertengkaran singa dan harimau.

Dan Dewi Fortuna tidak sedang berpihak padanya.

Karena singa itu ternyata seorang Kim Jongin.

“Kau tidak tahu, aku sangat mencintai dirinya.” Setelah bungkam beberapa lama, akhirnya Yixing bersuara. Ia melirik Jongin dengan ekor matanya. Ia tidak bisa terus-terusan menjadi pihak-yang-seolah-olah-bersalah disini. Ia benar. Jongin salah. Ia yakin sekali dengan hal ini.

“Menurutmu aku tidak?” Jongin mendengus terkekeh. Ia menarik wajahnya dari telinga sang M’s Main Dancer. Mata samurainya menatap iris hitam Yixing dengan intens. Tetapi untuk kali ini yang ditatap tidak akan goyah dan menyerah. Jongin tidak bisa menyalahkan dirinya secara sepihak seperti ini. Semua masalah punya solusi. Semua yang bersalah pasti punya alasan untuk melakukan kesalahan. Oh, omong-omong, Yixing tidak salah kok.

Setidaknya begitulah yang lelaki berlesung pipi itu pikirkan.

“Jongin?”

Keduanya menoleh, kendati yang dipanggil hanya si empu kulit gelap. “Ada apa, Hyung?”

Itu Do Kyungsoo. “Hyung yang harusnya bertanya ada apa,” mata bulat Kyungsoo menatap Jongin dan Yixing bergantian. Seorang umma memang seharusnya punya naluri bahwa sedang ada yang tidak beres disini. “Semuanya oke ‘kan? Kalian terlihat sedang terlibat dalam pembicaraan yang seru.”

Jongin menarik sebuah senyuman miring. “Memang sangat seru, iya ‘kan?” Lelaki itu menepuk bahu Yixing pelan. Si pemilik bahu hanya bisa tersenyum hambar.

“Baiklah kalau begitu. Ada gimbap dan soondae-bokkeum di meja. Lekaslah ambil atau Chanyeol Hyung dan Minseok Hyung akan menghabisinya.” Ulas Kyungsoo sebelum beralih kepada Jongdae, mengobrol sedikit mengenai kesibukan masing-masing sub-unit. Ya, projek 2nd Mini Album mereka tidak sama seperti 1st Album—Wolf. M dan K bekerja masing-masing, di lain Negara. Melakukan promosi yang terpisah-pisah. Sehingga sangat sulit rasanya untuk sekedar bertemu dan bersilaturahmi antar member.

“Jongin, tolong dengar. Aku tidak pernah tahu bahwa dirimu menyukai Noona seperti aku menyukai dirinya. Yang jelas, dia memilihku. Dan bukan kau. Kau tidak punya hak untuk menghakimiku seperti ini.” Kilatan membara di mata Yixing kembali berpendar. Jongin hanya terkesiap sebentar sebelum akhirnya kembali memasang sebuah seringai.

Tidak. Ini bukan dirinya. Ia bukan tipe orang yang lebih memilih melawan daripada diam. Tidak. Ini bukan Zhang Yixing. Ini bukan lelaki itu.

Tetapi terkadang seorang Zhang Yixing harus mengerti bahwa Kim Jongin tidak selamanya bisa berada di atasnya. Ya, dia harus mengakhiri semuanya.

Kendati dia bukanlah dia.

“Kau senang, Yixing Ge?” Suara Jongin nyaris tidak terdengar. Seringainya perlahan mulai memudar, membentuk sebuah senyuman lirih.

“Tentu saja. Aku sangat senang.” Yixing mengedipkan satu matanya. Berusaha untuk tetap terlihat yakin dan tegas. Rolling like a boss. Hanya hal itu yang dipikirkannya.

Jongin kembali mendengus. Ia meninggalkan Yixing dan mengambil sebotol soju di meja makan.

Yixing hanya bisa terdiam. Membeku di tempatnya berpijak. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk menjadi orang yang begitu jahat. Begitu senang karena berhasil memenangkan hati sang gadis, sementara sang sahabat terpuruk dalam kegundahan jiwanya karena gagal bersaing dengan dirinya. Tidak, Yixing tidak pernah menganggap bahwa ini adalah sebuah persaingan atau kompetisi. Ini hanya sebuah kesalahpahaman.

Yixing benar-benar tidak sedikipun merasa gembira.

Dan sekali lagi, ia berbohong.

-o0o-

—tentang gadis itu.

“Semuanya sudah tahu.”

Yixing menyesap kopi panasnya sebelum memberikan respon pada gadis berambut blonde yang kini tengah terpekur di kursinya. “Apa?”

“Ya, semuanya sudah tahu. Member-ku, Manager Oppa, beberapa staff… nyaris semuanya.” Gadis itu—Kim Hyoyeon—menumpukan dagunya di atas tangan kirinya. Sementara tangan kanannya berusaha meraih balok gula yang tersimpan dalam sebuah toples kaca.

“Hm, aku sudah tahu, Noona.” Yixing menyunggingkan sebuah senyum hambar.

Air mata Hyoyeon terlihat menggenang di pelupuk. Ia segera menyekanya dengan kertas tisu. “Aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan.”

“Aku tahu.” Yixing segera memotong. Pandangan Hyoyeon langsung mengarah lurus kepadanya. “Kurasa… kita harus menyudahinya, Noona.”

Hyoyeon cukup terkejut mendengar perkataan lelaki yang sudah 2 bulan resmi menjadi kekasihnya itu. Tetapi hanya sementara, karena beberapa detik kemudian sebuah senyum sendu terukir di bibirnya. “Apakah memang harus seperti itu menurutmu?”

“Kau seharusnya tahu, Noona.” Yixing menghirup aroma kopi yang kini hanya bersisa seperempat di cangkirnya. “Hal ini tidak semudah itu—”

“Ya, aku mengerti. Mereka semua tidak suka. Ketika staff SM mengetahuinya, mereka menatapku seolah-olah ingin membunuhku, hahaha.” Hyoyeon tertawa tanpa gairah. “Memang benar. Kita berdua masih sama-sama muda—oh tidak. Kau yang muda. Aku sudah mulai tua.” Lagi-lagi gadis beriris hazel itu terkekeh.

Tidak, Noona. Kau masih sangat cantik. Setua apapun kau, Kim Hyoyeon akan selalu menjadi yang tercantik di mataku.

Untung saja Yixing bukan orang yang terlalu puitis. Kata-kata itu hanya ia sampan dalam hatinya.

“Kau tidak apa-apa ‘kan?” Hyoyeon tersenyum pilu ke arah Yixing.

Demi Tuhan, aku tidak akan bisa berhenti mencintaimu. Aku bersumpah aku tidak akan pernah baik-baik saja setelah ini.

“Ya, aku tidak apa-apa…” Yixing menghela napas berat, “Sunbae.”

Lagi-lagi lelaki bertubuh jangkung itu menyembilu hati orang lain. Dan kali ini hati rapuh milik seorang gadis bernama Kim Hyoyeon. Kata ‘sunbae’ di telinga gadis itu terdengar asing, dan terasa begitu menyayat hati. Tetapi Kim Hyoyeon hanya bisa mengumbar senyum.

“Kurasa aku ada latihan.” Hyoyeon berusaha terlihat tegar. Ia melirik arloji Bvlgari yang terlingkar indah di pergelangan tangannya.

Aku tidak akan pernah memberimu celah untuk pergi.

“Kalau begitu… pergilah.” Lagi-lagi Yixing berdebat dalam hatinya. Dan pada akhirnya ia hanya bisa memberikan sebuah jawaban yang realistis—dan menyakitkan.

Hyoyeon bergumam, dan untuk kesekian kalinya, gadis itu tersenyum. Ia beranjak bangkit dari tempat duduknya. Mengambil clutch yang bertengger di sebelah tempat tisu dan langsung melangkah meninggalkan Yixing.

Sekonyong-konyong dirinya berbalik.

“Ada apa?” Yixing terkesiap. Ia dapat melihat dengan jelas bahwa sorot mata gadis yang sangat dicintainya itu memancarkan kesedihan yang mendalam. Tidak. Tidak hanya kau, Noona.

“Hanya ingin berkata…” Hyoyeon menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi pandangannya, “semoga kau bahagia.”

Yixing bergeming. Hingga akhirnya ia hanya berkata, “ya, kuharap kau juga begitu.”

Dan tanpa perlu dijelaskan,

lagi-lagi Yixing berbohong.

-o0o-

—tentang mereka.

Keadaan terlihat sangat rumit. Tidak ada yang bisa mengendalikannya. Tidak sekuriti, pihak berwajib, bahkan mereka sendiri.

Changsa International Airport.

Disitulah mereka berada.

“Apa kau gila?! Kau tidak lihat? Dia jatuh dan kau malah mendorongnya?!”

Yixing menoleh. Bentakan tersebut terdengar tidak asing di telinganya. Lu Han nampak tengah menolong seorang gadis yang telah didorong oleh sekuriti bandara. Wajahnya memancarkan kemarahan yang amat mendalam.

“Hei!” Akhirnya perhatian lelaki itu teralihkan oleh situasi yang sedang berlangsung di hadapannya. “Jangan saling mendorong, itu berbaha—”

Brruaak!

Sukses besar. Yixing mencium tanah. Dengan Baekhyun di atas punggungnya. Ia merasakan darah segar mengalir dalam hidungnya yang kini terasa nyeri. “Ba-Baekhyun… kau tidak apa-apa?”

Baekhyun berdiri dengan bantuan salah satu petugas keamanan. Puluhan orang terus berusaha untuk meraih lengan atau hanya sekedar pakaiannya. Yixing berusaha keras untuk melindungi salah satu dongsaeng-nya itu.

Brruaak!

Lagi-lagi terdengar suara benturan yang cukup keras. Yixing dan Baekhyun menoleh bersamaan. Sehun dan Tao jatuh tersuruk ke lantai bandara. “Astaga!”

Kedua lelaki itu plus Lu Han yang kebetulan melihat kejadian tadi langsung berlari ke arah 2 maknae yang masih berbaring lemah di atas ubin. Dengan susah payah mereka bertiga menerobos kerumunan. Pipi Lu Han bahkan dihiasi bilur merah karena tidak sengaja—atau sengaja entahlah—tersodok oleh salah satu siku penggemar. Dan ia tetap berusaha untuk menahan amarahnya yang sudah membuncah.

Yixing meraih pergelangan tangan Tao, sementara Baekhyun dan Lu Han membantu Sehun. Tepat ketika Tao beranjak dan mulai berjalan di belakang Yixing, lagi-lagi beberapa orang mendorongnya dan membuat maknae itu terjatuh lagi. Buku-buku jari Yixing mengeras saking kesalnya.

“Tidak bisakah kalian berhenti mendorong?! Apa kalian tidak lihat bahwa kami semua terjatuh disini?” Suara Yixing memang terdengar sangat kecil dibandingkan dengan keriuhan di tempat itu. Tetapi, cukup jelas untuk didengar oleh semua fans-nya.

Keadaan menjadi sunyi seketika saat Yixing mulai membentak. Beberapa gadis yang berada paling dekat dengannya saling bertatapan cemas dan bingung. Perlahan-lahan suasana sunyi itu menghilan.

Jika itu Kim Joonmyun atau Wu Yi Fan, semua EXOfans di dunia pasti akan memakluminya. Karena seorang leader memang harus memiliki karakter yang tegas dan disiplin.

Tetapi ini Zhang Yixing—atau Lay.

Member EXO yang dikenal paling rendah hati, polos, dan tidak mengenal dendam ataupun amarah. Dan ia baru saja membentak ribuan penggemarnya yang tengah memadati Changsa International Airport.

Terdengar ironi.

“Yixing, masuklah.” Sang leader memerintahkannya untuk masuk. Tanpa basa-basi lelaki itu menurut dan mengikuti Wufan masuk ke dalam van hitam mereka yang sudah terparkir rapi di depan pintu kedatangan bandara. Pintu kedatangan umum, biasa. Bukan VIP.

“Sial, pipiku sakit sekali.” Lu Han mengoceh di sampingnya. Pinggang, lutut, dan hampir seluruh tubuhnya juga merasakan nyeri. Tetapi ia memilih diam dan meraba-raba memarnya hati-hati. Berharap dapat mengurangi sedikit rasa sakitnya.

“Keadaan tadi seperti kejadian setahun yang lalu, ya. Mengerikan.” Sang manager ikut berkomentar.

“Tidak juga.” Yixing membalas, diikuti anggukan ragu dari beberapa member lainnya. “Kami sangat mengerti seberapa besarnya keinginan mereka untuk hanya sekedar menyentuh kami.”

Yixing memiliki ilmu dimana kata-katanya bisa membuat orang lain bungkam dan terkesima.

Termasuk saat itu.

“Em… ya. Aku hanya terluka di lutut saja. Masih banyak fans yang jatuh dan luka-luka di sekujur badannya.” Sehun—yang sebenarnya tidak tahu apa-apa—turut memberikan respon.

“Benar. Bahkan tadi ada beberapa orang yang pingsan. Aku sampai tidak mengerti mengapa mereka begitu rela berdesak-desakan hanya untuk melihat dan menyentuh kita.” Kali ini Lu Han yang berpendapat.

“Karena kau seorang selebriti, bodoh.” Perkataan pedas sang leader mampu membuat suasana kembali mencair.

Sang manager menyudahi gelak tawanya saat Chanyeol dan Baekhyun mulai mengoceh, “jadi… kalian tidak pernah merasa bersalah kan karena memilih garis hidup yang seperti ini?”

Keenam member EXO di dalam van itu serentak menggeleng. Meskipun ada beberapa di antara mereka yang terlihat ragu.

Ya, menjadi seorang bintang, terkenal, disukai banyak orang, mendapat banyak penghargaan, siapa yang akan menolaknya?

Tapi tentu saja, dibalik keindahan hal itu ada banyak rintangan yang menanti. Semua orang cukup pintar untuk menyadarinya, mungkin saja mereka pernah menyesal.

Jadi, Yixing kembali berbohong.

Dan kali ini tidak hanya Yixing. Lu Han, Baekhyun, Chanyeol, Sehun dan Wufan juga melakukan kesalahan yang sama.

Berbohong untuk sesuatu yang lebih baik?

Sebenarnya, tidak ada yang salah disini. Jika mereka mengangguk dan mengaku bahwa mereka sempat menyesal, itu artinya mereka menyerah. Menyerah untuk menggapain dunia, menyerah untuk menjadi bagian dari orang-orang yang sukses. Karena mereka tahu, segalanya butuh waktu. Tidak ada bebek peking yang enak jika hanya dipanggang selama 30 menit. Tidak ada seorang murid SD yang tiba-tiba bisa sepintar anak SMA jika tidak belajar selama bertahun-tahun. Tidak ada. Semuanya membutuhkan proses.

Mungkin awalnya memang melelahkan, tetapi, ada satu hal yang perlu kalian sugesti.

Karena sebenarnya,

…setiap orang pasti akan merasakan bahagia.

.

.

Ya! Byun Baekhyun! Kau menghabiskan keripik kentangnya!”

.the end.

P.S
Balik lagi dengan FF Oneshot😀 Semoga yang kali ini lebih bagus ya~^^ Udah pernah di-publish di IFK & EXOSHIDAEFF. DON’T FORGET TO DROP YOUR COMMENT!

8 thoughts on “[Oneshot] The Dancer’s Problem

  1. oh Lay seberat itu kah ? terus lah berjuang maaf tidak bisa membantu, bukan hanya untuk Lay tp artis2 diluar sana atau bahkan orang2 lain yg pernah merasakan perasaan seperti Lay bahkan lebih🙂 fighting…

  2. Jinjja daebakida authornim!
    Bahasanya bagus bgt dan mudah dimengerti. Ini bner2 nunjukkin dunia seleb.
    Bikin lg dong thor tapi yg D.O~

  3. lay, huwaaa. thor suka bngetlh bahasanya penuh kiasan tapi ringan. Kai nakal, chanyeol tetep aja kocak😀
    keep writing

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s