[FREELANCE] You Can’t Disappear From Me (Chapter 3)

You cant Disappear From Me FINAL

Title : You Can’t Disappear From Me

Author : Hyuuga Ace (@dioxing_0307)

Genre : Romance, Drama, School Life, Hurt

Length : Chaptered

Rate : G

Main Cast :

  • Oh Yu Bin (OC)
  • Kim Jong In / Kai
  • Park Chan Yeol
  • Lee Sae Ra (OC)

Other Cast : Kwon Yura (OC), Xi Luhan, Do Kyungsoo /D.O, Oh Se Hun, Zhang Yixing / Lay, Park Ye Rin (OC), Shin Hee Ra (OC), Han Jae Ha (OC)

Author’s note :

Yeaaaa, chapter 3. Semoga makin ga gaje.. hikss.. Smga msh ada yg nungguin FF ini yah… Hehehe.. ^^

Skli lg, gomawo bwt admin yang udh ngepost FF ini..

HAPPY READING ALL ^^

___

Yubin’s PoV

Sejujurnya aku penasaran, sebenarnya ada hubungan apa antara Kai dan yeoja mungil yang mulai hari ini menjadi teman sebangkuku. Aku yakin ada sesuatu di antara mereka. Tapi aku harus menekan rasa penasaranku. Karena aku takut, jika aku tahu sesuatu itu akan membuatku terluka. Dalam beberapa kasus, ketidak tahuan adalah jalan terbaik, bukan?

Yeoja bermarga Lee ini ternyata yeoja yang menyenangkan. Dia enak diajak bicara, dan dalam waktu 3 jam pelajaran saja aku sudah dapat berbincang akrab dengannya layaknya kawan lama yang sudah lama tidak berjumpa. Dia berbicara banyak hal, kebanyakan kehidupan sekolahnya saat masih bersekolah di sekolah putri yang menurutnya sangat membosankan.

Getaran ponselnya menginterupsi perbincangan kami yang sebenarnya tidak baik untuk dicontoh. Mengobrol saat jam pelajaran. Tapi sesekali tidak apa juga. Hehehe.

Ada text masuk rupanya.

___

Author’s PoV

Saera mengerinyit bingung ketika membaca text masuk dari Kai.

From : Nae Kai

 

Ya! Apa yang sedari tadi kau bincangkan dengan teman sebangkumu? Jangan katakan apapun tentang hubungan kita padanya. Ah ani, kepada semua orang di sekolah ini. Kecuali aku dan teman- temanku yang memang sudah mengetahui hal ini. Turutilah aku kali ini.

 

Dengan cepat Saera membalas pesan Kai.

To : Nae Kai

Ishhh dingin sekali, bahkan dalam text pun aku yakin kau mengetiknya sambil menekuk wajah tampanmu. Ckkk.. Tenang saja Kai, aku tidak akan bilang apa- apa kecuali kau yang membicarakannya. Aku ingin melihat sisi gentle mu. Kekeke. ʕ•ᴥ•ʔ. Dan kai? Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, apakah kau tidak menyukai kepindahanku kesini?

_____

Seorang yeoja mungil berparas imut melangkahkan kakinya ringan ke dalam apartemen kecilnya. Apartemen yang hanya dihuni oleh dirinya sendiri, sepi dan kosong.

Ia tersentak kaget ketika melihat sesosok – ani, ini bukan hantu. Seorang yang sedang duduk di sofanya membelakanginya. Namja. Dan ia hanya punya satu jawaban pasti siapa orang itu. Kai. Tunangannya.

“Kai?” Sapanya lembut. Orang yang dipanggil hanya menolehkan wajahnya, dan terlihat jelas ia sedang menahan kekesalannya.

“Hmm.. Saera-ya. Apakah kau sengaja pindah sekolah hanya karena ingin bersamaku?” Tanya namja berperawakan tinggi itu to the point.

“Ahh.. Wae? Kau tidak suka? Kurasa memang iya. Sejak pertama kali melihatku di kelasmu ekspresimu sangat tidak suka, Kai. Kau juga tidak membalas text ku lagi.” Jawabnya lirih.

“Ani, bukan begitu.” Ujar Kai cepat seraya mengubah ekspresi wajahnya ketika melihat wajah Saera yang mulai memerah menahan tangis. “Aku hanya tidak suka kau tidak mendiskusikan dulu hal ini kepadaku.”

‘Aku juga tidak suka duduk dan mulai dekat dengan Yubin.’ Lanjutnya dalam hati yang tentu saja tidak mungkin ia ucapkan.

Tanpa basa basi terlebih dahulu, Saera segera saja memeluk tubuh Kai yang membuat Kai terkejut.

“Kai, belakangan ini aku sering berpikir bahwa bisa saja suatu saat kau pergi meninggalkanku. Kau tahu Kai? Aku sangat takut kehilanganmu. Kau adalah segalanya bagiku, bagi seseorang yang sudah tidak memiliki siapa- siapa lagi di dunia ini. Orang tuaku sudah pergi, saudara- saudaraku tidak mau menerimaku karena pernikahan eomma dan appa tidak pernah disetujui, jadi kumohon.. Tetaplah disisiku.” Ujarnya panjang lebar sambil menutup kedua matanya, merasakan hangatnya tubuh Kai yang sedang dipeluknya.

Sementara namja yang dipeluk yeoja itu hanya dapat memejamkan kedua matanya. Menahan sakit di dadanya ketika mendengar kalimat yang diucapkan yeoja ini. Gadis ini tidak perlu menjelaskan hal ini lagi, ia sudah tahu. Tidak ada jalan keluar baginya untuk melepaskan diri darinya.

Inilah nasib yang harus ia terima, melihat Yubin perlahan- lahan membencinya dengan segala tingkahnya kepadanya, menekan rasa sakit hatinya ketika melihat Chanyeol lah orang yang selalu membuat Yubin tertawa, dan yang ada di pelukannya sekarang ini adalah yeoja yang akan menjadi masa depannya kelak yang sama sekali tidak bisa ia tolak keberadaannya karena ia selalu menempel padanya.  Dan sayangnya Kai tidak mencintainya. Itu yang membuat dadanya terasa amat memilukan.

____

Kai’s PoV

Kuhempaskan tubuhku ke ranjangku yang empuk. Rasanya lelah sekali. Perlahan tapi pasti kupejamkan kedua mataku. Merasakan ketenangan yang dihadirkan dari kamarku ini. Tapi hal ini tidak bertahan lama ketika seseorang membuka pintu kamarku dengan cara yang amat berisik.

“Jongin-ah…” Eomma? Kubuka mataku perlahan dan melihat rupa orang yang membuka kamarku ini. Dan ternyata benar, itu eomma.

“Waeyo eomma?” Tanyaku malas saat kulihat wajah eomma berseri- seri siap menceritakan sesuatu padaku. Butuh berapa lama? Sejam? Satu setengah jam? Ohh eomma bisakah dipending dulu ceritanya sampai besok? Aku sangat lelah hari ini! Gerutuku dalam hati. Mengingat eommaku adalah orang yang sangat suka bercerita panjang lebar sampai ke detil- detilnya.

“Jongin-ah kau tau?”

“Tidak, eomma.” Jawabku asal- asalan sambil membuka ponsel ku mengecek text masuk, dari D.O hyung rupanya.

“Hey! Dengarkan eomma. Tadi siang eomma bertemu dengan Seung Ho teman eomma semasa SMA. Dia sekarang bertambah gemuk. Huahahaha.” Celotehnya terlampau bersemangat yang kujawab hanya dengan anggukan kepala sembari membalas text dari D.O Hyung.

“Rupanya dia sekarang membuka cafe kecil, Jongin-ah. Besok eomma akan berkunjung kesana. Kau mau ikut? Ahh ani eomma tidak akan menawari. Kau harus ikut.” Kekehnya berlebihan.

“Ahh wae eomma?” Rengekku tidak terima. Eomma ku ini tukang maksa sekali. “Eomma kan bisa ajak Saera.”

“Jongin-ah, jujur saja yah, kita bicara man to woman saja nih *apalah ini*. Sesungguhnya eomma kurang suka anak teman appa yang satu itu. Dia terlalu manja kepadamu, melupakan hal mengenai kehidupannya. Eomma turut prihatin, tapi ayolah.. kadang appa tidak memikirkan dirimu yang dipaksa bertunangan semenjak berusia 5 tahun. Apakah kau menyukainya Jongin-ah? Eomma rasa tidak kan?” Cerocosnya panjang lebar.

Eommaku walau terkadang terlalu banyak berbicara, tapi inilah yang aku suka tentang eomma ku. Ia sependapat denganku masalah perjodohanku dan Saera. Perbedaanya, ia bisa dapat mengeluarkan pendapatnya kepadaku. Dan aku tetap tidak bisa berbuat apa- apa bahkan walau hanya menyuarakan pendapatku juga. Keinginan abeoji tidak bisa diganggu gugat.

Aku hanya tersenyum pahit membalas perkataan eommaku. Seketika pandangan eomma melembut melihatku.

“Jongin-ah, kau percaya takdir?” Tanyanya ambigu.

“Takdir?”

“Ne.”

“Aku tidak begitu yakin tentang hal itu, eomma.” Jawabku apa adanya.

“Kau percaya jodoh?” Tanyanya lagi, yang makin membuatku bingung. Apa maksud perkataan eommaku ini?

“Apa maksud eomma sebenarnya?”

“Takdir dan jodoh adalah hal yang sama anakku. Itu bukan kemauan manusia, melainkan sesuatu yang sudah diatur oleh Tuhan. Jika takdir dan jodohmu bukanlah Saera, eomma yakin kau tidak akan bersama Saera sekeras apapun abeoji mengekangmu bersamanya. Akan ada sesuatu hal yang akan membawamu ke arah takdir dan jodohmu yang sebenarnya.” Eomma menasehatiku panjang lebar, yang membuatku terdiam.

Rasanya aneh ketika kau melihat anak laki- laki curhat tentang perasaanya kepada eommanya, bukan? Tapi oh ayolah aku ingin sekali menceritakan hal ini. Aku sudah lelah memendamnya terus menerus. Bagaimana pun dia eommaku, eomma yang sangat unik dengan segala cara pandangnya.

“Eomma, tolong jangan tertawa. Dan jangan menganggapku namja mellow yang curhat kepada eommanya.”

“Eomma yakin kau juga tahu eomma tidak akan berpikir begitu.” Sahut eommaku jujur.

“Aku menyukai seorang gadis, dia bukan Saera tentu saja. Tapi eomma, aku selalu saja menyakiti hatinya.”

“Bodoh! Kenapa kau melakukan hal itu?!” Pekiknya secara berlebihan seraya menjitak kepalaku. Kenapa eommaku jadi emosi seperti ini? Tanyaku sewot dalam hati.

“Eomma, dengarkan dahulu! Aku hanya ingin membuatnya membenciku, karena aku tahu aku tidak mungkin bisa bersamanya walau aku juga menyukainya. Perjodoh-“

“YAAA!” Putus eommaku sebal. “Kau ini bodoh sekali, Jongin. Ternyata yeoja itu menyukaimu juga! Kau tahu jika seseorang suka ya suka saja. Kecuali jika anakku ini menyukai seseorang yang labil.”

Aku mengerinyitkan dahiku bingung. Apa maksudnya?

“Begini..” Eomma menarik napas panjang, seakan membaca pikiranku yang bingung dengan maksud perkataanya dan membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

“Hati seseorang tidak semudah itu dibuat suka lalu setelahnya dibuat benci.”

“Lalu apa yang harus kulakukan eomma? Memberikannya harapan palsu. Membuatnya semakin menyukaiku dan melukainya dengan kenyataan bahwa aku sudah bertunangan dengan yeoja lain.”

“Kau kan tinggal mengatakan bahwa kau tidak menyukai yeoja tunanganmu itu.” Sahut eommaku santai sambil mengibaskan tangan kanannya.

“Hah?! Eomma tidak segampang itu.”

“Ahh sudahlah, pokoknya eomma ingin kau berbuat lebih baik pada yeoja yang kau sukai itu, jangan ada kepura- puraan. Jalankan saja yang ada di hatimu. Jangan hati, perbuatan, dan ucapan menjadi tidak singkron begitu.”

“Sebenarnya eomma mengerti kondisiku sekarang tidak sih?”

“Eomma mengerti, tapi eomma juga percaya tentang jodoh, Jongin-ah.”

“Jodoh?” Tawaku hambar. Aku ingin melihat sejauh mana perkataan eommaku benar.

Tapi entah mengapa, ada sesuatu yang tiba- tiba menjadi cerah di dalam hatiku. Ada sesuatu dalam ucapan eommaku yang terasa benar. Aku tidak ingin hidup dalam kepura- puraan. Aku menyukai Yubin. Itulah kenyataannya, bukankah itu yang penting? Bolehkah aku bersikap egois?

“Lihat! Lihat! Kau mulai memikirkan perkataan eomma, bukan?” Ucapnya jahil seperti bisa membaca pikiranku.

“Eomma..”

“Nah, bayaran ceramahan eomma tadi, besok kau menemani eomma ke cafe Seung Ho teman eomma, ne?”

Speechless. Eommaku benar- benar eomma yang unik.

_______

 

Yubin’s PoV

“Yubin-ah, aku tinggal sebentar yah, sudah saatnya belanja bulanan. Stok makin menipis. Jaeha oppa, kajja!”

“Ne, eonni oppa. Hati- hati di jalan.” Lambai ku pada 2 orang yang semakin berjalan keluar cafe ini.

Hari sudah sore, dan tak banyak tamu berada disini. Seungho ahjusshi sedang berada di ruangannya, dan mungkin Heera juga sedang berada di toilet? Aku tidak tahu pasti. Yang jelas aku sendiri disini, sambil mengelap salah satu meja yang baru saja ditinggal pelanggan yang duduk disini, ketika kudengar lonceng tanda ada seseorang yang masuk. Pelanggan?

“Eosseo-” nafasku terkesiap ketika kulihat pelanggan yang datang salah satunya adalah Kai. Ya. Kim Jongin.

Ia menatapku kaget, dan aku hanya bisa membalas tatapannya salah tingkah, atau mungkin terpaku? Aku tidak tahu pasti yang pasti dadaku bergetar hebat hanya karena melihatnya memakai baju bebas. Oh please.. Rutukku dalam hati.

“Ehemm.. Agasshi?” Sapa seorang yeoja paruh baya di samping Kai. Mungkinkah itu eomma nya? Kulirikan bola mataku ke arah yeoja itu dan dia tampak tersenyum melihatku yang membuatku makin salah tingkah.

Kugerakkan bibirku ingin menyapa balik, hanya saja tiba- tiba terdengar suara Seungho ahjusshi menghampiri kami.

“Miree-ya. Aigoo kau datang juga, chingu?”

“YA! Jo Seungho, jika aku sudah berjanji akan datang tentu saja aku akan datang. Dan akan lebih baik kau menyiapkan karpet merah untuk kedatanganku. Hahahaa. Ahh Jongin-ah, eomma akan berbicang banyak dengan kawan lama eomma ini.  Kau ingin pulang? Eomma akan menelponmu jika eomma sudah selesai. Atau.. Kau ingin menunggu disini? Mungkin untuk sedikit mengobrol dengan agasshi cantik ini?” Cerocos yeoja berusia mungkin seumur eommaku ini panjang lebar yang diakhiri dengan mengedipkan salah satu matanya ke arah Kai

 Aku yang melihat hal itu hanya dapat menundukan kepalaku bingung. Oh ayolah, apa yang sedang kau harapkan Oh Yubin?! Mengobrol bersama Kai?

“Ahh Heera, tolong kirimkan beberapa makanan andalan cafe ini ke ruanganku segera.” Ucap bosku ini ketika Heera baru saja muncul di antara kami.

Heera hanya mengangguk dan kembali lagi masuk ke dalam, kurasa untuk segera menyiapkan makanan yang dimaksud Seungho ahjusshi tadi.

Begitupun yeoja yang kutebak eomma Kai ini dan bosku yang menghilang begitu saja ke dalam cafe ini meninggalkanku dengan Kai hanya berdua dengan suasana yang tiba- tiba  awkward begini.

“Jadi kau bekerja disini?” Ujarnya membuka pembicaraan.

“Hmm.. Seperti yang kau lihat.”

“….”

Aishhh kenapa situasinya jadi canggung begini?

“Agasshi..” Panggil seseorang dari salah satu meja di cafe ini. Satu- satunya pelanggan yang masih tersisa disini. Seorang ayah dan anak perempuannya.

“Ne?”

“Kami membutuhkan bill..”

“Ah ne..”

Kulangkahkan kakiku ke meja kasir, sementara Kai hanya berbalik dan mendudukan dirinya di salah satu meja disini sembari membuka ponselnya.

Setelah membayar bill, ayah dan anak ini pun meninggalkan cafe ini layaknya ikut bekerja sama berniat untuk meninggalkanku berdua saja dengan Kai disini. Ahh sungguh menyebalkan!

“Kau tidak pulang?” Tanyaku setenang mungkin dari jauh. Dan orang yang kutanyai hanya menggelengkan kepalanya tanpa berniat sedikitpun mengalihkan pandangannya dari ponsel.

_____

Kai’s PoV

Ckk.. Lagi- lagi Saera mengirimkan text padaku yang isinya memintaku untuk shopping bersamanya. Dan dia sekarang sudah menungguku di rumahku.

To : Saera

Aku tidak bisa. Aku sedang menemani eomma di luar, kau minta antar temanmu saja. Mian.

 

Kulirikan bola mataku sekilas ke arah Yubin yang kelihatannya akan meninggalkanku sendiri di ruangan ini.

“Ya, mau kemana kau?”

“Toilet.” Jawabnya singkat.

“Hey! Aku ini pelanggan disini? Bisakah kau menghargaiku dengan tidak meninggalkanku disini.”

“Ckk.. Jadi apa maumu?” Tanyanya kembali menjadi dirinya yang judes padaku. Seperti di sekolah.

“Ambilkan aku buku menunya.”

Tidak membutuhkan waktu lama sampai yeoja ini datang ke mejaku dan memberikan buku menu untukku.

“Duduk disana.” Perintahku padanya dengan nada tidak-ada-penolakan.

“Apalagi? Kau tau pelayan tidak boleh duduk bersama tamu dikala jam kerja? Tidak baik dilihat tamu lainnya.”

“Hey, Yubin. Kita hanya berdua disini. Tidak ada tamu lainnya. Jadi duduk saja apa susahnya sih?” Kudengar sekilas dia hanya mendengus sebal dan kabar baiknya, ia menurut dan benar- benar duduk di depanku.

“Menurutmu makanan apa yang paling enak disini.”

“Pancake coklat.” Jawabnya asal- asalan dan tidak ada minat sedikitpun meladeniku.

“Ya.. Aku ini pelanggan. Pelanggan adalah raja, jadi perlakukanlah aku bak seorang raja.”

“Ckk.. Kau kan bisa lihat menu. Aku malas berbicara denganmu. Pilih saja yang mana yang menurutmu enak.” Yeoja ini, aku tahu kau tidak sebegitu membenciku sampai tidak mau berbicara denganku. Tapi.. Uh, ini memang salahku yang selalu kasar padanya.

“Aku ingin 2 pancake coklat dan 2 milkshake coklat.”

“2? Kau rakus sekali rupanya. Dan kenapa harus coklat? Bukankah di menu juga terdapat pancake kiwi. Favourit- ah lupakan!” Ujarnya salah tingkah dan segera menutup mulutnya. Kutersenyum mendengarnya. Rupanya dia masih mengingat sesuatu yang aku suka.

“Aku akan segera membuatkannya. Tunggu sebentar.”

Aku hanya perlu menunggu sekitar 10 menit hingga ia datang membawa semua pesanan ke mejaku dan lagi- lagi berniat beranjak pergi meninggalkanku.

“Duduk disitu. Habiskan makananmu.” ucapku santai.

“Mwo?!”

“Aku sengaja memesan 2, untukku dan untukmu. Dan alasan ku memesan pancake coklat dan milkshake coklat karena mengingat dirimu yang penggila coklat, jadi kau tidak ada alasan menolaknya.”

“Apa sih maumu, Kai?” Tanyanya frustasi.

“Bersamamu.”

___

Yubin’s PoV

“Bersamamu.” Ujarnya sambil memandang tepat di bola mataku. Yang membuat jantungku berdetak lebih kencang dari seharusnya. Dan kurasakan pipiku mulai memanas. Ini berbeda dengan celotehannya di sekolah, entah mengapa aku bisa merasakan ketulusan di balik ucapannya.

Aku memalihkan pandanganku asal dan segera duduk di depannya, dan mengambil piring pancake milikku. Dan segera memakannya tanpa suara.

Jika dia menginginkan hal ini bisa kukabulkan, hanya sekedar makan saja kan? Setelah itu aku bisa pergi dari sini. Tak ada alasan lagi dia menahanku.

“Teman sebangkumu, apakah dia menyebalkan?”

“Saera? Ada apa kau menanyainya?”

“Aku hanya bertanya.”

“Dia teman yang baik.”

“Hmmm.. Apakah dia pernah mengatakan sesuatu tentangku?” Tanyanya yang kembali membuat rasa penasaranku timbul.

“Haruskah dia menceritakan hal tentangmu?”

“Tidak.”

“Cihh..” Desisku malas. Jujur saja, aku merasa makin penasaran. Sebenarnya ada hubungan apa antara Kai dan Saera? Mungkinkah mereka pacaran? Jadi dahulu Kai menolakku karena dia sudah memiliki Saera? Aah tidak tahu. Lupakan! Lupakan otak bodoh! Itu bukan urusanmu, kau tidak peduli. Benar, aku tidak peduli.

“Jangan berfikir yang aneh- aneh, apapun yang kau pikirkan. Percayalah bahwa aku tidak pernah memiliki perasaan khusus terhadap anak baru itu.” Ujarnya sambil memalihkan pandangannya ke luar jendela.

“Memang apa yang sedang kupikirkan, huh? Dan aku tidak peduli lagi apapun tentangmu.” Ya, ini bohong memang.

“Entahlah.. Apapun itu. Hey, jika kau tidak peduli lagi padaku, katakan padaku bagaimana kau ingat bahwa aku pecinta buah kiwi?”

“Sudahlah. Berdebat denganmu memang melelahkan.”

“Aigoo, kau memang lucu.” Katanya sambil mengusap kepalaku. Kuarahkan bola mataku padanya, dan entah apa yang sedang kurasakan sekarang aku tidak mengerti. Logikaku berkata bahwa ‘Yubin, jangan berfikir macam- macam dia hanya menganggapmu badut seperti yang selalu dia katakan padamu.’

Tapi hatiku entah mengapa berkata hal lain, lagi- lagi aku mulai dapat merasakan hal lain dari sikapnya padaku. Ketulusan? Yang mana yang sedang akting? Dia hari ini? Atau dia sebelumnya?

Orang ini, selalu saja membuat hatiku begini. Kesal dan sakit hati dengan segala ucapan kejamnya, luluh dengan senyumnya di tiap pagi, dan bingung dengan dirinya yang bertemu denganku hari ini.

Apa dia sedang mempermainkanku lagi?

________

Author’s PoV

Tanpa dua orang itu sadari, ada sesosok mata yang menatap mereka kaget.

Saera yang baru saja sampai di luar tempat ini menganga kaget ketika melihat pemandangan Kai -nya, yang sedang mengusap kepala seorang yeoja yang ia yakini adalah Yubin, teman sebangkunya.

Jika kau bertanya- tanya, mengapa yeoja ini bisa berada disini, ia hanya melacak lewat GPS letak ponsel Kai sekarang dan segera menyusulnya -berniat bergabung dengannya dan eommanya-

“Jadi ini yang kau namai menemani eommamu?” Lirihnya seraya menelpon Kai. Dan seperti sebelumnya, memang tidak diangkat. Dia mungkin mengubah profile ponselnya menjadi silent, agar tidak ada yang menganggu kegiatannya sekarang.

Mungkinkah sesungguhnya ada hubungan di antara mereka berdua? Yeoja bermarga Lee ini tidak bodoh, ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan Kai ketika melihat Yubin, seperti sesuatu yang tertahan dan akan siap meledak dalam waktu dekat. Rasa suka yang terpendam kah?

Apa mungkin selama ini feelingnya terhadap Kai benar? Firasat bahwa Kai akan meninggalkannya?

 

Bodoh! Tentu saja hal itu tidak diperbolehkan.

Kai milikku, dan hanya boleh menjadi milikku.

TBC

8 thoughts on “[FREELANCE] You Can’t Disappear From Me (Chapter 3)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s