TRUE LOVE (Chapter 14)

55

TRUE LOVE

                           

Tittle                : True Love (Chapter 14)

Author             : Jellokey

Main Cast        :

Kim Jong In (Kai of EXO)

Oh Sehoon (Se Hun of EXO)

Luhan (Lu Han of EXO)

Kim Joon Myun (Suho of EXO)

Kang Jeo Rin (OC)

Shin Min Young (OC)

Support Cast   :

Park Chanyeol (Chanyeol of EXO)

Kim Min Ra (OC)

Jang Mi Sun (OC)

Kim Minseok (Xiumin of EXO)

and others

Length             : Chaptered

Genre              : Romance, Family, School Life

Rating             : PG-17

“Min Young..” ‘Apa dia mendengar percakapan kami?’ Batin Lu Han.

“Kau mendengar apa yang kami bicarakan?” Lu Han berusaha tidak panik.

“Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak tahu. Beri tahu aku. Sepertinya menarik.” Lu han menghela nafas lega.

“Anak kecil tidak boleh tahu.”

“Oppa, aku bukan anak kecil. Sekarang oppa makan lalu minum obat demam.” Min Young menyuapi Lu Han.

“Aku harus pergi. Lu Han cepat sembuh. Annyeong, Young-ah.”

“Annyeong, oppa.” Tak lama setelah Suho pergi, sebuah pesan masuk ke handphone Lu Han.

From: Suho

Kau harus menyelesaikan masalahmu, Lu Han. Kau tidak bisa terus begini atau kau semakin sakit memendam perasaanmu.

———————

Seorang namja berambut coklat menggeret kopernya keluar bandara Incheon. Senyum ceria tidak lepas dari wajahnya. Lima tahun ia meninggalkan kota kelahirannya dan akhirnya dia kembali. Ia menunggu supir yang disuruh harabeoji untuk menjemputnya. Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya.

“Tuan Sehun, selamat datang kembali.” Kata supir itu lalu mengambil koper Sehun.

“Gamsahamnida, ajjushi.” Sehun masuk ke dalam mobil. Sepanjang jalan Sehun terus memandangi cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya.

“Ajjushi, bisa antar aku ke suatu tempat?”

“Ne, tuan.” ‘Youngie, aku kembali.’

—————–

“Oppa tidak mampir dulu?” Lu Han melihat jam tangannya. ‘Padahal ini sudah jam tujuh malam. Apa oppa mau kembali lagi ke kantor?’ Batin Min Young.

“Jangan terlalu gila kerja, oppa. Ingat, oppa tidak bisa kelelahan.”

“Baiklah.” Mereka pun turun dari mobil Lu Han. Kedua orang itu terkejut mendapati seseorang yang duduk di teras rumah Min Young.

“Sehun oppa..”

“Youngie..” Sehun berjalan mendekati Min Young hendak memeluknya. Tapi Min Young malah mundur ke belakang.

“Kenapa baru pulang sekarang? Atau tidak usah pulang saja sekalian!”

“Youngie.. Aku..”

“Apa?! Kau pergi tanpa pamit padaku! Kau begitu karena tidak menganggapku kan?!”

“Bukan seperti itu..” Min Young tidak mempedulikan Sehun, ia masuk ke rumahnya.

“Senang kau kembali, Sehun-ah. Tenang saja. Mungkin Min Young masih kesal karena kau tidak pamit padanya.” Sehun sedih. Ia pikir Min Young akan menyambut kepulangannya.

“Aku mengerti. Aku tidak ingin melihatnya sedih.”

“Mungkin Min Young tidak akan seperti ini kalau kau pamit padanya. Aku akan memberi pengertian pada Min Young.”

———————

Hari ini Sehun mulai bekerja di perusahaan harabeoji. Hampir saja ia mempermalukan dirinya saat harabeoji memperkenalkan dia pada relasi perusahaan harabeoji. Sejak kejadian di rumah Min Young, Sehun belum menemui Min Young lagi. Sehun juga tidak menyangka kalau eommanya Min Young salah satu pemegang saham di perusahaan harabeoji. Ia membungkuk hormat pada Nyonya Shin yang sudah berdiri di depannya dan harabeoji.

“Aku baru tahu kalau kau cucu Sang Hun ajjushi.”

“Kau tahu kan masalah keluarga ajjushi, Chaesa. Selain eomma yeojachingumu, Chaesa anak teman harabeoji. Aku dengar kau tidak merestui hubungan Sehun dan putrimu, Chaesa?”

“Aku hanya tidak mau putriku berhubungan dengan namja yang salah, ajjushi. Ahjumma pikir kalian putus karena Min Young dekat dengan Lu Han.”

“Kami belum putus, ahjumma.” Kata Sehun dengan senyum terpaksa. Nyonya Shin mengangguk.

“Ajjushi, aku permisi. Sehun, ahjumma merestui hubungan kalian.” Nyonya Shin berlalu pergi.

“Akhirnya harabeoji bisa menikmati masa tua juga.” Ujar harabeoji begitu keluar dari ruang rapat. Sehun tersenyum menanggapi perkataan harabeoji.

“Tapi harabeoji juga ingin segera menimang cicit. Harabeoji ingin rumah ramai karena suara tangisan bayi. Cepatlah menikah dengan Min Young, Sehun.” ‘Menikah dengan Min Young? Dia bahkan belum mau bertemu denganku.’

——————–

“Sehun sudah kembali.” Min Young memandangi cincin pemberian Sehun. Sekarang dia berada di bukit, duduk di bawah pohon yang rindang.

“Aku merindukannya. Apa yang harus kulakukan?” Min Young tidak tahu bagaimana menyikapi kepulangan Sehun. Min Young berdiri. Ia hendak pulang karena hari sudah gelap. Belum sempat ia menapakkan kaki di tangga pertama, orang yang ia rindukan muncul di depannya.

“Youngie..”

“Sehun..” Ucap mereka bersamaan. Sehun langsung memeluk Min Young erat.

“Bogoshipo..” Min Young menangis di pelukan Sehun.

“Kenapa kau tidak pamit padaku?” Min Young memukuli dada Sehun.

“Mianhae..”

“Kau tidak memikirkan perasaanku, Sehun.” Min Young terus memukuli Sehun.

“Pukul aku sepuasmu kalau itu bisa membuatmu memaafkanku, Youngie.”

“Kau jahat..” Min Young terisak di pelukan Sehun.

“Mianhae.. Uljimayo. Aku tidak memberitahumu karena tidak ingin kau seperti ini. Jangan menangis.” Sehun hendak melepas pelukannya tapi Min Young malah memeluknya erat.

“Aku merindukanmu.” Sehun mencium puncak kepala Min Young.

“Aku juga. Jangan menangis lagi..” Sehun menghapus air mata Min Young.

“Saranghae, Youngie..”

“Nado, oppa.”

—————-

Sehun mengantar Min Young pulang setelah mereka makan malam di restoran yang..yah mahal. Banyak pertanyaan di benak Min Young. Mobil sport Sehun yang pasti cukup mahal, dan mereka tadi makan di restoran mewah. ‘Apa Sehun sudah bekerja di luar negeri?’ Pikirnya. Dan bagi Sehun, ini pertama kalinya ia masuk ke rumah Min Young. Ia memang sering mengantar Min Young pulang dulu, tapi tidak pernah masuk ke rumah Min Young.

“Oppa mau minum apa?’ Tanya Min Young begitu mereka berada di ruang tamu.

“Apa saja, chagi.”

“Chankamman. Aku buatkan oppa teh.” Tak lama kemudian Min Young kembali dengan secangkir teh.

“Kau tidak minum?” Tanya Sehun setelah meminum teh buatan Min Young.

“Ani. Oppa saja.”

“Neo do. Minumlah.” Sehun menyodorkan cangkir tehnya, Min Young pun meminum teh Sehun.

“Bagaimana kuliahmu?”

“Aku sedang menyusun skripsi. Bantu aku, oppa.” Min Young menyandarkan kepalanya di dada Sehun. Sehun mengelus lembut rambut Min Young.

“Bantu? Ke mana Youngie-ku yang pintar, eum?”

“Oppa..”

“Ne. Aku bantu menyemangati.”

“Ck.. Oppa sudah kerja?”

“Ne. Tiga hari yang lalu.”

“Tiga hari oppa sudah bisa membeli mobil sport?”

“Itu.. Kau ingat harabeoji yang menemuiku saat SHS?” Min Young mengangguk.

“Dia harabeojiku. Mobil itu pemberiannya.”

“Oppa masih punya harabeoji?”

“Ne. Aku pikir aku tidak punya keluarga lagi selain appa, eomma, dan Ha Yoon.”

“Min Young..” Suara seorang wanita langsung membuat Sehun melepas rangkulannya dari Min Young. Ia lalu membungkuk hormat pada eomma Min Young. Sedangkan Min Young ketakutan.

“Eomma..”

“Ada apa dengan wajahmu? Kau tidak suka eomma pulang?”

“A.. Ani..” Nyonya Shin tersenyum.

“Kau takut karena Sehun? Eomma merestui hubungan kalian.”

“Mwo?”

“Kau tidak suka eomma merestui hubungan kalian?” Min Young langsung berlari dan memeluk eommanya.

“Gamsahamnida, eomma.”

“Gamsahamnida, ahjumma.”

“Ne. Baik-baiklah kalian. Eomma ke ke kamar dulu.” Min Young kembali ke tempat Sehun.

“Akhirnya eomma merestui hubungan kita, oppa.”

“Ne. Karena itu cepat selesaikan skripsimu. Agar kau bisa cepat menjadi Nyonya Oh.”

“Ye?”

—————-

Kai membolak-balikkan kertas yang ia pegang. Kai menjadi presdir muda begitu ia selesai kuliah. Appanya mempercayakan aset keluarga Kim padanya dan Suho, lima puluh persen untuk Kai dan lima puluh persen untuk Suho. Tuan Kim hanya memantau pekerjaan kedua putranya. Dua tahun Kai benar-benar menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Saat kuliah juga dia benar-benar fokus dengan pelajarannya. Kai tidak akan membiarkan dirinya diam satu menit pun. Kenapa? Dia tidak mau Jeo Rin menguasai pikirannya. Kalau itu terjadi, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Seorang namja duduk di depannya.

“Kau tidak pulang, Kai? Ini sudah jam sepuluh malam.” Kata namja itu, Xiumin, teman sekaligus sekretaris Kai. Kenapa Kai memakai sekretaris laki-laki? Satu kali ia memakai sekretaris perempuan sudah membuat Kai mengerti kalau sekretaris perempuan tidak becus bekerja, malah memperhatikannya.

“Sebentar lagi. Kau pulang saja duluan.” Kai tetap fokus pada file yang ia baca.

“Berhentilah menyiksa dirimu, Kai. Pekerjaanmu untuk satu minggu ke depan bahkan sudah kau selesaikan. Pulanglah, ini sudah malam.” Xiumin benar-benar tahu apa masalah Kai.

“Lima belas menit lagi aku pulang.”

“Tiga puluh menit lagi aku akan menelepon ke rumahmu. Kalau kau tidak mengangkat, aku akan menyeretmu pulang.”

“Mulai sekarang jangan telepon ke rumah lagi. Aku akan tinggal di apartemen untuk seterusnya.” Kai menutup file yang ia baca.

“Ne. Aku pulang duluan.” Semenjak Suho kembali ke rumah, Kai memutuskan tinggal di apartemennya. Tuan Kim dengan keras menolak keputusan Kai. Kenapa di saat satu anaknya pulang, anaknya yang satu lagi pergi? Pikiran Tuan Kim untuk bisa berkumpul dengan kedua putranya sirna karena Kai berhasil membujuknya. Kai berusaha sebisa mungkin untuk pulang ke rumah. Tapi tidak pernah terwujud. Bahkan sebulan sekali belum tentu dia pulang ke rumah. Kai tidak mau bertatap muka dengan Suho. Kai menyandarkan punggung di kursi kerjanya. Ia memejamkan mata. Kai lelah. Lelah karena harus bersikap seperti robot yang bekerja tanpa henti agar tidak memikirkan Jeo Rin. Dan Kai tahu pasti kalau dia tidak bisa tidak memikirkan Jeo Rin. Kai tertawa meremehkan dirinya.

“Aku selalu memikirkanmu, Rin-ah.”

——————

“Jam berapa ini, Xiumin? Dia sudah telat tiga puluh menit.”

“Sabarlah, Kai. Aku sudah menghubunginya. Dia telat karena terjebak macet. Sebentar lagi presdir dari JJ Group pasti sampai.”

“Mengajukan permohonan kerja sama tapi tidak bisa tepat waktu untuk meeting. Batalkan saja kerja sama ini. Aku tidak yakin kerja sama ini akan sukses.” Kai membalikkan badannya membelakangi Xiumin.

“Tidak bisa begitu, Kai. Kau tahu, JJ Group anak perusahaan dari Kang Corp.”

“Aku tidak peduli. Dia sudah membuatku menunggu selama tiga puluh menit. Waktuku sangat berharga, Xiumin. Batalkan sa..”

“Maaf saya terlambat. Jalanan macet sekali tadi.” Kai langsung membalikkan badannya ke sumber suara yang sangat ia kenal. Suara dari yeoja yang selalu ia pikirkan. Yeoja yang sangat ia cintai.

“Rin-ah..”

“Jongin..” Kedua orang itu saling menatap satu sama lain. Tiga tahun sejak kepulangan Jeo Rin ke Seoul, kini mereka bertemu kembali. Tidak bisa dipungkiri Jeo Rin terpesona dengan Kai saat ini. Penampilan namja itu tidak seperti dulu. Dulu poni selalu menutupi kening namja itu, tapi sekarang tidak. Dengan setelan jas formalnya, Kai terlihat dewasa. Sedangkan Kai, dia memang selalu terpesona dengan Jeo Rin. Ia masih tidak percaya yeoja yang ia rindukan berdiri di hadapannya. Tidak banyak yang berubah dari Jeo Rin, rambut sedikit lebih panjang dari terakhir mereka bertemu dengan poni rata yang menutupi keningnya. ‘Jadi ini yang namanya Jeo Rin? Pantas Kai tidak bisa berhenti memikirkannya. Yeppeo.’ Batin Xiumin.

“Ehem..” Xiumin berdeham untuk menyadarkan kedua orang itu.

“Sebaiknya kita memulai meeting ini.” Kata Jeo Rin. Sejak meeting dimulai tidak ada satupun kata-kata Jeo Rin yang menjelaskan kerja sama perusahaan keduanya ditangkap oleh Kai. Kai terus memandangi Jeo Rin. Ia hanya berkedip beberapa kali. Bahkan senggolan kecil di lengan Kai yang dilakukan Xiumin tidak menyadarkannya. Sekretaris Jeo Rin sampai bingung melihat Kai. Dia presdir muda ketiga yang terpesona oleh Jeo Rin. Tapi dari ketiga presdir itu baru Kai yang bertingkah aneh. ‘Pria workholic ini bisa juga tidak fokus. Sejak dulu memang yeoja ini kan yang bisa membuat Kai tidak fokus? Bahkan hanya menyebut nama Jeo Rin bisa membuat pekerjaan Kai kacau.’ Pikir Xiumin. Xiumin geleng-geleng kepala dibuat Kai. Sedangkan Jeo Rin terus menjelaskan detail kerja sama mereka.

“Jadi, apakah anda menyetujui kerja sama ini, Presdir Kim?” Tanya Jeo Rin.

“Presdir Kim..” Jeo Rin memanggil Kai. Ia pikir Kai mendengarkannya karena dari awal meeting dimulai Kai terus memperhatikannya. Gemas, Xiumin memukul lengan Kai yang membuat Kai tersentak.

“Apa?” Kai kembali ke dunia nyata.

“Apa anda menyetujui kerja sama ini, Presdir Kim?” Ulang Jeo Rin.

“Ne, saya setuju.” Tanpa meeting pun Kai pasti menyetujui kerjasama kalau tahu Jeo Rin adalah rekan bisnisnya. Jeo Rin menyerahkan file kerja sama yang harus ditandatangani Kai. Kai menandatangani file itu.

“Semoga kerjasama perusahaan kita berjalan lancar.” Jeo Rin mengulurkan tangannya dan Kai membalas jabatan tangan Jeo Rin. Lama Kai menjabat tangan Jeo Rin. Bahkan Jeo Rin sudah berusaha menarik tangannya, tapi Kai malah menjabat tangannya erat.

“Ehem…” Lagi. Xiumin harus berdeham keras dan Kai melepas tangan Jeo Rin.

“Kalau begitu saya permisi.” Sekretaris Jeo Rin membungkuk hormat. Baru melangkah, Kai menarik tangan Jeo Rin, merengkuh Jeo Rin ke dalam pelukannya. Menghirup aroma yang ia rindukan. Sekretaris Jeo Rin terkejut melihat itu. ‘Namja ini memang aneh. Seenaknya memeluk sajangnim.’ Batin sekretaris Jeo Rin sebut saja Song Hana.

“Lebih baik kita keluar sekretaris..” Xiumin menggantung ucapannya.

“Song Hana.”

“Lebih baik kita keluar sekretaris Song.”

“Tapi..”

“Sudahlah.” Xiumin menarik sekretaris Song keluar ruangan meeting.

“Jongin-ah..” Kai memeluk Jeo Rin erat.

“Bogoshipo.. Jeongmal bogoshipoyo..” Kai mencium puncak kepala Jeo Rin. Jeo Rin membalas pelukan Kai. Bisa ia dengar detak jantung Kai yang cepat.

“Kau tahu? Hidupku kacau tanpamu di sini. Kenapa kau meninggalkanku?” Lirih Kai.

“Aku memang harus tinggal di New York.”

“Tapi kau janji kembali ke Seoul begitu lulus sekolah.”

“Aku menepati janjiku. Aku kembali setelah lulus. Aku mau memberitahumu kepulanganku ke New York waktu itu, tapi kau.. euum.. marah padaku.” Kai seolah lupa kejadian terakhir kali ia berjumpa Jeo Rin. Ia mendiamkan Jeorin. Kai melepas pelukannya. Menangkup wajah Jeo Rin dengan tangannya. Mendekatkan wajahnya ke wajah Jeo Rin. Menutup matanya begitu bibirnya menempel di bibir Jeo Rin. Ia melumat bibir bawah Jeo Rin lembut. Menyalurkan betapa ia merindukan yeojanya. Yeojanya? Entahlah. Kai egois mempertahankan statement itu. Selama Jeo Rin membalas perlakuannya, ia akan menganggap Jeo Rin yeojanya. Tidak juga. Walaupun Jeo Rin tidak membalas ia akan tetap mempertahankan statement itu. Gadisnya. Jeo Rin balas melumat bibir atas Kai. Ada bisikan di hatinya yang mengatakan ia merindukan Kai. Merindukan namja playboy yang masuk ke hatinya. Tidak bisa ia pungkiri, Jeo Rin selalu memikirkan Kai. Tapi adanya Suho berhasil mengalihkannya walau hanya sebentar. Kebimbangan memayungi hati Jeo Rin. Ciuman mereka semakin panas. Saling memiringkan kepala dengan arah yang berlawanan. Menikmati ciuman panas mereka. Dan Jeo Rin segera menyingkirkan kebimbangannya. Membalas perlakuan Kai, berharap dengan itu Kai tahu kalau ia juga merindukan namja itu. Tidak harus mengungkapkan dengan kata-kata. Suara dering handphone Kai tidak menghentikan aktivitas mereka. Bahkan Kai semakin menggila dengan ciumannya.

“Mmph..” Jeo Rin hendak bicara tapi tidak bisa karena Kai membungkamnya. Dengan halus Jeo Rin mendorong Kai.

“Handphonemu bunyi..” Ucap Jeo Rin dengan nafas tersengal dan wajah merona.

“Biarkan saja.” Kai mengelus pipi Jeo Rin.

“Angkat teleponnya, Jongin-ah.” Kata Jeo Rin begitu hidung mereka bersentuhan. Dengan terpaksa Kai mengangkat telepon. Ia menahan tubuh Jeo Rin yang hendak menjauh sebelum mengangkat telepon.

“Yeoboseyo..”

“Jangan terlalu lama di dalam. Kau masih ada meeting satu jam lagi.” Xiumin orang yang menelepon Kai.

“Dengan siapa?”

“Chanyeol.”

“Satu jam lagi kan? Mengganggu saja.”

“Ya!!”

Bip.

Kai memutus sambungan. Ia merapatkan tubuhnya dengan Jeo Rin sampai tidak berjarak. Kai hendak mencium Jeo Rin, tapi gagal karena Jeo Rin menahan wajahnya.

“Aku bisa mendengarkan percakapanmu. Kau harus meeting.”

“Aku bisa menundanya. Mengobati rinduku lebih penting.” Kai mendekatkan wajahnya tapi ditahan Jeo Rin lagi.

“Kau harus meeting dan aku harus pergi ke Gwangju.”

“Gwangju? Buat apa?”

“Mengurus perusahaan eomma yang ada di sana.”

“Lalu rinduku bagaimana?’ Kai mencium pipi kiri Jeo Rin.

“Kita bisa bertemu kapan-kapan.”

“Kapan-kapan? Aku mau kau di sampingku setiap saat.” Jeo Rin mendorong Kai.

“Sudahlah. Bicara denganmu tidak akan ada habisnya. Aku pergi.” Kai tersenyum bahagia.

“Kau kembali, Rin-ah.”

————-

“Yeoboseyo..”

“Baby, eodiga? Aku ke rumah tapi kau tidak ada.”

“Aku belum pulang, Jongin-ah.”

“Mwo? Kau masih di sana? Ini sudah malam. Aku akan menjemputmu.”

“Tidak usah. Aku masih harus di sini dua hari lagi.”

“Dua hari? Lama sekali. Aku akan menyusulmu.”

“Ya! Jangan kekanakan.”

“Kau bilang aku anak-anak? Kau tidak tahu bagaimana jadi diriku. Aku merindukanmu, baby.” Jeo Rin terkekeh.

“Tunggu aku pulang dua hari lagi, eo?”

“Itu lama sekali. Rinduku bisa berlipat-lipat.”

“Tunggu saja. Saat aku pulang nanti, apa kau ada waktu? Aku ingin ke pantai. Waktu itu kan tidak jadi.”

“Arraseo. Setelah kau pulang kita ke Kkamjong beach.”

“Sudah ya. Aku mau tidur. Jaljayo, Jongin-ah.”

“Jaljayo, baby.”

—————-

“Lu Han oppa.. Bogoshipo.” Ucap Min Young begitu masuk ke ruangan Lu Han. Ia langsung memeluk Lu Han yang saat itu sedang duduk di sofa sambil membaca sebuah file. Lu Han tersenyum.

“Nado.” Lu Han hendak mencium kening Min Young tapi ia urungkan karena melihat Sehun masuk ke ruangannya. Ia tersenyum kaku pada Sehun. Sehun duduk di sebelah Min Young.

“Kau semakin sombong sejak bekerja, Young.” Ujar Lu Han.

“Aniyo. Aku tidak sombong, oppa. Aku memang sibuk.”

“Tumben kau kemari?”

“Aku tidak boleh menemui oppa?” Min Young mengerucutkan bibirnya.

“Youngie..” Min Young menoleh pada Sehun.

“Smile. Jangan membentuk bibir seperti itu. Jaga sikap, Youngie.”

“Issh..”

“Jangan sampai aku menciummu di depan Lu Han.” Bisik Sehun yang masih bisa didengar oleh Lu Han.

“Oppa, ada yang ingin kusampaikan padamu. Igeo.” ‘Undangan pernikahan?’ Batin Lu Han.

“Kami akan menikah.”

TBC…

13 thoughts on “TRUE LOVE (Chapter 14)

  1. Wah Kai sampai gak fokus dengan Meetingnya gara-gara memperhatikan Jeo Rin. Hha!! Sehun & Min Young mau menikah? Terus Luhan Oppa bagaimana? Semoga Luhan Oppa dapat tegar menjalani hidupnya.

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s