[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 6)

CM-Chap 6

Title : Clumsy Me

Subtitle : Study Tour (Part 1)

Author : NadyKJI (@nadyana1711)

Web : http://cynicalace.wordpress.com/

Genre : Comedy (a little?), romance, friendship, School Life

Length : Chaptered

Rating : G

Maincast:

  • Kim Jong In – Kai
  • Cha Naraya (OC)

Other : Oh Sehun, Lee Ria (OC), Min Chan Rie (OC), Park Chanyeol, Byun Baekhyun, D.O, Tao, Chen, Choi Minho (Shinee), Sulli (fx), Kang  Chae Kyong, Han Yeon Yuk (OC), Cho Youn Hee (OC),  (will be added)

Disclaimer : FF ini murni ide-ide khayalan author yang kelewat tinggi, dilarang meniru dengan segala cara apapun, jika tidak ff ini tidak akan dilanjutkan lagi. Terima Kasih.

Author’s Note :

Haiiiii

Hahay *author medadak gila akut.

Readersss! Akhirnya chapter 6~

Semoga saja ff ini masih menarik untuk dibaca hehehe. Semoga ada peningkatan dari chapter-chapter sebelumnnya.

Mian kalau misalkan di beberapa chapter ada adegan gaje dan ga enak gimana gitu :S ><!!

Author padahal sudah menyingsingkan lengan baju dan memakai ikat kepala *terlalu – lebay…

Author paling suka mengetik chapter 6 ini lhoo, mungkin 7  atau lebih?  hehehe, ada apa ya?? Sampai auhtor seneng gila begini? Baca saja ya… tapi kalau kata readers biasa aja author tak tanggung. Kali aja author yang emang aneh, suka bersemangat tidak jelas.

Selama chapter-chapter sebelumnya maaf ya kalau banyak typo, untuk keselanjutan chapter juga. Author sudah berusaha membaca kembali dan memperbaiki, tapi pasti ada yang terlewat mata kan? Karena itu author sangat menyesal. Mata author sudah minus, jadi pasti lebih banyak salahnya (@o@)

Dan terima kasih sekali lagi.. buat admin exomk.wordpress.com yang sudah psot ff ini…

Ya sudah author kehabisan ide nulis…

Happy Reading^^

___

-:Author PoV:-

Hubungan Naraya dan Kai membaik setelah insiden alergi kumatnya Naraya. Bahkan kedua orang ini suka berlatih tari bersama dengan Ria dan Sehun. Sampai tak terasa, musim dingin sudah datang di Seoul.

“Haksengdeul, tolong perhatiannya!”

Minho-seongsaengnim mengebrak meja di depannya. Sudah cukup dirinya menahan sabar pada kelasnya yang ribut itu.

Kelas terdiam.

“Ehem! Pada tanggal 16 sampai 19 November ini, sekolah mengadakan study tour. Semuanya harap mengumpulkan iurannya kepada bendahara. Jangan sampai ada yang telat membayar. Jagalah kesehatan kalian.”

Seketika seluruh kelas ribut kembali, mengabaikan kenyataan wali kelas mereka yang baru saja marah.

Minho-seongsaengnim hanya bisa menghela nafas pasrah. Habis sudah akalnya….(-_-“)

_

Pergantian hari berlalu dengan cepat.

1 minggu sebelum study tour…

“Huaaa, bagaimana ini?” Ria berteriak cukup heboh.

Membuat Sehun, Kai, dan Tao menoleh kearah yeoja itu. Sedangkan murid lainnya masih cukup tidak peduli dan menganggap kehebohan Ria hanyalah angin lalu.

Ketiga orang yang menoleh itu memiliki alasannya masing-masing. Sehun yang penasaran. Kai yang merasa terganggu. Juga Tao – namja yang secara resmi sudah menjadi teman baru Sehun dan Kai, yang memang sedang menduduki kursi Naraya dan kebetulan sudah menghadap Sehun –  sedang mengobrol dari awal. *lha ini ribet – semoga readers ngerti ><

“Wae?”

“Ehehehe, Naraya berulang tahun tanggal 17 November nanti.”

Hening. Ketiga orang namja tersebut tidak mengerti sama sekali. Membuat Ria langsung memanyunkan bibirnya.

“Lihat, Naraya berulang tahun pada tanggal 17, saat study tour dan hari minggu.”

Ketiga namja masih mengerutkan dahi mereka.

“Ehm, tunggu. Bukankah jadwalnya kita hanya akan ada kegiatan sampai jam 12 siang saja hari minggu?”

Tiba-tiba Tao menjawab dengan secercah pengetahuan yang ia miliki, membuat wajah yeoja itu sedikit cerah.

“Ne, dan aku ingin membuat kejutan untuk Narya. Aku mengajak kalian untuk membantuku. Hehehe.”

“…”

 “Ah, ayolahhh! Bantu aku… Hmpftt, CHAN RIEEE!” Ria berteriak memanggil satu-satunya yeoja yang dia ingat. Berharap dengan kehadiran Chan Rie dia bisa mendapat sedikit pendukung yang sepikiran, tidak seperti namja-namja yang tidak peka di sekitarnya tersebut.

Seketika yeoja berdarah asing itu menoleh dari tempatnya di ujung depan. Memutar bola matanya bosan yeoja itu mengahampiri meja Ria.

Begitu sampai Cha Rie dihadiahi pandangan mata memelas dari Ria.

“Wae?”

“Ya! Ayo kita rayakan ulang tahun Naraya saat study tour nanti!”

Ria benar-benar menghentakan kakinya jengkel. Ternyata Chan Rie sama saja dengan namja-namja, tidak peka. Ckck, dia benar-benar sendiri kali ini.

“Ne, aku ikut…”

Ria menatap penuh syukur ke arah Chan Rie detik berikutnya. Sementara Kai, Sehun, dan Tao hanya diam memandang kehiperan Ria dan perubahan emosi yang cepat dari wajah gadis itu.

“Kalau begitu sudah dipastikan.”

Dengan seenaknya Ria mendeklarsikan.

Tap

Sentuhan di bahunya membuat yeoja itu terjolak kaget sebelum sempat melanjutkan rencananya. Yeoja itu menoleh ke belakang dengan tampang horror. Cengiran derp Chanyeol langsung menyambutnya.

PLAK

Cetak tangan merah muda langsung menempel di pipi namja itu. Sementara Baekhyun mengelus pipi Chanyeol prihatin. Sedangkan seorang namja lain yang duduk menghadap ke arah pasangan Beakyeol itu asik memainkan ponselnya.

“Apa-apaan kau? Mengagetkanku saja.” Runtuk Ria kesal.

“Ehem, aku mendengar sesuatu yang menyenangkan. Bolehkah kami berpartisipasi?”

Tanpa jeda Chanyeol menjawab, masih mengusap pipinya.

“Bisa apa kau?” kali ini Cha Rie yang menjawab dengan tatapan meremehkan.

Rupanya yeoja sangar ini masih mengingat keisengan Chanyeol kepadanya.

“Aku dan Baekhyun sangat handal membuat pesta tahu… Kalau DO , kami baru mengenalnya. Tapi dia pintar memasak.”

“Masakannya sangat enak, kami memakan masakannya setiap dia melakukan percobaan. Tidak pernah mengecewakan. DO bisa memasakkan- ma”

Baekhyun melontarkan konfirmasi cerita Chanyeol, namun disusul sikutan sahabatnya itu tak lama kemudian.

“Jangan memutuskan seenaknya,” bisik Chanyeol, seakan hal itu bisa disebut bisikan.

DO yang terganggu karena namanya terus saja disebut itu mendongak dari ponselnya.

“Aku bisa memasak kue dan sebagainya.”

Kepalanya menunduk berkonsentrasi dengan ponselnya lagi.

“Bagaimana?”

Ria melihat kearah Sehun, Kai dan Tao. Ketiga namja itu menganggukan kepala acuh tak acuh terutama Kai. Sedangkan Chan Rie masih sedikit ragu.

“Baiklahh… begini…”

Ria akhirnya menyetujui semuanya saja, lagipula dengan para pengikutnya yang acuh tak acuh begitu ia secara langsung tidak langsung menjadi ketua panitia pesta ulang tahun Naraya.

Sesudah itu sisa istirahat digunakan untuk membahas rencana kejutan Naraya itu.

Naraya?

Ia ternyata dipanggil oleh seongsaengnim untuk mengambil barangnya yang tertinggal beberapa hari lalu.

“Hatchih!”

Tangan Naraya beranjak membuka pintu ruang guru.

“Gwaenchana?”

Saem yang memanggilnya itu membalikan badannya dari kursi dan bertanya pada anak didiknya. Sejak pertama masuk hingga sekarang muridnya itu tidak berhenti bersin-bersin.

“Gwaenchana, saem. Gomawo.”

Naraya segera pamit dan menutup pintu di depannya itu. Sejenak ia menyandarkan diri pada dinding di sebelah pintu guru. Bersin-bersin selalu membuatnya lemas.

“Hat..chih!”

Ia mengusap hidungnya, lalu mulai berjalan menuju kelas.

Masa alergiku kumat lagi? batinnya penuh pertanyaan.

-:Naraya:-

Aku melihat kalender yang tepajang manis di dinding kamarku.

Yosh! Sekarang tanggal 14. Dua hari lagi study tour. Senangnya.

Tring~~

Pesan dari Ria

Lee Ria:

Narayaaa, bagaimana persiapanmu?

Jangan bilang kau sama sekali belum mempersiapkan apa-apa…

Aku sudah tidak sabarr ><

Aku tersenyum melihat pesan dari Ria.

TO: LEE RIA

Tenanglah, aku baru mau berkemas. Hehehe

Setelah itu, Iphone tersebut tercampakan di meja.

Aku menaikki kursi lalu berjinjit akan mengambil tasku yang berada di atas lemari. Tanganku sudah menggapai-gapai namun tidak sampai.

Beberapa menit…

Aku masih berkutat dengan tasku yang masih berada di atas lemari tidak bergeser sedikitpun.

Hup!

Aku meloncat sedikit… dan berhasil.  Kakiku berhasil mendarat kembali di atas kursi. Aku berbalik ke kanan bermaksud turun..

“Kyaaaaaaaa~!”

BRUK!

“…”

BRAK

“Naraya! Ada apa?!… YA!”

Chen membuka pintu kamarku, melongokkan kepalanya. Oppa melongo tidak percaya menatapku yang sudah tengkurap di lantai kamarku dengan kursi yang terguling di belakangku.

“OMO! Kau ini!”

Chen menghampiriku dan membantuku berdiri.

“Hehehe.” Aku menggaruk kepalaku, oppa sudah menatapku dengan muka mengernyit.

Aku berbalik memunggunginya, memilih untuk memperbaiki letak kursi yang masih terjungkal. Membawanya kembali ke meja belajarku.

“Ada apa?”

Ahhhh, aku malas menjawabnya.

“Aku mengambil tasku yang di atas lemari dan mungkin sisanya oppa bisa mengira-ngira.”

“Ck, bagaimana bisa kau di lepas untuk study tour! Untung eomma tidak ada. Kalau ada kau akan di kurung mungkin.”

Aku menatap Chen dengan mata memelas, “Oppa…”

Oppa memejamkan matanya sejenak, memijat tulang hidungnya perlahan. Bukannya menjawab, oppa langsung berbalik menuju pintu.

“Oppa!”

Dwaesseo. Kalau nanti ada suara aneh lagi baru tamat riwayatmu.”

*(Sudahlah)

Cklek

Pintu di tutup dan menghilanglah Chen dari kamarku.

Aku menghembuskan nafas, bertekad tidak akan jatuh lagi.

“Mari berkemas!! Himnaeyo Naraya!” aku menyingsingkan lengan bajuku dan menjepit rambut ku agar tidak menghalang pekerjaanku.

“Hmm, apa yang harus di bawa?” gumamku sambil membuka lemari.

-:Kai:-

Disaat yang sama.

Aku berjalan melihat-lihat etalase toko. Mataku sudah pusing melihat keramaian. Kakiku jangan dibilang sudah lelah pegal. Aku bingung bagaimana para yeoja kuat berputar-putar untuk belanja, bahkan berjam-jam. Membuat sakit kepala.

Aku terdampar di daerah pertokoan ini karena sedang mencari hadiah. Benar – hadiah untuk Naraya. Begitu mendengar gadis itu akan berulang tahun minggu kemarin aku langsung di ajak berpartisipasi secara paksa. Awalnya aku tidak akan memberikannya hadiah apapun. Hanya saja kemarin Sehun menegurku yang tidak memperhatikan perasaan orang dan menyuruhku membeli hadiah walau kecil.

Jujur saja aku tidak pernah memberi seseorang hadiah – tidak berminat. Mungkin banyak yeoja yang menuntut hadiah dariku berupa kalung, cincin, boneka, dan hal lainnya yang bahkan aku lupa, saat kencan atau peringatan hari jadian. Pada akhirnya yeoja tersebut harus kecewa, aku tidak memberikan mereka satupun dari yang mereka inginkan. Bagiku hubunganku dengan mereka tidak serius, jadi untuk apa?

Membayangkan Naraya, gadis yang begitu ceroboh itu mendapat hadiah yang sangat perempuan itu membuatku geli. Menurutku gadis itu tidak cocok mendapat hadiah seperti itu. Gadis itu lebih cocok diberikan baju anti peluru atau mungkin bodyguard pribadi.

Mungkin aku akan memberikannya sekotak plester saja.

­_

“Kai!!!”

Seseorang berlari menghampiriku, tangannya melambai-lambai dengan beberapa kantong belanjaan.

“Ah, imo…” orang itu akhinya mendekat, membuatku mengenalinya.

*(Tante – memiliki hubungan darah/keluarga.)

“Beraninya kau! Aku masih muda sekali tahu.”

Dengan begitu sebuah jitakan mendarat di kepalaku.

“Tetap saja, kau adik ibuku.” Aku beragumen.

“Panggil aku noona Shin Hae Song!”

Wanita di hadapanku adalah adik perempuan ibuku. Umurnya baru berkisar 20an. Aku tidak habis pikir, mengapa umur mereka bisa terpaut jauh begitu. Sedikit manyusahkanku dalam memanggil.

“Apa yang kau lakukan?”

“Mencari hadiah, tapi sudah.”

“Siapa yang berulang tahun? Kau berikan apa?”

“Teman. Aku memutuskan memberikannya sekotak plester saja.”

“Wae?”

Aku tersenyum mengingat kecerobohan yeoja itu.

“Kau tidak tahu, yeoja itu sungguh ceroboh, ia bahkan bisa tersandung dijalan yang mulus rata sekalipun.”

Sekali lagi jitakan mendarat dikepalaku.

“Ya!”

“Dia seorang yeoja dan kau memberikannya plester? Babo. Ikut aku! Berikanlah hadiah yang layak. Beruntunglah aku membantumu agar kau tidak malu!”

Ia langsung menyeretku memasuki sebuah toko perhiasan.

-:Naraya:-

Pagi-pagi buta aku sudah merusuh Chen oppa.

“Oppa!! Kajja! AYO, nanti telat.”

Aku menarik-narik lengan baju oppa, bersusah payah membuatnya bergerak dari meja makan.

“YA! Jadi ini alasan eomma membangunkan aku sepagi ini?!”

Aku kesal sekali pada oppa, bagaimana bisa ia tidak berminat mengantarkanku ke sekolah. Aku mencubit lengannya, memutar cubitanku sekuat tenaga.

Oppa hanya meringis.

Rasakan!

“Ayo oppa!”

“Arraseo!” sergahnya, menyambar kunci mobil yang berada di samping sarapannya. Sedangkan aku menyeret koperku keluar dengan semangat.

_

Aku duduk di dekat jendela, di sebelahku Ria. Kursi belakang entah kenapa diisi oleh Kai-Sehun. Seperti biasanya, Ria asyik mendengarkan lagu di sebelahku. Mengabaikan aku sampai bosan. Tidak ada kegiatan aku melihat keluar jendela, pemandangan pedesaan cukup menghibur. Sinar matahari yang ada membuat suasana musim dingin terlihat hangat.

_

“Narayaaaa, Narayaa.”

Seseorang mengguncangkan bahuku pelan.

Dengan enggan aku membuka kelopak mataku.

“Sudah sampai?”

Rupanya aku tertidur.

“Andwae, tapi sudah hampir, lihatlah sudah ada gedung-gedung kecil.”

Jari mungil Ria menunjuk-nunjuk jendela dengan cepat dan bersemangat. Terlalu bersemangat mungkin, mataku sampai hampir menjadi sasaran.

Kutepis tangannya kesal.

“Ne, aku sudah lihat. Diamlah, jendela adalah kekuasaanku.”

“Ish, menyebalkan. Aku juga ingin lihat. Babo! Kalau saja aku datang lebih cepat darimu.”

Tidak menghiraukan Ria, aku kembali melihat ke arah jendela. Gedung-gedung kecil, pertokoan. Kecil, sederhana namun terlihat bersahabat. Dari jauh kulihat satu toko menarik perhatian mataku. Nuansa kayu memenuhi toko itu. Di etalasenya kulihat ada sesuatu persegi panjang. Semakin dekat semakin jelas.

“Riaaaa, lihat itu, ada toko alat lukis! Ada lukisan juga yang dipajang. Minggu kita kesana ya?”

Tanpa mengalihkan perhatiannku aku asal menggapai lengan Ria. Tapi kenapa mendadak tangannya jadi besar ya?

“Huaaa!”

Aku kaget melihat Kai sudah berada di sebelahku. Menatapku datar.

“Jangan melihatku seperti itu, babo! Aku bukan hantu.”

“Ke… kenapa kau bisa ada di sebelahku?”

Ia melipat tangannya di dada. Menyandarkan diri sepenuhnya kepada sandaran kursi, memejamkan mata.

“Tanyalah pada temanmu yang brutal itu. Ia menarikku keluar kursi agar bisa mendapatkan pemandangan jendela.”

Kutolehkan kepalaku ke belakang, mendapati Ria sedang menikmat pemandangan. Menyadari kehadiranku ia hanya menjulurkan lidahnya. Kulihat Sehun yang berada di sebelah Ria tertawa.

Memasang straight face, aku kembali menikmati pemandanganku.

“Pasangan bodoh!” aku mencibir kesal.

-:Author PoV:-

Sekitar pukul satu siang rombongan itu tiba di sebuah vila yang lumayan luas. Anak-anak langsung menghambur keluar bus. Meluruskan badan yang sudah setengah hari duduk terus.

Naraya melompat kecil menuruni bus.

“Kita sampai!” ucapnya bersemangat.

Ria yang sepertinya masih memiliki dendam terpendam (?) pasca kejadian jendela langsung masuk ke villa.

Naraya yang mencium gelagat tidak enak langsung menyusul yeoja itu.

“YA! Tunggu aku!”

_

Di kamar.

“Aku mau disini!” Ria langsung menghambur ke ranjang pilihannya.

DRAK

Naraya menjatuhkan kopernya asal, mengikuti Ria tidur di ranjangnya, bersebelahan dengan ranjang Ria.

“Cih, kau pikir aku akan kesal? Pikirkan dulu matang-matang. Aku tidak serewel dirimu.”

Ria yang mengetahui rencananya tidak berhasil memanyunkan bibirnya. Kemudian ia menoleh memicingkan matanya pada Naraya.

“Wae?”

“Lihat saja nanti!”

Tanpa berkata lagi Ria langsung melompat bangkit dan meninggalkan Naraya di kamar kebingungan.

Dosaku seberat itu ya?

Mengedikkan bahu Naraya juga bangkit, tapi bukan untuk menyusul Ria. Ia malah membuka kopernya, membereskan barang-barangnya, mengeluarkan beberapa yang memang di perlukannya.

_

Setelah semua sudah memilih kamar, acara makan siang dilangsungkan.

Murid namja yang sudah kelaparan langsung saja mengantri berebut diruang makan yang cukup luas itu. Para guru kewalahan menahan tenaga-tenaga kuli kelaparan tersebut.

Suasana makan siang menjadi ricuh.

Tokoh utama kita Naraya duduk bersama Ria dan Chan Rie. Tapi yang membuatnya mengernyitkan dahi adalah sejak kapan Kai, Sehun, Tao, Chanyeol, Baekhyun, dan DO juga duduk bersama. Mungkin Sehun masih bisa dimaklumi kehadirannya dan Kai ia kira Kai hanya mengikuti Sehun. Tapi sisanya? Naraya sepertinya hanya mengenal sebatas nama saja. Tapi entah kenapa hanya dirinya yang terlihat tidak berbaur. Sebenarnya ada apa ini? Apa yang dia lewatkan?

Ria yang melihat raut kebingungan Naraya hanya tertawa dalam hati.

Just wait chingu! Kekekeke.

_

Kegiatan pertama dari study tour ini adalah membuat gerabah. Semua murid kembali menaiki bus menuju tempat tujuan. Ria dan Naraya sudah kembali mengobrol dan bercanda sepanjang perjalanan.

Dua puluh menit kemudian.

Semua anak berada dilapangan terbuka berkelompok membuat lingkaran. Sementara panitia pelaksana memberikan mereka bahan membuat gerabah satu persatu. Setelah para guru memastikan semua sudah mendapat bagiannya masing-masing panitia mulai menunjukkan caranya kepada para murid. Diikuti dengan para ahli yang berkeliling untuk membantu murid yang kesulitan. Seperti magnet, Ria dan Sehun sudah berada di lingkaran yang sama. Bersama Naraya dan Kai yang mengikuti sahabatnya masing-masing.

“Naraya lihat, aku membuat cangkir. Apa yang kau buat, eoh?”

Naraya terseyum menunjukan hasil karyanya.

“Aku membuat vas bunga.”

Ria tanpa pikir panjang langsung memeluknya.

“Daebak! Kau daebak Naraya. Keren sekali.”

“Huaaa, lepaskan pelukanmu. Nanti aku malah membuat vas yang masih setengah jadi ini jatuh!’

Naraya sudah was-was. Tangannya bergetar.

“Ehehe, mian. Habis kau pintar sekali. Bentuk vasmu mulus sekali. Membuat iri.”

Naraya hanya melotot kearah sahabatnya itu dan kembali berkonsentrasi dengan kegiatannya.

“Ehem!”

Suara Sehun, membuat Ria menoleh ke arah namja itu.

Tuk~

Telunjuk Sehun yang sudah berlepotan tanah liat itu menyentuh pipi Ria.

“Waa! Apa yang kau lakukan!”

Ria tidak terima pipinya sudah terkena korban. Ria seketika bangkit dan mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun, melancarkan pembalasan dendamnya.

Sedangkan 2 orang sedang membatinkan hal yang sama.

Bodoh!

_

Perhentian kedua, museum kaca.

Begitu sampai di depan museum ini mata Naraya langsung berbinar. Ada dua alasan – pertama karena memang berbagai jenis kerajinan kaca yang memantul di bola matanya berkerlap-kerlip, kedua Naraya menyukai benda-benda indah ini dan bentuknya yang unik.

Mungkin bagi sebagian murid, museum adalah tempat membosankan. Karena itu setelah acara resmi selesai, semua lebih memilih untuk duduk di bus bersantai atau ada juga yang duduk di taman museum itu. Berbeda dengan Naraya yang masing ingin berkeliling.

“Ria, ayo temani aku. Kau tidak lihat benda-benda disini sangat unik dan indah?”

Naraya menarik-narik tangan Ria yang sudah mendudukan dirinya di kursi taman.

Shirreo! Aku mau duduk saja menikmati taman kaca yang indah ini.”

*(Tidak mau)

“Ck, ya sudah. Aku pergi sendiri saja.”

Naraya kemudian meninggalkan sahabatnya itu.

_

Naraya berjalan pelan berkeliling museum itu, terlihat ia sangat menikmatinya. Melihat hiasan dari kaca yang besar dan tebal, ke bagian kaca yang memiliki warna unik, sampai ke tempat gelas wine dengan pegangan tertipis. Melihatnya saja Naraya sudah takut. Pegangannya bagaikan kawat yang tipis sekali. Seakan jika di sentuh langsung hancur. Ia juga melihat video pembuatan gelas di tempat gelas wine berpegangan tipis itu berada.

Setelah melihat-lihat bagian dalam, Naraya mulai beranjak keluar. Disebelah jembatan taman, ia melihat ada jembatan lain. Jembatan kayu yang kuno, dan di tutupi oleh kerimbunan pohon puith?! Suasana tua kuno nan mencekam di rasakan oleh Naraya, seakan-akan ia sedang bermain film action dan sedang bejalan menuju tempat harta karun.

Kakinya melangkah waspada. Begitu berada di akhir jembatan tesebut dilihatnya pohon yang terbuat dari kaca. Butir-butir kaca kecil menggangtung sebagai daun pohon itu. Tepat di bawah pohon itu ada kursi marmer yang tertancap mantap. Keadaan musim dingin tidak mengurangi keindahan tempat tersebut, namun menambah pesonanya. Seakan kau berada di depan tahta ratu es. Naraya mengalihkan perhatiannya ke sebuah meja di sebelah kanan kursi, begitu mendekat ternyata meja itu bukanlah meja. Ada cekungan di dalamnya, berisi air yang membeku.

Gadis itu begitu mengagumi tempat ini, tanpa sepengetahuannya seseorang baru saja datang menemaninya.

Naraya berbalik, ia bermaksud mengajak Ria kemari.

“Kai?”

“Eoh.”

“Kenapa kau bisa disini?”

“Tidak boleh?”

“Ani, kupikir kau lebih suka menyepi?”

“Ne, kau lihat kan tempat ini sepi. Taman yang kupikir tidak akan ramai malah dijadikan tempat berfoto.”

“Hmm…”

“Kau mau kemana?”

“Memberitahukan Ria, tempat ini indah. Sayang sekali kalau di tidak di perlihatkan ke orang lain.”

Baru saja Naraya hendak melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu lampu sorot di tempat itu dinyalakan. Membuat gadis itu mengurungkan niatnya.

“Daebak…”

Mata Naraya berbinar melihat lampu sorot sederhana yang berwarna putih itu malah membuat daun kaca itu membiaskan warna pelangi.

“KAI!”

Namja yang sedang memperhatikan kursi mamer itu mengahlikan pandangannya. Menunggu kelanjutan ucapan yeoja dihadapannya itu.

“Bisa foto aku tidak?”

“Mana ponselmu?”

Naraya mengaduk-aduk isi tasnya. Kemudian nyengir. Kai yang sudah tahu langsung mengeluarkan Iphonenya. Sudah beberapa detik tapi gadis itu masih diam di depannya.

“Mwo?”

“Kau yang maju, hehe. Aku juga ingin kursi itu terlihat.”

“Ck.”

Kai melangkahkan kakinya malas.

C-KLIK

Gadis itu sudah menghampirinya lagi.

“Sudah?”

“Ne, wae?”

“Ani, kau tidak berfoto lagi? Biasanya perempuan suka berfoto beberapa kali.”

“Hehe, bagiku satu foto cukup. Aku malas,” … “Ayo kirimkan padaku!”

“Mwo? Kupikir kau tidak membawa ponsel.”

Naraya langsung saja tersenyum bersalah.

“Tadi memang tidak, tapi saat berfoto aku merasakan getaran ponselku di kantong rok.”

“YA! Dasar, ceroboh, pelupa, apa lagi?”

Kai mengomel jengkel sembari mengirimkan foto.

“YA! Kalian! Mau ditinggal bis apa?” terdengar suara seorang namja dan yeoja bersamaan.

Kai dan Naraya yang mendengar suara itu langsung mendongak bersamaan.

“KAJJA!” Ria berteriak, sedangkan Sehun di sebelahnya sudah tidak begitu perduli.

DINNNNN!!!

“UWAHH!” Naraya dan Ria berteriak bersamaan, berlari keluar museum.

Sedangkan Kai dan Sehun hanya berlari mengikuti sambil tertawa kecil.

-:Naraya:-

(17 Nov)

Hahhhhhh!!!

Aku melemparkan tubuhku ke ranjang. Kegiatan pagi ini tidak ada yang spesial, makan pagi dan mengunjungi tempat pembuatan kerajinan setempat.

Sekarang sudah jam 1 siang. Sejak turun dari bus Ria entah menghilang kemana. Mencari ke setiap pelosok vila? Malas, untuk seorang Ria? Tidak. Aku tidak mau menghabiskan tenagaku hanya untuk yeoja hiper itu. Setelah berguling-guling tidak jelas di kamar aku keluar, memutuskan melakukan sesuatu yang lebih bermutu.

Kulihat dari jendela kamarku matahari sedang bersinar. Suatu berkah di musim dingin ini. Kakiku melangkah ke arah taman bermaksud menikmati matahari tersebut. Aku menyusuri taman, sedang mencari tempat yang cukup sepi untuk dijadikan tempat membaca – membaca novel digital tentunya. Aku tidak berpikir akan jadi semembosankan ini, maka novelku tidak ada yang kubawa serta.

Aku melihat belokan kecil, mungkin tempat yang bagus. Baru saja aku mendekat.

“Kim Jong In, saranghae.”

-:Kai:-

Aku berada di ruang tamu, bersantai sambil memainkan kotak persegi kecil ditanganku. Sampai tiba-tiba seorang yeoja yang bahkan tidak aku kenal menghampiriku. Mengajakku untuk bicara berdua saja. Aku hanya menurutinya malas, daripada gadis itu merengek. Lebih buruk.

Jadilah aku sekarang di sini. Berdiri bersandar di dinding. Menunggu yeoja yang gugup itu untuk bicara.

“Kim Jong In, saranghae.”

Aku langsung melihat yeoja itu atas bawah. Tidak buruk, mungil, rambut bob yang terurus rapi… Tapi aku… tidak tertarik. Sejenak aku berpikir ragu. Kalau diriku saat SMP sudah pasti aku terima. Tapi sekarang perasaanku tidak mengizinkannya, begitu pula otakku.

“Mian, aku tidak bisa menerimamu.”

Detik berikutnya yeoja yang bahkan tidak aku ketahui namanya sampai akhir itu berlari. Tidak memperpanjangnya aku berjalan, bermaksud melanjutkan aktifitas bersantaiku. Namun mataku menangkap sesuatu berwarna biru tua.

Aku berjongkok ke balik semak-semak tersebut. Rupanya gadis ini baru saja menguping. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena gadis itu menyembunyikan wajahnya. Tubuhnya benar-benar tergulung rapat seperti bola. Kusentuh lengannya yang tidak terlindungi itu. Gadis ini nekat juga, memakai baju tidak berlengan di musim dingin.

Gadis itu terlonjak kaget, membenturkan kepalanya ke dinding di belakangnya.

Aku tertawa kecil.

“Naraya. Apa yang kau lakukan?”

-:Naraya:-

Ouch…

Aku mengusap kepalaku.

“Naraya. Apa yang kau lakukan?”

Aku mendongak – melihat Kai, pipiku langsung memerah malu.

“Ani, tadi aku hanya ingin menyendiri di taman, tapi aku ke sini malah…”

Aku tidak berani melanjutkan kata-kataku. Aku tidak berani mengungkitnya lebih jauh lagi.

“Ayo.”

Kai sudah berdiri duluan mengulurkan tangannya padaku.

Aku menyambut uluran tangannya sedikit bersyukur.

Sejenak hening, kami berjalan bersama menuju – entahlah, aku hanya mengikuti Kai.

“Apa yang kau dengar?” namja itu memecah keheningan.

“Ia menyatakan cintanya padamu… kau menolaknya. Wae?”

Aku berusaha berbasa-basi.

“Entahlah, menurutku tidak penting, dia…”

Tidak penting.

“YA! Kenapa kau bicara begitu? Mungkinkah bagi gadis itu, tadi itu sangat penting?”

“Wae?”

Ish, namja ini!

“Kau tahu tidak sih! Bagi seorang gadis menyatakan cinta itu penting sekali, apalagi dia memberanikan dirinya sampai seperti itu. Tapi kau dengan seenaknya berkata tidak penting? Setidaknya hargailah sedikit, kau bahkan tidak menanyakan namanya? Di awal mungkin? Tidakkah kau beramah-tamah sedikit?”

Aku mengomel panjang lebar. Entah kenapa aku jadi senewen dengan namja ini. Mungkin karena ketidakpeduliannya pada orang lain? Atau aku kasihan pada yeoja itu?

Andwae! Aku tidak perduli!

Aku berlari meninggalkan namja itu, pikiranku aneh.

_

Pada akhirnya kakiku ini membawaku keluar vila. Aku berjalan lurus, yang ada di pikiranku hanyalah toko alat lukis yang aku lihat waktu itu. Kulirik jam tangan putihku yang mungil.

14.00

Masih pagi, aku melangkahkan kakiku masuk.

“Annyeong!”

Seorang namja penjaga toko menyapaku dari balik kasir. Aku hanya tersenyum. Mataku melihat-lihat peralatan lukis, kadang melihar beberapa lukisan yang digantung di setiap celah dinding yang ada. Memejamkan mata, merasakan wangi yang sangat kukenal, merasakan halusnya kuas ditelapak tanganku…

“Ada yang bisa kubantu?”

Aku menoleh, namja itu sudah berpindah kesebelahku.

“Ani. Aku hanya melihat-lihat. Tak perlu hiraukan aku.”

“Apa yang membuatmu tertarik?”

Namja itu kembali bertanya padaku, tidak menangkap usiran halus dalam jawabanku.

“Lukisan… tokomu menarik. Aku jarang melihat toko alat lukis yang juga memajang lukisan.”

“Untuk kesenangan pribadi.”

Aku menoleh, tertarik kali ini.

“Kau yang melukisnya?”

“Ne.”

“Daebak… banyak sekali…”

“Namamu?”

“Ah, Naraya, Cha Naraya imnida.”

“Park Yu Min imnida.”

-:Kai:-

Gadis itu. Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku.

Aku sudah kembali ke kamar, melamun, memainkan kembali kotak persegi itu di tanganku.

“Kai! Kau melihat Naraya?”

“Tadi ia pergi, aku tidak tahu.”

“Kai, sekarang sudah jam 3. Masa sang target malah menghilang.”

_

Satu jam setengah, dan gadis itu belum kembali.

Semua sudah uring-uringan di ruang tengah.

Pikiranku melayang kembali ke kejadian tadi siang. Kalau misalkan ia pergi karena itu, berarti hilangnya gadis itu kesalahanku juga. Ck.

“Aku akan mencarinya. Aku janji akan membawanya sejam lagi kesini.”

Aku berdiri meninggalkan ke-7 orang dengan pandangan bingung. Aku berjalan keluar untuk mencari udara segar.

Apa yang akan kau tuju ketika sedang kesal?

Tempat kesukaan…

Apa tempat kesukaan gadis itu?

Aku memejamkan mata memijat pelipisku.

:FLASHBACK:

‘Kau suka melukis? Hobi?’

‘Molla. Aku sendiri bingung. Tapi kebanyakan aku melukis saat aku kesal. Lebih tepatnya terkadang tempat pelarianku adalah lukisan atau toko peralatan lukis mungkin.’

‘Riaaaa, lihat itu, ada toko alat lukis! Ada lukisan juga yang dipajang. Minggu kita kesana ya?’

:FLASHBACK END:

Itu dia!

Kakiku melangkah ke ara yang kuingat adalah toko alat lukis. Aku berjalan cepat. Semoga saja gadis itu ada disana, sehingga aku bisa membawanya tepat waktu. Aku berlari melawan angin musim dingin yang menggigil. Sial kenapa aku jadi merasa bersalah?! Merepotkan.

_

Aku sampai, toko kecil sederhana bernuansa kayu.

Di sana, seperti dugaanku. Aku masuk, berjalan mendekat. Semakin dekat aku bisa melihat ada seseorang yang diajakya bicara. Seorang namja. Bibirku mengeras membentuk garis lurus.

Bisa-bisanya gadis ini berbicara santai dengan seorang namja. Setelah ia pergi begitu saja membuatku bingung, dan hampir menghancurkan pestanya sendiri.

Tanpa basa-basi, aku langsung menarik tangan gadis itu keluar toko.

-:Naraya:-

Aku dan Yu Min cepat akrab, mungkin karena aku dan dia yang sama-sama menyukai seni. Aku tidak tahu sudah berapa jam mengobrol bersamanya.

“Jadi kau sudah melukis dari kau kecil? Daebak. Bahkan orang tuamu juga seniman.”

“Kalau kau?”

“Hanya sekedar hobi tidak ada alasan –”

Seseorang menarik tanganku, membuatku kaget.

“YA!”

Aku menoleh ke arah Yu Min.

“Anneyong, senang mengobrol dengamu.”

Tanganku yang bebas melambai pada Yu Min. Aku berjalan sedikit kesulitan dengan orang yang aku belum ketahui identitasnya ini.

Di depan toko ia berhenti. Aku menyentak, melepaskan tanganku kasar.

“YA! Kau! Berani-beraninya!”

Orang itu menoleh, mukanya dingin – Kai. Bagus! Aku melipat tangan di dadaku.

“Kenapa kau bisa disini?”

“Mencarimu.”

Aku marah sekali dengan namja ini.

“Untuk apa? Bukankah kau namja tidak berperasaan, yang mungkin tidak peduli jika ada orang yang menghilang. Mungkin khususnya aku yang selalu membuatmu sial ini. Kenapa kau mencariku, tidakkah ketidak hadiranku justru membuatmu damai kembali?!”

Aku memberondongnya dengan omelan – unek-unekku.

-:Kai:-

Ck…

Aku melirik sekilas jam tangan Naraya, gadis ini malah marah dan memberodongku dengan omelan.

Jam 17.30

Mati aku, kalau aku masih meladenin omelannya. Tidak akan sempat.

“YA! Diamlah. Aku bahkan belum selesai berkata tadi siang dan kau seenaknya menyelaku lalu pergi.”

Gadis di hadapanku diam, menunggu.

“Menurutku tidak penting, dia bukan apa-apa. Lebih penting bagiku untuk menjagamu dan menghindarkanmu dari kecerobohanmu. Eoh?”

“Mwo?!”

Gadis di depanku melongo tidak percaya.

“Lebih penting bagiku untuk menjagamu dan menghindarkanmu dari kecerobohanmu.”

Gadis itu mengerjapkan matanya.

“YA! Kau memperolokku hah?”

Aku memutar bola mataku. Tanpa pikir panjang kupeluk saja gadis itu. Aku harus berhenti berdebat dengan gadis ini.

“Saengil chukkahamnida, Naraya-ah~.”

Aku membisikkanya tepat ditelinga sembari menjejalkan kotak persegi yang sendari tadi aku mainkan asal itu.

Aku dan Naraya sudah berjalan kembali ke villa. Kulihat tangannya memainkan kotak yang kuberi itu.

“Bukalah jika kau penasaran.”

“Jjinja?”

“Eoh.”

Gadis itu membuka bungkusan tersebut. Seketika dahinya mengernyit, aku tertawa dalam hati.

“Plester?”

“Lihatlah isinya.”

Ia membuka kotak tersebut, di dalamnya ada plester dan…

Pluk

Kalung itu meluncur ke tangannya yang mungil.

“Kau menyukainya?”

“Ne, gomawo.”

Mata gadis itu berbinar melihat kalung tersebut.

“Aku memberikannya padamu agar kau bisa dengan segera mengobati lukamu, dan kalung itu, cobalah memakainya dan menjaganya. Berhati-hatilah, sehingga kalung itu tidak rusak. Tidak boleh rusak ataupun hilang. Jadi kuharap dengan adanya kalung itu kurangilah kecerobohanmu. Mengerti?”

Naraya hanya menganggukkan kepalanya. Aku tersenyum.

-:Naraya:-

Aku memasuki villa. Masih sore, tapi sepertinya semua orang sudah merasa malas dan mengurung diri di kamar. Aku sudah berniat naik dan menuju tangga. Namun tangan Kai menggandengku menuju ruang tengah.

Begitu sudah dekat, seseorang menutup mataku, bukan Kai. Namja itu masih menggandengku.

Perlahan tangan yang menutupi mataku menghilang. Aku membuka mataku.

“Saengil chukkahamnida, Naraya!!”

Sehun memegang kue di depanku. Aku melihat angka 17 menyala. (Tanggalan Korea)

Kulihat sejenak sekelilingku ada Kai, Ria – yang menutup mataku ternyata, Sehun, Chan Rie, Tao, Chanyeol, Baekhyun, dan DO.

Ternyata mereka dekat karena ini…

Aku terkejut, tertawa kecil, orang lain ingat hari ulang tahunku. Sedangkan aku sendiri tidak mengingatnya. Bahkan orang yang belum dekat denganku.

“Gomawo, chingudeul!”

Aku meniup lilin, mengucapkan permohonan.

“Ne, Naraya ayo potong kuenyaa! DO yang memasak!” Chanyeol berbicara kepadaku.

Wow, DO namja kutu buku itu ternyata berbakat dalam memasak.

Aku tersenyum, memotong kueku. Ria sudah memaksaku memilih siapa yang mendapat potongan pertama.

“Tentu saja diriku sendiri.”

“Tidak bisa, ayolahhh!”

“Andwae! Ambilah sendiri atau aku akan memakan semuanya.”

Akhirnya Ria menyerah mendapat ancaman dariku itu, di sertai tertawaan mengejek dari Chanyeol dan Baekhyun. Ternyata dua namja itu memang biang rusuh – ironis sekali mereka jadi ketua dan wakil ketua. Aku heran bagaimana DO bisa terjebak bersama mereka.

Sementara mereka berebut kue Iphoneku bergetar.

Kuambil Iphone itu dengan handal, membuka pesan yang tertera.

Eomma:

Chagiya, Saengil chukkahamnida…  Dari eomma dan appa.

Semoga kau semakin sehat yaa..

Sayang kita tidak bisa merayakannya bersama, padahal hari minggu.

Ne, sehat-sehatlah, pulanglah tanpa tergores, eomma khawatir.

TO : EOMMA

Gamsahabnida eomma dan appaku tercinta..

Aku akan pulang tanpa tergores, lihatlah nanti.

Mana Oppa? Jahat sekali ia tidak mengucapkan?

Aku tersenyum simpul. Semua mengucapkan ulang tahunku tepat jam 6, waktu kelahiranku.

Kring…Kringg…

Aku sedikit terlonjak.

“Yeobseo?”

“Saengil chukkahamnida! Jangan bilang oppamu ini jahat. Aku hanya ingin mengucapkan secara langsung. Bagaimana?”

“Ehehehe, ne oppa. Kau membuatku senangg.”

“Ada ribut-ribut apa itu?”

“Ria membuat pesta untuku.”

“Ya sudah, berpestalah. Pulanglah tanpa lecet ya? Aku tidak melupakan kejadia tas itu!”

“Eoh, oppaku yang cerewet sang kaset rusak! Bwee.”

“Hehehe, buktikan janjimu!”

_

:FLASHBACK:

‘Lebih penting bagiku untuk menjagamu dan menghindarkanmu dari kecerobohanmu.’

Aku mengerjapkan mataku tidak percaya, namja ini!

‘YA! Kau memperolokku hah?’

Detik berikutnya Kai sudah memeluku. Apa-apaan ini?! Aku mencoba melepaskan diri tidak terima. Kai mendekatkan kepalanya ke samping telingaku.

 ‘Saengil chukkahamnida, Naraya-ah~’

Caraya memanggil namaku membuatku tergelitik, belum ada yang memanggilku begitu. Mungkin namaku yang aneh dan terlampau panjang ini sudah membuat susah apalagi jika di tambakan akhiran.

Mwo? Tunggu, sekarang tanggal berapa ya?      

Kuingat-ingat tanggalan di Iphoneku pagi ini – 17 Nov.

Oh?! Hebat aku melupakan ulang tahunku sendiri. Lucu…

Hah? Apa ini? Kai menjejalkan sebuah kotak ketanganku.

_

Bukannya memperhatikan jalan. Aku menimbang-nimbang benda apa yang berada di dalam kotak ini.

‘Bukalah jika kau penasaran.’

‘Jjinja?’

‘Eoh.’

Aku membuka bungkusan putih tersebut, seketika mengernyit. Kotak plester?

 ‘Plester?’

‘Lihatlah isinya.’

Aku menurutinya membuka kotak tersebut, di dalamnya ada plester dan…

Pluk

Sebuah benda berkilauan jatuh ke telapak tanganku. Liontinya unik, mungkinkah kunci g? Tapi menurutku tidak begitu mirip, bentuknya sedikit lebih abstrak.

 ‘Kau menyukainya?’

‘Ne, gomawo.’

Mataku tak lepas dari kalung tersebut. Unik, aku suka.

‘Aku memberikannya padamu agar kau bisa dengan segera mengobati lukamu, dan kalung itu, cobalah memakainya dan menjaganya. Berhati-hatilah, sehingga kalung itu tidak rusak. Tidak boleh rusak ataupun hilang. Jadi kuharap dengan adanya kalung itu kurangilah kecerobohanmu. Mengerti?’

:FLASHBACK END:

Aku menyerap setiap kata yang diucapkannya.

Ia menganggap menolongku lebih penting baginya…

Kuingat pesannya,

Ia mengkhawatirkanku…

Kurasakan pipiku memanas.

Kumainkan kalung yang berada di tanganku, menimbang-nimbangnya.

Aku berada belokan taman TKP tadi siang, meninggalkan orang-orang gila itu berpesta.

Srk, srk…

Aku mewaspadakan diriku, menanti siapa yang akan datang. Sosok itu mendekat.

Cahaya bulan menyinari wajahnya – Kai.

Aku kembali merilekskan sikapku. Namja itu duduk disebelahku.

“Apa yang kau lakukan?”

“Memisahkan diri. Anak-anak itu terlalu mengerikan.”

“Babo, yang berulang tahun malah tidak berpesta.”

Aku sudah siap membalas perkataanya –

“Tapi kau ada benarnya mereka mengerikan. Pasangan ketua dan wakil ketua itu terlalu gila.”

Ia melirik kearahku, melihat tanganku yang memegang kalung pemberiannya.

“Biar aku pasangkan…”

Tangannya terulur menawarkan bantuan. Aku memnyerahkan benda mungil itu ke dalam tangannya yang besar. Kai medekat memasangka kalungnya di leherku. Bau wine? Alkohol?

“Kai, kau minum apa tadi? Alkohol?”

“Tidak tahu. Sehun yang memberikannya padaku. Mungkin ada benarnya, karena kulihat Chanyeol tersenyum evil sambil mengeluarkan botol. Tapi harusnya Sehun tidak memberikannya padaku. Ia tahu toleransiku pada alkhohol sangat rendah.”

Suaranya mulai kacau. Ini tidak baik. Terkutuklah kau Sehun, bukan teman yang baik.

Clik

“Sudah. Jangan sampai rusak maupun hilang oleh kecerobohanmu, ne?”

Aku mendongakkan kepalaku. Kaget. Wajahku dan wajah Kai dekat sekali. Mata kami sejajar, aku bisa merasakan deru nafasnya. Bibirnya – bibir yang pernah aku kagumi itu. Sebenarnya masih kalau boleh jujur. Tanganku tanpa di komando menyentuh pipi namja itu. Melihat matanya yang terlihat mengantuk.

Wajahnya semakin mendekat padaku. Aku menjatuhkan tanganku waspada, tidak bisa bergerak, aku duduk di pojok – benar-benar di pojok. Punggungku yang sudah dingin menyentuh dinding membuatku merinding, di tambah dengann Kai yang sepertinya sudah – aneh?!

Aku memejamkan mataku. Kukutuk Sehun dan siapapun itu yang membawa minuman berakohol sialan itu.

TO BE CONTINUE…

 

5 thoughts on “[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 6)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s