[FREELANCE] You Can’t Disappear From Me (Chapter 4)

You cant Disappear From Me FINAL

Title : You Can’t Disappear From Me

Author : Hyuuga Ace (@dioxing_0307)

Length : Multichapter

Genre : Romance, Drama, School Life, Hurt

Rate : G

Web : cynicalace.wordpress.com

Main Cast :

  • Oh Yu Bin (OC)
  • Kim Jong In / Kai
  • Park Chan Yeol
  • Lee Sae Ra (OC)

Other Cast : Kwon Yura (OC), Xi Luhan, Do Kyungsoo /D.O, Oh Se Hun, Zhang Yixing / Lay, Park Ye Rin (OC), Shin Hee Ra (OC), Han Jae Ha (OC)

Author’s note :

Annyeong.. Chapter ini agk panjang.. Hehehe, smga ga bosen yah baca’a..

Skli lg, gomawo bwt admin exomk fanfic yg udh mw ngepost ff ini ehehe..

HAPPY READING ALL ^^

 

____

Author’s PoV

2 minggu telah berlalu, dan tentunya inilah waktu yang ditunggu- tunggu siswa- siswi kelas 1 dan 2 “Yo Su” High School karena mereka diberikan libur selama 1 minggu full. Tapi tidak untuk siswa- siswi kelas 3 yang akan menghadapi ujian. Mimpi buruk, begitu yang mereka katakan.

“Songdo bada?” Tanya D.O bingung, ketika Kai merekomendasikan suatu tempat untuk berlibur.

“Kita bisa saja berlibur ke luar negri, Jepang mungkin? Berjalan- jalan dan belanja di Shibuya street akan mengasyikan.”

“Kau seperti yeoja saja, Kyungsoo-ya. Kita bisa liburan ke China, sekalian pulang kampung untukku. Changsa tempat yang menarik.” Usul Yixing kelewat bersemangat.

“Aku dan Luhan Hyung malahan ingin berlibur ke Eropa. Terutama Luhan Hyung yang ingin sekali pergi ke Manchester untuk dapat mengunjungi Old Traffod.” Kini giliran Sehun yang memberikan usul sambil mempoutkan bibirnya lucu.

“Kalian semua.. Bukankah waktu liburan kita hanya 1 minggu? Aku tidak ingin banyak menghabiskan waktu di jalan dengan pergi ke luar negri, apalagi benua lain. Kita akan berlibur di Busan. Biaya penginapan dan lain- lain akan ku tanggung karena aku yang mengajak, bagaimana?” Rayunya dengan nada yang berusaha sebisa mungkin -santai.

“Gratis?” Ujar mereka serempak sambil melirik- lirik satu sama lain.

Kai hanya tersenyum malas, tentu saja siapa orang yang akan melewatkan sesuatu yang gratis? “Hmm.. Tidak sepenuhnya gratis, aku hanya akan membayar uang penginapan.”

“Tunggu sebentar, Kai. Ada sesuatu yang tiba- tiba kuingat. Bukankah kau memiliki vila pinggir pantai di Busan? Mengapa harus repot- repot menginap di penginapan?” Keluhnya tiba- tiba.

“Jangan bilang villanya sudah dijual?” Tanya Sehun polos.

“Hun-ah, itu tidak mungkin. Keluarga Kai bukan orang yang membutuhkan uang sampai harus menjual villa.”

“Ah aku lupa dia orang kaya, hyung.” Kai hanya memutar bola matanya bosan.

“Berbaur dengan masyarakat terkadang lebih baik, ah aku bosan dengan keluhan kalian. Pokoknya kita akan ke Songdo bada dan menginap di penginapan.” Ujar namja bermarga Kim dengan nada yang -tanpa-ada-penolakan.

“Yixing hyung, ambil stik PS mu, by one denganku.” Lanjut Kai, sambil berdiri dan mengambil stik PS nya dan menyalakan PS 3 nya yang belum tersentuh semenjak mereka semua datang ke rumah Kai untuk sekedar menghabiskan waktu.

“Kai aku bosan bermain PS. Ayo kita bermain catur.” Ajak Yixing atau yang sering juga dipanggil Lay sambil menunjukan cengirannya yang sudah diketahui maksudnya oleh yang lainnya, ia bosan kalah bermain PS dengan Kai.

“Aku jadi ingin tahu, apakah Kai pintar bermain catur? Kekekeke.” Kekeh D.O dipojok ruangan.

____

Yubin’s PoV

“Jadi kau akan berlibur di Songdo Bada?” Tanya seseorang di ujung sana, Saera. Sudah sekitar 2 minggu kami berteman. Entahlah dia sangat ramah padaku. Walau kadang aku juga tidak mengerti mengapa dia sangat tertarik tentang kehidupanku, seperti hal sejenis: apakah aku punya pacar? Atau adakah orang yang sedang kusukai?

Yang hanya bisa kubalas dengan gelengan kepala, tak berniat sedikitpun menceritakan mengenai Kai- orang yang kusukai. Bercerita tentang perasaan yang tak terbalas kadang memang menyakitkan.

“Yeoboseyo? Yubin-ah, kau masih disana?” Sapa Saera diujung sana yang membuyarkan lamunanku.

“Ah mian Saera-ya. Ne aku, Yura, dan Chanyeol akan berlibur kesana.”

“Hanya kalian bertiga?”

“Kurasa begitu..”

“Kapan kalian akan berangkat?”

“Besok pagi, jam 7. Ehmm, apakah kau mau ikut?”

“Mianhae Yubin-ah, sepertinya aku tak bisa. Aku tidak ingin menganggu acara kalian, seperti yang kau tahu aku hanya dekat denganmu. Walaupun Chanyeol duduk di belakang meja kita, namun aku jarang mengobrol banyak dengannya. Dan Yura? Walau kita sering istirahat bersama ber 4 -Kau, aku, Yura, dan Chanyeol-, entahlah aku kurang bisa mengobrol santai dengannya.” Celotehnya panjang lebar.

“Ne, gwaenchana Saera-ya. Apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku sedang dalam perjalan ke rumah Ka- ah temanku.” Aku mendengar dia terdiam sebentar di ujung sambungan telepon dan kembali melanjutkan ucapannya. “Sepertinya sudah mau sampai, aku tutup teleponnya dulu. Untuk liburannya, have fun yah?”

“Ne, gomawo.”

“Annyeong.”

“Nado annyeong.”

BIPP- dan sambungan telepon terputus. Aku kembali ke aktivitasku semula, membereskan baju yang akan kupakai selama liburan ke Busan 3 hari ke depan. Sebenarnya aku ingin berlibur lebih lama lagi, hanya saja aku merasa tidak enak tentang pekerjaan baruku. Aku baru saja bekerja kurang lebih 2 minggu dan aku sudah meminta cuti? Pegawai macam apa aku ini.

Awalnya aku sudah bersiap- siap membatalkan rencana ini ketika memikirkan kemungkinan terburuk bahwa Seungho ahjussi tidak memberikanku cuti.

Tapi entah karena Seungho ahjussi yang terlampau baik atau dia mengerti jiwa mudaku, dia membolehkan begitu saja tanpa mengurangi gajiku sedikitpun.

Dikarenakan rasa malu, maka aku hanya meminta cuti selama 3 hari.

____

Author’s PoV

Seseorang yang ia tahu adalah pembantu di rumah Kai membukakan pintu untuknya, dan sesegera mungkin seorang yeoja mungil melangkahkan kakinya cepat ke dalam rumah Kai. Dia hanya ingin segera bertemu dengan Kai-nya. Tiba- tiba dia mendengar suara namja- namja yang jujur saja tidak bisa disebut bisik- bisik karena suaranya yang menggema sampai ke ruangan depan rumah Kai.

“Aku tidak mengerti mengapa Kai mengusulkan untuk berlibur ke Songdo bada. Dikala dia bisa saja naik helikopter untuk terbang ke Eropa.”

DEG

Apa yang diucapkan namja tadi?

Kai? Mengusulkan berlibur kemana?

“Yah, kau benar Hyung. Yah sudahlah, mungkin dia hanya ingin berlibur ke tempat dekat.” Ujar namja lainnya.

Saera -yeoja itu- melangkahkan kakinya cepat ke arah suara- suara itu berada. Mereka masih berjalan santai menuruni tiap anak tangga rumah ini.

“Kau bilang kalian akan berlibur kemana?” Tanya yeoja itu cepat saat berada di depan teman- teman Kai. Mereka hanya terkesiap kaget melihat Saera yang entah muncul dari mana sudah berada di hadapannya. Tapi itu tidak bertahan lama, mereka kembali memasang wajah tenangnya, termasuk Luhan yang akan menjawab pertanyaan yeoja itu.

“Songdo bada, Busan. Waeyo?”

“Jangan bilang kau akan ikut, Saera-ssi.” Ini D.O yang berbicara. Entahlah namja bermata bulat ini memang tidak pernah menyukai keberadaan Lee Saera, sehingga ia tidak merasa bersalah mengatakan hal apapun padanya.

“Kenapa harus kesana?” Tanya Saera dengan pandangan yang mungkin bisa diartikan sebagai takut dan juga resah.

“Kami tak tahu, tanya saja Kai yang mengusulkan-“

“Ani- memaksa kami semua berlibur kesana.” Ralat D.O ketika Yixing mengatakan kata ‘mengusulkan’.

“Sudah dulu yah Saera-ssi. Kami harus segera pulang. Dan jika kau ingin mencari Kai, lebih baik kau tunggu dulu disini, dia mungkin sedang mandi sekarang, ia yang bilang akan segera mandi ketika kami beranjak keluar dari kamarnya.” Tukas Luhan yang kelihatannya paling sopan terhadap Saera yang masih membatu di tempatnya, entah apa yang yeoja ini pikirkan? Luhan bertanya- tanya dalam hatinya.

Dan tidak butuh waktu lama ke-4 namja yang diketahui sebagai teman- teman terdekat Kai itu menghilang dari pandangan.

“Apa mungkin Yubin berbohong padaku? Apakah dia juga mengajak Kai?” Renungnya.

_____

Matahari telah menunjukan sinarnya dari ufuk barat, menandakan hari telah berganti. Hari inilah hari yang sangat ditunggu- tunggu seorang Oh Yubin. Hari dimana pada akhirnya ia bisa berlibur, mengingat ketika libur musim dingin kemarin ia malah sibuk mencari lowongan pekerjaan kesana sini. Ia juga melakukan hal itu untuk membantu ekonomi keluarganya yang makin hari makin merosot.

“Yura-ya, ppali!” Ujar Yubin tidak sabar ketika dirinya melihat mobil Chanyeol berbelok dari tikungan dan segera menghampiri rumah Yura. Yubin memang sengaja menginap di rumah Yura, agar memudahkan Chanyeol yang menjemput mereka. Mengingat rumah Yubin yang paling jauh dari rumah Chanyeol.

“Tunggu sebentar lagi, Yubin-ah! Barang- barangku kelewat banyak.” Teriak yeoja yang masih saja berada di dalam rumahnya.

“Astaga dia itu membawa apa saja untuk berlibur 3 hari sih? Aku curiga ia juga membawa Puka- kucing kesayangannya.”

CITTT~

Suara mobil berdecit membuat Yubin ikut menolehkan pandangannya ke arah jalanan. Disana mobil Chanyeol sudah berhenti sempurna, dan ketika melihat kebalik kaca, Yubin sedikit terkejut ketika melihat tidak hanya Chanyeol yang berada disana. Melainkan ada seorang namja lagi.

Chanyeol membuka pintu mobilnya cepat dan segera berhambur ke arah Yubin. Begitupun namja asing yang menyusul Chanyeol dari arah belakang.

‘Wow! Dia lebih tinggi dari seorang Park Chanyeol?!’ Tanya Yubin dalam hati. Terkejut melihat orang yang lebih tinggi dari teman dekatnya.

“Annyeong chagiyaaaaaa.” Sapa Chanyeol penuh semangat.

“Nuguya, Yeollie?” Tanya Yubin to the point sambil mengarahkan matanya kepada namja yang jujur saja sangat tampan itu.

“Ah, hyung! Come here. Dia sepupu jauhku yang lama tinggal di Kanada.” Yubin hanya membulatkan mulutnya ketika mendengar ucapan temannya itu.

“Ah annyeonghaseyo” Bungkuknya sopan ketika melihat namja itu berada di depannya. “Kalau Chanyeol memanggilmu Hyung, berarti aku juga harus memanggilmu oppa. Euhm. Wait, you can speak Korean, right?”

Namja itu hanya terkekeh pelan mendengar ucapan yeoja itu.

“Tenang saja Yubin-ah, hyungku ini dapat menguasai 4 bahasa.” Bela Chanyeol.

“Jinjja? Bahasa apa saja yang kau kuasai oppa?”

“Eum, sebelum itu perkenalkan namaku Wu Yi Fan imnida, tapi aku biasa dipanggil Kris. Dan ya, Chanyeol benar aku menguasai Korean, English, Chinesse, dan bahasa Kanton.” Ujarnya tanpa menunjukan sedikitpun kesombongan.

“Whoaaa keren!” Refleks, Yubin pun mengeluarkan dua jempolnya untuk menunjukan kekagumannya pada namja di depannya, tentu saja bukan Chanyeol. “Ah mianhae, aku juga lupa memperkenalkan diri, Nae ireumeun Oh Yubin imnida, bangapseumnida Kris oppa.” Lanjutnya.

“Nado bangapseumnida.”

“Eum, chagi, kau tidak keberatan kan jika aku mengajak Kris Hyung ikut bersama kita, kan? Semenjak kedatangannya dari Kanada satu minggu yang lalu ia hanya mendekam sepanjang hari di rumah seperti orang pengangguran. Aku benar- benar tidak tahan melihatnya maka dari itu kuajak sekalian dia ke Busan.” Tentu saja kau sudah tahu siapa yang baru saja berbicara bukan? Siapa lagi orang yang memanggil Yubin dengan sebutan chagi seperti itu, selain Park Chanyeol?

“Ne, mianhamnida jika aku menganggu acara kalian. Tapi Chanyeol terus menerus memaksaku juga.” Yang ini giliran Kris yang merasa tidak enak.

“Aniyo oppa. Aku sama sekali tidak keberatan kau ikut. Bukankah semakin banyak orang semakin baik?” Ujar yeoja bermarga Oh ini sambil menunjukan cengirannya yang kelewat lebar.

“Kau sangat baik hati, gomaseupmnida.”

DRTTT~ bunyi ponsel seseorang terdengar, karena merasa itu bukan ringtone yang dipakai. Yubin dan Chanyeol pun melirik Kris yang mulai mencari ponselnya di saku celananya.

“Ah, mianhae. Aku harus mengangkat telepon sebentar.” Kris pun berjalan menjauhi Chanyeol dan Yubin sembari memutar tubuhnya membelakangi mereka.

“Yeol-ah, kau tidak pernah menceritakan padaku kau memiliki sepupu jauh berkebangsaan China yang ganteng sekali seperti dia.” Bisiknya  sewot pada namja tinggi satunya lagi.

“Bodoh! Dia memang sedikit lebih tinggi dariku, tapi aku lebih tampan darinya, chagi.” Ujar Chanyeol yang hanya ditanggapi Yubin dengan gelengan kepala yang juga membuat Chanyeol hanya mendengus sebal. “Dimana Yura?”

“Hahh hahh..” Seseorang dengan tergopoh- gopoh lari menghampiri mereka, yang tanpa ditanya lagi, itu pasti Kwon Yura.

“Ahh mianhae chingudeul. Selain mengurusi barang- barangku yang kelewat banyak. Puka minta diajak juga rupanya. Ia mengamuk di dalam sana, ketika aku mau melangkahkan kakiku ke-” Yura terkesiap ketika melihat sesosok namja yang dengan luar biasanya lebih tinggi dari Park Chanyeol, temannya yang kelewat tinggi. Oh- bahkan dalam pikirannya Yura selalu berlebihan. Kekekeke~

“Siapa dia?” Bisiknya heboh pada Yubin yang berada di sampingnya. Tunggu, bisakah itu disebut bisik- bisik? -__-

Yubin pun dengan malas menjelaskan siapa sebenarnya Kris dan mengapa Kris juga ada disini yang hanya dibalas Yura dengan kilatan bersemangat dari matanya. Huh, dia selalu begini kalau melihat namja tampan. Pikir Yubin dengan nada lelah.

Ketika Kris menyudahi sambungan teleponnya, ia pun segera berbalik dan berkenalan dengan teman sepupunya yang lain yang bernama Kwon Yura. Dan Kris sangat senang ketika melihat ada seekor kucing mungil berada dalam pelukan yeoja ini. Ahh, perlu diketahui bahwa Kris adalah pecinta kucing, dan tentu saja ia juga memelihara beberapa diantara spesies kucing di rumahnya, di Kanada.

“Ah, sudah waktunya berangkat. Kajja!” Ajak seseorang sambil membawa tas yang dibawa Yubin di tangannya.

“Ya! Park Chanyeol! Bawa koperku sekalian! Hiksss eomma namja bodoh itu selalu pilih kasih terhadapku.” Rengek Yura dengan hiperbolanya. Membuat Kris jadi tertawa melihatnya.

“Bisa kubantu membawa kopermu?”

“Eh?!” Ditanya begitu Yura hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, atau bisa dibilang dia juga sedang salah tingkah. “Ah ani oppa, aku hanya bercanda. Aku bisa membawa koperku sendiri kok. Hehehe.” Yura hanya bisa tertawa garing menanggapinya yang disambut dengan kekehan Kris. Dan tanpa perlu bertanya lagi, Kris langsung mengambil koper yang berada di sebelah Yura dan membawanya memasuki bagasi mobil Chanyeol.

“Kau akan kesulitan membawa koper ketika mengendong kucing cantik seperti itu.”

“Cantik?! Kau tahu kucingku ini betina?”

_____

Perjalanan menuju Busan terasa begitu membosankan bagi Yubin yang sedari tadi hanya bisa mendengar celotehan kelewat bersemangat dari sahabatnya yang sedang bercakap- cakap dengan seseorang di bangku belakang mengenai segala hal yang berbau kucing, siapa lagi kalau bukan Yura.

Sama halnya dengan Chanyeol yang hanya bisa menghembuskan nafasnya bosan ketika mendengar sepupunya ini ikut mendiskusikan hal yang sama dengan Yura. Kucing. Chanyeol lupa jika sepupunya ini juga penggila kucing. Dan rupanya hyungnya telah bertemu seseorang yang tepat untuk berceloteh tentang kucing.

“Chagi, kau tidak bosan?”

“Bosan.”

“Chagi, kau mengantuk?”

“Lumayan.”

“Chagi, apakah kau sudah sarapan tadi pagi? Mungkin kita akan sampai di Busan sekitar jm 2 atau 3. Bisa bahaya kalau kau belum sarapan.”

“Sudah.”

“Ya! Jangan jawab pertanyaanku hanya dengan satu kata!” Dengusnya sebal.

“Yeol-ah, bisakah kau tidak memanggilku chagi? Kau sendiri tahu aku tidak pernah suka dipanggil begitu, kalau aku boleh jujur.”

Entahlah, Chanyeol merasa sedikit sakit ketika mendengar perkataan Yubin tadi, rasanya bahkan sebelum Chanyeol mengutarakan perasaannya pada Yubin, Yubin telah terlebih dahulu menolaknya.

Namun, dengan cepat ia mengubah mimik wajahnya.

“Oh jadi kau masih mempermasalahkan hal itu, oh ayolah.. Itu hanya ungkapan sayangku padamu saja.” Ujarnya santai, ani- mencoba santai. Itu lebih tepat.

Disisi lain, Yubin kembali teringat Heera, yang pernah mengatakan bahwa Chanyeol menyukainya. Ia takut hal itu adalah benar.

Bagaimanapun, Yubin masih menyukai Kai- ahh cukup. Kenapa harus terpikir Kai lagi? Yubin menggeleng kencang- kencang berniat menghapus nama yang baru saja melintasi pikirannya tadi.

Tentu saja Chanyeol melihat apa yang sedang dilakukan Yubin. Dan ia kembali bertanya- tanya..

Apakah ia masih saja memikirkan Kai?

____

2 jam berlalu dan situasi di mobil ini pun berubah ketika Chanyeol menyalakan DVD playernya dan mulai menyanyi- nyanyi sendiri, dan tiba- tiba Yura dari jok belakang pun ikut bernyanyi. Begitupun dengan Yubin, menyisakan Kris yang tetap diam namun ikut menikmati suasana hidup di mobil ini.

 

Chanyeol memiliki teman- teman yang menyenangkan.

Pikir Kris dalam hati.

Suasana jauh lebih menyenangkan bagi Chanyeol dan Yubin sekarang daripada hanya mendengar pembicaraan tentang kucing di jok belakang, dan malahan kucing yang juga ikut menjadi tokoh utama -Puka, kucing Yura-  sedang tertidur pulas di bangku di sela- sela Yura dan Kris.

Dan mungkin saja, jika seseorang melihat mereka dari luar, orang akan menyangka orang- orang di dalam mobil ini sedang menggelar konser.

Inilah sifat asli ketiga orang ini, rusuh.

____

Songdo bada. Pantai yang dekat dengan pedesaan di sekitarnya, tidak jauh juga dari kota, dengan pemandangan laut yang luar biasa indah. Dan disinilah mereka sekarang, ke 4 orang yang baru saja keluar dari penginapan yang bisa juga disebut hotel itu. Tentu saja setelah mereka semua membereskan barang- barang mereka. Mereka sedang bersiap- siap untuk memulai wisata kuliner mereka, ketika mereka melihat resto di dekat pantai yang menarik perhatian. Namun seseorang menghentikan langkahnya.

“Ah, sebentar-“

“Waeyo, Yubin-ah?”

“Seperti ponselku tertinggal di hotel dan aku lupa untuk mengabari eomma ketika aku sampai disini.”

“Biar kutemani kembali ke hotel.”

“Ah, tidak usah, Yeol-ah. Aku bisa sendiri kok, kalian tunggu saja di resto itu dan pesankan aku sedikit makanan. Aku akan kembali cepat.” Ujarnya seraya berlari meninggalkan mereka.

“Ckk.. Ceroboh.” Dengus Chanyeol, tentu saja ada sedikit perasaan khawatir dalam dirinya.

Maka mereka bertiga pun kembali melanjutkan perjalan mereka menuju resto itu.

Betapa terkejutnya Yura dan Chanyeol ketika kaki mereka melangkah masuk ke resto itu, ada wajah- wajah tak asing yang sedang makan disitu.

Yixing, D.O, Sehun, Luhan, dan.. Kai.

____

“Jadi kalian berlibur disini juga?” Tanya Chanyeol heran. Ketika mereka memutuskan untuk makan di meja yang sama.

“Ya, seperti yang kau lihat bro.” Tidak seperti Kai -namja yang sedari tadi hanya mengerutkan keningnya, seperti memikirkan sesuatu- yang tidak begitu dekat dengan Chanyeol, Sehun malah sangat dekat dengan namja tinggi itu. Mereka berada di satu tim yang sama, basket.

“Oh dan perkenalkan ini sepupu jauhku, Kris Hyung.”

Satu persatu dari teman- teman Kai saling memperkenalkan diri sampai giliran Kai.

“Dimana Yubin?” Tanyanya tanpa basa basi. Jadi sedari tadi, hal yang ia pikirkan adalah hal itu.

“Apa pedulimu padanya?” Yura membalasnya dengan sinis.

“Tadi dia bilang akan mengambil ponselnya yang tertinggal di hotel.” Kris dengan santai menjawab pertanyaan namja yang belum ia ketahui namanya itu.

“Tunggu, apakah kalian lupa Yubin itu buta jalan. Jalan yang sudah lama ia lewati pun ia bisa lupa, apalagi jalan baru seperti ini?” Tanya Kai sengit.

“Ah! Kau benar.” Chanyeol hanya bisa bergumam pelan dengan nada penuh penyesalan seraya menggesturkan tubuhnya untuk segera berdiri dari kursinya. Namun ia kalah cepat dengan Kai yang sudah bergegas pergi meninggalkan resto itu.

Chanyeol yang melihat itu hanya bisa menggertakan giginya kesal dan ikut keluar dari resto ini, menemui Yubin.

“Ada apa dengan mereka berdua?” Tanya Kris heran. “Dan apakah temanmu itu tahu hotel dimana kami menginap?” Lanjutnya.

Seketika ada yang terpikirkan di benak seorang Do Kyung Soo.

“Ah! Si Kai itu..”

“Mwo?” Tanya Yixing heran dengan celetukan sahabatnya itu.

“Aku baru saja terpikir bahwa, Kai memaksa kita berlibur disini dan menginap di hotel sementara ia mempunyai villa itu dikarenakan Yubin. Yeoja itu juga berlibur disini dan menginap di hotel itu.”

“Ah itu mungkin saja benar, Kyungsoo-ya.”

“Geurom. Memang selain itu ada hal lain yang lebih masuk akal?”

_____

Jujur saja, diantara mereka ber-enam. Tidak ada satupun yang dapat menikmati makanan mereka dengan tenang. Semenjak kepergian Kai dan Chanyeol sejam yang lalu, dan setelah itu Chanyeol menghubungi Yura dan mengatakan bahwa Yubin memang belum kembali ke hotel. Mereka semua merasa resah.

“Lebih baik kita tidak makan- makan saja disini, kita bantu cari Yubin.” Usul Luhan sambil menaikan tangan kanannya, memanggil waitress untuk membayar bill mereka.

“Kau benar oppa.” Yura yang paling khawatir mengenai nasib teman- temannya -tentu saja terkecuali Kai yang memang dia tidak suka- menyetujui ajakan Luhan.

Dan setelah membayar bill -Luhan dengan senang hati membayarnya-. Mereka semua pun segera bergegas.

Berpencar. Yura bersama Kris, D.O bersama Yixing, dan Luhan bersama Sehun.

_____

Yubin’s PoV

Sial! Aku benar- benar menyesal menolak ajakan Chanyeol barusan. Sudah sejauh apa aku berjalan, aku benar- benar tidak bisa menemukan hotel tadi. Dan masalah yang lebih berat sekarang, aku ini dimana?

Disini sudah jarang terlihat bangunan atau pondok- pondok seperti sebelumnya. Dan yang makin kutakutkan, langit makin gelap. Kulirik jam tangan yang kusematkan di pergelangan tangan kiriku. Dan sekarang sudah jam setengah 6. Aku sudah berjalan hampir sejam.

Dan disini sudah jarang orang.

Teman- temanku pasti mencariku, aku benar- benar merepotkan.

Dan merindinglah aku ketika dari jauh aku mulai bisa melihat terhamparnya hutan bakau yang kelihatannya cukup luas. Disini ada hutan bakau? Aku tidak pernah tahu sebelumnya.

Badanku mulai bergetar hebat, dan air mata ini rasanya ingin saja aku tumpahkan mengingat rasa takutku yang sangat besar.

Matahari sebentar lagi akan kembali keperaduannya, menandakan gelap yang akan menghiasi langit. Aku takut gelap. Sangat takut.

Dan benar saja, tidak butuh waktu lama air mataku terjatuh, sesukanya.

Kakiku terasa lumpuh dan aku hanya bisa jatuh tersungkur ke depan.

“SIAPAPUN! TOLONG AKU! TOLOOONG!” Jeritku sekeras- kerasnya.

Kududukan tubuhku dan kupeluk lututku keras- keras. Hawa dingin mulai menyergap. Dan ini makin membuatku ketakutan.

_____

Kai’s PoV

Sedari tadi aku pun tak tahu berjalan kemana. Aku berjalan tak tentu arah, menyerahkan semuanya kepada kedua kakiku yang akan membawaku kemana.

Aku sudah mencari Yubin di daerah pemukiman penduduk dengan mobilku dan tak menemukan apapun, makadari itu kuparkirkan mobilku asal -tak peduli dimana itu- dan mulai berjalan kaki menyusuri pantai.

Kakiku mulai lelah, dan aku juga lapar -makanan yang kumakan tadi belum habis dan sudah pasti tidak membuatku kenyang-. Tapi rasa ingin bertemu Yubin dan memastikan keadaannya baik- baik saja jauh lebih besar ketimbang apapun.

Aku makin bingung ketika dari jauh aku mulai melihat adanya hutan bakau.

Dan kakiku melangkah mendekati tempat itu, entah kenapa.

Dan betapa terkejutnya ketika kulihat ada seseorang dengan tubuh gemetar sedang memeluk lututnya.

Itu Yubin, aku tahu itu Yubin.

Dan dia sedang ketakutan.

Tenggorokanku tercekat melihat pemandangan seperti ini.

Aku berlari sekencang- kencangnya ke arahnya, dan ketika aku berada di dekatnya aku hanya menarik tangannya dan membiarkan tubuhnya jatuh ke dalam pelukanku.

Dia masih gemetar, dan dia menangis.

“Yubin, Oh Yubin tenanglah. Aku disini. Kau tidak perlu takut apapun lagi.” Bisikku tepat di telinganya, meyakinkannya.

“Kai.. Kai.. kau datang, Kai.” Lirihnya seraya mengencangkan pelukannya padaku.

“Ya aku disini. Bersamamu.”

Di dadaku rasanya membuncah suatu perasaan yang teramat membingungkan. Aku merasa sakit dan juga hangat pada waktu yang sama.

Sakit karena melihat yeoja yang kucintai dalam keadaan seperti ini. Ketakutan dan menangis.

Hangat karena yang ada di pelukanku sekarang adalah dia, Oh Yubin.

Tuhan, terima kasih karena aku masih bisa bertemu dengannya. Ketika melihat Yubin tadi, rasanya segala lelah yang bersarang dalam tubuhku sirna begitu saja. Digantikan oleh perasaan lega. Namun ketika kulihat keadannya, ada sesuatu yang menggetarkan hatiku dengan cara yang tidak nyaman sehingga membuatnya merasakan rasa sedih dan sakit.

____

Lama sekali kami berpelukan, aku tahu dia masih belum sadar apa yang sedang ia lakukan -memeluku dengan erat-. Tapi aku bisa merasa getaran dalam tubuhnya makin lama makin berkurang dan akhirnya diam. Begitupun dengan tangisannya.

Hingga yang tersisa sekarang adalah debaran jantungku yang berpacu begitu cepat. Apakah Yubin mendengarnya?

_____

Yubin’s PoV

Ketakutanku perlahan sirna, ini semua berkat Kai. Yang kurasakan sekarang hanyalah perasaan hangat dan debaran jantungku yang bekerja tidak normal. Aku takut Kai dapat mendengarnya.

Tunggu- ketika logika ku kembali berfungsi. Tidak seharusnya aku dan Kai berpelukan seperti ini dan, MENGAPA KAI BISA ADA DISINI?!

Aku yang kaget dengan cepat melepaskan pelukanku, namun tangan besar Kai masih melingkar sempurna di pinggangku.

Kudorong dengan sekuat tenanga tubuhnya namun tetap saja tidak ada yang berubah. Layaknya aku tidak bergeming di pelukannya.

“YA! Lepaskan aku!” Pekikku sambil sekali lagi mendorong tubuhnya dengan kedua tanganku.

“5 menit lagi.” Ujarnya malas sambil menutup matanya seperti yang sebelumnya ia lakukan.

“MWO?! Apa yang kau lakukan?! Cepat lepaskan aku, bodoh.”

“Ckkk…” Kai pun melepaskan pelukannya. Dan dengan polosnya ia berkata,

“Ah sudah mulai gelap rupanya.”

“Kai, ayo kita segera pergi dari tempat ini.” Ajakku sambil menarik pergelangan tangannya untuk beranjak pergi.

Namun secepat kilat Kai menggenggam tanganku. Aku hanya melotot padanya dan segera menarik tanganku dari genggaman tangannya yang membuahkan hasil sia sia.

“Ya!”

“Sudahlah, jangan berisik. Aku hanya ingin memberikan kehangatan padamu, karena aku juga tidak memakai jaket untuk dipinjamkan padamu.”

Ya… Cuaca memang dingin, aku juga hanya memakai T-Shirt polos. Dan dia benar, dari tanganku mengalir kehangatan. Yang entah kenapa pipiku juga mulai merasa hangat sekarang.

Perasaan takut gelapku hilang entah kemana, ketika bersamanya.

____

“Ahhh sial! Disini benar- benar tak bersinyal!” Gerutunya dengan wajah tidak terima.

“Tuan muda, kau tahu kita sudah masuk kawasan terpencil dan aku tak berharap banyak tentang sinyal.”

“Ckkk. Ini semua gara- gara kebodohanmu yang tak pernah hapal jalan!”

“Memangnya aku mau begini, hah?!”

“Sudahlah.”

“Eumm Kai.”

“Mwo?”

Kami masih menyusuri pantai- yah, masih dengan posisi dia mengenggam tangaku. Berusaha menemukan tanda- tanda kehidupan yang masih belum bisa kami temukan sejauh ini.

“Mengapa kau bisa ada disini?” Inilah hal yang sedari tadi aku bingungkan yang pada akhirnya kutanyakan juga.

“Liburan dengan D.O, Sehun, Luhan Hyung, dan Yixing Hyung. Dan aku tidak sengaja bertemu Chanyeol, Yura, dan seorang lagi aku lupa namanya di resto.”

“Eoh.” Angguku mengerti.

“Wae?”

“Aneh rasanya bertemu denganmu secara tidak sengaja disini. Hehehe.”

“Memangnya apa yang kau harapkan? Aku sengaja berlibur kesini untuk menyusulmu, eoh?” Kekehnya sambil melirikku jahil.

“Aniyo!” Balasku cepat.

“Kkkkk… Jam berapa sekarang?” Tanya Kai sembari melirik jam tanganku.

“8.”

“Kau lapar?”

“Lapar, aku baru makan berat pagi tadi. Dan hanya diselingi makanan ringan selama di perjalanan.”

“Chanyeol terkutuklah dia. Tidak bisakah mampir sebentar ke rest area dan makan siang?!”

Hey! Mengapa orang ini sewot sekali! Tapi jujur saja, aku merasa sangat lapar sekarang, bahkan rasa sakit mulai menghinggapi kepalaku dan perutku terasa perih.

Tapi entahlah, aku sedang tidak ingin berdebat dengannya. Aku ingin merasakan sedikit kedamaian ketika bersamanya.

“Kai, sebenarnya ada suatu hal yang sejak dulu ingin kutanyakan padamu.”

“Mwo?”

“Aku tidak melupakan fakta bahwa kau tidak membalas perasaanku. Dan oh! Jujur saja berkata seperti ini sangat memalukan.”

“….”

“Tapi Kai, apa sebenarnya alasanmu tersenyum padaku di setiap pagi?”

Hening. Kai tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dan aku sendiri memilih untuk menatap pasir putih di bawah kakiku.

“Apa, kau hanya ingin membuatku kegeeran lagi?”

“….”

“Jika kau tak mau menjawab pertanyaanku juga tak apa Kai.”

“Aku tidak bermaksud seperti itu. Disetiap pagi, ketika aku melihatmu, aku tersenyum karena aku senang.” Ujarnya sambil menatap bintang- bintang yang bertaburan di langit.

“Apa maksudmu?”

“Aku senang karena di setiap pagi aku masih bisa bertemu denganmu. Dan setidaknya ada satu hal dalam sehari yang kulakukan tanpa kepura- puraan. Senang bertemu lagi dengan dirimu.”

Ah sial, hati kau jangan mengharapkan apa- apa lagi. Otak! Berhentilah berpikir bahwa mungkin saja Kai benar- benar menyukaimu. Ahh ingat Yubin! Dia telah menolakmu, dia selalu mempermainkanmu. Tapi mengapa perkataan dia tadi terdengar tulus yah? Arghhh sial! Perasaan ini membuatku frustasi.

“Yubin-ah…” Panggil namja disebelahku yang dan menatapku dengan lekat yang membuatku ikut melihatnya dan menghentikan debatan aneh dalam diriku. Tiba- tiba aku merasa hal seperti ini lagi. Tatapannya itu, entah mengapa berhasil membuat kedua pipiku memanas.

“Mwo?”

“Bolehkah aku berkata jujur padamu…” Dia menarik napas panjang dan kemudian berkata.

“Sejujurnya….”

_____

Author PoV

Karena sudah hampir 2 jam mereka mencari dan hasilnya nihil, Chanyeol Yura dan yang lainnya pun kembali ke hotel.

Dan betapa terkejutnya Chanyeol ketika melihat hanya Kai dan tentu saja Yubin yang belum kembali ke hotel.

“Hyung. Aku rasa Kai sudah menemukan Yubin.”

“Tapi mengapa mereka belum kembali juga, Hun-ah?”

“Ne, dan Kai sama sekali tidak mengubungi salah satu diantara kita.”

Hal itu makin membuat Chanyeol merasa uring- uringan. Kai dan Yubin? Memikirkan mereka bersama saja sudah membuatku kesal.

Ini salahmu Park Chanyeol, yang tak pernah mengungkapkan perasaanmu kepada Yubin sejak dahulu.

Jujur saja, makin hari kesalahannya itu membuatnya makin menyesal.

Dilangit yang sama namun di tempat yang berbeda, ada satu orang lagi yang merasa perasaan dilema yang sama dengan Chanyeol.

Lee Saera.

Apakah mereka bertemu disana? Kai dan Yubin, memikirkan namanya saja sudah membuatku takut.

Aku takut kehilanganmu Kai.

Tanpa  Saera dan Chanyeol sadari bahwa Kai dan Yubin sudah tidak bisa menahan perasaan mereka lebih jauh lagi.

TBC

9 thoughts on “[FREELANCE] You Can’t Disappear From Me (Chapter 4)

  1. jjang thoor, keren bnget! knapa harus berhenti waktu kai ngomong? penasaran banget kai ngomong apa. apalagi diterakhirnya author bilang gitu. its so awwwwwrh, next chapt thor! jangan lama lama yaa~~~~ ♥♥

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s