BEAUTY & BEAST – CHAPTER 1

Image

Title : Beauty & Beast – Chapter 1

Genre : Fantasy, Historical, Supernatural, OOC

Ranting : General Audience

Leigth : Chaptered

Cast :

Luhan as Leonardo

Sehun as Stephan

Kai as Alexander

Chanyeol as Richard

Tao as Edison

Kris as Kevin

Suho as Francis

Baekhyun as Bernard

D.O as Thomas

Xiumin as Michaelangelo

Lay as William

Chen as Donald

Note :

  • SEMUA MEMBER EXO MEMILIKI UMUR YANG SETARA, YAITU 17 TAHUN!! Buat yang menurut readers gak cocok untuk usia 17 tahun, anggap saja muka mereka itu boros’-‘)
  • Ingatlah English name para member EXO. Karena author akan menggunakan nama itu daripada real name atau stage name mereka.
  • English name para member EXO author dapatkan dari http://ohsehunnie1.com/post/43130943930/exos-english-spanish-and-french-names

*****

Annyeong^^~ Choi Seung Jin imnida’3’) Aku author baru disini. Mian kalau ngepost Chapter 1 dari Beauty & Beast nya agak lama. Ada masalah sama koneksi internet ._.

Ini adalah FF fantasy pertama aku. Aku juga masih belajar dalam penusilan kata-kata. Jadi kalau ada kata yang kurang pas, atau penggambarannya kirang, typo bertebaran atau kecacatan tulisan, aku minta maaf. Manusia tidak akan luput dari kesalahan #apaini. Tapi aku bisa jamin kalau cerita ini adalah hasil imajinasi aku sendiri.

Komen, kritik dan saran aku terima. Kalian bisa bebas komentar tentang FF aku. Kalau kalian punya ide atau saran, bisa kasih tau ke aku. Siapa tau bisa untuk pencerahan chapter-chapter selanjutnya #apalahini. Mohon dukungannya yaa^^~

Enjoy the stoty’3’)/

~****~

 ~London, Februari 1960~

Tampak dari kejauhan seorang pria jangkung nampak tergesah-gesah berjalan ditengah hutan dengan sebuah obor menyala ditangannya. Meski sudah malam, dia tetap mempertegas langkahnya menuju sebuah tambang tua dipedalaman hutan. Udara semakin kencang berhebus, tapi tak menyurutkan niat pria itu untuk pergi ke tambang.

Sesekali dia melihat ke arah jam sakunya. Kegelisahan memenuhi pikirannya yang fokus hanya pada tambang tua yang jaraknya sudah kurang dari 50 meter. Seperti halnya tambang tua pada umumnya, penerangan satu-satunya hanyalah obor dengan kondisi cahaya yang remang-remang. Tambang itu dijaga oleh dua polisi yang berdiri di depat pintu tambang. Kedatangan pria itu memang sudah ditunggu sejak 2 jam yang lalu.

Seorang pria gemuk-pendek dengan kumis tipis berkacamata bulat berjalan setengah berlari ke arah pria jangkung yang baru datang itu. Wajah begitu panik. Keringat dingin sudah membahasi seluruh bagian wajahnya.

“Sir Arthur!” seru pria gemuk itu. “Syukurlah kau sudah tiba. Kita punya masalah serius.”

“Aku sudah tahu masalahnya, Mr Jim. Kau hanya perlu megantarkanku pada mereka,” kata Sir Arthur.

Pria yang dipanggil Mr Jim itu menuntun Sir Arthur masuk lebih dalam. Semakin ke dalam, semakin banyak polisi yang terlihat. Keadaan semakin menegangkan sekarang.

RAAAWRRR… AWUUUUU…

Suara geraman dan auman semakin terdengar jelas. Suara-suara itu tidak terdengar satu-dua kali. Sumbernya pun bukan hanya satu. Entah monster macam apa yang dikurung didalam sana. Yang jelas, monster-monster itu kini sudah bangun dari tidur mereka selama ini.

Semakin dalam Sir Arthur masuk ke dalam tambang. Suara geraman dan auman terdengar keras menusuk indera pendenngaran. Langkahnya menuntunya pada sebuah pintu besi yang dijaga oleh lebih dari 8 polisi dengan senjata pada masing-masing orang.

Dua belas monster serigala dengan kekuatan suprantural sudah menunggu dibalik pintu besi itu. Kedua kaki dan tangan mereka diikat kuat dengan rantai dari baja tebal untuk menahan mereka kabur dari penjara mereka. Mereka terus meraung-raung buas dan berontak—berusaha melepaskan rantai yang mengikat mereka. Namun rantai-rantai itu sudah diberi mantra suhingga tidak akan pernah terlepas selain oleh si pemilik mantra, Sir Arthur.

“Kita sudah tidak bisa menahan mereka lagi. Kekuatan mereka sudah berada dalam puncaknya. Cepat atau lambat mereka akan bisa lepas,” kata Mr Jim khawatir sekaligus panik.

Sir Arthur tidak punya pilihan lain. Dia langsung mengeluarkan sebuah buka aneh dari tas yang dibawanya. Dia membuka halaman demi halaman buku itu untuk mencari apa yang dia butuhkan. Dan sampai pada halaman ke-84, dia menemukan apa yang ia cari.

‘PENJARA DALAM JIWA MANUSIA: SANGAT BERBAHAYA’

“Hanya ini satu-satunya cara,” kata Sir Arthur sambil menunjukan halaman buku itu pada Mr Jim.

Mr Jim tampak kaget. Matanya melotot lebar saat membaca judul halaman itu. “Kau yakin, Arthur? Tapi ini sangat berbahaya. Jika gagal, akan berakibat fatal.”

“Tidak ada cara lain, Jim. Sekarang atau tidak selamanya,” kata Sir Arthur yakin. “Proses ini butuh waktu berberapa tahun supaya monster-monster itu benar-benar terpenjara dalam suatu tubuh. Dan kita butuh 12 bayi sebagai wadah—“

“Bayi?? Arthur, kau akan mengorbankan 12 bayi untuk menjadi penjara untuk monster-monster ini??” potong Mr Jim.

“Mereka tidak akan mati karena proses ini. Meski mereka harus hidup dengan monster yang terkurung dalam tubuh mereka. Monster itu akan terus hidup dalam tubuh mereka seiring mereka tumbuh besar. Selama mereka masih hidup, mereka akan menjadi penjara yang paling aman untuk monster-monster ini,” kata Sir Arthur menjelaskan.

“Lalu apa yang terjadi jika mereka meninggal?” tanya Mr Jim.

Sir Arthur diam. Dia tampak berpikir untuk jawaban pertanyaan Mr Jim.

“Kita harus mencari wadah baru. Dan pada saat itu tiba, pastikan kau berada didekat monster yang akan bebas itu,” kata Sir Arthur.

“Aku? Kenapa aku?” tanya Mr Jim bingung.

“Jika mengurung satu monster saja, tidak akan membutuhkan pengorbanan,” kata Sir Arthur yang semakin membuat Mr Jim tambah bingung.

“Apa maksudmu, Arthur?”

“Untuk memenjarakan 12 monster sekaligus kita butuh orang yang harus melakukannya sendiri dan mengirimnya ke 12 bayi terpilih. Untuk melakukan itu semua, harus ada pengorbanan, Jim. Dan aku yang akan melakukannya,” kata Sir Arthur.

“Jangan gila! Pikirakan dulu! Kita bias cari cara lain,” kata Mr. Jim menghardik yang jelas menolak ide Sir Arthur.

“Tidak ada cara lain. Aku lebih memilih mengorbankan nyawaku sendiri dan mempertaruhkan hidup 12 bayi dari pada kehilangan seluruh warga London.”

Mr Jim diam menatap sahabatnya itu. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mau dilarang bagaimanapun, Sir Arthur akan tetap melakukannya. Dia tidak percaya bahwa sahabatnya itu akan mengorbankan dirinya sendiri demi memenjarakan 12 monster serigala didalam penjara paling aman, yaitu tubuh manusia.

“Salah satu dari mereka adalah The Black Pearl. Dia yang paling berharga diantara mereka semua. Kau harus bisa membedakkannya dari 11 bayi yang lain. Karena aku akan memilih wadahnya secara random. Jangan sampai makhluk itu mendapatkan The Black Pearl,” ungkap Sir Arthur serayanya menarik sebuah meja ke tengah-tengah ruangan.

“Saat proses itu sudah selesai, kuharap kau bisa mengumpulkan mereka semua. Kau punya sekolah. Usahakan mereka semua bersekolah di sekolahmu, Jim. Supaya kau bisa mengawasi mereka dengan mudah. Aku percaya padamu, Jim.”

Sir Arthur dan Mr. Jim berjabat tangan untuk terakhir kalinya—menandakan perpisahan. Tanpa disuruh oleh Sir Arthur, Mr Jim meninggalkan ruang itu dan menunggu didepan pintu besi tebal itu. Meninggalkan sahabatya, Sir Arthur, sendirian dengan 12 monster serigala mengerikan yang terus meraung-raung melakukan proses paling berbahaya dalam ilmu sihir kuno yang masih dikembangkan oleh Orde Medeis—organisasi rahasia di Inggris. Salah satunya oleh Sir Arthur Damian Ravenhawk dan Mr Jimmy Daniel Carlisle.

~London, 1982~

Remaja laki-laki itu berjalan ke luar rumahnya menuju kotak surat. Keadaannya masih berantakan, tapi sudah keluar rumah. Dasi sekolahnya belum dipasang dengan rapih, kancing kemeja juga belum dipasang semuanya, bahkan dia belum mengenakan ikat pinggang. Rambutnya masih berantakan, sama sekali belum ia sisir.

Setelah mendapat berberapa amplop dan sebuah koran dari kotak surat, laki-laki itu kembali ke dalam rumahnya. Dia meletakkan semua yang ia bawa ditangannya diatas meja makan, tepatnya dia hadapan ayahnya yang sedang sarapan.

Tanpa sepatah kata, laki-laki itu berjalan ke depan cermin oval di ruang keluarga untuk memasang dasi dan membetulkan pakaiannya. Dia mengancingkan kemejanya yang belum dikancingkan, mengenakan ikat pinggang dan sebuah arloji. Dan tentu saja tidak lupa menyisir rambutnya yang masih berantakan.

“Leo! Habiskan sarapanmu!” panggil si ibu yang sudah duduk bersama ayah dimeja makan.

Leo kembali memastikan bahwa pakaiannya sudah rapih dan rambutnya sudah disisir dengan benar. Dia berjalan kembali ke meja makan. Melihat ayah sudah menghabiskan sarapannya dan kini sedang membaca koran sambil minum kopi. Begitu pula dengan ibu yang kini sedang membereskan piring ayah yang sudah kosong.

“Ceritakan soal sekolah barumu, Leo!” pinta ayah saat Leo sedang mengiris roti bakar yang menjadi sarapan paginya.

“XOXO adalah sekolah terbaik. Walaupun terletak ditempat terpencil, tapi hanya orang-orang terpilih saja yang bisa masuk kesana. Aku mendapat beasiswa kesana berberapa minggu yang lalu,” jelas Leo sambil memakan sarapannya.

“Asrama ya?” tanya ayah.

Leo mengangguk cepat. Dia tidak mau bersusah payah membuka mulutnya yang penuh dengan roti panggang dengan selai stroberi. Dia tampak menikmati sarapannya. Dia bahkan lebih memilih memakai garpu dan pisau ketimbang memakan langsung dengan tangannya. Segelas susu segar menjadi teman roti panggangnya.

“Kau akan baik-baik saja disana, bukan?” tanya ayah seperti cemas.

“Dia sudah cukup besar untuk menjaga dirinya sendiri,” celetuk ibu saraya membereskan piring dan gelas yang sudah kosong dari atas meja dan mambawanya ke dapur.

Leo hanya tersenyum sambil terus melanjutkan makan paginya. Dia adalah anak tunggal dan sangat disayang oleh kedua orang tuanya. Leo juga termasuk anak yang pintar. Dia tidak pernah mengecewakan orangtuanya soal nilai-nilai di sekolah.

“Baiklah. Waktunya berangkat, Leo.”

~XOXO School Academy~

Mobil ayah berhenti tepat didepan gerbang sekolah. Leo segera keluar dari dalam mobil dan langsung mengeluarkan kopernya dari kursi belakang.

“Kau yakin akan baik-baik saja?” Tanya ayah.

“Tentu saja. Aku ini laki-laki. Aku bisa menjaga diri sendiri. Ayah tidak perlu cemas,” kata Leo meyakinkan ayahnya dengan mengacungkan jempolnya.

Leo berdiri didepan pintu gerbang tinggi sekolah itu setalah mobil ayahnya melaju meninggalkannya. Dia mengehela nafas panjang sebelum akhirnya menarik koper besarnya masuk kedalam sekolah itu. Dia berjalan memasuki wilayah taman sekolah yang luar biasa luas. Banyak murid yang lalu lalang disana. Mungkin karena sekarang ini masih pagi dan pelajaran belum dimulai.

Dari halamannya saja, Leo sudah bisa merasa nyaman. Pohon-pohon besar tumbuh disekeliling taman sebagai tempat untuk murid bersantai. Air mancur besar didirikan ditengah-tengah halaman menambah kesan mewah meski sebenarnya agak berlebihan. Dari yang bisa dilihat, ada 3 gedung terbesar yang berdiri di sekolah ini. Gedung yag berada ditengah adalah gedung terbesar diantara yang lain. Mungkin itu gedung sekolah.

Sepertinya Leo sudah memiliki penggemar dihari pertamanya ini. Berberapa murid perempuan tampak menggumi Leo yang berjalan didepan mereka. Leo memang tampan—harus diakui itu. Tapi untuk sekarang Leo tidak bisa meladeni perempuan-perempuan itu. Karena dia harus bertemu dengan kepala sekolah sekarang. Semoga dia tidak tersesat.

***

Tok.. Tok.. Tok..

Leo mengetuk pintu ruangan itu berberapa kali. Beruntung dia cepat menemukan ruangan kepala sekolah. Walaupun dia harus bertanya pada hampir setiap orang, tapi itu namanya usaha, kan.

“Silahkan masuk!”

Leo membuka pintu itu perlahan setelah ada izin masuk dari orang yang ada didalam, yaitu Kepala Sekolah. Gugup? Tentu saja.  Ini pertama kali dia bersekolah disini dan pertama kali bertemu kepala sekolah baru. Mungkin rasanya akan berbeda dari kepala sekolah yang ada disekolah lamanya.

Pria paruh baya bertubuh pendek dan gemuk itu berdiri didepan jendela. Rambutnya sudah hampir botak dan beruban semua. Kumisnya tebal dan putih hampir menutupi seluruh bagian  mulutnya. Dia memakai kacamata bulat sebagai alat bantu melihatnya. Keriput sudah dimana-mana. Dia sepertinya memang sudah sangat tua.

“Nama saya—“

Kata-kata Leo langsung dipotong oleh kepala sekolah seperti sudah tahu atau mungkin sok tahu. “Kau pasti Leonardo. Hohoho~ Selamat datang! Silahkan duduk.”

Dengan gaya ketawanya, sekarang dia mengingatkan Leo dengan Santa.

Leo duduk dikursi yang ada didepan meja kerja kepala sekolah sesuai perintah—atau mungkin lebih tepat disebut ajakan. Dia meninggalkan kopernya didekat pintu karena tidak mungkin dia bawa-bawa terus.

“Namaku Prof. Jimmy Daniel Carlisle. Kau boleh memanggilku Pak Jim. Semua murid disini memanggilku seperti itu. Aku kepala sekolah disini,” kata Pak Jim memperkenalkan dirinya.

Sebenarnya tak perlu diperkenalkan, Leo sudah tahu. Bisa dilihat dari papan nama yang ada diatas meja.

“Ini surat keterangan pindahku, Pak.” Leo langsung menyerahkan sebuah amplop yang sedari tadi ada dikantung blazernya. Dia tidak mau terlalu banyak basa-basi dengan pria tua didepannya.

“Ah..” Pak Jim menerima surat itu dan segera mengeluarkan sebuah box yang sudah disiapkannya. Box itu tidak terlalu besar tapi kelihatannya isinya banyak.

“Ini keperluanmu. Seragam cadangan, seragam olahraga, kunci kamarmu, kunci loker, buku-buku pelajaran, jadwal pelajaran, dan keperluan lainnya. Keperluan tambahan bisa kau minta di koperasi sekolah. Aku juga sudah memanggil seseorang untuk membantumu selama masa adaptasi,” ucapnya seraya menaruh box itu diatas meja kerjaya.

Bagaimana aku membawa barang-barang ini? Batin Leo bingung. Dia sudah membawa koper dan tas sendiri. Sekarang ditambah box berat itu. Bagaimana bisa dia membawa semua barang-barang itu.

Tok..Tok.. Tok..

Terdengar pintu ruang Kepala Sekolah diketuk.

Meski Pak Jim belum menyuruhnya masuk, orang itu langsung masuk begitu saja. Seorang remaja sebaya dengan Leo. Dia bertubuh jangkung dan kurus dengan wajah yang flat. Seragamnya sedikit berantakan dan dia sedang mencoba merapihkannya.

“Nah, Leo. Ini Stephan. Dia yang akan membantumu beradabtasi. Dia juga akan menjadi teman sekamarmu,” kata Pak Jim memperkenalkan laki-laki itu.

“Hai. Salam kenal.”

***

Leo dan Stephan mengobrol disepanjang koridor dalam perjalanan menuju dorm. Beruntung Stephan mau membantu Leo membawa box berisikan keperluannya dari Pak Jim. Meski baru kenal, mereka terlihat akrab. Mereka bisa menjadi teman dekat mungkin.

“Jadi kau juga dapat mendapat beasiswa?” tanya Stephan.

Leo mengangguk cepat. “Aku mendapatkan surat berberapa minggu yang lalu. Butuh waktu lama untuk mengurus perpindahanku. Bagaimana denganmu?”

“Sejak kecil aku sudah ada disini. Orang tuaku adalah teman dekat Pak Jim. Setelah orang tuaku meninggal saat umurku baru  7 tahun, aku tinggal disini sampai sekarang. Pak Jim sudah seperti kakekku saja. Dia yang merawatku,”  cerita Stephan.

“Orang tuamu sudah meninggal? Ah..  Aku turut prihatin,” kata Leo simpati.

“Kejadian itu sudah 10 tahun yang lalu. Tidak usah dipermasalahkan lagi,” ujar Stephan. “Sebenarnya tidak semua murid disini mendapat beasiswa lho..”

“Maksudmu?” tanya Leo bingung.

“Yang kuketahui, hanya ada 11 orang –termasuk kau—yang mendapat beasiswa. Pak Jim juga bilang, seandainya orang tuaku masih hidup dan aku tidak tinggal disini, aku juga akan mendapat beasiswa. Jadi intinya ada 12 beasiswa khusus yang disediakan Pak Jim. Kau mengerti maksudku?” jelas Stephan.

Leo merasa beruntung bahwa dia orang yang terpilih mendapat beasiswa khusus meski dia tidak tahu maksud pemberian beasiswa dalam artian apa. Mendengar cerita Stephan, pasti ada maksud tertentu dari pemberian beasiswa itu.

“Siapa saja yang mendapatkan beasiswa?” tanya Leo.

“Yang pertama mendapat beasiswa adalah Alexander. Orang berkulit sedikit coklat yang gemar olahraga. Dia salah satu pemain sepak bola terhebat disini. Dia mendapat beasiswa saat kelas 1. Meski dia tidak cukup pintar, tapi dia sangat berbakat dalam olahraga.

“Yang kedua adalah Richard. Orang dengan tinggi 187 cm dan bergigi banyak. Dia terlalu banyak tingkah dan sering membuat onar. Tapi dia sangat berbakat dalam bidang seni lukis. Jika melihat hasil lukisannya, kau bisa memaafkan segala kesalahannya. Dia sudah ada disini sejak kelas 1 dipertengahan semester pertama.

“Yang ketiga adalah Francis. Dia ketua murid disini. Dia termasuk orang yang bijak dan bertanggung jawab. Wajar jika hampir semua orang menyukainya. Dia sering disebut-sebut sebagai angle. Dia memang baik. Kau akan sering bertemunya di perpustakaan. Kalau tidak salah dia masuk kesini saat kenaikan kelas 2.

“William adalah orang keempat yang mendapat beasiswa. Jarak waktu masuknya cukup jauh dari  Francis. Dia masuk di kelas 3. Banyak murid peremuan yang menyukainya. Kata mereka senyumnya itu yang membuat dia terlihat tampan. Dia juga genius dalam bidang musik, terlebih dalam memainkan piano. Dia salah satu murid kesayangan Pak Jim.

“Yang kelima, keenam dan ketujuh adalah si trio. Bernard, Thomas dan Donald. Mereka mendapat beasiswa saat kenaikan kelas 6. Memang sangat jauh dari yang sebelumnya. Tapi setidaknya sekalinya masuk, mereka langsung bertiga. Mereka adalah kelompok vocal kebanggaan sekolah ini. Suara mereka memang benar-benar mengagumkan. Terlebih Thomas yang juga memiliki bakat melukis yang hampir sama dengan Richard. Tapi sikap mereka tidak beda jauh dengan Richard. Terlebih jika mereka berempat sudah berkumpul. Hfft… Tidak bisa kuungkapkan bagaimana kacaunya.

“Yang kedelapan adalah Michaelangelo. Memang namanya cukup panjang. Dia masuk kemari dipertengahan kelas 8. Dia murid cukup pintar di sekolah ini. Terlebih dalam pelajaran matematika dan fisika. Dia itu lebih mirip profesor ketimbang murid. Dia cukup dekat dengan Donald. Mereka berdua jika bersatu akan menjadi duo genius matematika.

“Yang kesembilan dan kesepuluh adalah Kevin dan Edison. Mereka mendapat beasiswa diawal kelas 10. Edison sudah menjadi ketua klub beladiri meski dia baru masuk 4 bulan. Dan Kevin, dia nyaris menggantikan posisi Francis sebagai ketua murid. Tapi untung saja voting masih berpihak pada Francis. Kevin adalah kapten tim basket yang punya banyak pengemar perempuan.

“Dan yang terakhir kau. Beruntung kau bisa mendapatkan beasiswa terakhir. Kau harus memanfaatkannya sebaik mungkin,” jelas Stephan panjang lebar. Leo mengangguk-angguk kecil tanpa paham.

Para penerima beasiswa memang bukanlah murid biasa. Mereka mempunyai keunggulan diatas rata-rata murid lain. Leo tidak menyangka dia bisa mendapat beasiswa di sekolah ini.

Leo sangat menikmati tur kecilnya bersama Stephan dalam perjalannya menuju dorm. Stephan menjelaskan berberapa tempat yang penting untuk diketahui. Seperti dimana letak ruang lukis, ruang musik, ruang bahasa, ruang matematika, ruang sejarah, laboratorium, dan yang terpenting adalah letak toilet. Dia juga menunjukan sebuah rak kaca besar yag berisikan piala dan mendali yang pernah dimenangkan oleh para murid berprestasi.

“Nah…” ucap Stephan saat mereka sampai didepan lemari piala. “Inilah piala kebanggan kami. Dan sebagian besar adalah piala para murid berprestasi yang mendapat beasiswa.”

“Aku memenangkan piala pertandingan baseball tahunan sebanyak 4 kali. Hebat, kan? Alex memiliki 8 piala disini. Edison baru mendapat satu mendali emas. Kris sudah dapat 2 dalam bidang basket. Michael dan Donald baru saja memenangkan olimpiade matematika dan memenangkan mendali. William sudah sering memenangkan kompetisi musik. Berberapa sertifikat disini milik Richard dan Thomas atas karya lukis mereka. Trio Vokal juga punya 5 piala atas prestasi mereka. Francis juga baru saja mendapatkan penghargaan berberapa minggu yang lalu.”

Stephan menjelaskan satu-persatu piala, mendali dan sertifikat yang dipajang didalam rak itu dengan peuh rasa bangga. “Kami menunggu prestasi darimu. Kau bisa memajang pialamu di rak ini.”

Leo memandang lemari itu takjub. Ada sekitar 100 piala, mendali dam sertifikat disana. Di sekolah lamanya saja tidak pernah ada piala sebanyak itu. Dan penghargaan dan pertandingan yang dimenangkan bukan pertandingan atau perlombaan biasa. Dia harus bisa menyesuaikan perstasinya dengan 11 murid yang mendapat kehormatan yang sama, yaitu mendapat beasiswa.

“Kalau begitu, selamat datang di XOXO!”

~Ruang Kepala Sekolah~

Mr. Jim berdiri dihadapan jendela kantornya. Menatap ke arah 2 muridnya yang berjalan menuju gedung B dari balik kacamata bulatnya. Dua monster serigala kejam dan mengerikan yang sudah hidup ratusan tahun—yang tidak akan segan untuk membunuh siapapun dihadapannya. Namun yang dilihat hanya 2 remaja SMA yang masih polos yang bahkan untuk membunuh hewan saja mungkin mereka tidak bisa.

Dia tidak bisa menyalahkan siapapun, terlebih pada Sir Arthur tentang apa yang telah dilakukan 22 tahun lalu. Proses itu sudah memakan seorang korban dan 12 bayi laki-laki tak bersalah yang merasakan dampak buruknya.

Sekarang bayi-bayi itu sudah mencapai umur 17 tahun—waktu dimana para monster ada ditubuh mereka akan bersatu dengan mereka sendiri. Mereka akan mulai merasakan efeknya dalam waktu dekat. Emosi yang tak terkendali dan kekuatan supranatural yang tidak diduga sesuai dengan monster yang dikurung dalam diri mereka.

Michaelangelo, Frost.

Kevin, Flight.

Francis, Water.

William, Healing.

Bernard, Light.

Richard, Flame.

Thomas, Earth.

Donald, Lighthing.

Edison, Time Control.

Alexander, Teleportation.

Stephan, Wind.

Leonardo, Telepathy.

Kekuatan mereka akan segera muncul. Monster-monster itu akan mulai mengusai tubuh-tubuh yang memenjarakan mereka. Membuat mereka menjadi tubuh menjadi tubuh kedua dan tumbuh menjadi parasit.

Sebentar lagi bulan purnama. Monster-monster itu akan mendapat kekuatan besar. Entah apa yang akan terjadi pada 12 orang itu. Lagi pula ada satu masalah besar lain.

Monster-monster itu disebut Mortem Wolf. Werewolf langka dengan kekuatan supranatural yang juga langka. Mereka ditangkap oleh Sir Arthur dan Orde Medeis—perkumpulan pengembang sihir Inggris kuno—sekitar 25 tahun yang lalu karena para Mortem memangsa sebagian warga kota London.

Masalah pertama dapat diantisipasikan, tapi muncul masalah baru. Ada makhluk lain yang mengincar para Mortem Wolf. Makhluk yang menginginkan kekuatan para Mortem Wolf. Meski Sir Arthur, Mr. Jim ataupun anggota Orde Medeis belum mengetahui makhluk apa mereka, tapi mereka sudah mengantisipasinya dengan menahan para Mortem Wolf sebagai bentuk perlindungan.

Para Mortem terus berontak dari penjara mereka dan kekuatan mereka akan semakin besar setiap malam bulan purnama, sehingga Sir Arthur mengorbankan dirinya sendiri untuk menjalankan ritual penguncian monster-monster itu pada jiwa 12 wadah, yaitu bayi laki-laki. Masalah baru lagi.

Mr. Jim yakin, masalah akan terus datang. Terus datang sampai tidak bisa dikendalikan lagi. Entah sampai kapan ini akan berakhir.

Happy Ending? Or Horrible Ending?

To Be Continue…

****

Nah, gimana? Bagus? Jelek? Weird? Freak? Overimagine? Juju raja. Biar bisa jadi pelajaran buat author supaya menjadi lebih baik untuk kedepannya. Kalau kalian bilang suka, bilang aja. Sebaliknya juga gitu.

Comment please. Don’t be silent readers’3’)

See you in next chapter^^~ Annyeong..

24 thoughts on “BEAUTY & BEAST – CHAPTER 1

  1. wow kalau ini ff di post di yoongexo bsa bkin geger, tinggl gnti main cast cweknya ma yoong eonnie,hehehee

    dan itu nama namanya bkin njelimet,

    gambaran eropa gtu gtunya bagus bangey ak jd ngrsa hrus beljr ke km buat bkin royal beethoven, hahahaa

  2. really cool story!!!
    alur ceritanya enak dibaca..
    dan keren aja history nya..
    tp masih gak ngerti ama black pearl *babo
    tp main cast nya kurang pas, menurutku kai luhan kan dr mama era itu udah special power gt..
    penasaran bgt apa yg akan terjadi selanjutnya…
    oiia pemilihan kata”nya jg pas gak rancu..
    so next chapter segera d publish ya thor.. *wink

    • Gamshamnida^^
      Makasih buat kritiknya. Sebenernya pas awal2 author bikin FF ini, author masih bingung untuk nentuin main cast nya. Tadinya memang mau Kai, tapi gak tau kenapa jadi Luhan’-‘) Banyak banget pertimbangan author buat main cast lain selain Luhan.

      O iya. Maksudnya Black Pearl adalah dari 12 werewolf itu ada yang paling special dan disebut sebagai Black Pearl ‘3’)

      Ditunggu ya next chapternya^^~

  3. wah.. keren ^^ lanjut lanjut..😀
    ceritanya bagus, walaupun aku harus bulak-balik ke atas bwt liat list nama’y >.< hehehe😀 aku gampang lupa sama nama2 mereka😀
    tapi ceritanya DAEBAK😀 seruuu~

  4. Astagaa.. Super excited sma ini ff.. xD
    aku suka gimana cara author kenalin skolahnya..
    Boleh tuh aku skolah dstu.. *boom*
    Lanjut thor..😄

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s