TRUE LOVE (Chapter 15)

55

TRUE LOVE

Tittle : True Love (Chapter 15)
Author : Jellokey
Main Cast :
Kim Jong In (Kai of EXO)
Oh Sehoon (Se Hun of EXO)
Lu Han (Lu Han of EXO)
Kim Joon Myun (Suho of EXO)
Kang Jeo Rin (OC)
Shin Min Young (OC)
Support Cast :
Park Chanyeol (Chanyeol of EXO)
Kim Minseok (Xiumin of EXO)
Kim Min Ra (OC)
Jang Mi Sun (OC)
and others
Length : Chaptered
Genre : Romance, Family, School Life
Rating : PG-17

Di sini umur Suho sama Kai cuma beda 14 hari. Semoga ini tidak mengecewakan. Aku panjangin dikit. Don’t forget to RCL ^^

“Kami akan menikah.” Kata Sehun. Lu Han terkejut. ‘Akhirnya aku memang tidak bisa memiliki Min Young.’ Batin Lu Han.
“Chukkae.. Akhirnya kalian menikah. Kapan?”
“Sebulan lagi. Dua belas Mei.” Ucap Sehun.
“Oppa harus datang. Kalau tidak datang, aku tak jadi menikah.” Kata Min Young dengan wajah serius.
“Youngie..” ‘Benarkah? Kalau begitu aku tidak akan datang. Aku tidak tahu kenapa rasa tidak rela ini baru datang sekarang.’ Ucap Lu Han dalam hati.
“Aku bercanda, Hunnie. Oppa harus datang. Aku akan seding kalau oppa tidak datang. Oppa salah satu orang terpenting dalam hidupku.”
“Ne. Aku pasti datang. Aku tidak mungkin melewatkan hari bahagiamu.” Lu Han mengacak rambut Min Young.
“Youngie, kita harus ke WO sekarang.” Kata Sehun.
“Oppa, kami pergi dulu. Ingat, oppa harus datang.”
“Annyeong, Lu Han.” Senyum palsu yang sedari tadi menghiasi wajah Lu Han langsung hilang begitu Min Young dan Sehun keluar dari ruangan. Sakit. Hatinya sakit mengetahui orang yang ia cintai akan segera menikah. Selamanya ia akan memendam perasaannya. Penyesalan kini menghinggapinya. Menyesal karena dulu ia tidak menggunakan kesempatan memiliki Min Young saat Sehun pergi.

———————

Kai menghentikan mobilnya di depan rumah Jeo Rin. Ia langsung ke rumah Jeo Rin begitu pulang dari kantor. Hari ini mereka akan ke Kkamjong beach. Bisa ia lihat Jeo Rin yang duduk di teras rumahnya sambil memakai headset. Kai turun dari mobil dan menghampiri Jeo Rin.
“Kau sudah siap?” Jeo Rin melepas sebelah headsetnya.
“Kau bilang apa?” Tanya Jeo Rin karena tidak mendengar Kai.
“Apa kau sudah siap, baby?”
“Ne. Kau tidak masuk dulu? Mau makan mungkin?”
“Tidak usah. Kita berangkat sekarang supaya cepat sampai.” Jeo Rin mengangguk. Ia mengangkat kopernya yang langsung diambil alih Kai. Kai membukakan pintu mobil untuk Jeo Rin, lalu memasukkan koper Jeo Rin ke bagasi dan berjalan menuju pintu pengemudi. Kai menyalakan mobilnya.
“Kita di sana berapa hari?” Tanya Kai setelah mobilnya melaju keluar dari kediaman keluarga Kang.
“Dua hari.” Kai mengangguk.

——————–

Kai menekan bel cottage. Mereka sampai di cottage Kai sekitar jam sembilan malam. Lee ahjumma membukakan pintu untuk mereka.
“Kai? Sudah lama kau tidak datang kemari.” Lee ahjumma melihat ke samping Kai.
“Jeo Rin juga. Kenapa kau tidak pernah kemari?”
“Aku melanjutkan studiku di New York, ahjumma.”
“Masuklah. Kenapa kalian sampai malam-malam begini? Lebih baik kalian berangkat pagi dari Seoul.” Lee ahjumma membimbing mereka menuju kamar Kai.
“Kami tidak sabar menunggu besok, ahjumma. Jadi kami langsung kemari begitu pulang kerja.” Jawab Kai.
“Apa kalian sudah menikah?” Lee ahjumma membukakan pintu kamar Kai.
“Belum. Mungkin sebentar lagi, ahjumma.” Jeo Rin langsung menatap Kai tajam.
“Istirahatlah. Kalian pasti lelah.”
“Ne. Gamsahamnida, ahjumma.”
“Koperku.” Jeo Rin meminta kopernya pada Kai. Kai menatapnya bingung.
“Aku mau istirahat.” Kai mengerti apa maksud Jeo Rin. Ia mau tidur di kamar sebelah kamar Kai.
“Kau tidur bersamaku, baby.” Kai menarik tangan Jeo Rin masuk ke kamarnya. Ia meletakkan koper Jeo Rin di dekat sofa. Lalu berjalan menuju lemari.
“Kau mau apa?”
“Aku mau mandi. Tidak lama kok.’ Kai mengedipkan sebelah matanya. Jeo Rin mengambil kopernya. Memindahkan pakaiannya ke lemari, lalu mengambil piyama dan mengganti pakaiannya. Setelah itu menuju balkon. Angin pantai langsung menyambut Jeo Rin begitu ia membuka pintu. Dingin. Tapi tidak membuat Jeo Rin mengurungkan niatnya untuk memandangi pantai di malam hari. Apalagi melihat langit malam yang bertaburan banyak bintang dengan bulan yang bersinar terang. Sepasang tangan kekar melingkar di pinggang Jeo Rin.
“Kenapa di luar? Dingin, baby. Kau bisa masuk angin.” Kata Kai tepat di telinga Jeo Rin.
“Aku hanya ingin menikmati malam yang indah ini.” Jeo Rin berbalik menghadap Kai.
“Kau sudah makan?” Kai menggeleng.
“Kau harus makan. Atau jangan-jangan siang tadi kau juga belum makan?” Kai mengangguk. Ia ingin pekerjaannya cepat selesai dan langsung menemui Jeo Rin.
“Kau bisa sakit. Jangan remehkan hal sekecil ini.”
“Tanggung. Ini sudah malam. Besok saja.”
“Aissh..” Jeo Rin melepas tangan Kai yang melingkar di pinggangnya.
“Mau ke mana?”
“Mengambil makanan.”
“Aku tidak mau makan nasi.”
“Jadi kau mau makan apa?”
“Dirimu, baby.” Goda Kai. Jeo Rin mengabaikan ucapan Kai.
“Tunggu sebentar.” Kai masuk ke kamar dan menutup pintu balkon. Ia berjalan menuju tempat tidur, merebahkan diri di sana.
“Senang sekali kalau diperhatikan Jeo Rin seperti itu. Andai kami sudah menikah pasti aku akan mendapat perhatian Jeo Rin setiap hari.” Kai teringat dengan pembatalan perjodohannya dengan Jeo Rin. ‘Sepertinya Jeo Rin belum tahu mengenai pembatalan perjodohan.’ Batin Kai. Kai memejamkan matanya. ‘Kalau perjodohan itu tidak batal pasti aku sudah menikah dengan Jeo Rin sekarang. Aku tidak peduli dia mencintaiku atau tidak, kalau dia sudah menjadi milikku, aku pasti bisa mendapatkan cintanya.’ Pikiran Kai buyar karena suara Jeo Rin.
“Kenapa malah tidur?” Jeo Rin berdiri dengan nampan di tangannya. Membawa segelas susu dan roti selai cokelat. Kai mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur. Begitu juga Jeo Rin.
“Susu?”
“Sudahlah. Makan dan minum. Setelah itu tidur, arra?” Kai mengangguk. Setelah Kai selesai dengan makan dan minum susunya, Jeo Rin berdiri hendak mengembalikan nampan ke dapur tapi ditahan Kai.
“Apa lagi, Jongin-ah?” Kai mengambil nampan dari tangan Jeo Rin dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. Menarik Jeo Rin duduk di pangkuannya. Merapatkan tubuh Jeo Rin padanya sehingga mereka tidak berjarak.
“Kau harus menuntaskan rinduku, Rin-ah.” Ucap Kai di depan wajah Jeo Rin.
“Apa rindumu belum hilang setelah bertemu denganku?” Jeo Rin mengalungkan tangannya di leher Kai.
“Itu tidak cukup.” Kai mencium kening Jeo Rin, kedua mata Jeo Rin, hidung, pipi, lalu bibir Jeo Rin. Jeo Rin sudah memejamkan matanya sejak awal Kai menciumnya. Kai melumat bibir bawah Jeo Rin lembut. Jeo Rin balas melumat bibir atas Kai. Disaat seperti ini Jeo Rin selalu bingung. Hatinya untuk siapa? Kai atau Suho. Hatinya berkata kalau ia mencintai Suho tapi kenapa ia tidak pernah menolak perlakuan Kai? Jeo Rin terus bergumul dengan hatinya.
*SKIP*
———————

Sinar matahari berhasil masuk melalui celah gorden di kamar Kai, membuat seorang yeoja membuka matanya. Ia melihat keadaan dirinya dan Kai yang saling berpelukan sejak semalam. Jeo Rin menatap Kai yang masih tidur. ‘Aku suka wajah tidurmu. Polos.’ Batin Jeo Rin. Tangannya bergerak mengelus pipi Kai. Jeo Rin teringat kejadian semalam. Ia pasti sudah gila. Kalau Kai tidak berhenti, ia pasti tidak perawan lagi sekarang. ‘Kau namja yang baik, Jongin-ah. Apa kau benar-benar sudah berubah? Tapi aku masih bingung. Aku tidak tahu apa perasaanku padamu. Di hatiku ada Joonmyun oppa. Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini.’ Batin Jeo Rin. Jeo Rin mencium bibir Kai. Dengan perlahan Jeo Rin melepas tangan Kai yang melingkar di pinggangnya.
“Mau ke mana?” Kai mengeratkan pelukannya masih dengan memejamkan mata.
“Kau sudah bangun?”
“Aku sudah bangun sejak kau menciumku.”
“Lepaskan tanganmu, Jongin-ah.”
“Aku masih mau tidur denganmu.”
“Ini sudah pagi.” Jeo Rin melihat jam di dinding kamar Kai.
“Jam sembilan pagi.” Kai membuka matanya.
“Tapi aku masih ngantuk, baby.” Ucap Kai manja.
“Tidurlah lagi.” ‘Dia pasti lelah mengemudi dari Seoul kemari.’ Pikir Jeo Rin. Kai memejamkan matanya lagi dan langsung terlelap.

—————–

“Sudah bangun tuan Kim?” Tanya Jeo Rin sambil mengelus rambut Kai.
“Ne, nyonya Kim. Kau sudah mandi?” Tanya Kai yang melihat Jeo Rin sudah berganti pakaian.
“Padahal aku mau mandi bersamamu.”
“Sekarang kau mandi.” Jeo Rin mengabaikan ucapan Kai barusan. Setelah kai terlelap, dengan perlahan Jeo Rin melepas tangan Kai dan bergegas mandi. Setelah selesai mandi, Jeo Rin duduk di samping Kai sambil mengelus rambut Kai.
“Mandilah, setelah itu kita sarapan, ani, makan siang.” Kata Jeo Rin karena sekarang jam dua belas siang. Kai malah meletakkan kepalanya di pangkuan Jeo Rin.
“Jongin-ah..”
“Sebentar saja, baby.”
“Ani. Bisa-bisa kau tidur lagi. Bangun, Jongin-ah.” Kai tidak bergeming.
“Kim Jongin..” Kai menyerah. Ia mendudukkan dirinya lalu menatap Jeo Rin.
“Mandi. Kau bau. Aku menunggumu di ruang makan.” Jeo Rin keluar dari kamar setelah mencium pipi Kai.

—————-

“Kau sudah bangun, Kai?”
“Ne, ahjumma.” Jawab Kai setelah duduk di kursi makan.
“Ajjushi jelek sudah bangun.” Kai menoleh ke arah Jeo Rin yang baru saja masuk ke ruang makan.
“Anak siapa itu?” Tanya Kai yang melihat Jeo Rin menggendong anak kecil berumur sekitar satu tahun.
“Anakku.” Jawab Jeo Rin santai.
“Mwoya? Baby.. Kau.. Aissh..” Lee ahjumma tertawa melihat Kai.
“Anak itu cucu ahjumma, Kai. Anaknya Chunji.”
“Chunji sudah menikah, ahjumma?”
“Ne. Nama anaknya Lee Chan Hee. Dia menitipkan Chan Hee pada ahjumma karena harus bekerja di luar kota. Kai, cepatlah menyusul Chunji. Lihat, Jeo Rin sudah siapa menjadi eomma.”
“Ahjumma..”
“Kalian benar-benar serasi.”
“Chan-ah, kita harus cepat-cepat makan. Kalau di sini terus noona pasti digodai sama halmeoni.” Kai menatap Jeo Rin yang duduk di hadapannya. Jeo Rin sedang membersihkan mulut Chan Hee yang belepotan karena memakan biskuit bayi. Bayangan Kai saat ini, Jeo Rin sedang memangku anaknya. ‘Lee ahjumma benar. Jeo Rin sudah siap menjadi eomma.’ Pikir Kai.
“Ahjumma, aku mau bermain dengan Chan Hee.”
“Ne.” Kai baru sadar kalau dari tadi dia terus memandangi Jeo Rin.
“Ahjumma tahu apa yang kau pikirkan, Kai. Kau pasti ingin punya anak dari Jeo Rin kan?” Kai mengangguk.
“Kenapa kalian tidak menikah?”
“Untuk yang satu itu sulit, ahjumma.” Kata Kai.
“Wae?”
“Sampai sekarang aku tidak tahu dia mencintaiku atau tidak.” Jawab Kai lemas.
“Tapi kalian mesra sekali. Ahjumma pikir kalian sudah bertunangan.” ‘Seharusnya begitu kalau perjodohan kami tidak dibatalkan.’ Batin Kai.
“Semoga kalian segera menikah.”

—————–

Satu hari Kai dan Jeo Rin berada di Kkamjong beach, mereka tidak melakukan apa-apa. Hanya berdiam diri di cottage. Jeo Rin asyik bermain dengan Chan Hee. Bahkan Jeo Rin tidur di kamar sebelah dengan Chan Hee. Kai merasa tidak dipedulikan. Hari ini hari terakhir mereka di Kkamjong beach. Jeo Rin masih terus bersama Chan Hee dari pagi sampai jam tiga sore. Kai melihat kesal pada Jeo Rin yang bersama Chan Hee di teras cottage dari jendela. Kai merebahkan dirinya di sofa.
“Kau kenapa Kai?”
“Tidak apa-apa, ahjumma.” Mendengar itu Lee ahjumma menghampiri Jeo Rin.
“Jeo Rin, Chan Hee biar sama ahjumma saja.”
“Tapi aku masih mau bermain dengan Chan Hee, ahjumma.”
“Ada orang yang cemburu karena kau bermain dengan Chan Hee terus.”
“Jongin? Cemburu karena Chan Hee?” Lee ahjumma mengangguk. Jeo Rin pun masuk ke cottage dan mendapati Kai sedang tiduran di sofa.
“Jongin-ah, ayo ke pantai.”
“Aku sedang malas.”
“Jinjja?”
“Ne.”
“Ya sudah. Aku ke pantai ya.”

—————–

‘Apa aku mencintainya?’ Kalimat itu terus terngiang di benak Jeo Rin saat ia berjalan di pinggir pantai.
“Aah.. Molla.” Jeo Rin berlari ke pantai dan berenang selama satu jam. Setelah itu ia kembali ke tepian dan duduk di pasir pantai. Telunjuk kanannya bergerak menulis nama Joonmyun dan Jongin. Tak lama tulisan itu hilang tersapu air. Jeo Rin berdiri lalu memandangi sunset. Dia jadi ingat pertama kali ke tempat ini. Dengan Kai, namja paling menyebalkan menurutnya dulu. Sekarang image itu hilang. Pikiran Jeo Rin terhenti karena tangan yang melingkar di pinggangnya.
“Kau benar-benar menikmati ini sendirian.” Kai meletakkan dagunya di bahu Jeo Rin.
“Kau tidak mau kuajak tadi.”
“Aku mau kau membujukku.”
“Ck.. Anak-anak. Ini kedua kalinya kita melihat sunset, ani, pertama. Kalau dulu aku hanya ingin menepati taruhan kita. Sekarang beda.” Jeo Rin membalikkan badannya.
“Sekarang aku ingin melihat sunset denganmu.” Kai tersenyum. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Jeo Rin. Menempelkan bibirnya di bibir Jeo Rin. Melumat bibir Jeo Rin lembut. Dengan berjinjit Jeo Rin membalas ciuman Kai. Ia mengalungkan tangannya di leher Kai. Ciuman lembut dengan sunset sebagai latarnya.
“Saranghae, Rin-ah.” Jeo Rin hanya tersenyum. Mereka berjalan pulang menuju cottage sambil bergandengan tangan.
“Ada yang ingin kutanyakan padamu.”
“Marhaebwa..”
“Kau menganggapku apa? Maksudku, kau selalu membalas perlakuanku. Peluk, cium, dan semalam kita hampir melakukan itu.”
“Aku melakukan itu karena kau jodohku.”
“Aku tidak bisa menerima alasanmu.”
“Tapi aku melakukan semua itu karena perjodohan. Aku harus membiasakan diri denganmu.”
“Aku menginginkan jawabanmu.”
“Ne?”
“Balasan atas kata cintaku.” Jeo Rin terdiam cukup lama.
“Mianhae.. Aku masih belum bisa menjawab, Jongin-ah.” Kai kecewa.
“Arraseo. Aku akan menunggu.”

———————

Kai melajukan mobilnya menuju kantor Jeo Rin. Ia hendak mengajak Jeo Rin makan siang bersama. Mobil Kai berpapasan dengan mobil Jeo Rin yang baru keluar dari area perkantoran. Jeo Rin tidak mengenali mobil Kai, karena Kai selalu ganti mobil. Kai pun memutar arah mengikuti mobil Jeo Rin yang akhirnya berhenti di sebuah restoran. Kai tiba saat Jeo Rin masuk ke restoran. Kai mengurungkan niatnya membuka pintu mobil. Ia melihat ke depan. Di mobil, Kai bisa melihat Jeo Rin dari kaca tembus pandang restoran itu. Mata Kai membulat saat melihat Jeo Rin berciuman dengan namja. Walaupun hanya bagian belakang namja itu yang terlihat, Kai tahu siapa orang itu. Suho?

———————–
Suho? Jadi Jeo Rin menemuinya? Dia tidak bisa membalas cintaku karena Suho? Lalu apa arti semuanya? Dia mempermainkanku? Apa ini yang dirasakan yeoja-yeoja yang dekat denganku karena aku yang selalu seenaknya mempermainkan mereka? Baekhyun, kau benar. Perbuatanku sudah terbalas, dan yang melakukannya adalah yeoja yang kucintai.

————————-

Suho berdiri begitu melihat Jeo Rin. Ia langsung menarik pinggang Jeo Rin saat Jeo Rin berada di depannya, mencium Jeo Rin kilat.
“Aku merindukanmu, Jeorin-ah.” Jeo Rin tersenyum mendengar itu, lalu mereka duduk.
“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sudah kembali ke Seoul? Kau pasti sudah lama kembali kan?”
“Ne. Sekitar tiga minggu. Aku memang sengaja, oppa.”
“Kalau Min Young tidak memberitahuku, aku pasti akan tetap berada di Jepang.” Jeo Rin menyengir. Suho memesan menu makan siang mereka.
“Jeorin-ah, kau pergi denganku ke pernikahan Sehun dan Min Young, ne?”
“Ne, oppa.”
“Eem.. Kembalilah padaku, Jeorin-ah. Kita mulai lagi dari awal.” Suho menggenggam tangan Jeo Rin.
“Mianhae, oppa. Aku tidak bisa.”
“Wae?”
“Aku sudah dijodohkan.”
“Dengan Kai?”
“Dari mana oppa tahu?”
“Kenapa kau tidak menolaknya? Tidak penting aku tahu dari mana.”
“Aku tidak bisa menolak. Perjodohan ini keinginan appa. Aku ingin appa bahagia di sana.”
“Kau sudah tidak mencintaiku lagi?” Jeo Rin diam.
“Aku anggap kau masih mencintaiku. Dengarkan aku, Jeorin-ah. Ajjushi pasti akan bahagia melihatmu hidup bersama dengan namja yang kau cintai. Beliau pasti sedih kalau kau tertekan karena perjodohanmu dengan Kai.” Jeo Rin masih diam. ‘Apa yang harus kulakukan?’ Pikirnya.
“Bagaimana?” Tanya Suho.
“Aku tidak tahu, oppa.”
“Kalau perjodohanmu batal, apa kau mau kembali padaku?”
“Itu tidak mungkin, oppa.”
“Aku akan mengembalikan keadaan seperti semula, Jeorin-ah. Sebelum pengacau itu masuk di antara kita.”

———————

Sejak Kai melihat Jeo Rin dengan Suho di restoran, dia tidak pernah menemui Jeo Rin. Bahkan yang biasanya Kai selalu telepon atau mengirim pesan singkat pada Jeo Rin, tidak ia lakukan lagi. Harapan Kai pada perjodohannya dan Jeo Rin putus sudah. Hari ini adalah hari pembatalan perjodohan mereka. Kedua keluarga itu bertemu di ruangan khusus sebuah restoran mewah. Nyonya Kang asyik berbicara dengan Tuan Kim. Sedangkan Jeo Rin dan Kai hanya diam. Jeo Rin tidak tahu mau bicara apa karena Kai aneh menurutnya.
“Kenapa kalian hanya diam? Biasanya kalian mesra. Jangan terlalu gugup. Kalian masih mau bertunangan.” Ucap Nyonya Kang yang tidak tahu maksud dari pertemuan keluarga tersebut.
“Jadi bagaimana? Apa kau sudah dapat tanggal yang baik untuk pertunangan Kai dan Jeo Rin, Joomun-ah?” Disaat itu juga seorang namja masuk ke ruangan khusus tersebut.
“Maaf, saya terlambat.”
“Joonmyun oppa?” Kaget Jeo Rin. ‘Apa dia bermaksud membatalkan perjodohanku?’ Batin Jeo Rin.
“Kenapa kau di sini, Suho?” Tanya Nyonya Kang mengingat ini adalah pertemuan Keluarga Kim dan Kang.
“Dia anakku, Jaerin-ah.”
“Mwo?!” Suara Nyonya Kang dan Jeo Rin bersamaan.
“Duduklah, Suho.” Suruh Tuan Kim. Kai terlihat tidak senang karena Suho duduk di sebelahnya. ‘Jongin dan Joonmyun oppa bersaudara? Tapi kenapa mereka seperti musuh?’ Jeo Rin masih tidak percaya.
“Bukankah kau dan Jira hanya punya satu anak? Anak kecil saat aku melayat Kai kan?” Nyonya Kang bingung.
“Bukan. Anak itu Suho. Dia anakku dari Jira.”
“Apa maksudmu?” Nyonya Kang semakin bingung, sama seperti Jeo Rin. Kai menundukkan kepalanya. Ia mengepalkan tangannya menahan emosi. Sedangkan Suho memasang tampang tenangnya.
“Suho dan Kai anakku, tapi beda ibu. Selisih umur mereka hanya empat belas hari.”
“Aku tidak mengerti, Joomun-ah.”
“Akan aku jelaskan nanti. Tujuanku mengadakan pertemuan ini adalah untuk membatalkan perjodohan Kai dan Jeo Rin.” Jeo Rin terkejut. Ia melihat Kai yang menunduk di hadapannya. Suho tersenyum senang.
“Batal? Kenapa?” Nyonya Kang tahu dulu Suho dan Jeo Rin punya hubungan khusus. Tapi ia lebih suka kalau Kai yang jadi menantunya.
“Rencana perjodohan ini tidak akan batal, hanya saja akan terlaksana kalau Jeo Rin memilih siapa jodohnya. Kai atau Suho. Mianhae, ini salahku. Aku tidak tahu kalau anakku menyukai yeoja yang sama. Kau setuju kan, Jaerin-ah?”
“Ne. Siapapun yang akan menjadi pendamping Jeo Rin tidak masalah.” Kai yang sedari tadi menunduk mengangkat kepalanya. Ia berdiri.
“Mianhamnida, aku tidak bisa mengikuti acara makan malam ini. Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Permisi.” Kai segera meninggalkan tempat itu. Jeo Rin ingin mengejar Kai, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.

———————-

“Kenapa oppa tidak pernah memberitahuku kalau oppa punya saudara? Dan orang itu Jongin.” Ucap Jeo Rin saat Suho mengantarnya pulang.
“Itu bukan hal yang penting.” Suho fokus pada jalanan.
“Dulu oppa tidak menganggapku makanya oppa tidak memberitahuku.”
“Bukan begitu. Dia orang yang tidak penting dalamp hidupku.”
“Kalian aneh. Saudara tapi bermusuhan.”
“Aku membencinya.” Suho menghentikan mobilnya yang sudah memasuki kediaman keluarga Kang lalu membukakan pintu untuk Jeo Rin.
“Sampai jumpa besok, chagiya.” Suho mencium pipi Jeo Rin.
“Oppa harus menjelaskan padaku.”
“Aku akan menjelaskan padamu lain waktu.”
“Aku mau sekarang.” Suho menghela napas. Ia lalu duduk di bagian depan mobilnya.
“Aku dan Kai bersaudara. Aku merasahasiakan ini sejak JHS.”
“Wae?” Jeo Rin duduk di samping Suho.
“Karena aku membencinya. Dia pengacau dalam hidupku.” Jeo Rin menatap Suho. Kemarahan terukir jelas di wajah Suho.
“Karena dia dan eommanya aku jadi kehilangan eommaku.” Jeo Rin tidak mengerti. ‘Apa ajjushi punya dua istri?’ Pikirnya.
“Saat masih kecil, aku merasa aneh. Kenapa aku punya dua eomma sedangkan teman-temanku tidak. Aku yang saat itu berumur enam tahun bertanya pada eomma. Dan eomma menjelaskan semuanya.”
FLASHBACK
Seperti biasa, Kim Jira, Suho eomma, selalu menemani Suho sebelum tidur. Ia mengelus rambut Suho agar anak kesayangannya itu segera tidur.
“Eomma, kenapa aku punya dua eomma?” Nyonya Kim tersentak mendengar pertanyaan anaknya. Ia memasang senyum terpaksa di wajahnya.
“Wae? Suho tidak suka punya dua eomma?”
“Ani. Aku hanya aneh. Teman-temanku punya satu eomma, tapi aku dua.” Nyonya Kim tersenyum. Tersenyum tulus karena rasa ingin tahu Suho.
“Suho pasti tumbuh jadi anak yang pintar nanti. Eomma akan cerita. Tapi setelah ini kau tidak boleh membenci appa.” Alis Suho bertaut mendengar kata-kata eommanya. Ia tidak mengerti.
“Suho hanya punya satu eomma, yaitu eomma, ibu kandungmu. Chae Ra eomma, ibu tiri Suho. Suho sudah mengerti?” Suho mengangguk ragu.
“Kalau eomma ibu kandungku, kenapa aku harus memanggil eomma pada Chae Ra eomma?”
“Karena Chae Ra eomma istri appa.”
“Appa temanku hanya punya satu istri.” Nyonya Kim sedih karena harus menceritakan kesalahan suaminya pada Suho yang tidak tahu apa-apa.
“Appa punya dua istri karena kecelakaan, sayang.” ‘Kecelakaan? Kalau kecelakaan seharusnya berkurang, bukan bertambah.’ Batin Suho kecil.
“Saat itu eomma sedang mengandungmu satu bulan. Eomma yang merasakan gelagat aneh appa bertanya padanya. Semua pekerjaannya berantakan. Appa mengakui semuanya. Ia menghamili Chae Ra eomma. Appa minta maaf pada eomma. Eomma hampir saja kehilangan dirimu mendengar kabar itu. Appa menghamili Chae Ra eomma dalam keadaan tidak sadar. Appa mabuk. Chae Ra eomma bekerja di club tempat appa dan teman-temannya minum.”
“Buat apa appa ke tempat itu?”
“Appa diajak teman-temannya untuk merayakan keberhasilannya memenangkan tender. Appa merasa bertanggung jawab dan meminta izin agar ia bisa menikahi Chae Ra eomma. Awalnya eomma menolak. Eomma sudah meminta cerai pada appa saat itu. Eomma akhirnya setuju karena melihat Chae Ra eomma. Ia masih muda dan tinggal jauh dari orang tuanya. Ia bekerja di club untuk membiayai kuliahnya.”
“Aku tidak mengerti, eomma.”
“Suho pasti mengerti saat dewasa nanti. Dan eomma minta Suho tidak membenci appa dan Chae Ra eomma. Apalagi Kai, kalian harus saling menyayangi. Kai tidak salah apa-apa.”
FLASHBACK END
“Dan keesokkan harinya, saat pulang sekolah, aku menemukan eomma terbaring di lantai dengan goresan di tangan yang mengeluarkan banyak darah. Eomma meninggalkanku. Semakin bertambahnya umur, aku bisa mengerti kenapa eomma bunuh diri. Appa lebih perhatian pada Chae Ra eomma dibandingkan pada eomma. Sejak saat itu, aku membenci Kai dan eommanya. Kalau tidak ada mereka, eomma pasti tidak akan bunuh diri.” Wajah Suho memerah menahan amarah. Hening. Hanya deru nafas Suho yang terdengar. ‘Jadi begitu. Itu penyebab Joonmyun oppa dan Jongin bermusuhan. Lalu bagaimana dengan Jongin? Dalam hal ini ia tidak salah apa-apa.’ Pikir Jeo Rin. Suho sudah bisa mengontrol emosinya. Ia menoleh pada Jeo Rin.
“Saat ini hanya kau satu-satunya orang yang kusayangi. Kau satu-satunya orang yang berharga dalam hidupku. Aku mohon tetaplah di sampingku, Jeorin-ah. Saranghae..” Suho memeluk Jeo Rin. Ia tidak tahu apa yang Jeo Rin rasakan. Sejak mereka berbaikan, ia merasa Jeo Rin berbeda. Berkali-kali ia meminta Jeo Rin untuk kembali padanya, tidak ada respon dari Jeo Rin. Tapi Suho tetap yakin kalau Jeo Rin masih mencintainya dan akan membuat Jeo Rin kembali padanya. Sedangkan Jeo Rin, ia selalu bingung setiap dihadapkan dengan hal ini, yang bisa ia lakukan hanya membalas pelukan Suho. Mengelus punggung Suho berharap bisa menghilangkan beban Suho.
Sementara tak jauh dari tempat Jeo Rin dan Suho, seseorang memperhatikan mereka. Ia tersenyum miris melihat Suho dan Jeo Rin berpelukan. Setelah pergi dari restoran, Kai menemui Chanyeol, menceritakan masalah terbesarnya. Sekarang ia berada di depan rumah keluarga Kang untuk menemui Jeo Rin. Mengikuti saran Chanyeol untuk memastikan apakah Jeo Rin mencintainya atau tidak. Tapi apa yang ia dapatkan? Pemandangan menyakitkan menyambutnya. Tak ingin berlama-lama sakit, Kai meninggalkan kediaman keluarga Kang menuju apartemennya.

———————-

Aku langsung merebahkan tubuhku di sofa begitu sampai di apartemen. Hari ini benar-benar melelahkan. Perjodohanku dengan Jeo Rin dibatalkan. Tidak bisa dibilang dibatalkan, Jeo Rin dijodohkan denganku dan Suho. Jeo Rin pasti kembali pada Suho. Ingatan Jeo Rin yang berpelukan dan berciuman dengan Suho berputar di kepalaku. Apa aku harus melepaskannya? Ck.. Kenapa aku baru sadar? Jeo Rin mau bersamaku karena perjodohan. Ahh.. Kepalaku benar-benar pusing. Eomma.. Apa eomma melihatku dari sana? Apa yang harus kulakukan? Sampai sekarang aku tidak bisa menggenapi pesan eomma. Dan aku yakin sampai kapan pun tidak akan bisa karena kami mencintai yeoja yang sama.
FLASHBACK
“Hyung.. Ayo main balapan mobil.” Ajak Kai kecil yang baru memasuki kamar Suho. Tidak ada jawaban. Suho asyik memandangi ikan-ikan hias yang ada di aquarium. Sejak eommanya meninggal, Suho menjadi anak yang pendiam. Kai selalu berusaha menghiburnya tapi tidak pernah berhasil.
“Yang menang akan memiliki robot yang appa bawa pulang nanti.” Lanjut Kai, berharap hyungnya tertarik.
“Keluar dari kamarku..” Kata Suho, tidak mau melihat Kai.
“Hyung..”
“Keluar!!” Dengan gontai Kai keluar dari kamar Suho. Ia berjalan menuju kamar eommanya yang berada di lantai bawah.
“Eomma..” Nyonya Kim yang saat itu sedang membaca surat kesehatannya terkejut mendengar suara anaknya. Ia langsung menyembunyikan surat itu di bawah bantal.
“Ada apa, sayang?” Nyonya Kim tersenyum pada Kai yang duduk di sampingnya.
“Kenapa hyung tidak mau bermain denganku?”
“Mungkin hyung masih sedih karena Jira eomma meninggal, Kai.” Nyonya Kim mengelus kepala Kai.
“Tapi Jira eomma sudah lama meninggal. Eomma bilang kita tidak boleh sedih lama-lama saat orang yang kita sayangi meninggal karena itu akan membuatnya sedih juga. Aku juga sedih Jira eomma meninggal, tapi aku berusaha untuk senang agar eomma bahagia di sana.” Nyonya Kim diam. Ia berpikir. ‘Apa Suho mengetahui hal yang terjadi di rumah ini? Tidak mungkin. Ia masih sangat kecil untuk memahami masalah serumit itu.’
“Mungkin hyung belum bisa melakukan apa yang Kai lakukan. Sebentar lagi hyung pasti mau bermain dengan Kai.”
“Jeongmalyo?’ Wajah Kai sumringah.
“Ne. Jadi, Kai bermain dengan eomma dulu. Kajja.” Nyonya Kim menggandeng tangan Kai menuju kamarnya.

—————–

“Ajjushi..” Kai yang baru turun dari mobil langsung menghampiri adik appanya, Kim Jaejoong, yang baru memasukkan koper ke bagasi mobil.
“Kai? Kau sudah pulang sekolah.” Kai mengangguk.
“Ajjushi mau tinggal di sini? Wah… Hyung, kita punya teman bermain.” Ucap Kai antusias pada Suho yang berdiri di samping Jaejoong. Sedangkan Suho memasang wajah datar.
“Ani. Ajjushi menjemput Suho. Mulai sekarang Suho tinggal dengan ajjushi.”
“Mwo? Wae?”
“Bukan urusanmu.” Kata Suho lalu masuk ke mobil. Mendengar itu Kai langsung muram. Jaejoong yang melihat reaksi Kai berjongkok agar menyerupai tinggi Kai. Ia memegang kedua bahu Kai.
“Suho masih sedih karena meninggalnya eomma. Untuk sementara dia tinggal bersama ajjushi. Ajjushi akan menghiburnya agar dia tidak sedih lagi.” Hibur Jaejoong.
“Jeongmal? Kalau hyung sudah senang, hyung akan pulang ke rumah kan?” Jaejoong mengangguk.
“Ajjushi pulang, Kai.” Kai mengangguk. Lalu dia menuju pintu mobil penumpang tempat Suho duduk.
“Hyung, cepatlah kembali.” Suho tidak menjawab Kai. Kai masuk ke dalam rumah begitu mobil Jaejoong keluar dari kediaman keluarga Kim. Ia langsung menuju kamar eommanya.
“Eomma..” Kosong. Tidak ada nyonya Kim di kamar. Ia berjalan menuju kamar mandi.
“Eomma..” Panggil Kai sambil mengetuk pintu. Tidak ada eommanya, Kai pun menuju kamarnya. Setelah mengganti pakaian, Kai menuju ruang makan.
“Eomma mana, ahjumma?” Tanya Kai pada pelayan yang menyediakan makan siangnya.
“Nyonya pergi ke Jepang menemani tuan Kim, tuan.” ‘Kenapa eomma tidak memberi memberitahuku?’ Pikir Kai.

—————-

Bosan. Tiga hari Kai tinggal sendirian di rumah. Tanpa appa, eomma, dan Suho. Walaupun nyonya Kim meneleponnya, tetap saja Kai tidak suka sendirian. Kai memainkan sendoknya, tidak selera makan.
“Ajjushi..” Kai memanggil Jang ajjushi, supir yang bertugas mengantar jemput Kai sekolah.
“Ada apa, tuan?”
“Makanlah bersamaku.”
“Ne? Tapi, tuan..”
“Kalau ajjushi tidak mau, aku tidak mau makan.” Jang ajjushi teringat perkataan Tuan Kim untuk melakukan apa yang diinginkan Kai selama Tuan dan Nyonya Kim pergi.
“Baik, tuan.”
Hal seperti ini terus berlanjut sampai pada suatu hari..
“Kita mau ke mana, ajjushi?” Tanya Kai bingung karena ini bukan jalan menuju rumahnya.
“Ke rumah sakit, tuan.”
“Siapa yang sakit, ajjushi?” Jang ajjushi tidak tahu harus menjawab apa.
“Ajjushi tidak bisa memberitahu tuan sekarang.” Sesampainya di rumah sakit, Jang ajjushi menggandeng tangan Kai menuju kamar rawat yang diberitahu tuan Kim padanya. Tuan Kim sudah berada di depan kamar rawat.
“Appa..” Kai langsung berlari menuju tuan Kim begitu melihat appanya. Tuan Kim menggendong Kai.
“Siapa yang sakit appa?” Tuan Kim tidak menjawab Kai. Ia membuka pintu ruang rawat Nyonya Kim. Dari gendongan appanya, Kai bisa melihat nyonya Kim terbaring lemah dengan alat-alat medis di tubuhnya. Kai berlari menuju nyonya Kim.
“Eomma.. Eomma kenapa?” Kai menangis melihat keadaan nyonya Kim. Tangan lemah nyonya Kim bergerak untuk menghapus air mata Kai.
“Ssst.. Uljima.. Anak laki-laki tidak boleh menangis.” Nyonya Kim tersenyum lemah. Air mata Kai mengalir semakin deras mendengar kata-kata eommanya.
“Jongin-ah..”
“Namaku bukan Jongin! Namaku Kai!” Kai lebih suka memakai nama panggilan yang diberikan eommanya daripada nama aslinya.
“Untuk terakhir kali.. Eomma ingin memanggilmu Jongin.”
“Andwae!! Eomma tidak boleh pergi meninggalkanku seperti Suho hyung!”
“Eomma tidak kuat lagi, Jongin-ah..”
“Kau harus bertahan, yeobo. Demi aku, Kai, dan Suho. Kata tuan Kim.” Kalau saja nyonya Kim peka dengan keadaannya, dia pasti tidak terbaring lemah di rumah sakit. Ia divonis gagal ginjal oleh dokter. Ia menyembunyikan hal itu dari Tuan Kim.
“Jongin-ah, dengarkan eomma.. Apapun yang terjadi nanti, Jongin harus bisa akrab lagi dengan hyung. Suho hyung pergi dari rumah bukan untuk menghilangkan rasa sedihnya. Suho pergi dari rumah karena dia tidak menyukai kita, Jongin-ah.”
“Apa yang kau bicarakan, yeobo?”
“Oppa, biarkan aku bicara. Seharusnya kami tidak berada dalam keluarga ini..”
“Yeobo..” Kai menangis semakin keras. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan eommanya.
“Jira eomma meninggal karena bunuh diri, Jongin-ah. Eomma bisa mengerti kenapa Jira eomma melakukan itu. Walaupun ia tersenyum, Jira eomma belum bisa menerima keberadaan kita. Dan itu yang menyebabkan hyung mendiamkanmu selama ini. Kalau kita tidak ada pasti Suho masih memiliki eomma.”
“Aku tidak menyesal memiliki kalian. Kau harus tahu itu, Chae Ra.” Nyonya Kim tersenyum.
“Gomawo, oppa. Oppa mau menerima kami.” Nafas nyonya Kim putus-putus.
“Ingat kata-kata eomma, sayang. Kau harus bisa berkumpul lagi dengan hyungmu. Kalian tidak boleh bermusuhan karena kalian saudara. Eomma mencintaimu, Jongin-ah.”
FLASHBACK END
Air bening mengalir dari mata Kai.
“Apa yang harus kulakukan, eomma? Apa aku harus melepaskan Jeo Rin agar aku bisa melakukan pesan eomma? Supaya aku bisa berkumpul dengan Suho seperti dulu?”

TBC…

14 thoughts on “TRUE LOVE (Chapter 15)

  1. Hiks hiks sedih bnget tor,sumpah aku nangis bcax.. Tor ff ini pkokx smpai END,ndak mslah smpai brapa chapt,yg pnting END.. Jeball tor.. Next chapt tor ^^

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s