[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 7)

CM-Chap 7

Title : Clumsy Me

Subtitle : Study Tour (Part 2) – Heart Attack

Author : NadyKJI (@nadyana1711)

Web : http://cynicalace.wordpress.com/

Genre : Comedy (a little?), romance, friendship, School Life

Length : Chaptered

Rating : G

Maincast:

  • Kim Jong In – Kai
  • Cha Naraya (OC)

Other : Oh Sehun, Lee Ria (OC), Min Chan Rie (OC), Park Chanyeol, Byun Baekhyun, D.O, Tao, Chen, Choi Minho (Shinee), Sulli (fx), Kang Chae Kyong, Han Yeon Yuk (OC), Cho Youn Hee (OC),  (will be added)

Disclaimer : FF ini murni ide-ide khayalan author yang kelewat tinggi, dilarang meniru dengan segala cara apapun, jika tidak ff ini tidak akan dilanjutkan lagi. Terima Kasih.

Author’s Note :

Anneyonggg!! HALOO!! Haiiiii!

Sudah sampai chapter 7 hiks tidak terasa *author bangga terharu bahagia

Bagaimana??? Rame tidak ??

Maafkan ya kalau banya typo atau apapaun ehehehheh ^^

Kalau ceritanya gaje maaf juga… ff pertama author sieh jadi masih aneh dan kurang pengetahuan EYD *thor belajar bahasa Indonesia ga??

Author belajar kok ^^ tiap hari ngomong *ngebales gaje, minta dilempar

Yaaa >< ampun readers *kabur

And the last -___-“ author ga punya ide buat ngisi apa lagi *bawel sih, jadi ga ada bahan lagi

Happy Reading ^^

Comment di harapkan yaaa~

___

-:Kai:-

Aku membuka mataku, tanganku meraih kepalaku. Aku berusaha bangkit dari tempat tidurku, namun sakit kepala hebat langsung menyerangku. Rasanya seperti di hantam tembok saja. Tidak kuat aku kembali mejamkan mataku. Pikiranku mnemutar ulang kejadian tadi malam.

:FLASHBACK:

‘YA! Kau tahu tidak kami semua khawatir! Datang terlalu mepet pula…’

Ria berkacak pinggang di depanku mengomel.

Cih, masih untung aku mencarinya.

Chanyeol dan Baekhyun sudah terpengaruh suasana pesta, bergurau sesekali menggodan Chan Rie yang langsung melotot galak saat itu juga.

Aku mendudukan diriku di sofa, mengabaikan keramaian pesta tersebut.

‘Hei, lihat apa yang berhasil aku bawa!’ Chanyeol mengacungkan satu botol minuman.

‘Mwo? Bagaimana bisa?’

‘Percayalah padaku, aku rajanya pesta!’ umbarnya bangga.

Aku sudah tidak peduli lagi, aku mengambil Iphoneku. Menyibukkan diriku sendiri.

‘Kai!’

Aku mendongak, tangan Sehun memberikanku segelas minuman.

‘Bukan alkohol kan?’                  

‘Andwae. Alkohol yang di tangan kiriku ini.’ Tangan kirinya mengacungkan gelas kepunyaannya.

Percaya, aku mengambil gelas dari tangan Sehun dan meminumnya.

Kepalaku sedikit berputar, kericuhan pesta membuatku sakit kepala. Aku beranjak dari kursiku.

‘Mau kemana?’

‘Mencari udara segar. Kepalaku sakit.’

Kakiku melangkah ke taman, mencari belokan taman yang sepi. Saat aku menemukannya dan berbelok kulihat Naraya. Duduk memeluk lutut sembari melihat kalung yang kuberikan. Aku menghampiri, ikut duduk disampingnya.

 ‘Apa yang kau lakukan?’

‘Memisahkan diri. Anak-anak itu terlalu mengerikan.’

‘Babo, yang berulang tahun malah tidak berpesta,’ aku melanjutkan, ‘…tapi kau ada benarnya mereka mengerikan. Pasangan ketua dan wakil ketua itu terlalu gila.’

Aku melirik ke arah kalung yang masih digenggamnya.

 ‘Biar aku pasangkan…’

Tanganku terulur menawarkan bantuan. Berpikir sebentar ia memberikan kalung itu padaku. Aku mendekat, memasangkan kalung itu di lehernya.

Kepalaku semakin pusing saja.

‘Kai, kau minum apa tadi? Alkohol?’

Ia bertanya padaku, aku berpikir sejenak.

‘Tidak tahu. Sehun yang memberikannya padaku. Mungkin ada benarnya, karena kulihat Chanyeol tersenyum evil sambil mengeluarkan botol. Tapi harusnya Sehun tidak memberikannya padaku. Ia tahu toleransiku pada alkhohol sangat rendah.’

Bisa saja Sehun salah memberikan gelas, buktinya kepalaku bukannya berangsur membaik.

Clik

‘Sudah. Jangan sampai rusak maupun hilang oleh kecerobohanmu, ne?’

Kepalaku semakin berputar dan kelopak mataku berat.

:FLASHBACK END:

Ingatanku berakhir di situ, setelahnya ada apa?

Sakit kepalaku berkurang, aku bangkit dari ranjang. Mandi, itu yang aku butuhkan.

“Pagi Kai. Kupikir kau tidak akan bangun. Hehehe. Mian sepertinya aku salah memberimu gelas.”

Tiba-tiba Sehun membuka pintu dan berdiri di belakangku.

“Dwaesso.”

“Tidak mungkin. Kau tidak tahu. Naraya membawamu masuk dalam keadaan mengenaskan. Detik berikutnya aku sudah mendapatkan amukan gadis itu. Untung saja Naraya tidak memarahi Chanyeol, karena ia sendiri tidak yakin siapa dalang pembawa minuman itu.”

“Jeongmal? Menarik, mungkin kau harusnya memberitahukan itu Chanyeol. Pasti akan terjadi tontonan menarik. Aku belum pernah melihatnya marah – sangat marah. Hehehe.”

“Berhentilah. Beruntung kau masih bisa bangun hari ini.”

Tanpa berbasa-basi lagi aku menyampirkan handuk di bahuku. Memutar kenop pintu kamar mandi.

Blam.

-:Author PoV:-

Semua murid berkumpul di aula villa, Kai baru saja masuk bersama Sehun. Sehun yang berada di samping Kai melambaikan tangan kearah Ria. Sejak kapan mereka jadi sedekat itu?! Ria mengampiri mereka, tentu dengan Naraya disampingnya.

Naraya berjalan menghampiri Kai, namun kakinya tersandung kaki Ria, sehingga hampir terjatuh. Kai kembali menahan sikunya.

“Kau… tidak apa-apa? Kepalamu masih pusing?”

“Tidak apa-apa. Kau sendiri? Pagi-pagi begini sudah tersandung.” Kai menjawab gadis di depannya di sertai smirk menawannya.

“KAWAN! Aku sudah mendaftarkan kita menjadi satu grup!”

Chanyeol berteriak menghampiri keempat orang tersebut, bersama Baekhyun di sampingnya. Kai langsung melepaskan pegangannya pada Naraya dan memasukkan tangannya ke saku jeans sedangkan Naraya langsung memperbaiki posisinya.

“Mwo? Ada acara apa ini? Seenaknya saja!”

Ria yang sedang mengobrol dengan Sehun itu mengahlikan perhatiannya.

“Sejenis running man? Saat kami datang pertama, semua di suruh membuat kelompok. Dan karena harus campur dengan kelas lain aku mengajak 2 orang yeoja. Mereka baik kok, mereka anak kelas sebelah yang sering ikut menjadi juri masakan DO bersama aku dan Baekhyun.”

Belum sempat Ria mengucapkan bantahan berikutnya, munculah dua gadis yang dimaksud itu.

Gadis pertama sangat cantik feminim keibuan, yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Do Lyira. Sedangkan temannya lebih kasual dengan rambut sebahu memperkenalkan diri sebagai  Son Yu Bin.

Detik berikunya keempat yeoja sudah bisa bergaul dengan baik, atau lebih tepatnya Ria dan Yu Bin yang mengobrol heboh. Dengan Ria yang hiper dan Yu Bin yang sangat kepo (?) mereka jadi cocok.

Dan beginilah anggota running man ala A.I high school tokoh kita : Naraya, Ria, Sehun, Kai, Chan Rie, Tao, Chanyeol, Baekhyun, DO, Lyira, dan Yu Bin.

“KUMPULKAN DAFTAR KELOMPOK KALAU SUDAH JADII!”

Chanyeol yang memegang kertas tersebut mendongak.

“Ya, aku kumpulkan ya!”

“YA!…” belum selesai ucapan Ria, namja itu sudah kembali ke tengah kerumunan memberikan kertas tersebut.

“Sudahlah, ini daftar kegiatannya.”

Baekhyun menyodorkan kertas lain kepada Ria. Mata yeojanya yang tajam langsung membaca dengan kilat.

DAFTAR KEGIATAN

  1. Couple Tied

–          Peserta: 2 pasangan – minimal

–          Tali

–          Gunting

Rule :

Tangan kedua perserta di ikat. Tangan yang diikat memegang gunting. Tangan kanan dan tangan kiri peserta diikat – bukan kanan-kanan atau kiri-kiri (tangan yang diikat tidak sama).

Peserta diminta menggunting tali ikatan pasangan lain. Yang paling banyak membawa tali yang tergunting menang.

  1. Dogde Ball – King/Queen

Pilihlah satu orang untuk di jadikan king atau queen. Yang terpilih tidak boleh terkena bola. Sasaran lutut kebawah. Waktu 15 menit. King atau queen yang bertahan sampai menit terakhir menang. Jika dari kedua kelompok bertahan, masing masing yang terpilih diberi bola. Saling melempar pada saat yang bersamaan – anggota yang lain keluar dari arena.

  1. Water Pass

–          Ember 2

–          Pot bunga yang sudah di lubangi.

Kelompok membuat barisan, di setiap unjung ada ember. Satu terisi air, satu kosong. Peserta yang berada di depan ember air, mengambil airnya dengan pot yang sudah di lubangi, mengopernya dari atas kepala ke teman belakangnya. Jika sudah sampai ujung air yang tersisa di masukkan ke dalam ember. Kembalikan pot ke depan, seterusnya. Kelompok dengan ember terpenuh menang.

  1. Soapy Balon Ball

–          Peserta : 5 orang

–          Balon air

–          Ember

–          Detergen

Balon yang sudah di rendam detergen dioper ke ujung satunya yang terdapat ember kosong dengan di lempar.

  1. Paint War

–          Balon

–          Cat

Balon yang sudah diisi cat sesuai warna kelompok, di lempar ke arah lawan – formasi dogde ball. Yang terkena keluar. Yang paling banyak kena/keluar, kalah.

  1. Rafting

Kelompok diacak, siapa yang tercepat sampai dan terkompak menang. Di setiap perahu ada satu guru yang menilai kekompakan.

*Semua peralatan sudah di siapkan di gudang, namun untuk cat dan tali harap membelinya, sesuai dangan warna yang sudah d undi. Diberi waktu sampai jam 9.

*Para murid harap membawa tas yang berisi baju ganti jika di perlukan.

Naraya yang berada tepat di sebelah Ria merinding. Musim dingin begini di berikan permainan yang berhubungan dengan basah-basahan. Hampir semua. Dan rafting di sungai musim dingin, brr, sungai itu masih mengalir airnya saja sudah hebat.

Chanyeol baru saja kembali ke dalam lingkaran kelompok, diikuti dengan DO, Chan Rie dan Tao yang memang terpisah pada awalnya.

“Warna apa?” Sehun bertanya.

“Merah!” cengiran khas Chanyeol muncul disertai sehelai kain persegi warna merah.

“Tunggu, siapa yang berbelanja?” Ria angkat bicara.

Semua hening, tidak ada yang mau menjadi sukarelawan.

“Ya sudah hompimpa saja. Yang namja dengan namja yang yeoja dengan yeoja, yang kalah dari kedua pihak harus berbelanja.” Yu Bin sang pendatang baru mengusulkan.

“HOM PIM PA!”

“HOM PIM PA!”

“HOM PIM PA!”

“Naraya, kau kena!”

Sedangkan para namja,

“HOM PIM PA!”

“HOM PIM PA!”

“HOM PIM PA!”

“HOM PIM PA!”

“HOM PIM PA!”

“….”

“Nah, sudah, kalian yang berbelanja,” Yu Bin melihat jam tangannya sekilas, “jam 8…satu jam!”

Tangan Yu Bin mendorong dua makhluk sial itu keluar dari aula.

“Waitt! Ayolah aku tidak mau belanjaaa!” Chanyeol ternyata sang terpilih merengek.

Semua hanya memandang Chanyeol dingin seakan mengusir namja itu. Sedangkan Naraya yang sudah sangat pasrah hanya menundukan kepalanya. Jadi korban? Sudah biasa bagi yeoja itu.

“Andwaee, aku tidak mau. Lagian ponselku ada di kamar tertinggal sedang di charge.”

“Punyaku aku lupa simpan, entah di koper entah di mana… aku lupa, atau aku menitipkannya pada siapa ya?”

Sebelum yang lain bertanya padannya, Naraya memberanikan diri menjawab. Disertai dengan kepasrahan teman-temannya.

Ria yang menyimpan Iphone Naraya itu hanya diam, ia melihat keseluruh anggota, mencari ide busuk. Seakan mengetahui pikiran Ria, Sehun dengan polosnya angkat bicara.

“Kai, kau ikut saja!”

Kai yang memang sedang mengoprek Iphonenya mendongak.

“Wae? Memang hanya aku saja yang membawa ponsel?!”

“ANDWAE! Sudalah jangan membantah lagi. Kalian bertiga, cepat angkat kaki dan pergi! Jangan habiskan waktu tidak penting di sini!”

Lyira yang dikira sangat lembut keibuan berteriak kesal. Menunjuk-nunjuk ketiga orang yang hanya diam membeku itu.

_

Jadilah Chanyeol, Naraya, dan Kai berangkat bertiga. Namun Chanyeol berjalan sendiri di depan, ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya.

Sementara Naraya tertinggal karena jalan yang licinnya luar bisa berkat sajlu. Kai? Menjalankan tugasnya menahan yeoja ceroboh itu. Dengan bosan setiap gadis itu hampir terjatuh, namja itu akan menangkap siku Naraya.

“YA! Ppali!” Chanyeol berteriak kepada Naraya dan Kai.

“Ish. Tidakkah kau tahu seberapa cerobohnya yeoja ini! Kalau dia sampai terluka rasakan saja amukan Ria untuk dirimu. Aku tidak ikutan! Ck.”

Kai yang masih berjalan di sebelah yeoja itu mengomel kesal.

Naraya yang berada di sebelah Kai menunduk merasa bersalah.

“Mianhae.” Bisik yeoja itu lirih.

“Gwaenchana. Lebih baik dari pada celaka bukan?”

Kai mengelus puncak kepala Naraya.

Pada akhirnya hanya Chanyeol yang sampai ke toko. Sedangkan Kai dan Naraya tertinggal. Saat Chanyeol keluar toko, kedua orang yang menemaninya itu baru mau masuk.

“…”

Sekali lagi Chanyeol memimpin di depan. Dengan Naraya dan Kai yang tertinggal di belakangnya.

“Hmm, aku merasa bersalah pada Chanyeol..”

Naraya berjalan menundukkan kepalanya, kakinya sekali-kali menendang-nendang serpihan salju di trotoar.

“Gwaenchana.”

“Tapikan… hanya dia yang jadinya berbelanja. Kita hanya seperti anak hilang yang mengikutinya.”

Kai memandang Naraya, perumpamaan yang di terapkan gadis itu membuatnya geli. Naraya menoleh menatap Kai yang tidak kunjung menjawabnya, melihat wajah geli Kai,

“YA! Mu.. mung.. mungkin kau tidak. Tapi aku? Keluargaku, bahkan Ria selalu berkata aku seperti anak hilang kalau sedang berjalan kaki. Pasti tertinggal dan menunduk, seperti anak hilang.”

Naraya kali ini memainkan jarinya gugup, merasa konyol.

Grep

Tiba-tiba Kai menggapai tangannya. Naraya mendongak.

“Wae? Supaya kau tidak terlihat seperti anak hilang. Biar aku menuntunmu. Hehehe.”

“Andwae! Kau mempermainkanku sekarang!”

Naraya memberengut melihat raut jahil dari wajah Kai.

“Ayolah… Kajja anak hilang. Kita harus berlari. Chanyeol sudah terlampau jauh.”

Tangan Kai yang bebas menunjuk sosok Chanyeol yang mulai hilang di depannya. Sosoknya sekarang hanyalah seperti sebuah garis.

“Ahhh! Ya sudah Kajja!” Naraya mengerang pasrah.

_

“Jeongmal! Mereka itu sangat payah.”

Chanyeol yang begitu sampai ke lingkaran kelompok itu mencak-mencak.

“Mwo?” Yu Bin bertanya penasaran.

“YA! Tanya saja pada kedua orang itu.”

Chanyeol langsung menunjuk Naraya dan Kai yang baru berjalan ke lingkaran itu.

“Biar kutebak…,” Ria melirik ke arah Kai dan Naraya. Terlihat Kai sedang memperolok Naraya yang baru saja menubruk seorang murid dan Naraya yang merengut kesal, “Naraya, sering terjatuh? Atau sering kehilangan keseimbangannya?”

“Eoh, sehingga Kai dengan sukarela berjalan pelan dan menangkap siku Naraya jika gadis itu terpeleset jalan yang licin atau apapun itu. Kurasa 3 sampai 4 kali di perjalanan pertama. Pulangnya aku tidak tahu. Tapi mereka cukup cepat… sepertinya mereka berhasil berlari menyusul.”

Kali ini Chanyeol memijat pelipisnya sedikit emosi atau lebih tepatnya iri – punya orang yang disuka saja tidak malah melihat pemandangan sepasang kekasih begitu. Sedangkan Ria yang sudah sangat mengenal Naraya tertawa dengan puasnya.

“Kau sengaja kan?” Sehun menoel lengan Ria yang berguncang.

“Eoh, tidak seru jika kedua orang itu tidak bersama – yang sial dan yang menyelamatkan.” Ria terkikik geli.

“Mereka pacaran ya?” Yu Bin kembali bertanya.

“Andwae, Kai hanya korban kesialan Naraya saja,hehehe.” Ria menjawab pertanyaanya itu.

“YA! Berani-beraninya kau menebar fitnah.” Naraya yang baru muncul menjitak kepala Ria.

Yu Bin akhirnya berhenti bertanya, karena kedua makhluk yang sedang dibicarakan ternyata sudah datang. Pikirannya masih berpikir, mana mungkin, jelas-jelas terlihat seperti orang pacaran – pikirnya ngotot.

_

Game pertama, setelah didiskusikan. Chanyeol yang selaku ketua kelompok mengusulkan ide. Sekalian untuk pembalasan dendam.

“Kai-Naraya, Chan Rie-Tao.”

Chan Rie yang tidak terima langsung menarik leher baju Chanyeol, “Apa-apaan kau?!”

“Sudah, hanya games kan?” Tao berusaha melepaskan cengkraman tangan Chan Rie.

“AYO PESERTA KUMPUL!”

“Cih, lihat nanti.”

Chan Rie melepaskan cengkramannya, membuat Chanyeol bisa bernafas lega. Sehun dengan sukarela mengingatkan namja itu begitu Cha Rie dan Tao sudah menjauh.

“Lebih baik kau tidak macam-macam. Chan Rie kau tahu dia galak sekali. Tao jangan dikira, walaupun kelihatannya baik, tampang sangarnya tidak main-main. Ia jago martial arts.”

“…”

-:Lee Ria:-

“HIMNAEYOOO! NAKAI! CHANTAO!”

Aku berteriak seperti cheerleader di pinggir arena, sedangkan sekitar selusin pasangan berebut menggunting pita. Seharusnya aku bawa pom-pom ya? Sudahlah.

Mataku mengikuti pergerakan dua perwakilan kelompokku. ChaTao dengan mudahnya menggunting pita kelompok lain, mungkin karena Tao yang jago martial arts dan Chan Rie yang serius dan sangar? Entahlah pokoknya mereka tim yang cukup bagus. NaKai? Aku sudah hampir menggeplak jidatku sendiri melihatnya. Kai mungkin cukup gesit. Tapi Naraya? Bukan pilihan bijak. Hanya satu yang sedikit aku syukuri, kecerobohan Naraya cukup menguntungkan di dalam games ini. Terkadang Kai yang menunduk atau sedikit oleng akibat Naraya yang jatuh atau tersenggol membuat mereka terhindar dari gunting-gunting yang barbar itu.

Setelah bergelut dalam menyemangati, games pertama dimenangkan oleh kelompok kami, tentunya ChaTao, NaKai sudah bertahan saja bersyukur. Mian ya Naraya.

_

Kalau dengan dodge ball tidak ada yang spesial menurutku. Hanya lempar-lempar bola, peluh bercucuran dari dahiku. Yang dijaga? Chanyeol. Ternyata Chanyeol cukup lincah, sehingga kami semua tidak repot-repot untuk menjaganya. Tentu tetap ada Sehun yang bersiaga jika ada apa-apa.

Pemenang? Tim kami lagi ehehehe.

_

“Ya, pasti dingin.”

Aku menoleh ke arah Naraya, sahabatku ini sudah mengusap-usap tangannya.

“Gwaenchana, kau bawa baju ganti kan?”

“Eoh, tapi tetap saja…”

Aku tertawa kecil, wajah pasrah Naraya sedikit menghibur.

Setelah semua ember selesai di siapkan kami membuat barisan. Chanyeol yang paling tinggi diharapkan di depan saja. Jadi tidak ada yang harus mengangkat tinggi-tinggi pot bunganya untuk Chanyeol. Lebih mudah memperpendek daripada bertinggi-tinggi ria.

“JEONGMAL! Dingin sekali.”

Itulah yang di kumandangkan Chanyeol, saat namja itu pertama merasakan air dingin yang mengucur dari pot itu. Aku yang berada cukup belakang hanya merinding. Seakan memperparah, kelompok lain juga mulai berkeluh kesah dingin.

‘ya!’

‘Kya, dinginn!’

‘Dinginn!’

‘Yaaa’

‘kyaaaaa’

Dan sebagainya, yang membuat nyaliku ciut untuk menerima pot itu.

Tangan Naraya sudah mengoperkan pot itu, dengan menelan ludah aku mengambilnya. Kurasakan air dingin yang menetes di kepalaku.

“ARGHH, DINGIN!”

Yu Bin yang berada paling belakang, segera mengambilnya dariku, membuat aku merasa lega sesaat.

“Eoh, ayo oper ke depan lagi!”

Perkataan Yu Bin kemudian membuatku lemas. Aku baru ingat masih harus beberapa kali lagi, semoga saja aku tidak pilek. Aku berharap putus asa ketika setiap guyuran air dingin mencapai kepalaku.

Sedih, setelah perjuangan seperti itu kelompok kami tidak menang. Tapi kami sudah unggul duluan kan? Hehehe.

_

Games selanjutnya Soapy Balon Ball.

Yang ikut hanya lima orang, secara resmi aku dan Naraya tidak ikut. Jujur saja, aku tidak pintar lempar tangkap – untuk yang satu ini aku sepayah Naraya.

Yang mengikuti : Baekhyun, Yu Bin, Chan Rie, Tao, dan Sehun.

Hanya aku dan Chanyeol yang masih cukup bersemangat untuk menjadi penyemangat. Lyira yang feminim itu tidak mungkin. Namja yang lain – berkonsentrasi dengan ponselnya. Sedangkan Naraya,

“Hatchih!”

Aku menghembuskan nafasku pasrah, anak ini memang tidak kuat dingin.

….

Hasil akhir : Kalah.

Aku seketika kesal,

“Ya! Kenapa begini?”

Aku bertanya pada Baekhyun yang berjalan mendekat ke pinggir lapangan dengan tangan yang basah dan kuduga licin.

“Ini licin sekali! Belum balonnya itu berat dan tipis. Sekali jatuh beresiko pecah… Coba rasakan.”

Tangan Baekhyun meraih tanganku, membuatku merasakan air sabun. Refleks aku langsung memukulnya dengan botol minum.

“Appo!”

“Rasakan!”

Aku meninggalkannya, mencari tempat cuci tangan.

_

Menuju game ketiga aku sudah manyun duluan. Menang dua kalah dua, kalau kalah lagi bisa timpang. Karena itu aku dengan semangat menyingsingkan lengan bajuku. Tekadku di games kali ini harus menang. Tidak mau tahu lagi

Aku bersiap-siap dengan bola balon tipis ditanganku. Menyipit melihat lawanku sengit.

PLAK PLOK PLAK PLUK

Setelah lemparan-lemparan ganas ini, setelah beberapa babak kelompok kami menang juga. Tentunya dengan baju yang kami semua pakai berlepotan cat, bagi yang sering kena tentunya. Bajuku cukup bersih, membuatku membangga-banggakannya di depan Naraya.

“Naraya! Bajuku bersih lhoo!”

Naraya yang bajunya sudah beraneka warna itu cemberut dan memelukku tiba-tiba.

“ANDWAE! Apa yang kau lakukan hah? Bajuku jadi kotor.”

“Rasakan! Maumu saja bersih.”

Naraya memeletkan lidahnya, puas dengan hasil karyanya di bajuku.

Gelap.

Seseorang menutup mataku.

“Siapa???”

Aku mulai meraba-raba tangan yang menutup mataku.

“Tebaklah, hatchih! Ria-ah!”

Naraya yang berada di depanku langsung menyemangati bertepuk tangan.

“Chanyeol?”

“….”

“Baekhyun?”

“Kenapa kau menebak orang itu?”

Kali ini Chan Rie yang berbicara, sejak kapan dia ada? Aku tidak bisa mengetahuinya, mataku masih gelap di tutupi.

“Mereka lumayan jahil.”

“Eoh, kau ada benarnya…”(-_-“)

“Hmmm…,’

Aku kembali berpikir. Kai sepertinya tidak mungkin, kalau iya mungkin namja itu lebih memilih memperolok Naraya. Tao? Tidak. Dia masih memiliki kesenganan. DO, namja itu terlihat yang paling normal mungkin. Hanya satu orang…

“SEHUN!”

“Perfect!”

Sehun menjawab tepat dibelakangku, melepaskan mataku. Begitu aku menoleh aku lihat Sehun yang tersenyum padaku, mukanya berlepotan cat.

“Hei, kita sama sekarang, berlepotan.” Katanya polos sambil memasukkan tangannya ke saku – menyembunyikannya. Aku menatap ke arah tangannya yang ia sembunyikan. Di lihat keseluruhan dia lumayan berlepotan dengan cat.

“Mwo? Jadi itu tujuanmu!?”

“Perfect again.”

“YA!!!”

Sekarang aku sudah berlari-lari mengejar namja itu. Bisa-bisanya dia.

-:Naraya:-

Aku tertawa melihat Ria yang mengejar Sehun begitu tahu mukanya sudah berlepotan cat.

“Hahaha, pasangan bodoh.”

Aku merasa deja vu mendengar kalimat tadi. Kalimat yang belakangan ini lumayan aku sukai ketika melihat Sehun dan Ria. Chan Rie – ia yang berucap dan tertawa. Wajahnya lebih cantik dan hangat ketika tertawa. Jika saja Chan Rie bisa lebih ramah sedikit batinku. Entah mengapa aku masih enggan dengan Chan Rie, mungkin karena peragainya yang sangar.

“ISTIRAHAT!”

Suara pengeras suara itu seperti surga bagi setiap anak.

Tiba-tiba Lyira datang mendekatiku dan Chan Rie, membawa keranjang.

“Naya-chan, Rie-chan, bantu aku menyiapkan makanan. Aku dan DO yang memasak saat kau pergi berbelanja.” Yeoja manis itu meminta bantuan kami.

Setelah itu Lyira, aku, dan Cha Rie sibuk menyiapkan makanan, seperti piknik saja. Makanan yang di masak oleh Lyira-DO terlihat sangat menggoda.

“Wow, masakan ini kelihatannya enak!”

Chanyeol yang pertama menghampiri kami, baru saja tangannya ingin meraih mantou, tangannya di tahan oleh Lyira.

“YA! Panggil yang lain dulu!”

Aku sedikit ngeri – Lyira yang lembut itu bisa juga seseram Chan Rie. Tapi, Lyira lebih terlihat seperti ibu yang memarahi anaknya.

“Ah, Lyira, kau suka manga ya?”

Aku bertanya, karena tadi ia memanggil aku dan Chan Rie dengan akhiran –chan.

“Andwae, ibuku orang Jepang. Yu Bin yang sangat menyukai manga, bukan aku.”

Aku mengangguk –anggukan kepala. Mataku menyisir berbagai makanan yang ada. Melihat jjangmyun aku mengambil mangkok dan mengambilnya untukku. Memasukkan sesuap ke mulutku.

“Mashita~ daebak Lyira.”

Aku memberikannya acungan jempol.

“Ani, kalau aku tidak berguru pada DO pasti tidak akan seperti ini.”

“Ehehehe, ayolah.. ini enak sekali!”

“Kau!”

Chanyeol berjalan mendekat sambil menunjukku.

“Nde?”

“Kau makan duluan! Tidak adil! Tadi aku ingin mencicipi dulu tidak boleh.” Chanyeol mengerucutkan bibirnya.

“Oh…” aku menjawab seadanya, tidak terpikir kata-kata lain.

“Ish!”

Aku hanya menatap wajah memberengutnya ingin tertawa.

Setelah itu semua anggota datang dan mulailah acara piknik(?) yang meriah dengan berebutan makanan. Games-games ini memang melelahkan dan membuat lapar. Aku melihat tingkah mereka semua sambil meminum teh hangat yang di berikan oleh Lyira. Ia sangat pehatian, melihat aku yang bersin-bersin hebat sehabis Water Pass ia memberikan aku minuman hangat itu. Padahal aku sudah mulai sembuh.

“Ayo semua, berkumpul. Masuklah ke dalam mobil sesuai kelompok!”

Pengumuman itu seraya menghancurkan kenyamananku. Padahal tubuhku sudah mulai hangat.

Rafting, arghhh!

Setelah beres-beres, kami bersebelas beranjak menuju tempat parkir.

Pemandangan mobil-mobil offroad membuatku ngeri, menaiki mobil itu? Aku langsung merasa seperti prajurit yang akan dikirim perang saja. Buruknya, mobil ini sangat tinggi membuatku sedikit kesusahan menaikinya.

Syukurlah penderitaanku tidak berlangsung lama. Seseorang meraih pinggangku dan membantuku naik.

“Gomawo.”

Ternyata Kai yang membantuku naik, membuatku malu. Selalu saja namja itu yang membantuku di setiap kesempatan.

_

Setelah perjalan yang menembus hutan kami sampai di tepi sungai yang akan di pakai rafting. Para guru memberikan kami berbagai alat pengaman, helm dan sebagainya yang cukup memusingkan untuk di pakai. Tertalu banyak tali untuk di ikat.

“Ria! Kau bisa memakai ini?”

Aku berkutat dengan kaitan baju pelampungku.

“Eh?”

Aku mendongakkan kepalaku dan melihat Ria yang hanya berdiri diam dan Sehun yang membantunya memakaikan berbagai alat pengaman itu, Kai berada tidak jauh dari situ. Ia hanya terlihat bosan.

“Sini.”

Tiba-tiba Kai berjalan menghampiriku, berlutut membantuku memasangkan kaitan bajuku. Berikut juga dengan perlengkapan lain.

“Gomawo.”

“Gwaenchana.”

Ia mengecek kembali semuanya dan tersenyum padaku.

“Semua berkumpul. Ambil undian!”

Mendengar pengumuman itu Kai mengalihkan pandangannya dan langsung saja berlalu meninggalkanku.

“Ceh…”

Aku langsung menyusulnya menuju kerumunan dan menghampiri Ria.

Sulli-seongsaengnim yang memegang kotaknya. Sepertinya saem sedikit kesulitan, dan langsung di bantu oleh Minho-seognsaengnim.

Antrian yang terbentuk cukup panjang. Aku berjalan maju perlahan dengan Ria di depanku setiap satu orang sudah mengambil undiannya.

Sekarang giliranku. Tanganku akhirnya masuk ke dalam kotak itu. Aku mengocok sebentar isinya, mengambil cukup banyak dan melepasnya lagi beberapa kali. Begitu merasa yakin aku mengambil satu gulungan kertas itu. Aku membukanya perlahan. Angka 8 langsung tertera.

“Nomor berapa?”

“8.”

Aku menjawab Ria yang tadi sempat berdiskusi dengan murid yeoja lain.

“Haaaaa! Kita terpisah.”

Tangannya mengacung-acungkan kertas bernomor dua di depan mataku. Seketika aku langsung berjongkok.

“Jjinja? Aku harus bagaimana?”

Sudah menjadi kebiasaan aku tidak suka terpisah dengan orang yang kukenal dalam urusan games-games atau acara sekolah.

“KUMPUL!”

“Kajja! Tenanglah tidak akan apa-apa.”

Ria mengulurkan tangan membantuku berdiri. Aku menyambutnya, kami berjalan ke arah perahu yang sudah siap.

_

“Dah…”

Aku melambai melihat Ria yang baru saja duduk di perahunya.

“YA! Kita bertemu lagi kok! Dasar. Fighting!”

“Hahahaha. Fighting!”

Setelahnya aku melihat perahu Ria berangsur lenyap.Ria sudah pergi, mengakibatkan aku sendirian seperti anak hilang. Tidak ingin menghambat kelompok berikutnya aku berjalan menjauh. Menyepi di pinggir sungai yang arusnya deras itu, mencoba-coba merasakan air dari sungai itu. Tanganku langsung merasakan dingin begitu bertemu dengan air. Aku melamun menyenandungkan lagu evening sky – ailee, sepertinya Ria berhasil meracuniku dengan selera lagunya, setelah di dengar-dengar lagu itu lumayan juga. Melihat pantulan diriku di sungai yang airnya bening itu, sesekali tanganku bermain mengaduk-aduk air sungai itu.

“Tim 8!”

Pemberitahuan itu membuat aku kaget, tubuhku yang masih condong ke sungai itu kehilangan keseimbangannya.

“Woahhh…”

Detik berikutnya aku sudah melayang menyambut aliran air yang deras.

-:Kai:-

Aku memainkan kertas yang berada di tanganku. Tim 8. Aku sedang berjalan memperhatikan sekitarku, sampai mataku bertemu dengan sosok Naraya yang sedang duduk di berjongkok di pinggir sungai. Ck, apakah dia tidak lihat ada palang di larang mendekat? Aku berjalan menghampirinya.

“Tim 8!”

Aku mendongak sejenak ke arah panggilan itu.

Jarakku dan Naraya kira-kira 2 meter lagi. Aku membelalakkan mataku. Tepat di hadapanku, tubuh gadis itu oleng, terlihat sekali ia kaget.

DEGH

Jantungku tersentak kaget.

Sialnya jarak 2 meter tidaklah cukup. Aku baru sempat menangkap tangannya, ketika gadis itu sudah mencapai air. Dengan sigap aku menariknya, untung saja arusnya tidak begitu deras.

“Naraya! Irona!”

Aku membaringkannya di tanah, menepuk-nepuk pipinya perlahan. Sekujur tubuhku lemas, baru kali ini aku mengalami kaget sehebat ini.

Seketika kerumunan mulai terbuat. Di tengah-tengah kerumunan aku berusaha melakukan pertolongan pertama pada Naraya. Tanganku menekan dadanya lalu memberikan nafas buatan untuknya.

“Uhuk!”

Akhirnya air yang membuatnya tersedak keluar, membuatku sedikit lega.

Membelah kerumunan Youn Hee-seongsaengnim selaku bagian P3K mengampiriku, Naraya – pingsan tentu saja. Tubuhnya dingin sekali, bibirnya pucat.

 “Ayo! Bawa ke UKS.”

Aku berlari cepat membawa Naraya ke tenda secepatnya.

Bertahanlah babo…

TO BE CONTINUE…

3 thoughts on “[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 7)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s