Take a Drink Together (Chapter 7)

take a drink together

 

Take a Drink Together

Author
pearlshafirablue

| Do Kyungsoo (EXO-K), Kim Taeyeon (GG) |
Action, AU, Mystery, Romance
Multichapter (7 of ?), PG-15

“All of the characters belong to God and themselves. They didn’t gave me any permission to use their name in my story. Once fiction, it’ll be forevr fiction. I don’t make money for this.”

Inspired by Detective Conan The Series © Aoyama Gosho

Previous Chapter
Prolog . 1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6

A/N
Only for 15+! I’ve warned you.

-o0o-

Absinth. Minuman alkohol terkenal yang biasa dikemas dalam botol-botol kaca kecil. Merupakan fermentasi dari Grand Wormwood atau Artemisia absinthium, bersama dengan adas hijau, adas manis, dan tanaman kuliner lainnya. Kadar alkoholnya konon mencapai 74%. Absinth telah sering digambarkan sebagai obat psikoaktif berbahaya. Pada 1915, Absinth telah dilarang di Amerika Serikat dan di sebagian besar Eropa, termasuk Prancis, Belanda, Belgia, Swiss dan Kekaisaran Austro-Hungaria. Meskipun Absinth difitnah, belum dibuktikan lebih berbahaya daripada minuman alkohol biasa. Setiap sifat psikoaktif dan alkohol dikaitkan dengan Absinth dan dibesar-besarkan. Sebuah kebangkitan Absinth dimulai pada awal 1990, setelah adopsi modern Uni Eropa dan hukum makanan minuman yang dihapus hambatan lama untuk produksi dan dijual. Pada awal abad ke-21, hampir 200 merek absinth sedang diproduksi di berbagai negara, terutama di Perancis, Swiss, Amerika Serikat, Spanyol, dan Republik Ceko.

Absinth salah satu minuman beralkohol yang paling memabukkan. Dan tak jarang kasus hilang kesadaran terdengar setelah minuman ini beredar.

Ya, Absinth adalah code name dari Stephanie Hwang.

Sindikat Stephanie Hwang memang menggunakan role dengan nama minuman keras atau senjata untuk setiap code name-nya.

Terdengar klise.

-o0o-

Left Bank, Paris, Prancis.

Lantunan musik opera mengalun dengan lembut menemani sepasang sejoli yang nampak sedang memadu kasih di atas sebuah sofa krem di tengah-tengah ruangan. Sinar matahari senja menerobos masuk, memberikan sedikit cahaya temaram di ruangan kecil itu.

Lengan kokoh sang pria memaksa masuk ke bagian dalam pakaian si wanita—yang hanya terkekeh kecil saat bibir pria itu menciumi tengkuknya. Wanita itu mendesah, ikut menikmati apa yang sedang lelaki itu lakukan pada dirinya.

Jemari lentik si wanita dengan perlahan membuka satu per satu kancing kemeja pria di hadapannya. Matanya sayu—pengaruh dari vodka yang baru saja ia tenggak bersama dengan lelaki bermata rubah yang kini sibuk mencumbu dirinya.

Lelaki itu melepaskan bibirnya dari milik si wanita tatkala ponsel hitam keluaran Samsung miliknya berbunyi. Ia menggeram kesal, menyumpahi siapapun yang berani menganggu kesenangannya.

S’il vous plaît attendre[1].” Ucap lelaki berambut abu-abu itu seraya bangkit, membiarkan kemejanya yang sudah terbuka dengan sempurna tertiup angin dari pendingin ruangan yang berdiri kokoh di samping pintu.

Lelaki beriris hazel itu memicingkan mata saat melihat sederet nomor yang tertera di layar ponselnya. Bukan nomor daerah Eropa, apalagi Paris. Akan tetapi 11 digit nomor itu begitu familiar baginya. Ia perlu memutar otak berkali-kali untuk mengingat siapa orang yang tengah menghubunginya, tanpa memedulikan ringtone ponselnya yang terus-terusan memekik minta diangkat. Lelaki itu terpejam sesaat.

Kelopak matanya membuka dengan tiba-tiba saat sebuah nama terbersit di benaknya.

Buru-buru ia mengusap tombol hijau di layar touchscreen ponselnya itu.

“Stupid, where are you now?”

Vokal bercorak berat itu menembus telinganya. Ia menelan ludah, percaya bahwa orang yang tengah menghubunginya kini sama persis dengan bayangan di otaknya.

Why did you call me?” Ia menanggapi dengan tenang. Melirik sebentar ke arah wanitanya yang nampak sibuk bergelung di atas sofa.

Hey, ayolah. Jangan banyak basa-basi. Kau dimana sekarang? Aku membutuhkanmu.” Suara itu bertutur dengan bahasa Korea yang fasih.

“Wow, bahasa Koreamu makin lancar saja, Tiffany.” Lelaki itu terkekeh—tidak mengindahkan pertanyaan gadis yang dipanggil Tiffany itu.

Jangan sok akrab denganku, bodoh. Kau masih bawahanku.” Ketus Tiffany—atau Stephanie Hwang—dengan kasar.

“Bagaimana bisa kau menanggapku bawahan, Tiffany? Aku sepupumu!” Seru lelaki itu tidak terima. Buku-buku jarinya mengeras.

Bisnisku tidak mengenal nepotisme. Sekalipun kau suamiku, aku akan tetap menganggapmu bawahanku.” Desis Stephanie Hwang. Gadis itu menyingkap helaian rambut di hadapannya kemudian melanjutkan, “anyway, I need you now.”

“Cih. Kau membutuhkanku?” Suara lelaki itu terdengar meremehkan.

Jangan macam-macam. Kau belum keluar dari sindikatku secara resmi.

“Memang, tapi aku sudah ratusan kali nyaris terbunuh karena bergabung dengan organisasi payahmu itu, Tiffany.” Ulasnya kesal. Ia mulai mengancing kembali kemejanya.

Kali ini tidak terlalu berbahaya. Tapi cukup penting. Ada beberapa tikus yang harus kau habiskan.”

Mendengar pernyataan Tiffany, gelora semangat dalam diri lelaki itu meningkat. Iris hazel-nya memancarkan sinar amarah yang membara, “aku terima. Tapi kau tidak menyuruhku menjadi pengasuh kakek-kakek tua renta lagi ‘kan?” Tuturnya, mengungkit sebuah kasus yang berhubungan dengan seorang kakek berumur tigaperempat abad beberapa tahun silam. Ia terpaksa menjadi pengasuh kakek tersebut guna mendapatkan informasi mengenai sebuah perusahaan senjata di Los Angeles.

Tidak. Kali ini kau memang harus bersandiwara lagi. Tapi tenang saja, ini mudah. Bahkan dulu kau sudah pernah mengalaminya sendiri.”

“Mudah?” Lelaki itu terpekur sesaat. “Memangnya aku harus berpura-pura menjadi apa kali ini?”

Stephanie Hwang tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, menyimpan sejuta misteri di benak lelaki tersebut.

.

.

Murid sekolahan.”

-o0o-

Pyeongchang-dong, Seoul, Korea Selatan.

“Kurasa aku tidak bisa pulang sekarang.” Kyungsoo menimang-nimang serantai kunci di tangannya. Terdengar bunyi dentuman kecil saat masing-masing permukaan benda logam tersebut bersentuhan.

“Aku tahu.” Taeyeon beranjak dari meja pantry—melangkah menuju kulkas dan mengambil sebotol sirup. “Aku bisa menjelaskan semuanya kepada ibuku besok. Mungkin saat beliau kembali kita sudah terlelap.”

“Aku kurang yakin bisa tidur nyenyak malam ini.” Kyungsoo menorehkan sebuah sayatan besar di permukaan sandwich yang dialasi sebuah piring porselen tipis di depannya. Perutnya kosong, tapi tidak ada secuilpun hasrat dalam dirinya untuk sekedar mencicipi sandwich tuna buatan gadis di hadapannya kini. Kendati mayonnaise gurih yang mengisi ruang sempit dalam sandwich itu begitu menggugah selera.

“Apa lututmu sudah baik-baik saja?” Taeyeon duduk kembali di hadapan Kyungsoo seraya menuangkan sirup anggur tadi di gelasnya dan lelaki itu. Dirinya begitu cemas dengan keadaan fisik lelaki bermarga Do tersebut setelah apa yang lelaki itu lakukan untuk mencegah jiwa gadis itu terpisah dari raganya. Ya, tubuh Kyungsoo terbentur keras dengan aspal jalan saat Taeyeon mendarat di punggungnya dengan sempurna—tanpa luka. Dan lutut Kyungsoo nampaknya menopang beban paling besar, pasalnya lapisan kulit yang menutupi bagian tempurung lutut itulah yang mengeluarkan darah paling banyak.

Dan Dewi Fortuna akhirnya berpihak pada mereka. Taeyeon dan Kyungsoo berhasil pulang ke rumah dengan selamat dan tanpa dikuntit seorangpun—kendati sebagian besar tubuh mereka rusak parah.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan pundakmu?” Kyungsoo memutar bola matanya hingga kedua manik hitam itu berhenti sempurna di pundak sempit milik Taeyeon.

“Ah, bahkan sudah tidak terasa apapun.” Gumamnya dibarengi dengan sebuah senyuman tipis. Bagi Taeyeon, apa yang terjadi pada Kyungsoo tidak sebanding dengan luka gores yang ditorehkan oleh timah panas keemasan dari salah satu revolver milik orang-orang tadi di pundaknya. Ia tidak bisa mengeluh sedikitpun ketika sadar bahwasanya inilah makanan Kyungsoo setiap hari, rasa sakit yang tidak ada habisnya.

Taeyeon menghela napas berat, “Apa yang terjadi jika kau pulang?” Akhirnya pertanyaan itu terlontar dari bibir mungilnya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Kyungsoo jika lelaki itu berani menginjakkan kakinya di rumah Stephanie Hwang selarut ini. Apalagi dirinya tidak mendapatkan izin yang tulus dari wanita itu ketika pergi.

“Oleh karena itu aku belum bisa pulang sekarang. Seluruh tubuhku lumpuh total. Aku belum siap menerima hukumannya. Dengan keadaan tubuh seperti ini aku bisa mati.” Tutur Kyungsoo datar. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela—ke arah matahari senja yang berpendar sinar oranye. Senja yang jarang sekali bisa ia nikmati. Senja yang selalu ia lewatkan dengan meracik obat di laboratorium bawah tanah rumahnya.

“Tidak bisakah kau tinggal disini saja?” Mendadak Taeyeon bersuara. Terdengar sangat pelan—nyaris tidak terdengar. Pengaruh dari cairan bening yang kini sudah bergumul di pelupuk matanya. “Aku tidak bisa terima jika seorang anak yang masih dibawah umur sepertimu harus bekerja keras seperti ini untuk hidup. Kau seharusnya masih bisa bermain bersama anak-anak sebayamu, berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, belajar di perpustakaan sekolah, dan menikmati hidup yang singkat ini. Kau tidak seharusnya bekerja, apalagi bekerja dibawah tekanan untuk sebuah organisasi gelap yang illegal. Tidak bisakah kau tinggal? Aku berjanji akan merengek kepada ibu untuk menjadikanmu saudara angkat. Aku akan menjamin kehidupanmu disini, Kyungsoo. Asalkan kau tetap tinggal. Hidup sebagaimana anak-anak normal lainnya. Bermain, belajar. Bukan meneliti obat untuk kejahatan.”

Kyungsoo menoleh perlahan ke arah Taeyeon yang sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya. Mata lelaki itu melebar saat Taeyeon menunduk tatkala air matanya mulai menetes membasahi meja pantry. Terdengar isakan-isakan pilu dari mulut gadis itu. Ia sudah tidak peduli sama sekali dengan egonya. Yang ia inginkan saat ini adalah menumpahkan seluruh air matanya demi Kyungsoo. Ia rela menangis semalaman asalkan Kyungsoo mau tinggal disini dan melupakan segala hal mengenai Stephanie Hwang dan sindikatnya. Hati gadis itu selalu teriris setiap melihat luka-luka yang terpatri di tubuh Kyungsoo.

Kyungsoo tidak salah. Ia tidak berbuat sesuatu yang melanggar hukum dan aturan Tuhan. Tapi kenapa dirinya harus mengalami semua ini?

Tubuh Taeyeon bagai disetrum listrik 100 volt saat jemari Kyungsoo menyentuh pipinya yang basah oleh air mata. Gadis itu membuka mata lebar-lebar—terkejut dengan perlakuan Kyungsoo yang berusaha menariknya mendekat. Rasa damai yang begitu menyenangkan menyelubungi tubuh Taeyeon. Pori-pori kulitnya melebar, ikut menikmati sensasi hangat yang sudah menjalar hingga ujung kakinya.

Tiba-tiba Kyungsoo menempelkan bibir ranumnya di atas milik Taeyeon. Ia mengisapnya perlahan, berusaha untuk tidak menyia-nyiakan sedetikpun berada di dalam keadaan menyejukkan seperti ini. Tangannya berangsur-angsur bergerak ke punggung gadis itu, menariknya untuk semakin mendekat.

Sensasi asin yang ditularkan oleh air mata Taeyeon tidak menghentikan kegiatan Kyungsoo. Lelaki itu terus mencumbu gadis beriris madu itu bagai candu. Pun Taeyeon tidak keberatan. Ia membalas ciuman Kyungsoo dengan tulus. Membuat pria itu semakin larut dalam kecanduannya.

Akhirnya sebuah suara yang memekak  telinga berhasil membuat 2 insan itu saling melepaskan diri. Taeyeon buru-buru menoleh ke sumber suara—dan menemukan piring yang tadi digunakannya untuk menaruh sandwich sudah hancur berserakan di lantai.

Ia menoleh ke arah Kyungsoo—menahan malu, “Maaf.”

Gadis itu tidak berani lagi untuk menatap Kyungsoo barang sedetik setelah mengucapkan kata itu. Ia segera berjongkok dan memunguti pecahan-pecahan piring hasil dari keteledorannya.

“Biar aku bantu.” Tiba-tiba saja Kyungsoo sudah berada di sampingnya. Jari-jari panjang miliknya mulai bergerak menyentuh setiap potongan piring porselen yang bertebaran di atas lantai keramik pantry rumah Taeyeon.

Taeyeon mencuri pandang ke arah Kyungsoo. Dirinya tidak bisa tahan untuk tidak tersenyum melihat rona merah di pipi lelaki yang sebaya dengannya itu.

Akhirnya setelah tidak ada satupun keping tersisa, mereka berdua melanjutkan obrolan. Mereka hanyut dalam pembicaraan yang mengasyikkan hingga penunjuk waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 PM. Kyungsoo berhenti tertawa ketika Taeyeon menanyakan sebuah pertanyaan yang cukup melenceng jauh dari topik.

“Apa Jessica unnie dibunuh oleh Absinth?”

Suara Taeyeon memang pelan, tapi terdengar begitu keras di ruangan yang senyap itu. Kyungsoo menautkan kedua alisnya, heran dengan pertanyaaan tidak terduga dari gadis bersurai coklat tersebut.

Seolah mengerti, Taeyeon mengangkat bahu, “Aku hanya penasaran.”

Kyungsoo menggeleng, “Aku belum tahu soal itu. Tapi kurasa pelakunya memang Absinth—atau mungkin orang suruhannya. Yang jelas ia ada hubungannya dengan ini.”

“Dan…” Taeyeon menggantungkan perkataannya. Kyungsoo menunggu gadis itu melanjutkan, “apakah orang-orang yang mengejar kita tadi juga ada hubungannya dengan wanita itu?”

Deg.

Kyungsoo tidak pernah berpikir mengenai hal ini sebelumnya. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah Taeyeon. “A-apa?”

“Yah, aku hanya bertanya soal orang-orang yang mengejar kita tadi siang. Mungkin mereka suruhan Absinth.” Ulas Taeyeon sambil menaikkan kedua alisnya.

Pernyataan polos gadis itu berhasil membentuk sebuah misteri baru dalam otak Kyungsoo. Ia terpejam sesaat.

Jika benar itu perbuatan noona, apa alasannya? Hal itu terlalu berbahaya jika hanya sekedar hukuman atas pembangkanganku tadi. Apalagi mereka menyerang di depan Taeyeon, yang berisiko besar mengetahui seluruh rahasia mengenai noona dan organisasinya.
Noona tidak mungkin nyaris membunuhku seperti tadi, ia masih sangat membutuhkanku atau proyek besarnya akan gagal.

Lantas, apa tujuannya?

Mendadak sebuah bayangan mengerikan terbersit di otaknya. Kelopak mata lelaki itu membuka tiba-tiba. Romanya menegang. Darahnya berdesir kencang. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Pelan-pelan, lelaki itu merotasikan bola matanya ke arah sesosok gadis—yang kini tengah sibuk dengan iPad putih di tangannya. Gadis itu tenggelam dalam keasyikannya—sampai tidak menyadari tatapan cemas dari Kyungsoo.

Mungkinkah…

.

.

… Taeyeon?

-o0o-

Bandara Internasional Incheon, Seoul, Korea Selatan.

Seorang pria berbalut kemeja putih dengan corak hitam dan celana jeans berwarna senada melangkah dengan angkuh di tengah-tengah kerumunan orang yang nampak sibuk dengan urusan masing-masing. Hidungnya menyangga kacamata hitam keluaran Gucci ditambah dengan jaket kulit bermerek Guess yang bertengger di pundak bidangnya. Tubuh jangkungnya terlihat seperti etalase berjalan, berbanding terbalik dengan seorang pria ringkih beruban yang berjalan di samping dirinya, menyeret koper besar hasil produksi dari brand Italia milik pria berhidung lancip tersebut.

Dua pria itu menghentikan langkah mereka ketika seorang pengemudi Mercedes hitam keluar dari mobilnya dan melambai kaku ke arah mereka.

Pria berkemeja putih berjalan lebih dulu, mendekati pengemudi mobil yang menduduki peringkat ke-5 sebagai mobil paling diminati di dunia tersebut.

Ia mengangkat sudut bibirnya, membentuk sebuah seringai ketika kedua manik matanya yang ditutupi oleh kacamata hitam bertemu dengan manik mata pria pemilik Mercedes tersebut. Pria itu merespon dengan mengulum senyum, dirinya terpaksa mendongak ke atas karena tinggi tubuhnya terbilang sangat standar dibandingkan tubuh pria jangkung di hadapannya. Kedua pria tersebut sudah saling mengenal cukup lama, pasalnya mereka bekerja pada perusahaan yang sama, perusahaan milik Stephanie Hwang.

Pria jangkung tersebut berbeda dengan Stephanie, yang menjujung tinggi perbedaan kasta—sekali bawahan, selamanya akan menjadi bawahan yang tidak patut dihormati. Kendati bawahannya, pria bertubuh pendek tersebut sudah ia anggap sebagai teman sendiri.

Akhirnya setelah cukup lama saling menatap, si pria pendek mengulurkan tangannya,

Welcome back, Mr. Huang.”

.to be continued.

Dictionary
[1] Tunggu sebentar

P.S
Akhirnya update chapter 7! Gimana? Maaf kalo ceritanya makin ribet/.\ DON’T FORGET TO DROP A COMMENT!

7 thoughts on “Take a Drink Together (Chapter 7)

  1. Sekian lama ku menunggu chapter ini, akhirny dpublish jga😉
    ceritanya ga pernah mngecewakan thor, good job:-)
    cepetan publish next chapternya

  2. Aihh.. Chap ini kenapa bgtu so sweet.. *0*
    Pas kyungsoo nyium taeyeon aku mlah ikut senyum” sndri.. Zitao jdi apaan dsini.. O_O Lanjut thooor..

  3. Omo.. Omo.. Omooo.. kenapa bias ku ikutan disini..?? Mr. Huang ku.. abang panda ku T.T *lebay amat dah*
    aigoo.. Thor, abang panda ku jangan diapa-apain ya? hiks T.T

    author yang satu ini emg hebat bngt bikin penasaran >…< #bnyk bgt dah mau'y# hehhehe😀 keep writing😀

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s