BEAUTY & BEAST – Chapter 2

Image

Title : Beauty & Beast – Chapter 2

Author : Choi Seung Jin

Genre : Fantasy, Historical, Supernatural, OOC

Ranting : General Audience

Leigth : Chaptered

Cast :

Luhan as Leonardo

Sehun as Stephan

Kai as Alexander

Chanyeol as Richard

Tao as Edison

Kris as Kevin

Suho as Francis

Baekhyun as Bernard

D.O as Thomas

Xiumin as Michaelangelo

Lay as William

Chen as Donald

Note                      :

  • SEMUA MEMBER EXO MEMILIKI UMUR YANG SETARA, YAITU 17 TAHUN!! Buat yang menurut readers gak cocok untuk usia 17 tahun, anggap saja muka mereka itu boros’-‘)
  • Ingatlah English name para member EXO. Karena author akan menggunakan nama itu daripada real name atau stage name mereka.
  • English name para member EXO author dapatkan dari http://ohsehunnie1.com/post/43130943930/exos-english-spanish-and-french-names

***

Seung Jin is baaaaaack!!!^^~ Kembali dengan Chapter 2 hahaha ><

Respont Chapter 1 nya semua baik^^ Terima kasih udah mau baca yang pertama. Terima kasih juga buat yang udah komen dan kasih kritik. Jinnie (panggilan akrab author #aww) mau ngasih bocoran nih buat Chapter 2 ini. Di chapter ini udah mulai ada efeknya nih. Efek apa? Nanti readers juga tau😀

Sebelumnya, Jinnie mau minta maaf kalau pengunaan kata-kata di chapter ini kurang bagus. Maklumlah… Jinnie baru jadi author ._. Mohon dimaklumi😀

Seperti biasa, kalau kalian punya kritik, saran, atau ide, bisa kasih tau Jinnie aja J Jinnie terima semua^^ Supaya Jinnie bisa lebih baik chapter-chapter selanjutnya. Gamshamnisa^^~

Enjoy the Second Chapter^0^)/

***

Leo berlari mengejar waktu. Tak jarang dia menabrak murid-murid lain yang masih lalu-lalang disepanjang koriodr. Sekarang sudah lewat 5 menit sejak bell pelajaran pertama berdering. Jika dia tidak sampai di kelas lukis setidaknya 2 menit lagi, dia benar-benar akan terlambat. Bagaimana bisa dia terlambat dihari kedua sekolah. Itu memalukan.

Dia bangun kesiangan dan Stephan tidak membangunkannya. Teman sekamar macam apa Stephan itu. Ingin rasanya memukul kepala Stephan yang tidak membangunkannya. Tapi Leo tidak bisa menyalahkan Stephan sepenuhnya. Jika juga harus menyalahkan jam wekernya yang tidak berbunyi pagi ini.

Leo langsung menyambar kenop pintu kelas lukis tanpa berpkir untuk mengetuk pintu dulu. Pintu terbuka begitu saja saat dia memutar kenop dan mendorong pintu kedalam. Semua mata tertuju pada Leo yang masuk begitu saja—dengan nafas tidak teratur dan wajah yang berkeringat.

“Maaf—saya terlambat,” ucapnya terengah.

“Kau datang tepat waktu, nak. Pelajaran baru saja akan dimulai,” ujar seorang wanita yang menjadi guru di kelas lukis. Wanita bertubuh jangkung dengan wajah lonjong dan dagu lancip juga hal yang paling menganggu, yaitu lipstick merah yang dipakainya.

“Kau pasti murid baru. Silahkan tempati tempatmu.”

Leo segera beralih ke bangku didepan kanvas kosong yang sepertinya sudah disediakan untuknya. Dan bagusnya, ada Stephan disebelahnya.

Buukk..

“AWW!! Kenapa kau memukulku??” tanya Stephan kesal yang mengelus lengannya yang dipukul Leo dengan buku setebal 179 halaman.

“Kenapa kau tidak membangunkanku, hah??” tanya balik Leo yang tidak kalah kesalnya.

“Aku ini juga kesiangan. Aku tidak sempat membangunkanmu. Kau sendiri kenapa bangun kesiangan?” balas Stephan.

Mereka berdua mulai marahan. Mereka sama-sama tidak mau disalahkan. Seperti anak kecil saja. Bahkan disepanjang pelajaran lukis, mereka nyaris tidak berbicara satu-sama lain jika guru tidak memberikan tugas melukis yang membuat mereka sering pinjam-meminjamkan cat.

Guru menugaskan mereka melukis secara profesional ada yang ada dipikiran mereka atau yang sedang mereka pikirkan. Walaupun ditugaskan melukis secara profesional, mungkin sebagian anak tetap mengunakan sisi amatir mereka dalam melukis.

Melukis apa yang sedang dipikirkan? Yang dipikirkan Leo sekarang adalah…

***

Waktu menunjukkan pukul 15.30 sore. Seharusnya semua siswa sekarang dalam free time dan bebas berkeliaran didalam lingkungan sekolah sebelum jam 18.00 sore. Tapi sepertinya tidak semua siswa menggunakan jatah free time mereka. Seperti Leo dan Stephan yang menghabiskan waktu mereka di taman sekolah.

“Come on, Leo. Kau bisa melanjutkannya besok,” keluh Stephan kepada Leo yang tengah asyik menyelesaikan tugas melukisnya. Entah apa yang Leo lukis sehingga tidak mau berhenti.

“Sebentar lagi juga selesai,” balas Leo singkat.

Stephan memutar bola matanya tidak perduli dan memutuskan kembali beralih ke buku yang dari tadi dibacanya.

Leo terus melanjutkan kegiatannya saat ini. Dia terlihat bersemangat dalam menyelesaikan tugasnya itu. Dia seakan tidak mau berhenti bahkan untuk sekedar merenggangkan otot-ototnya. Dia sama sekali tidak ingin melepaskan kuas dari genggamannya.

Lama-kelamaan Leo merasa gerah. Udara terasa panas baginya. Bahkan dia berkeringat.

“Hari ini panas ya?” gumam Leo yang mengelap keringatnya dengan sapu tangannya.

“Panas? Ini musim gugur. Bagaimana bisa bisa panas?” bantah Stephan tidak setuju.

Leo semakin merasa kepanasan. Bahkan wajahnya sampai memerah. Keringat terus mengalir membasahi wajahnya.

“Kau kenapa?” tanya Stephan.

“Panas sekali disini,” keluh Leo terus.

Rasa panas terus terasa semakin panas seperti terbakar, terlebih dibagian dada. Seakan-akan ada api yang menyala didalam tubuhnya. Leo jatuh dari kursinya ke atas rerumputan. Dia semakin merasa kesakitan.

“Hey, Leo! Kau kenapa? Leo!”

Berberapa murid yanga ada disekitar taman mulai mendekat ke arah Leo yang berlutut kesakitan ditanah. Namun mereka kembali menjauh setelah sesuatu terjadi pada Leo. Kuku-kukunya mulai menghitam dan bahkan memanjang membentuk cakar. Kulitnya memucat seperti orang mati. Dan matanya. Matanya berubah menjadi merah menyala—sangat mengerikan.

Leo terus mengerang kesakitan. Kuku-kukunya mencengkram tanah kuat. Badannya terasa panas dan begitu sakit. Dia semakin mengerang atau bahkan meraung seperti binatang. Semua murid yang ada di taman semakin takut dan panik.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keadaan menjadi hening. Leo sudah berhenti mengerang kesakitan—menelungkup diatas tanah begitu saja. Semua orang mengira Leo pingsan karena dia sama sekali tidak bergerak.  Atau mungkin tidak. Dia mulai bangkit berdiri. Caranya berdiri mulai terasa aneh. Seperti zombie, tangannya lemas dengan kepala tertunduk kebawah menyembunyikan wajahnya, dia berdiripun tidak tegap.

“Leo?” panggil Stephan pelan yang membungkukkan badannya agar dapat melihat wajah Leo.

RAAAAAWWWR..

Brukk..

Tiba-tiba dua orang menabrakkan badan mereka ke arah Leo yang nyaris menyerang orang-orang yang ada didepanya. Salah satu melingkarkan lengannya pada leher Leo dan yang satu lagi mendorong badan Leo sehingga Leo benar-benar terjatuh ke tanah. Mereka berusaha menahan Leo agar tetap ditanah dan tidak menyerang orang-orang yang ada. Alex dan Richard terus menahan Leo yang terus berontak.

“Siapapun, panggil Pak Jim! CEPAT!” perintah Alex masih melingkarkan lengannya di leher Leo. Berberada murid langsung berlari kedalam gedung sekolah dan sisanya masih tetap menonton kejadian itu.

“Stephan! Bantu aku!” Stephan langsung membantu Richard memegangi kaki dan tangan Leo.

Pegangan Richard terlepas begitu saja. Leo memanfaatkan kesempatan itu dan membuat pukulan keras pada wajah Alex. Dia juga menendang jauh Stephan yang memegangi kakinya. Dia melompat berdiri. Tatapannya tajam—marah. Dia siap menyerang lagi. Menyerang 3 orang yang berusaha menjatuhkannya lagi.

Ziiip..

Leo jatuh tak sadarkan diri saat sebuah kilatan hijau menabraknya.

****

Dia membuka matanya yang terasa berat. Silau cahaya lampu langsung menusuk indera penglihatannya. Kepalanya terasa sakit saat ia benar-benar bisa membuka matanya. Dia bisa merasakan empuknya ranjang yang ia tempati, juga bau obat-obatan. Leo sadar dia sudah berada rumah sakit sekolah.

Dia mengedip. Tiga kepala sudah berada diatasnya sekarang. Wajah-wajah itu memandangnya. Salah satu dari mereka terasa familiar bagi Leo. Yang lain mungkin terasa asing. Laki-laki berkulit coklat dan yang bertubuh tinggi.

“Apa dia sudah sadar?” terdengar salah satunya bertanya pada yang lain.

“Sepertinya,” jawab yang lainnya.

“Yap, dia sudah sadar,” kata Stephan menyimpulkan.

Leo mengedip kembali memperjelas penglihatannya.

“Di..dimana ini?” tanya Leo pelan.

“Kau di rumah sakit sekolah,” jawab laki-laki berkulit gelap itu.

Leo berusaha duduk ditempatnya dibantu oleh 3 orang itu. Kini dia benar-benar bisa melihat jelas tempat dimana ia sekarang. Ruangan itu begitu bersih. Ada berberapa ranjang di ruangan ini. Dia melihat ke arah sekeliling. Berberapa guru juga Pak Jim berdiri di depan ranjang Leo dengan wajah yang khawatir.

“Kau tak apa, nak?” tanya Pak Jim mendekati Leo.

Leo tampak bingung. Dia hampir tidak mengingat apa yang terjadi padanya sehingga dia bisa ada disini. Dia melempar pandangan pada Stephan memberi isyarat. Dia kembali memalingkan wajahnya ke arah Pak Jim dengan perasaan bingung.

“Apa yang terjadi?” tanya Leo bingung.

“Kau tidak ingat apa-apa, nak?” Pak Jim bertanya balik. Leo menggeleng cepat.

Pak Jim pergi begitu saja dengan guru-guru yang ada di ruangan itu tanpa bilang apa-apa. Leo semakin bingung dengan apa yang terjadi.

***

Leo kembali ke dorm bersama Stephan, Alex dan Richard. Dia berjalan dengan memegangi dan menempelkan sekantung es pada bagian kepalanya yang sakit seperti habis dipukul keras.

“Sebenarnya apa yang terjadi, hah? Apa aku habis menabrak sesuatu?” tanya Leo penasaran.

“Tidak bisa dibilang seperti itu juga,” jawab Stephan

Dalam perjalanan mereka bertemu berberapa murid yang masih berkeliaran di koridor sekolah. Murid-murid yang melihat Leo terlihat seperti takut dan mempercepat langkahnya. Hal itu membuat Leo semakin bingung.

“Kau lihat tadi? Mereka melihatku seperti sedang melihat hantu,” kata Leo kesal.

“Nanti akan kami ceritakan,” kata Stephan.

~Dorm. Leo & Stephan’s Room~

“WHAT????” teriak Leo.

Dia kaget saat Alex menceritakan apa yang terjadi pada Leo tadi sore. Siapa yang tidak kaget jika seseorang menceritakan bahwa kau bertingkat seperti werewolf di taman sekolah.

“Tenang saja. Bukan hanya kau yang mengalaminya,” kata Richard santai.

“Maksudmu?”

“Kami bertiga juga pernah mengalami kejadian seperti itu dan juga berberapa anak lain. Bahkan aku sudah 3 kali,” kata Richard.

“Aku, Richard, Stephan, Thomas, Bernard, Kevin, Donald, Michael, Francis, Will, dan Edison. Semua pernah mengalami kejadian sepertimu,” tambah Alex. “Tapi tidak jarang kejadiannya lebih parah darimu.”

“Saat itu Richard sedang ada di ruang lukis. Lalu dia mulai bertigkah aneh. Sama sepertimu. Dia mulai membuat ruang lukis berantakan. Yang lebih parahnya lagi, dari tubuhnya keluar api yang nyaris membakar ruang lukis atau bahkan gedung sekolah,” jelas Stephan.

“Kalau Michael, saat itu dia sedang ada di ruang matematika. Tiba-tiba kelas menjadi dingin bahkan sangat dingin atau bahkan dia membuat kelas sampai membeku. Yang paling mengerikan adalah Donald. Saat itu terjadi, dia sedang ada di taman bersama Thomas dan Bernard. Dia mulai menyerang orang-orang. Dan saat dia semakin marah, awan menjadi hitam dan banyak petir yang menyambar. Sekitar 5 murid jadi korban meski mereka tidak mati,” tambah Alex semangat.

“Kau tidak perlu takut. Kau tidak sendiri,” kata Richard seraya menepuk pundak Leo.

“Tidak seharusnya kalian membicarakan soal ini.”

Seorang murid lain sudah berdiri dikusen pintu. Entah sudah sejak kapan dia disana mendengarkan pembicaraan 4 orang yang berada dalam satu tempat itu. Laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah dingin sedingin es.

“Bukan kah si Tua itu sudah pernah memberitahu kita.”

Ada lagi. Laki-laki jangkung lain dengan kantung mata yang besar yang membuat matanya seperti mata panda.

“Kevin. Edison. Kami hanya penasaran,” kata Richard alasan.

“Masalah besar berawal dari rasa penasaran, bukan?” Ucap Kevin dingin.

“Memangnya kau sendiri tidak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kita semua, hah? Kita bertingkah seperti monster. Apa itu tidak aneh?” Kata Alex dengan sedikit nada marah. Sejak awal, dia memang tidak terlalu suka dengan Kevin yang bertingkah dingin dan sok.

“Itu kutukan. Apa tidak terpikir oleh kalian?” Jawab Edison.

Leo terkekeh. “Curse? Are you kidding me? Apa kau terlalu banyak membaca buku cerita? Ini 1982. Tidak ada yang nama kutukan. ”

Sepertinya perkataan Leo sedikit—atau mungkin memang—menyinggung Kevin. Ia tampak tidak suka. Dia berjalan mendekati Leo dengan tatapan menyebalkan, seperti memandang remeh. “Kalau bukan kutukan, lalu kau namai apa itu, clever boy?”

“Lagipula… Ini malam bulan purnama, kan? Let see what will happen with us.”

***

“Who are you?”

 

“Who are we? Inilah kami. Kami yang ada dalam tubuh kalian semua.”

 

“What creatures are you?”

 

“Something you will know.”

 

“Why you here? What this is all about?”

 

It’s all about me and my brothers who imprisoned in you.

 

“Why? Why us?”

 

“This is your curse. Face it!”

RAAAWWWWR… AWOOOOOOO..

***

Terang. Cahaya matahari masuk kedalam melewati celah jendela menusuk mata yang masih tertutup. Kicauan burung bagaikan lagu yang langsung menyambar indera pendengaran.

Leo terbaring menelungkup diatas lantai yang lembab disisi dinding yang juga sama lembabnya. Bisa dirasakan diatas alat perabanya. Untuk sesaat dia berpikir bagaimana dia bisa ada ditempat seperti itu.

Dia membuka matanya perlahan. Kilau cahaya membuat matanya sakit.  Pandangannya masih buram saat pandangan pertamanya hari ini. Dia mengedip. Ada berberapa bayangan lain didepannya.

Dia mengedip lagi. Ada sekitar 3 sampai 4 orang yang ada didepannya yang duduk dan berdiri.

Kesadarannya berkumpul perlahan. Logikanya belum sepenuhnya bisa berjalan. Leo mencoba bangkit. Tapi ada sesuatu yang menahannya.

“Wh—what?” Gumamnya lemah.

Tubuhnya tidak bisa digerakan secara bebas. Seperti ada beban berat yang menahan kaki dan tangannya. Rantai tebal menempel kuat pada dinding—mengikat kedua pergelangan tangan dan kakinya. Rantai-rantai ini benar-benar kuat dan berat. Kenapa dia bisa dirantai?

Dia memandang sekeliling. Ruangan ini cukup redup. Hanya diterangi oleh berberapa obor dan cahaya matahari yang masuk lewat jendela. Dindingnya hanya berupa bata kuat yang disusun tanpa dipoles cat sedikitpun. Deretan baja kuat berjajar sebagai pintu ruangan itu. Ini… Bukankah ini penjara bawah tanah? Atau hanya mirip saja?

“Kau sudah bangun rupanya,” gumam seseorang.

Leo menangkap bayangan seseorang yang tak jauh darinya. Laki-laki tinggi yang berdiri bersandar pada dinding. Pakaiannya lusuh dan penuh dengan lumpur. Kedua kaki dan tangannya dirantai kuat pada dinding. Kevin.

“Kau tidur lama sekali. Sepertinya kau mengalami kejadian paling buruk.”

Suara itu. Stephan? Dia ada di dalam ruangan ini juga? Dan dirantai juga?

Leo menatap Stephan bingung setengah mati. Pikirannya nyaris kosong. Dia bahkan berpikir apa dia sedang bermimpi atau tidak.

“Tidak usah bingung. Bukan hanya kau saja yang dirantai disini. Kita semua juga,” Stephan berkata.

Pandangan Leo beralih. Memang bukan hanya dia saja. Ada 11 orang lain yang dirantai disana bersamanya.

“Kenapa… kita dirantai seperti ini?” Tanya Leo panik.

“Aku tidak tahu pasti. Mungkin kita bertanya pada orang yang memenjarakan kita disini,” ucap Stephan menunduk polos.

“Apapun yang kita lakukan pastilah sangat buruk,” gumam salah seorang laki-laki diujung ruangan bundar itu.

Kondisi mereka berduabelas sama, yaitu masih mengenakan piama tidur mereka lengkap, kecuali dengan alas kaki. Dan mereka semua tampak kacau. Berantakan dan kotor. Bahkan ada berberapa yang memiliki luka-luka kecil diwajah dan badan mereka.

“Kau pasti Leo. Anak baru itu, kan? Aku Bernard,” kata laki-laki tadi. “Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk berkenalan.”

Laki-laki yang mengaku sabagai Bernard itu memiliki tubuh kecil—setidaknya lebih kecil dari Leo. Piyama biru yang dikenakannya sudah sobek dibagian lengan dan dada.

Jadi dia itu Bernard, batin Leo sambil berusaha mengahafal wajah Bernard. Stephan, Alex, Richard, Kevin, Edison dan Bernard. Mungkinkah sisanya adalah Francis, Donald, William, Michael, dan Thomas?

“Sudah berapa lama kita sini?” Tanya Leo lagi.

“Hampir 2 hari mungkin. Kau bangun paling terakhir,” jawab Stephan.

“Apa mungkin kita bertingkah seperti werewolf lagi secara bersamaan?” Ucap laki-laki lainnya yang menggunakan kedua jarinya sebagai tanda kutip pada kata ‘werewolf’. “I’m Donald, by the way.”

Donald. Tak salah lagi. Mereka semua adalah murid-murid yang menerima beasiswa, batin Luhan penuh kecurigaan.

Tinggal empat orang lagi yang belum dikenali.

“Mungkin saja. Dan sepertinya sekarang kali ini sangat parah sampai-sampai kita dirantai seperti ini,” kata Edison berkesimpulan.

“Sudahlah. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bisa keluar dari sini dan mencari tahu apa yang terjadi,” seorang laki-laki lain langsung memecah suasana. Dia duduk ditempat paling ujung ruangan itu. Laki-laki berpipi chubby. Seperti yang lainnya, keadaannya juga berantakan. Ia tampak sudah cukup frustasi dengan apa yang ia alami sekarang.

“Mike benar. Kita harus mencari cara agar bisa keluar dari sini. Sekarang kita hanya perlu menunggu sampai orang yang mengurung kita disini datang kemari.” Seorang laki-laki yang jaraknya tidak begitu jauh dari Leo mulai berbicara sejak dari tadi tidak bersuara.

Dia memanggil laki-laki berpipi chubby itu dengan nama Mike. Itu artinya laki-laki tadi adalah Michaelangelo. Dan sisanya pasti Francis, William dan Thomas.

Keadaan menjadi hening. Hanya terdengar suara gemericikan rantai yang bergoyang. Duabelas laki-laki yang dikurung disana tidak berbicara satu sama lain, seperti sedang merenungi nasib mereka. Tiba-tiba berada dalam ruangan yang gelap dan lembab dengan kaki dan tangan dirantai kuat adalah kejadian paling memilukan yang pernah mereka alami.

Suara langkah kaki memecah keheningan. Langkah kaki yang banyak—berjalan mendekati pintu jeruji yang berdiri kokoh. Ini saat yang ditunggu oleh dua belas remaja yang dirantai itu. Mereka butuh penjelasan tentang alasan mereka dikurung—atau lebih tepatnya dipenjara—seperti ini.

Ada sekitar 3 orang yang datang dan salah satunya membuka pintu jeruji itu dengan kunci yang dibawanya.

“Selamat pagi, anak-anak!”

“PAK JIM?” kedua belas remaja itu berteriak serentak—memandang pria gemuk yang ada didepan mereka yang tidak lain adalah kepala sekolah mereka sendiri.

Orang tua itu berjalan kearah murid-muridnya yang ia kurung sendiri dan membuka rantai mereka satu persatu tanpa bicara sepatah kata pun.

“Kenapa bapak mengurung kami disini? Dan merantai kami semua? Dua hari kami disini,” Luhan langsung melontarkan pertanyaan secara bertubi-tubi saat Pak Jim membukakan ikatan rantainya.

“Maaf karena aku mengurung kalian disini. Dan baru sekarang aku bisa melepaskan kalian. Aku harus memulangkan semua murid dan memberikan mereka libur panjang. Baru aku bisa mengeluarkan kalian,” jelas Pak Jim sambil terus melepaskan rantai-rantai itu.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Pak?” Francis bertanya langsung tanpa ingin mengulur waktu.

Pak Jim hanya diam. Dia masih sibuk membukakan rantai yang masih terpasang kuat. Bahkan saat pertanyaan itu diulang berberapa kali. Sikap Pak Jim membuat murid-muridnya semakin penasaran. Tapi sayangnya untuk saat ini Pak Jim belum mau bicara.

“Pergi ke dorm kalian. Mandilah. Kutunggu kalian di ruanganku.” Pak Jim pergi bergitu saja saat dia selesai membukakan semua rantai.

Oh, no. We are in trouble..

***

“Sekolah ini benar-benar kosong,” gumam Bernard—memandangi sekelilingnya bersama 11 orang lainnya dalam perjalanan mereka menuju ruangan Pak Jim.

Mereka semua sudah selesai membersihkan diri mereka yang kotor dan lusuh, mengganti pakaian mereka dengan seragam bersih meski berberapa dari mereka tidak berpakaian dengan rapih.

“Tanganku rasanya sakit karena rantai-rantai itu,” keluh Thomas. Dia sedari terus mengeluh tentang tangannya yang sakit.

“Rantai-rantai itu benar-benar menyiksa,” tambah Bernard.

Keluhan-keluhan itu tidak bisa dibantah. Rantai-rantai itu memang berat dan mengikat kuat, maka dari itu membuat tangan dan kaki sakit.

Mereka berduabelas berjalan bermalas-malasan—kelelahan setelah hampir 2 hari dipenjarakan dipenjara bawah tanah. Terlebih Leo yang baru saja sadar sehingga dia belum makan selama 2 hari.

“Badanku sakit semua.” Kini giliran Edison yang mengeluh.

“Badanku juga. Tulangku seperti remuk semua,” keluh Thomas ikut-ikutan.

Mereka semua benar-benar kelelahan. Thomas berjalan dengan lengannya yang menggantung pada leher Alex supaya Alex bisa membantunya berjalan lebih cepat. Edison juga mengantungkan badannya yang sakit semua pada Kevin.

“Ada apa dengan si anak baru itu? Apa dia sakit?” Semua pandangan beralih pada Leo saat Kevin bertanya seperti itu. Leo terlihat lemas dan sedikit pucat. Mungkin dia tidak bisa berjalan jika Stephan tidak membantunya berjalan.

“Sepertinya dia kena flu dan sedikit demam,” jawab Stephan sedangkan Leo hanya diam saja.

Ada sesuatu yang memenuhi pikiran Leo. Mengganggu sekali. Sebuah bayangan percakapannya dengan orang lain, bahkan dia sendiri tidak yakin kalau dia pernah melakukan percakapan itu. Dia tidak ingat siapa teman bicaranya. Berberapa pertanyaan dan jawaban tidak bisa ia ingat sepenuhnya.

“Aku lapar,” gumam Leo spontan.

Apa yang ia pikirkan sebenarnya berbeda dengan yang ia ucapkan. Dia ingin mengucapkan “Ada sesuatu yang memenuhi pikiranku”, tapi yang keluar adalah kata-kata “Aku lapar”.

“Ooh.. Benar juga. Kau tidak makan 2 hari,” kata Richard—memutuskan untuk menyambar lengan Leo dan melingkarkannya ke lehernya.

Tapi Leo melepaskan kedua lengannya yang menggantung pada leher Stephan dan Richard. Dia menolak untuk dibantu. “Aku ini hanya lapar. Bukannya tidak bisa berjalan sampai harus dibantu seperti ini.”

Mereka berjalan menelurusi koridor sekolah—menuju sebuah ruangan yang disebut Ruangan Kepala Sekolah. Suasana sangat sepi. Tidak ada murid-murid yang berjalan, mengobrol bahkan berlari-lari disepanjang koridor. Biasanya banyak murid-murid yang masih berkeliaran diluar kelas sebelum bel berbunyi atau saat jam pelajaran sudah usai. Kita bisa menemukan berberapa anak perempuan yang mengobrol diluar kelas atau sekelompok anak jahil yang ingin menjebol loker seseorang atau mungkin berberapa orang murid yang sedang dihukum oleh guru. Tapi sayangnya pemandangan itu tidak bisa dilihat sekarang.

“Orang tua itu serius tentang memulangkan semua murid,” gumam Richard yang disepanjang koridor sudah mengintip ke semua kelas yang semuanya kosong.

“Orang itu tidak pernah bercanda dengan ucapannya,” sambar Alex.

~Ruang Kepala Sekolah, 10.13 a.m.~

Ruangan itu kini penuh dengan 12 orang murid dan Pak Jim sendiri. Aura di ruangan itu terasa berbeda. Tegang.

“Pertama-tama…” ucap Pak Jim memulai. Sebelumya, dia mengeluarkan 9 lukisan dan 3 gambar. Ditaruhnya lukisan dan gambar-gambar itu dihadapan 12 muridnya.

“Aku mendapatkan semua ini di ruang lukis. Kalian kenal dengan gambar-gambar ini?”

Thomas adalah orang pertama yang mengangkat tangannya. “Lukisan yang itu…. Itu lukisan saya, Pak.”

Richard juga mengklaim sebuah lukisan sebagai lukisannya.

“Coba kalian ambil lukisan kalian masih-masih.” Mereka semua mulai mengambil satu-persatu sesuai perintah Pak Jim. Semua mengambil tanpa terkecuali. Itu artinya mereka semua yang mengambar semua itu.

“Kutanyakan satu hal,” kata Pak Jim. “Apa yang kalian gambar atau lukis?”

“Werewolf,” jawab Richard cepat. Tentu saja dia yang menggambar, jadi dia tahu apa yang digambarnya.

“Kenapa kalia mengambar itu?” tanya Pak Jim.

Semua diam. Sebuah pertanyaan yang sederhana namun sulit untuk dijawab. Mereka tidak tahu alasan kenapa mereka mengambar atau melukis werewolf untuk tugas melukis mereka. itu hanya imajinasi yang tidak sengaja terlintas dikepala.

alex's

Alex melukis seekor werewolf yang sedang berdiri diatas sebuah ceroboh asap. Bulunya berwarna hitam kecoklatan. Matanya kuning dengan cakar-cakar yang mencengkram ceroboh—menambah kesan mengerikan.

Bernard's drawing

Bernard menggambar dengan pensil seekor werewolf yang sedang berdiri dengan 4 kakinya di tanah kosong. Tatapannya tajam mengarah suatu titik. Badannya besar dan mengerikan. Karena dia menggambarnya dengan pensil, jadi bulu yang terlihat hanyalah hitam keabu-abuan.

donald's painting

Donald melukis seekor werewolf yang berdiri dengan 2 kaki sedang melolong saat datangnya bulan purnama. Dia memiliki tubuh besar dengan cakar tajam disetiap jarinya. Bulan yang dilukisnya terlihat begitu bulat dan bersinar terang dilangit—menggambarkan bahwa kekuatan werewolf itu sedang berada dipuncak teratas.

edison's drawing

Edison menggambar sketsa pensil seekor werewolf dari jarak yang cukup dekat. Salah satu tangannya mencengkram tanah dengan cakar yang besar dan tajam sehingga menimbulkan goresan diatas tanah. Tangan yang lainnya seakan siap untuk mecengkram apa saja yang ada didepannya. Ekspresinya seperti dedang marah. Dia membuka mulutnya—menunjukkan gigi-gigi taringnya yang besar dan tajam.

francis'painting

Francis melukis seekor werewolf yang sedang berdiri dipinggir tebing dan menatap bulan penuh dilangit. Bulannya terlihat begitu besar dan bulat juga terang. Meski tidak terlalu kelihatan karena mungkis Francis hanya melukis siluetnya saja, tapi werewolf itu terlihat cukup mengerikan dengan tubuhnya yang tinggi dan besar.

kevin's drawing

Gambar Kevin mungkin adalah gambar terburuk dari semuanya. Terburuk bukan dalam artian gambarnya itu menunjukan seekor werewolf yang mengerikan, tapi gambar bisa dibilang sangat jelek. Dia hanya menggambar seekor werewolf dengan pensil dan hanya diwarnai dengan pensil warna. Mata berwarna merah menatap tajam dengan gigi dan taring besar dan tajam berwarna biru(?).

mike's painting

Michael melukis siluet seekor werewolf berdiri dipinggir tebing yang menghadap langsung ke laut dengan latar belakang langit malam dan bulan purnama. Meski gambarnya tidak terlalu bagus, tapi terlihat jelas werewolf itu sedang melolong saat bulan purnama muncul.

 

richard's painting

Lukisan Richard menggambarkan seekor werewolf yang begitu ganas dengan latar bulan purnama yang besar dan terang ditambah dengan kesan hujan deras disertai angin kecang. Mulut werewolf itu penuh dengan darah. Seakan baru saja menyantap daging segar malam itu. Banyak noda darah hampir diseluruh wajah dan dadanya.

Stephan's painting

Stephan melukis seekor werewolf sedang duduk disebuah atap. Mungkin lukisan itu termasuk lukisan semi-abstrak. Lukisan itu juga lebih didominasikan dengan warna hijau dengan tingkat kegelapan yang berbeda-beda. Tapi bisa dilihat bahwa lukisan itu berlatar saat bulan purnama.

thomas' painting

Mungkin lukisan Thomas adalah satu-satunya lukisan yang berlatar pada saat bulan setengah. Tapi werewolf yang dilukisnya mungkin yang  paling terlihat mengerikan. Seekor werewolf dengan setengah berdiri dan mulut yang terbuka—memamerkan gigi-giginya yang besar dan tajam.

will's painting

Lukisan Will mungkin hampir tidak terlalu kelihatan karena dia menggambarnya hampir seperti siluet dan terlalu berbayang. Werewolf berdiri dengan tiga kakinya dan kaki yang lain seakan ingin melangkah. Lukisan itu didominasi dengan warna coklat—warna kesukaannya. Meski terlalu berbayang, namun gigi-giginya yang tajam masih bisa terlihat jelas.

leo's painting

Milik Leo tampak berberapa ekor werewolf yang berdiri didepan api yang menyala. Meski gambarnya terkesan abstrak, tapi werewolf-werewolf itu tampak mengerikan. Seekor yang paling besar berada paling depan—yang paling menyeramkan dan terlihat paling buas diantara yang lain.

Mungkin mereka semua belum mengertik maksud Pak Jim. Apa mungkin lukisan mereka memiliki hubungan dengan apa yang terjadi pada mereka.

“Apa hubungannya dengan apa yang terjadi dengan apa yang kami lukis?” Kevin bertanya.

“Kalian benar-benar ingin tahu kenapa kalian melukis werewolf mengerikan sebagai tugas melukis kalian?” tanya Pak Jim menawarkan.

“Karena kalau menggambar werewolf kami akan mendapat nilai bagus?” celetuk Donald.

“No,” kata Pak Jim. “You draw werewolves because you are werewolves.”

To Be Continue

 

Nah, gimana? Apa pendapat readers tentang Chapter 2 ini? Bagus gak? Kalau ada kritik, saran, ataupun ide, kasih tau aja. Supaya Jinnie bisa menjadi author yang lebih baik untuk kedepannya. Terima kasih udah mau baca Beuty & Beast yaaa^^~

Comment please J Don’t be silent readers’-‘)

See you in next chapter…^^ Annyeong~

25 thoughts on “BEAUTY & BEAST – Chapter 2

  1. Aduh thor.. Ngeliat gambar yg lain tuh yah rasanya beneran serem. Eh, pas liat gambar kris, lgsg ga bisa nahan ketawa.. Ngakak bgt.. Berasa ilang aja seremnya.. Padahal yg lain serem tpi ini satu ngajak ngakak mulu.. Tapi bagus kok, keren.. Lanjutkan!

  2. aaaaahhhh bagus bagus!!! tp aku kesulitan masih harus bolak-balik liat nama-namanya😦. Itu lukisannya Kris ge terlalu bagus!wkwk cepet lanjut ya aku penasaran bgt sma ffnya! Keren! Semangat ngelanjutinnya! ;D

  3. Astajim.. Aku makin suka ff ini yaampun.. *0*
    Itu lukisan kris busett..😄 ngakak loh..
    Ga sbar nunggu chap berikutnyaa..
    Lanjut thoor..

  4. aku langsung hafal nama”nya malah dr chapter pertama jg *bangga
    hahaha
    kurang panjang thor… hehe
    alur tetep pas kok
    trus kayaknya asik klo nanti diceritain knapa mereka ngegambar werewolf yg beda..
    beauty (aku) nya blum muncul yaa??? haha #plaakk
    penasaran jg knapa mereka yg kpilih jd penjara monsternya.. spesialkah mereka???
    *nunggu next chapter*
    good job author

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s