Serendipity (Chapter 4)

serendipity-11

Serendipity

by

ellenmchle

Main Cast : EXO-M’s Kris Wu & SNSD’s Tiffany Hwang || Support Cast : SNSD’s Jessica Jung & 2PM’s Nichkhun Buck Horvejkul || Genre : Romance & Life || Rating : PG-15 || Length : Chaptered || Disclaimer : Inspired by “Serendipity” Movie (2001) – Marc Klein || Credit Poster : pearlshafirablue

“Two people who are meant to be together will have occurences happening around them, if they look out for those signs they will be together in the end.”

“You don’t have to understand. You just have to faith.” – Tiffany
“Faith in what ?” – Kris
“Destiny..” – Tiffany

|| Previous : CHAPTER 1 || CHAPTER 2 || CHAPTER 3 ||

 

“Khun.”

Nichkhun menyambut Tiffany dengan sebuah senyuman. Tiffany – gadis itu sendiri masih berusaha menyakinkan dirinya bahwa ini semua bukanlah khayalan ataupun mimpi. Sejenak ia hanya bisa terdiam seraya menatap dalam sepasang cincin di tangannya.

“Aku tahu mungkin ini terlalu cepat bagimu. Aku tahu mungkin kau tidak akan siap tapi aku benar-benar serius dan mungkin kau tidak akan mempercayainya tapi aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu, Tiffany Hwang.” Nichkhun menatap lekat Tiffany yang tepat berada di hadapannya itu.

Tiffany tersenyum – memamerkan deretan giginya yang rapi. Ia mengangkat kepalanya dengan yakin – menatap lekat kedua bola mata Nichkhun.

“Aku mau.”

Keduanya tersenyum. Tidak ada satu kata pun yang ingin mereka ucapkan saat ini. Nichkhun menarik Tiffany ke dalam pelukannya – membiarkan gadis itu merasakan detak jantungnya, merasakan kebahagian yang meluap-luap dalam dirinya dan merasakan betapa leganya seorang Nichkhun setelah mendengar jawaban dari Tiffany.

“Terima kasih.” gumam Nichkhun.

New York, USA – October, 22nd 2012

Gadis dalam balutan gaun berwarna putih itu menyibak tirai yang menjadi penutup kamar ganti Lovely Bridal Shop yang berlokasi di 313 West Fourth Street. Ia mengecek sekali lagi penampilannya sebelum meyakinkan dirinya untuk memanggil pemuda yang sedang duduk di sofa yang jaraknya tidak terlalu jauh.

“Bagaimana Jessi? Oh. Aku lihat sebentar. Ini benar-benar cocok denganmu. Kau tampak sangat cantik, Jessi. Tidak sia-sia aku menghabiskan waktu 2 bulan untuk merancang gaun ini khusus untukmu.” puji designer ternama pemilik Lovely Bridal Shop itu seraya mengecek penampilan Jessica dari bawah hingga atas, dari depan hingga belakang tanpa melewatkan sedikitpun bagian tubuh Jessica yang dibalut gaun rancangannya.

Kris – pemuda itu akhirnya tersadar dari lamunannya dan segera bangkit dari sofa begitu matanya menemukan sosok Jessica yang sudah berbalut gaun hasil rancangan Stella Keveza.

“Kau harus bersyukur mendapatkan pasangan hidup sesempurna dirinya, Kris.” goda designer bernama lengkap Stella Keveza itu.

Jessica masih tampak ragu akan penampilannya. Apa ini cocok untukku? Apa Kris akan menyukainya? Atau malah sebaliknya? – tanya Jessica dalam hati.

“Kau sangat cantik, Nona Jung.” puji Kris seraya melemparkan senyuman terbaiknya pada Jessica.

“Apa? Nona Jung? Kau seharusnya memanggilnya dengan sebutan Nyonya Wu, Kris!” Stella pura-pura kesal.

“Sudahlah, lagi pula ini kan baru acara pertunangan. Semua bisa terjadi selama kami-“ jelas Jessica namun terpaksa harus dipotong oleh Stella.

“Apa? Jadi kau berharap sesuatu terjadi di antara kalian? Seperti berpisah? Begitu?”, Stella sedikit terkejut dengan pernyataan Jessica meskipun Jessica sendiri belum menyelesaikan ucapannya. Namun bukan Stella Keveza namanya jika ia tidak berusaha menebak-nebak apa yang akan dikatakan lawan bicaranya selanjutnya.

Seketika keheningan berhasil menyelimuti mereka bertiga. Baik Jessica maupun Kris tidak memberikan penjelasan apapun pada Stella.

Apa aku harus mengiyakan kata-kata Stella? Bagaimana pun aku merasa semua yang dikatakannya akan menjadi kenyataan. Entahlah. Aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri bahwa aku tidak cemas. Aku sangat cemas. Sangat. – Jessica.

“Apa yang kau katakan? Tidak akan ada yang terjadi. Tidak denganku ataupun dengan Jessica. Mengerti? Ah, aku benar-benar lelah hari ini. Bisakah kita langsung mengambil foto saja?” Kris berusaha mengalihkan pembicaraan, berusaha mencairkan suasana yang membuatnya merasa akan sangat bersalah pada Jessica.

“Baiklah, akan ku panggilkan orangnya dulu.” Stella tersenyum seraya beranjak pergi meninggalkan Kris dan Jessica.

“Kris…” panggil Jessica.

Kris menoleh dan pada saat itu juga kedua matanya berhasil bertemu dengan milik Jessica.

“Kita-”

“Jessi, Kris. Kemarilah.” lagi-lagi Stella tidak memberikan kesempatan pada Jessica untuk menuntaskan ucapannya.

“Kau sudah siap difoto?” tanya Kris.

Jessica berusaha membuang jauh-jauh pikiran yang membuatnya semakin kacau. Ia dan Kris sudah terlalu jauh. Ia dan Kris sudah sampai di tahap ini. Ia tidak boleh menyerah begitu saja. Ia tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh atau ia akan benar-benar kehilangan Kris untuk selama-lamanya.

“Sica?” pelan Kris.

Jessica menatap lekat kedua bola mata Kris. Berusaha mencari keyakinan. Berusaha mempercayai setiap ucapan Kris bahwa ini semua akan baik-baik saja, bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Dan akhirnya ujung-ujung bibirnya tertarik – membentuk sebuah senyuman.

“Ya. Aku sudah siap.” jawab Jessica mantap.

Kris membalas senyuman Jessica. Keduanya berjalan menuju ruang pemotretan yang ditunjukkan Stella. Kris dengan tuxedo berwarna putih dan Jessica dengan balutan gaun berwarna senada dengan Kris membuat keduanya terlihat semakin serasi.

Seoul, South Korea – October, 22nd 2012

Ruang tamu di kediaman Tuan Hwang tampak hening, hanya suara air di dalam aquarium yang berhasil tertangkap oleh telinga Tiffany maupun Nichkhun. Keduanya tampak sedang duduk di sofa. Tidak. Bukan itu. Ada yang aneh di antara mereka berdua. Mereka duduk dengan jarak yang cukup jauh. Raut wajah mereka juga begitu tidak enak untuk dipandangi. Sesekali Tiffany melirik Nichkhun dengan tatapan yang begitu sulit diartikan. Ada apa lagi?

“Sudah ku bilang kau hanya akan sia-sia datang ke sini.” mulai Tiffany.

“Tidak. Aku tetap harus bertemu dengan orang tuamu.” balas Nichkhun.

“Sudah ku bilang mereka tidak akan mau menemuimu untuk saat ini apalagi membahas acara pertunangan kita.”

“Kenapa?”

“Masalah keluarga.”

“Beritahu padaku apa yang terjadi?”

“Kau tidak perlu mengetahuinya.”

“Aku perlu mengetahuinya.”

“Kau tidak perlu ikut campur dalam urusan keluargaku, Khun!” tegas Tiffany sekali lagi.

“Kenapa?”

“Karena kau bukan siapa-siapa.” Tiffany menjawab dengan kesal.

Nichkhun terdiam kemudian dalam hitungan detik ia tersenyum pada dirinya sendiri. Betapa bodohnya aku – umpatnya dalam hati.

“Ya. Sepertinya aku memang tidak berhak mengetahui apa sedang terjadi.”

“Khun. Aku tidak-” Tiffany merasa sedikit menyesal dengan pernyataan yang dilontarkannya sebelumnya.

Nichkhun akhirnya beranjak dari sofa yang telah didudukinya selama kurang lebih 1 jam itu.

“Karena aku memang bukan siapa-siapa di dalam keluarga ini.” lanjutnya kemudian meninggalkan Tiffany dan segera menuju pintu utama kediaman Tuan Hwang.

Tiffany berniat menyusul Nichkhun namun langkahnya harus terhenti begitu menemukan sosok ibunya sedang turun dari tangga dengan sebuah koper di tangan kanannya.

“Kau mau kemana?” Tiffany bertanya pada ibunya yang tampak sangat berantakan.

Nyonya Hwang tampak tidak sadar akan kehadiran Tiffany. Begitu mendengarkan suara Tiffany yang terdengar sedikit parau ia pun menghentikan langkahnya sejenak. Menatap anak satu-satunya itu.

“Aku tidak punya pilihan lain.” ucap Nyonya Hwang menatap dalam Tiffany.

“Kau punya.”

“Kau punya pilihan lain. Kau punya. Kau punya pilihan untuk meninggalkan laki-laki itu!” Tiffany tak mampu menahan emosinya begitu juga dengan air matanya yang sudah berhasil membasahi kedua pipinya yang terlihat pucat.

“Fany-ah. Aku-”

“Sekali saja kau meninggalkan rumah ini. Sekali saja kau meninggalkan aku. Sekali saja kau meninggalkan kami. Akan ku pastikan kau tidak akan bisa kembali lagi.”

“Aku dan ayahmu. Kami sudah tidak cocok lagi.”

“Bukan itu penyebabnya! Aku tahu! Aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi begitu saja! Pergilah dengan laki-laki brengsek itu jika memang kau mau tapi jangan berharap kau akan melihat kami lagi!” Tiffany berteriak sekencang yang ia bisa. Mengeluarkan semua yang selama ini ia tahan.

Ia tahu mungkin ia akan menjadi anak yang sangat durhaka dengan membentak ibu kandungnya sendiri seperti itu namun tindakan ibunya itu benar-benar telah membuatnya kecewa. Ibu yang selama ini menjadi panutannya, menjadi kebanggaannya rela menghancurkan rumah tangganya sendiri demi laki-laki yang umurnya bahkan tidak 10 tahun lebih tua dari Tiffany.

Nyonya Hwang tidak memperdulikan Tiffany. Ia tetap pada pendiriannya. Ia menyeret kembali kopernya dan memilih untuk mengakhiri pernikahannya dengan Tuan Hwang.

Tiffany tidak mencegah sama sekali kepergiannya ibunya.

Demi Tuhan apa yang ada dipikiranmu sampai kau tega meninggalkan kami, Mom? – Tiffany hanya bisa berdiri di tempat, menundukkan kepalanya, membiarkan tangisannya meledak.

Bingkai foto berwarna beige itu mendarat bebas begitu saja di atas lantai marmer setelah berhasil menyentuh tangan kanan Jessica. Kaca bingkai foto itu pecah menjadi kepingan-kepingan yang siap melukai siapa pun yang menyentuhnya sekarang.

“Astaga. Maafkan aku, Jessi.” Stella terkejut begitu mengetahui bahwa Jessica belum meraih dengan sempurna bingkai foto yang diserahkannya pada gadis itu sehingga bingkai foto itu harus jatuh ke lantai.

Jessica terdiam. Jantungnya seakan berhenti berdetak untuk beberapa detik. Apa lagi sekarang? Pertanda apa ini? Bingkai foto itu berisi foto dirinya dan Kris yang baru saja diambil dan dicuci dan sekarang, dengan kejadian ini, mengapa semuanya terasa semakin nyata? Bahwa ia dan Kris- Apa memang akan terjadi sesuatu di antara mereka?

Jessica hendak membiarkan kedua tangannya menyentuh bingkai foto yang telah pecah itu. Namun untungnya tangan Kris lebih cepat mencegahnya.

“Stella, kau bisa mencucikan yang baru untuk kami?” tanya Kris.

“Tentu. Aku akan menyuruh mereka mencucikan dan membingkaikannya lagi. Tunggu sebentar.”

“Semuanya baik-baik saja” pelan Kris berusaha menenangkan Jessica.

“Ini hanya foto.” lanjut Kris tersenyum.

“Aku tunggu di mobil.” ucap Kris seraya membawakan beberapa paper bag milik Jessica.

“Stella, terima kasih atas bantuanmu. Jessica beruntung memiliki teman seorang designer ternama sepertimu.” lanjut Kris kemudian memberikan pelukan pada Stella.

“Aku senang bisa terlibat dalam acara pertunangan kalian. Dan tunggu, aku juga berharap bisa terlibat dalam acara pernikahan kalian nantinya.”

“Tentu.” jawab Kris mantap.

“Kalau begitu aku duluan ya.”

Kris kemudian pergi meninggalkan Jessica dan Stella.

“Terima kasih banyak untuk hari ini.”

“Kau tidak perlu sungkan, Jessi. Aku senang bisa membantumu. Dan kau memang selalu cocok dengan semua gaun rancanganku jadi ya, aku juga berterima kasih karena sudah mempercayaiku untuk mengurus semua ini. Aku benar-benar berharap kau dan Kris akan berakhir bahagia seperti dongeng-dongeng yang pernah ku baca.” gurau Stella.

“Aku juga harap akan seperti itu.” Jessica ikut tersenyum.

“Oh. Hey, Jane. Akhirnya kau datang juga.” Stella berteriak histeris begitu menemukan sahabat terbaiknya – Jane – yang juga merupakan sahabat Tiffany tepat di belakang Jessica.

“Oh. Kenalkan ini Jane. Dan Jane, ini Jessica.”

“Senang bisa berkenalan denganmu.” ucap Jane ramah.

“Jadi ini Jessica yang kau ceritakan akan segera bertunangan itu?” tanya Jane pada Stella.

“Tepat sekali.”

“Oh. Ini undangan pertunanganku. Karena kau teman Stella itu artinya kau temanku juga. Aku harap kau bisa datang.” ucap Jessica seraya mengeluarkan undangan pertunangannya yang tersisa di dalam tas kemudian memberikannya pada Jane.

“Aku pasti akan datang.” Jane menjawab dengan yakin.

“Baiklah, kalau begitu aku duluan ya.”

“Hati-hati di jalan Jessi.”

Seoul, South Korea – October, 25th 2012

Tiffany terbangun dari tidurnya. Sudah 3 hari ini ia tidak bisa tidur lelap dan selalu terjaga setiap malamnya. Terlalu banyak masalah yang harus dipikirkannya. Masalah keluarganya. Masalahnya dengan Nichkhun. Ia bahkan belum siap bertemu dengan siapa-siapa sejak kejadian hari itu di mana ibunya telah memutuskan mengakhiri pernikahannya dengan ayahnya.

iPhone-nya berbunyi – menandakan ada panggilan masuk. Dengan segera Tiffany mengulurkan tangannya meraih benda yang sedang berbunyi itu.

“Ya?”

“Oh, Jane?”

“Ya, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”

“Apa? Kau akan segera menikah?”

“Kau sedang tidak mengerjaiku kan?”

“Tentu! Aku pasti akan kembali ke New York untuk menjadi pendampingmu.”

TBC

16 thoughts on “Serendipity (Chapter 4)

  1. Annyeong reader bru,,
    gag sngaja nmu ff ini,hehe.. Mian kmen’y di part 4 ini, gpp kan thor? (^ , ^)v piss
    Lanjutin dong, bkin pnasaran akut ini fany ama kris ktmu lg gag,,
    update soon🙂

  2. Pranggg!!!#bingkaifotojatuh… Jangan-jangan hubungan Kris oppa + Sica eonni akan hancur ya??? Apalagi Fany eonni + Khun opaa lagi bertengkar, Fany eonni juga mau ke New York menghadiri pernikahan Jane eonni… Apa Kris oppa + Fany eonni ketemu di sana? Terus gimana nasib buku + uang dollar yang ada nomor ponsel mereka??? Oh ya, satu lagi aku ganti name account, tadinya Jung In jadi Nouria Jung #gaknanya!!!

    Ok deh, sangat di tunggu kelanjutannya chingu ^^

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s