[FREELANCE] You Can’t Disappear From Me (Chapter 5)

You cant Disappear From Me FINAL

Title : You Can’t Disappear From Me

Author : Hyuuga Ace (@dioxing_0307)

Length : Multichapter

Genre : Romance, Drama, School Life, Hurt

Rate : G

Web : cynicalace.wordpress.com

Main Cast :

  • Oh Yu Bin (OC)
  • Kim Jong In / Kai
  • Park Chan Yeol
  • Lee Sae Ra (OC)

Other Cast : Kwon Yu Ra (OC), Wu Yi Fan / Kris,  Xi Luhan, Do Kyungsoo /D.O, Oh Se Hun, Zhang Yixing / Lay

Author’s note :

Finally sampe jg di chapter 5, hehehe. Semoga ga makin absurd ini ff yah huhuhu ㅠ.ㅠ

Gomawo, yg msh nungguin ff ini hehehe..

Skli lg gomawo bwt admin exomk fanfiction yg udh ngepost ff ini.

HAPPY READING ALL ^^

 

______

Yubin’s PoV

 

“Sejujurnya..”

Apa yang ingin dia katakan? Jujur saja aku penasaran. Tapi ketika kulihat matanya penuh keraguan menatapku perlahan rasa dingin kembali menyentuhku.

Kemudian Kai hanya menghela napas dan menutup matanya.

“Sejujurnya selama ini, aku tidak pernah sedikit pun membencimu, Oh Yubin.” Kai membuka kembali kelopak matanya dan menatapku -lagi-. Tatapannya, aku bisa merasakan ketulusan dibaliknya.

Hening. Tenggorokanku tercekat, tak sedikitpun kata yang dapat keluar dari mulutku. Hanya suara deburan ombak yang menemani kami disini.

“Perasaanku padamu selama ini justru, sebaliknya.” Namja ini tetap menatapku sambil tersenyum pahit.

“Namun keadanku lah yang membuat hal ini complicated, Yubin-ah.”

Pandanganku memburam, sel- sel dalam tubuhku mendadak melemah. Namun kucoba menggerakan bibirku, memanggilnya.

“Kai..” Lirihku, “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan dan UH- kepalaku sakit sekali..”

“Yubin-ah? Gwaenchana?”

Aku tersenyum lemah. Entahlah, ada rasa bahagia ketika mendengarnya mengkhawatirkanku.

“Kai…”

Dan semuanya berubah menjadi gelap.

_____

Kai’s PoV

“Kai..” Ujarnya lemah sembari memegang lengan baju panjangku.

“Yubin-ah? Waeyo?!” Kugoncangkan tubuhnya yang terasa rapuh di pelukanku.

“Aish! Ini pasti karena dia kelaparan dan kelelahan. Yubin-ah! Ireona! Jebal ireona! Oh Yubin.”

Otakku terasa kacau, kugendong dia di punggungku dan mulai berlari mencari pertolongan.

Sepertinya Tuhan sedang mengirimkan pertolongannya padaku dan Yubin yang masih tidak sadarkan diri di gendonganku. Tidak jauh di depan sana, kulihat seorang ahjussi tua yang sedang menarik perahu kecilnya ke arah air, mungkin dia akan segera berangkat untuk berlayar.

“Ahjussi!”

Seseorang yang kupanggil itu menolehkan wajahnya ke arahku dan membelalakan matanya. Kaget.

“Omoya! Apa yang sedang kalian lakukan di tempat yang seperti ini, anak muda?”

“Ahjussi, kami berdua nyasar sampai kesini. Apakah daerah penduduk masih jauh dari sini?”

“Ne.” Ahjussi ini sedikit panik dan khawatir ketika melirik Yubin yang ada di gendonganku. “Apakah yeoja chingu mu sedang sakit? Dia pucat sekali.”

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, ahjussi ini segera melangkah meninggalkan perahunya. Menuntunku.

“Ayo ikut aku. Kalian bisa menginap dulu di rumahku. Rumahku yang paling dekat dari sini.”

“Ne ahjussi? Apakah itu tidak merepotkan?”

“Kalian berdua kelihatan kelelahan sekali. Dan saya tidak tega melihatmu menggendong yeochin mu itu sampai kira- kira 2 kilometer ke depan.”

Tunggu? 2 kilo?! Apa mungkin sedari tadi aku berjalan bersama Yubin, bukannya makin mendekati kawasan penduduk. Malah berjalan makin jauh?!

______

Ahjussi ini ternyata orang yang baik. Ia mempersilahkan aku dan Yubin untuk menginap semalam di rumahnya dan menyuruh putrinya untuk membuatkan bubur untuk Yubin yang sudah berada di atas kasur di satu- satunya kamar di rumah ini.

Rumah ini sangat sederhana. Hanya seukuran kamar mandi di rumahku. Dan sangat sepi. Sepertinya ahjussi hanya tinggal berdua bersama putrinya yang kutebak berusia sekitar 9 tahun.

“Ehmm.. Anak muda, aku harus kembali berlayar. Mungkin akan kembali besok subuh. Walau rumah ini sempit, aku berharap kalian nyaman tinggal disini walau hanya semalam.” Ujarnya ramah seraya melangkah kembali ke arah pintu.

“Bo Hee-ya, appa pergi dulu.”

“Ne, appa.” Ujarnya sambil menolehkan wajahnya dari bubur yang sedang ia buat.

Tidak butuh lama, sampai ahjussi yang aku lupa untuk menanyakan namanya itu hilang dari pandangan.

“Oppa, buburnya sudah matang. Apakah kau ingin membangunkan yeoja itu?”

“Hmmm.. Gamsahamnida, namamu, Bohee?”

“Ne” ujarnya sambil tersenyum riang ke arahku. “Yong Bo Hee.”

____

Aku memasuki ruang kecil ini sambil membawa nampan berisi bubur.

“Haruskah aku membangunkannya?”

Aku hanya menyimpan nampan yang kupegang di meja kecil di sampingku, dan duduk bersila memandang wajah Yubin. Kusentuh keningnya dengan telapak tangan kananku. Suhu tubuh yeoja ini sangat panas.

Aku menghela nafas. Melihatnya seperti ini membuat dadaku terasa sesak, dan rasanya aku kehilangan sedikit dari alasanku untuk bernapas.

Dia sakit.

Kurasakan seseorang sudah berada di belakangku.

“Oppa, igo.” Bohee memberikanku sebaskom air panas dan sapu tangan.

“Ketika aku sakit, appa biasanya akan mengompresku.”

Aku hanya tersenyum melihat penuturan yeoja ini, dia sangat mandiri.

____

“Bohee-ya, ini sudah malam, kau tidak tidur?”

“Gwaenchanayo, oppa. Aku ingin menemani eonni juga.”

“Bohee, apakah tiap malam kau selalu ditinggal melaut oleh appamu? Di mana eommamu?”

“Ne, oppa. Tapi tenang saja, aku sudah terbiasa. Kalau appa tidak pergi melaut, nanti Bohee tidak bisa sekolah hehehe. Dan eomma, eomma sudah di surga.”

“Ah, mianhaeyo.” Aku menyesal menanyakan hal itu, sama sekali tidak berniat membuat gadis kecil ini bersedih.

“Ah tapi, apakah kau tidak takut tidur sendiri setiap malamnya?”

“Tidak, Bohee kan pemberani. Lagipulan Tuhan selalu menjaga Bohee dan appa. Betul kan oppa, eh sebenarnya siapa namamu oppa?”

“Ah matta! Sedari tadi oppa lupa memperkenalkan diri, eoh? Joneun Kim Jong In imnida. Tapi aku biasa dipanggil Kai.”

“Kai oppa..”

“Yeoja ini, Oh Yubin.”

“Nama yang cantik.”

“Seperti orangnya.” Aku tersenyum getir sambil melihat wajahnya. Wajahnya saat ini sangat lelah.

“Oppa, kau sangat menyukainya yah?” Bohee bertanya dengan sangat polos.

“Tentu saja kau menyukainya.” Bohee mengangguk tanda ia menyutujui perkataanya. Membuatku gemas. Aku hanya tersenyum dan kembali bertanya,

“Darimana kau tahu hal itu, adik kecil?”

“Aku sering membaca buku- buku dongeng yang mengisahkan pangeran dan putri. Dimataku oppa itu bagaikan pangeran dan eonni putrinya. Pangeran tentu saja harus menyukai putrinya, betul kan oppa?”

Aku hanya terkekeh pelan mendengar celotehan yeoja kecil ini. Ia sangat manis.

“Oppa, kau tahu?” Ia terkekeh geli. “Kau itu namja tertampaaaaaan yang pernah aku lihat.” Aigoo. Menggemaskan.

“Dan eonni, ia sangat cantik. Cantiknya bahkan melebihi kecantikan snow white lho oppa. Ketika aku besar nanti, aku ingin jadi secantik Yubin eonni.”

“Dia memang cantik.” Aku menyutujui perkataan yeoja kecil ini.

“Namun sayang, oppa tak yakin kisah oppa dengannya akan berakhir seperti kisah snow white ataupun pangeran dan putrinya.” Aku mendesah berat.

“Kau tahu Bohee, ketika besar nanti kau akan belajar suatu hal. Sometimes life makes love look hard.” Tatapan mataku menerawang ke sudut- sudut ruangan. Kembali mengingat segalanya.

“Oppaaaaaaa!” Rengeknya manja, mengembalikanku dari lamunanku. “Jangan berbicara bahasa Inggris, aku belum belajar. Huaaaaaaaa.”

“Uljimayo. Maksud oppa tadi itu, terkadang hidup itu membuat cinta terasa sulit.” Aku tertawa pelan. Apakah aku sedang curhat? Kepada anak kecil berusia kira- kira 9 tahun? Oh my..

“Aniyo oppa! Yang kutahu, ketika pangeran dan putri saling mencintai, bahkan nenek sihir pun akan kalah dengan kekuatan cinta mereka. Asalkan mereka saling mencintai.”

“Begitu?”

“Geurom.” Angguknya mantap.

“Tapi bagaimana jika pangeran yang selalu menyakiti hati putrinya?”

“Pangeran yang sesungguhnya tidak mungkin melakukan hal itu oppa. Kecuali jika ia mempunyai alasan.”

“Ya.. Kau benar..” Aku tersenyum miris mendengar penuturan gadis kecil ini. Ia terlalu banyak membaca cerita dongeng.

“Oppa, aku ngantuk. Besok aku juga harus sekolah. Jaljayo.”

“Kau akan tidur dimana, Bohee-ya?”

“Karena kamarku sudah dipakai eonni, hari ini aku akan menggelar kasur di dekat ruang tamu.”

“Mianhae, ini semua karena kami menginap disini. Kami jadi merepotkan kalian.”

“Gwaenchanayo.” Ujarnya sambil berjalan keluar kamar dengan mata setengah terpejam. Aku masih mengamati kepergian Bohee sampai sebuah bisikan memanggilku.

“Kai…” Kutolehkan wajahku cepat ke arahnya.

“Yubin-ah? Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Kau ingin makan?”

“Kai, sedari tadi aku mendengar pembicaraanmu dengan yeoja kecil itu. Bolehkah aku berharap walau hanya sedikit?”

_________

Yubin’s PoV

Aku tidak sepenuhnya pingsan. Aku hanya merasa sangat lemah sampai- sampai membuatku sulit untuk membuka mataku.

Namun kesadaranku tidak benar- benar hilang.

Aku mendengar semuanya. Tentu saja aku menganalisis maksud yang tertera di dalamnya. Dan perasaan  berharap itu kembali muncul dan mekar di salah satu sudut hatiku. Kutekan semampuku perasaan itu, karena kutahu semakin besar kau berharap, semakin banyak kau akan terluka.

Dan aku pernah merasakannya dulu. Setahun yang lalu. Saat Kai menolakku, saat Kai mengatakan dia tidak menyukaiku dan mengatakan aku ini hanya hiburan baginya.

Aku tahu, ya aku tahu dengan sangat jelas. Dan aku tidak ingin terjatuh di lubang yang sama. Karena aku yakin jika aku terjatuh sekali lagi, aku tidak yakin aku bisa bangkit.

Tapi.. Hatiku tidak dapat diajak bekerja sama. Aku juga tahu jauh di dalam sana, rasa harap itu kembali bermunculan setelah mendengar percakapan tadi.

“Yubin.” Kai memanggil namaku dengan nada yang membuat jantungku mencelos dan melewatkan satu detakannya. Kutatap matanya yang menatap mataku penuh penyesalan.

“Maafkan aku untuk segala sesuatu yang sudah terjadi dan yang akan terjadi.”

Apa maksudmu, Kai?

“Aku takut ke depannya aku tidak mempunyai kesempatan seperti ini lagi. Mengebaikan segalanya, percayalah bahwa selama ini…” Kai menutup matanya, menghela nafas seakan membuang sesuatu dalam dirinya, dan menatapku lagi. Dengan mata jernihnya.

“Aku juga menyukaimu, Oh Yubin. Sejak pertama kali bertemu denganmu, berbicara denganmu.”

Tidak, ini mimpi.

Rasanya segala sesuatu yang ada padaku lepas dari tempatnya. Aku melayang ke dunia mimpi. Yah, pasti seperti itu.

Tapi hidup dalam dunia mimpi yang seperti ini juga tidak apa- apa. Aku ingin bahagia.

______

Author’s PoV

Kai, namja itu. Hanya menatap Yubin lekat. Wajah yeoja itu yang makin pucat, kedua bibirnya bergetar, dan kedua matanya seakan tenggelam dalam ruang dan waktu. Belum lagi melihat air mata yang mulai mengalir dari kedua bola mata indahnya, membuat Kai merasa lemah.

Yubin menarik tangannya dan menutup mulutnya, menahan isakannya dengan tangan kanannya.

Dengan cepat Kai menariknya dalam pelukannya. Memeluknya dengan segala cinta yang ada dalam dirinya untuk yeoja ini, yeoja yang untuk pertama kali berhasil membuat dirinya terasa hidup.

“Yubin-ah, nan neol joahae, ani. Nan neol saranghae.”

“Kkumie-ya..” Yubin hanya bisa melirihkan kata- kata itu.

“Tidak Yubin, kau tidak sedang bermimpi. Percayalah, aku benar- benar mencintaimu.”

Ada sesuatu yang meledak dalam hatinya, Yubin tahu itu kebahagiaan. Dia tidak sedang bermimpi, ya Tuhan.

Ini benar terjadi, seorang Kim Jongin benar- benar menyukai Oh Yubin. Kim Jong In, namja yang ia sukai sejak 2 tahun lalu dan namja yang sama yang menolaknya setahun yang lalu menyukainya bahkan mencintainya.

Dan tanpa dia sadari apa yang ia pikirkan tadi, ia ucapkan dengan nada takjub. Disisi lain Kai hanya tersenyum.

Sebegitu berharaganya kah aku bagimu, Oh Yubin?

 

_____

Yubin hanya bisa tersenyum. Ia terlalu bahagia. Ketika Kai merawat dan mengompresnya, ketika Kai menghangatkan lagi bubur untuknya dan menyuapinya. Ia hanya bahagia. Kai peduli padanya.

“Kai..”

“Hmm?”

“Kai..”

“Apa yang ingin kau ucapkan?”

“Hehehe..” Yubin hanya bisa nyengir dan menggelengkan kepalanya. “Kau tahu? Mengetahui fakta bahwa seorang Kim Jongin menyukai Oh Yubin, adalah hal yang luar biasa. Gomawoyo, Kai.”

“Ani, aku yang harus berterima kasih. Terima kasih karena kau masih mau menungguku. Dan maaf jika selama ini aku hanya memberimu luka.”

“Kai.” Yubin memanggil nama namja di depannya ini dengan lebih serius, dan senyumnya perlahan runtuh.

“Kenapa kau menolakku, setahun yang lalu?”

Kai tahu, yeoja ini pasti akan mempertanyakannya. Dan Kai sama sekali belum mau membahas segala sesuatu tentang keadaannya dan Lee Saera. Biarlah itu menjadi permasalahannya.

Kai akan berbicara dengan ayahnya dan Saera bahwa ia menolak pertunangan itu. Mengeluarkan pendapatnya untuk yang pertama kali. Mungkin tidak mudah. Tidak itu tidak mudah, tapi kira- kira seperti inilah hal yang benar- benar ingin ia lakukan.

“Aku menolakmu, perlakuanku yang mengesalkan dan terkesan mempermainkanmu itu kulakukan agar membuatmu melupakanku dan membenciku.”

“Kau gagal Kai.”

“Yah. Jikalau aku berhasil pun. Aku akan tetap membuatmu jatuh cinta lagi kepadaku.”

“Ckk.. Kau terlalu percaya diri. Tapi kenapa kau ingin membuatku membencimu dan melupakanmu?”

Yubin menunggu jawaban Kai dengan sabar. Ia juga penasaran. Tapi Kai hanya menghela nafas dan menatap Yubin dengan pandangan meminta maaf.

“Maaf, aku masih belum bisa mengatakannya padamu apa alasannya. Namun bagaimana pun keadaanku, berjanjilah kau akan selalu mempercayaiku, eoh?”

Yubin hanya mengerutkan keningnya, tanda bahwa ia bingung. Ya dia bingung dan penasaran. Tapi ia tidak mau serakah, Kai menyukainya, itu sudah cukup. Ia tersenyum memikirkan hal tersebut.

“Yaksok?” Kai mengeluarkan jari kelingkingnya dengan cara yang amat lucu membuat Yubin terkekeh pelan.

“Naneun midoyo.” Yubin pun mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Kai yang membuat Kai tersenyum dengan cara yang begitu tulus dan mengusap kepala yeoja dihadapannya ini.

Malam ini mereka -Yubin dan Kai- habiskan dengan berbincang- bincang. Membicarakan apapun yang terlintas di benak mereka.

Dan malam ini Yubin menyadari suatu hal, ia akan selalu menyukai Kai. Walau luka yang Kai buat tidak serta merta menghilang namun ia berharap hari esok, lukanya akan segera pulih. Ia dan Kai akan bersama- sama menutup lukanya. Inilah harapannya.

Sementara jauh disisi lain. Seorang Park Chanyeol, ia masih terjaga. Mengkhawatirkan Yubin, sahabatnya, dan orang yang sudah sejak lama ia sukai. Ia hanya memandang keluar jendela.

Rasanya ia ingin keluar dan kembali mencari Yubin. Namun Kris, sepupunya, dan roomatenya sekarang yang telah terlelap melarangnya habis- habisan, bahkan mengunci pintu kamar hotelnya dan menyimpan kuncinya di saku celananya. Menjadikan alergi dinginnya sebagai alasan.

Entah yang ke berapa kali hari ini, Chanyeol menghembuskan nafasnya. Memikirkan Yubin yang entah di mana keberadaanya. Dan Kai yang menurut teman- temannya yakini pasti sudah bertemu dengan Yubin dan mereka semua tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Hal itu sama sekali tidak membantu. Hal itu malah membuat nafasnya seakan makin berat.

Jika itu benar,

Mengapa tidak ia saja yang menemukan Yubin? Mengapa harus Kai?

 

Jika kita menarik jarak yang lebih jauh lagi, Lee Saera juga masih terjaga. Di dalam mobil pribadinya, dalam perjalanan menuju Busan.

______

Hari telah berganti, matahari mulai menunjukan sinarnya. Sudah hampir jam 6, ikan yang ia tangkap hari ini lebih banyak dari biasanya. Hal itu mengakibatkan ia pulang lebih telat kira- kira sejam. Yong Min Jae melangkahkan kakinya ringan memasuki rumahnya yang sederhana itu, bibirnya menarik garis lengkung ketika melihat putri semata wayangnya sedang didandani -rambutnya diikat dua- oleh yeoja yang ia tolong semalam. Sementara yang namja sedang menuangkan air panas ke susu yang ia yakini disiapkan untuk putrinya.

Pemandangan yang indah.

“Bohee-ya..”

“Appa!” Bohee mendongak dan melihat appa nya sudah pulang hanya bisa berlari dan berhambur ke pelukan appanya.

“Bohee, rambutnya belum selesai. Ah! Maha karyaku berantakan lagi.” Yubin, yeoja yang dimaksud Minjae di awal tadi hanya menundukan kepalanya sedih. Yang membuat orang lain di sekitarnya tertawa melihat tingkah lucunya.

_____

“Ahjussi, kami benar- benar berterima kasih karena telah menolong kami.”

“Dan juga membolehkan kami menginap di rumahmu.”

“Aniyo, itu bukan apa- apa.”

“Sebenarnya kami masih ingin lama dan mengobrol banyak dengan Minjae ahjussi. Tapi teman- teman kami pasti mencari kami. Jadi kami harus pergi sekarang.”

“Ne, hati- hati di jalan anak muda, dan tolong jaga putriku.” Ujar Minjae ahjussi sambil mengusap kepala anaknya.

“Jeongmal gamsahamnida, ahjussi.” Ujar Kai dan Yubin serentak, yang membuat keduanya menoleh bersama dan kemudian tertawa. Sementara itu Minjae hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anak muda ini.

Kai dan Yubin akan mengantar Bohee ke sekolahnya tentu saja dengan tuntunan jalan dari gadis kecil itu. Tentu saja sekolah Bohee sudah termasuk kawasan berpenduduk sehingga sinyal akan tertangkap di daerah sana, dan Kai akan menyalakan GPS nya untuk membawanya dan Yubin pulang ke hotel.

______

Yubin’s PoV

“Eonni, sering- seringlah berkunjung ke rumahku. Aku pasti rindu dengan Yubin eonni dan Kai oppa. Yaksok?”

“Ne. Yaksok!”

“Belajar yang baik, Yong Bo Hee.”Ujar Kai sambil mengelus puncak kepalanya. Aku tersenyum melihat pemadangan ini. Kai, dia yang sebenarnya adalah orang yang hangat.

“Bohee-ya, annyeong” kulambaikan tanganku padanya. Tidak butuh lama untuk menyayangi seseorang, hanya dalam waktu semalam aku saja sudah sangat menyayangi anak manis itu.

“Annyeong, oppa, eonni.” Dia melambaikan tangannya dan berlari meninggalkan kami yang masih berdiri di gerbang sekolah yang tidak bisa dibilang besar ini seraya mengamati punggung kecil Bohee yang semakin lama semakin menjauh.

“Kai..”

“Hmm?”

“Dia anak yang manis.”

“Kau benar. Dia mirip sepertimu.” Aku hanya tersenyum mendengarnya dan menolehkan wajahku ke arahnya yang tengah sibuk menyalakan ponselnya.

“Akhirnya ponselku dapat menemukan sinyalnya.”

“Dasar bodoh.”

“Hyung!” Dia sedang menelpon seseorang, mungkin Luhan atau D.O?

“Ne, kau tenang saja. Aku bersama Yubin disini.” Dia melirikan bola matanya ke arahku cepat dan kembali melanjutkan percakapannya dengan seseorang di ujung sana.

“Ya, kami sehat sentosa. Tenang saja, aku akan menyalakan GPS ku dan pulang secepat mungkin ke hotel.”

“Ne, ne. Arasseo.”

CLICK. Sambungan telepon pun terputus.

“Kajja!” Kai mengulurkan tangannya, yang kusambut dengan yakin.

“Kajja.”

____

Author’s PoV

Luhan, seseorang yang baru saja menerima panggilan dari Kai mengabarkan semuanya yang dia dengar kepada yang lainnya. Dan disinilah mereka, berkumpul di lobi hotel menunggu 2 orang yang semalaman menghilang. Dengan perasaan yang berbeda- beda.

Sampai seseorang berjalan ke arah mereka, dan Yixing lah yang pertama kali menyadari kehadirannya.

“Lee Saera? Sedang apa kau disini?” Otomatis semua mata terarah pada yeoja itu.

“Dimana Kai?”

“Dia sedang dalam perjalanan kesini bersama Yubin.” Yura menjawabnya datar, tanpa ekspresi. Sementara Luhan dan Yixing sudah saling pandang, seakan pandangan mereka memliki arti.

Ini gawat!

“Memangnya mereka pergi kemana?”

“Mereka menghilang semalaman.” Yura yang tidak tahu apa- apa tentang hubungan Kai dan Saera hanya membalas pertanyaannya dengan cepat.

“MWO?!”

Saera hanya meletakan kopernya asal dan ikut menunggu kedatangan Yubin dan Kai bersama yang lainnya. Sementara Yura dan Chanyeol hanya bisa mengerinyitkan keningnya bingung, sebenarnya ada hubungan apa antara Kai dan Saera. Dan mereka berdua yakin, Saera tidak datang kesini untuk bergabung dengan acara liburan mereka, melainkan suatu hal yang berhubungan dengan Kai. Mengingat ketika pertama kali dia datang yang ia tanyakan adalah, Kai.

_____

Yubin’s PoV

Setelah berjalan hampir setengah jam, akhirnya sampai juga kami di hotel. Ketika kakiku melangkah memasuki lobi, betapa terkejutnya ketika kulihat Saera juga berada di antara teman- temanku. Saera membelalakan matanya melihat kami dan segera berhambur untuk memeluk Kai dari satu arah.

Aku yang masih belum mengerti keadaannya hanya berusaha menarik tanganku yang masih digenggam oleh Kai. Namun bukannya melepaskannya, Kai makin mengkencangkan genggamannya padaku. Dan mendorong pelan tubuh Saera yang memeluknya.

Ada sebuah pertanyaan yang sudah lama kulupakan –berusaha kulupakan– dan akhirnya benar- benar dapat kulupakan, namun dikarenakan pemandangan ini. Pertanyaan itu kembali lagi muncul ke permukaan,

Ada hubungan apa di antara Saera dan Kai?

 

“Ehem. Mian. Tapi aku akan ke kamarku dan membersihkan tubuhku.” Aku berdeham berusaha mencairkan kecanggungan yang tiba- tiba saja menguap di udara. Dan setelah itu, Kai benar- benar melepaskan genggamannya di tanganku. Yang jujur saja, membuatku sedikit kehilangan.

Aku mencoba tersenyum ke arah yang lainnya, dan juga Saera. Dan ketika kutatap langsung mata Lee Saera, teman sebangkuku. Ada hal lain yang kudapati di matanya untukku.

Kebencian.

Kucoba kutelan rasa pahit di tenggorokanku, dan membalikan badanku mengarah ke kamarku ketika suara seseorang membuatku berhenti.

“Kai.. Dia tunanganku, chingu.”

DEG

“LEE SAERA!”

Tunangan? Apa yang tadi dia katakan?

Langkahku terasa berat. Baru saja kurasakan ada sebongkah es yang menghujam tepat di jantung dan hatiku. Membuat segalanya terasa dingin dan sakit. Hey, aku baru saja menemukan obat untuk lukaku, namun seseorang kembali menancapkan pisau di dalamnya. Perih.

Saat tubuhku dilanda kebekuan, tangan besar seseorang seakan mendorongku keluar dari kebekuan dan menarikku pergi, tangan ini..

Park Chanyeol.

______

 

Author’s PoV

“YA! LEE SAERA! Apa yang kau lakukan?!”

Diluar kendali, Kai membentaknya. Rasa panas dan amarah baru saja menggerogotinya.

“Kai…” Lee Saera, hanya menatapnya nanar dan shock. Ada sesuatu dalam tubuhnya yang baru saja pecah,

“Kau membentakku hanya karena yeoja itu?”

“Apakah kau menyukainya, Kai?”

“Kau tidak boleh menyukainya Kai!”

“KAU MILIKKU! DAN HANYA BOLEH JADI MILIKKU!” Yeoja ini menangis histeris dan mengguncangkan tubuh Kai di depannya secara bertubi- tubi.

Kai hanya menutup matanya, mencoba meredam amarahnya. Mencoba mengalihkan amarahnya dari Saera kepada keadaan. Yang harus ia salahkan adalah keadaan, bukan Saera.

Luhan, yang sedari tadi menyaksikan adegan ini mulai bertindak. Ia maju ke depan dan menarik Saera dan mengajaknya untuk pergi dari situ. Saera yang meronta- ronta kalah dengan tenaga Luhan yang notabene adalah seorang lelaki. Ia menitipkan Kai pada yang lainnya sementara ia berencana akan menenangkan suasana hati Saera di suatu tempat, agar ia bisa berpikir dengan jernih.

Yura, dia hanya menyaksikan adegan ini juga dengan perasaan teriris. Ia tahu bagaimana perasaan Yubin sekarang.

Ia bisa melihat bahwa, sahabatnya itu baru saja bahagia, saat ia melangkahkan kakinya masuk Yura bisa melihat bahwa sahabatnya itu sangat bahagia dan kemudian ada sesuatu yang lebih besar daripada ditolak datang menghujamnya. Melihat orang yang ia cintai sudah memiliki tunangan yang tidak lain teman sebangkunya.

Rasanya ia ingin menyusul Yubin dan Chanyeol yang menghilang entah kemana dan segera menghiburnya. Namun, dia ingin memberikan kesempatan bagi Chanyeol untuk berdua bersama Yubin.

_____

Chanyeol masih saja menarik tangan yeoja bermarga Oh ini sampai ke sisi pantai yang lumayan sepi. Yeoja ini, dia masih kosong. Tatapan matanya menunjukan dirinya tengah terjebak di antara ruang dan waktu, dan mukanya makin pucat.

Chanyeol mendudukan dirinya di atas pasir dan menarik tangan Yubin dengan lembut agar duduk di sampingnya.

Tidak ada pembicaraan di antara mereka, yang terdengar hanyalah deburan ombak yang saling bersaing sampai ke sisi pantai. Sampai tiba- tiba suara isakan tertahan Yubin terdengar yang membuat Chanyeol hanya menatapnya sedih.

Chanyeol membiarkannya menangis. Mungkin juga yeoja ini tidak sadar di sebelahnya ada seseorang yang terdiam menemaninya. Tidak lama kemudian Chanyeol bangkit berdiri dan mengambil setangkai ranting yang tergeletak di dekat mereka dan mulai menuliskan sesuatu di pasir.

______

Yubin’s PoV

Hatiku terasa sakit rasanya ada sesuatu yang lumpuh di dalam sana, tapi otakku setidaknya masih bekerja. Mungkinkah dia menolakku dulu dan sesuatu yang ia sembunyikan adalah Saera? Tunangannya?

Yah seperti yang Kai katakan, aku akan percaya padanya. Aku berjanji akan mempercayainya apapun keadaanya. Tapi mengapa rasanya seberat dan semelelahkan ini?

Hey, rasanya sulit untuk mempercayai seseorang yang beberapa jam yang lalu ia menyatakan ia menyukai dirimu dan tidak lama kemudian datang seorang yeoja yang sudah menjadi temanmu dan mengatakan bahwa namja itu sudah memiliki tunangan yang adalah dirinya sendiri?

Jujur saja, aku merasa bodoh. Banyak sekali hal berkecamuk di kepalaku. Dan membuat air mata -lagi-lagi- mengalir dari kedua mataku.

Apakah aku secengeng ini? Kenapa harus menangis lagi?

SREKK SREKK

Kutolehkan kepalaku ke arah suara aneh itu, aku melihat Chanyeol sedang menulis sesuatu di pasir. Aku benar- benar lupa aku sedang bersama dirinya.

“Yeol-ah, apa yang kau tulis?”

Dengan susah payah, aku menghapus jejak- jejak air mata di pipiku dan berdiri. Bertujuan menghampirinya. Saat kuarahkan mataku ke tulisan yang sedang ia buat di pasir, mataku membelalak kaget dengan yang ia tulis.

OH YU BIN, SAHABATKU DAN YEOJA YANG SANGAT KUCINTAI SEDANG MENANGIS DAN ITU MEMBUATKU IKUT BERSEDIH.

“Chanyeol-ah?!”

Dia meletakan ranting yang ia pegang dan menatapku sedih, menghapus sisa air mata yang berada di pelupuk mataku dengan ibu jarinya.

“Uljima.. Kau membuatku ikut bersedih.” Chanyeol memandangku dengan pandangan yang sangat aneh. Membuatku bertanya- tanya, apakah dia Park Chanyeol?

Aku mengerinyitkan keningku bingung. Sementara ia hanya membuang napasnya berat seraya melemparkan pandangannya jauh ke arah laut sana dan duduk di pasir.

Aku mengikuti hal yang ia lakukan.

“Seseorang pernah berkata padaku, ketika kau bersedih ketika kau merasakan sakit di hatimu karena seseorang. Tulislah hal itu diatas pasir. Agar ombak dan angin dapat menghapusnya.” Ia tersenyum dan kemudian melanjutkan ucapannya.

“Aku hanya sedang mempraktekannya. Dan itu tidak sepenuhnya berhasil. Seperti yang kau lihat? Ombak telah menghapusnya. Namun rasa sakit di hatiku tidak sepenuhnya hilang.”

“Chanyeol-ah, mianhae. Aku tidak sepenuhnya mengerti. Tapi jika membuatmu bersedih adalah karena kesalahanku aku ingin meminta maaf.” Ujarku tulus sambil melihat wajahnya penuh penyesalan.

“Kau tidak salah. Aku hanya menyukaimu. Dan karena aku menyukaimu, aku juga ikut bersedih ketika kau bersedih, Yubin-ah.”

Dadaku mencelos, dan aku baru saja teringat akan sesuatu. Perkataan Heera kembali terngiang di benakku. Jadi itu benar?

“Yeol-ah.. Kau menyukaiku?”

“Mianhae, sahabatmu ini menyukai dirimu.”

Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Selama ini, walau kadang perkataan Heera sering terpikir. Tapi aku tidak pernah berpikir bahwa itu adalah sungguhan.

Chanyeol menyukaiku.

“Yubin-ah, apa Kai membuatmu merasa lelah?”

Lidahku masih kelu, tapi ketika kudengar nama Kai tiba- tiba rasa sakit menerjangku. Rasa sakit ini berbeda ketika aku ditolak dulu. Rasa sakit yang rasanya lebih complicated. Dan jujur saja, aku merasa sangat lelah.

Aku hanya mengangguk dan kulihat dia mulai menatapku lagi. Dengan tatapan yang sama. Jauh lebih dalam kedalam mataku. Membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan ke arah mana pun kecuali matanya.

Jika kau lelah, berhentilah.

“Apa maksudmu, Yeol-ah?”

“Rasanya aneh berkata seperti ini, tapi.. Bisakah kau berusaha, ani- mencoba saja sudah cukup. Mencoba untuk melihatku.

_____

Kai’s PoV

Setelah Saera dibawa pergi Luhan Hyung -entah kemana. Kakiku rasanya bergerak sendiri dan mencari Yubin. Aku ingin menjelaskannya, walaupun Saera memang tunanganku. Tapi aku ingin menjelaskan yang sebenarnya. Mengapa ia bisa menjadi tunanganku, dan bagaimana perasaanku padanya.

Aku menemukannya dengan Chanyeol. Sedang duduk berdua di sisi pantai yang lumayan sepi.

“Yeol-ah.. Kau menyukaiku?”

DEG! Apa mungkin Chanyeol sedang mengungkapkan perasaanya pada Yubin? Dan seketika rasa panas mulai menghinggap di sekujur tubuhku.

“Mianhae, sahabatmu ini menyukai dirimu.”

Tidak! Yubin tidak mungkin akan menerima nya bukan? Yubin masih menyukaiku.

“Yubin-ah, apa Kai membuatmu merasa lelah?”

Yeoja itu, yeoja yang hanya mungkin melihat Chanyeol dan tidak menyadari kehadirianku tidak jauh di belakang mereka, terdiam cukup lama. Namun kemudian ia mengangguk lemah. Membuat seisi dadaku terasa hampa dan membuatnya merasakan rasa sakit.

“Jika kau lelah, berhentilah.”

“Apa maksudmu, Yeol-ah?”

“Rasanya aneh berkata seperti ini, tapi.. Bisakah kau berusaha, ani- mencoba saja sudah cukup. Mencoba untuk melihatku.”

Apa mungkin aku telat? Siapa yang akan dia pilih?

Sahabatnya, yang tiba- tiba menyatakan perasaanya padanya yang selalu saja bisa membuatnya tersenyum atau namja yang ia ketahui juga menyukainya tapi selalu menyakitinya?

Aku tidak ingin mendengar apapun yang selanjutnya akan Yubin katakan, kulangkahkan kakiku cepat meninggalkan mereka.

_____

Yubin’s PoV

“Chanyeol-ah mian.” Aku hanya menunduk, tidak berani lagi menatap bola matanya yang jernih itu.

“Aku rasa, Kai masih ada disini.” Ujarku sambil menekan tempat dimana hatiku berada.

Aku meliriknya takut, namun ia hanya tersenyum. Yang membuatku bingung. Apa ada yang lucu?

“Aku sudah tahu, kau tidak perlu menjelaskannya lagi Yubin-ah.”

“Bukan begitu, kau sahabatku. Orang yang sangat berarti dihidupku. Aku tidak ingin menyakitimu. Selama setahun ini, aku selalu mencoba dan berusaha melupakannya.”

“Tapi kau selalu gagal?” Rasanya aneh. Sekarang dia memandangku dengan tatapan jahil.

“Hmmm..” Aku hanya bergumam tidak jelas.

“Tapi, sekarang aku sudah disini, Yubin-ah. Ada orang lain juga yang selalu melihatmu. Jadi kau tidak merasa sendirian lagi kan?”

“Mungkin bersamaku kau sedikit demi sedikit bisa melupakannya.” Lanjutnya dengan nada santai.

“Park Chanyeol, jebal.”

“Ssttt…”

Aku membelalakan mataku kaget. Ada sesuatu yang membungkan mulutku.

Chanyeol mengecup bibirku sekilas dan kemudian terkekeh. Dengan cepat dia berdiri dan berlari meninggalkanku.

“YA PARK CHANYEOL!!!! APA YANG KAU LAKUKAN??!!”

Sial! Sial! Itu tadi kan ciuman pertamaku?!

Arrgghhhh!!  Park Chanyeol mati kau!!

“Ya! Oh Yubin! Jika kau tidak bisa mendahuluiku sampai ke hotel, aku akan menciummu lagi!”

“MWOOO?!”

________

Hari ini kelompokku dan kelompok Kai menghabiskan hari dengan bermain di pantai. Sebisa mungkin aku menjauhi tatapan mata Kai dan aku tidak tahu dimana Saera, tapi ia tidak ada disini.

Aku mencoba tersenyum, bergembira seperti biasa. Aku mencoba.

Dan Chanyeol, jujur saja aku masih sangat kesal padanya. Ciuman pertamaku, direbut olehnya. Benar- benar menyebalkan.

Tapi setelah kejadian di pantai itu, tidak ada yang berubah dari sikap Chanyeol. Untunglah.

______

 

Kai’s PoV

Ini malam terakhir kami semua disini. Yubin menjauhiku. Itu benar- benar terlihat jelas.

Aku sedang berjalan ke arah kamarnya bertujuan untuk mengajak Yubin keluar. Aku ingin membicarakan segalanya. Mengingat ia tidak pernah membalas textku atau mengangkat teleponku.

Mataku menangkap siluet seseorang berjalan berbeda arah denganku. Makin lama aku dapat melihatnya dengan jelas. Park Chanyeol.

“Kai.” Sapanya ketika jarak kami sudah dekat.

“Tidak ada basa basi, apa yang ingin kau bicarakan?”

“Aku tidak berminat untuk basa basi sebenarnya.” Dia melihatku dengan tatapan yang dingin dan datar. Aku hanya mendengus dan menatapnya tajam.

“Saat dipantai, aku tahu kau berdiri di belakang kami. Dan kuduga kau juga sudah tahu bahwa aku sudah menyatakan perasaanku pada Yubin.”

O-oh. Ternyata dia menyadari kehadiranku.

“Lantas? Aku tahu Yubin tidak akan menerimamu. Dia masih menyukaiku.”

“Ya kau benar. Tapi apakah kau menyadari sesuatu?”

“Apa maksudmu?”

“Ada yang berubah sekarang. Aku tidak akan berdiam diri lagi. Aku akan mengambil hatinya darimu. Jadi bersiaplah.”

TBC

10 thoughts on “[FREELANCE] You Can’t Disappear From Me (Chapter 5)

  1. nomu complicated …
    eon aq harap yubin bisa sama kai …
    dan chanyeol oppa sama aq aja ne !!#dtimpuksendalsamaexotic
    thor make a great story ne !!
    fighting !!

  2. aigoo firstkissnya yubin direbut chanyeol, kai kau harus bertindak, but keren ceritanya kadi ga sabar liat chapter 6nya.

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s