[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 8)

CM-Chap%208

Title : Clumsy Me

Subtitle : Study Tour

Author : NadyKJI

Web : http://cynicalace.wordpress.com/

Genre : Comedy (a little?), romance, friendship, School Life

Length : Chaptered

Rating : G

Maincast:

  • Kim Jong In – Kai
  • Cha Naraya (OC)

Other : Oh Sehun, Lee Ria (OC), Min Chan Rie (OC), Park Chanyeol, Byun Baekhyun, D.O, Tao, Chen, Choi Minho (Shinee), Sulli (fx), Kang  Chae Kyong, Han Yeon Yuk (OC), Cho Youn Hee (OC),  (will be added)

Disclaimer : FF ini murni ide-ide khayalan author yang kelewat tinggi, dilarang meniru dengan segala cara apapun, jika tidak ff ini tidak akan dilanjutkan lagi. Terima Kasih.

Author’s Note :

Anneyonggg!!!

Chapter 8 #asdfghj#$%^&

Author tidak menyangka bisa sampai chapter 8, di taksir dulu perasaan smpe 5 juga udah bersyukur… ketagihan kali ya??

Ff ini masih ada yang baca tidak ya? Huaa kalau masih ada gomawo ne..

Thanks to admin exomkfanfiction.wordpress.com yang sudah mempublish ff ini sekali lagi jeongmal gomawo #deep bow

Ya sudah author mau nongkrong bareng exo di dorm mereka aja,

Happy Reading ^^

Yang baca sampai akhir author kasih hadiah ya nanti *awas lo thor ntar janji palsu

___

-:Kai:-

Aku menunggu Naraya di bangsal yang sudah disediakan. Aku hanya keluar ketika saem mengantikannya baju. Sesudah itu saem juga menghilang harus menilai kekompakan rafting. Kegiatan baru di mulai, sehingga mustahil sekali ada yang sudah sampai.

“Eum, ini di mana?”

Perlahan mata Naraya mengerjap membuka. Rasa lega dan marah merasukiku menjadi satu.

“YA! Kau ini, bisa-bisanya jatuh! Aku sudah hampir serangan jantung tahu!”

Bukanlah kata-kata bernada khawatir yang keluar dari mulutku.

“Mianhae.”

Terlihat sekali Naraya sangat menyesal. Tangannya gugup memainkan ujung selimutnya.

“Hah..”

Aku memejamkan mata, memijat pelipisku. Gadis ini selalu saja membuatku kaget, setiap aku memalingkan muka sedetik saja ia sudah celaka. Seperti kejadian ini, aku hanya menoleh sedetik saja, dan gadis itu sudah jatuh dari pinggir sungai. Jantungku sudah nyaris berhenti melihat kejadian ekstrim tersebut terjadi. Aku sepertinya mengerti dengan orang-orang disekitarnya – selalu khawatir dan jantungan.

“K..Kai, ini di mana?” ia menanyakan sekali lagi, perlahan.

“Tenda UKS.”

“Yang lain? Saem?”

“Masih rafting, belum ada yang sampai. Tadi saem yang merawat dan mengantikan bajumu, sesudah itu ia juga harus menjadi pengawas.”

Naraya menganggukan kepala, sedikit kelegaan terpancar di wajahnya.

“Baikkan? Butuh sesuatu?” aku menawarkan.

“Gwaechana, tapi kalau boleh air hangat.”

Aku beranjak dari kursi, mengambil air hangat di dispenser yang terdapat di pojok tenda.

“Kau menggigil?” pertanyaan retoris, aku memberikannya gelas berisi air hangat.

“Ne, aku memang tidak cocok dengan dingin dan… debu.”

Gadis itu mengambil air hangat seakan mendapat pelampung penyelamat.

_

Kulihat wajah Naraya, gadis itu sudah tertidur lagi. Kali ini tidurnya terlihat tidak tenang, gelisah. Sepertinya kepanasan. Tanganku otomatis menurunkan selimut yang menutupi gadis itu sampai dagu. Namun begitu tanganku tidak sengaja menyentuh pipinya.

Panas.

Merasa tidak yakin aku menaruh punggung tanganku ke dahinya. Ya! Dia demam.  Kenapa yeoja ini selalu saja menyusahkanku? Aku mengambil handuk dan baskom.

Setelah mengisi baskom dengan air, aku mengompresnya.

Apakah dia benar-benar selemah ini dengan dingin?

-:Naraya:-

Aku terbangun, seluruh badanku terasa panas, kurasakan ada sesuatu di dahiku. Aku mengambil benda itu.

Handuk?

Aku bangkit mencari Kai, namja itu tidak ada di dalam tenda. Aku baru menurunkan kakiku dari ranjang. Tiba-tiba seseorang masuk.

“Mau ke mana kau?” Kai – namja itu yang berjalan masuk.

“Euhm, mencarimu…”

Kai tidak menjawab lagi. Tapi ia berjalan menuju kotak obat yang tergeletak di ujung ruangan. Tangannya mengambil sebotol obat, mengeluarkan satu pil.

“Igo. Kau demam.” Katanya menyodorkanku pil tersebut.

Ternyata… pantas saja sekujur tubuhku panas. Aku dengan ragu menerimanya, baru saja aku akan meminum pil tersebut.

“Chankaman! Apa kau sudah makan sebelum rafting?”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Ya! Jangan di minum dulu. Kau harus makan dulu. Perutmu tidak boleh kosong.”

Kali ini Kai keluar lagi, membiarkanku sendirian di dalam tenda. Kerongkongaku terasa kering dan panas – efek samping dari demamku. Aku meraih gelas yang terletak di meja tak jauh dariku, meneguknya.

Beberapa lama kemudian Kai sudah kembali, membawa roti.

“Makanlah. Aku menemukannya di tas Sehun.”

“Ah, gomawo…”

Aku menundukkan kepalaku, memakan roti itu perlahan. Aku bersusah payah menghabiskan roti itu, karena setiap aku menelan ada sensasi mual yang menyebalkan.

Setelah roti itu habis, aku meminum obat. Membaringkan diriku kembali. Kulihat Kai berada di depan tenda, menunggu yang lain kembali dari rafting.

Cukup lama aku terjaga hanya melihat Kai yang berdiri mondar-mandir, sampai kelopak mataku terasa berat.

_

“NARAYA! GWAECHANA?”

Aku mengerjap pelan, terbangun dari tidurku. Sudah berapa lama aku terdidur? Setelah cukup sadar aku melihat siapa yang berada di sampingku, ternyata Ria.

“Tenang, aku sehat. Hanya kedinginan.”

Bisikku pelan begitu Ria sampai di dekatku, rupanya demamku membuat tenggorokkanku tidak enak.

Ia mengernyitkan dahinya, kemudian tangannya memegang dahiku.

“Ya! Kau bohong, kau demam. Babo!”

Ria memelukku terlihat khawatir. Ya sia-sia aku berusaha tidak memberitahukan kalau aku demam.

“Ria…” aku menatapnya dengan wajah memelas.

“Wae?”

“Jangan beritahu kalau aku tertimpa bencana ini dan demam..”

Ria langsung melepaskan pelukannya, mengigit bibir, memainkan tangannya gugup.

“Kau bilang? Astaga!”

“Mian, habis aku panik sekali. Kai bercerita seakan-akan kau cedera parah.”

“Wae? Dia bilang apa?”

“Dia bilang dia hampir saja jantungan. Kau terbaring lemas, kau mengigil tidak kuat dingin.”

Aku memutar bola mataku. Tunggu – Kai sudah bilang ia jantungan dua kali kalau begitu. Satu saat bersamaku dan dua dengan Ria? Memang benar-benar separah itu ya? Bibir bawahku menjadi korban penyesalanku – lecet mungkin kugigiti terus.

“Apa saja yang kau beritahukan? Kepada siapa?”

“Chen. Hanya soal kau jatuh ke sungai saja. Aku panik jadi hanya sempat bilang padanya kalau kau jatuh dari sungai.”

Aku sedikit menghela nafas lega, “Ya setidaknya jangan bilang aku demam ya. Sudah cukup dengan berita aku jatuh ke sungai. Aku tidak ingin membuatnya menyusulku ke sini.”

“Arraseo. Sekarang kau berbaring lagi saja, kau harus istirahat. Kelompok yang lain belum datang, kau masih bisa istirahat. Besok juga masih ada kegiatan kan… aku akan menemanimu.”

“Ehehe, gomawo chingu…”

-:Author PoV:-

Kegiatan study tour sudah sepenuhnya selesai, namun belum saatnya pulang. Para murid mendesak agar mereka di izinkan pergi dulu ke taman dekat hutan yang tak jauh dari villa sebelum pulang. Karena begitu banyak desakan, akhirnya para guru menyerah.

Setelah semua murid memasukkan barang-barangnya ke dalam bis dan memastikan villa sudah benar-benar nihil dari barang-barang tertinggal, semuanya masuk ke dalam bis. Bis yang akan mengantarkan rombongan itu ke taman.

Karena jarak yang tidak seberapa sebentar bis itu sudah tiba di tempat tujuan. Semua murid berhamburan keluar. Para namja langsung bermain salju tak jarang juga para murid yeoja.

“Kau turun tidak?”

Ria menoleh ke arah Naraya yang menatap keluar jendela. Tubuh gadis itu tertutup rapat oleh jaket. Pagi-pagi sekali Naraya bangun, langsung mengemas barangnya. Saat Ria berusaha membuat yeoja itu diam, ia berkata bahwa ia baik-baik saja.

“Turun, kajja!”

Naraya beranjak dari kursinya, menarik tangan Ria keluar. Walau tubuhnya masih belum sehat benar, melihat murid lain sebegitu senangnya ia jadi ingin turun. Apalagi melihat Lyira dan yang lainnya terlihat sedang menata tikar – untuk piknik? Di musim dingin? Naraya bertanya-tanya.

“Apa yang kalian lakukan?” Ria bertanya ke arah Sehun yang sedang berdiri melihat kegiatan menyiapkan piknik (?)

“Lyira seperti biasa memasak, tentu saja sesudah ini makan-makan.”

Ria dan Naraya yang memang baru sampai itu langsung saja menganggukkan kepalanya seperti orang bodoh.

“Eh, ngomong-ngomong kau sudah sehat?” Sehun bertanya ke arah Naraya.

“Ne, gomawo.” Naraya tersenyum ke arah Sehun.

“Ah Naraya, Ria, kalian ke mana kemarin? Aku dengar kau kemarin tertimpa musibah, ya, Naraya?” Lyira datang menghampiri.

“Ehehe, gwaenchana. Apa yang kau masak?”

“Cream soup, hot chocolate, dan muffin keju. Kau pasti suka, di dalam muffinnya ada lelehan keju.”

Lyira tersenyum menarik Naraya untuk segera duduk.

Beberapa menit sesudahnya, sekelompok murid itu sudah duduk memenuhi tikar piknik. Chanyeol dan Baekhyun dengan rakusnya mengunyah muffin keju yang menjadi favorit seluruh anggota.

“Huah ini enak sekali!” Ria mencicipi muffin itu sembari mengangkat jempolnya.

“Ini coba…” Sehun memberikan muffin kepada Kai.

Kai hanya menerima muffin tanpa protes sedikit pun, menggigitnya.

“Ya!” Kai berteriak ketika lelehan keju menetes mengenai jaketnya. Namja itu kemudian berjalan meninggalkan kelompok itu menuju tempat cuci tangan.

Naraya yang belum begitu sehat hanya melihat semua teman-temannya makan. Ia hanya bisa menyesap coklat panas, perutnya sedikit berontak ketika mencium aroma susu dari cream soup. Efek dari sakitnya mungkin.

Lyira melirik ke arah Naraya, di perhatikannya sejak tadi, gadis di sebelahnya itu hanya diam menyesap minumannya. Tidak makan sesuap pun makanan, membuatnya sedikit khawatir. Mengingat pula keadaan Naraya yang memang sedang tidak bagus.

Tangannya mengambil satu-satunya muffin yang masih tersisa.

“Hoah! Itu milikku!” Chanyeol berkata sengit, saat ia keduluan Lyira.

“Shut up!” Chan Rie tiba-tiba membentak Chanyeol, Chanyeol hanya bergidik ngeri menatap Chan Rie. Apakah sehina itu di matanya ya.., batin Chanyeol.

“Naraya-chan, ayo di makan, kau tidak makan sejak tadi.” Lyira menyodorkan muffin yang baru di ambilnya itu pada Naraya.

“AH, gomawo. Kau perhatian sekali.”

Naraya mau tidak mau mengambil muffin dari tangan Lyira, ia tidak enak menolak. Melihat raut wajah Lyira yang terlihat khawatir padanya. Jadi meskipun perutnya sedikit bergejolak ia mencoba memakan muffin itu.

Sayangnya, begitu muffin tersebut mendekati indra penciumannya, rasa mual menyerangnya. Bau keju dan susu memang tidak baik jika sedang sakit dalam kasusnya. Naraya berusaha menahan mualnya, tangannya memberikan muffin tersebut kepada Ria yang berada di sebelahnya.

“Uhuk, mianhae Lyira, sepertinya perutku memberontak..”

Ia langsung bangkit dan berlari ke arah yang sama dengan Kai, berharap isi perutnya tidak akan keluar sebelum ia mencapai tempat cuci tangan tersebut.

Kai yang masih berada di tempat cuci tangan baru saja akan berbalik kembali. Sampai sosok Naraya berlari dan langsung menghambur ke tempat cuci tangan, menundukkan kepalanya.

“Gwaencha-..”

“Uhuk! Huk!”

Naraya langsung mengeluarkan isi perutnya yang tidak seberapa – berhubung ia tidak nafsu makan, begitu sampai. Matanya mengerjap menghilangkan air mata yang datang menyertai.

Kai menghampiri Naraya, tangannya menyibakkan rambut panjang Naraya ke belakang. Tangannya yang bebas mengusap punggung gadis itu.

“Kau tidak apa-apa? Kenapa sebenarnya?” Kai bertanya.

Tangan Naraya menjalankan keran air, mencuci mulutnya, “Gwaenchana. Hanya perutku memberontak saat mencium bau keju. Hah…”

Sekarang ia merasa benar-benar lemas, badannya yang sudah merasa baikan kembali panas. Telinganya berdenging, pandangannya sedikit berputar. Ia berusaha mengerjapkan matanya, berharap sesudahnya akan baik-baik saja. Tapi ia malah kehilangan keseimbangannya.

Grep.

Tangannya otomatis menggapai lengan Kai yang berada di depannya.

“Ya! Kau kenapa?” kali ini Kai meninggikan suaranya.

Terlambat, kesadaran Naraya sudah hilang.

“Ck…”

Tanpa pilihan Kai membopong Naraya.

-:Ria:-

“Dia hanya demam ringan, tapi karena udara dingin dan kurang makan menyebabkannya menjadi sangat lemah.” Doktor mengalungkan kembali stetoskopnya, lalu meninggalkan ruangan.

Begitu Naraya pingsan Kai membawanya kembali, tapi karena menurut saem penyakitnya memburuk, Kai di minta mengantarnya ke rumah sakit terdekat. Sementara rombongan yang lain akan pulang – Kai sudah menyuruh Sehun kembali dulu lalu menjemput di rumah sakit ini agar tidak merepotkan saem, dan aku memaksa ikut agar bisa mengetahui keadaan Naraya.

Aku berjalan mendekat menuju ranjang. Kulihat ia berbaring, selang infus terpasang di lengannya.

“Bagaimana?”

Kutolehkan kepalaku menuju asal suara – Kai.

“Hanya demam, namun yang membuatnya parah udara dan katanya ia kurang makan.”

Aku beranjak duduk di kursi sebelah ranjang, mengabaikan Kai.

“Hmm, dasar. Sudah kubilang saat sarapan untuk mengambil lebih banyak, ck.”  Aku mengomel pada Naraya yang tertidur.

Gadis ini, selalu saja mengkhawatirkan.

“Kau sudah memberitahukan kakaknya atau orang tuanya? Igo.”

Kai berjalan mendekatiku, tangannya menyodorkan segelas kopi hangat.

“Gomawo. Ah! Aku lupa… aku harus bilang apa pada Chen? Sudah pasti dia akan khawatir.”

Aku menghela nafas, menyesap kopi yang di berikan Kai padaku. Pikiranku berputar, memikirkan cara memberitahu kejadian ini sebaik mungkin agar Chen tidak panik.

_

“Uhmmm..”

Aku merasakan seseorang menguncang bahuku pelan. Aku membuka mataku perlahan, mengankat kepalaku. Seketika kurasakan tanganku yang kaku, akibat tidur sepertinya. Setelah mengerjapkan mata beberapa kali aku baru menoleh ke sampingku mencari siapa yang baru saja mengusikku.

“Ah, Sehun. Kapan kau datang? Kemana Kai?” aku mengucek mataku.

“Sudah lumayan lama. Kai sedang keluar mencari makan.”

“Jam berapa sekarang?” aku bertanya, ekor mataku melirik Naraya yang masih tertidur.

“Jam 3 sore. Tadi dia sudah bangun, dia tertidur lagi setelah meminum obat.”

Mulutku membentuk huruf o dan mengangguk.

Suasana kembali hening, Sehun hanya berdiri bersandar pada dinding asyik dengan ponselnya. Aku kembali menatap Naraya, meremas pelan tangannya yang bebas.

“Naraya… cepat sembuh ya.. jangan membuat orang di sekelilingmu khawatir babo. Aku bahkan belum menghubungi Chen maupun eomma dan appamu.”

Sungguh kenapa dari antara semua kesialannya, kenapa harus saat study tour dia mengalami puncaknya. Lain kali benar-benar harus menyewa bodyguard.

“Ria, kau sudah bangun.”

Kulihat Naraya membuka kelopak matanya.

“Kenapa kau bangun?”

“Ahaha, aku kebanyakan tidur, jadi tidurku tidak begitu nyenyak. Bisa kurasakan tadi kau meremas tanganku.” Matanya melihat ke arah tanganku, tertawa pelan.

“Hehe, kau ini. sekarang bagaimana aku harus mengabari Chen? Atau orang tuamu hah? Sekarang sudah jam 3an dan kita belum pulang karenamu!”

“Woah? Selama itukah? Mian. Bagaimana kalau kau memanggil dokter supaya aku di perbolehkan pulang. Dan tolong lepas infus ini, seakan aku sakit parah saja.”

Naraya memutar bola matanya, “Tentu, kalau soal infus itu sengaja, habis kau tidak makan kan, salah sendiri.”

Tiba-tiba Sehun berjalan mendekat, tangan kanannya memencet tombol bel.

“Kau benar sudah baikan?” katanya sangsi melihat Naraya.

“Eoh. Tenanglah kali ini benar. Mian jadi merepotkanmu.” Naraya menundukan kepalanya menyesal.

“Dwaesoo. Sekarang kau harus sehat dan kita semua jadi bisa pulang.” Aku berucap padanya.

-:Naraya:-

Cklek.

Aku melihat pintu di buka, aku menyangka itu dokter. Tapi setelah melihat jaket hitam, dia Kai. Ya! Aku hampir lupa dengan keberadaan namja itu sepertinya. Kai masuk membawa kantong plastik.

“Sudah sadar?” ia berjalan mendekat, memberikan kantong tersebut pada Sehun.

Aku mengangguk canggung padanya. Sungguh aku banyak sekali hutang budi pada Kai. Namja itu selalu menyelamatkanku.

“Huahm puding! Gomawo Kai, ahaha.” Ria mengambil puding dari dalam kantong plastik dengan mata berbinar senang.

Cklek.

Pintu kembali di buka, kali ini datanglah dokter, ia berjalan menghampiriku. Ria, Sehun dan Kai menyingkir ke pinggir, memberikan ruang pada dokter.

Setelah memeriksaku sebentar mulutnya berucap, “Sepertinya demammu sudah turun. Kau boleh pulang. Hati-hatilah. Aku akan memanggilkan suster untuk melepas infus. Sesudah ini pastikan kau makan.”

Tangan dokter meraih bel yang berada di samping ranjangku.

“Ne, gomawoyo.”

“Kau mau makan apa? Ada roti coklat di sini.” Ria yang masih berada jauh itu mengoprek isi plastik, menawarkannya padaku.

“Hmm, sepertinya roti saja dulu….”

Cklek.

Kali ini suster datang lebih cepat daripada dokter. Dokter berbicara pelan menginstruksikan bahwa aku sudah boleh pulang. Tak lama kemudian doktor sudah menghilang, sedangkan suster mengurus infusku.

Aku mengernyitkan dahiku, jarum infus yang terpasang sangat menyakitkan.

_

“Halo?”

“Naraya! Kau baik-baik saja? Eodi?”

“Gwaechana oppa, jeongmal gwaenchana. Aku baru saja duduk. Aku pulang, eoh?”

“Kau ini membuat khawatir saja. Kemana ponselmu sisa hari kemarin? Sekarang sudah sore, kenapa baru pulang?”

“Tertinggal di kamar… yaa dan ada sedikit tragedi” ucapku pelan

“Kenapa malam tidak di hidupkan hah? Tragedi?! Apalagi? Tidak cukupkah dengan berita kau jatuh dari sungai?”

Chen berkata panjang lebar dari sebrang sana.

“Argh, ayolah oppa, aku lelah, lagipula dengan tragedi sungai itu aku mana sempat berpikir tentang ponsel? Tragedi yang lain menyusul saja di rumah ceritanya…”

Padahal jelas-jelas aku yang mematikan ponselku ketika Ria menyerahkannya padaku kemarin. Aku terlalu ngeri melihat sudah banyak misscall entah dari eomma atau Chen. Aku belum siap menerima pertanyaan memberondong dari mereka.

“Ne, cepatlah pulang, jangan sampai kau tidak pulang! Aku menagih penjelasan!”

“Ne, ne…”

Aku memutuskan panggilan begitu saja. Menyandarkan kepalaku di senderan kursi, tidur. Lelahku tidak habis-habis.

TO BE CONTINUE…

3 thoughts on “[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 8)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s