Take a Drink Together (Chapter 8)

take a drink together

 

Take a Drink Together

Author
pearlshafirablue

| Do Kyungsoo [EXO-K] – Kim Taeyeon [GG] |
Tiffany Hwang [GG]
Action, AU, Mystery, Romance, Suspense
Multichapter (8 of ?), PG-17

“All of the characters belong to God and themselves. They didn’t gave me any permission to use their name in my story. Once fiction, it’ll be forevr fiction. I don’t make money for this. Inspired by Detective Conan The Series © Aoyama Gosho.”

Previous Chapter
Prolog . 1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6 . 7

A/N
Chapter ini diberi rating PG-17 bukan karena mengandung unsur smut atau sex, melainkan adegan kekerasan dan istilah-istilah vulgar yang tidak pantas dibaca oleh anak di bawah umur. Selain itu konflik batin sang pelaku juga mungkin bisa memengaruhi kondisi psikis anak-anak yang berumur kurang dari 15 tahun. I’ve warned you.
Dan jangan khawatir untuk pembaca di bawah umur yang segan untuk membaca chapter ini. Karena di chapter selanjutnya saya akan memberikan sinopsis chapter ini tanpa satupun adegan yang berbahaya.

-o0o-

Kediaman Stephanie Hwang, Gangnam-gu, Seoul, South Korea

“Aku pulang.” Kyungsoo bertutur dengan tenang, berusaha untuk tetap terlihat wajar—kendati kalimat ‘aku pulang’ begitu asing di telinganya. Ia tidak pernah mengatakan apapun ketika sampai di rumah, ia hanya melepas sepatunya dan langsung berlari mengunci diri di kamar loteng, atau bereksperimen di laboratorium milik sang noona di bawah tanah.

Lelaki itu ber-grilya menuju ruang tengah yang kini nampak remang, karena hanya disinari oleh dua bohlam lampu kecil di atas akuarium. Tidak ada tanda-tanda dari kedua noona-nya, begitu pula dengan dayang-dayang sewaan sang noona.

Kyungsoo mengedarkan pandangannya di sekeliling ruangan. Tidak ada satupun yang aneh, semua barang masih berdiri tegak pada masing-masing tempatnya—sama seperti terakhir kali ia berada disana.

Lelaki bermata bulat tersebut kembali berjalan, menapaki anak-anak tangga yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai di atasnya. Biasanya jika ia pulang selarut ini, kedua noona-nya sudah berada di depan pintu, bersama dengan orang-orang organisasi berbadan besar—siap untuk memberinya hukuman. Dan malam ini nampaknya tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan diberi hukuman. Tidak ada Stephanie Hwang. Tidak ada lelaki berbadan besar.

Akhirnya Kyungsoo bisa bernapas lega ketika kaki jenjangnya menginjak ubin keramik di lantai 2. Lampu di depan ruangan kerja Stephanie Hwang belum menyala, padahal malam semakin larut. Dirinya yakin bahwa Stephanie Hwang belum menginjakkan kaki di rumah besar miliknya itu sejak sore hari. Tidak ada tanda-tanda kedatangannya. Debu tebal masih menyelimuti keset di depan ruangan wanita kelahiran 1989 tersebut.

Kyungsoo berjalan dengan ringan ke arah kamarnya di loteng, yang berarti dirinya harus melewati puluhan anak tangga lagi. Saat ini beban di hatinya sudah sirna, tidak seperti saat ia baru memasuki gerbang depan. Sekalipun sang noona mengetahui ulahnya kali ini, setidaknya hukuman akan ditunda sampai besok tengah hari, saat makan siang usai. Ya, Stephanie Hwang selalu melewatkan pagi dengan aktivitas yang tidak terhitung. Setelah sarapan, ada saja hal-hal penting yang berhubungan dengan sindikatnya yang harus ia bereskan. Bahkan, dirinya tidak jarang mengambil penerbangan pagi untuk pergi ke Paris atau Los Angeles guna menyelesaikan urusannya. Stephanie Hwang memang pekerja keras. Ia rela melakukan apapun untuk mendapatkan kesuksesan yang ia inginkan. Hanya satu hal yang perlu disayangkan, wanita itu berjiwa Anubis.

Terdengar bunyi derit yang cukup menusuk indera pendengaran saat Kyungsoo membuka daun pintu yang menghubungkan kamar pribadinya dan lorong loteng. Dirinya terkesiap saat menyadari bahwa kamarnya gelap gulita—kendati lampu lorong bersinar dengan terang.

Tubuh lelaki itu mengejang ketika sebuah benda dingin menyentuh dahinya. Spontan ia melangkah mundur, tetapi benda itu tetap melekat di kening lebarnya.

“Kemana saja kau, huh?”

Vokal itu.

Vokal yang sangat ia kenali.

N-Noona?” Kyungsoo menyesap salivanya sendiri, sementara manik matanya berusaha menemukan bayangan sang noona di tengah kegelapan.

Stephanie Hwang mendorong tubuh ringkih Kyungsoo menggunakan revolver di tangannya—benda yang menyentuh kening Kyungsoo tadi—hingga lelaki itu termundur beberapa langkah dan membentur dinding lorong. Kini Kyungsoo bisa melihat jelas sosok noona-nya—yang tengah menatap dirinya intens, dengan sebuah pistol hitam yang masih menempel di kening lelaki itu.

Where have you been, Kyungsoo?” Vokal berat milik wanita bersurai merah itu kembali menembus gendang telinga Kyungsoo. Rahang lelaki itu mengeras kala buku-buku jarinya mengepal tinju.

Friend’s home.” Hanya dua kata itu yang berhasil keluar. Pupil matanya bergerak ke bawah—berusaha menghindari tatapan tajam kedua manik mata Stephanie.

“Sudah dua hari berturut-turut kau pulang selarut ini dengan alasan pergi ke rumah teman?!” Suara Stephanie Hwang meninggi. Revolver di tangannya menekan keras dahi Kyungsoo.

I’m not lying.” Kyungsoo membalas. Tubuh pria itu sudah sedingin es sekarang.

I know you can’t.” Stephanie menurunkan revolver tadi dari kening Kyungsoo. Ia melipat kedua tangannya yang putih bak susu itu tanpa melepaskan tatapannya dari pria berusia 16 tahun yang memiliki bakat lebih dalam ilmu genetika tersebut. “And you won’t.” Ia melanjutkan, “Now, tell me. Who is that slut?”

Mata Kyungsoo melebar mendengar pertanyaan dari Stephanie. Giginya menggigit lapisan bawah bibir ranumnya. Ia tidak menjawab. Lelaki itu menyadari bahwa Stephanie sudah mengetahui siapa teman yang dimaksud ketika kata ‘slut’ keluar dari bibir wanita itu[1].

Seolah mengetahui apa yang tengah dipikirkan Kyungsoo, Stephanie langsung menginterupsi, “You know that I already knew her, sweety.” Ulasnya sembari menyentuh puncak hidung Kyungsoo dengan jari lentiknya. Stephanie berbalik memunggungi Kyungsoo, masuk ke dalam kamar pribadi lelaki itu dan menekan saklar lampu. Tak sampai sedetik ruangan berukuran 8x8 meter tersebut sudah terang benderang.

Kyungsoo memicingkan mata saat sebuah benda asing tertangkap pandangannya. Layar besar dengan sebuah proyektor yang dialasi meja kayu kecil berdiri dengan tegak di sebelah tempat tidurnya. Ia mengalihkan pandangan ke arah Stephanie—meminta penjelasan.

“Oh!” Wanita itu berpura-pura terkejut. Ia berjalan masuk ke dalam kamar, disusul Kyungsoo di belakangnya. Dirinya meminta Kyungsoo untuk duduk di sebuah kursi besi yang sudah disiapkannya di tengah ruangan, di depan layar kain itu.

Kyungsoo menurut. Ia duduk dengan ragu di atas kursi tersebut, dan sekonyong-konyong muncul borgol besi tepat ketika kedua tangannya menyentuh sandaran tangan kursi tadi.

“A-apa maksudnya ini?!” Kyungsoo mengerang. Ia berusaha keras untuk lepas. Tapi apa daya, lawannya adalah sebuah borgol besi yang akan tetap bergemin meskipun dibakar sekalipun.

“Aku punya sebuah tayangan menarik untukmu, sweetheart. Live, langsung dari South Seaport, New York, AS.” Stephanie menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringai. Kyungsoo bergidik ngeri memandangnya. Entah kenapa seringai milik wanita yang dirasuki Dewa Hades itu terlihat bengis namun mempesona. Tapi tidak ada waktu untuk mengangumi wanita itu. Sekarang kedua manik matanya sudah terpaku pada layar putih yang kini mulai menampilkan sederetan tulisan berbahasa Prancis.

“Ini dari New York?” Kyungsoo menyipitkan mata, “kenapa berbahasa Prancis?” Ia melanjutkan. Sekarang tayangan itu memutar rekaman keadaan perumahan kumuh di South Seaport.

“Kebetulan yang menyusun video ini berkewenegaraan Prancis.” Jawab Stephanie datar. “Lagipula, ini tidak penting. Ada hal lain yang lebih dahsyat setelahnya.”

Bulu kuduk Kyungsoo menegang mendengar kalimat wanita Anubis itu. Matanya kembali fokus kepada layar.

Tepat ketika kamera berhenti di sebuah ruangan salah satu rumah kecil di South Seaport tadi, Kyungsoo menemukan beberapa kejanggalan.

Ada banyak tetesan darah.

Mata Kyungsoo melebar. Tubuhnya beringsut mundur, kendati punggungnya sudah membentur sandaran kursi. Ada suatu hal yang mengusik batinnya.

Ruangan yang menyerupai paviliun rumah-rumah adat Jepang tersebut terlihat laksana suasana seusai perang. Banyak pisau berserakan disana, mulai dari pisau kecil tipis hingga pisau-pisau besar bak pisau pemotong daging. Selain pisau, ada banyak sekali noda darah yang sudah mengering, mengemuli setiap senti lantai kayu rumah itu.

Akhirnya sang kameramen membuka sebuah pintu yang paling terlihat kusam di ruangan itu, terdengar bunyi berderit dampak dari engsel yang sudah berkarat.

Apa yang ada di ruangan itu membuat jantung Kyungsoo tidak bisa menjalankan fungsinya dengan benar.

Dirinya bisa melihat dengan jelas, sepasang manusia telanjang bulat diikat di sebuah tiang tinggi bak Jesus, dengan berpeluh cairan merah anyir yang disebut darah.

Kyungsoo menahan napas ketika kedua orang itu mendongak—menatap ke arah kamera—yang artinya menatap ke arahnya juga.

Mereka…

orangtua Kyungsoo.

Kyungsoo melotot. Matanya menilik setiap inci anggota badan milik orangtuanya yang nyaris hancur. Bahkan ia bisa melihat dengan jelas kalau tangan kiri ayahnya sudah tidak ada.

Air mata lelaki itu menggenang di pelupuk. Hatinya bak diiris sembilu. Nyeri melihat guratan luka yang ditorehkan di setiap bagian tubuh kedua orangtuanya. Matanya terpejam, sama sekali tidak berniat menyaksikan lanjutan dari tayangan ini.

Plak!

Mendadak kelopak mata Kyungsoo membuka. Stephanie telah menampar pipi kirinya.

Don’t you dare to close your eyes!” Hardik Stephanie dengan keras. Suaranya menggema di ruangan yang luas itu.

Kyungsoo tidak membantah. Ia kembali memfokuskan pandangannya.

Sebuah cambuk perlahan-lahan menyundak bagian kewanitaan Nyonya Do. Wanita itu memekik kesakitan. Tubuh Kyungsoo mengeras melihatnya.

Pelakunya adalah seorang lelaki jangkung berbalut pakaian hitam ketat yang tengah menoleh ke kamera. Wajahnya tertutupi topeng yang berwarna kontras dengan pakaiannya—persis seperti topeng yang dipakai oleh si pembunuh di film Scream 4.

Lelaki itu kini mengambil pisau kecil—yang terlihat seperti pisau bedah. Ia berjalan, menuju ke arah tiang yang menopang Tuan Do. Lelaki itu menusuk paha Tuan Do dengan tenang, menggores sebuah pola di atas kulit putih tanpa pigmen tersebut. Sang empunya paha mengerang kesakitan. Bulir-bulir air mata keluar dari matanya yang nampak bengkak. Darah muncrat dari luka gores besar yang terpatri di paha Tuan Do, membasahi topeng si pelaku.

Mendadak terdengar suara kikikan dari samping Kyungsoo. Lelaki itu buru-buru menoleh. Stephanie tertawa lepas melihat tayangan di depannya—sementara Kyungsoo nyaris menangis. Ia meringis melihat keadaan Stephanie yang menyedihkan itu. Baginya Stephanie Hwang sudah tidak waras.

“Ibumu memiliki dada yang besar, sweetheart.” Ucap Stephanie sambil terkekeh. Kyungsoo melotot, tidak percaya dengan apa yang diucapkan wanita sinting itu.

Kembali ke South Seaport, sang pelaku melanjutkan aksinya. Ia memutar pisau bedah tadi hingga menembus kulit selangkangan Tuan Do dan memutarnya hingga mematri luka besar seputaran paha empunya. Luka itu begitu dalam, hingga Kyungsoo bisa melihat daging-daging berwarna merah muda pucat memaksa keluar melewati relung kecil tersebut.

Nampaknya sang pelaku belum puas, kini ia memotong tali yang mengikat sepasang suami istri itu hingga keduanya jatuh lemas di lantai putih yang tergenang darah.

Sang pelaku menghujani Tuan Do dengan pukulan bertubi-tubi, mulai dari wajahnya hingga bagian atas tubuhnya. Bahkan ia menginjak dada pria tua itu tanpa ampun, menghiraukan erangan-erangan keras yang keluar dari mulut ayah kandung Do Kyungsoo.

Kyungsoo lagi-lagi menutup matanya dan kembali mendapat tamparan keras dari Stephanie—membuat darah segar merembes dari sudut bibir lelaki itu.

Nyonya Do menjerit-jerit ketika melihat suaminya disiksa. Apalagi ketika sang pelaku mulai mengambil cambuk dan mencambuki setiap senti tubuh ringkih itu. Kyungsoo tidak bisa bernapas. Dirinya benar-benar merasa bahwa inilah akhir dunia.

Ketika Tuan Do sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, sang pelaku beralih ke arah Nyonya Do. Kyungsoo sudah menduganya dan buru-buru memejamkan mata. Anak mana yang tega melihat ibunya disiksa dengan keadaan telanjang bulat seperti itu?

“Kyungsoo! Open your eyes!” Suara Stephanie kembali terdengar. Ia kembali menampar Kyungsoo. Tetapi lelaki itu tidak menggubris, dirinya tetap bergeming dengan kedua mata yang masih tertutup.

Stephanie tidak menyerah. Dengan kedua tangannya yang telanjang, ia membuka paksa kelopak mata Kyungsoo hingga kuku-kuku palsunya menggores luka di sepanjang alis lelaki itu. Tetapi nampaknya Kyungsoo tidak kalah tangguh. Lelaki itu tetap pada posisi yang sama.

Stephanie berang. Ia menginjak kaki Kyungsoo dengan wedges-nya hingga salah satu jari kaki pria itu mengeluarkan darah. Dan tampaknya usaha wanita itu tidak membuahkan hasil. Mata Kyungsoo tetap terpejam. Yang berbeda kali ini hanyalah tetes-tetes air mata mengalir membentuk anak sungai di pipi lelaki itu.

Stephanie sudah tidak tahan. Ia menoleh ke arah layar. Adegan yang seharusnya ditonton Kyungsoo sudah selesai, wanita itu tahu ketika melihat sang pelaku di tayangan langsung tadi sudah menaikkan kembali celananya—sementara mantan ilmuwan kebanggaan organisasi gelap milik wanita itu menangis tak keruan dengan darah menggenang di sekitar selangkangannya.

Lantas wanita beriris biru itu mengambil revolver-nya. Mengekang pistol tersebut dan mulai menarik pelatuk.

Dor!

Pistol tanpa peredam suara itu mengeluarkan bunyi yang luar biasa keras. Kelopak mata Kyungsoo membuka dengan spontan tatkala beberapa tetes darah mengucur dari pelipisnya. Pandangan lelaki itu kosong.

Stephanie Hwang berhasil membuatnya kembali melek. Ia menembak salah satu syaraf di sekitar mata Kyungsoo yang berhasil menorehkan sebuah luka gesek di pelipis lelaki itu. Jika lelaki itu tetap memaksa untuk memejamkan mata, rasa sakitnya akan luar biasa. Pasalnya timah panas tadi benar-benar nyaris mengenai bola mata Kyungsoo. Meleset sedikit saja, Kyungsoo sudah kehilangan salah satu indera penglihatannya.

Don’t play with me, dear.” Desis Stephanie kasar. Ia menyeringai, memuji hasil karyanya yang kini terpatri di pelipis Kyungsoo.

“Brengsek. You bitch.” Kyungsoo memaki. Suaranya serak, nyaris tidak terdengar. Stephanie hanya terkekeh meremehkan.

Kyungsoo kembali menyaksikan tayangan mengerikan tadi. Adegan-adegan tidak senonoh memenuhi layar putih tersebut. Lelaki keparat yang menjadi pelaku penyiksaan orangtuanya itu melakukan hal-hal yang melanggar asusila kepada ibunya. Kyungsoo bersumpah tidak akan melepaskan pria itu. Ia akan mencarinya, demi Tuhan. Kini si pelaku tengah menendang tubuh lemah ayahnya tanpa belas kasihan. Tubuh ringkih pria berumur lebih dari setengah abad itu sudah berbalut darah amis.

Kyungsoo terus menonton rekaman itu tanpa berkedip. Ia melihat dengan jelas bagaimana sang pelaku memotong kelopak mata ayahnya, bagaimana si pelaku menorehkan luka-luka berbentuk pola di tubuh ibunya, dan bagaimana si pelaku mengakhiri penyiksaan tersebut.

Mengakhiri?

Ya benar. Tayangan itu nyaris berakhir. Kyungsoo menyadarinya ketika si pelaku mengeluarkan sebuah shotgun tipe SPAS-12 dari sebuah laci satu-satunya meja di ruangan itu. Pria tersebut menempelkan moncong pistol di dahi Tuan Do yang hanya bisa tersenyum lirih ke arah kamera. Kyungsoo berjanji akan segera mengakhiri hidupnya jika sang ayah mati sekarang juga.

“Kyungsoo,” mendadak sang ayah bersuara. Kyungsoo terperangah. Ia mencongdongkan tubuhnya ke depan—berusaha mendengar lebih jelas.

Sang ayah berusaha memfokuskan bola matanya ke arah kamera, sementara kedua kelopak matanya sudah direnggut, “berjanjilah kepada ayah.” Suara sang ayah terdengar nyaris seperti bisikan. Kyungsoo perlu menajamkan telinganya lagi.

.

.

.

“… tetaplah hidup.”

Dor!!

Setelah itu tayangan berakhir. Diganti dengan layar hitam yang kosong.

Kyungsoo berkedip—tidak peduli sesakit apa rasanya. Matanya tetap terpaku pada layar yang kini menghitam. Tubuhnya menegang. Peluhnya mengalir dengan deras.

Stephanie mematikan proyektor dan mulai bertepuk tangan. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman. “Wow, film yang menarik bukan?”

Kyungsoo tidak menjawab. Tubuhnya tidak beranjak dari posisi terakhir. Tetes demi tetes cairan bening kembali membasahi pipi mulusnya. Ia menangis.

Plak!

Sekelebat tangan kembali menyundak pipi Kyungsoo yang sudah mulai memerah saking seringnya bergesekan dengan telapak itu. Stephanie menatapnya tajam dengan kedua tangan yang ia taruh di sebelah pinggul, “Berhenti menangis! Orangku tidak boleh ada yang lemah! Termasuk kau!”

Kyungsoo tetap menangis. Ia tidak berhenti terisak dan menumpahkan amarahnya dalam setiap bulir air mata. Tidak peduli seberapa perihnya luka yang diiris oleh timah panas revolver milik Stephanie Hwang tadi. Dirinya terlalu lemah. Lemah untuk melindungi orangtuanya. Lemah untuk melakoni takdir ini. Lemah untuk melawan Stephanie Hwang.

Wanita itu hanya berjengit jijik kala kaki semampainya melangkah keluar kamar. Tepat ketika dirinya berada di ambang pintu, Kyungsoo bersuara, “I’m out.”

Stephanie melebarkan matanya. Ia buru-buru berbalik. “Apa maksudmu?”

Kyungsoo beranjak—borgolnya sudah terlepas daritadi—dan menatap intens ke arah wanita beriris biru itu. “Alasanku bekerja untukmu hanya karena orangtuaku. Kau menjanjikan kebebasan untuk mereka tempo hari jika aku berhasil menyelesaikan Cổs’ Delepro 1477. Dan sekarang sudah jelas kau mengingkarinya. Kau malah membunuh ayahku! Dan sekalipun kau membiarkan ibuku hidup, aku yakin sekali bahwa beliau akan bunuh diri secepatnya. Kini tidak ada alasan lagi bagiku untuk tetap mengabdi padamu. Aku keluar! Biarkan aku hidup tenang! Aku bersumpah tidak akan membocorkan apapun mengenai sindikatmu ini.” Sambar Kyungsoo panjang lebar. Iris hitamnya berpendar.

“Tidak ada yang bisa keluar dari organisasiku hidup-hidup, Do Kyungsoo.” Tutur Stephanie datar. Ia tidak memasang ekspresi terkejut sedikitpun.

Allright!” Kyungsoo mengangkat tangannya frustasi. Ia menatap Stephanie dengan geram. “Apa maumu? Mencuci otakku? Membuatku hilang ingatan? Atau membunuhku? Silakan! Walaupun ayahku memberiku pesan untuk tetap hidup, tapi jika memang aku bisa keluar dari organisasi ini jika mati, aku terima! Bunuh aku sekarang, Stephanie Hwang! Tidak ada satupun hal di dunia ini yang bisa membuatku tetap mengabdi padamu!” Bentak Kyungsoo dengan keras. Wajahnya memanas. Mata bulatnya kini terlihat seperti mata serigala.

Really?” Alih-alih terkejut, wanita itu malah memasang senyum miring. Perlahan, Stephanie mengeluarkan sebuah kertas kecil dari boleronya—oh! Bukan kertas, melainkan sebuah foto. “Kau boleh keluar hidup-hidup dari sini setelah kau menyaksikan gadis ini tersiksa seperti orangtuamu—atau mungkin lebih parah—Mr. Do.”

Kyungsoo terperanjat ketika matanya menangkap sesosok gadis bersurai coklat yang tengah tersenyum riang ke arah kamera, di belakangnya nampak seperti suasana taman kota Seoul. Di sebelah gadis itu berdiri gadis lain berambut pirang—dengan wajah yang diblur. Mata gadis itu memancarkan kegembiraan yang luar biasa. Deretan giginya terlihat dengan jelas, menandakan bahwa gadis itu benar-benar bahagia.

Dan kebahagiaan gadis itu sebentar lagi akan direnggut oleh wanita tak berhati yang juga telah merenggut kebahagiaan lelaki bernama Do Kyungsoo.

“Jangan berani kau menyentuhnya, Stephanie-ssi.” Suara Kyungsoo terdengar menggelegar—penuh penekanan di setiap hurufnya. Dugaannya terbukti benar. Orang-orang yang mengejarnya dan Taeyeon tadi siang pastilah suruhan Stephanie Hwang. Dan target mereka bukanlah dirinya, melainkan Taeyeon.

“Wah, kau sudah berani memanggilku tanpa embel-embel noona.” Stephanie terkekeh—tentu saja Kyungsoo menghiraukannya.

“Dengar, dia tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini! Tolong biarkan dia hidup normal!” Bentak Kyungsoo keras. Urat-urat di lehernya terlihat menegang.

“Jika gadis ini satu-satunya alasan yang bisa membuatmu tetap bekerja untukku, maka dirinya sudah tidak bisa hidup normal lagi.” Stephanie kembali menyeringai. Ia menimang-nimang potret Taeyeon di tangannya. “Anyway, siapa gadis ini? Teman sekolahmu? Teman sebangkumu? Atau mungkin kekasihmu?”

Kyungsoo tidak menjawab. Perlahan kepalan tangannya melunak. Pundaknya melorot. Ia menunduk, melepaskan tatapan tajamnya dari Stephanie.

“Sudah kuduga gadis ini yang telah menghancurkanmu, Kyungsoo.” Stephanie meremas foto tersebut. Ia berjalan keluar, “Jika kau memiliki nyali sedikit saja untuk berbuat kesalahan, maka hidup gadis keparat ini akan berakhir seperti kedua orangtuamu.” Stephanie menginjak bagian bawah tong sampah di samping pintu kamar Kyungsoo hingga tutupnya membuka. Ia melemparkan foto tadi ke dalamnya.

“Jangan panggil dia gadis keparat,” Kyungsoo mengangkat pandangannya. “Namanya Kim Taeyeon.”

Stephanie mendengus remeh, “aku tidak peduli.”

“Kau benar-benar brengsek, Stephanie.” Desis Kyungsoo pelan sebelum terdengar suara hantaman pintu kamarnya yang dibanting dengan keras.

-o0o-

SHS, Seoul, Korea Selatan, dua hari berikutnya.

“Riyoung-ah, kenalkan. Ini guru baru kita.” Kim Sanghee—kepala sekolah SHS—memanggil wali kelas 9-A itu seraya mengacungkan tangannya pada sesosok jangkung di belakang lelaki tambun tersebut.

Riyoung—guru matematika muda yang mencakup wali kelas 9-A itu menatap sosok jangkung tadi tanpa berkedip. Ia meneguk air liurnya dengan susah payah. “A-annyeonghaseyo, namaku Park Riyoung. Wali kelas 9-A.” Ucapnya gugup sembari membungkuk.

“Namaku—”

“Kau tahu, Riyoung? Dia lulusan Institute of Massachussets! Saya yakin bahwa ia akan menjadi guru yang sangat profesional di sekolah ini!” Seru Kim Sanghee dengan bangga. Yang dipuji hanya tersenyum tipis.

“Benarkah?” Riyoung membulatkan matanya. Selain tampan, lelaki ini pintar, gumamnya dalam hati.

“Benar! Ia kelahiran Shandong tetapi selama ini ia tinggal di Paris! Selain itu, bukankah kau sempat tinggal di LA juga, Tuan?” Kim Sanghee menoleh ke arah lelaki jangkung itu. Yang ditanya hanya mengangguk ringan.

“Wah,” Riyoung mendecak kagum. “Tapi kau lancar bahasa Korea, Tuan?”

Lelaki itu kembali mengangguk, “Ya. Saya pernah berbisnis di Busan. Jadi saya sempat belajar bahasa Korea.”

Riyoung dan Sanghee menggumam sambil saling menatap. Lelaki di hadapan mereka kini benar-benar sosok yang sempurna. Tubuh proporsional, wajah yang terlewat tampan, serta prestasi yang membanggakan.

“Jadi, siapa nama Anda?” Riyoung kembali bertanya.

Sosok jangkung tadi menggosok tengkuknya perlahan, dan mengulurkan tangan. “Kenalkan, aku Huang Zi Tao.”

.to be continued.

Dictionary
[1] Slut artinya adalah ‘pelacur’. Kata makian yang nyaris sama seperti bitch. Pelacur adalah sebutan untuk pekerja komersial yang ber-gender wanita. Otomatis slut yang dimaksud oleh Stephanie Hwang di atas adalah wanita, Kim Taeyeon.

16 thoughts on “Take a Drink Together (Chapter 8)

  1. Thor ini ceritanya bener2 kejam.
    Aku sampai nggak bisa bayangin bagaimana tersiksanya d.o dan orang tuanya..
    Thor jangan buat endingnya sad..
    Rumahku bakalan banjir jika endingnya sad seperti d.o atau taeyeon nya mati.
    Aku tunggu chapter selanjutnya..
    Keep writing thor.

  2. Gila sadis bgt:-(
    tpi aku salut ama imajinasimu thor.
    Kyaknya kalo diangkt k lyr lbr bklan jd film yg bgus
    Thumbs up bwt kmu thor,
    lanjutkan…

  3. Gila, tiffanny kena gangguan jiwa, ya thor? TAT
    Biarin kyungsoo sma taeyeon bahagia knp? *nangis jantan(?)
    Hehehehe.. Tpi aku makin suka sma ff ini sih.. T_T
    Okeh.. Smangat buat lanjutinnya, ya thor..😄
    Aku menunggu~ hahahah

  4. Omo.. critanya smakin tragis X,X tp ttp seru😀
    Thor, abang Panda ku jgn terlalu antagonis ya.. soalnya klo baca ff Tao yg jd antagonisnya tuh suka kaya gmna gitu X-|
    tetep semangat, lanjutkan😀

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s