BEAUTY & BEAST [ Chapter 3 ]

Image

Title : Beauty & Beast – Chapter 3

Author : Choi Seung Jin

Genre : Fantasy, Historical, Supernatural, OOC

Ranting : General Audience

Leigth : Chaptered

Cast :

Luhan as Leonardo

Sehun as Stephan

Kai as Alexander

Chanyeol as Richard

Tao as Edison

Kris as Kevin

Suho as Francis

Baekhyun as Bernard

D.O as Thomas

Xiumin as Michaelangelo

Lay as William

Chen as Donald

Evanna Lynch as Amelia (OC)

Jessica SNSD as Jessica

Note :

  • SEMUA MEMBER EXO MEMILIKI UMUR YANG SETARA, YAITU 17 TAHUN!! Buat yang menurut readers gak cocok untuk usia 17 tahun, anggap saja muka mereka itu boros’-‘)
  • Ingatlah English name para member EXO. Karena author akan menggunakan nama itu daripada real name atau stage name mereka.
  • English name para member EXO author dapatkan dari http://ohsehunnie1.com/post/43130943930/exos-english-spanish-and-french-names

**********

Annyeong readers tercinta^3^)/ Jinnie kembali dengan BB Chapter 3. Siapa yang nungguin Jinnie hayoooo’3′) Hahah

Jinnie mau ngasih sikit bocoran nih…..

/Jeng jeng jeng/

Di chapter ini lah para Beauty diperkenalkan /prokprok/. Udah tau dong siapa aja Beauty-nya. Yap.. Evanna Lynch sebagai Amelia dan Jessica SNSD yang akan berperan sebagai Jessica. /Yeeey/

Kenapa Jinnie milih Evanna Lynch? Karena berhubung latar dari BB adalah di London tahun 1982, jadi Jinnie butuh artis Western. Dan Evanna Lynch yang paling cocok dari berberapa pilihan yang Jinnie siapkan. Seperti, Bonnie Wright dan Dakota Fanning. Mungkin yang belum tahu, Evanna Lynch adalah pemeran Luna Lovegood dalam serial film kesukaan Jinnie, Harry Potter^^ Selain itu, alasan Jinnie memilih Evanna Lynch karena Jinnie mengincar sisi innocent Lynch dan penyesuaian dari karakter Luna Lovegood dengan Amelia heheh😀 Tapi readers bisa menganggap kalau Amelia itu kalian sendiri kok🙂

Kemungkinan ‘Beauty’-nya ditambah lagi ada. Tergantung Jinnie punya ide atau tidak(?). Mungkin readers tersayang bisa ngasih saran🙂

Jinnie gak bisa cerita banyak soal chapter 3 ini. Readers akan tahun sendiri😉

 

***********

Mereka semua tercengang. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Pak Jim katakan. Bagaikan petir besar yang menyambar mereka—mereka diam dan tak bergerak.

Keadaan sungguh hening. Sama sekali tidak ada suara. Pak Jim hanya menunggu reaksi dari keduabelas anak didiknya yang masih diam karena shock.

“We… werewolf?” Stephan adalah orang pertama yang membuka mulutnya. Meski sedikit terbata-bata karena masih terkejut.

“Alam bawah sadar kalian menuntun kalian melukis jati diri kalian sendiri. Werewolf. Dan bukan Werewolf biasa,” kata Pak Jim. “Mortem Wolf. Makhluk paling berbahaya dan paling langka di bumi ini. Dan kalian adalah yang terakhir dari jenisnya.”

“Bagaimana bisa kami seorang werewolf? Kami tak pernah digigit atau dicakar oleh werewolf. Bertemu saja belum pernah,” bantah Thomas. Dia tidak percaya dengan yang barusan Pak Jim katakan.

“You’re not infected by werewolves. Mortem Wolf itu….” Pak Jim tidak melanjutkan kalimatnya—seakan berat untuk diucapkan.

“Itu apa, Pak?” Ulang Thomas bertanya.

“Mereka… Dikurung dalam tubuh kalian.”

“DIKURUNG???” Ulang semua serentak.

Ini pernyataan yang tidak bisa diterima dengan logis. Werewolf? Dikurung? Tidak mungkin.

Panik? Tentu. Bagaimana bisa tidak panik jika ada werewolf yang dikurung dalam tubuhmu yang bisa merubahmu menjadi werewolf juga.

 

“Now, you know the fact.”

Siapa itu? Ada seseorang yang berbicara pada Leo. Dia menoleh—mencari si pemilik suara. Tapi tidak ada orang lain selain dia, 11 orang temannya dan Pak Jim. Sepertinya dia mengenali suara itu.

 

“Bagaimana? Terkejut, ya?”

Ada suara lain. Tapi… Dari mana suara-suara itu berasal.

 

“Tak kusangka kalian akan sangat terkejut seperti itu.”

Ada lagi. Berapa? Berapa orang yang berbicara? Dan dimana orang-orang itu berada?

 

“Nikmatilah!”

 

“Kau akan terus seperti ini selamanya.”

 

“Kalian akan menderita.”

Suara-suara terus bermunculan. Satu. Dua. Tiga. Atau mungkin lebih. Mereka terus berbicara dan terus memenuhi kepala Leo.

Leo mulai merasakan kesakitan pada bagian kepalanya. Terlalu banyak tekanan yang masuk kedalam kepalanya. Suara-suara yang tanpa wujud yang membuat kepalanya seakan mau pecah. Ini menyiksanya.

“AAAh..” Suara rintihan Leo mengalihkan semua pandangan kepada Leo yang kesakitan– memegangi kepalanya.

“Kau terus merasa kesakitan.”

 

“Hidup kalian tidak akan pernah tenang.”

 

“Jangan salahkan kami yang terkurung di dalam tubuh kalian.”

Semakin banyak suara-suara itu bermunculan, Leo akan semakin kesakitan.

Dia jatuh dari kursinya ke atas permadani hijau dibawahnya. Meringkuk kesakitan sambil terus memegangi kepalanya.

“Sa…kit.” Leo terus merintih kesakitan yang membuat semua orang yang ada di ruangan Kepala Sekolah menjadi panik.

“Leo, kau kenapa?” Stephan orang yang pertama kali mendekati Leo yang terbaring meringkuk di lantai.

Leo terus merasa kesakitan. Dia terus memegangi kepalanya yang terasa panas dan sakit seperti mau meledak. Semakin banyak suara yang bermunculan dikepalanya. Terlalu banyak sampai dia sendiri tidak bisa membedakan suara yang nyata dengan suara yang muncul dikepalanya.

“Hey! Kenapa kau?” Leo masih bisa mendengar suara Kevin yang berteriak padanya. Tapi berberapa suara lainnya tidak bisa dibedakan lagi dengan suara yang terus memenuhi kepalanya.

“Berhenti bicara,” perintah Leo dalam rintihnya. “Berhenti memenuhi kepalaku!”

“Kau ini bicara apa? Pak, dia kenapa?” Tanya Richard panik. Mungkin bukan hanya Richard saja yang panik, tapi semua.

Pak Jim beralih ke rak buku pribadinya yang memiliki banyak koleksi buku. Dia nampak sibuk mencari suatu buku yang ada diantara rentetan buku koleksinya.

“Dia mulai menyesuaikan dengan kekuatannya,” kata Pak Jim sambil terus mencari.

“Kekuatan? Kekuatan apaa, Pak?” Tanya Edison sedikit terkejut atau mungkin memang terkejut. Mereka punya kekuatan?

“Mortem Wolf adalah werewolf yang memiliki kekuatan supranatural yang tidak bisa dimiliki oleh werewolf lain. Setiap Mortem memiliki kekuatan yang berbeda,” jelas Pak Jim. “Ah!”

Pak Jim menemukan buku yang ia cari. Buku tua yang sangat tebal dan cukup besar bersampul coklat dengan lukisan berwarna emas.

“Anda tahu kekuatan kami, Pak?” Tanya Francis santun. Dia memang yang paling santun. Wajar jika dia menjadi ketua murid.

“Frost, Telepathy, Flight, Water, Healing, Light, Flame, Earth, Lighthing, Time Control, Teleportation, dan Wind. Leo memiliki kekuatan Telepati. Mungkin karena itu dia bisa mendengar banyak suara yang memenuhi kepalanya. Atau para werewolf itu berbicara lewat Leo,” kata Pak Jim menjelaskan.

Dia mulai membuka buku tebal itu mencari satu halaman dari beratus-ratus halaman yang ada.

“Hey! Leo! Apaa yang mereka katakan? Apaan yang kau dengar? Leo!” Tanya Kevin dengan nada setengah berteriak.

Leo terus merintih sampai tidak bisa menjawab pertanyaan Kevin.

“Leo harus bisa menghalangi sendiri setiap suara yang masuk ke dalam kepalanya yang bukan keinginannya,” kata Pak Jim menyarankan.

“Hey! Leo! Dengarkan aku! Kau harus menghalangi suara-suara itu agar tidak terus masuk ke kepalamu. Leo! Kau dengar?”

Semua terkejut dengan sikap Kevin. Kevin adalah orang paling dingin yang pernah ada. Tapi sekarang dia lah yang paling sibuk mengurus Leo dan menjadi orang yang paling panik dari semuanya. Dia terus berteriak-teriak pada Leo untuk mengendalikan kekuatannya.

Kevin menunjukkan sifatnya yang lain. Mungkin sifat yang tidak pernah ada yang tahu. Kepedulian yang lebih dari yang lain. Mungkin… Inilah Kevin sebenarnya.

“Pak! Bagaimana ini? Dia tidak mendengarkan,” kata Kevin panik.

Pak Jim masih sibuk mencari sesuatu yang ada dalam buku tebal itu. Sesuatu yang belum ia temukan. Sepertinya memang sulit mencari satu halaman dari ratusan halaman yang ada didalam buku itu.

Ah! Dia menemukannya. Dia membaca sebentar halaman itu sebentar. Dan kini dia mulai beranjak ke arah rak kaca dibelakang meja kerjanya. Dia mengambil sesuatu.

Sementara itu Leo merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya. Semakin banyak suara yang ia dengarkan. Suara-suara itu semakin banyak bicara.

“La..kukan se..suatu,” pinta Leo lemah. Suaranya yang terdengar parau menandakan bahwa rasa sakit yang dirasakannya sudah tidak tertahankan lagi.

Pak Jim menghampiri Leo dengan sesuatu ditangannya. Sebuah batu safir berwarna biru.

Dia mengucapkan kalimat-kalimat aneh seperti sedang membaca mantra dengan batu safir itu ditangannya. Dia meletakkan batu itu tepat di atas dada Leo.

“AAAAAAAAAGH..” Bukannya membaik, Leo semakin berteriak-teriak kesakitan.

“Kenapa dia semakin berteriak-teriak?” Tanya Stephan semakin panik.

Pak Jim hanya diam saja. Dia terus fokus pada batu safir yang masih ia letakkan di atas dada Leo.

“Ini bisa menonaktifkan kekuatan Leo untuk sementara waktu,” ujar Pak Jim.

Tidak membutuhkan waktu lama, Leo mulai menunjukan perubahan. Dia mulai meredam. Perlahan rasa sakit yang ia rasakan mulai menghilang. Dan suara-suara yang muncul dikepalanya sudah tidak terdengar lagi.

Nafasnya tidak beraturan. Wajahnya dibanjiri oleh keringat dingin. Setidaknya dia sudah bisa lebih tenang.

Dibantu oleh Kevin dan Stephan, Leo kembali duduk walaupun masih diatas lantai.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Stephan khawatir.

“Ya,” jawab Leo. “Aku baik-baik saja.”

Nafas Leo mulai beraturan. Dia mencoba untuk relax terlebih dahulu—menjernihkan pikirannya. Dia memandang sekelilingnya dan mendapati 12 wajah yang khawatir menatapnya.

“Lalu..” Ucap Kevin. “Apa yang mereka katakan?”

“Mereka membicara tentang penderitaan yang akan kita alami saat mereka masih ada didalam tubuh kita,” kata Leo.

“Mereka juga membicarakan tentang seseorang,” sambungnya.

“Seseorang?” Ulang Edison.

“Ya. Seseorang. Yang mengurung mereka dalam tubuh kita,” ujar Leo.

“Pak, sebenarnya apa yang terjadi pada kami?” Tanya Francis begitu antusias.

Pak Jim beralih lagi ke rak bukunya dan mengambil sebuah buku yang lain. Ketebalannya mungkin tidak mencapai 200 halaman. Buku itu tampak cukup tua dengan kerta yang sudah menguning dan sampul yang sudah usang.

Dia menunjukan salah satu halaman yang ada dalam buku itu. Halaman delapan puluh empat.

“Inilah yang terjadi pada kalian,” Pak Jim berkata.

Leo meraih buku itu dan membaca halaman itu perlahan. “The Prison Soul?” Gumamnya saat membaca subtitle halaman itu.

Mata Leo beralih pada keterangan pertama yang ada dibawah judul halaman itu. “Penjara Dalam Jiwa Manusia. Sangat berbahaya. Tingkat kesulitan tinggi. Resiko kegagalan cukup besar.

“The Prison Soul adalah pengurungan satu makhluk di dalam jiwa makhluk lain dalam proses yang sangat berbahaya. Resikonya sangat besar. Bisa menyebabkan kematian pada pelaku pengurung.

“Proses ini dilakukan dengan cara mengurung makhluk dalam jiwa seorang bayi sebagai wadahnya. Mereka disegel dalam tubuh bayi sehingga tidak bisa keluar. Membuat sebuah penjara paling aman di dunia.

“Jika tubuh itu mati, itu artinya kita harus mencari wadah baru. Bisa pada bayi lain. Atau pada keturunan si wadah sendiri.” Pak Jim berhenti sejenak—memberi ruang kepada anak didiknya untuk mengerti semua yang ia katakan.

“Hal ini berlaku untuk setiap makhluk. Manusia, hewan, ….werewolf. Kalian pikir kalian hidup sendiri di dunia ini?”

Dengan langkah santai, Pak Jim mengambil kembali buku tebalnya dan memberikannya pada Kevin yang tidak sedang memegang apapun.

Kevin membuka buku itu disembarang halaman ditengah-tengah buku. Perlahan ia membaca halaman yang ia buka dan membuka halaman lain—mencari tahu isi buku itu. Buku itu menunjukan berbagai makhluk fantasi dan gaib yang seharusnya hanya ada dalam cerita. Werewolf, Vampire, Unicorn, Lycan, Pixie, Goblin, Elf, Mermaid. Makhluk-makhluk yang mustahil ada dalam dunia ini.

“Aku tak pernah menyangka kau mereka semua benar-benar nyata,” gumam Edison yang berada tepat diatas Kevin.

“Setiap proses pasti ada efek sampingnya. Begitu pula The Prison Soul.” Pak Jim melanjutkan penjelasannya. “Tubuh yang menjadi wadah akan menyatu dengan makhluk yang dikurung dalam tubuhnya. Puncaknya adalah saat si wadah berumur 17 tahun.

“Dua belas Mortem Wolf harus dipenjara pada penjara yang aman. Mereka semua dipenjara dalam proses Prison Soul pada tahun 1960. Dan sayangnya, kalianlah yang menjadi wadahnya.”

“Tunggu! Seribu sembilan ratus enam puluh?” Potong Kevin. “Bahkan kami lahir tahun 1965.”

Pak Jim menarik nafas panjang. Raut wajahnya berubah seketika. Dia seakan menahan rasa sedih jika harus mengingat kejadian 22 tahun yang lalu.

“Yang para Mortem bicarakan kepada Leonardo tentang seseorang,” kata Pak Jim. “….adalah Sir Arthur Damian Ravenhawk. Dia adalah seorang dosen, politisi, ……sahabat.”

Dia memandangi protret Sir Arthur yang ada diruangannya dengan ekspresi sedih—penuh penyesalan. Penyesalan karena tidak bisa menghalangi Sir Arthur untuk mengorbankan dirinya sendiri.

“Dia adalah pemimpin dari organisasi rahasia, Orde Medeis yang didirikan lebih 100 tahun. Dia gugur saat melakukan proses Prison Soul—memindahkan 12 werewolf ke 12 bayi laki-laki dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Itu sebabnya butuh 5 tahun untuk proses itu benar-benar selesai.”

“Cukup sulit melacak keberadaan kalian satu-persatu,” dia melanjutkannya.

“Beruntung Mortem ke-12 ada pada anak laki-laki kedua sahabatku. Namun sayangnya sahabatku itu meninggal karena kecelakaan. Meski begitu aku berterima kasih karena aku bisa menemukan satu dari 12 Mortem dengan mudah.”

“Maksudmu aku, Pak?” Celetuk Stephan yang merasa sedang dibicarakan.

“Jadi itu artinya,” kata Alex. “Kami semua diberi beasiswa karena hal ini?”

“Aku harus mengumpulkan kalian. Dengan itu aku bisa mengawasi perkembangan kalian,” kata Pak Jim menjelaskan.

“Lalu apa yang terjadi 2 hari yang lalu, Pak?” tanya Stephan.

FLASBACK

~2 NIGHTS AGO, 00.05 a.m~

Malam ini terasa senyap. Seluruh warga sekolah sudah terlelap dalam tidur dan larut dalam mimpi mereka masing-masing. Hanya terdengar suara burung hantu dengan suara mereka yang khas.

Dua belas laki-laki itu sedang tertidur saat bulan purnama bersinar terang—bulat dan besar. Mereka mulai merasa tidak nyaman dengan tubuh mereka. Mereka merasakan panas seperti terbakar. Berberapa dari mereka langsung terbangun karena rasa panas yang mereka rasakan.  Dari mereka bahkan ada yang berteriak-teriak menahan sakit.

Edison jatuh dari ranjang karena sakit yang ia rasakan begitu luar biasa. Dia memandang ke arah ranjang yang berada disebelahnya. Kevin juga terlihat menahan sakit yang sama. Dia memutuskan untuk mencari bantuan dengan merangkak ke arah pintu—manahan rasa sakit agar dapat mencari pertolongan untuknya dan Kevin.

Leo melompat dari rajangnya saat ia merasakan jantungnya seperti ditusuk sebilah pedang besar. Namun dia tidak bisa bediri lebih lama. Dia langsung terjatuh dilantai. Seluruh tubuhnya terasa panas seperti bara api.

Leo melihat sesuatu terjadi pada dirinya. Dia memandangi tangannya yang mulai berubah—memerah seperti udang yang baru matang. Lama-kelamaan bulu tangannya memanjang dan melebat. Kukunya menghitam dan tubuh panjang membentuk cakar.

“Ste.. Stephan!” Leo memanggil Stephan untuk meminta bantuan. Tapi yang dialami Leo saat ini terjadi pada Stephan juga.

Dua belas murid itu sudah tak berdaya saat mereka semua mulai bertranformasi.  Seperti ada yang mengendalikan mereka selain mereka sendiri. Sejak saat itu juga, mereka sudah tidak sadar. Namun tubuh merek tetap bergerak secara normal. Dan…

“AAAAAAAAAAAAAWOOOOOOOO!!”

.

.

.

.

.

.

.

.

PRAANKK…

Dua belas ekor werewolf keluar dari gedung dorm laki-laki melewati jendal dengan memecahkannya. Mereka lompat dari kamar yang berada dilantai 2 gedung. Hentakan keras ditanah saat mereka jatuh cukup untuk membuat daerah sekitarnya ikut bergetar.

Mata mereka merah menyala—menatap sekeliling. Berberapa guru yang sedang berjaga malam sepertinya akan menjadi mangsa empuk mereka malam ini.

Seseorang harus menghentikan mereka sebelum ada yang menjadi korban.

 

 

**********

Waktu menunjukkan pukul 5 sore saat Kevin sedang berjalan-jalan sendirian mengelilingi gedung sekolah. Karena berhubung sekarang dalam keadaan libur, dia bisa berkeliaran tanpa ada peraturan yang meikatnya.

Dia masih memikirkan apa yang terjadi siang ini di ruang Kepala Sekolah. Dia hanya masih tidak percaya bahwa ada monster mengerikan yang hidup satu tubuh bersamanya selama ini. Terlebih tentang apa yang bisa terjadi selama monster itu terus ada ditubuhnya.

Kevin mealingkan pandangan ke arah gedung dorm perempuan dan mendapati seorang perempuan berambut coklat terang disana. Perempuan yang sangat ia kenal. Ia mengenakan seragam lengkap dengan sebuah buku ditangan kirinya.

“Jessica?” Gumam Kevin spontan.

Tanpa pikir panjang, Kevin langsung berlari menyusul Jessica sebelum gadis itu berhasil meraih pintu dorm. Karena jika dia sudah masuk dorm, Kevin sudah tidak bisa menyusulnya.

“Jessica!”

Jessica menoleh tepat saat dia hendak meraih gagang pintu gedung dorm. Dia mendapati Kevin berlari ke arahnya dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan. Entah itu ekspresi senang atau terkejut.

Jessica

“Hey,” sapa Jessica pelan.

“Hey, Jess. Em… Kau sedang apa disini?” Sapa Kevin sedikit basa-basi.

“Seharusnya aku yang tanya padamu. Sedang kau disini? Bukankah sekolah baru akan dimulai kembali 2 hari lagi?” Jessica membalikkan pertanyaan Kevin.

“Ah.. Aku… Ehm… Anu… Itu karena…” Kevin gugup. Dia tidak bisa bilang dia ada disekolah karena dia berubah jadi werewolf. Iya, kan?

“Ah, I know. Kau pasti dihukum oleh Bu Margaret lagi, kan?” kata Jessica menganalisa.

Eh?

“Kau selalu mencari masalah dengan guru itu. Mulai sekarang, kau harus belajar untuk berdamai dengannya,” ujar Jessica.

“Eh..  Iya. Aku dihukum tidak mendapat liburan oleh dia,” kata Kevin berbohong.

Alibi yang bagus, pikirnya.

“Apa kau tidak takut?” tanya Jessica.

“Takut? Takut dengan apa?” tanya Kevin balik.

“Dengan penyerangan werewolf berberapa hari yang lalu. Sehingga kita semua diliburkan. Kau tidak takut mereka kembali kemari?”

Jessica tidak tahu? Batin Kevin.

“Ah,” kata Kevin, mencari alasan lain. “Mereka tidak mungkin kembali. Mereka mungkin akan kembali saat bulan purnama. Itu yang biasa dilakukan werewolf, kan?”

Mereka saling pandang. Jessica menatap Kevin aneh seakan dia bisa menangkap kebohongan dari mata Kevin.

“Kau terlalu banyak nonton film horror, Vin. Sudah ku bilang, nonton film horror bisa merusak akal sehatmu,” kata Jessica.

Jessica beranjak ingin meninggalkan Kevin masuk ke dalam dorm. Namun langkahnya terhenti saat Kevin mencegatnya.

“Jess!” panggil Kevin yang menghentikan langkah Jessica seketika.

“Ya,” jawab Jessica lembut.

“Emm.. Kau mau makan malam? Atau mungkin jalan-jalan? Ku dengar ada kedai steak yang enak di desa dekat sini.”

Jessica tersenyum disertai seringaingai knyaecilnya. “Kevin, kau mengajakku kencan?”

**************

Malam ini adalah malam pergantian musim. Wajar jika udara sudah terasa sangat dingin. Maka dari itu Leo mengenakan pakaian super tebal untuk menjaga tubuhnya tetap hangat.

Kali ini Leo nekat keluar menuju hutan belakang sekolah. Padahal ini sudah malam dan tidak seharusnya Leo meninggalkan sekolah. Karena dikhawatirkan Leo bisa-bisa ‘kumat’.

Dia ingin melihat salju yang turun pertama di awal musim. Memang alasan yang konyol untuk berkeliaran di hutan malam-malam. Leo memang orang yang keras kepala.

Leo berjalan lebih dalam menuju hutan, mencari tempat yang bagus untuk melihat salju turun pertama kali di tahun ini. Berhubung pohon-pohon di hutan sudah banyak yang gugur karena musim, jadi sinar bulan bisa menerangi setiap sisi hutan dengan leluasa. Dan Leo tidak perlu repot-repot membawa lampu senter.

Apa yang terjadi di ruang Kepala Sekolah masih memenuhi pikirannya. Terlebih saat dia bisa mendengar semua yang orang pikirkan, apalagi kedua belas werewolf yang berbicara langsung padanya dan hanya dia yang bisa mendengarkan.

Telekinesis. Kekuatan yang dapat digunakan untuk memindahkan suatu benda hanya dengan kekuatan pikiran. Ditambah dapat membaca pikiran orang lain.

Ada hal lain yang mengganggu pikirannya. Apa murid-murid lain tahu kalau dia bisa berubah menjadi werewolf? Atau murid-murid lain tahu kalau werewolf yang menyerang sekolah 2 hari lalu adalah dia dan 11 orang lain? Entah bagaimana respon semua murid saat mereka melihat dia dua hari lagi.

“Lho? Leo?”

Suara itu. Sedikit terdengar asing untuk Leo. Apa dia werewolf itu bicara lagi padanya? Tidak mungkin. Suara itu terdengar nyata.

Tapi kalau bukan werewolf, lalu siapa?

Leo berbalik, mencari tahu si pemilik suara.

Amelia

Seorang perempuan berdiri tidak jauh dari nya. Perempuan dengan rambut pirang dan berkulit sedikit pucat. Matanya yang keperakkan terlihat sangat indah dibawah sinar bulan yang memantul pada keduanya. Seperti yang seharusnya, dia mengenakan pakaian tebal untuk menghangatkan badannya.

The day we met,

Frozen I held my breath

Right from the start

I knew that I’d found a home for my heart…

“Kau Leonardo, bukan?” Kata perempuan itu lagi.

“Iya,” kata Leo. “Dan kau…”

“Kau tidak mengenaliku? Aku Amelia. Tapi panggil saja Amy,” kata Amy melanjutkan.

“Kau juga bersekolah di XOXO, bukan?”

Amy mengangguk cepat mengiyakan. “Kita bahkan satu kelas. Mungkin kau belum terlalu menghafal wajah dan namaku.”

“Oh, begitu. Lalu, apa yang kau lakukan malam-malam begini di hutan? Terlalu berbahaya untuk perempuan berkeliaran malam-malam,” kata Leo.

“Aku ingin melihat salju yang turun untuk pertama kali di awal musim,” kata Amy. “Bagaimana denganmu?”

“Aku juga ingin melihat salju. Kebetulan sekali,” ujar Leo sedikit tersenyum.

Amy membalas senyuman Leo dengan senyuman tipis, menunjukkan sisiinnocent-nya.

“Kau tidak seharusnya ada disini,” kata Amy memperingati.

“Kenapa?”

Apa jangan-jangan dia tahu? Batin Leo khawatir.

“Ku dengar kau sedang sakit. Kau mengalami kejang-kejang yang mengganggu mentalmu berberapa hari lalu. Iya, kan?” Ujar Amy.

Kejang-kejang? Apa itu alibi yang dibuat Pak Jim untuk menutupi kejadian di taman itu?

“Apa kau sudah sembuh?” Tanya Amy.

“Ya.. Iya, aku sudah sembuh. Kau bisa lihat, kan?” Kata Leo gugup berusaha berimprovisasi, mengikuti alibi yang sudah ada.

“Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya.” Amy tersenyum untuk sekali lagi.

Mungkin aku bisa berlatih membaca pikiran orang lain, batin Leo.

Leo menatap mata keperakan Amy. Mencoba menghubungkan pikiran Amy dengan pikirannya.

“…Aku suka bunga Lily. Terutama yang berwarna putih….”

“…Ada bunga Lily langka yang hanya tumbuh di musim salju…”

Apa aku baru saja membaca pikiran Amy? Keren, batin Leo kagum. Ini saatnya untuk memastikan

“Kau suka bunga Lily putih yang hanya tumbuh di musim salju, bukan?” Kata Leo menebak dengan bangga.

“Hm? Bagaimana kau bisa tahu?” Amy terlihat terkejut Leo bisa menebak bunga kesukaannya.

“Tebakan yang beruntung,” kata Leo. Dalam hatinya dia tersenyum puas karena berhasil membaca pikiran Amy. Ini artinya dia bukan hanya bisa membaca pikiran Amy, tapi semua orang.

“Senang bertemu denganmu, Leo.” Amy beranjak pergi, mewujudkan niatnya meliat salju turun.

Leo butuh berberapa menit untuk mengambil tindakan sebelum Amy melangkah lebih jauh lagi.

“Amy,” panggil Leo.

Baru saja berjalan berberapa meter, langkah Amy terhenti begitu saja. Dia berbalik dengan sedikit mengibaskan rambut pirangnya. Menatap Leo sambil tersenyum memberikan senyuman tipis namun terlihat manis. “Ya, Leo.”

“Kau tahu dimana tempat yang bagus untuk melihat salju turun? Kau tahu, kan, aku baru disini,” kata Leo dengan modus yang sempurna.

“Aku akan menunjukkanmu tempat terbaik.”

To Be Continue

 

Gimana nih readers? Suka tidak sama chapter 3 ini? Gimana dengan para Beauty nya? Heheh^^ Makin penasaran gak sama kelajutannya?

Mohon jangan hakimi Jinnie karena pemilihan para Beauty’-‘) Pemilihan para Beauty sudah melalui pertimbangan dengan timbangan digital(?). Maksudnya sudah Jinnie pikirkan dengan melihat kedepannya. Karena bakal ada ‘sesuatu’ yang akan Jinnie lakukan untuk kedepannya.

Thank you buat readers yang udah setia baca BB dari chapter 1^^ Maaf ya kalau kata-kata yang Jinie gunakan belum pas untuk FF. Maklum lah.. Jinnie author amatiran ._.

See you at the next chapter :*

 

 

21 thoughts on “BEAUTY & BEAST [ Chapter 3 ]

  1. kalau author nanyak,,nunggu ffnya apa gak..
    jawabannya bgt,,,,
    aduhh ceritanya makin seru dan makin buat aku penasaran,,,
    okee dehhh di tunggu bgt

  2. maaf ya Thor baru comments di Chap ini, soalnya aku reader baru ff ini.
    Aku suka Beauty-nya kok. Apa lagi ma Evanna Lynch.
    Soalnya aku juga penggemar Harry Potter.
    Nice ff thor! ^^ Hwaiting!

    • waaah makasih ya udah mau komen^^ Gpp kok telat :))
      Syukurlah kalau kamu suka Evanna. Ternyata kita sama2 suka Harry Potter ya heheheh :DD
      Terima kasih sudah mau menjadi readers yang baik^^

  3. U’waaaaaaahhh “kereN” n!chh FF aKu Cka N!chhh Tp! thaya thath!an th4ma Luhan Eonni 3!tss tlahh ngomong mChudd nYua luhan oppa kesiksa tyuhhh….Dae’bak cptt Do’nk lnzt’!n Chapter nya Gx Pu4S n!Chhh

  4. Thor,end nya itu Kevin sama Jessica? *hancurhatiku* #lebay :p . Keren Thor,bikin tambah penasaran,di tunggu kelanjutannya ya…

    • Gak suka ya sama pairingnya?😦 Maaf deh.. Seperti yg udh Jinnie bilang tadi, Jinnie milih Jessica karena udh ada pertimbangan. Nanti pasti bakal tau kenapa milih Jessica sebagai salah satu Beauty-nya🙂

      Gamshamnida udah baca FF nya^^
      Ditunggu aja next chapternya ya😀

  5. AKU JADI BEAUTY-NYA.. *liat muka* ga jadi deh.. Bwekekeke..
    Wuooo makin seru thoor.. Aku juga suka si luna” itu di Harry potter..😄
    Smangat thorr.. Lanjut teruss.. Hehehhe..😄

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s