[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 9-END)

CM-Chap 9

Title : Clumsy Me

Subtitle : Saranghae

Author : NadyKJI

Web : http://cynicalace.wordpress.com/

Genre : Comedy (a little?), romance, friendship, School Life

Length : Chaptered

Rating : G

Maincast:

  • Kim Jong In – Kai
  • Cha Naraya (OC)

Other : Oh Sehun, Lee Ria (OC), Min Chan Rie (OC), Park Chanyeol, Byun Baekhyun, D.O, Tao, Chen, Choi Minho (Shinee), Sulli (fx), Kang  Chae Kyong, Han Yeon Yuk (OC), Cho Youn Hee (OC), Jung Ae Gi (OC), (will be added)

Disclaimer : FF ini murni ide-ide khayalan author yang kelewat tinggi, dilarang meniru dengan segala cara apapun, jika tidak ff ini tidak akan dilanjutkan lagi. Terima Kasih.

Author’s Note :

Perjuangan author tidak sia-sia

YAY! YAY! YAY *jingkrak-jingkrak *GUBRAK – jatoh

Hehehe *Usap-usap bagian yang sakit

Ehem…

Akhirnya setelah cape… Chapter sembilan !!! *sorak-sorai

Waittt, Readers jangan kapok duluuuu, suer udah mau tamatt!

Ya 1 atau 2 chapter lagi… ehehehe, tenanglah *di lempar high heels sampe nancep ke kepala

*Ngesot horror

Jangan berhenti bacaaaaa, comment aja yang banyakkkk, mendongkrak semangat author, ya? Oke?

#siptidakadapenolakan!

Mian posternya cuman ganti warna – tapi ini menadakan perubahan suasana perasaan lhoooo!

Author lagi sekarat mikirin poster buat ending yang unyu-unyu – sampe rambut rontok ga kuat liat gambar-gambar bertebaran – Kai yang ganteng  *berlebihan sekali *usap keringat pakai sapu tangan

Author juga mau terima kasih pada admin exomkfanfiction.wordpress.com sekali lag buat publish ff ini, jeongmal gomawo #deep bow

LAST – HAPPY READINGG ^^ *BOW, dadah dadah

___

-:Naraya:-

Sepulangnya dari study tour, aku kenyang dimarahi oleh eomma, appa, dan Chen. Mereka kompak sekali. Apalagi setelah mereka tahu kalau aku jatuh dari sungai dan demam. Berikut insiden pingsang dan sampai di bawa ke rumah sakit. Sesuatu sekali.

Sekarang, aku kembali pada rutinitasku, ke sekolah, belajar, berlatih tari.

Aku berjalan menelusuri lorong, hari sudah sore, tapi aku harus berlatih tari. Aku belum sempat bertemu Kai, dia di panggil guru sesudah pelajaran berlangsung tadi.

Tiba-tiba saja seorang yeoja muncul dari balik tiang, membuatku terkejut terantuk kakiku sendiri. Ia tertawa mengejek. Tunggu – yeoja ini adalah yeoja yang dulu di tolak Kai saat study tour aku mengingat-ingat.

“Kau, siapa kau?”

“Apa urusannmu?”

“Ah, namaku Jung Ae Gi.”

“Cha Naraya…” aku membalasnya ragu.

Ia berjalan mendekat, dengan lancangnya ia mengangkat daguku.

“Kau biasa saja, pembawa sial malah. Ceroboh!”

Aku hanya diam menahan marah, seenaknya saja menilaiku.

“Apa yang dilihat Kai darimu? Aku lebih segalanya darimu. Kau hanya pembawa sial.”

“YA! Lalu apa urusanku dengannya? Tanyakan saja padanya!”

Aku menepis tangannya kasar.

“Kau!”

Tangannya yang lentik berkuku tajam itu melayang ke arah pipiku.

PLAK!

Suara tamparan bergema di lorong yang sepi.

Pipiku panas, refleks aku memegang pipiku.

“Kau! Yeoja gila!”

Seketika itu datanglah Kai orang yang dimaksud menghampiriku.

“Naraya, gwaenchana? Aku mendengar suara tamparan.”

Namja itu melihat ke arah pipiku yang kututup tangan.

“Molla, kau tanyakan saja padanya!”

Aku menunjuk yeoja gila itu, meninggalkan Kai menuju ruang tari. Biar saja ia yang mengurusi masalahnya sendiri.

-:Kai:-

Aku bersiul pelan, berjalan ke ruang tari.

PLAK!

Kudengar suara tamparan yang menggema, cepat-cepat saja aku berlari ke arah suara itu. Ketika aku sampai di tempat kejadian kulihat Naraya dan seorang siswi. Aku mendekati mereka.

“Naraya, gwaechana? Aku mendengar suara tamparan.”

Pandanganku turun ke pipinya, tangannya menutupi pipi tersebut, detik itu juga aku tahu dia tidak baik-baik saja.

“Molla, kau tanyakan saja padanya!”

Suaranya membentakku, belum sempat aku menjawabnya gadis itu sudah melarikan diri menuju ruang tari. Semoga saja dia tidak pergi.

“A.. aku tidak – b…” yeoja yang menampar Naraya mencoba bicara, gemetaran.

“Diam! Apa yang kau lakukan padanya?!”

“Gadis itu tidak pantas untukmu. Aku lebih segalanya, dia hanya gadis ceroboh yang menyusahkan!”

“Kau? Ah.. yang waktu itu. Di lihat dari manapun dia lebih baik darimu. Aku lebih memilih kecerobohannya daripada sifat manjamu, kecemburuan tidak jelas, sampai make up tebal yang menutupi wajahmu itu. Sudah jelas ia lebih unggul darimu.” Jawabku dingin.

“Mwo?” ia tecengang tidak percaya.

“Kau pikir aku tidak tahu apa? Berapa uang yang kau habiskan untuk kukumu? Wajahmu? Rambutmu? Kecantikan yang palsu.”

Matanya memerah, entah marah atau memang ingin menangis. Tapi ia cukup tahu diri, ia berlari meninggalkanku. Aku menatap kepergiannya tanpa minat.

Satu perkara beres.

Aku mengkhawatirkan Naraya, pipinya pasti sedikit bengkak. Dengan tangan berkuku panjang mengerikan itu? Tamparannya pasti luar biasa mematikan. Aku berbalik menuju kantin. Sekali lagi kau berharap gadis itu masih di ruang tari.

-:Naraya:-

Tamparan yeoja gila itu berdenyut perih. Aku duduk memeluk lututku di pojok ruang tari dekat tasku. Menunggu Kai datang, aku ingin tahu apa yang akan di ucapkan atau dilakukannya. Aku menunggu cukup lama, kenapa Kai tidak muncul? Atau yeoja itu berhasil merayunya? Aish dasar aku lupa kalau Kai termasuk namja macam playboy tebar pesona.

SREK

Akhirnya, aku mendongak. Kai berjalan kearahku, membawa sekantung es batu.

“Ini, pasti sakit. Melihat kukunya yang panjang mengerikan itu…” Kai bergidik sendiri, aku tertawa kecil, mengambil kantung es darinya.

“Apa yang kau katakan?”

Dinginnya kantung es itu meredakan sakit di pipiku.

“Ah, kau tidak perlu tahu… bukannya bagaimana, tapi terlalu kejam?! Lagipula aku sudah mulai lupa. Jangan suruh aku mengingatnya lagi. Kupastikan yeoja itu pergi sambil menangis.”

“Mwo? Apa yang kau katakan? Dia menangis? Kejam!”

“Ya! Kau itu, sudah di tampar masih membelanya.”

“Ahahaha…”

Aku tertawa pelan.

“Masih berniat latihan?”

“Uhmm…” aku pura-pura berpikir.

“Jika kau ingin pulang juga tidak apa.”

“Eh, tidak. Kita latihan. Aku tidak akan kalah dengan rasa sakit begini. Aku sudah kebal.”

“Kebal eh? Oh ya ngomong-ngomong aku jadi ingat, apakah kalung yang kuberikan masih utuh?”

Aku menunjukkan kalung pemberiannya, “lihat, utuh, sehat, berkilau!” aku menjulurkan lidahku.

“Eoh, aku percaya. Latihan?”

“Ayo!”

_

Tanpa terasa dua minggu berlalu. Sekarang hari selasa, pelajaran tari. Semua murid menunggu di luar, siap-siap jika namanya di panggil. Ya, sekarang hari tes. Kegugupanku sudah mencapai puncaknya.

“Tenanglah, jangan gugup. Ingatkan, kita murid kesayangan saem. Hehe.”

Kai yang berada di sebelahku rupanya menyadari kegugupanku. Sekarang di dalam ruangan itu sudah ada Ria dan Sehun yang sedang tes. Sesudahnya? Tentu aku.

SREK

Ria keluar mengacungkan jempolnya. Ia lulus.

“Himnae yoo!”

“Eoh…”

_

Hari pengumuman pengisi acara pentas seni, khusus tari. Kalau bagian band yang lainnya sudah ada seleksi khusus. Kudengar bandnya Chanyeol lulus seleksi.

“YA! Ya!”

Ria yang baru keluar dari kerumunan melompat-lompat. Aku hanya menunggunya berdesak-desakan. Ria menghampiriku yang bersandar di tiang.

“Wae?”

“Kita berhasil! Aku dan kau!”

“Mwo? Kita? Tidak salah? Saem? Astaga aku lupa saem itu ajaib.”

Pikiranku melayang ke kejadian aku terkunci di ruang tari. Sikapnya saat latihan juga menunjukkan kepribadiannya yang aneh sedikit labil mungkin.

“Jadi saem tidak bisa hanya memilih satu. Quick step Ria dan Sehun begitu energik ceria. Sedangkan salsa Naraya dan Kai… ahh sungguh mempesona!”

Saem sedang mondar-mandir di depan. Kami berempat di suruh berkumpul di ruang tari sepulang sekolah. Sementara saem bolak-balik dan ceramah panjang lebar kami hanya mengangguk-angguk.

“Tunggu, saem hanya penasaran. Naraya, Kai…,” ia melirik kami bergantian, dengan mata menyipit penuh kecurigaan, “kalian pacaran ya?”

GUBRAK

Tanganku yang saat itu menahan tubuhku, terasa licin dan membuatku kehilangan kendali.

“Mwo? Saem bilang apa?”

Kataku masih tidak percaya, mengusap-ngusap kepalaku yang sudah jadi korban, masih dalam posisi setengah tidur. Kulirik tangan Kai, mengulurkan bantuan. Aku menyambutnya, sehingga bisa duduk bersila tegak lagi.

“Benar kan tebakan saem?”

“Ani!” aku langsung mendeklarasikan, kurasakan pipiku memerah – kulirik cermin, sialnya benar merah.

Saem tetap memandang aku dan Kai bergantian dengan heran dan tidak percaya.

“Memang tidak saem!” Ria membantuku.

“Tapi sepertinya sebentar lagi!” lanjut Ria.

Membuatku menoleh tercengang padanya.

Saem sepertinya mempercayai perkataan Ria, ia seperti puas akan kenyataan itu. Tidak bisa lebih buruk lagi Sehun menambahkan.

“Hahaha, kapan kau akan menyatakannya Kai?”

“…”

Namja dingin itu tidak memberikan jawaban sama sekali, sedikit membuatku lega? Tidak juga…

_

Sejak kejadian itu aku selalu memikirkannya. Bahkan perasaanku jadi tak menentu.

Sekiranya setiap dia menolongku atau mencengahku jatuh menghangatkan hatiku.

Setiap melihatnya di kerumuni yeoja lain di lapangan sekolah cukup membuatku resah.

Saat dia ambruk di depanku malam itu aku khawatir sekali.

Saat latihan jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

“Arghhh!” aku berteriak sendiri di kamarku.

Kenapa saem harus bertanya sih? Akukan jadi memikirkannya secara serius!

-:Kai:-

Naraya…

Pertama bertemu gadis itu terlihat menyebalkan dengan kecerobohannya yang selalu berakhir padaku.

Aku lama-lama tertawa melihatnya tersandung.

Lama-lama aku jadi mengkhawatirkannya.

Saat kejadian di sungai – jantungku rasanya berhenti, bagaimana aku melepaskan pandanganku sedetik saja ia sudah celaka.

Dia berbeda dari pacar-pacarku dulu – lebih sederhana, apa adanya, dan dia tidak peduli dengan pesonaku?

Perkataan saem cukup membuatku berpikir.

-:Author PoV:-

Hari H.

Naraya dan Ria berada di ruang rias. Muka mereka sudah di garap habis oleh penata rias, poles sana poles sini. Naraya yang pada dasarnya tidak terlalu suka dandan – apalagi yang tebal, sedikit kepayahan. Hidungnya sudah menuntut bersin karena bedak.

“Huaa! Di dandan itu cape…”

“Neo jinjja yeppo. Jeongmal!” Ria menunjukkan ibu jarinya pada Naraya.

“Kau bercanda Ria. Aku sudah merasa seperti ibu-ibu.”

Ria menggelengkan kepalanya gemas. Susah sekali menyakinkan Naraya kalau ia itu cantik.

“Sudah! Ayo keluar!”

Ria mendorong Naraya keluar ke ruang tunggu pengisi acara. Ria ketiga terakhir dan Naraya kedua terakhir. Puncaknya? Band Chanyeol.

Saat mereka sampai, tv menayangkan acara sebelum Ria.”

“Wuah! Cepat sekali. Untung kita cepat kesini.”

“Hah, cepat sekali, aku belum siap.”

“Ria! Kajja!”

Ria menoleh kearah Sehun yang memanggilnya dari dekat tirai.”

“Ya! Tunggu yaaa!”

“Cocok.”

Naraya yang masih melihat tv menoleh.

“Ani, pasti memalukan.”

“Tidak, aku serius. Namamu seharusnya Areumdaum saja.”

“Mwo? Tidak mau, namaku sekarang saja sudah merepotkan, lagian arti nama itu tidak cocok untukmu.”

Akhirnya Kai menyerah – percuma memuji gadis di sebelahnya ini.

“Berikutnya!”

“Ah iya!”

Panitia memanggil Naraya dan Kai.

“Nan, niga joahae.”

“Mwo?”

“Ayo masuk!”

*SKIP – author tidak bisa mendikripsikan tarian.

-:Sehun:-

“Kai…”

“Wae?”

“Kau benar-benar menyukainya.. ani, mencintainya?”

“Molla, sepertinya iya.”

“Sini kuyakinkan!”

Aku memperlihatkannya foto saat dia melotot khawatir-kaget melihat Naraya yang jatuh ke sungai, aku slide, foto berikutnya saat dia membopong gadis itu.

“Darimana kau dapatkan?”

“Ahaha, kau lupa ya? Aku kan kelompok 7, saat itu aku masih bersiap-siap. Panitianya saja yang buru-buru memanggil lagi.”

Dia terdiam, memikirkannya lagi…

Drak

“Mau kemana?”

“Ke atap.”

Sepertinya menarik.

-:Naraya:-

Sudah seminggu berlalu sejak pentas seni. Sekarang sudah hari selasa lagi. Pelajaran tari – namun kosong. Karena itu aku memutuskan menikmati udara pagi di atap. Pikiranku melayang.

‘Nan, niga joahae.’

Pipiku terasa panas, bernarkah? Apa aku tidak salah dengar?

Setelah berdiskusi dengan oppa sehari sesudah pentas seni sepertinya aku yakin.

:FLASHBACK:

‘Oppa’

Aku melangkah masuk ke kamar Chen. Oppa ku sedang membaca buku, kutaksir sedang belajar.

‘Ne?’

‘Aku ingin bertanya…’

Chen menyiagakan diri, menepuk ruang yang kosong disebelahnya. Aku duduk disana.

‘Aku ingin tanya, aku sudah tanya eomma tapi dia bilang ikuti saja hatimu. Bagiku itu tidak jelas. Jangan tertawa. Aku ingin tahu jatuh cinta itu seperti apa… kalau mengikuti hatiku aku bingung – gejalanya saja tidak tahu.’

(-__-“), “Wae? Kau menyukai siapa?”

‘Aish, tebaklah. Aku masih bingung ini gara-gara saem!’

‘Oh, mungkin berdebar? Menginginkan kehadirannya? Merasa nyaman dengannya?’

‘Hmmm, ah susah, sebal.’

‘Hahaha!’

‘Jangan tertawa!’ aku mencubit lengannya, membuatnya meringis.

‘Dia bilang dia menyukaiku…’

‘Mungkin saja. Tatapannya saat melihatmu berbeda.’

‘Mwo?!’

‘Lihatlah.’

Oppa memperlihatkan foto yang diambilnya, foto kami ber-4. Aku dan Ria ditengah. Sampingku Kai, sampingnya Sehun. Aku mengernyit bingung.

‘Matanya, matanya melihatmu, mengawasimu. Ia khawatir, mencintaimu? Oppa hanya menebak, karena mata itu oppa kenal sekali, selalu saat mengkhawatirkanmu yang akan jatuh itu, eomma juga sama, hanya ada yang berbeda…’

‘Ish, sekalian memperolokku ya?’

‘Hehe, sudahlah, pikirkan perlahan.’

:FLASHBACK END:

Aku bersender di pembatas rooftop yang berjarang-jarang itu. Mengemut poky terakhirku. Melihat ke pemandangan halaman sekolah yang luas dengan angin semilir menyejukkan.

Kriet

Aku menoleh.

“Apa yang kau lakukan?”

“Ah, menikmati udara pagi, sekalian berpikir. Kau?”

“Ingin memastikan sesuatu, tapi sudah.”

“Apa itu?”

“Perasaanku.”

“…”

-:Kai:-

Aku berjalan ke rooftop, perasaanku kubiarakan melantur tanpa kutahan, aku ingin memastikan perasaanku. Saat aku datang ternyata Naraya berada di rooftop juga. Mendengar kedatanganku ia menoleh, aku berjalan mendekat.

“Apa yang kau lakukan?”

“Ah, menikmati udara pagi, sekalian berpikir. Kau?”

“Ingin memastikan sesuatu, tapi sudah.”

“Apa itu?”

“Perasaanku.”

“…”

Ia terdiam.

“Saranghae.”

Aku mengucapkannya dengan yakin, mantap.

“Kapan kau jatuh cinta padaku?”

“Tidak terlalu jelas, namun aku sangat kalut saat kau jatuh ke sungai itu. Seperti jantungku hampir mencelos keluar kau tahu. Dalam hitungan detik kau masuk ke dalam bahaya, aku jadi takut memalingkan pandanganmu darimu. Kau?”

“Nado saranghae.”

Naraya menoleh padaku, memberikan senyumannya.

“Wae?”

“Sama denganmu, tidak tahu. Mungkin saat aku mulai kesal kau di kerubungi fansmu setiap pagi dan pulang. Saat kau banyak menolongku aku merasa aman.”

“Hehe, jangan terlalu dipikirkan. Jalani saja. Ne?”

“Ne.”

-:Author Pov:-

Naraya dan Kai berpandangan. Angin semilir mengacaukan rambut Naraya, tangan Kai perlahan menyibaknya, menyelipkannya di balik telinga gadis itu. Perlahan tangan Kai berpindah ke pipi Naraya. Kepalanya di tundukkan, perlahan bibirnya menyentuh bibir lembut Naraya. Ciuman singkat sekilas.

Naraya langsung menyembunyikan kepalanya di dada Kai. Ia tidak mau memperlihatkan wajahnya yang memerah.

“Naraya-ah~ saranghae.”

“Nado saranghae…”

“Wae?”

“Ani.”

“Mengadahlah.”

“Sirreo, aku malu.”

“Hehehe.”

Kai mengangkat dagu Naraya, pipi gadis itu merah merona.

Kai mendorong Naraya sampai menghimpit dinding gudang atap.

“Kau manis.”

Sekali lagi Kai mencium Naraya, kali ini lebih lama.

Kai menatap Naraya, rona di pipi gadis itu tidak lebih baik.

“YA! Napeum namja!”

Naraya lari menjauh dari Kai, namun karena kecerobohannya sendiri, gadis itu hampir tersandung. Untung saja Kai menyusulnya tepat waktu.

“Yeojachinguku ini.”

Kai lalu menggelitik Naraya gemas.

Mereka tertawa bersama di atap, merasakan kebahagian bersama.

 

THE END + TO BE CONTINUE…

10 thoughts on “[FREELANCE] Clumsy Me (Chapter 9-END)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s