[FREELANCE] You Can’t Disappear From Me (Chapter 6)

You cant Disappear From Me FINAL

Title : You Can’t Disappear From Me

Author : Hyuuga Ace (@dioxing_0307)

Length : Multichapter

Genre : Romance, Drama, School Life, Hurt

Rate : G

Web : cynicalace.wordpress.com

Main Cast :

Oh Yu Bin (OC)

Kim Jong In / Kai

Park Chan Yeol

Lee Sae Ra (OC)

Other Cast : Kwon Yu Ra (OC), Wu Yi Fan / Kris,  Xi Luhan, Do Kyungsoo /D.O, Oh Se Hun, Zhang Yixing / Lay

Author’s note :

Akhr’a bs ngirim chapter 6 FF absurd ini. Smga ga mkin aneh yah *wish author di stiap chapter krg lbh sama* kwkwkw

Gomawo bwt admin yg udh ngepost, gomawo jg bwt temen author yg udh mw bntuin author wkt bkin ni ff kekekkee~

*ad yg nyadar ga author ga bs bkin author’s note? #pletak

HAPPY READING ALL ^^

______

Author’s PoV

Seorang yeoja sedang merenung sendiri di dalam kamar apartemennya yang selalu sepi. Dibanding rasa lelah, dia lebih merasa marah. Lee Saera. Yeoja itu sangat marah dengan penuturan Luhan -teman Kai- padanya beberapa jam yang lalu.

 

FLASHBACK

Seorang namja bertubuh tidak lebih tinggi dari Kai menariknya paksa menjauhi Kai. Dia mengajaknya ke salah satu cafe hotel yang sangat ramai.

Luhan -namja itu- nampak mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, dan menaruhnya di meja.

“Kau mau coklat? Biasanya gadis- gadis akan memakan coklat saat mereka marah atau sedih.”

Yeoja yang diajak bicara hanya melirik sekilas coklat yang ditaruh Luhan di meja. Dan matanya mendelik malas.

“Shirreo. Lagipula coklat itu sudah kau makan setengahnya.” Ujarnya dingin sambil melihat marah ke arah Luhan.

“Ya sudah kalau tidak mau.” Luhan hanya menarik coklatnya lagi dan mulai memakannya, mengindahkan ekspresi jengkel yeoja di hadapannya.

“Jangan meledak disini. Disini banyak orang, kecuali kau mau menanggung malu.” Lanjutnya kalem.

“Apa maumu, hah?! Aku ingin kembali ke lobi dan menemui Kai. Dia tidak bisa seperti itu.”

Saera mulai beranjak dari bangkunya dan memutar tubuhnya meninggalkan Luhan yang masih santai memakan coklatnya. Ketika tangan seseorang mengenggam lengannya yang membuatnya membalik dan siap memarahi siapapun yang bertingkah menyebalkan seperti itu.

“YA-“

“Kau mencintainya? Kai?” Luhan yang siap dibentak hanya bertanya dengan raut wajah tenang, bahkan terlalu tenang sampai rasanya dia tidak berekspresi apa- apa. Ini Luhan yang berbeda dari yang selama ini Saera lihat. Dia sudah cukup lama mengenal Luhan. Tentu saja karena Luhan berteman cukup lama dengan Kai.

Luhan selalu menjadi yang paling ramah terhadapnya dibanding yang lainnya.

Saera hanya menatap Luhan penuh kepercayaan diri.

“Ya! Aku sangat mencintainya.”

“Bukan bermaksud ingin menyakiti hatimu, tapi sepertinya kau juga tahu. Kai mencintai yeoja itu, Yubin. Dan Yubin juga merasakan hal yang sama terhadap Kai.”

“Tidak aku tidak tahu, aku tidak mau tahu. Kai hanya milikku. Dia hanya akan mencintaiku.” Saera dengan kasar menutup kedua telinganya. Emosinya makin memuncak karena perkataan Luhan. Seketika ingatan Kai mengelus puncak kepala yeoja itu dan menggenggam tangannya erat menghantam ingatannya. Yang membuat hatinya terasa panas dan sesak dalam waktu yang sama.

“Kau tahu? Aku menyukai Kai sudah jauh lebih lama dibandingkan yeoja itu. Aku mencintainya lebih tulus dibandingkan siapapun.”

“Saera-ssi.” Luhan menegurnya. “Aku tidak ingin membahas Oh Yubin. Aku ingin membahas Kai.”

Luhan, namja itu menatapku jauh ke dalam bola mata Lee Saera, seakan mencari- cari sesuatu disana. Tatapan itu juga, tengah membungkam Saera.

“Jika kau benar- benar mencintainya, apa yang akan kau pilih? Kai terluka, atau dirimu sendiri yang terluka?”

Ujarnya seraya meninggalkan Saera dengan cara yang sangat santai seraya memegang pundak Saera lembut.

“Pikirkanlah.” Dan dia benar- benar melenggang pergi meninggalkan Saera.

FLASHBACK END

Ya. Dan Saera sudah menemukan jawabannya. Kai, namja yang selalu ia cintai selama hidupnya itu akan bahagia dia tidak akan terluka, bersamanya.

Maka dari itu, ia segera pulang ke Seoul untuk melakukan suatu hal. Dan jujur saja ia merasa marah pada Luhan. Namja itu seakan meragukan cintanya pada Kai. Dan itu menyebalkan.

______

Yubin’s PoV

Sebentar lagi kami akan segera berangkat saat membawa barangku -sebagian, sebagian lagi Chanyeol ngotot ingin membawakan- ke bagasi mobilnya. Aku melihat seseorang bersandar di mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mobil Chanyeol.

Hal selanjutnya yang kulakukan adalah melihat ke sekeliling, tidak ada siapa- siapa lagi. Hanya aku dam Kai -yang masih menatapku dengan pandangan datar.

Teman- temanku memang masih di dalam. Yura dan Kris entah apa yang sedang mereka lakukan. Mengepak bawaan Puka- kucing Yura, mungkin? Dan Chanyeol masih sarapan di dalam bersama Sehun dan Kyungsoo. Dia hanya memberikan kunci mobil padaku dan mengatakan agar membawa setengah barangku saja.

Apa mungkin aku terlalu rajin, membereskan barang- barang sedini mungkin?

“Oh Yubin. Aku disini dan kau malah memikirkan hal lain, hmm?” Seseorang membuyarkan lamunanku.

Kai.

Kuarahkan mataku ke arahnya dan rasa sakit itu kembali menemaniku.

Setelah mengetahui dia memiliki tunangan yang tidak lain adalah teman sebangkuku, Lee Saera. Rasanya terlalu sulit jika kau memintaku untuk bersikap normal padanya.

“Yubin-ah. Kenapa kau terus saja menjauhiku?” Tanyanya datar dan menatapku tajam, seakan memaksaku menatapnya juga.

“Mian, Kai. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi padamu.”

“Kau sudah berjanji Yubin, kau berjanji akan selalu mempercayaiku apapun yang terjadi.” Namja itu hanya melirihkan kata- katanya seraya terus berjalan mendekatiku.

“Kai…” Aku mencoba tersenyum, rasanya pahit. Dan, menyesakkan. “Aku percaya padamu.”

“Tapi aku juga lelah.” Ujarku pada akhirnya.

“Yubin, kau harus mendengarkan semuanya, bagaimana aku bisa bertunangan dengan Saera dan perasaanku padanya.”

“Aku sudah mengetahui semuanya, Luhan oppa sudah menceritakan semuanya. Jangan salahkan dia, karena aku yang bertanya.” Aku menghembuskan napasku panjang, rasanya berat sekali. Kutundukan wajahku, tak berani menatapnya. “Saera…. Dia membutuhkanmu.” Inilah, hal yang sebenarnya tidak ingin kuucapkan namun harus kuucapkan, semenjak mendengar kisah Saera dan Kai dari Luhan oppa. Tenggorokanku tercekat dan rasanya mataku mulai memanas. Kugigit bibirku keras- keras. Menahan air mata yang bisa kapan saja terjatuh.

Hey, gadis bodoh! Tidak ada tangisan lagi! Kau itu cengeng sekali!

Kurasakan ada langkah yang berjalan makin mendekatiku, itu pasti Kai. Aku hanya mengulurkan tanganku ke depan, menandakan agar ia tidak berjalan lebih dekat lagi.

“Tidak, jangan dekati aku.” Suaraku bergetar. Sial, aku menangis lagi.

“Kai. Aku menyukaimu. Benar- benar menyukaimu.” Aku sudah tidak tahu apa yang sedang kuucapkan, semuanya benar- benar meluncur bebas dari mulutku tanpa bisa kusaring terlebih dahulu.

“Tapi kemudian kau menolakku, dan mempermainkanku selama setahun. Tapi aku gadis bodoh yang masih saja menyukaimu. Aku telah melakukan segala cara untuk melupakanmu, tapi.. Kau benar- benar tidak bisa hilang dariku. Aku selalu saja melihatmu.” Aku tersenyum kecut di balik perkataanku sendiri.

“Kemudian, suatu keajaiban datang padaku. Kau mengatakan kau juga menyukaiku. Rasanya bagaikan mimpi. Dan bahkan sampai sekarang aku masih menganggap itu adalah dari bagian mimpi indahku.”

Ya. Mimpi indah.

“Sampai sesuatu datang untuk membangunkanku. Keadaan merubah semuanya. Kau menyukaiku, namun disisi lain kau memiliki tunangan yang sangat membutuhkanmu.” Aku berusaha mengangkat wajahku dan menatap jauh ke dalam matanya, berusaha memberi tahu apa maksud ucapanku yang sebenarnya.

“Kai, rasanya hal itu jauh lebih menyakitkan daripada ditolak. Melihat orang yang kau sukai sudah memiliki tunangan yang juga sangat mencintaimu.”

“Yubin, apa maumu?” Tanyanya pada akhirnya sembari menatap kedua bola mataku dalam. Aku bisa melihatnya, luka di dalam bola matanya. Dia juga terluka, sama sepertiku. Tapi aku tidak bisa begini.

“Lupakanlah aku, dan hiduplah bersama Lee Saera. Kau akan bahagia, Kai.”

“MWO?! BAGAIMANA AKU BISA BAHAGIA DENGANNYA, JIKA KAU ADALAH ORANG YANG KUCINTAI?!” Kai meneriakan kata itu jauh ke udara. Namun juga jauh merobek ke dasar hatiku.

Bodoh! Namja ini benar- benar bodoh.

“Mianhae Kai. Kau bisa melupakanku. Tolong, kabulkanlah permintaanku. Untuk yang terakhir kalinya.”

“Menghilanglah, pergilah dari hidupku. Jika kita bertemu di sekolah atapun dimanapun, anggaplah kau tidak pernah mengenalku. Dan hiduplah dengan bahagia. Maka aku pun bisa memulai mencari kebahagiaanku yang lain.”

Tidak, hatiku sekarang tidak penting. Hatiku sudah rusak di dalam sana. Maka dilukai sekali lagi pun tidak akan apa- apa. Pasti tidak akan apa- apa.

Aku dan Kai, mungkin memang tidak ditakdirkan bersama. Dan itulah kenyataan yang harus kuterima.

“Oh Yubin, apakah kau menyerah?” Aku menatapnya sekali lagi. Guratan luka di dalam matanya jauh lebih terlihat jelas, bahkan aku bisa melihat lapisan bening mulai menutupi matanya.

Aku sudah tidak tahu bagaimana keadaanku. Rasanya melihatnya yang seperti ini sama saja dengan membunuhku. Aku tidak ingin melihatnya terluka, biar aku saja yang menanggung semua ini.

“Ya….” Lirihku pada akhirnya.

“Tidak pernah ada kisah antara kita Kai. Kim Jongin dan Lee Saera, itulah yang benar. Jadi pergilah Kai, pergi ke tempat dimana seharusnya kau berada.”

Aku mencoba tersenyum sekali lagi. Mencoba memberitahunya aku baik- baik saja, dan dia juga pasti akan baik- baik saja.

“Kau benar- benar menyerah padaku dan pada keadaan?” Ia tersenyum kecut dan kembali memandangku. “Oh Yubin, baiklah. Jika itu adalah keinginanmu. Aku akan menghilang dari hidupmu. Kedepannya, kau tidak akan melihat seorang Kai lagi. Yubin-ah, tolong pastikan hidupmu bahagia, karena dengan begitu aku pun akan bahagia.” Dan Kai.. Ya, dia benar- benar menangis. Walaupun hanya sekilas aku melihatnya. Rasanya aku sudah tidak tahu lagi caranya bernapas.

Dia memutar tubuhnya, berjalan menjauhiku dan masuk ke dalam mobilnya. Membanting pintu mobilnya, dan segera menggas mobilnya menjauhi tempatku. Dan ketika mobilnya benar- benar menghilang. Jauh entah kemana. Aku terjatuh, rasanya aku tidak bisa menahan semua ini lagi. Pertahananku roboh dan isakan tangisku mulai terdengar.

Semuanya terasa lumpuh. Tidak ada yang bergerak. Semuanya mati dan terhempas entah kemana.

Ya, Kai… Aku pasti bisa melupakanmu, karena hatiku telah mati.

Umurku masih muda, dan aku takut kedepannya aku tidak bisa merasakan yang namanya jatuh cinta lagi dengan hati yang seperti ini. Jadi, apa yang harus kulakukan?

Kai, kau telah pergi. Membawa semuanya.

Semoga kau bahagia, Kim Jongin.

_______

Author’s PoV

Waktu kembali berjalan.

Sudah lewat 2 minggu semenjak kejadian di Busan, dan benar saja. Kai benar- benar menghilang. Dia tidak pernah masuk lagi ke sekolah. Entah dimana namja itu sekarang.

Teman- temannya dan Saera juga sudah seperti orang tidak waras mencari keberadaan Kai.

Bagaimana dengan Yubin?

Yubin kembali hidup normal, seakan tidak pernah ada apa- apa. Sekolah, kerja sampingan di kafe, menghabiskan waktunya bersama Yura dan Chanyeol ketika istirahat.

Yubin masih bisa tertawa dan tersenyum. Dia selalu menutupi perasaannya yang mati, dengan tawa dan senyumannya. Sedikitpun dia tidak pernah menanyakan bahkan menyinggung hal tentang namja itu, Kai.

Namun sepandai apapun dia berakting, Yura dan Chanyeol, temannya semenjak TK itu mengetahui suatu hal.

Yubin yang sebenarnya, tidak pernah ada disini. Walau raganya bersama mereka, jiwanya juga ikut menghilang seperti Kai.

Walaupun ia selalu berusaha menutupinya, tapi kedua sahabatnya itu tahu. Bola matanya tidak pernah memancarkan sinar apapun. Semuanya redup. Bahkan, mati.

Apapun yang dia lakukan otaknya yang telah mengaturnya. Dia tidak pernah melakukan apapun menggunakan hatinya lagi.

Ya, itu terlihat jelas. Dan sekarang Yura dan Chanyeol dapat memahami sesuatu, seorang Oh Yubin benar- benar mencintai Kai.

______

Yura berjalan cepat ke arah gerombolan namja yang terlihat murung sambil memakan makanan di mejanya.

“Ya! Oh Sehun!”

Sehun, namja yang dipanggil itu hanya tersedak. Ketika tiba- tiba saja melihat teman seangkatannya, Kwon Yura duduk di bangku sebelahnya yang kosong. Yang seharusnya ditempati Kai.

“Astaga, ada angin apa yang membawa seorang Kwon Yura datang kesini?” Tanya Yixing jahil sambil mengedipkan sebelah matanya. Yura yang melihat itu hanya memutarkan bola matanya bosan.

“Ya, dengarkan. Sebenarnya teman kalian, si Kai itu kemana? Kalian pasti tahu, kan?” Tanya Yura sembari menatap wajah- wajah namja di depannya dengan tatapan serius.

“Yura-ssi, sebenarnya kami juga tidak tahu Kai menghilang kemana.” Luhan hanya menjawabnya dengan kalem, namun Yura bisa merasakan perasaan khawatir dibalik ucapannya.

“Ya, hyung benar. Kami sudah tidak bertemu dengannya lagi semenjak di Busan. Selama 2 minggu ini pun kami terus mencarinya ke tempat- tempat yang kami pikir Kai akan mengunjunginya. Namun hasilnya nihil.”

“Apa dia tidak pulang ke rumahnya?” Yura bertanya lagi dengan nada sangsi.

“Tidak. Dia benar- benar tidak pulang ke rumahnya. Kami sering mengeceknya, dan menanyakannya pada pembantu di rumahnya. Namun mereka tidak pernah melihat Kai lagi disana.” D.O menjelaskan sembari menatap Yura dengan tatapan cemas.

“Apa dia masih hidup?!” Tanyanya kaget dan hanya mendapat death glare dari ke 4 namja di sekelilingnya.

“Sebentar, sejak kapan kau peduli hal mengenai Kai? Bukannya kau tidak pernah peduli terhadapnya?” Sehun memicingkan matanya ke arah Yura dan menaikan salah satu alisnya.

“Aku tidak peduli padanya. Yang kupedulikan adalah sahabatku, Oh Yubin. Yubin itu seperti hidup namun tidak hidup semenjak pulang dari Busan. Dan aku khawatir padanya.”

“Apa maksudmu? Hidup tapi tidak hidup?” Luhan mengerutkan keningnya, tanda dia tidak mengerti ucapan Yura. Luhan memang jarang melihat Yubin di sekolah. Mungkin D.O dan Sehun yang seangkatan dengan Yubin yang mengerti keadaanya.

“Hyung, aku mengerti maksud Yura. Kadang kala aku sering melirik ke arahnya ketika di kelas. Tatapan matanya selalu terasa kosong, kadangkala segala ekspresinya terasa dipaksakan. Tidak benar- benar dari hatinya.” Dan benar saja. Sehun juga mengetahui perubahan sikap Yubin.

“Ini benar- benar tidak sehat. Kai dan Yubin.” D.O mengumamkan kata itu pelan, namun mereka semua dapat mendengarnya dan hanya mengangguk menanggapinya.

“Saera juga, dia seperti orang yang patah arah. Kelimpungan mencari Kai seperti orang tidak waras. Maksudku, setidaknya kami masih berangkat sekolah.”

“Kau benar, Hun.”

“Hmm.. Kembali ke topik, apakah orang tua Kai tidak mencarinya seperti kalian? Atau mungkin mereka tahu di mana keberadaan Kai?”

“Itu juga yang kami bingungkan, Yura-ssi.”

“Mwo?”

“Saat kami datang ke rumahnya mencarinya, kami bertemu dengan eommanya. Kai eomma benar- benar santai mengetahui anaknya tidak ada kabar selama pulang dari liburan di Busan.”

“Yixing hyung benar, bahkan ketika kami menanyakan keberadaanya dia hanya berkata ‘Tenang saja, nanti juga dia akan muncul lagi kok'”

“Hah?! Eomma macam apa itu?” Tanya Yura sambil mengambil roti di piring Sehun yang masih belum disentuh pemilik aslinya. Beruntungnya, Sehun tidak menyadari hal itu.

“Ani, bukan begitu. Kai eomma itu memiliki karakter yang sangat unik. Dan kami menebak, dia pasti tahu dimana Kai sekarang.”

“Dan dia seperti merahasiakannya?” Tanya Yura to the point yang ditanggapi dengan anggukan kepala yang lainnya.

“Sok misterius..” Dengusnya malas. Sambil mengigit roti milik Sehun.

“Hey! Bagaimanapun dia itu sahabat kami, Lee Yura. Dan, apa yang kau lakukan pada rotiku?!” Sehun membela Kai sambil menatap Yura sinis. Bukan Yura, lebih tepatnya rotinya.

“Ckk.. Aku tidak ingin ribut denganmu, Oh Sehun. Rotimu? Aku hanya memakannya, gomawo. Lanjutkan.. Bagaimana dengan appa nya?” Yura kembali bertanya dan mengalihkan pandangannya ke arah Luhan.

“Kami tidak pernah bertemu dengan abeoji nya. Dia terlalu sibuk. Bahkan kami juga meragukan bahwa beliau tahu anaknya telah menghilang selama 2 minggu.”

Yura hanya menghembuskan napas panjang. Jadi, usahanya mendatangi teman- teman Kai juga sia- sia? Mereka juga sama sekali tidak tahu keberadaan Kai.

Rasanya, Yura ingin sekali menemukan dimana Kai dan menyeretnya untuk menemui Yubin. Berharap Yubin bisa kembali normal. Yura tidak tahu, ya dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Yubin dan Kai.

_____

Seorang namja tinggi masih saja menggerutu tidak jelas sembari melangkahkan kakinya ke arah perpustakaan. Di tangan kanannya ia menggenggam setumpuk kertas.

“Ya ! Park Chanyeol!” Tiba- tiba saja seorang yeoja menepuk pundaknya, membuatnya menolehkan wajahnya dan melihat Yubin sudah berdiri di sampingnya.

“Wae?”

“Apakah kau melihat Yura? Aku mencarinya ke kelas dan tidak menemukannya. Apa mungkin dia sudah berangkat ke kantin duluan?”

“Nado molla. Aku juga belum melihatnya, Han songsaengnim sudah terlebih dahulu menyeretku ke ruang guru untuk membantunya. Huhhh..”

“Yaa.. Kau tidak tahu ya? Lelaki yang suka menggerutu tuh benar- benar tidak elit.” Ujar Yubin sembari menyenggol rusuk Chanyeol dengan sikunya pelan.

“Terserah padamu lah.”

“Hiiii Park Chanyeol, marah?” Chanyeol merasa malas ketika Yubin menusuk- nusukan jarinya ke pipinya.

“Ya! Geuman… Daripada melakukan hal tidak jelas seperti itu lebih baik kau membantuku.”

“Oke. Aku akan membantumu, namun ada syaratnya.”

“Astaga, yeoja ini. Mwo?”

“Sabtu ini, ajak aku kencan, ne?” Ya. Baru saja, seorang Park Chanyeol merasakan jantungnya berdetak lebih cepat karena ucapan yeoja disampingnya ini. Dia serius?

“Ne, ne. Aku serius. Ekspresimu itu terbaca sekali, Yeol-ah.”

“Hanya kita berdua? Kita perlu mengajak Yura juga, kan?”

“Shirreo. Yang namanya kencan tentu saja hanya berdua. Aku dan kau.” Yubin menunjuk dirinya sendiri lalu namja disampingnya sementara namja itu hanya mengalihkan pandangannya ke samping berusaha menutupi wajahnya yang panas dan mungkin saja sudah memerah.

“Hey.. Kau tahu berkencan, kan?  Jangan bilang ini kencan pertama mu, Yeollie?”

“Sayang sekali, ini memang kencan pertamaku.”

“Whoaaa.. Kok bisa?” Yubin bertanya dengan polosnya.

“Tentu saja, bodoh! Sepanjang hidupku, kau satu- satunya yeoja yang kusukai.”

Chanyeol melirik sekilas ke arah yeoja disampingnya. Dan kemudian ia segera mengganti topik pembicaraan ketika melihat ekspresi bersalah pada wajah Yubin.

“Ah. Aku sudah menyutujui persyaratannya, jadi cepat bantu aku.”

“Apa yang harus kulakukan?” Yubin kembali bertanya dan mengubah mimik wajahnya menjadi lebih ceria. Dipaksakan. Chanyeol tahu itu.

“Fotocopy.”

________

Kai’s PoV

“Hmm.. Ne, eomma. Aku sudah makan. Jangan khawatirkan aku. Ne… Arrasseo. Aku akan tidur cukup malam ini. Ne..” Kututup sambungan telepon dari eomma.

Kupijat pelipisku yang sedikit berdenyut. Kepalaku mulai pusing. Pusing melihat deretan huruf yang sedari tadi ku pelajari.

Aku harus berusaha keras, agar bisa memenangkan perjanjian itu.

FLASHBACK

Kupacu mobilku dengan kecepatan diluar batas normal meninggalkan Busan. Hatiku dan pikiranku terasa kacau.

Semuanya buram dan gelap.

Aku hanya memikirkan satu tempat dimana aku bisa pergi. Tempat itu sangat terpencil dan jauh dari keramaian. Rumahku. Ini benar- benar rumahku, eomma membelikan rumah ini untukku saat ulang tahunku yang ke 10. Rumah ini hanya rumah kecil di pinggiran desa. Rumah eomma saat masih muda, saat beliau belum menikah dengan appa. Rumah yang baginya sangat berarti, karena kenangan masa kecil nya berada disini. Dan ia membelinya dan memberikannya padaku. Saat kecil ketika appa meninggalkanku dan eomma keluar negri untuk bisnis, eomma selalu mengajakku kesini. Tinggal beberapa hari disini.

Disini damai. Dulu aku bisa melupakan segala sesuatu selama berada disini. Dan aku berharap hal itu masih berlaku sampai sekarang.

Ya, aku berencana menenangkan diriku untuk sementara waktu. Disini.

Sudah lewat 3 hari, aku tidak tahu kabar ponselku. Entah kubuang dimana benda kecil itu.

Saat aku kembali dari kota -untuk membeli beberapa makanan- aku terkejut ketika melihat eomma sudah berada di tempat itu. Dan dia tersenyum ketika melihatku masuk ke dalam rumah dan menemukan dirinya.

“Eomma tahu kau pasti pergi kesini, Jongin-ah.” Ujarnya tenang sembari mengelus pipiku. Namun beberapa detik kemudian, tangannya mulai mengepal dan menjitak kepalaku.

Ishhh…

“Anak bodoh! Jika kau punya masalah, harusnya kau hadapi itu! Bukannya malah kabur dan hilang dari peredaran seperti ini. Kau tahu teman- temanmu, sudah seperti orang kesurupan mencarimu.”

“Aku akan minta maaf pada mereka nanti.” Ujarku datar sambil melangkahkan kakiku ke sofa kecil di sudut ruangan.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu?” Eomma bertanya dengan serius dan mendudukan dirinya di sebelahku.

“Biar eomma tebak, kau sedang patah hati? Dengan yeoja yang bekerja di kafe Seungho, teman eomma?”

Aku hanya mendengus pelan. Apa yang tidak diketahui eommaku? Dia selalu mengetahui segala sesuatu bahkan yang tidak kuucapkan.

“Dia menyerah padaku, eomma.” Ujarku pada akhirnya sembari memejamkan mataku. Ingatan itu kembali menerjang otakku. Membuat sekujur tubuhku kembali merasa sakit.

“Hmmm.. Lalu, apakah kau juga menyerah terhadapnya?”

Aku memandang eommaku sebal, ketika dia hanya berdecak meremehkanku.

“Kau bahkan belum melakukan apa- apa, Kim Jongin.”

Eomma memandangku serius, dan kemudian menepuk pundakku pelan. Dia menyalurkan sesuatu padaku. Aku bisa merasakannya.

Mungkin, semangat?

“Jadi, jangan katakan pada eomma… Kau juga menyerah.”

Kemudian eomma berdiri mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu keluar.

“Harvard University. Jika kau masih ingin memperjuangkannya.”

Apa maksudnya? Harvard–??! Ah! Aku mengingat sesuatu! Ya, itu benar. Eomma benar, aku tidak bisa menyerah sekarang.

Akan kutunjukan pada Yubin jika aku masih belum menyerah.

“Eomma…. Gomawo.” Ucapku tulus. Eomma, aku benar- benar banyak berhutang budi padanya.

Kulihat eomma tersenyum sebelum keluar dari rumah ini.

“Jongin, jangan lupa makan!” Teriaknya dari luar.

“Ne, eomma!”

Harvard, ya.. Sejak kecil appa selalu menantangku agar bisa masuk Harvard. Aku anak pintar, dan appa tahu itu.

Mungkin jika aku beruntung dan benar- benar masuk ke salah satu universitas idaman semua orang di dunia ini. Semuanya akan berubah.

________

Kulangkahkan kakiku ke arah sebuah ruangan megah, ruang kerja appa di rumah megahku.

“Jongin-ah, ada apa kau datang ke ruangan ini malam- malam begini?” Seorang pria paruh baya menatapku sembari membenarkan letak kacamatanya.

“Abeoji, penawaranmu. Aku akan mencoba mengikuti tes masuk Harvard.” Ucapku to the point.

“Jinjjayo?” Appa merasa tertarik dan hanya menatapku penuh minat.

“Tapi abeoji. Aku memiliki syarat.”

“Mwo? Apapun akan ku berikan padamu jika kau benar- benar bisa masuk ke Harvard University.”

Aku hanya tersenyum pahit. Apakah dia juga akan mengabulkan permintaanku yang ini?

“Bisakah kau membatalkan pertunanganku dengan Saera? Maksudku, aku tidak mencintainya. Selama ini kau selalu saja memaksaku bersamanya sejak kecil. Tanpa mempedulikan bagaimana perasaanku padanya. Yah, mungkin Saera memang tertarik padaku. Tapi aku.. tidak merasakan hal yang sama.”

Aku menatap pria ini tajam ketika dia hanya mendengus.

“Jadi ini sudah saatnya memberontak, Kim Jongin? Dengan menjadikan Harvard sebagai bahan taruhan? Kau memang pintar.”

“Abeoji, aku bukan anak umur 5 tahun lagi yang akan selalu menuruti kemauanmu. Aku juga ingin memiliki pilihan.”

“Jadi kau berpikir abeoji mu ini satu- satunya orang yang bisa membatalkan pertunangan itu? Pertunangan semenjak kau dan Saera kecil?”

“Hanya kau yang bisa, abeoji. Karena pertunangan ini karena kemauanmu dan pesan terakhir Saera abeoji.”

“Geurae?” Appa hanya menatapku dingin dan mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang di ujung sana.

Selang beberapa menit kemudian, setelah appa menutup ponselnya. Dan kembali memandangku.

“Tepat, sebulan lagi. Ada tes golongan pertama untuk masuk Harvard untuk semester depan. Tes akan dilakukan secara global pada situs resmi Harvard. Kau bisa mempersiapkannya? Tes masuk Harvard dan akselerasi SMA mu? Hanya dalam waktu sebulan?” Abeoji bertanya dengan santai namun aku yakin dia juga meremehkanku.

Aku terdiam sesaat.

“Jika kau bisa melaksanakan semuanya, pertunangan itu batal. Abeoji akan berbicara dengan Saera.”

Kukumpulkan segala kepercayaan diriku. Tidak, tidak sepenuhnya ini semua kulakukan demi Oh Yubin. Aku juga ingin punya kepastian hidup, dan tidak hanya bergantung pada harta abeoji. Ini juga demi diriku sendiri.

“Ya. Aku sanggup.” Ujarku penuh kemantapan.

Suara tepuk tangan terdengar di udara. Abeoji bertepuk tangan dan berjalan ke arahku.

“Jika kau gagal, tidak ada pemberontakan. Kau akan menikah dengan Saera sesaat setelah kau menerima pengumuman kau gagal, dan.. Kau harus masuk perusahaaan.”

Pertaruhan ini.. Tidak main- main.

TBC

12 thoughts on “[FREELANCE] You Can’t Disappear From Me (Chapter 6)

  1. thooor, buruan next chap thooor~~~~~~
    ini seru banget! ga sabar mau baca terusannya, kyaaaaaaaa
    ayo thor buruaaaan
    DAEBAK THOR!

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s