[The Winner of Writing Contest] 0 [Zero]

0 [Zero]

Title : 0 [Zero]

Author : fhayfransiska

Main Cast :

  • Kim Jongin (Kai)
  • Luhan
  • Wu Yifan (Kris)
  • Jung Soojung (Krystal)
  • Oh Sehun

Support Cast :

  • Zhang Yixing (Lay)
  • Choi Jinri (Sulli)
  • Kim Joonmyun (Suho)

Genre : Action, Mystery, Friendship

Rating : PG-17

Author note :

Warn : Di sini ada manipulasi umur, Jongin (19), Sehun (19), Yifan (29), Luhan (26), Soojung (18), Joonmyun (28). Maaf kalau bias kamu aku jadiin orang jahat atau dia meninggal di sini, it’s just a story nee?

Please enjoy the pairing and be nice😀

________

            Ruang persegi di mana ia berada sekarang bukanlah satu-satunya tempat suram yang pernah ia tapaki. Sebelum ini, ada lebih banyak tempat bernuansa kelam, dengan aura membunuh yang kental dan bebauan anyir menguar di udara yang kerap ia temui. Ia sendiri heran bagaimana mungkin sebuah rumah berbahan dasar kayu nyaris lapuk—yang ia masuki seminggu lalu—bisa menimbulkan kesan mencekam yang begitu dahsyat hanya dengan melihatnya sepintas saja.

            Dan kini, dirinya harus dihadapkan lagi pada seonggok manusia yang tengah meregang nyawa. Menangis lirih, merintih kesakitan memegangi dadanya yang tertembus peluru panas. Dalam hitungan detik dan sosok itu akan benar-benar mati, ia rasa.

            Tiga.

            Ia menghitung dalam hati sementara sepasang iris cokelatnya menatap intens manusia sekarat di depannya. Dihiraukan bau darah yang mulai memenuhi atmosfer di sekelilingnya.

            Dua.

            Sosok yang tengah kesakitan itu menangis lebih keras dari sebelumnya lalu berteriak pilu. Mungkin racun dari peluru itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya, menusuk-nusuk setiap sel di dalam tubuhnya hingga mati satu persatu dan menimbulkan efek sakit yang luar biasa hebat.

            Ia tersenyum penuh kemenangan. Sebentar lagi, sedikit lagi.

            Sa ..

            DOR!

            Ia terlonjak dan terkesiap, belum sempat menyelesaikan hitungannya di dalam hati tatkala suara tembakan terdengar seolah menembus telinganya. Ia berbalik cepat, menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang pemuda tengah berdiri angkuh di samping pintu dengan revolver berasap di tangannya. Bertubuh tinggi dengan kulit putih pucat yang kontras dengan miliknya, juga helaian rambut kelabu yang membingkai wajah kecilnya.

            “Kau terlalu lama membiarkan mangsamu menderita, Jongin.”

            Ia, si pemuda yang dipanggil Jongin itu hanya berdecak kesal. Terlihat jemu dengan sebaris kalimat tak bernada yang barusaja keluar dari bibir tipis Sehun, si pemuda berambut kelabu itu. “Setidaknya biarkan aku menikmatinya, Sehun bodoh!”

            Bau amunisi masih tercium di udara kala Jongin memenggal jarak dengan Sehun, alisnya masih berkerut dalam tanda tidak suka sebelum akhirnya menepuk pelan bahu rekannya. “Ayo keluar dari sini, aku benci bau darah!”

            “Aku pikir setelah sekian tahun kau sudah terbiasa dengan bau darah.” ejek Se Hun lalu berjalan santai di samping Jongin yang lagi-lagi melempar death glare ke arahnya.

            “Darah si busuk itu jauh lebih memuakkan daripada siapapun.” Jongin memegangi perut ratanya, memasang wajah memelas dan berpura-pura muntah. Tawa Sehun meledak detik itu juga, bergema di lorong berwallpaper kusam yang asing dan dingin itu.

            “Kurasa sebentar lagi Bos Wu akan menambah gaji kita.” Jongin mengangguk setuju lalu menambahkan. “Kita sudah membunuh salah satu musuh terbesarnya, yeah si Minseok yang tambun itu—aku tidak tahu kalau membunuhnya ternyata begini mudah, bahkan bodyguardnya saja jauh lebih lemah daripada milik Bos.”

            Sehun tertawa lepas, lalu melingkarkan lengan kurusnya di bahu Jongin, teman seperjuangannya. Ia mengedipkan sebelah matanya, “Ready for another party, Jongin?”

            Dan yang Jongin berikan sebagai respon hanyalah tawa yang lebih keras.

______

            A month later …

            Hari itu adalah hari kelabu di mana suara hujan yang menabrak tanah terdengar riuh di luar. Namun tetap tidak sanggup meredam suara tembakan, juga teriakan pilu milik Sehun yang hinggap di telinga Jongin.

“Lepaskan aku! Biarkan aku menemui Sehun!”

            Kedua tangannya dicengkeram kuat—terlampau kuat hingga ia merasa tulang-tulangnya bisa patah sia-sia saat itu juga. Jongin berupaya berontak, dan entah sudah yang keberapa kalinya hingga orang-orang berotot besar yang lain turut berdatangan ke arahnya—kebanyakan dari mereka adalah orang pribumi dengan kumis tebal dan seringai jahat—berusaha mengontrol kemarahannya. Mereka tak segan memukul, menghantam dan membanting tubuh Jongin ke lantai. Berupaya agar pemuda itu tak lagi berkutik.

            “SEHUUN!” teriak Jongin—nyaris berupa geraman, bayangan soal Sehun yang tengah kesakitan dan terbujur tak berdaya dengan darah di sekujur tubuh membanjiri otaknya. Ia tidak bisa diam saja, ia harus segera melakukan sesuatu. Sehun benar-benar sedang butuh pertolongannya!

            Tangan-tangan besar itu menghujani wajah dan rahangnya dengan pukulan, beberapa sanggup Jongin tangkis, namun tidak setelahnya. Darah keluar dari bagian-bagian tubuhnya yang terluka, kepalanya pusing dan merasa dunia seolah berotasi dengan tidak adilnya. Badan Jongin benar-benar remuk hingga kini ia tak sanggup lagi bergerak, hanya merintih kesakitan bersamaan dengan separuh jiwanya yang turut hilang. Apalagi ketika terdengar suara tembakan lagi—entah datang dari ruangan yang mana Jongin tidak tahu. Detik itu juga, ia menangis.

Sehun hilang, dan Jongin bisa merasakannya.

Sudah terlambat.

Ia terbujur kaku, namun telinganya masih bisa mendengar dengan jelas tatkala suara sepatu yang beradu dengan lantai menyapa telinganya, pun bergema di ruangan kosong tanpa satupun perabot itu. Ruang penyiksaan. Langkah demi langkah perlahan mendekat ke arahnya hingga sosok menjulang itu terlihat sepenuhnya, memandang Jongin dengan tatapan kasihan. Yang lebih terlihat sebagai seringai memuakkan di mata Jongin.

“Kau …” geram Jongin dengan nada mengancam, “Apa yang kau lakukan pada Sehun, Wu Yifan!?”

Sebelah alis milik pria Wu itu terangkat, ia lalu tersenyum miring. “Di sini ada aturan untuk tidak menaikkan nada bicara pada yang lebih tua, oh tunggu, aku bahkan bosmu, ingatlah itu wahai Kim Jongin.”

“Persetan dengan aturan itu! Brengsek kau, Wu Yifan!” kelakar demi kelakar kasar keluar dari mulut Jongin, bersamaan dengan munculnya titik bening yang masih berusaha ia tahan di sudut matanya. Dadanya naik turun, pertanda kemarahan yang memuncak dan siap meledak. Ia tidak bisa menolerir yang satu ini, pria yang berani merenggut teman satu-satunya. “KEMBALIKAN SEHUN PADAKU, YIFAN BRE ..”

DOR!  

Sesuatu yang panas menembus kulit kaki Jongin. Membuat pemuda itu untuk kesekian kalinya berteriak kesakitan. Ia salah kalau berpikir ia sudah mati rasa, sebab pada kenyataannya Jongin tidak bisa menolerir rasa sakit yang satu ini. Sial, peluru macam apa yang Yifan pakai!?

Jongin melemparkan sorot benci yang kelewat dalam pada Yifan. Sementara yang bersangkutan hanya memasang wajah tak berekspresi.

“Aku. Sudah. Memperingatkanmu. Kim. Jongin.”

_________

“Kau harusnya bersyukur Bos Wu masih membiarkanmu hidup, Jongin.”

Jongin mengerang begitu kapas berantiseptik itu menyentuh kulitnya yang terluka, begitu dingin dan membuatnya ngilu saking perihnya. Peluru di dalam tubuh Jongin perlahan dikeluarkan—dan jangan pernah tanya seperti apa sakitnya, ia bahkan tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Setelah rasa yang menusuk-nusuk itu mulai berkurang sedikit demi sedikit, Jongin melirik sinis pria berkacamata yang tengah sibuk mengobati lukanya yang lain. Lalu merespon kata-kata pria itu sebelum ini. “Bersyukur? Teruslah bermimpi, Zhang Yixing! Aku malahan ingin mati saat itu juga.”

Serentetan kekehan ringan keluar dari sela-sela bibir Yixing, seorang dokter muda yang direkrut untuk bekerja sama dengan Wu Yifan tiga tahun yang lalu. Jenius, perawakannya lembut dan pemilik lesung pipi terindah yang pernah Jongin temui.

“Dia juga sudah membunuh Sehun.”

Yixing menghentikan aktivitasnya sejenak setelah mendengar pernyataan bernada dingin yang dilontarkan Jongin. Pemuda yang berkulit lebih gelap darinya itu menunduk dalam, dan beberapa saat setelahnya Yixing berani bersumpah ia terlampau terkejut karena Jongin mulai menangis. Kedua kelopak matanya membuka lebar melihat sosok pemuda tampak tak berdaya—rapuh—di hadapannya. Seseorang yang selama ini ia pikir adalah pembunuh berhati dingin—tak punya hati lebih tepatnya—tidak pernah tersenyum selain saat bersama Sehun, anti sosial seperti itu … menangis. Jongin terlihat menggigit bibir bawahnya, air matanya telah membanjir tanpa dapat ditahan. Yixing pikir, Jongin cukup tegar menghadapi ini semua. Tapi ternyata …

Setiap orang selalu punya saat-saat terapuhnya, bisik Yixing meyakinkan dirinya sendiri.

“Aku … lemah, maaf aku …” Jongin mengangkat sebelah tangannya yang dibalut perban, berniat menyeka bulir-bulir kecil yang jatuh di pipinya. Oh, kenapa ia menjadi begini sentimentil? Ini benar-benar memalukan.

Lengan kurus Yixing menahan setiap gerakan Jongin, menghalangi pemuda itu agar tidak terlalu banyak bergerak atau lukanya akan semakin melebar. “Orang menangis bukan karena mereka lemah, Jongin. Tapi karena ia telah kuat terlalu lama.”

Jongin terdiam. Meresapi setiap kata demi kata yang barusan didengungkan Yixing. Tanpa disangka-sangka air matanya jatuh lagi. Membuat ia sungguh merasa seperti seonggok anak kecil tak berguna yang pantas dikasihani karena tengah menangis meraung-raung karena ditinggal pergi orang terkasih. Menyedihkan dan menggelikan di saat yang bersamaan.

Mesin waktu kembali berputar, menampilkan scene di mana Jongin telah berhenti menangis, masih dengan Yixing di sampingnya.

“Kenapa … Kenapa Sehun sampai harus dibunuh?” bibir Jongin bergetar. Ketara sekali bahwa kenyataan itu benar-benar mimpi buruk baginya. Butuh keberanian besar untuk bertanya.

“Bos Wu tidak pernah menolerir yang namanya penghianat.”

Jongin membulatkan kedua matanya lebar, tidak percaya. “Apa maksudmu?” Nada bicaranya terdengar ragu. Ia terus menajamkan pandangan, ekor matanya terus mengikuti Yixing yang mondar-mandir di hadapannya—sibuk membereskan peralatan kedokterannya. Jongin menunggu jawaban dari si pria berlesung pipi dengan perasaan campur aduk yang mendera.

“Sehun, dia menyelamatkan target.”

Alis Jongin langsung berkerut. Apa katanya?

“Sehun tidak membunuh target seperti yang diperintahkan Bos Wu. Dia menyelamatkan pria bersurai emas dan bermata cantik itu, kalau tidak salah namanya Luhan.”

Butuh waktu agak lama bagi Jongin untuk merespon, otaknya masih sibuk mengolah informasi yang dikatakan Yixing. Pasalnya, selama ini Jongin mengenal Sehun sebagai salah satu anak buah Wu yang paling taat. Selalu tepat waktu dan tidak pernah membantah. Lalu atas dasar apa Sehun berkhianat? Siapa sebenarnya Luhan dan kenapa ia tidak pernah tahu menahu soal pria itu sebelum ini? Bukankah ia dan Sehun sudah selayaknya saudara yang selalu berbagi cerita? Juga … kenapa kali ini Sehun bekerja tanpa dirinya, tanpa sepengetahuannya? Mereka berada di tim yang sama ‘kan?

“Simpan pertanyaan-pertanyaan itu untuk dirimu sendiri, Jongin.” Pemuda yang diajak berbicara tertegun, heran dengan ucapan Yixing yang seolah mengetahui apa yang barusaja mengisi selaput-selaput otaknya. Mungkin selain seorang healer, Yixing juga seorang cenayang, siapa tahu.

Terdengar dengusan lirih Yixing, tatapan pria itu sendiri kini tampak menerawang jauh, menembus jendela kaca yang kini saling berhadapan dengannya. “Karena dalam menjalankan misi, kau sama sekali tidak boleh melibatkan perasaan.”

Jongin hanya diam, termenung selagi Yixing berbicara. Ia tahu, tak perlu Yixing katakan lagi soal yang satu itu.

“Tidak boleh ada cinta, rasa kasihan, rasa manusiawi. Yang boleh kau miliki hanyalah hasrat untuk membunuh. Seperti seekor serigala yang kelaparan.”

Jongin juga tahu soal yang satu itu.

“Dan jangan pernah biarkan cinta yang membunuhmu,” Yixing membalikkan tubuhnya lalu tersenyum pada pemuda berkulit tan yang balas menatapnya ingin tahu. “Kaulah yang harus membunuh cinta di dalam hatimu.”

Dunianya aneh. Berotasi dengan tidak adil, seenaknya saja. Dunianya tidak masuk akal. Apalagi sejak ia berpijak di tempat ini sembilan tahun lalu, di umurnya yang masih dini dan pistol serta bau amunisi yang jadi teman baiknya. Darah dan mayat telah jadi makanan sehari-hari untuk sepasang mata mungilnya. Obat-obatan terlarang juga minuman keras adalah hal yang biasa ia temui.

Jongin punya teman sepermainan. Anak berkulit seputih salju dengan rambut kelabu yang berwajah dingin, terlihat cuek dan menyebalkan di awal bertemu tetapi berbanding terbalik begitu kau mengenalnya lebih jauh. Dan setiap berada di samping anak itu Jongin merasa hangat. Jongin merasa lengkap. Jongin tidak pernah merasakan percik-percik kebahagiaan seperti itu sebelum ini. Sehun adalah pelabuhan bagi hati Jongin yang malang, begitupun sebaliknya.

Sampai sekarang.

Ketika suara derap langkah terdengar menjauh, Jongin baru menyadari betapa lama ia telah melamun hingga Yixing telah meninggalkannya sendiri—ingin memberi Jongin privasi mungkin. Di ruangan berbau antiseptik, tidak serba putih seperti rumah sakit, sedikit lebih terang daripada ruang-ruang yang lain karena jendela yang lebar, di sanalah Jongin merenung. Masih memenuhi kepalanya dengan pertanyaan-pertanyaan. Jongin yakin, pasti ada alasan di balik penghianatan yang dilakukan Sehun, pemuda yang ia kenal baik itu tidak akan bertindak tanpa motif yang pasti. Dan Jongin akan mencari tahu kebenaran.

“Maafkan aku Sehun. Kita memang berteman, saling menyayangi selayaknya saudara. Tapi aku tidak ingin jadi sepertimu. Aku tidak ingin mati cepat gara-gara cinta dan berlaku bodoh sepertimu.” Jongin mendengus pelan, bermonolog ria dalam kesendirian, “Aku akan membunuh cinta di hatiku agar tetap hidup lalu membalaskan dendammu pada Yifan. Aku janji.”

_________

            Rumah bergaya Victorian itu terletak agak jauh dari pusat Kota Wuwei, perlu melewati beberapa hektar hutan untuk sampai di sana—kalau selamat dari anjing dan serigala liar tentunya. Kendati rumah tua itu sudah ada sejak tahun 1850-an dan terdengar bisa ambruk sewaktu-waktu, namun si pemilik rumah telah berhasil merenovasi tempat itu dan merubahnya menjadi tempat yang lebih fantastis, tapi tetap tidak meninggalkan keaslian desain rumah itu, corak zaman Victoran yang begitu kental.

            Memang jika ditilik dari luar akan tampak seperti rumah biasa, kesan kuno malah membuatnya terlihat mewah dan mahal. Tapi siapa sangka kalau di dalamnya sebuah organisasi rahasia telah terbentuk. Pengedar narkoba, praktik jual beli organ manusia dan perdangangan senjata ilegal hanyalah poin utama dari kegiatan mereka, belum lagi poin-poin lain yang mengikutinya.

            Bertitelkan ‘0’ atau kita bisa membacanya dengan ‘Zero’. Dengan semboyan khasnya, “Zero isn’t the weakest, it’s everlast.” Karena seperti yang kita semua tahu, angka nol tidak memiliki akhir.

Diketuai oleh seorang pria keturunan Cina-Kanada bernama lengkap Wu Yifan dengan code name-nya adalah Kris. Pada umurnya yang masih tergolong muda, ia telah berhasil melebarkan sayapnya hingga ke pelosok Cina, kota-kota kecil pun tidak luput dari jangkauannya. Bersama dengan ratusan anak buahnya yang tersebar di penjuru Cina dan berpusat di Kota Wuwei, ia melaksanakan semua praktik ilegal itu dengan sangat hati-hati. Dengan kehebatannya, ia bisa membangun organisasi itu menjadi lebih besar tanpa pernah tercium oleh polisi setempat. Karena seperti yang telah dikatakan sebelumnya, penghianatan adalah hal tabu bagi Yifan, aturan dan ketegasan yang ia tangguhkan itulah yang membuat organisasi ini tetap tegak berdiri.

“Musuh adalah mangsa, yang harus dilenyapkan dari muka bumi dengan tangan kita sendiri.” Jongin masih ingat dengan jelas sebaris kalimat yang diucapkan Yifan padanya ketika ia pertama kali menjalankan misi. Pemuda itu hanyalah satu dari sekian banyak anak buah Yifan yang menyandang nama Quench—sebutan yang Yifan gunakan untuk seorang pembunuh—dengan code name Kai. Bersama dengan Sehun dengan code name-nya Odult yang merupakan teman satu tim sekaligus sahabatnya, ia menjalankan tugasnya.

Yifan lebih banyak merekrut orang tertindas dan orang terabaikan untuk menjadi anak buahnya, memberikan janji manis berupa pekerjaan dan kehidupan yang lebih layak sebelum mereka akhirnya dilatih menembak, memanah dan berkelahi—juga membunuh. Jongin masih ingat bagaimana seorang pria datang padanya tatkala ia masih berusia sembilan tahun, pria yang memiliki senyum seperti malaikat dan terlihat ramah itu tidak segan meraih tangan Jongin yang kotor karena mengais-ngais makanan di pinggir jalan. Orangtua Jongin menghilang entah kemana semenjak anak itu berusia tujuh tahun, menelantarkannya begitu saja.

Joonmyun lalu mengajak Jongin bergabung dengan suaranya yang halus. Senyum lembut yang terbingkai di wajahnya seolah menghipnotis, membuat Jongin dengan lekasnya menurut. Namanya Kim Joonmyun, satu-satunya orang yang Yifan percaya sepenuhnya. Juga orang yang benar-benar Jongin hormati lebih daripada yang lain.

Tidak terasa sudah satu bulan berlalu sejak hari di mana Sehun pergi, meninggalkan Jongin sendiri di kamar lembab yang biasanya diisi dua orang—ia dan Sehun—dan tidak pernah sepi karena keduanya memang cerewet kalau sudah berkumpul. Luka akibat peluru yang sempat tertanam di paha Jongin juga sudah sembuh, sehingga bisa dipastikan tidak lama lagi ia akan kembali mendapat pekerjaan. Semoga.

Pintu kamar di mana Jongin berada tiba-tiba dibuka dari luar, menimbulkan bunyi berderit yang familiar di telinganya. Tanpa ragu ia menoleh, menghadap pada seorang gadis Commander—sebutan untuk pembawa misi—berambut merah panjang yang Jongin kenal dengan cukup baik, code name-nya Krystal.

Sosok Krystal membawa beberapa buku berukuran sedang, membuka-buka setiap lembarnya lalu menaikkan alis. Arsip soal tugas Jongin telah ia temukan. “Oke Kai, Quench nomor 5, tugasmu untuk seminggu ke depan adalah memata-matai pemuda bernama Huang Zitao, seorang anak buah mafia dari daerah timur, yang sangat memungkinkan menjadi pesaing perdagangan gelap milik organisasi kita. Mencari tahu soal kegiatannya, lalu membu …”

BRAK!

Belum sempat Krystal selesai membacakan misi yang ia bawa, Jongin telah mendorongnya ke dinding dengan kasar, membuat gadis itu lantas berteriak kesakitan. “Hey, what are you do ..”

“Berikan aku misi untuk membunuh seseorang bernama Luhan.”

Gadis berambut merah itu terperangkap di antara kedua tangan Jongin yang menekan tembok. Ia hanya bisa mengerutkan alis, kesal dengan tingkah anak manusia yang lebih tinggi darinya itu. “Apa maksudmu? Jangan seenaknya sendiri kalau …”

“Katakan padaku, apakah Luhan masih berkeliaran di luar sana? Apakah ia masih hidup?” Pertanyaan barusan Jongin bisikkan di telinga Krystal dengan lirih, gadis itu sedikit bergidik kendati wajahnya telah bersemu merah. His voice is so damn sexy!

Krystal enggan menjawab, gadis itu menggeleng angkuh. Jangan tergoda, jangan terhasut, bisiknya lirih. “I’m yours tonigt if you tell me.” bisik Jongin lagi seraya menikmati bau rambut Krystal yang manis.

Sialan, batin Krystal. Pemuda itu benar-benar tahu kelemahannya. Menghancurkan benteng pertahanannya dalam sekali gempur.

He’s alive. Out there. Setelah Sehun gagal membunuhnya, ia menghilang tanpa jejak. No one knows. Tapi kami—para Commander—pikir, tim Chanyeol-Baekhyun lebih pantas mendapatkan misi ini. They’re both, but you ..”

I’ll do it.” potong Jongin sembari menarik diri menjauh dari Krystal yang nampak menahan napas, nervous. “I am strong enough. I am not alone, I am with Sehun.

Krystal terpekur menatap Jongin, si pemuda dengan aura kelabu yang pekat di sekelilingnya. Sosok tinggi yang kerap mengisi mimpinya sejak pertama kali berjumpa, cinta yang diam-diam dan tak pernah ia harap akan terbalas. Apalagi semenjak meninggalnya Sehun, pemuda itu menjadi semakin dingin dan tampak sulit didekati. Dan Krystal juga paham, Jongin punya tujuannya sendiri untuk perubahan misi kali ini.    

“Aku akan berikan misi itu padamu. Tapi berjanjilah untuk pulang dengan selamat.” tutur Krystal kemudian sembari mendekap buku-buku arsip miliknya dengan erat. Ia bisa membicarakan soal perubahan misi yang mendadak itu pada Commander-commander yang lain, ia hanya perlu meyakinkan mereka bahwa Jongin bisa dipercaya untuk misi ini. Krystal juga berharap semoga Jongin tidak menangkap nada khawatir yang tersirat di setiap ucapannya.

“Aku janji.” Krystal mengangkat wajah, mendapati sepasang iris Jongin yang teduh juga senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Seolah menekankan lewat raut wajah kalau ia akan baik-baik saja dan si gadis tidak perlu merasa khawatir. “Dan setelah aku menyelesaikan misi ini, aku akan membawamu pergi dari sini.”

Krystal menaikkan alisnya tinggi.

“Kita akan pergi dari tempat ini, Soojung.”

_______

 Kening si pemuda Kim berkerut dalam, mempelajari profil milik seorang berkebangsaan Cina yang bernama Luhan sanggup membuatnya tercengang. Soalnya pria berwajah seperti boneka itu bukan seperti yang ia bayangkan sebelum-sebelum ini. Luhan hanyalah seorang pegawai kantoran dengan gaji rata-rata yang sedang susah payah mengumpulkan uang untuk membiayai pengobatan adik perempuannya yang sakit keras. Padahal Jongin pikir Luhan adalah orang yang berbahaya—seorang pengedar narkoba atau germo, mungkin—seperti dugaannya.

Tapi Jongin tahu, Yifan tidak akan membunuh orang yang tidak benar-benar berurusan dan berbahaya untuknya. Lantas untuk apa Yifan meminta Sehun membunuh pria cantik ini seorang diri? Tidak ada catatan kriminal, tidak ada praktik ilegal juga dalam biografi hidupnya. Luhan adalah orang bersih.

 Mata Jongin menelusuri lagi data-data penting soal Luhan, kali ini ia memaku pandangan pada profil singkat adik Luhan yang tertera di sana. Oh, adik tiri lebih tepatnya. Namanya Choi Jinri, kebangsaan Korea dan berumur dua tahun di bawah Luhan. Penyakit yang dideritanya adalah kanker lambung, sekarang sedang dirawat intensif di Wuwei Cancer Hospital di Propinsi Gansu. Tidak ada foto.

Jongin terpekur begitu kelereng matanya membaca kalimat terakhir yang tertera di berkas di tangannya. Apakah gadis itu masih berada di rumah sakit? Kalau memang benar, seharusnya Luhan berada di sana bukan?

Seulas senyum miring perlahan terkembang hingga membentuk seringai tajam di wajah Jongin. Ia berderap menuju nakas yang terletak di samping ranjangnya, mengambil sebuah revolver keluaran Smith & Wesson yang permukaannya berkilat terkena cahaya matahari. Revolver model 500, salah satu senjata paling kuat yang ada di dunia. Jongin tahu Yifan mengandalkannya, terlihat dari bagaimana pria itu memberikan revolver mahal tersebut secara cuma-cuma padanya. Yah, Jongin (dan Sehun) memang tidak pernah gagal menjalankan tugas sebelum ini—sebelum tragedi yang menimpa Sehun, mungkin itulah yang jadi salah satu alasannya.

Entah benda di tangan Jongin akan jadi berguna atau tidak nantinya, ia akan tetap membawanya. Revolver itu adalah salah satu benda Jongin yang paling berharga, seperti jimat keberuntungan baginya. Luhan memang tidak terlihat berbahaya, tapi siapa yang tahu. Berjaga-jaga juga tidak ada salahnya, bukan?

Jongin baru akan bangkit, tapi ia kembali berhenti tatkala sebaris ingatan menyapa otaknya. Diliriknya nakas yang sama persis dengan miliknya dan terletak di sudut ruangan. Milik Sehun. Jongin berjalan mendekat, lalu membukanya kelewat pelan seolah itu adalah benda terapuh di dunia seraya menerka-nerka di dalam hati apa yang kira-kira ada di dalam sana—yang selama ini luput dari penglihatannya. Mungkin saja ia bisa dapat petunjuk. Semoga.

Tidak ada yang istimewa di laci nomor satu dan nomor dua. Hanya seperangkat pakaian dan underwear milik Sehun, juga beberapa aksesori seperti masker dan slayer. Jongin jadi ingat masa-masa di mana ia dan Sehun masih sering bertukar underwear, terdengar menggelikan memang. Tapi itu menyenangkan, tetap melekat di ingatan sebagai kenangan manis, sungguh. Jongin masih memasang ekspresi yang sama begitu membuka laci nomor tiga, di sana ada beberapa buku tebal, kertas, majalah dan benda-benda lain yang sering dibawa Sehun. Tidak ada yang menarik perhatian Jongin sampai sesuatu yang asing tertangkap iris hitamnya. Urat wajahnya sepersekian detik menegang, tanpa pikir panjang diambilnya buku tebal yang berhasil mencuri perhatiannya itu.

Sebuah alkitab.

Kedua mata Jongin membulat lebar, hei sejak kapan Sehun …? Jongin tidak bisa melanjutkan kata-kata dalam benaknya sendiri. Terlebih ketika ia melihat sesuatu yang terselip di antara halaman-halaman alkitab itu, sedikit lusuh. Sebuah foto.

Foto seorang gadis.

Sebanyak apapun yang berusaha Jongin ingat, sekeras apapun ia mencari wajah itu dalam daftar ingatannya, tetap tidak berhasil ia temukan. Orang yang tampak di sana benar-benar asing. Rambut cokelat bergelombang juga sepasang mata cokelat terang yang sederhana tapi diam-diam memabukkan. Tersenyum ke arah kamera dengan ceria. Cantik.

Jongin menepis pikirannya yang melayang barusaja, kembali pada pertanyaan utama yang merongrong di otaknya. Siapa gadis ini bagi Sehun? Kenapa ia menyimpan foto gadis ini? Lalu … mengapa Sehun menyimpan sebuah alkitab di lacinya?

Jongin tidak tahu.

_______

Langkah kaki Jongin yang besar-besar menimbulkan bunyi gema di lorong rumah sakit yang sepi dan gelap. Bau obat-obatan menusuk langit-langit hidungnya, dan ia tidak suka itu. Ketika kakinya menginjak ruang resepsionis, serentak pandangan orang-orang di sana mengarah padanya. Memasang mata nyaris melotot dan penuh selidik yang membuat Jongin tidak nyaman. Hei, apakah ia begitu terlihat seperti penjahat?

Ia melewati jendela kaca dan menatap dirinya yang samar terlihat. Jongin memakai jaket kulit hitam yang tebal, celana ripped jeans yang entah sudah berapa lama tidak dicuci, sepatu boots tua yang nyaman dipakai dan rambut acak-acakannya yang tipikal. Ah, ia tahu! Pasti gara-gara beberapa luka jahit di wajahnyalah yang membuat orang-orang itu menatapnya takut, tangannya yang masih diperban juga sorot mata dingin miliknya yang menyerupai harimau mengintai mangsa. Oh, mungkin ditambah dengan tato berbentuk 0 (zero) di tengkuknya. Huh!

Jongin melengang mendekati meja resepsionis, “Aku mencari kamar Choi Jinri.” katanya dingin, nyaris mengintimidasi. Terlihat gurit ragu di wajah si resepsionis bernama Taeyeon—Jongin melihat name tag-nya sekilas. “Aku teman Luhan, kakak Jinri. Aku datang membawa makanan kesukaannya.” Jongin berbohong—hanya hal itu yang melintas di pikirannya—seraya menunjukkan sekantung plastik berisi makanan. Berutunglah ia tadi berinisiatif membeli sesuatu yang biasa dibawa untuk membesuk. Setidaknya ia pikir dengan membawa itu ia bisa terlihat lebih meyakinkan.

Jongin harus menahan seringai yang tercetus di bibirnya ketika Taeyeon menyebutkan nomor kamar Jinri. Dengan tanpa basa-basi lebih lama Jongin segera melesat pergi, mengabaikan pandangan dan bisik-bisik orang tua di sekitarnya. Persetan dengan mereka semua!

Kamar nomor 302. Pelan sekali Jongin memutar kenop pintu yang entah mengapa terasa begitu dingin, ia memang tidak pernah suka atmosfir di rumah sakit, kesemuanya membuatnya bergidik tidak nyaman. Dan ia melangkah masuk hingga papan kecil yang tergantung di sisi ranjang terlihat olehnya, tertulis dengan jelas di sana nama Choi Jinri. Jongin mengangkat wajah.

Lalu terkesiap sekuat-kuatnya.

Soalnya gadis yang terbaring di atas ranjang itu—si Choi Jinri—adalah sosok yang terlihat familiar bagi Jongin. Yang baru kedua kalinya Jongin lihat setelah foto yang ia temukan di laci Sehun tadi. Masih ia ingat setiap lekuk wajahnya, hidung, bibir merah muda dan kulit seputih susu dengan rambut gelombang. Kendati sepasang iris cokelat terang itu bersembunyi di balik kelopak mata, Jongin yakin sekali kalau ia adalah orang yang sama.

Jongin mendesah hebat setelahnya. Sehun benar-benar punya hubungan dengan Luhan.

Beberapa menit waktu berlalu sia-sia, pandangan Jongin lantas bergerilnya ke seluruh ruangan. Namun sayangnya tidak menemukan seseorang yang ingin ia temui. Tidak ada sosok yang menyerupai Luhan di sana. Benarkah pria itu menghilang seperti yang dikatakan Soojung? Kenapa ia meninggalkan adik perempuannya yang sedang sakit seorang diri di sini? Lalu siapa yang akan merawat Jinri? Bagaimana jika nanti sesuatu yang tidak diinginkan terjadi? Bagaimana jika …

Hei, sejak kapan Jongin jadi peduli pada gadis itu?

Jongin mengacak rambutnya, memukulnya sekali-kali. Tidak boleh ada rasa kasihan, cemas dan cinta pada mangsamu, Jongin. Tidak boleh. Jongin menggeleng-geleng seperti anak kecil polos yang menolak diberi permen oleh orang asing.

“Eumm… eumm.”

Kali ini pemuda berkulit gelap itu terperajat begitu mendengar sebuah suara yang ternyata datang dari bibir Jinri. Dahi gadis itu berkerut dan ia terus bergumam, terlihat tidak nyaman dalam tidurnya. Mimpi burukkah?

Jongin mendekat, ingin mendengar lebih jelas apa yang dikatakan si gadis dalam tidurnya.

“Yi … Yifan.”

Apa?  

Yifan. Jongin yakin ia tidak sedang salah dengar. Nama itu mengalir dengan indah dari mulut Jinri. Dan kenyataan itu sekali lagi sukses membuat Jongin terperajat, sesuatu yang berdetak di dadanya nyaris berhenti saking kagetnya. Jantungnya yang malang belum siap untuk menerima berbagai kejutan lain hari ini.

Sebenarnya, hubungan aneh apa yang tengah terjadi? Bagaimana bisa ia tidak tahu apa-apa? Bagaimana bisa seorang Jinri mengenal Yifan, si penjahat kelas kakap yang selalu bersembunyi dari masyarakat?

Pertanyaan dalam benak Jongin tidak jadi berlanjut tatkala pintu kamar Jinri dibuka dari luar, pelan sekali. Kemudian suara yang asing menghinggapi telinganya.

“Jinri-ya, maaf kakak baru da …”

Kata-kata itu terpaksa terhenti tatkala mata cantiknya melihat sesosok pemuda tak dikenal dengan pakaian serba hitam yang berdiri di samping ranjang adiknya. Waktu seolah berhenti ketika pasang-pasang mata mereka saling menatap dalam keterkejutan dan diam. Dan ketidakpercayaan.

Pria bersurai emas yang baru berniat masuk itu melepaskan pegangannya di kenop pintu. Tubuh dan sudut bibirnya terlihat bergetar. Dalam waktu singkat ia telah hilang dari pandangan. Kabur.

Itu Luhan.

________

Jongin tidak peduli dengan anggapan dan decakan orang-orang di sekelilingnya begitu kakinya bergegas berlari sekencang mungkin di koridor rumah sakit, membuat suara gaduh yang sangat mengganggu. Beberapa dari orang-orang yang datang menjenguk tidak segan mengutukinya dengan keras karena Jongin hampir menabrak mereka. Bahkan ketika tim security mulai beraksi, Jongin tak juga berhenti dan menyerah. Bagaimanapun juga, ia harus menangkap Luhan. Mangsa sudah terlihat dan yang harus ia lakukan setelahnya ialah menangkapnya. Apapun caranya. Saat ini Kim Jongin benar terlihat seperti singa kelaparan.

Decakan lirih Jongin dengungkan, bagaimana bisa pria yang kelihatan lebih kecil darinya itu berlari sebegitu cepat? Sialan! Seandainya ini bukan rumah sakit, Jongin pasti sudah mengeluarkan pistolnya dan menembak kaki Luhan!

Jongin berlari lebih cepat, fisiknya sudah sekuat baja. Ditambah dengan tekadnya yang bulat, ia abaikan peluh dan rasa sakit yang mendera. Ia melompati beberapa pagar pendek yang menghalangi, menuruni beberapa tangga rumah sakit hanya dalam beberapa lompatan, menendang beberapa penghalang kecil seperti pot bunga penghias taman. Persis seperti yang sering terlihat di film-film action—kau tahu. Luhan sudah terlihat di ujung mata, nampaknya langkah-langkah yang diambil pria itu semakin lambat, mulai lelah sepertinya. Jongin memasang seringai puas di wajahnya. Luhan membelok ke arah gudang tua yang berada tepat di samping rumah sakit. Jongin hanya berjarak beberapa meter dari Luhan ketika tiba-tiba dua pria berseragam menghadangnya. Security. Membuat ia spontan berhenti dan mengutuk dalam hati. Tsk!

Ia tidak punya banyak waktu. Mangsa sudah di depan mata dan ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini atau Luhan tidak akan muncul lagi untuk yang kedua kalinya.

“Menyingkirlah, gendut!” teriak Jongin semena-mena pada security berbadan gempal, lalu memukulnya tanpa ampun. Dua yang lain bersiap memukul Jongin dari belakang. Tapi bukan Jongin namanya kalau ia bisa kalah dan lengah begitu saja, secepat angin ia berbalik. Sebelah kakinya menghantam security pertama sementara tangannya yang bebas melayang, menghantam wajah si security kedua kelewat keras. Sepenuh tenaga. Hingga ketiga orang security itu terkapar kesakitan hanya dalam sekali serang. Jangan pernah mengajak Jongin bertengkar dalam situasi darurat, ingat itu.

Sebelum rekan-rekan security yang lain tiba, kaki Jongin kembali berayun, lebih cepat dari sebelumnya seolah lomba lari tengah dilakoninya. Pandangannya hanya tertuju pada gudang tua yang dindingnya terkelupas sana sini. Entah di sana masih ada Luhan atau pria bersurai emas itu sudah pergi, Jongin tidak tahu. Ia menendang pintu kayu dengan kasar, tidak sabar. Napasnya menderu lalu meninjau seluk beluk tempat itu. Hanya gudang berisikan kayu-kayu lapuk, sepertinya telah terabaikan selama beberapa masa. Bebauan bangkai tikus samar tercium, bau kayu lapuk apalagi, menguar di mana-mana. Jongin mendesah, adakah tempat di gudang itu yang bisa digunakan untuk bersembunyi? Adakah kemungkinan Luhan berada di sini?

GRUDAK!

Kepala Jongin berputar cepat ke sumber suara, di mana beberapa tumpukan kayu barusaja terjatuh. Sesuatu yang bergerak-gerak lantas terlihat oleh iris hitamnya, juga telinganya yang mendengar suara rintihan tertahan. Kesakitan. Jongin berjalan mendekat, ia langsung pecah dalam tawa begitu mangsa yang sebelum ini ia cari kini meringkuk di depannya. Menggigit bibir bagian bawah dan memasang wajah kesakitan karena kayu-kayu lapuk yang menimbum setengah badannya. Rahang Luhan mengeras saking tegangnya, entah ekspresi ketakutan atau kemarahan yang terpampang di wajah manisnya.

Luhan menarik sepasang kakinya yang tertimbum kayu dengan susah payah, berniat untuk kabur. Namun tidak jadi terealisasikan karena sebuah tangan tiba-tiba dan tanpa ia kira meninju rahangnya. Membuat ia dalam sekejap hilang kesadaran.

________

Segala yang ia lihat untuk pertama kali ketika membuka mata terasa berputar. Mungkinkah ini efek dari kepalanya yang terus menerus berdenyut sakit atau sesuatu yang terasa ngilu di rahangnya? Luhan tidak tahu sampai suara merdu pelatuk pistol yang ditarik menggema di telinganya. Butuh detik yang agak panjang bagi si pria cantik untuk segera menyadari situasi.

Luhan cuma perlu menegakkan tubuhnya lalu mengangkat wajah dan menatap seorang yang berdiri angkuh sedikit jauh di depannya—yang menodongkan sebuah revolver ke arahnya. Pria itu juga sedikit tersentak begitu menyadari tangannya yang terikat kuat pada sandaran kursi, membuatnya sulit bergerak. Sia-sia saja kalau berniat kabur, sepertinya.

“Menyerahlah dan katakan semuanya, Luhan. Atau aku akan membunuhmu detik ini juga.” Revolver yang tidak pernah Luhan ketahui namanya itu masih teracung, seolah menegaskan bahwa pemuda itu bersungguh-sungguh dengan kata-katanya.

“Aku tidak tahu siapa kau. Lalu apa yang mesti aku katakan?” Bohong sebenarnya. Karena Luhan bisa mengetahui hanya dengan melihat tato 0 (zero) yang terukir di tengkuk pemuda itu sebelum ini—yang membuatnya sesegera mungkin lari dari rumah sakit. Tato yang dianugerahkan untuk setiap anak buah si naga brengsek itu, Kris, Wu Yifan atau apalah itu terserah, Luhan tidak peduli. Tato yang mengikat seseorang untuk jadi budaknya, cih!

DOR!

Suara tembakan bergema di ruangan itu. Bukan gudang kayu lapuk yang sebelumnya jadi tempat persembunyian Luhan, ini tempat yang berbeda. Beralaskan keramik dengan dinding pucat dan minim penerangan yang memberi kesan suram. Tempat penyekapan sempurna yang kelihatannya jauh dari mana-mana.

“Jangan mengada-ada! Kau lari begitu menyadari keberadaanku, setidaknya kau pasti tahu soal organisasi rahasia milik Wu ‘kan?!”

Ah, benar juga. Luhan pikir pemuda di depannya cukup bodoh untuk dibohongi. Ternyata ia salah. Jadi, yang bodoh siapa?

“Apa hubunganmu dengan Yifan?” Tanya si pemuda kemudian. Bermaksud memulai sesi interview-nya dengan Luhan secepatnya, ketidak sabarannya kelihatan jelas. Barbar sekali, Luhan membatin. “Kenapa kau menjadi target yang harus dibunuh?”

Luhan berderak sebelum akhirnya menjawab dengan napas sedikit tertahan. Tidak terlihat nyaman dengan pertanyaan si pemuda berkulit gelap itu. “Karena aku telah merebut miliknya yang berharga.”

Alis Jongin mengernyit, miliknya yang berharga?

“Kekasihnya. Choi Jinri.”

Apa? Sepasang mata milik Jongin—nama si pemuda—membulat lebar. Yifan yang seperti itu … memiliki seorang kekasih? Yang Jongin ingat, Yifan adalah pria ambisius yang jarang berurusan dengan wanita kecuali bila berhubungan dengan misi dan bisnisnya. Pria itu cenderung kaku, dingin dan seenaknya sendiri. Kalau mengadakan pesta di rumah pun, Yifan tidak pernah mengizinkan anak buahnya untuk membawa wanita dari luar, siapapun itu. Mereka hanya diperbolehkan mengadakan pesta seks di kelab atau di tempat lain. Karenanya tempat rahasia mereka tetap terjaga dan tidak pernah tercium publik sampai sekarang.

Dan yang barusaja Jongin dengar terasa aneh di telinga. Kekasih Yifan katanya?

“Mereka berkencan sejak keduanya menginjak SMA. Sebagai seorang kakak yang protektif, aku mencari tahu seluk beluk mengenai Yifan diam-diam tanpa sepengetahuan Jinri. Akhirnya aku mengetahui kenyataan mengejutkan soal latar belakang keluarganya yang broken home akibat satu hal. Ayahnya adalah orang jahat, pemimpin dari sebuah organisasi rahasia ilegal yang berpusat Wuwei hingga akhirnya menyerahkan tahta pada Yifan sepenuhnya karena sakit keras.” Tanpa diminta bercerita, Luhan melanjutkan seraya sesekali melirik pemuda yang masih menatapnya ragu—mencari-cari kebohongan yang kali saja tersembunyi. “Karena itu aku menarik Jinri dari Yifan secara paksa, aku tidak peduli oleh pemberontakan yang ia lakukan. Aku membawa Jinri ke Inggris, tempat yang jauh dan tenang, bermaksud membuat ia melupakan Yifan sepenuhnya. Aku yakin kalau Yifan bukanlah orang yang pantas bersanding dengan Jinri.”

Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat. Terdengar suara gemericik air di luar, pun guruh yang samar. Hujan.

“Tapi kondisi Jinri malah semakin memburuk hingga ia jatuh sakit. Lama-kelamaan aku juga merasa bersalah, dan ketika Jinri meminta untuk pulang kembali ke Wuwei aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Aku cuma ingin ia kembali sehat dan mungkin itulah satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuknya. Lagipula selagi ia masih kehilangan kontak dengan Yifan, aku rasa tidak jadi masalah bila tetap tinggal.”

Desahan samar terdengar dari mulut Luhan, ini adalah cerita paling berat yang pernah ia haturkan. Mengingat-ingat episode-episode kala itu selalu sukses mengaduk-aduk hatinya. Sementara Jongin belum juga merespon sedikitpun, membiarkan si pria berwajah boneka itu menuntaskan kisahnya.

“Tapi ternyata aku salah. Jaringan Yifan semakin hari semakin kuat dan dengan mudah keberadaanku dan Jinri diketahui. Entah ini bisa dikatakan beruntung atau tidak, Jinri sedang dirawat di rumah sakit sehingga Yifan tidak bisa seenaknya membawa pergi gadis itu. Tapi Yifan punya target lain, penghalang kebahagiannya juga penghancur hubungannya, yaitu aku. Hingga ia mengirimkan seorang anak buahnya untuk membunuhku.”

Napas Jongin tercekat mendengar kalimat terakhir yang meluncur dari bibir tipis Luhan. Apakah yang dimaksud adalah Sehun?

Sebentar lagi, apakah sebentar lagi pertanyaan-pertanyaan di benak Jongin selama ini akan terjawab?

“Namanya Oh Sehun. Pemuda berwajah dingin dan berambut kelabu. Ia ditugaskan untuk membunuhku lalu menculik Jinri.” Nada bicara Luhan terdengar frustasi di akhir kalimat, wajah seriusnya menjadi setingkat lebih tinggi.

Jongin menggumam dalam hati, benar itu Sehun. Pantas saja ada foto gadis itu dalam laci nakasnya.

“Kenapa ia tidak membunuhmu? Apa yang kau lakukan sehingga ia enggan membunuhmu?” Akhirnya Jongin merespon—tepatnya bertanya, terlebih karena topik inilah yang menjadi tujuannya sejak tadi, bahkan semenjak tragedi satu bulan yang lalu.

Luhan memasang wajah penuh selidik, mencari-cari sesuatu yang tergurit di permukaan wajah Jongin yang menegang. Hingga akhirnya ia menyerah dan berujar, sebab ia tidak temukan apa-apa di sana. “Karena aku tahu sesuatu soal keluarga salah seorang temannya, Kim Jongin.”

Jongin hanya bisa tertegun mendengarnya.

“Aku nyaris berhasil mati di tangannya jika saja aku tidak mengatakannya. ‘Aku mengetahui sesuatu soal keluarga Kim Jongin, temanmu. Apakah kau tetap akan membunuhku?’ Begitu aku berkata padanya.”

Jongin masih juga diam.

“Kemudian ia menurunkan revolvernya. Dan berkata bahwa ia akan melepasku asalkan aku mau memberitahukan soal keluarga Kim Jongin padanya. Aku menyetujuinya dan sebuah perjanjian telah kami bentuk. Ia bilang akan membawa Kim Jongin bersama dengannya di esok hari, lalu membicarakan masalah ini bersama.” Luhan menelan ludah, kalimat yang selanjutnya ia katakan terasa pahit di lidah, “Tapi ia tidak pernah datang lagi. Berapa lamapun aku menunggu. Saat itu juga aku memilih untuk segera beranjak meski aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Sehun. Aku pergi meninggalkan Wuwei untuk sementara waktu karena aku yakin anak buah Yifan yang lain akan segera mengerjarku setelah itu.”

Kali ini suara hujan di luar semakin jelas terdengar, udara juga menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Air hujan yang nakal merembes melewati celah-celah atap dan menimbulkan kebocoran di sana-sini. Luhan sedikit ragu melanjutkan ceritanya setelah melihat air muka Jongin yang berubah keruh. Pemuda itu terlihat … terpukul?

Luhan berdehem, namun Jongin nampak tak berkutik. “Aku kembali hari ini untuk menjenguk Jinri. Dan tidak pernah menyangka akan bertemu dengan salah satu anak buah Yifan yang lain. Mungkin aku sedang tidak beruntung.” Pria bersurai emas itu masih berinisiatif untuk melanjutkan, seulas senyum tipis entah kenapa terbingkai di wajahnya. “Jadi, apakah kau yang bernama Kim Jongin? Apakah kau yang menjadi alasan seorang Oh Sehun mempertahankanku?”

BRUUAGH!

Hanya selang beberapa detik sejak Luhan mengajukan pertanyaannya yang kedua, rahang mulusnya dihantam lagi dan menyebabkan tubuhnya jatuh bersamaan dengan kursi di mana ia diikat. Kepalanya membentur lantai keramik dengan keras, membuatnya lantas berteriak kesakitan, pun kedua tangannya yang masih terikat kuat terasa semakin perih. Sudut bibirnya berdarah.

“Hei bocah, apa salahku!?”

“Kau masih bertanya apa salahmu!?” Nada bicara Jongin meninggi mendengar protesan Luhan, tak ayal kedua matanya mendelik marah. “Kalau kau tidak mengatakan hal itu, Sehun masih hidup sampai sekarang!!”

Luhan tidak tahu apakah ia sedang salah lihat atau tidak, soalnya Jongin tampak menahan sesuatu yang berkilau di sudut matanya. Pemuda itu … entah mengapa kini terlihat sok kuat di luar tetapi menangis sejadi-jadinya di dalam hati, begitu menurutnya. “Aku punya Kartu As, Jongin. Dan aku tidak boleh menyia-nyiakannya.”

“Bukan peduliku kalau kau mati, tolol!”

Teriakan frustasi Jongin membangkitkan amarah Luhan, membuat pria cantik ini berdecak keras. Berbicara dalam posisi seperti ini sungguh tidak enak, ia tidak bisa bergerak bebas. “Kau tidak ingin tahu soal keluargamu? Kau ingin membuang begitu saja pengorbanan yang Sehun lakukan untukmu?”

“Kalau hal itu yang membuatmu hidup, aku akan membuangnya.” Jawab Jongin cepat tanpa pikir-pikir. Ia memenggal jaraknya dengan Luhan, lalu berjongkok dan sedikit memiringkan kepalanya, menyamai Luhan. Mereka saling bertatapan intens selama beberapa waktu, sarat kebencian. “Kau buang kemana hati nuranimu, Jongin?” tanya Luhan kemudian, putus asa dalam desah panjangnya.

“Dalam menjalankan misi, hal utama yang mesti dibunuh adalah cinta. Kau tidak boleh punya rasa kasihan dan ingin menyelamatkan targetmu atau nantinya akan mati sia-sia di tangan si brengsek Yifan.” Jongin mengatakannya dengan lancar, seolah hal itu termaktub dalam kitab yang jadi pegangannya. Ia mengangkat revolvernya lagi, menempelkannya di pelipis Luhan.

“Begitukah yang Yifan ajarkan pada semua anak buahnya?” tanya si rambut emas dengan senyum remeh, “Aku khawatir ia tidak mengajarkannya pada Sehun.”

Kening Jongin berkerut mendengarnya.

“Kesalahan yang tebal adalah ketika cinta itu tipis. Itulah kalimat yang Sehun ucapkan padaku ketika aku bertanya kenapa ia tidak jadi membunuhku.”

Kali ini sepasang mata Jongin membelalak.

“Sehun sempat bercerita sedikit padaku, kalau ia ingin pergi. Ingin keluar dari tempat itu. Sebenarnya ia tidak tahan dengan hidupnya, ia bilang ia ingin ketenangan. Sehun muak dengan segala macam misi pembunuhan yang ia dan organisasi itu lakukan. Ia terlihat begitu putus asa saat menceritakan semuanya padaku, ia bahkan meminta bantuanku, bertanya apakah ada jalan baginya untuk keluar. Ia benar-benar ingin berhenti.” Luhan tersenyum penuh arti, “Jadi aku yakin, jauh di dalam Sehun masih menyimpan nuraninya lekat-lekat di hati.”

“Bo … Bohong. Aku tidak akan mempercayai mulut busukmu!” Bibir Jongin gemetaran, begitupun dengan tangannya yang memegang revolver. Cukuplah kenyataan yang sebelum ini ia dengar, ia tidak perlu lagi mempercayai yang lain, benar ‘kan? Lagipula mana mungkin Sehun …

“Percaya atau tidak, itu pilihanmu. Aku hanya mengatakan kebenaran.”

Apa …

Karena itukah ada alkitab? Sehun benar-benar jera dan muak dengan ini semua? Dan ia … lebih memilih untuk mati daripada terus menerus jadi pembunuh?

Lutut Jongin melemas, membuatnya langsung terduduk di lantai yang dingin. Begitupun dengan lengannya yang semula mengacungkan revolver kini meluruh, menjauhkan senjata api itu dari pelipis Luhan. Pandangannya kosong, menatap udara tak terlihat di depannya. Yang ada di pikirannya sekarang hanya satu : kenapa Sehun tidak pernah bercerita apapun padanya? Kenapa harus disembunyikan?

“Dari awal aku penasaran.” Jongin tiba-tiba buka mulut, suaranya terdengar serak dan pandangannya masih belum juga beralih. “Darimana kau dengan mudah mengetahui soal organisasi 0 [Zero] yang sangat rahasia? Bagaimana kau mengetahui bahwa aku adalah teman Sehun, juga perihal … kedua orangtuaku?” Sebaris kalimat terakhir yang terucap membuat bibir Jongin kelu.

Pertanyaan Jongin terdengar samar-samar di telinga Luhan. Pria itu kesakitan, kepalanya pusing dan badannya terasa remuk, ia jadi ingin tahu seperti apa wajahnya sekarang setelah mendapat dua pukulan telak hari ini. Luhan masih berusaha menjawab kendati kedua matanya tertutup rapat. Membiarkan matanya yang lelah beristirahat sejenak.

“Selain bekerja sebagai pegawai kantoran biasa, aku adalah seorang hacker.” tutur si pria cantik. Jongin memutar kepalanya, menghadap Luhan yang tampak kacau dan menyedihkan. “Biarpun rahasia, organisasimu punya situs terkunci yang dikhususkan untuk perdagangan ilegal via online.”

“Entah karena keamanan situs organisasi rahasiamu yang lemah atau memang kemampuan meretasku yang sudah meningkat, aku dapat dengan cepat membobol ruang data di dalamnya, membaca semua arsip yang terkunci, tentang berapa banyak anggota juga tugas yang mereka emban. Tidak kusangka, semua tertulis secara lengkap di sana.” Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya Luhan kembali melanjutkan, pria itu sedikit meringis karena pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut sakit. “Aku adalah pengingat yang baik. Aku bisa dengan cepat menghapal semua nama yang tertera di sana, mulai dari seorang Quench, Spy, bahkan Commander. Aku juga mencari latar belakang mereka dari berbagai situs yang berhasil kuretas, pun informasi-informasi tambahan yang aku dapat dari sesama hacker yang lain. Semua aku lakukan untuk berjaga-jaga, sebagai antisipasi untuk apa yang kemungkinan akan terjadi padaku dan Jinri nantinya. Aku pikir itu bisa berguna. Dan perkiraanku tepat.”

Hujan di luar nampaknya semakin lebat saja, namun suara yang keluar dari mulut Luhan masih jelas terdengar di telinga Jongin. Suara yang mampu membuat Jongin tercengang dalam diam karena kata-kata yang terucap selalu berupa kejutan, tidak disangka-sangka. Luhan membiarkan kata-katanya menggantung di udara untuk beberapa saat hingga akhirnya cerita itu kembali bergulir.

“Seseorang datang padaku, dan itu Sehun. Sekilas aku menatapnya, mengingat-ingat semua data yang tersimpan rapi di otakku. Namun sayangnya aku tidak menemukan apapun, lantas kuingat kalau Sehun adalah satu-satunya anggota organisasi yang berlatang belakang gelap, sepekat langit malam hingga tidak terlihat apapun di sana. Tak ada setitikpun informasi yang aku dapat mengenai pemuda itu selain bahwa ia adalah Quench, bermarga Oh dan berada di satu tim yang sama dengan sahabatnya, Kim Jongin. Karena itu aku mencoba peruntunganku, mengatakan kalau aku mengetahui sesuatu mengenai orangtua Kim Jongin, siapa tahu itu berhasil. Dan selanjutnya, seperti yang kau tahu.”

Sehun membiarkan Luhan tetap hidup, lanjut Jongin dalam benaknya.

Jongin tidak ingin dengar apa-apa lagi. Keseluruhan informasi yang ia dapat hari ini sanggup memporak-porandakan hatinya. Ia tidak tahu mesti bagaimana, entah harus percaya dan menelannya mentah-mentah begitu saja atau menolak kebenaran cerita Luhan. Ia bingung dan yang bisa ia lakukan sekarang hanya duduk diam seperti orang bodoh. Lalu melirik ke arah Luhan dan mendapati pria itu dengan matanya yang tertutup rapat, darah di sudut bibirnya nampak kering sementara lebam di wajahnya samar terlihat. Pria itu pingsan—atau mungkin jatuh tertidur.

Dan Jongin masih tidak tahu apa yang harus ia perbuat sekarang.

_______

“Apa Jongin pernah berpikir ingin bertemu dengan papa dan mama Jongin suatu hari nanti?” Pertanyaan bernada polos yang barusaja dilontarkan Sehun membuat Jongin mengalihkan pandangan dari buku bacaan bergambarnya. Setelah sibuk berpikir selama beberapa waktu, Jongin hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Tidak benar-benar menghiraukan pertanyaan itu. Lalu kembali berkutat dengan buku barunya.

Sehun mengangguk-angguk, bocah berambut kelabu yang baru memasuki usia ke-sepuluhnya itu lantas tersenyum. “Kalau begitu, pas kita besar nanti kita cari papa mama Jongin sama-sama ya.”

Sepasang mata cokelat Jongin yang semula bergerak-gerak karena membaca spontan berhenti. Ia menoleh lagi ke arah Sehun yang nampak sibuk dengan pistol mainannya. Sebelah alisnya terangkat, “Kenapa kau tidak cari orangtuamu sendiri saja, Sehun-ah?”

Pertanyaan Jongin memang terkesan kasar, tapi wajah Sehun tidak terlihat terluka sama sekali begitu mendengarnya. Lebih-lebih bocah yang lebih muda beberapa bulan darinya itu tersenyum. “Soalnya Sehun tidak ingat apa-apa soal orang tua Sehun. Joonmyun Hyung bilang orang tua Sehun mungkin sudah berada di surga. Sementara orangtua Jongin masih hidup sampai Jongin terakhir kali bertemu mereka ‘kan? Setidaknya masih banyak kemungkinan untuk bertemu lagi nanti.”

“Kenapa kau ingin bertemu mereka, ehm maksudku orangtuaku?” tanya Jongin cepat, mengatakan kata ‘orang tua’ dengan nada dingin, sungguh terpaksa mengatakannya. Jelas saja, jauh di dalam hati Jongin sangat membenci kedua orangtuanya. Orang tua macam apa yang tega meninggalkan anaknya begitu saja di usianya yang sangat kecil?

Kali ini Sehun meringis, menampilkan sebaris gigi putihnya yang berderet rapi. “Karena Jongin teman Sehun, saudara Sehun. Karena Jongin saudara Sehun, jadi papa dan mama Jongin juga papa mama Sehun, benar kan?”

Baru kali ini Jongin paham soal pertahanan diri yang runtuh dalam sekejab mata. Tatkala sekelebat kenangan itu mengusik benaknya, tatkala fakta demi fakta yang semakin dalam terkuak, soal kebenaran yang sebenarnya. Jongin barusaja mengerti itu semua. Teka-teki di otaknya kini mulai tersusun lengkap.

Ketika dunia yang nampak sempurna di depannya perlahan runtuh, Jongin juga tahu. Soal Sehun yang berkorban demi kebahagian mereka, soal Sehun yang diam-diam menarik diri dari organisasi, soal Sehun yang mengatakan kalau cinta harus tetap ada di dalam hati,  Jongin mulai mengerti betapa bodohnya ia. Bukan Sehun yang bodoh, tapi dia.

Sedekat apapun hubungan, pasti ada saja satu kisah yang tidak bisa diceritakan. Dipendam di dalam hati dan menunggu saat yang tepat untuk disampaikan suatu hari nanti. Mungkin itulah alasan kenapa Sehun enggan bercerita soal semuanya pada Jongin, pemuda itu menunggu sampai semua masalahnya menjadi jelas, sampai semuanya selesai, juga menanti momen yang tepat agar kesalahpahaman tidak terjadi ketika ia mengutarakan isi hatinya.

Kendati sampai saat ini, Sehun tidak bisa menceritakannya.

Jongin menyeka air matanya yang merembes keluar dengan sedikit kasar, pemuda berkulit tan itu bangkit dari tempatnya bersandar. Revolver di tangannya ia tatap sejenak dengan ekspresi tak terbaca. Jongin meremas tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Mulai detik ini, Jongin tahu apa yang harus ia lakukan.

_______

            “Kau mencium sesuatu?”

            Yang ditanya lantas mengernyitkan dahi lalu menajamkan indera penciumannya, hidungnya bergerak-gerak. “Bau gosong maksudmu?”

            “Sepertinya begitu.” Si penanya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, sebelah matanya menyipit tatkala melihat sesuatu yang tampak mengepul di sudut ruangan agak jauh dari tempatnya berdiri. Kedua bola matanya spontan melotot, “Ya! Yongguk-ah, kebakaran!”

            “HAH!?”

            “Ayo segera kita hentikan!”

            “Kita tidak bilang bos dulu?!”

            “Itu bisa nanti! Sekarang yang penting kita hentikan dulu apinya!”

            Kedua orang berotot itu segera beranjak, berlari meninggalkan tempat mereka. Tergopoh-gopoh menuju ke sudut ruangan tanpa menyadari seseorang yang tersenyum penuh arti melihat kepergian mereka. Ternyata, mengalihkan perhatian kedua penjaga itu tidak sesulit yang ia kira.

            Tanpa banyak pikir, dibukanya pintu sebagai akses utama menuju ruangan di mana pria—yang ia cari—itu berada. Aroma citrus yang menguar di udara langsung menyerbu hidungnya begitu kedua kakinya telah berhasil berpijak sempurna di tempat itu. Ia mengedarkan pandangan, menilik dalam-dalam rupa ruangan yang belum pernah sekalipun ia tapaki sebelum ini. Sebuah kamar dengan gaya Victorian yang kental, perabotan mewah yang mana bisa dipastikan di dalamnya terdapat banyak sekali koleksi senjata—dari kuno hingga yang terbaru, kursi-kursi berlengan pendek, juga sebuah ranjang berukuran besar. Arsitektur kuno yang memukau dan memanjakan mata, langka di temukan di rumah-rumah modern.

Dan jangan lupakan seorang pria yang tengah duduk santai memunggunginya di atas sofa—yang kelihatannya—mahal, menghadap ke sebuah perapian hangat dengan api yang menari-nari.

            Pria itu adalah Wu Yifan. Manusia yang ingin Jongin lenyapkan dari dunia ini.

            “Penjaga di luar yang terlalu bodoh atau memang kau yang kelewat cerdik, wahai tuan Kim?”

            Sekejap Jongin tersentak dan spontan mengangkat senjatanya, mengarahkannya pada sosok Wu Yifan di balik sofa. Pria itu memunggunginya, namun entah mengapa Jongin yakin kalau wajahnya kini tengah menyeringai penuh kemenangan, angkuh. “Menyerahlah Wu Yifan!”

            “Begitukah?”

            Jongin menarik pelatuk pada revolvernya, berjaga-jaga. Kemudian sosok itu bangkit dari duduknya, membalikkan tubuh tegap raksasanya pelan-pelan. Dengan wajah yang tenang namun tidak membunuh kesan seram yang ia punya sama sekali, pria itu berkata, “Katakan kenapa aku harus menyerah.”

            “Karena Jinri tidak akan menyukainya.” jawab Jongin cepat, berniat memancing. Sepersekian detik dapat ia lihat raut wajah Yifan yang menegang, bibir bawahnya bergetar. Tapi setelahnya ekspresi dingin dan tenang itu kembali mewarnai lekuk wajahnya. Pengendalian diri yang sempurna.

            “Katakan padaku.” lanjut Jongin, “Katakan kenapa kau membebankan misi seorang diri kepada Sehun? Padahal kau tahu benar kalau aku adalah teman satu timnya, kami harus selalu mengerjakan misi bersama-sama.”

            Yifan masih memasang wajah kakunya. Ia memiringkan kepalanya lalu tertawa, nadanya meremehkan, dan Jongin benci mendengarnya. “Karena aku sudah tahu dari awal, Sehun ingin keluar dari organisasi ini. Dan itu artinya sama saja dengan cari mati. Aku mencoba memberinya sebuah misi untuk mengetahui sejauh mana ia akan mempertahankan kesetiaannya. Namun nyatanya, di percobaan pertama ia telah membuktikan penghianatannya. Menyelamatkan target yang seharusnya ia bunuh.”

            Kedua tangan Yifan terlipat di depan dada, “Temanmu satu-satunya mati dengan sia-sia. Sungguh bodoh sekali dia, Kim Jongin.”

            Seorang bos besar memang tidak perlu diragukan lagi. Refleknya bekerja sempurna tatkala Jongin menarik cepat pelatuk pistolnya, membiarkan peluru itu menerjang dinding kamarnya yang malang sementara sosok tingginya berhasil menghindar. Pria itu masih tersenyum remeh sementara si pemuda yang menembak tampak takjub selama beberapa detik, lalu kembali memperlihatkan wajah marahnya yang ketara.

            “Brengsek kau, Yifan!” Dada Jongin naik turun, sekelebat kenangan soal Sehun terulas di otaknya, terputar dengan cepat selayaknya video yang di speed up. “Kau! Matilah dan membusuklah di neraka!”

            Lalu suara tembakan beruntun terdengar, berulang-ulang. Menimbulkan bunyi-bunyi berisik yang menyamarkan teriakan frustasi Jongin. Tidak peduli bagaimana kaca-kaca lemari di ruangan itu pecah, abaikan saja suara dentuman yang kian riuh terdengar, bau mesiu yang kental di udara, Jongin tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak naik darah. Tangannya bergerak ke sana kemari dengan cepatnya, menembaki satu persatu benda yang ada di kamar milik Yifan. Kebrutalan Jongin sudah mencapai puncaknya, seolah bisa meledak kapan saja. Sepasang irisnya terus mencari sosok pria yang entah kini berada di mana, sasaran Jongin yang sebenarnya. Pria itu menghilang bak debu yang tertiup angin.

            Ke … kemana dia?

            Prok! Prok! Prok!     

            Jongin memutar kepalanya cepat, menghadap pada seorang pria yang berseteru dengannya sebelum ini. Pria itu tersenyum padanya, dan lagi-lagi seringai remeh itu terlihat. Menyebalkan. “Kata ‘cerdik’ itu aku tarik lagi, Jongin. ‘Tolol’ lebih cocok buatmu.” Yifan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia memasang wajah pura-pura terluka, “Kau hancurkan seni terbaikku, Jongin. Semua yang sudah aku bangun dengan susah payah, kerja kerasku selama ini kau hancurkan dalam sekali serang. Sampai pelurumu habis. Hebat!”

            Pandangan Jongin pada Yifan sarat kebencian, tidak lagi terlukis dalam kata-kata betapa ia ingin melenyapkan pria itu dari hadapannya. Kedua kaki panjangnya perlahan terajut, memenggal langkahnya dengan Yifan. Tanpa aba-aba, sebelah tangannya terangkat, bermaksud menerjang rahang Yifan yang tidak terlindungi oleh apapun.

            Tapi sayang sekali. Harusnya Jongin ingat kalau ia tidak boleh meremehkan bosnya begitu saja. Karena dalam tempo sepersekian detik lebih cepat, rahangnya lebih dulu dihantam, terlampau keras hingga ia terlempar agak jauh ke belakang.

            Dan pemuda berkulit gelap itu belum sempat bangkit ketika Yifan berjalan mendekatinya. Tanpa banyak bicara, pria itu lagi-lagi menggenggam erat tangannya sendiri, memusatkan seluruh energinya di titik itu. Melayangkan pukulan bertubi-tubi pada wajah Jongin sepenuh tenaga. Tanpa ampun, membabi buta. Jongin mengerang kesakitan begitu pukulan ketiga mengenai pelipisnya. Telak.

            “Kalau begitu, pas kita besar nanti kita cari papa mama Jongin sama-sama ya.”

            Jongin hampir kehilangan kesadarannya. Dan kalau saja suara Sehun yang tiba-tiba bergema di telinganya tidak terdengar, nyawanya pasti tidak ragu-ragu meninggalkan tubuhnya detik itu juga. Sebelum pukulan—entah yang keberapa—itu tepat mengenai dirinya, Jongin lebih dulu tersadar. Kakinya yang masih bebas menerjang kuat perut Yifan, bersamaan dengan sebelah tangannya yang masih cukup kuat, mendorong dagu pria itu menjauh. Kasar dan bar-bar, seperti gayanya selama ini. Entah darimana ia mendapat kekuatan itu barusaja.

            Yifan yang terjungkal ke belakang tampak tidak bisa lagi menahan amarah. Ia menggeram selayaknya serigala buas yang kehilangan mangsa dan sekali lagi ia mampu bangkit. Mendekat ke arah Jongin lalu menarik kerah baju milik pemuda itu, “Kau! Kau akan menyesal, Kim Jongin!”

            Sebuah revolver teracung ke pelipis Jongin. Pemuda itu tidak pernah tahu jenisnya, tapi ia yakin, milik Yifan pastilah satu dari sedikit senjata api terbaik di dunia. Tidak perlu diragukan.

            Lalu sekarang bagaimana? Haruskah Jongin menyerah begitu saja? Ia bisa saja menyerang, tapi kesadarannya semakin tipis. Seluruh tubuh Jongin melemas gara-gara rasa sakit tidak terkira di bagian kepalanya. Otaknya seperti tidak mau lagi berfungsi. Oh, kenapa ia begini lemah. Kenapa ia malahan harus lemah di saat seperti ini? Padahal tinggal sedikit lagi …

            “Ada kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan?”

            Bahkan kata-kata itu hanya sayup terdengar di telinganya. Kemudian yang ia dengar adalah suara tarikan pelatuk. Maafkan aku, Sehun. Aku, gagal ya?

            “Karena Jongin saudara Sehun, jadi papa dan mama Jongin juga papa mama Sehun, benar kan?”

            DOR! DOR!

            “Jongin!”

            Apa?

            Pemuda itu bersikeras membuka kelopak matanya yang berat dan sakit. Indera pendengarannya mendengar suara orang jatuh membentur lantai, disusul erangan yang memilukan. Tiba-tiba tubuh Jongin terasa diguncang hebat.

            “Hei, Jongin sadarlah! Kita harus segera pergi dari tempat ini!”

Hei, bukankah ia barusaja tertembak? Kenapa ia malah mendengar suara …

“Soo … Soojung?”

Jongin membuka matanya lebar begitu mendapati sosok gadis yang ia kenal tengah menatapnya khawatir. Jongin menoleh dan mendapati Yifan yang ambruk di lantai seraya memegangi dadanya, tak lama kemudian mulutnya mengeluarkan darah. Pria itu masih menatap garang ke arah Jongin—mungkin lebih tepatnya ke arah Soojung yang barusaja menembaknya. Namun tidak ada satupun kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Joon … Joonmyun. Jin … Ri.” Yifan berbisik lirih dengan susah payah. Ia membiarkan kata-katanya menggantung. Sepertinya ia kesulitan berbicara.

Apa ?

Jongin belum sempat mencerna apa yang barusaja ia dengar dari mulut Yifan ketika Soojung kembali meneriakkan namanya, “Kita harus pergi Jongin! Ayo, di luar benar-benar kacau! Karena apinya terlalu besar, mereka semua tidak bisa menghentikannya. Petugas pemadam kebakaran juga belum tiba!” Soojung berkata sambil menangis, gadis itu terlihat benar-benar kacau dan frustasi, tangannya bergetar terlampau hebat. Entah ketakutan karena api yang semakin besar, atau karena barusaja menembak bosnya sendiri—hal yang tidak biasa dilakukan Commander sepertinya. Dengan segera Soojung melingkarkan lengan Jongin di bahunya, bermaksud membantu pemuda itu untuk berdiri.

Jalan Jongin tertatih sebab kesadarannya yang belum sepenuhnya kembali. Tapi ia sempatkan menoleh sejenak ke arah Yifan sebelum Soojung benar-benar membawanya pergi dari kamar itu. Pria itu tengah menahan sakit, meremas dadanya yang bersimbah darah, ia mengerang beberapa kali.

Tanpa sadar Jongin bergumam, “Yifan … ada kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan?”

________

            Beberapa kali Jongin dan Soojung terbatuk, pandangan mereka terasa begitu perih hingga si pemuda tidak bisa membuka matanya barang sebentar karena asap tebal yang mengepul di mana-mana. Langkah Jongin yang tertatih menjadi penghalang, membuat keduanya tidak bisa segera sampai di pintu depan. Api yang menyala-nyala di sekitar mereka juga terasa begini panas. Soojung dan Jongin harus ekstra hati-hati ketika kayu-kayu yang terbakar  mulai berjatuhan dari atas.

            Terdengar banyak suara orang berlarian keluar, dengan teriakan minta tolong yang ikut menyertai. Suara tangisan para commander juga mewarnai. Tempat ini, benar-benar sudah hancur, desah Jongin dalam hati.

            Kemudian dari jauh terdengar langkah kaki mendekat, dari rima yang terdengar orang itu berlari dengan tergesa-gesa. Kepala Jongin yang tertunduk pelan-pelan terangkat, merasa janggal oleh suara itu. Lalu kelereng matanya menangkap sesosok pria, yang ia ingat sebagai pemilik senyum malaikat yang terpatri di wajah putih saljunya. Kim Joonmyun berdiri di sana, menatap Jongin dan Soojung dengan matanya yang teduh.

            “Ke … kenapa masih di sini, Hyung?”

            Joonmyun tersenyum tipis, “Karena Yifan masih ada di dalam. Aku tidak bisa membiarkannya sendiri begitu saja.”

            Alis Jongin mengernyit mendengar nama itu disebut lagi. Dan tatkala Joonmyun berniat kembali berjalan, Jongin menarik lengan kemeja pria itu, menahannya pergi. “Yifan sudah meninggal, Hyung. Sebaiknya Hyung segera menyelamatkan diri juga. Jangan bertindak bodoh.”

            Kening Joonmyun berkerut mendengarnya, di wajahnya tergambar banyak tanda tanya tentang hal yang barusaja Jongin katakan. Namun yang kemudian ia lakukan bukanlah bertanya, ia hanya tersenyum lagi. “Sebodoh-bodohnya aku, aku tidak akan meninggalkan sahabatku sendiri di sana, Jongin. Sekalipun yang kau bilang itu benar, aku akan tetap berada di sana.” Joonmyun melepaskan genggaman tangan Jongin di lengan bajunya dengan pelan, kemudian berkata yakin, “Yifan sudah seperti saudaraku sendiri. Kuhabiskan nyaris sepenuh hidupku bersama Yifan. Aku berada di sampingnya dari awal, dan aku harus bersamanya hingga akhir.”

            Setelah mengatakan kata-kata yang sanggup membuat Jongin tercengang itu, Joonmyun menepuk pelan bahu si pemuda, tak lupa ia turut melempar senyum pada Soojung. Sebentar saja ia memberikan intruksi mengenai jalan tercepat menuju pintu depan. Kemudian pria itu kembali berlari. Menembus api, lalu menghilang.

            Sementara Jongin cuma bisa diam. Benaknya menyadari satu poin yang paling penting, seburuk-buruknya Yifan, ia punya orang yang selalu setia dan mencintainya.

_______

            Iris cokelat itu bergerak-gerak, membaca kata demi kata yang terketik rapi di headline surat kabar edisi dua hari yang lalu. Ia membaca dengan sangat teliti meski surat kabar itu sudah yang kesekian kalinya ia baca. Setelahnya, seulas senyum tipis terkulum di wajahnya yang dibingkai helaian rambut kehitaman.

            Terjadi kebakaran hebat di rumah bergaya Victorian di daerah Hutan Wuwei milik pria Cina bernama lengkap Wu Yifan. Sampai saat ini polisi masih menyelidiki apa yang sebenarnya menjadi penyebab utama kebakaran. Kebakaran itu membumihanguskan segalanya yang ada di sana karena petugas pemadam kebakaran yang terlambat datang, bahkan separuh hutan yang berada di sekitarnya juga tak luput dari ganasnya api. Namun hampir semua orang yang tinggal di sana berhasil menyelamatkan diri. Hampir.

            Soalnya di surat kabar itu tertulis dengan jelas : Dua orang dinyatakan meninggal akibat kebakaran tersebut. Dan Jongin rasa ia tahu siapa dua orang itu.

            Dan mungkin tidak lama lagi, organisasi rahasia milik Yifan juga akan ketahuan. Polisi pasti banyak menemukan benda-benda ilegal yang tersisa di puing-puing bangunan. Tinggal menunggu waktu sampai benda-benda itu mengarahkan mereka pada orang-orang di baliknya. Bukan tidak mungkin kalau Jongin juga akan terlibat.

            Jongin mendesah lalu melemparkan surat kabar itu sembarangan, menyandarkan punggungnya pada dinding putih yang dingin. Ia memejamkan kedua matanya, membiarkan hatinya tenang selama beberapa saat. Membaca berita itu sekali lagi mampu membuat mood-nya membaik. Bagaimana tidak, semua rencana yang telah ia perhitungkan baik-baik sebelumnya berhasil. Membakar rumah bergaya Victorian itu diam-diam dengan tangannya sendiri, menghancurkan Wu. Tidak ada yang tahu kalau ia adalah dalang di balik semuanya. Lebih daripada rasa takut jikalau nantinya polisi akan mengetahui identitasnya, Jongin merasa puas. Ia senang.

            Kendati itu artinya sama saja dengan membakar semua kenangan masa kecilnya bersama Sehun.

            Tidak apa. Sebab segala tentang Sehun yang terukir di hati Jongin jauh lebih berharga. Ah iya, kalau sudah keluar dari rumah sakit nanti, Jongin ingin pergi ke makam Sehun. Ia ingin mengucapkan terima kasih. Dan mengucapkan permintaan maaf.

            Tiba-tiba pintu kamar Jongin terbuka, membuat si pemuda lantas mengalihkan pandangan.

“Kau sudah bangun?”

            Seorang gadis berambut merah yang barusaja memasuki ruang rawat Jongin tersenyum, meletakkan sekeranjang buah-buahan di meja berlengan pendek di samping ranjang. Jongin mengangguk. “Thanks, Soojung.”

            Dapat Jongin tangkap rona kemerahan yang semu di pipi Soojung, yang entah kenapa mampu membubuhkan senyum di wajah Jongin. Jongin masih ingat bagaimana Soojung menyelamatkannya waktu itu. Kalau tidak ada Soojung, ia pasti sudah mati di tangan Yifan. Ia sangat berterima kasih pada gadis itu. Ditambah selama ia dirawat di rumah sakit, Soojung lah yang selalu merawat dan menemaninya.

            “Oh iya, aku tidak datang sendiri lho, Jongin.” Kata Soojung kelewat menggebu-gebu. Kedua pasang matanya berkilat-kilat senang, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

            Kening Jongin berkerut samar, “Memangnya kau datang bersama siapa? Kulihat kau datang sendiri tadi.”

            Lalu terdengar suara pintu ruang rawat Jongin yang dibuka dari luar, lagi. Hingga dua sosok merajut langkah ke dalam, memenggal jaraknya sedikit demi sedikit dengan si pemuda berkulit tan yang sedang duduk di atas ranjang.

            Jongin tidak ingin menebak siapa mereka. Dua orang paruh baya dengan rambut yang telah memutih dan tampak lebih tua dari usianya, juga kerut-kerut samar di dahi mereka. Keduanya tersenyum, begitu manis dan penuh rindu. Seorang dari mereka yang berjenis kelamin wanita tampak terisak, kesulitan menahan air mata di sudut matanya. Jongin tidak perlu bertanya siapa mereka, tidak perlu berbelit-belit. Karena—

            “Jongin.”

            Karena Jongin sudah tahu. Hatinya tahu.

            Dan di detik yang sama, titik bening itu jatuh menuruni pipi Jongin. Entah untuk yang ke berapa kalinya.

            Sehun telah mengirim mereka untuk Jongin.

___FIN__

9 thoughts on “[The Winner of Writing Contest] 0 [Zero]

  1. sumpah ff ini seru banget…. masuk list favorite ff iniii.. heehhe
    endingnya gak ketebak banget dehhh… gak nyangka ternyata Sehun begitu baik. aku sampai nangis baca kalimat terakhir yang di ff ㅋㅋㅋ
    cara author menyampaikan kepada pembaca itu bagus bangettt.. bahasanya bagus. rapih deh pengetikannya, gak ada typo /emot tembak pala/?
    suka banget deh sama ceritanyaaa… semuanya udah teroganisir gitu hehe. maksudnya gak asal nembak/apa :””)
    keep writing dehhh ^^

  2. bgus bgt, aku suka bgt thor
    tp ada beberapa pertanyaan, knp sehun nyimpen fto sulli? kelanjutan nasib sulli sama sehun gmn?
    terus dr mna krystal bsa ktmu sma ortunya kai? aku bingung –”
    mhon jwbnnya🙂
    keep writing thor!!

  3. Ceritanya keren lhooo! Aku suka😀
    Kai keren di sini >< tapi kasian Sehun😦
    Gaya penulisan kamu di sini itu kesannya gimana ya, ah, susah diungkapin sama kata-kata :3 aku suka cara kamu ngegambarin kejadian-kejadian di sini. Dan juga aku suka jalan cerita kamu yang sulit di tebak😀
    Awalnya aku pikir Sehun itu yang suka sama Sulli, terus juga si Kai bakal suka sama Sulli, sama sekali ga terpikirkan kalau Kris yang punya hubungan sama Sulli, jjangiya! ^^
    Terus juga gimana endingnya kamu buat sedramatis mungkin, dimana Kai berhasil ngebakar "sarang" Kris dan dia ketemu lagi sama orang tuanya. Terlebih Soojung yang dateng tepat waktu buat nyelamatin Kai :3
    FF kamu daebak! Good luck ya! Semoga menang😀

  4. Apa yang datang di scene terakhir itu ayah ibunya Jong In?
    Terus gimana dengan Luhan dan Jinri ya?
    Wah seru banget pokoknya baca ff ni. Brasa nonton fil action beneran.
    Mungkin next author bakal release filmnya?!!!
    Wah reader dukung banget tuh. Hahaha
    Pokoknya daebak!

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s